Showing posts with label Lhokseumawe. Show all posts
Showing posts with label Lhokseumawe. Show all posts

Sunday, 16 September 2012

Pencuri Ban Dalam Tinggalkan Mobil Xenia Setelah Ditembak Polisi

Minggu, 16 September 2012 14:09 WIB
Lhokseumawe - Komplotan pencuri beraksi di kios sepeda motor di Bireuen, Aceh. Polisi datang sebelum mereka menggasak ban sepeda motor. Polisi pun sempat melepaskan tembakan di lokasi.
Minggu (16/9) dini hari, komplotan pencuri menyantroni kios milik Fahmi (40) di Jalan Jalan Banda Aceh-Medan, Desa Tiengkeum Manyang, Kabupaten Bireuen, Aceh. Aksi itu diketahui warga sekitar dan segera dilaporkan ke kantor polisi terdekat.

Aparat Subsektor Kuta Blang, Polres Bireun, datang sekitar pukul 04.30 WIB. Pencuri yang diperkirakan berjumlah empat orang, kalang kabut. Mereka kabur dengan mobil. Letusan senjata api terdengar berkali-kali.

Polisi berhasil mengamankan mobil pelaku yang bernopol BK 1757 HA. Di mobil terdapat sekitar 70 ban sepeda motor hasil curian dari Desa Kulu Kuta, Kecamatan Kuta Blang.

"Mereka membongkar kios bengkel sepeda motor itu dengan linggis," kata Isra, warga setempat pada wartawan, Minggu (16/9).

Isra menambahkan, saat komplotan itu beraksi, ada warga yang melihat dan langsung melaporkan ke polisi. "Beberapa menit kemudian terdengar rentetan letusan senjata api. Polisi mengejar mobil dan belok ke jalan desa di ujung timur jembatan Krueng Tingkeum. Pelaku berhasil lolos," kata Isra.

Kapolsek Kutablang Aiptu Azharuddin membenarkan kejadian itu. "Iya, mobil itu ditembaki anggota (polisi) sebab mereka tidak mau berhenti. Sebelumnya anggota melepaskan tembakan peringatan," kata Azharuddin saat dihubungi wartawan. 

Azharuddin menjelaskan, satu peluru mengenai kaca belakang mobil tembus ke kaca depan. Untuk penyelidikan lebih lanjut, polisi memasang garis polisi di lokasi kejadian. Pelaku terus diburu oleh polisi setempat. [004-detik]

http://www.theglobejournal.com/Kriminalitas/pencuri-ban-dalam-tinggalkan-mobil-xenia-setelah-ditembak-polisi/index.php

Wednesday, 14 March 2012

Pelaku Pembantaian Ibu Dan Anak, Ditembak Oleh Polisi


15 March 2012

Lhokseumawe | Acehtraffic.com –  Pelaku pembantain  ibu dan anak di Dusun Arasiloe, Gampong Riseh Tunong, Kecamatan Sawang, Aceh Utara  dalam waktu 12 jam setelah melakukan pembantaian, pelaku pun berhasil dibekuk oleh Polisi dengan timah panas yang mengenai kaki kirinya. Rabu, 14 Maret 2012.

Pelaku dibekuk pada saat memberikan uang  kepada calon istrinya yang baru di Gampong Simpang Mulieng, Kecamatan Syamtalira Aron, Aceh Utara.
Kapolres Lhokseumawe AKBP Kukuh Santoso melalui Kasat Reskrim AKP Galih Indragiri kepada reporter The Aceh Traffic mengatakan, bahwasannya pelaku pembantaian tersebut  bernama Muzakir [40], alias Marahet yang tinggal di Gampong yang sama dengan korban, pelaku ditangkap pada saat duduk di rumah calon istrinya yang baru bernama Mariza [35], di Gampong Simpang Mulieng, Kecamatan Syamtalira Aron.
Sebelum kerumah calon istrinya yang baru, Muzakkir juga telah menjual emas sebanyak 5 manyam di salah satu toko mas yang berada di Pasar Geudong, Kecamatan Samudera, Aceh Utara. Jarak  Pasar itu  dengan tempat lokasi dilumpuhkan hanya berjarak sekitar 3 Km. “ Ketika  kami hendak mendekat, Muzakir mencoba untuk lari dan menghindar dari polisi. Kemudian kami langsung menembak kaki kiri Muzakir,” Ujar AKP Galih Indra Giri.

