Showing posts with label keluarga protes. Show all posts
Showing posts with label keluarga protes. Show all posts

Monday, 1 July 2013

korban penembakan oknum polisi

Korban penembakan okum polisi

http://www.youtube.com/watch?v=Vf6R05FBvBw

Melawan saat ditangkap, lelaki ditembak polisi di Pekanbaru


Senin, 1 Juli 2013 00:30:00

Seorang lelaki bernama Ramos Simanjuntak (33) warga Jalan Yos Sudarso KM 16 Kelurahan Muara Fajar, Kecamatan Rumbai, Pekanbaru, Riau, terpaksa ditembak petugas kepolisian Unit Reskrim Polsek Rumbai, karena melawan dan melukai 3 anggota polisi termasuk kapolseknya, Sabtu (29/6) dini hari sekitar pukul 02.00 WIB.

Saat ini, Ramos mengidap penyakit Epilepsi sejak kelas tiga SMP masih terbaring lemas dan mendapat perawatan di Rumah Sakit Bhayangkara, Polda Riau. Dia mendapat pengawalan ketat dari personil Polsek Rumbai.

Kakak korban, Ricardo Simanjuntak mengatakan, malam itu sekitar pukul 01.00 WIB adiknya sedang berada di dalam rumah langsung dijemput oleh beberapa petugas Polsek Rumbai.

"Adik saya dijemput oleh beberapa petugas Polisi karena dituduh melakukan penganiayaan terhadap seorang anak-anak. Adik saya dijemput dari rumah, lalu langsung dibawa ke Polsek Rumbai," ujar Ricardo Simanjuntak, Minggu (30/6).

Pihak keluarga tidak ada yang menyangka Ramos akan mendapat tembakan di bagian paha.

"Kami mau kasus ini ditindaklanjuti, kenapa mereka asal main tembak. Kan mereka bertugas ada prosedurnya, dan kami mau kasus ini ditindaklanjuti bapak Kapolda," kata RiCardo.

Sementara itu, Kapolsek Rumbai AKP Franky Tambunan membenarkan penembakan tersebut. "Penembakan itu dilakukan karena korban terlebih dahulu melakukan perlawanan dan mencoba merebut senjata petugas," ungkap Franky.

Ramos ditangkap karena petugas mendapat laporan dari Satria (16). Satria mengalami luka akibat pukulan di bagian dahi yang dilakukan Ramos karena berselisih paham saat hendak melihat truk terbalik.

Atas laporan itu, petugas mencoba mengklarifikasi apakah kejadian itu benar-benar dilakukan Ramos. Tetapi, Ramos justru mengamuk dan memukul petugas.
[dan]

http://www.merdeka.com/peristiwa/melawan-saat-ditangkap-lelaki-ditembak-polisi-di-pekanbaru.html

Thursday, 27 June 2013

Rekonstruksi Satpam Ditembak Polisi, Keluarga Korban Histeris


Rekonstruksi pemembakan satpam di Semarang (Foto: Nugroho/Okezone)
Rekonstruksi pemembakan satpam di Semarang (Foto: Nugroho/Okezone)
Selasa, 25 Juni 2013 11:11 wib
SEMARANG - Polisi menggelar rekonstruksi penembakan seorang satpam, Nuki Nugroho (25), oleh oknum anggota Polrestabes Semarang, Briptu PRY. Reka ulang dilakukan di lokasi kejadian di Jalan Guntur Nomor 26, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Isak tangis mewarnai rekonstruksi puluhan anggota keluarga korban yang hadir di lokasi. Mereka datang beramai-ramai dengan menggunakan angkutan umum dan sepeda motor.

Salah satu bibi korban, Warjiati (43), menyesalkan peristiwa tragis yang menimpa keponakannya. Dia berharap pelaku dihukum mati, setimpal dengan yang dilakukannya.

"Saya berharap dia dihukum mati. Paling tidak dihukum seumur hidup," geram Warjiati Selasa (25/06/13).

Dia tidak menyangka pelaku penembakan merupakan teman dekat korban dan mengenal baik keluarganya. Apalagi, pada saat kejadian pelaku dikabarkan dalam pengaruh minuman keras.

"Saya sangat marah saat mendengar pelaku penembakan adalah teman keponakan saya itu. Kok tega, pas kejadian tersangka juga dalam keadaan mabuk. Polisi kok mabuk waktu tugas," herannya.

