Wednesday, 8 August 2012
Beginilah Duka Keluarga yang Anaknya Tewas Ditembak Oknum Polisi Mabuk
Tuesday, 31 July 2012
Kata Polisi, Angga Tewas Bukan karena Ditembak
Senin, 30 Juli 2012 15:39 wib
Angga sebelumnya tewas saat terjadi bentrokan di Desa Limbang Jaya, Kecamatan Tanjung Batu, Ogan Ilir, Sumatera Selatan.
"Kita pastikan dia (Angga) tidak terkena peluru. Kita tidak temukan proyektil pada jenazah," ujar Agus kepada wartawan dalam jumpa pers, di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jaksel, Senin(30/7/2012).
Saat itu, lanjut Agus, keberadaan korban diakuinya jauh dari lokasi anggota polisi dan kematian Angga dipastikan bukan terkena peluru nyasar melainkan senjata tajam.
"Letak korban jauh dari lokasi anggota kita berada, sebab kematian korban akibat terkena benda tajam, kalau kita katakan peluru kita belum pastikan karena kita tidak temukan proyektil," jelas Agus.
Bentrok antara warga desa setempat dan aparat kepolisian berawal dari laporan perusahaan perkebunan tebu Perkebunan Nusantara (PTPN) VII Cinta Manis yang kehilangan pupuk sebanyak 127 ton di Rayon tiga pada 17 Juli 2012.
Saat personel Polda Sumsel dan Polres Ogan Ilir mengadakan olah TKP dan patroli serta dialog dengan warga situasi cukup kondusif.
Namun, saat iring-iringan anggota dari Polres yang terdiri atas penyidik, Intel, Sabhara, dan Brimob itu melintas, mereka pun terlibat bentrok dengan warga.
Akibat bentrokan tersebut, seorang anak bernama Angga Bin Darmawan (12) tewas di tempat kejadian. Sementara, empat orang lainnya mengalami luka tembak di bagian bahu dan tangan kiri yakni, Rusman (36), Yarman (50), Farida (46) tertembak di bagian tangan kanan dan Man (30) di bagian telinga kiri.
(put)
http://news.okezone.com/read/2012/07/30/337/670638/kata-polisi-angga-tewas-bukan-karena-ditembak
Sunday, 29 July 2012
Angga Meregang Nyawa di Depan Masjid
Angga Meregang Nyawa di Depan Masjid
TRIBUNNEWS.COM,INDRALA
Saturday, 28 July 2012
Polri Sebut Tembakan Kepada Warga bukan dari Pihaknya
Hasil sementara, Polri menyebut tembakan kepada korban bukan berasal dari pihaknya, karena berasal dari belakang.
"Korban yang tewas tertembak itu dari arah belakang, sedangkan arah anggota saat itu di depan. Ini sedang dicek kembali," kata Kepala bidang Penerangan Masyarakat Markas Besar Polri Kombes Boy Rafli Amar ketika dihubungi, Sabtu (28/7).
Ia pun yakin tembakan yang menewaskan seorang remaja, Angga bin Darmawan, 12, itu bukan dari sisi polisi. Ia juga memastikan ketika peristiwa terjadi, aparat Brimob ditempat kejadian tidak ada yang menggunakan peluru tajam.
"Sudah kami cek, tidak ada yang gunakan peluru tajam. Saat itu yang digunakan hanya peluru karet, peluru hampa, dan gas air mata," sebut Boy.
Lebih jauh, Boy juga menyebut ada kemungkinan tembakan yang mengenai korban berasal dari senjata api rakitan. Ia bahkan menyebut dalam investigasi yang dipimpin Wakapolda Sumatra Selatan juga melibatkan unsur reserse.
"Ada kemungkinan dari senpi rakitan, ini masih kami dalami. Karena itu kami juga melibatkan unsur reserse untuk menyelidiki dugaan ini," jelas Boy.
Diceritakan Boy, saat itu petugas yang sedang berpatroli diserang oleh sekitar 500 massa. Ketika itu, posisi petugas kepolisian yang sedang berpatroli terkepung. Boy menyebut penyerang ada yang terprovokasi.
