Showing posts with label polisi tembak anak. Show all posts
Showing posts with label polisi tembak anak. Show all posts

Wednesday, 8 August 2012

Beginilah Duka Keluarga yang Anaknya Tewas Ditembak Oknum Polisi Mabuk

REPUBLIKA.CO.ID
Rabu, 08 Agustus 2012, 05:16 WIB

Mata Admiah tampak sembab. Air mata kepedihan terasa susah ditahannya untuk tidak terus mengalir. Duka mendalam pun tampak jelas terpancar dari raut wajahnya yang pucat.

Admiah masih tidak percaya setiap kali menyadari bahwa putra tercintanya, Cipta Agus Tira (18 tahun), telah meninggal dunia, Ahad (5/8) sekitar pukul 02.30 WIB. 
Apalagi, saat mengingat putranya itu meninggal akibat ditembak oleh polisi. Padahal, Agus tidak melakukan kesalahan apapun.

''Saya belum ikhlas melepas kepergian Agus,'' tutur Admiah (37 tahun), saat ditemui di rumahnya di Desa Blender, Kecamatan Karangwareng, Kabupaten Cirebon, Selasa (7/8).

Sikap serupa diungkapkan suami Admiah yang juga ayah kandung Agus, Waryo (38 tahun). 
Pria yang bekerja sebagai kuli bangunan itu mengaku tidak ikhlas putra meninggal akibat ditembak polisi.

''Anak saya bukan penjahat, kok ditembak,'' ujar Waryo dengan nada geram.

Ingatan Waryo pun kembali melayang pada anak pertamanya itu. Dia menuturkan, Agus selama ini sangat berbakti pada orang tua. Agus bahkan rela tidak melanjutkan sekolahnya usai tamat dari SMPN 1 Karangwareng. Agus lebih memilih membantu tugasnya dalam mencari nafkah untuk keluarga. Maklum, penghasilannya sebagai kuli bangunan memang kecil.

Menurut Waryo, Agus rela membantu pekerjaannya sebagai kuli bangunan. 
Bahkan, ketika sedang tidak ada pekerjaan, Agus rela bekerja serabutan demi meringankan beban ekonomi keluarga.

Saat penembakan menimpa Agus, Waryo sedang bekerja sebagai kuli bangunan di Jakarta. Karenanya, tak heran Waryo langsung jatuh pingsan saat sampai di rumah setelah dikabari mengenai kematian putranya.

‘’Pokoknya saya tidak ikhlas,’’ tutur Waryo.

Waryo mengaku, perhatian dari pihak kepolisian memang besar setelah peristiwa yang menewaskan Agus. Kapolres Cirebon, AKBP Hero Henrianto Bachtiar, bahkan ikut menyalatkan dan memakamkan Agus di pemakaman umum desa setempat, Ahad (5/8) malam usai solat tarawih.

Selain itu, seluruh biaya pemakaman juga ditanggung pihak kepolisian. 
Ditambah lagi, sebagai ungkapan duka cita, Kapolda Jabar, Irjenpol Putut Eko Bayuseno telah mengirimkan karangan bunga. Kini, karangan bunga tersebut terpajang di depan rumah Waryo yang terbuat dari geribig sederhana.

‘’Semua itu tidak bisa mengembalikan Agus ke sisi saya,’’ kata Waryo sambil berurai air mata.

Admiah menambahkan, selama ini Agus selalu berusaha membahagiakan orang tua. Bahkan, Agus bercita-cita ingin membuatkan sebuah rumah yang layak.

‘’Agus bilang ingin kerja cari uang yang banyak supaya bisa membuat rumah untuk kami,’’ ujar Admiah.

Tak hanya itu, Agus pun sangat menyayangi adik semata wayangnya yang bernama Feri Ananda Silva (4 tahun). 
Saat memiliki uang, Agus tak segan membelikan apapun yang diinginkan sang adik.

Selain menyayangi keluarga, terang Admiah, Agus juga dikenal sebagai anak yang baik di lingkungannya. Agus selama ini tidak pernah berbuat hal yang meresahkan masyarakat. Saat sore hari, Agus biasanya hanya bermain voli bersama teman-temannya. Selama Ramadhan ini, setiap usai sahur dan salat Subuh, Agus pun hanya tidur di rumah.

