Sunday, 14 July 2013
Thursday, 28 March 2013
Police Chief Killed By Angry Mob in North Sumatra
Sr. Comr. Heru Prakoso, a spokesman for the North Sumatra police, told Antara News Agency on Thursday that police chief Adj. Comr. Andra Siahaan received a tip about the gambling den on Wednesday evening.
Andar brought three other officers along him to the location: First Adj. Insp. Amada Simbolon, chief Brig. Lamsar Samosir and Brig. Leo Sidauruk.
The four officers arrested Y. Saragih for selling tickets for togel, a form of gambling based on numbers that is popular in North Sumatra.
Following the arrest, Saragih’s wife, Yeni Sumbayak, proceeded to make a scene and provoke residents of the village by telling them that the four officers were actually buffalo thieves.
The mob closed in on the four men and forced them to release Saragih. Three of the officers managed to escape the mob, though Andar failed to do so.
Andar reportedly called Simalungun district police chief Adj. Sr. Comr. Andi. S. Taufik for help.
“The victim called and told me that he was surrounded by an angry mob while he was inside his car,” Andi said, as quoted by Kompas.
Andi suggested that he leave his vehicle and run to safety.
“Five minutes later, his cell phone was no longer active, and I asked my officers to go to the location,” Andi said.
By the time officers with the Simalungun police arrived on the scene, the mob had already killed Andar. He was brutally beaten over the head with blunt objects.
Andi told Suara Pembaruan that 75 people who were allegedly involved in the attack have been detained by the Simalungun police. Twenty-five others have been brought in as witnesses.
“Those who were caught have been detained for further investigation,” he said. “We need to conduct an investigation to determine who masterminded the attack on the Pardamean police chief. Some of [those detained] will be named as suspects.”
Andi noted that the police were still searching for other residents involved in the incident.
“Among those arrested included the togel agent and his wife,” Andi said. “They allegedly triggered the angry mob ... We Won’t tolerate this violation of the law.”
Andar is survived by his wife and three children. His remains will be buried on Friday at Taman Bahagia cemetery.
http://www.thejakartaglobe.com/lawandorder/police-chief-killed-by-angry-mob-in-north-sumatra/582489?utm_source=newsletter&utm_medium=email&utm_campaign=jgnewsletter
Tuesday, 19 October 2010
Gerebeg Perjudian, Dua Warga Kena Tembak Polisi
Selasa, 19 Oktober 2010 - 16:02 WIB
LAMPUNG – Gerebek lokasi perjudian, anggota salah tembak sehingga mengenai dua warga yang tidak terlibat dalam perjudian tersebut, Selasa (19/10) sekitar pukul 00.30 WIB.
Saat kejadian, korban Edison, 25, dan Arsyad, 45, keduanya sedang berkumpul pesta di tempat pernikahan tetangganya Dusun Induk, Muaraputih, Natar, Lampung Selatan.
Kedua korban langsung dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah dr. Hi. Abdul Moeloek (RSU DAM). Edison mengalami luka tembak di bagian dada kanan, sedangkan Arsyad di bagian lengan kanan. Keduanya diduga menjadi korban salah tembak yang dilakukan oknum petugas Polsek Natar saat menggerebek judi koprok (judi dadu) di dusun setempat.
Menurut pengakuan Hari ,27, kedua korban tidak memiliki hubungan dengan kasus perjudian itu. Ketika kejadian, keduanya sedang berkumpul di rumah Een warga setempat yang melaksanakan pernikahan. ’
’Saat ribut-ribut, korban langsung lari disangka ada maling yang tertangkap,” ungkap Hari.
Ketika itulah beberapa aparat berpakaian preman melepaskan belasan kali tembakan. Dua peluru di antaranya mengenai kedua korban. Tiba-tiba saya terdengar bunyi tembakan dengan jumlah banyak hingga belasan kali.
Bunyi tembakan baru berhenti ketika keduanya mengaduh dengan bersimbah darah. Kedua korban langsung dilarikan ke klinik pengobatan terdekat. Namun, karena luka yang diderita cukup parah, korban dirujuk ke RSU DAM.
Ironisnya, karena alasan tidak ada dokter, keduanya lalu dialihkan ke RS Advent. Edison hingga kini masih dalam kondisi kritis
Orang tua edison, Harun, 57, mengaku mengetahui anaknya tertembak setelah diberitahu seorang kerabatnya.”Kami meminta anak kami kembali normal. Jika terjadi apa-apa pada Edison, akan saya tuntut polisi yang menembaknya,” ungkap Harun.
Berawal dari penggerebekan dilakukan oleh aparat Polsek Natar. Ketika itu, petugas berpakaian preman. Dua oknum aparat yang berhasil diidentifikasi adalah Hr dan Fb.
Korban Edison masih dalam kondisi kritis, dijadwalkan menjalani operasi untuk mengambil proyektil yang masih bersarang di dadanya. Sedangkan Arsyad, meski terlihat masih shock.
Sekitar pukul 02.30 WIB dini hari , Kapolres Lampung Selatan, AKBP Bahagia Dachi langsung mendatangi Polsek Natar. Sebelumnya juga, Kabid Propam Polda Lampung, AKBP. As’jimain juga terlihat hadir.
Sebelumnya, lima anggota Polsek Tanjungbintang dengan persenjataan lengkap juga datang. Kedatangan mereka untuk mengantisipasi aksi anarkisme warga. Terlihat juga delapan anggota Satbrimobda Natar bersenjata lengkap.