"Saat itu petugas sedang patroli ke desa-desa dan kebetulan ketika lewat Desa Limbang Jaya patroli ini dilempari massa. Kemungkinan ada yang provokasi karena sebelum ada lemparan kami dengar bunyi-bunyian semacam kode untuk menyerang," ungkap Boy
Diakui Boy, memang ada juga tembakan dari aparat yang terkepung itu. "Kami sempat tembakkan gas air mata, sempat juga berikan tembakan peringatan." (Fid/OL-9)
Friday, 20 July 2012
Polisi Diprotes Gara-gara Tembak Bocah Pencuri Motor
SURABAYA, KOMPAS.com - Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur melayangkan protes kepada Kepolisian Sektor Gayungan, Surabaya atas penangkapan tersangka pencuri motor, Yoga Pratama (16) di kawasan Jalan Ketintang, Rabu lalu. Protes tersebut karena tersangka yang masih di bawah umur ini ditembak petugas saat hendak ditangkap.
Kepala Divisi Advokasi LPA Jatim, Edward Dewaruci mengatakan, karena masih di bawah umur, maka status Yoga Pratama adalah anak yang berhadapan dengan hukum. "Jangankan dengan kekerasan, menggunakan kekerasan secara psikis saja itu sudah melanggar undang-undang," katanya, Jumat (20/7/2012).
Karena itu, LPA Jatim meminta tanggung jawab Polsek Gayungan Surabaya atas penembakan ini. Kata Edward, LPA sendiri akan melakukan pendampingan untuk mengawal kasus ini.
"Kami akan mengadvokasi kasus ini sesuai amanat undang-undang, karena tindakan penanganan hukum terhadap anak, jangan sampai menimbulkan akibat buruk untuk masa depannya," tegas Edward.
Lebih lanjut dia menjelaskan, dalam Pasal 16 ayat (1) UU Perlindungan Anak disebutkan, setiap anak berhak memperoleh perlindungan dari sasaran penganiayaan, penyiksaan atau penjatuhan hukuman yang tidak manusiawi. Karena itu polisi harus menguasai teknik pelayanan hukum bagi anak-anak.
Yoga Pratama (16), seorang bocah lulusan SMP terpaksa dilumpuhkan paha kanannya dengan timah panas oleh polisi karena kedapatan mencuri motor Suzuki Satria L3024 QS di kawasan Raya Ketintang PTT, Rabu lalu. Tembakan dikeluarkan karena Yoga berusaha kabur saat akan ditangkap. Yoga dan beberapa anggota Polsek Gayungan sempat kejar-kejaran sebelum bocah ini dilumpuhkan.
http://regional.kompas.com/read/2012/07/20/1727529/Polisi.Diprotes.Gara.gara.Tembak.Bocah.Pencuri.Motor
Tuesday, 3 July 2012
Curi Ternak, Duda 3 Anak Ditembak
Saturday, 7 August 2010
Bekas Polisi Tembak Mati Anak Sendiri
PONTIANAK -- Percekcokan bapak dengan anaknya, berujung maut. Nyawa Leo, sang anak, melayang setelah menerima terjangan timah panas yang dibidikkan oleh ayah kandungnya sendiri, purnawirawan polisi AKBP Martin Hungan (58). Martin yang terakhir dinas di Polda Kalbar itu beraksi dengan senjata api laras pendek Revolver SNUB 58, kemarin. Saat ini, Martin ditahan di Poltabes Pontianak.
Berdasarkan keterangan resmi Kapoltabes Pontianak Komisaris Besar Polisi Rachmat Mulyana, peristiwa naas berawal dari perkelahian bapak-anak, Martin dengan Leo. Leo ingin meminta sejumlah uang kepada Martin tetapi permintaan diabaikan. Lalu timbul perselisihan paham. Leo mengancam menggunakan sebilah pisau. “Kemungkinan karena kepepet pelaku mengambil senjata di kamar. Lalu tembakan mengenai betis dan perut bagian kiri,” katanya.
Mengenai jenis senjata yang digunakan, Kapoltabes menyebut jenisnya Revolver SNUB 58. Ada tidaknya izin kepemilikan senpi itu masih diselidiki. "Dugaan senjata organik masih diteliti,” ujarnya.