Akibat kejadian itu, keluarga korban masih syok. Korban dikenal sebagai pemuda yang baik dan menjadi tulang punggung keluarga. Kesedihan tidak hanya pada keluarga namun juga calon istri korban yang batal menikah dalam waktu dekat.

"Sampai saat ini ibu korban masih syok, susah untuk diajak berkomunikasi. Ponakan saya itu tulang punggung keluarga, jadi kami semua merasa kehilangan," tambahnya.

Diberitakan sebelumnya, karyawan PT TAG perusahaan pengawalan uang ATM, menjadi korban penembakan oleh oknum polisi Satuan Sabhara Polrestabes Semarang. Peristiwa nahas itu terjadi pada Sabtu, 15 Juni 2013.
 

Berita Selengkapnya Klik di Sini

(tbn)

http://jogja.okezone.com/read/2013/06/25/512/827170/rekonstruksi-satpam-ditembak-polisi-keluarga-korban-histeris

Monday, 17 June 2013

Banyak polisi main tembak, bukti rekrutmen Polri amburadul


16 Juli 2013
Kasus penembakan yang dilakukan Brigadir Satu polisi PY di Semarang bukan yang pertama kalinya terjadi. Peristiwa Brigadir PY ini merupakan kasus yang kesekian kali, polisi menembak warga sipil yang tak berdosa.

Komisioner Kompolnas, M Nasser, mengatakan kasus-kasus seperti ini mencerminkan amburadulnya proses rekrutmen anggota kepolisian. Rekrutmen anggota kepolisian itu tidak dapat mendeteksi jiwa dan kondisi psikologis calon polisi yang labil.

"Penyalahgunaan senpi (senjata api) itu disebabkan rendahnya kejiwaan orang (labil) dan sikap penghargaan terhadap hukum oleh anggota Polri, bahwa rekrutmen polisi ini perlu lebih keras dan lebih selektif. Karena beberapa bulan ini punya pengalaman yang kurang bagus," ujarnya saat berbincang dengan merdeka.com (15/5) malam.

Menurut Nasser, pelaku Briptu PY adalah seorang polisi yang labil. Diduga Briptu PY menembak korban di bawah pengaruh minuman beralkohol. Inilah yang menurut Nasser juga harus ditertibkan, dengan melarang anggota polisi mabuk.

"Perlu diatur bahwa anggota polisi tidak boleh mabuk. Kalau minum hanya 1 sendok saja," ujarnya.

Nasser mengakui tentunya hal itu akan sangat sulit, mengingat pihaknya tidak bisa melarang satu persatu personel kepolisian yang meminum minuman berakohol. Namun, menurut Nasser, bisa saja para personel itu di minimalkan minumnya, jangan sampai mabuk.

"Ya kita memang tidak bisa melarang kalau polisi minum satu dua teguk, asal jangan sampai mabuk," ujarnya.

M Nasser menambahkan perlu juga diatur suatu aturan dalam keputusan Kapolri atau Peraturan Pemerintah berupa manajemen penguasaan senjata api bagi anggota polisi yang menjalankan jabatan, pekerjaan atau tugas yang dipercaya. Nasser menyayangkan peristiwa Briptu PY yang seharusnya mengawal sopir jasa pengiriman uang malah berbuat demikian. Menembak mati sang sopir tepat di kepalanya hingga tewas.

"Perlu diaturnya manajemen penguasaan senpi. Jadi orang-orang yang megang senjata api itu melalui jabatan, pekerjaan, tugas yang dipercaya harus melalui tes khusus," ujarnya.

Kompolnas pun mendesak dibuatkan khusus terkait peraturan penguasaan senpi ini. Sebab, pada peraturan sebelumnya tidak diatur dengan jelas dan sanksi terbilang ringan.

"Sebetulnya ada aturan Perkap tentang disiplin anggota Polri menggunakan senpi dsb. Tetapi mereka kalau hanya ngikut saja, sanksinya tidak jelas. Ada peraturannya, tapi sanksinya rendah saja. Harusnya ada perkap khusus tentang ini," tutupnya.

Kepolisian Resor Kota Besar Semarang menyelidiki penyebab tindakan penembakan yang dilakukan Brigadir Satu PY, anggota yang bertugas sebagai pengawal perusahaan jasa pengawalan uang hingga menewaskan seseorang. Briptu PY diduga dalam pengaruh alkohol saat kejadian.

"Tindakan pelaku sudah tidak terkontrol, sedang dilakukan pemeriksaan," kata Kepala Polrestabes Semarang Komisaris Besar Elan Subilan di Semarang seperti dikutip dari Antara, Sabtu (15/6).