Setelah terkena tembak, pelaku kemudian dibawa ke Rumah Sakit Umum Darah Cut Meutia [RSUDCM] Lhokseumawe pada pukul 10:30. Setiba di Rumah Sakit kaki Muzakir yang kena peluru langsung dijahit oleh petugas medis. Setelah menjalani perawatan medis, pelaku pun langsung diamankan ke Mapolres Lhokseumawe dengan  mobil pick up kepolisian.

“Selain menangkap pelaku pembantaian, Kepolsian juga telah mengamankan sejumlah barang bukti, yaitu: emas lima manyam dari pembeli di pasar Geudong, serta sebilah parang ukuran mata sepanjang 35 cm, uang tunai  Rp5 juta dan jeans yang sudah sobek”. Terang Kasar Reskrim Polres Lhokseumawe.

Saat ini, istri pelaku pembantain itu dan calon istrinya yang baru telah diamankan oleh pihak Kepolisian. “Kita tidak hanya mengamankan barang bukti saja, akan tetapi kita juga telah mengamankan istri Muzakir dan calon istri barunya,” Ungkap AKP Galih.

Pelaku pembantaian tersebut terancam dengan hukuman seumur hidup, karena sudah pernah terlibat pada ksus lainnya dan Muzakir juga merupakan sebagai buronan polisi, karena telah meloloskan diri dari LP Banda Aceh terkait pembunuhan pada 20 tahun silam.

 “Apabila pelaku pembantain tersebut tidak kami tangkap hari ini, maka dia akan dihajar massa apabila pulang  ke Gampongnya, menurut keterangan warga dia sangat dibenci oleh masyarakat kampungnya sendiri,” ujar Galih.

Saira [36] merupakan sebagai Istri pelaku pembantaian, di Mapolres Lhokseumawe, mengaku bahwasannya dirinya sungguh menyesal telah menikah dengan Muzakir. Menurutnya semenjak menikah dengan pelaku dirinya telah dikarunia seorang anak. Saat mareka berprofesi sebagai petani kebun di Gampong nya. Penyesalan itu terjadi pada saat dua tahun setelah kawin, karena dirinya telah  mengetahui bahwasannya kekasih hatinya itu pernah masuk penjara dan kabur.

Sementara itu Mariza [35] calon istri baru pelaku pembantaian, yang sangat dekat dengan istri pelau pembantaian mengaku bahwa dirinya baru mengenal Muzakir pada dua bulan lalu melalui Hand Phone. Semenjak itulah mereka saling telepon, dan hubungan pun semakin erat serta ketemuan sekitar tiga kali dengan hari kejadian. 

“Pada hari ini Bang Muzakiri mengajak saya tunangan dan saya diberi uang sebesar Rp1,5 juta,” ungkap Mariza.

Ketika diberi uang, sambung Mariza, saya menjadi kaget, karena selama ini abang Muzakir tidak punya uang untuk menikah. Akibat dari kejadian itu Mariza tidak akan pernah mau untuk dinikahi oleh Muzakir.| AT | KH |