Sekitar pukul 02.00 WIB, tampak pula Dirintel Polda Lampung, Kombespol. Budiono Sandi. Kedatangannya hampir bersamaan dengan Dirreskrim Polda Lampung, Kombespol. Joko Hartanto.
Sementara itu, dua oknum pelaku penembakan kedua warga yang salah tembak ini masih menjalani pemeriksaan intensif Propam Polda Lampung.(Koesma/dms)
http://www.poskota.co.id/kriminal/2010/10/19/gerebeg-perjudian-dua-warga-kena-tembak-polisi
Thursday, 26 August 2010
Kapolres Situbondo: Penembakan Terhadap Anggota Marinir Tidak Disengaja
Menurut dia, penembakan itu dilakukan secara tidak sengaja karena berupaya membela diri. Pada Rabu dini hari (25/8), tujuh anggota Intelkam yang akan membubarkan perjudian di lokalisasi Bandengan, dihalang-halangi oleh massa. Korban berada di antara massa. "Bukan ditembak, yang lebih tepat adalah tertembak," katanya saat dihubungi Tempo, Kamis (26/8).
Namun Imam menolak menyebutkan inisial pelaku penembakan maupun para anggota Intelkam yang bertugas saat itu. Menurut dia, dari tujuh polisi tersebut empat di antaranya memegang senjata api. Mereka terjun ke lokalisasi karena mendapat informasi dari warga tentang adanya perjudian di tempat itu.
Imam menjelaskan, saat didatangi polisi, belasan orang yang berjudi termasuk Sersan Mayor Mahfud menolak dibubarkan. Bahkan Mahfud menghalang-halangi dan nyaris menyerang polisi. Saat itulah, kata Imam, anggotanya mengeluarkan tembakan peringatan. "Kemungkinan dari tembakan itu mengenai perut korban," ujarnya.
Berdasarkan keterangan saksi yang diperiksa polisi, anggota Marinir yang biasa bertugas di kawasan Pos Baluran itu kerap bermain judi di Lokalisasi Bandengan. Polisi menyita barang bukti berupa kartu jeki dan uang senilai Rp 500 ribu.
Kapolres Imam menambahkan, penyelidikan mengenai kasus ini sudah ditangani Kepolisian Daerah Jawa Timur. Bahkan tujuh angota Intelkam itu sedang menjalani pemeriksaan dari Propam Polda Jawa Timur. IKA NINGTYAS.
Thursday, 10 June 2010
Korban Tembakan Polisi Ngadu ke LBH
Saudara ipar Slamet, Dedi Santoso menyampaikan pengaduan itu kepada Kepala Divisi Operasional Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya Saiful Arif SH.
Sebelumnya Saiful Arif mengantar Slamet dan Dedi melapor ke Propam Polda Jawa Timur (jatim), namun laporan itu ditolak.
"Laporan mereka mendapat respons negatif dari Polda Jatim dengan alasan laporan serupa sudah dilaporkan ke Polres Probolinggo," kata Saiful Arif.
Didampingi Dedi Santoso, ia mengatakan laporan ke Polda Jatim itu sebenarnya karena laporan mereka ke Polres sudah tiga kali tidak ditanggapi.
"Polres Probolinggo sempat memanggil pelapor sebanyak tiga kali, tetapi selalu dibatalkan. Karena tidak ada kabar, kemudian pelapor ke Polda," katanya.
Menurut dia, pelapor mengadu ke LBH Surabaya dan akhirnya diantar ke Polda Jatim, karena luka tembak yang dialami pelapor membutuhkan bantuan pengobatan.
"Oleh karena itu, kami akan mendatangi Polres Probolinggo untuk menanyakan hal tersebut, dan kami juga sudah melapor ke Komnas HAM serta Kompolnas," katanya.
Slamet mengalami lumpuh pada tangan kanan dan kaki kanan, kaki kiri seperti terputus jarinya, matanya buta, dan batok kepala belakang terbuka.
"Ya, saat itu saya ikut berjudi bersama 12 orang dengan memakai dadu, tiba-tiba pukul 24.00 WIB ada dua polisi datang dengan tembakan peringatan," kata Slamet.
Ayah dua anak sebaya siswa kelas II SD dan kelas II SMP itu mengatakan penggerebekan judi tersebut membuat dirinya ketakutan, kemudian ia mendekati bandar judi itu.
Namun, kata suami Yuma tersebut, dirinya justru ditembak seorang polisi dari jarak sekitar satu meter, dan mengenai batok kepala bagian belakang.
Menurut Saiful Arif, penembakan pada 10 Desember 2009 tersebut tidak dapat dibenarkan, karena syarat melakukan penembakan apabila pelaku kabur atau melawan.
"Akibat tembakan mengenai batok kepala, korban tersungkur, kemudian dibawa ke Puskesmas, dan akhirnya ke RSUD dr Moh Saleh Probolinggo," katanya.
Namun, kondisi kritis membuat korban dibawa ke RSUD dr Syaiful Anwar Malang hingga dirawat selama satu bulan dengan pengobatan ditanggung pelaku/polisi.
"Sejak 7 Juni korban dipulangkan, tetapi korban menjalani rawat jalan dengan obat seharga Rp300 ribu untuk empat hari sekali," katanya.
Masalahnya, menurut dia, korban lumpuh dan membutuhkan biaya sekolah anak-anaknya, serta kebutuhan keluarganya, namun pelaku tidak mau menanggung sejak rawat jalan.
"Oleh karena itu, korban dan keluarganya meminta kami untuk membantu, dan kami sudah mengantar ke Polda Jatim, tetapi minggu depan akan kami antar ke Polres Probolinggo," katanya. (Btt/At)