Tindakan pelaku yang menewaskan sopir PT TAG Semarang bernama Nuki Nugroho (25) tersebut diduga akibat pengaruh minuman keras. Elan menjelaskan usai bertugas mengawal, pelaku tidak pulang kembali ke rumah dan membeli minuman keras.

Saat kejadian pada sekitar pukul 03.00 WIB, korban Nuki dalam keadaan tidur. Pelaku menggunakan senjata jenis Revolver dengan dua pengaman yang disiapkan.
[hhw]

http://www.merdeka.com/peristiwa/banyak-polisi-main-tembak-bukti-rekrutmen-polri-amburadul.html

Wednesday, 1 May 2013

Keluarga tersangka narkoba tak terima polisi tembak mati Kiki



Reporter : Yan Muhardiansyah
Kamis, 25 April 2013 18:49:14

Keluarga tersangka narkoba tak terima polisi tembak mati Kiki
Keluarga Selly Satria Aprianto alias Kiki. ©2013 Merdeka.com


KategoriPeristiwa

Keluarga dari Selly Satria Aprianto alias Kiki (26), menilai polisi bertindak berlebihan dan melanggar hukum. Kiki adalah satu dari dua tersangka yang tewas ditembak petugas Direktorat IV Bareskrim Mabes Polri di Medan beberapa hari lalu.

Karena itu, pihak keluarga mengadu ke Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan, atas apa yang menimpa Kiki.

"Kami mengadu karena abang saya diperlakukan seperti ayam potong. Di tangannya kami temukan ada bekas gari (luka sayat), tapi dia ditembak tujuh kali. Kalau pun abang saya memang salah, apakah memang harus ditembaki seperti itu? Kalau dia hidup kan bisa diperiksa untuk mengungkap jaringannya," kata Selly Ledita Amelia (23), adik Kiki, di kantor LBH Medan, Jalan Hindu, Medan, Kamis (25/4).

Pihak keluarga datang ke LBH Medan membawa sejumlah barang milik Kiki di antaranya kaos lengan pendek dengan empat lubang yang disebut sebagai bekas peluru. "Baju ini sengaja tidak kami cuci. Di baju ini ada empat lubang, tapi di tubuh abangnya ada 7 lubang bekas peluru, karena ada peluru yang kena di tangan," ucap Selly sambil mengangkat baju Kiki.

Dia menjelaskan, selain di tangan, lubang bekas peluru juga didapati di bagian dada, perut dan punggung Kiki. "Kami nggak tahu apakah luka-luka itu tembus," ucapnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, tindakan berlebihan petugas polisi dapat dilihat dari tayangan televisi. Menurutnya, dalam tayangan televisi Kiki dalam keadaan diborgol dan terlihat sedang memberi keterangan ke polisi.

"Berarti kan dia bekerja sama, jadi kenapa ditembaki," jelasnya.

Selly datang ke LBH Medan bersama ibunya, Elis Santi (43) dan bibinya, Bebas Sari (53). Sejumlah kerabat mereka juga tampak menunggu di sana.

Pengaduan keluarga Kiki diterima Kepala Divisi Advokasi, HAM dan Tipikor LBH Medan, Irwandi Lubis. "Kami hari ini menerima pengaduan dari korban penembakan yang diduga sebagai bandar narkoba. Keluarga sudah teken kuasa agar LBH mengawal kasus ini karena polisi dinilai telah melakukan judicial killing," ucap Irwandi.

Pihaknya mengaku telah melihat sejumlah bukti yang dibawa keluarga Kiki. Menurutnya, bukti-bukti tersebut menguatkan tidak adanya perlawanan yang dilakukan Kiki saat ditangkap polisi.

Pihaknya akan langsung mengadu ke Kapolri dan mendesak pembentukan tim untuk menyelidiki kasus tersebut. Selain itu, LBH Medan juga akan mengadukan kasus ini kepada Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM).

"Kami melihat ini kejahatan yang serius yang dilakukan aparat negara. Kita tidak boleh membiarkan kepolisian meletakkan hukum di bawah kakinya," ucap Irwandi.

Seperti diberitakan, dua orang tersangka pengedar narkoba tewas dalam operasi penangkapan di Medan, Selasa (23/4) petang. Ramadhan P Kesuma (26) tewas di Hotel Grand Aston Medan dan Selly Satria Aprianto alias Kiki (26) tewas di Perumahan Bukit Hijau Regency, Medan Selayang.