http://www.acehtraffic.com/2012/03/pelaku-pembantaian-ibu-dan-anak.html


Saturday, 14 January 2012

Gagal Ringkus Buronan, Truk Polisi Dihadang Massa


Tribunnews.com - Minggu, 15 Januari 2012 10:35 WIB

Laporan Tim Wartawan Serambi Indonesia
TRIBUNNEWS.COM, LHOKSUKON – Misi aparat keamanan dari Polsek Paya Bakong dan Polres Aceh Utara untuk meringkus tersangka penculik berinisial Ras alias Mar (30) di rumahnya, Desa Tanjong Drien, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara, Sabtu (14/1/2012) malam gagal karena tersangka lolos meski sudah ditembak di bagian kaki.
Setelah mendengar suara tembakan, masyarakat berhamburan menghadang truk karena mengira di dalam truk bukan polisi.
Informasi yang dihimpun Serambi, Ras merupakan tersangka penculik Tarmizi (22), warga Desa Jeumpa Beureughang, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara pada 25 Mei 2010. Ras masuk daftar pencarian orang (DPO) Polres Aceh Utara sejak akhir Mei 2010.
Mendapat informasi Ras berada di rumahnya, Kapolres Aceh Utara, AKBP Farid BE langsung memerintahkan anggotanya untuk menangkap. Tim polisi meluncur ke rumah Ras mengendarai sebuah truk. Seusai magrib, rumah Ras langsung dikepung. Saat itu tersangka sedang di dalam rumah bersama istri dan ibunya.
Mengetahui polisi datang, Ras kabur tanpa mengindahkan peringatan polisi agar menyerah. Polisi berusaha melumpuhkan tersangka dengan menembak bagian kakinya. Dalam kondisi yang diyakini sudah tertembak, Ras tetap kabur.
Suara tembakan mengejutkan masyarakat setempat. Dengan gerak cepat, kaum ibu dan anak-anak ke luar rumah menghadang truk. Aksi spontan tersebut karena masyarakat sempat mengira di dalam truk itu bukan aparat keamanan.
Kapolres Aceh Utara, AKBP Farid BE membenarkan tersangka berhasil kabur meski sudah ditembak untuk melumpuhkan. “Dia ditembak di kaki. Meski sudah ditembak tetap saja kabur. Dia ini terbilang penjahat yang gesit. Kini polisi terus mengejar tersangka,” kata Farid.
Ayah Ras, Ismail (50) yang dihubungi Serambi mengatakan, dia sudah dapat kabar anaknya ditembak. Namun Ismail mengaku belum tahu siapa yang menembak. Saya akan cari tahu bagaimana nasib anak saya,” kata Ismail yang ketika dihubungi sedang dalam perjalanan dari Lhok Nibong, Aceh Timur ke Paya Bakong.(c46/bah/c37/ib)

Editor: Hendra Gunawan  |  Sumber: Serambi Indonesia
Akses Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat m.tribunnews.com
http://www.tribunnews.com/2012/01/15/gagal-ringkus-buronan-truk-polisi-dihadang-massa

Wednesday, 7 December 2011

Anak ditembak, ibu ke Propam


WEDNESDAY, 07 DECEMBER 2011 17:03   

BANDA ACEH - Seorang perempuan bernama Nur Hasanah (44), beralamat di Jalan Panglima Kaom, Desa Uteun Bayi, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe mengadu ke Mapolda Aceh Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) sehubungan kasus penembakan yang menimpa anaknya, Muhammad Nur bin Ramli (22), salah seorang tahanan Rutan Bireuen.

Laporan pengaduan penembakan oleh aparat kepolisian tersebut ditandatangi Brigadir P Sihotang dengan Nomor STPL/78/XII/2011/Yanduan Tanggal 5 Desember 2011.

Seperti diberitakan, salah seorang tahanan Rutan Bireuen yang kabur bernama Muhammad bin Ramli harus dilumpuhkan dengan timah panas saat dipergoki menjelang tengah malam di sebuah kios kawasan Kota Lhokseumawe, Jumat (2/12).

“Karena tak menggubris peringatan petugas, terpaksa ditembak di betis kanannya hingga tidak bisa lari lagi,” kata Kapolres Bireuen, AKBP Yuri Karsono SIK melalui Kapolsek Jeunieb, Iptu PM Kataren kepada Serambi, Sabtu 3 Desember 2011.