‘’Tidak keluyuran kemana-mana,’’ tegas Admiah. 

Admiah berharap, polisi yang menambak putranya hingga tewas mendapat hukuman yang setimpal. 
Walau tidak bisa menghidupkan putranya kembali, namun hukuman yang akan diterima pelaku dapat sedikit melegakan hatinya.

Sementara itu, pelaku penembakan, Brigadir Sahidin Zainudin, mengakui bahwa dirinya memang menenggak minuman keras sebelum peristiwa itu terjadi. Dia pun berdalih bahwa senjata api yang dimilikinya rusak sehingga tanpa sengaja meletus dan menewaskan Agus.

Namun, pengakuan Sahidin mengenai kondisi senjata api yang rusak, dibantah Kapolres Cirebon, AKBP Hero Henrianto Bachtiar. 
Kapolres menegaskan, tidak pernah membagikan senjata yang rusak pada anggotanya.

‘’Senjata yang diberikan kepada anggota pasti dalam kondisi layak,’’ tegas Hero.

Hero mengungkapkan, pemeriksaan terhadap Sahidin kini masih terus berlangsung. Tersangka akan menjalani dua peradilan hukum, yakni peradilan umum dan peradilan kode etik. Untuk peradilan umum, tersangka akan dijerat pasal 359 KUHPidana dengan ancaman lima tahun penjara. Sedangkan di peradilan kode etik, tersangka terancam dipecat dari kesatuannya.   

Redaktur: Heri Ruslan
Reporter: Lilis Sri Handayani

http://www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/12/08/08/m8eok3-beginilah-duka-keluarga-yang-anaknya-tewas-ditembak-oknum-polisi-mabuk

Tuesday, 31 July 2012

Kata Polisi, Angga Tewas Bukan karena Ditembak

Senin, 30 Juli 2012 15:39 wib
JAKARTA - Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Pol Agus Rianto menegaskan, tewasnya Angga bin Darmawan (12) bukan terkena peluru petugas polisi.

Angga sebelumnya tewas saat terjadi bentrokan di Desa Limbang Jaya, Kecamatan Tanjung Batu, Ogan Ilir, Sumatera Selatan.

"Kita pastikan dia (Angga) tidak terkena peluru. Kita tidak temukan proyektil pada jenazah," ujar Agus kepada wartawan dalam jumpa pers, di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jaksel, Senin(30/7/2012).

Saat itu, lanjut Agus, keberadaan korban diakuinya jauh dari lokasi anggota polisi dan kematian Angga dipastikan bukan terkena peluru nyasar melainkan senjata tajam.

"Letak korban jauh dari lokasi anggota kita berada, sebab kematian korban akibat terkena benda tajam, kalau kita katakan peluru kita belum pastikan karena kita tidak temukan proyektil," jelas Agus.

Bentrok antara warga desa setempat dan aparat kepolisian berawal dari laporan perusahaan perkebunan tebu Perkebunan Nusantara (PTPN) VII Cinta Manis yang kehilangan pupuk sebanyak 127 ton di Rayon tiga pada 17 Juli 2012.

Saat personel Polda Sumsel dan Polres Ogan Ilir mengadakan olah TKP dan patroli serta dialog dengan warga situasi cukup kondusif.

Namun, saat iring-iringan anggota dari Polres yang terdiri atas penyidik, Intel, Sabhara, dan Brimob itu melintas, mereka pun terlibat bentrok dengan warga.

Akibat bentrokan tersebut, seorang anak bernama Angga Bin Darmawan (12) tewas di tempat kejadian. Sementara, empat orang lainnya mengalami luka tembak di bagian bahu dan tangan kiri yakni, Rusman (36), Yarman (50), Farida (46) tertembak di bagian tangan kanan dan Man (30) di bagian telinga kiri.
(put)



http://news.okezone.com/read/2012/07/30/337/670638/kata-polisi-angga-tewas-bukan-karena-ditembak