Polisi menyatakan Ramadhan ditembak karena melakukan perlawanan, sedangkan Kiki ditembak karena mencoba melarikan diri.
[dan]

http://www.merdeka.com/peristiwa/keluarga-tersangka-narkoba-tak-terima-polisi-tembak-mati-kiki.html


Thursday, 25 April 2013

“Kenapa Anakku Harus Ditembak Mati?”

PIHAK keluarga dan kerabat masih tidak menyangka Ramadhan Poda Ke suma, 26, alias R tewas di tem - bak dan dituduh sebagai bandar narkoba. Kesedihan keluarga ma - kin mendalam karena sampai sore tadi belum mendapatkan kon fir - masi dari pihak kepolisian.

“Kenapa anakku harus di tembak mati? Saya yakin dia bukan gem bong narkoba seperti yang di tuduh kan. Kalau masih diduga, ke napa anakku harus ditembak mati?.” kata Suprapti, 57, ibu korban sambil me nangis kepada KORAN SINDO MEDAN, Rabu (24/4). Suprapti yang tak kuasa menahan tangis sampai membuat ma tanya bengkak. Dia me yakin kan anaknya bukanlah gembong narkoba seperti yang di tuduhkan polisi.

Apalagi anaknya yang masih status mahasiswa di Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), masih tergolong anak yang manja. “Dia anak manja, keluarga dan teman-temannya tahu. Dia masih minta uang jajan sama saya. Asal saya suruh pulang melalui pesan singkat, dia langsung pulang,” kenang Suprapti. Dia mengingat kenangan terakhir tentang anaknya itu.

Pada Selasa (23/4) sekitar pukul 9.00 WIB, anaknya minta dibuatkan sarapan lontong. “Seusai sarapan lontong dia permisi karena harus bekerja dapat proyek dari abangnya. Baru kali ini dia bekerja, maksud kami mengajari dia supaya mandiri,” tuturnya Suprapti. Cecep, abang kandung korban, membenarkan bahwa dirinya sengaja memberi proyek pengerjaan kaca bangunan kepada adiknya agar bisa mandiri.

Selama ini adiknya dikenal manja dan masih bergantung pada keluarga. Sementara itu, Sulaiman, 56, mengakui dirinya bersama R berangkat mengerjakan proyek pengerjaan kaca dan meubel di salah satu perusahaan yang terletak di Jalan Bunga Raya Kecamatan Medan Sunggal. Sementara itu, Vensi Ruri Aritonang, 25, kekasih R, terlihat angat shockdan tak kuasa menahan kesedihan mengetahui kabar pujaan hati tewas ditembak.

Vensi mengaku terakhir kontak dengan kekasihnya melalui Blackberry Messanger (BBM). “Kami sudah janjian mau nonton bioskop. Kami saling memberi kabar lewat BBM sejak siang sekitar pukul 12.00 WIB. Saya yang juga bekerja minta jemput di kantor untuk pergi bareng nonton. Dia bilang sedang bekerja jadi belum bisa jemput. Setelah pukul 14.00 lewat saya BBM lagi tidak dapat tanggapan,” ujar Vensi.

Vensi yang terlihat matanya membengkak dan tidak sanggup berjalan karena shock menambahkan, dirinya sangat tidak yakin kekasihnya adalah bagian dari gembong narkoba seperti yang dituduhkan. “Saya kenal betul sama dia, tak mungkin dia bisnis narkoba,” tegasnya. Pihak keluarga mencurigai bahwa tewasnya R adalah permainan. Korban sengaja dijebak dan dituduh sebagai gembong narkoba.

Pihak keluarga yang harus membayar Rp1.190.000 saat membawa jenazah dari Rumah Sakit Bhayangkara menjelaskan bahwa ada bekas luka di pergelengan tangan korban yang diduga bekas borgol. “Begitu saya lihat almarhum, saya lihat sekujur badannya. Ada tiga bekas tembak di badannya. Tapi yang saya pikirkan sampai sekarang, ada bekas borgol di bekas tangannya.

Berarti adeksaya sudah disergap dan diborgol, tapi kenapa kalau sudah diborgol harus ditembak mati juga?” kata Cecep. Sementara itu, Selly Satria Aprianto, 26, yang juga tewas ditembak pada penggerebekan tim Direktorat IV Narkoba Badan Reserse Kriminal Mabes Polri di Komplek Bukit Hijau Regency No 66, Kecamatan Medan Selayang, membuat keluarga dan rekannya tak percaya. Melihat jasad pria yang akrab disapa Kiki itu, mereka seakan mimpi di siang bolong.