Dalam pengakuannya kepada polisi, Martin kepada polisi, Leo punya sifat tempramen. Sering merongrong kehidupan keluarga, termasuk ingin menguras habis aset keluarga. Menurut keterangan Martin, dia menembak korban yang diawali dengan tembakan peringatan. Diungkapkan Martin, korban mengancam keluarga sendiri merupakan tindakan yang telah kesekian kalinya. Terhadap tersangka akan dikenakan ancaman pasal pembunuhan. “Tapi bukan pembunuhan yang direncanakan,” kata Kapoltabes.
Usai kejadian, TKP dijaga ketat aparat keamanan. Bahkan ada aparat bersenjata laras panjang bersiaga di sana. Aparat bagian identinfisikasi sibuk memungut sisa-sisa selonsongan peluru. Semua di foto. Termasuk mobil kijang warna putih yang diduga sempat dipakai untuk melarikan korban ke salah satu rumah sakit swasta usai di tembak Martin Hungan.
Tidak sembarang orang diperkenankan masuk. Rumah berlamat di Jalan Danau Sentarum, Gang Madjid Nomor 3 itu, keadaannya hanya bisa terpantau dari luar pagar yang dibatasi garis polisi. Warga sekitar ramai mendatangi TKP. Mereka saling bercerita tentang peristiwa yang menghebohkan itu dengan bergerombol di depan pintu pagar. Namun, kebanyakan warga memilih enggan bicara dan menolak memberikan keterangan. Sambil sesekali melontarkan ucapan; “Kami tidak tahu.”
Pontianak Post (grup JPNN) sempat memasuki rumah tersangka. Tapi, tak lama berselang, diminta keluar. “Maaf, masih penyilidikan dan ini permintaan keluarga,” kata salah seorang petugas. Ketika masih di dalam rumah berlantai dua yang bercorak putih itu, Pontianak Post sempat menyusur hingga ke ruang tengah. Di ruang itu, jasad Leo (36), korban disemayamkan. Kain coklat bermotifkan batik menutupi jenazahnya.
Anggota keluarga tampak sedih. Ketika itu jumlah aparat keamanan masih belum mencolok. Secara berangsur mereka datang. Menurut tetangga, Marsudi, dia sempat mendengar suara letupan, yang disusul adanya mobil putih yang langsung tancap gas meninggalkan rumah Martin. Rumah mereka tak jauh dari kediaman pribadi Gubernur Kalbar Cornelis. Secara pasti kejadian tidak Marsudi ungkapkan. Ia hanya menuturkan bahwa tiga suara tembakan terdengar jelas. Suara tersebut membuatnya terperanjat dan langsung ke luar rumah. Untuk memastikan asal suara letupan. “Suaranya dari rumah ini (rumah Martin Hungan, red),” katanya.
Diakui, dirinya tak melihat secara langsung peristiwa penembakan. “Memang sebelumnya sempat ada suara ribut-ribut,” kata Marsudi. Hal senada diceritakan Istina. Ketika suara letupan terdengar dirinya sedang mencuci mobil. “Suaranya nyaring. Tiga kali tembakan. Saya takut mendengarnya,” kata dia. Sementara warga lain, Sirat menuturkan sering mendengar korban terlibat konflik keluarga. Kabar yang dia ketahui korban selalu menginginkan permintaan dipenuhi. Leo tidak tinggal di sini (rumah Martin-red) tapi di Sei Jawi,” kata Sirat.
Informasi yang dihimpun Pontianak Post, mulanya Leo mendapat telepon dari seseorang. Diduga topik pembicaraan mengarah ke persoalan ruko. Korban memang memiliki ruko dan membuka usaha dagangan minuman. Usai menerima telepon, korban marah-marah kepada orangtuanya, Martin Hungan. Perselisihan muncul, korban menggunakan senjata tajam mengancam akan menghabisi seluruh penghuni rumah.
Termasuk pelaku salah satu pihak yang diancam korban. Perseteruan berawal di teras rumah. Karena merasa terancam, Martin masuk ke kamar mengambil pistol. Ia keluar dan sempat mengeluarkan tembakan peringatan sebelum akhirnya menjadikan korban sebagai sasaran tembakan. Tembakan mengenai betis dan perut bagian kiri Leo. Ia tersungkur, Martin berusaha menolong dengan melarikan ke rumah sakit. Tapi tembakan jarak dekat mempercepat kedatangan ajal Leo. Nyawanya tidak terselamatkan. (stm/sam/jpnn)
http://www.jpnn.com/index.php?mib=berita.detail&id=69486