Namun, keterangan pihak kepolisian dibantah oleh Nur Hasanah dengan mengutip laporan orang-orang kepercayaannya. “Anak saya ditembak polisi setelah dibawa ke Bireuen,” jelas Nur Hasanah, yang secara khusus datang Kantor Serambi di Meunasah Manyang, Selasa (6/12) sore.

Menurut Nur Hasanah, pernyataan Kapolres Bireuen yang menyebutkan anaknya ditembak karena tak menggubris peringatan petugas, tidak benar. “Anak saya sengaja ditembak betisnya dari jarak sangat dekat setelah celana jeans-nya disingkap. Di celana itu tak terlihat tanda atau bekas lubang peluru dan bercak darah, kecuali baju hitam bergaris abu-abu yang dipakai korban saat ditangkap yang berlumuran darah,” jelas Nur Hasanah, seraya memperlihatkan jeans dan baju yang dikenakan anaknya saat peristiwa penembakan itu terjadi.

Masih menurut Nur Hasanah, anaknya ditangkap oleh empat polisi, Jumat (2/12) di kawasan Jalan Kenari Kuta Blang, Lhokseumawe. Beberapa saat kemudian dibawa ke Mapolres Lhokseumwe dan kondisinya masih sehat. “Tapi, setelah dibawa ke Mapolres Bireuen, anak saya diberitahukan telah tertembak di bagian kaki kanannya,” ujar Nur Hasanah.

Merasa ada kejanggalan dan tak terima dengan perlakuan itu, Nur Hasanah melaporkan peristiwa yang menimpa anaknya ke Mapolda Aceh Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam). “Saya berharap kasus ini diusut tuntas,” ujar Nur Hasanah penuh harap.

Editor: PRAWIRA SETIABUDI
(dat06/Serambi)

Tuesday, 19 October 2010

Dua Perampok Bank Ditembak Mati

Selasa, 19 Oktober 2010 | 16:16 WIB
LHOKSEUMAWE, KOMPAS.com —
Aparat Polres Aceh Timur menembak mati dua dari empat pelaku perampokan Bank BRI di Desa Lhok Nibong, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur, Selasa (19/10/2010).

Kapolres Aceh Timur AKBP Ridwan Usman di lokasi kejadian atau sekitar 80 km dari Lhokseumawe itu mengatakan, perampokan BRI yang dilakukan empat pemuda dengan menggunakan sepeda motor terjadi sekitar 10.30 WIB di saat ramainya nasabah bank tersebut.

Dua pelaku lainnya yang berhasil kabur dengan membawa lari senjata api jenis AK-47 dari rekannya yang tertembak masih terus dilakukan pengejaran. Uang senilai Rp 100 juta gagal dibawa kawanan perampok.

Menurut Kapolres, pada jam tersebut empat pemuda mengendarai sepeda motor jenis Mio warna hijau dan Jupiter MX BL 3065 ZI merah berhenti di depan Bank BRI setempat.

Dua dari empat kawanan bersenjata AK-47 tersebut menggunakan helm langsung masuk menuju kasir dengan todongan senjata pelaku langsung mengambil uang, sedangkan dua pelaku lainnya berjaga jaga di atas sepeda motor di depan bank.

Melihat kondisi tersebut, kata Kapolres, dua anggota Polsek Pante Bidari yang bertugas pengamanan BRI setempat, yakni Briptu Hadi dan Briptu Yudi, langsung mengambil sikap saat pelaku hendak kabur setelah merampok uang dari meja kasir.

"Dua ditembak saat lari keluar dari gerbang BRI, keduanya roboh di tempat, sementara dua rekannya berhasil kabur dengan membawa lari AK-47 dan uang senilai Rp 100 juta berhasil diselamatkan dari tangan pelaku yang ditembak," kata Kapolres.

Kapolres menambahkan, kedua pelaku yang ditembak, yakni Tarmizi (32), warga Desa Syantalira Arun dengan luka tembak di dada kanan hingga tembus punggung dan terkena tembakan pada paha kaki kiri.