Lelaki yang dikenal supel itu sudah terbujur kaku dalam balutan kain kafan di rumah duka Jalan Banten Lingkungan 2, Kelurahan Tanjung Gusta, Kecamatan Medan Helvetia, Medan, Rabu (24/4). Oleh rekan-rekannya, Kiki dikenal bukanlah perokok aktif, terlebih pemadat. Hal itu membuat mereka sulit percaya, jika Kiki terlibat dalam jaringan pengedar narkotika internasional.

Tragisnya Kiki tewas ditembak sebanyak tujuh kali. Diyakini Kiki ditembak dari arah belakang di bagian leher, perut bagian samping, dan punggung. Kiki diketahui baru menikah Desember lalu. Dia mempersunting istrinya, Eka, yang dikenal sejak duduk di bangku SMA Amir Hamzah Medan. 

FAUZI ABDULLAH
Medan  


http://www.koran-sindo.com/node/310828

Tuesday, 22 January 2013

Rusuh Sumbawa, Kesalahan yang Berulang


Penulis : R. Adhi Kusumaputra | Selasa, 22 Januari 2013 | 21:46 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Insiden kerusuhan massa di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat mendapat reaksi keras. Setara Institute mendesak Mabes Polri menegakkan hukum terhadap terduga pelaku dan pihak-pihak internal di Polres Sumbawa, bila terbukti melakukan rekayasa kasus serta berupaya menutupi tindakan pidana yang dilakukan terduga pelaku.

"Setara Institute meminta proses penegakan hukum tetap dilakukan terhadap pelaku anarkisme yang telah melakukan tindakan pengrusakan atau pembakaran fasilitas pribadi maupun fasilitas umum untuk terwujubnya kepastian hukum," demikian Bonar Tigor Naipospos, Wakil Ketua Setara Institute dalam siaran persnya Selasa (22/1/2013) malam.

Peringatan hari jadi ke-54 Kabupaten Sumbawa 22 Januari ternoda dengan kerusuhan massa. Hal ini berawal saat terjadi aksi long march ratusan mahasiswa, keluarga korban dan diikuti massa ke kantor Pores Sumbawa. Massa menuntut polisi mengungkap kematian Ariati, mahasiswi Universitas Sumbawa jurusan ekonomi semester 5 yang juga pegawai di Dinas Dukcapil Pemda Sumbawa yang diduga dilakukan oleh Briptu I Gede Eka Suarjana, anggota Polres Sumbawa.
Pengungkapan pembunuhan mahasiswi oleh kepolisian memunculkan pertanyaan karena penjelasan polisi janggal. Menurut versi keluarga korban, telah terjadi penganiayaan terhadap korban, sementara polisi bersikeras mengatakan korban meninggal dunia karena kecelakaan. Situasi memanas diperkeruh dengan berkembangnya isu terjadinya pemerkosaan terhadap korban.

Sekitar pukul 13.00 waktu setempat, massa melampiaskan emosinya kepada kelompok tertentu. Tercatat beberapa fasilitas dan properti pribadi dirusak dan dibakar oleh massa, termasuk empat sarana peribadatan juga tidak luput dari aksi anarkis massa.
Titik kerusuhan yang berawal di wilayah Seketeng, menjalar ke wilayah Jalan Baru dan Tambora yang berdekatan dengan kantor Bupati Sumbawa. Aksi anarkis ini juga dibarengi penjarahan oleh massa. Tidak terlihat aparat kepolisian setempat di lokasi kerusuhan, sementara pasukan TNI dari Kodim setempat diterjunkan untuk menenangkan massa.

Aksi ini pernah terjadi 10 tahun lalu. Pada tahun 2003, 24 September ratusan mahasiswa Universitas Samawa (Unsa) melakukan aksi demo di Mapolres Sumbawa, sebagai protes atas kematian seorang mahasiswa yang bernama Mustakim yang diduga kuat akibat dianiaya beberapa oknum polisi.
Korban yang sebelumnya masuk RSUD Sumbawa akibat kecelakaan kendaraan dijemput oleh enam anggota Polres Sumbawa dan ditahan, namun akhirnya korban dilarikan kerumah sakit dan meninggal dunia.

Kematian korban menjadi pemicu kerusuhan yang mengakibatkan satu orang tewas dan beberapa lainnya mengalami luka-luka, bentrokan dimulai dengan polisi dan menjalar ke pengrusakan rumah dinas kapolres Sumbawa, sebuah pos polisi, dan tiga mobil juga dirusak oleh massa saat itu.