Sunday, 29 July 2012

Angga Meregang Nyawa di Depan Masjid


Angga Meregang Nyawa di Depan Masjid

Tribunnews.com - Sabtu, 28 Juli 2012 00:10 WIB
Angga Meregang Nyawa di Depan Masjid
Tribun Sumsel/Andi Agus T
Angga (13), bocah yang baru duduk di kelas 1 MTs ini, meregang nyawa tepat di depan Masjid Darusalam Desa Limbang Jaya, Kecamatan Tanjung Batu Kabuapten Ogan Ilir. Jumat (27/7/2012). Peristiwa tersebut terjadi buntut dari sengketa lahan PTPN VII Cinta Manis dengan warga. Sejak bentrok warga dengan aparat kepolisian di PTPN VII, polisi terus melakukan patroli guna pengamanan dan sosialisasi kepada warga. (Tribun Sumsel/Andi Agus T) 

TRIBUNNEWS.COM,INDRALA




A--Angga (13), bocah yang baru duduk di kelas 1 MTSini, meregang nyawa tepat di depan Masjid Darusalam Desa Limbang Jaya, Kecamatan Tanjung Batu Kabuapten Ogan Ilir
Dalam peristiwa berdarah itu, anak ke empat dari pasangan Darmawan dan Yuana itu tertembak di bagian kepala telinga sebelah kanan dan langsung  menghembuskan nafas terakhir di tempat tersebut.
Anak ke empat dari enam bersaudara ini, menurut Yuana, Ibu korban, hendak melihat banyaknya mobil polisi yang melintas di jalan. Ketika itu, ia sempat pamitan kepada ibunya.
"Mak, banyak mobil polisi aku nak lihat. Kata dia. Kemudian langsung pergi sedangkan saya di rumah," kata ibunya sambil terus menangis.
Setelah pamitan, Yuana mendapat berita, anak  tercintanya sudah tidak bernyawa lagi. Sementara, ayahnya yang berprofesi sebagai pandai besi, baru dua hari merantau.
Usai kejadian, Paldi kakaknya, terlihat menangis berserta keluarganya yang  lain. Sementara sang ibu tidak henti-hentinya meneteskan air mata. Ia masih tidak percaya dengan kepergian sang buah hati.
Dengan tersedu-sedu, ia meminta pertanggungjawaban atas kepergian sang buah hati.
Dari informasi yang dihimpun, menurut warga sekitar, Angga sedang melihat suasana ramai, ada anggota Brimob yang dikerumuni warga. Ketika polisi memberondong warga menggunakan senjata, ia tidak bisa menghindar dan akhirnya tertembak.
Sementara, situasi empat desa di kawasan tersebut, masih mencekam. Jelang Magrib, ratusan polisi Brimob siaga di simpang Limbang Jaya. Sedangkan, situasi desa juga masih mencekam. Mereka sangat trauma dengan apa yang terjadi.
Selongsongan peluru bekas rentetan tembakan, masih disimpan warga. Mereka berharap, usut tuntas kasus tersebut. Mereka tidak terima dengan perlakuan aparat yang memborbardi warga dengan tembakan bersenjata.
http://www.tribunnews.com/2012/07/28/angga-meregang-nyawa-di-depan-masjid

Saturday, 28 July 2012

Polri Sebut Tembakan Kepada Warga bukan dari Pihaknya


MI/Baharman/vg
Penulis : Fidel Ali Permana|Sabtu, 28 Juli 2012
JAKARTA--MICOM: Kepolisian Republik Indonesia hingga kini masih menyelidiki peristiwa tewasnya seorang warga akibat tembusan peluru dalam konflik lahan di Ogan Ilir, Sumatra Selatan.

Hasil sementara, Polri menyebut tembakan kepada korban bukan berasal dari pihaknya, karena berasal dari belakang.

"Korban yang tewas tertembak itu dari arah belakang, sedangkan arah anggota saat itu di depan. Ini sedang dicek kembali," kata Kepala bidang Penerangan Masyarakat Markas Besar Polri Kombes Boy Rafli Amar ketika dihubungi, Sabtu (28/7).

Ia pun yakin tembakan yang menewaskan seorang remaja, Angga bin Darmawan, 12, itu bukan dari sisi polisi. Ia juga memastikan ketika peristiwa terjadi, aparat Brimob ditempat kejadian tidak ada yang menggunakan peluru tajam.

"Sudah kami cek, tidak ada yang gunakan peluru tajam. Saat itu yang digunakan hanya peluru karet, peluru hampa, dan gas air mata," sebut Boy.