"Pelaku yang kedua tanpa identitas terkena tembakan pada paha kiri dan kanan, betis, dan bagian perut kanan. Kedua jenazah langsung dibawa ke Puskesmas Simpang Ulim Aceh Timur. Satu sepeda motor Jupiter MX kita amankan," kata Kapolres.

Lebih lanjut, Kapolres Aceh Timur menuturkan, pihaknya akan terus melakukan pengejaran terhadap dua pelaku yang berhasil kabur dengan membawa senjata api.

http://regional.kompas.com/read/2010/10/19/16162851/Dua.Perampok.Bank.Ditembak.Mati

Sunday, 13 June 2010

Aktivitas Penderes Terhenti

Mon, Jun 14th 2010, 11:48

LHOKSEUMAWE
- Pascainsiden tertembak matinya Aji Don alias Raden (25), Jumat (11/6) sore oleh oknum polisi yang sedang mengamankan PT Satya Agung, kini aktivitas para penderes getah di perkebunan karet itu nyaris terhenti total. Sebagian besar penderes memilih tak bekerja, karena masih berkabung atas meninggalnya teman mereka sesama penderes yang diklaim polisi justru sebagai pencuri getah.

Masa berkabung tersebut diperkirakan berakhir Minggu (13/6), “Sehingga hari Senin ini aktivitas perusahaan akan kembali normal,” jelas Manajer PT Satya Agung, Mandalis Silabat, kepada Serambi via telepon, Minggu (13/6) kemarin.

Di sisi lain, Mandalis memastikan bahwa kebun perusahaan yang berada di kawasan Bukit Dua Tingkat, Aceh Utara itu akan tetap dijaga polisi, meskipun beberapa waktu lalu tembakan polisi yang mengamankan perusahaan itu telah merenggut nyawa seorang warga sipil, Raden, yang diyakini polisi sebagai pencuri getah.

Menurut Mandalis, sejak setahun lalu, pascamaraknya pencurian getah di kebun perusahaan itu, maka manajemen PT Satya Agung langsung mempercayakan pengamanan kebun perusahaan itu kepada kepolisian. Sehingga, tiap hari empat personel polisi melakukan pengamanan di areal perusahaan itu guna mengantisipasi pencurian getah dan aset perusahaan.

Dengan demikian, menurut Mandalis, meski telah terjadi penembakan sehingga Raden yang warga sipil meninggal, tapi untuk sementara ini pengamanan perusahaan dan kebun karetnya akan tetap ditangani pihak kepolisian, sehingga nanti benar-benar tak ada lagi yang nekat mencuri getah.

Disinggung tentang perhatian terhadap keluarga almarhum Raden, Mandalis menyatakan, berdasarkan putusan pimpinan perusahaan, maka pada Sabtu (12/6) telah diutus perwakilan PT Satya Agung untuk berkunjung ke rumah duka. Pihak perusahaan menyerahkan sejumlah santunan. Tapi yang pasti, kita tetap menyesalkan adanya insiden yang menyebabkan warga sipil meninggal akibat pengamanan di perusahaan kami,” jelasnya.

Harus tanggung jawab
Sementara itu, Juru Bicara Partai Aceh (PA) Wilayah Pase (Aceh Utara), Dedi Syaputra, menyatakan, PT Satya Agung harus bertanggung jawab dan ikut diperiksa atas tertembaknya Raden hingga tewas karena dituduh mencuri getah perusahaan tersebut. Bahkan, menurut Dedi, pihaknya telah menurunkan tim investigasi ke lokasi kejadian Sabtu lalu, sebagaimana yang dilakukan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Banda Aceh Pos Lhokseumawe, tim KontraS, dan tim lainnya dari provinsi.

Dedi mempertanyakan status dan kedudukan perkebunan tersebut, sehingga dapat menempatkan aparat kepolisian untuk menjaga kebun dan aset-asetnya. Jangan-jangan pihak perusahaan pun terlibat, misalnya, menyuruh aparat agar berlaku tegas dan jika perlu menembak siapa pun yang diduga mencuri getah perusahaan tersebut.