"Setara Institute berpendapat, dengan adanya kejadian tahun 2003, seharusnya  aparat kepolisian Polres Sumbawa dapat berlajar dari kasus yang lalu, bagaimana massa gampang terpancing emosi dan terprovokasi melakukan tindakan anarkis yang dipicu atas kekecewaan dan ketidakprofesionalan kepolisian dalam menjalankan tugasnya," demikian Bonar Tigor Naipospos dan Ismail Hasani dari Setara Institute.

"Apalagi dalam kasus kerusuhan saat ini, di mana pelakunya etnis pendatang seharusnya menjadi perhatian khusus dan penanganan yang secepatnya agar tidak berkembang pada konflik bernuansa SARA. Jangan ada upaya-upaya menutup-nutupi dan melindungi pelaku maupunkcorps kepolisian," tandas Bonar.

Berulangnya kejadian yang sama, tidak cukup hanya sebatas melakukan pencopotan pimpinan kepolisian setempat. "Sudah saatnya dilakukan pembenahan menyeluruh terhadap Polres Sumbawa beserta jajarannya. Insiden ini menunjukkan tidak adanya reformasi di jajaran Polres Sumbawa," demikian siaran pers Setara Institute.



Editor :
Robert Adhi Ksp

http://nasional.kompas.com/read/2013/01/22/21462023/Rusuh.Sumbawa.Kesalahan.yang.Berulang

Keluarga Korban Mengamuk

keluarga korban mengamukTANGERANG, 22/1 - KELUARGA KORBAN MENGAMUK. Sejumlah keluarga korban pembunuhan atas nama Yusli bin Durahman (23) mengamuk di depan mobil tahanan yang membawa tiga tersangka pelaku pembunuhan usai sidang di Pengadilan Negeri Tangerang, Tangerang, Banten, Selasa (22/1). Sidang kasus pembunuhan tersebut sudah tertunda sebanyak tiga belas kali tanpa ada alasan yang jelas, keluarga menduga lantaran pelaku pembunuhan adalah anggota buser kepolisian polsek Cisauk. FOTO ANTARA/Lucky.R/ed/ama/13

http://www.antarafoto.com/peristiwa/v1358863202/keluarga-korban-mengamuk

Sidang Tiga Anggota Polsek Cisauk Pelaku Pembunuhan Ricuh

Selasa, 22 Januari 2013 | 23:38 WIB
Metrotvnews.com, Banten:
 Sidang pembunuhan dengan terdakwa tiga anggota Kepolisian Sektor (Polsek) Cisauk, Tangerang, Banten, Selasa (22/1), ricuh. Keluarga korban memaki dan menyerang ketiga terdakwa karena tidak puas dengan jalannya persidangan.

Ketiga terdakwa yakni Briptu Hermanto, Briptu Ananto, dan Briptu Aan Tri Haryanto kembali menjalani sidang untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Namun, persidangan ke-13 kasus pembunuhan warga ini kembali ditunda karena kuasa hukum terdakwa tidak hadir. Keluarga korban yang hadir di persidangan pun kecewa dan marah akibat penundaan tersebut. Keluarga korban langsung mengejar dan mencaci maki ketiga terdakwa saat keluar ruang tahanan pengadilan dan masuk ke mobil tahanan.

Menurut kakak korban, Yeni, pihak keluarga sudah lama menunggu vonis hakim. Namun, proses persidangan nampak sengaja diperlambat. Ia pun berharap ketiga terdakwa dihukum mati.

Ketiga terdakwa itu menembak korban bernama Yusli hingga tewas pada 2011 lalu. Sebelumnya, korban ditangkap di rumahnya di Kampung Bojong Keong, Kecamatan Mekarsari, Bogor, Jawa Barat, tanpa surat penangkapan dengan tuduhan pencurian kendaraan bermotor.(Wrt1)

http://www.metrotvnews.com/metronews/video/2013/01/22/6/169396/Sidang-Tiga-Anggota-Polsek-Cisauk-Pelaku-Pembunuhan-Ricuh

Tuesday, 4 September 2012

Penembakan Solo Meninggalkan Banyak Tanda Tanya


Selasa, 04 September 2012 | 06:01

Petugas memeriksa lokasi penembakan Pos Polisi Singosaren Plaza, Solo, Jawa Tengah. FOTO: ANTARA
Petugas memeriksa lokasi penembakan Pos Polisi Singosaren Plaza, Solo, Jawa Tengah. FOTO: ANTARA
Kota Solo dilanda ancaman teror berturut-turut.