Lebih jauh, Boy juga menyebut ada kemungkinan tembakan yang mengenai korban berasal dari senjata api rakitan. Ia bahkan menyebut dalam investigasi yang dipimpin Wakapolda Sumatra Selatan juga melibatkan unsur reserse.

"Ada kemungkinan dari senpi rakitan, ini masih kami dalami. Karena itu kami juga melibatkan unsur reserse untuk menyelidiki dugaan ini," jelas Boy.

Diceritakan Boy, saat itu petugas yang sedang berpatroli diserang oleh sekitar 500 massa. Ketika itu, posisi petugas kepolisian yang sedang berpatroli terkepung. Boy menyebut penyerang ada yang terprovokasi.

"Saat itu petugas sedang patroli ke desa-desa dan kebetulan ketika lewat Desa Limbang Jaya patroli ini dilempari massa. Kemungkinan ada yang provokasi karena sebelum ada lemparan kami dengar bunyi-bunyian semacam kode untuk menyerang," ungkap Boy

Diakui Boy, memang ada juga tembakan dari aparat yang terkepung itu. "Kami sempat tembakkan gas air mata, sempat juga berikan tembakan peringatan." (Fid/OL-9) 

http://m.mediaindonesia.com/index.php/read/2012/07/28/336441/126/101/Bentrok_Warga_Vs_Brimob_Polri_Sebut_Tembakan_Kepada_Warga_bukan_dari_Pihaknya?utm_medium=twitter&utm_source=twitterfeed

Friday, 20 July 2012

Polisi Diprotes Gara-gara Tembak Bocah Pencuri Motor




KOMPAS.com/ACHMAD FAIZALPelaku curanmor yang masih anak-anak dilumpuhkan timah panas.

SURABAYA, KOMPAS.com 
- Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur melayangkan protes kepada Kepolisian Sektor Gayungan, Surabaya atas penangkapan tersangka pencuri motor, Yoga Pratama (16) di kawasan Jalan Ketintang, Rabu lalu. Protes tersebut karena tersangka yang masih di bawah umur ini ditembak petugas saat hendak ditangkap.

Kepala Divisi Advokasi LPA Jatim, Edward Dewaruci mengatakan, karena masih di bawah umur, maka status Yoga Pratama adalah anak yang berhadapan dengan hukum. "Jangankan dengan kekerasan, menggunakan kekerasan secara psikis saja itu sudah melanggar undang-undang," katanya, Jumat (20/7/2012).
Karena itu, LPA Jatim meminta tanggung jawab Polsek Gayungan Surabaya atas penembakan ini. Kata Edward, LPA sendiri akan melakukan pendampingan untuk mengawal kasus ini.
"Kami akan mengadvokasi kasus ini sesuai amanat undang-undang, karena tindakan penanganan hukum terhadap anak, jangan sampai menimbulkan akibat buruk untuk masa depannya," tegas Edward.
Lebih lanjut dia menjelaskan, dalam Pasal 16 ayat (1) UU Perlindungan Anak disebutkan, setiap anak berhak memperoleh perlindungan dari sasaran penganiayaan, penyiksaan atau penjatuhan hukuman yang tidak manusiawi. Karena itu polisi harus menguasai teknik pelayanan hukum bagi anak-anak.
Yoga Pratama (16), seorang bocah lulusan SMP terpaksa dilumpuhkan paha kanannya dengan timah panas oleh polisi karena kedapatan mencuri motor Suzuki Satria L3024 QS di kawasan Raya Ketintang PTT, Rabu lalu. Tembakan dikeluarkan karena Yoga berusaha kabur saat akan ditangkap. Yoga dan beberapa anggota Polsek Gayungan sempat kejar-kejaran sebelum bocah ini dilumpuhkan.


http://regional.kompas.com/read/2012/07/20/1727529/Polisi.Diprotes.Gara.gara.Tembak.Bocah.Pencuri.Motor
Editor :
Farid Assifa