Bulan Agustus lalu, Kota Solo dilanda ancaman teror berturut-turut. Tiga ancaman itu berawal ketika sejumlah orang tak dikenal menembaki Pos Pengamanan Lebaran di Serengan, Solo. Dua hari berselang, tepat malam takbiran lalu, Pos Pengamanan Lebaran di kawasan jalan Sudirman, Solo dilempari granat hingga menyebabkan dua orang polisi terluka.

Puncaknya, seorang polisi Bripka Dwi Data Subekti tewas ditembak dengan empat peluru bersarang di dada. Penembakan terjadi di Pos Polisi Matahari, Singosaren di Jl. Dr. Radjiman, Solo, Jawa Tengah, Kamis (30/8) malam, sekitar pukul 21.30. Di lokasi penembakan, polisi menemukan 5 selongsong peluru jenis FN kaliber 99 mm. 

Berawal dari ketiga aksi teror itu, pasukan Densus 88 Antiteror langsung turun tangan. Sehari kemudian, Sabtu (1/9), tepat menjelang tengah malam, Kota Solo kembali dikagetkan peristiwa adu tembak antara pasukan Densus dengan para pelaku teror di belakang Lotte Mart, Tipes, Solo. 

Dalam aksi adu tembak itu, Densus berhasil membekuk para pelaku. Sayangnya, seorang anggota Densus bernama Bripka Suherman tewas dalam baku tembak itu karena tertembak di bagian perut. Sebaliknya, dua teroris tewas ditembak dan satu terduga terduga teroris berhasil ditangkap hidup-hidup.

Ada Kejanggalan
Meski berhasil menangkap para pelaku yang selama ini diduga meneror polisi dan warga Solo, proses penyergapan Densus 88 di belakang Lotte Mart, Tipes, Solo dinilai penuh kejanggalan. Ada sejumlah pihak yang menuding proses itu hanyalah bentuk rekayasa pengalihan isu. Memang sejumlah aksi teror itu melanda Solo, ketika Wali Kota Jako Widodo tengah bersiap-siap bertarung dalam Pemilukada DKI Jakarta Putaran Dua. Tak sedikit pula, pihak yang menghubungkan maraknya aksi teror itu sebagai bentuk kegagalan Jokowi menjaga keamanan Solo.

Di luar aspek politik itu, Indonesia Police Watch (IPW) menyebut ada dua kejanggalan dalam penyergapan Densus di Solo tersebut. Kejanggalan pertama, pistol dari tertuduh teroris yang tewas ditembak adalah Bareta dengan tulisan Property Philipines National Police. Namun, Kapolresta Solo Kombes Asdjima'in sebelumnya menyebutkan senjata yang digunakan menembak polisi di pospam Lebaran jenis FN kaliber 99 mm.

"Apakah orang yang ditembak polisi itu benar-benar orang yang menembak polisi di Pospam Lebaran kota Solo atau ada pihak lain sebagai pelakunya?" kata Ketua IPW Neta S. Pane, beberapa waktu lalu.

Keganjilan kedua, anggota Densus 88 Bripda Suherman tewas akibat tertembak di bagian perut. Fakta ini menunjukkan anggota Densus dalam bertugas tidak sesuai dengan Standart Operating Procedure (SOP) yang harus memakai rompi anti peluru. "Apakah benar pada malam 31 Agustus itu ada operasi Densus. Jika ada kenapa anggota Densus bisa teledor, bertugas tidak sesuai SOP?" kritik Neta.

Terkait Internal Polisi
Sementara itu, Pengamat Teroris Noor Huda Ismail mengungkapkan aksi penembakan polisi di Solo ini terkait internal polisi. Dari informasi yang didapat Noor dari sumber internal kepolisian, pelaku penembakan dan pelemparan granat adalah bekas polisi berinisial NB. "N ditangkap di Kebumen, Jateng. Polisi sendiri hingga kini belum mengekspose pelaku tersebut," tuturnya. 

Noor juga menyesalkan adanya pembentukan opini aksi penembakan di Solo dilakukan Farhan dan Mukhsin, kedua terduga anggota teroris yang tewas dalam penggerebekan Densus 88. "Jadi bukan dua terduga teroris, Farhan dan Mukhsin yang ditembak mati anggota Densus 88," tandas dia.

Pemerintah Bantah Rekayasa
Adanya suara-suara dugaan rekayasa ini membuat pemerintah bersuara keras. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mba membantah tegas peristiwa di Solo tersebut adalah rekayasa pemerintah. "Terlalu kejam, fitnah (itu) rekayasa. Polisi sudah tewas gitu masih rekayasa. Bagaimana sih kalian otaknya?" kata dia, ketika ditemui di Istana Negara, Senin (3/9).

Sebaliknya, Ansyaad menyatakan dengan tegas aksi teror di Solo itu dilakukan kelompok Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) pimpinan Abu Bakar Baasyir. Ditambahkannya, aparat sudah berhasil memetakan pola pendanaan aksi mereka, yang berasal dari hasil meretas situs, MLM online, speed cash online dan juga merampok. "Dana dari langit pun kalau ada, mereka ambil," tegas purnawirawan jenderal bintang dua kepolisian ini.

Berhubungan Dengan Jaringan Moro
Terkait jenis pistol Pietro Bareta buatan Italia, dengan tulisan Property Philippines National Police yang ditemukan di lokasi penyergapan berbeda dengan selonsong peluru di lokasi penembakan Bripka Dwi Data Subekti (FN kaliber 99 mm), Ansyaad justru mengatakan salah satu tersangka teroris yang tewas terbunuh, Farhan, adalah juga sosok yang membawa senjata dari Filipina ke Indonesia.

Menurut Ansyaad, Farhan termasuk kelompok darah biru dalam organisasi teroris, anak dari Suhartono, yang pernah mencoba membunuh Matori Abdul Jalil pada tahun 1999. Suhartono sendiri meninggal dihakimi oleh tukang ojek.

Ibunda Farhan juga diketahui menikah lagi dengan Abu Umar yang ditangkap tahun lalu. "Farhan ini yang membawa senjata dari Filipina ke Indonesia, sama si Abu Umar itu," tandas dia. 

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Letjen Marciano Norman mengungkapkan jaringan teroris di Solo itu memiliki keterkaitan erat dengan wilayah Moro di Filipina bagian selatan. "Ini ada kaitannya dengan Moro. Memang, Abu Umar pernah memasukkan senjata dari Filipina. Kita sedang mengembangkan dan melihat link-nya dengan Islam garis keras yang ada di negara tetangga," tandas dia.

http://www.beritasatu.com/hukum/69608-penembakan-solo-meninggalkan-banyak-tanda-tanya.html

Terduga Teroris Muchsin Suka Bantu Ibu Tiri Mencuci Piring


Muchsin
Senin, 03/09/2012 17:43 WIB
Jakarta Terduga teroris Muchsin (19) yang tewas ditembak mati di Solo, berperilaku baik terhadap ibu tirinya, Ziny Hasanah (41). Bahkan Muchsin suka membantu ibu tirinya mencuci piring.

"Anaknya baik sih. Suka membantu mencuci piring, ringan tangan begitu," kenang Ziny, di kediaman ayah Muchsin, Gang Haji Latif, Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (3/9/2012).

Ziny tidak menyangka anak tirinya tersebut bisa terjerumus dalam aksi terorisme. Apalagi usia Muchsin masih terbilang muda.

"Tidak menyangka banget soalnya anaknya sopan," kata Ziny.

Ziny terakhir bertemu Muchsin pada Lebaran bulan Agustus 2012. Muchsin bahkan ikut renang bersama keluarga.

Di tempat yang sama, Muslimin, ayah kandung Muchsin membenarkan terduga teroris yang tewas di Solo merupakan anaknya. Namun dia tidak menyangka jika anaknya merupakan teroris.

"Dia ramah, suka bercanda. Makanya saya nggak begitu yakin yang diduga teroris adalah anak saya," kata Muslimin.

Muslimin membenarkan Muchsin pernah menuntut ilmu di Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Sukoharjo. Muchsin mondok di pesantren itu selama 4 tahun. 

Pertemuan terakhir Muslimin dengan Muchsin terjadi pada 26 Agustus lalu. Setelah itu Muchsin pamit pulang ke Solo.

"Dia mau menyiapkan ternak ikan untuk usaha," ucap Muslimin.

Muchsin bersama rekannya Farhan ditembak mati Densus 88 di Solo pada Jumat (31/8). Jasad keduanya kini berada di RS Polri Kramat Jati menunggu hasil autopsi.

(nik/nrl) 



http://news.detik.com/read/2012/09/03/174356/2006704/10/terduga-teroris-muchsin-suka-bantu-ibu-tiri-mencuci-piring