Tuesday, 3 July 2012

Curi Ternak, Duda 3 Anak Ditembak


Penulis : Kontributor Tana Luwu, Husain | Senin, 2 Juli 2012 | 18:30 WIB

LUWU TIMUR, KOMPAS.COM - Berusaha melawan polisi saat disergap, seorang pencuri ternak di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, terpaksa ditembak. Pelaku bernama Kusri (38) dilumpuhkan oleh Satuan Unit Reaksi Cepat Polsek Wotu saat membongkar sindikat pencurian ternak pada Senin (2/7/2012).
Kepala Unit Reskrim Polsek Wotu Aipda Marthen Luther menjelaskan, Kusri yang mengaku warga Desa Lakawali, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur ditangkap di tempat persembunyiannya di Desa Karambua. Pelaku sempat melawan polisi ketika hendak ditangkap. Bahkan tersangka hendat merebut pistol polisi. Akhirnya duda tiga anak ini menyerah setelah peluru menembus kaki kirinya.
“Kami terpaksa menembak tersangka karena berusaha merebut pistol dari tangan anggota," ungkap Aipda Marthen.
Terbongkarnya jaringan pencurian ternak berupa sapi dan kerbau di Kabupaten Luwu Timur, berawal dari tertangkapnya Suhartono, saat sedang mengangkut sapi curian di Desa Karambua, Kecamatan Wotu.
Beberapa hari kemudian, polisi akhirnya meringkus Safei dan Kusri di lokasi persembunyianya.di wilayah Desa Karambua. Dari tangan Kusri dan Safei, polisi menyita barang bukti satu ekor sapi dan juga satu unit mobil Isuzu Phanter yang selama ini digunakan pelaku sebagai kendaraan pengangkut sapi curian.
Kusri duda tiga anak ini, mengaku bahwa aksi pencurian yang dilakukannya selama ini karena tidak memiliki pekerjaan lain. Sementara dia harus menghidupi tiga orang anaknya yang masih bocah. “Awalnya saya bekerja sebagai petani rumput laut, tetapi hasil dari bertani rumput laut, tidak dapat mencukupi kebutuhan keluarga," ungkap Kusri, yang sedang terbaring di Rumah Sakit I Lagaligo, Wotu.
Sementara itu, Kapolres Luwu Timur, AKBP Andi Firman membenarkan adanya penangkapan gembong pencurian ternak di wilaya hukumnya. “Tersanga selama ini masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) dengan berbagai kasus pencurian. Selain itu, mereka juga telah beberapa kali keluar masuk rumah tahan (resedivis)," tegas Andi Firman.

Editor :
Farid Assifa


http://regional.kompas.com/read/2012/07/02/18300935/Curi.Ternak..Duda.3.Anak.Ditembak

Saturday, 7 August 2010

Bekas Polisi Tembak Mati Anak Sendiri

PONTIANAK -- Percekcokan bapak dengan anaknya, berujung maut. Nyawa Leo, sang anak, melayang setelah menerima terjangan timah panas yang dibidikkan oleh ayah kandungnya sendiri, purnawirawan polisi AKBP Martin Hungan (58). Martin yang terakhir dinas di Polda Kalbar itu beraksi dengan senjata api laras pendek Revolver SNUB 58, kemarin. Saat ini, Martin ditahan di Poltabes Pontianak.

Berdasarkan keterangan resmi Kapoltabes Pontianak Komisaris Besar Polisi Rachmat Mulyana, peristiwa naas berawal dari perkelahian bapak-anak, Martin dengan Leo. Leo ingin meminta sejumlah uang kepada Martin tetapi permintaan diabaikan. Lalu timbul perselisihan paham. Leo mengancam menggunakan sebilah pisau. “Kemungkinan karena kepepet pelaku mengambil senjata di kamar. Lalu tembakan mengenai betis dan perut bagian kiri,” katanya.

Mengenai jenis senjata yang digunakan, Kapoltabes menyebut jenisnya Revolver SNUB 58. Ada tidaknya izin kepemilikan senpi itu masih diselidiki. "Dugaan senjata organik masih diteliti,” ujarnya.

Dalam pengakuannya kepada polisi, Martin kepada polisi, Leo punya sifat tempramen. Sering merongrong kehidupan keluarga, termasuk ingin menguras habis aset keluarga. Menurut keterangan Martin, dia menembak korban yang diawali dengan tembakan peringatan. Diungkapkan Martin, korban mengancam keluarga sendiri merupakan tindakan yang telah kesekian kalinya. Terhadap tersangka akan dikenakan ancaman pasal pembunuhan. “Tapi bukan pembunuhan yang direncanakan,” kata Kapoltabes.

Usai kejadian, TKP dijaga ketat aparat keamanan. Bahkan ada aparat bersenjata laras panjang bersiaga di sana. Aparat bagian identinfisikasi sibuk memungut sisa-sisa selonsongan peluru. Semua di foto. Termasuk mobil kijang warna putih yang diduga sempat dipakai untuk melarikan korban ke salah satu rumah sakit swasta usai di tembak Martin Hungan.

Tidak sembarang orang diperkenankan masuk. Rumah berlamat di Jalan Danau Sentarum, Gang Madjid Nomor 3 itu, keadaannya hanya bisa terpantau dari luar pagar yang dibatasi garis polisi. Warga sekitar ramai mendatangi TKP. Mereka saling bercerita tentang peristiwa yang menghebohkan itu dengan bergerombol di depan pintu pagar. Namun, kebanyakan warga memilih enggan bicara dan menolak memberikan keterangan. Sambil sesekali melontarkan ucapan; “Kami tidak tahu.”

Pontianak Post (grup JPNN) sempat memasuki rumah tersangka. Tapi, tak lama berselang, diminta keluar. “Maaf, masih penyilidikan dan ini permintaan keluarga,” kata salah seorang petugas. Ketika masih di dalam rumah berlantai dua yang bercorak putih itu, Pontianak Post sempat menyusur hingga ke ruang tengah. Di ruang itu, jasad Leo (36), korban disemayamkan. Kain coklat bermotifkan batik menutupi jenazahnya.

Anggota keluarga tampak sedih. Ketika itu jumlah aparat keamanan masih belum mencolok. Secara berangsur mereka datang. Menurut tetangga, Marsudi, dia sempat mendengar suara letupan, yang disusul adanya mobil putih yang langsung tancap gas meninggalkan rumah Martin. Rumah mereka tak jauh dari kediaman pribadi Gubernur Kalbar Cornelis. Secara pasti kejadian tidak Marsudi ungkapkan. Ia hanya menuturkan bahwa tiga suara tembakan terdengar jelas. Suara tersebut membuatnya terperanjat dan langsung ke luar rumah. Untuk memastikan asal suara letupan. “Suaranya dari rumah ini (rumah Martin Hungan, red),” katanya.

Diakui, dirinya tak melihat secara langsung peristiwa penembakan. “Memang sebelumnya sempat ada suara ribut-ribut,” kata Marsudi. Hal senada diceritakan Istina. Ketika suara letupan terdengar dirinya sedang mencuci mobil. “Suaranya nyaring. Tiga kali tembakan. Saya takut mendengarnya,” kata dia. Sementara warga lain, Sirat menuturkan sering mendengar korban terlibat konflik keluarga. Kabar yang dia ketahui korban selalu menginginkan permintaan dipenuhi. Leo tidak tinggal di sini (rumah Martin-red) tapi di Sei Jawi,” kata Sirat.

Informasi yang dihimpun Pontianak Post, mulanya Leo mendapat telepon dari seseorang. Diduga topik pembicaraan mengarah ke persoalan ruko. Korban memang memiliki ruko dan membuka usaha dagangan minuman. Usai menerima telepon, korban marah-marah kepada orangtuanya, Martin Hungan. Perselisihan muncul, korban menggunakan senjata tajam mengancam akan menghabisi seluruh penghuni rumah.

Termasuk pelaku salah satu pihak yang diancam korban. Perseteruan berawal di teras rumah. Karena merasa terancam, Martin masuk ke kamar mengambil pistol. Ia keluar dan sempat mengeluarkan tembakan peringatan sebelum akhirnya menjadikan korban sebagai sasaran tembakan. Tembakan mengenai betis dan perut bagian kiri Leo. Ia tersungkur, Martin berusaha menolong dengan melarikan ke rumah sakit. Tapi tembakan jarak dekat mempercepat kedatangan ajal Leo. Nyawanya tidak terselamatkan. (stm/sam/jpnn)

http://www.jpnn.com/index.php?mib=berita.detail&id=69486