“Menembak babi pun dilihat dulu kepastiannya. Tidak hanya karena goyang daun kayu, lalu ditembak, apalagi yang ditembak oknum polisi ini jelas-jelas manusia. Ya, katakan dia mencuri getah, kita kan harus mengkaji kembali pencuri yang bagaimana yang harus dimusnahkan dari atas bumi, apakah karena mencuri getah PT Satya Agung, lalu diwajibkan tembak di tempat?” tanya Dedy.

Atas dasar itu, menurutnya, manajemen PT Satya Agung tidak bisa dibebaskan dari tanggung jawab atas tragedi penembakan yang menewaskan Raden oleh polisi yang bertugas di Polsek Simpang Keuramat, Aceh Utara itu. Dedi juga sangat menyesalkan peristiwa itu, karena terjadi justru pada saat Aceh dalam kondisi aman. “Polisi yang ditugaskan jaga hendaknya jangan hanya mengambil keuntungan dari perusahaan, tanpa menjaga keselamatan masyarakat di lingkunganya,” saran Dedi.
(bah/ib)

http://serambinews.com/news/view/32719/aktivitas-penderes-terhenti

Perampok Tewas Didor


* Elemen Sipil Desak Polisi Usut Penembakan di Simpang Keuramat

Sun, Jun 13th 2010, 11:55

SIGLI
- Seorang anggota komplotan perampok, Sabtu (12/6) sekitar pukul 16.00 WTB kemarin, dilaporkan tewas didor. Mustafa (24), demikian nama anggota komplotan perampok yang kerap meresahkan masyarakat itu, tewas ditembak ketika berusaha kabur dari tempat kediamannya di Desa Trieng Judo Meunasah Hagu, Kecamatan Tiro Truseb, Pidie. Kapolres Pidie, AKBP Dumadi SStMK, kepada Serambi, di Sigli, kemarin, mengungkapkan bahwa Mustafa sudah lama diincar dan menjadi target pihak kepolisian. Sebab, dalam beberapa kasus perampokan yang melibatkan dirinya, ia selalu berhasil meloloskan diri dan kabur dari kepungan aparat kepolisian.

Bahkan, sebut Kapolres Pidie itu, dalam penyisiran dan penyergapan yang dilakukan pihaknya kemarin, Mustafa juga masih berusaha kabur. Ia tidak mengindahkan tiga tembakan peringatan yang dilepaskan aparat kepolisian ke udara. “Dia terus lari di tengah perkebunan warga yang lokasinya berbukit-bukit,” kata Kapolres AKBP Dumadi. Tidak ingin lepas dari target yang sudah lama diincar dan dicari selama ini, sejumlah aparat yang melakukan pengejaran kemudian melepas tembakan langsung ke sasarannya. “Tembakan tersebut mengenai punggung tersangka, tembus bagian dada dan telapak tangan sebelah kirinya, sehingga dia tewas di tempat,” kata Kapolres Pidie itu.

Menurut Kapolres AKBP Dumadi, berdasarkan informasi awal yang diperoleh pihaknya, saat itu Mustafa sedang merencanakan untuk mengambil senjata di rumah Waknya, di desa yang sama. Namun, rencana itu berhasil digagalkan karena terperogok aparat kepolisian yang memang telah melakukan penyisiran ke lokasi. “Saat itu, sempat terjadi aksi kejar-kejaran di wilayah perkebunan warga yang berbukit-bukit itu,” katanya. Menurut Kapolres Pidie tersebut, sejak 2008 lalu, Mustafa telah dimasukkan dalam daftar pencarian orang (DPO), karena terlibat sejumlah aksi perampokan di wilayah itu.

“Di antaranya perompokan toko mas milik Muhktasim dan pembunuhan salah satu warga (perempuan-red) di Gampong Sentosa, Beureunun, Kecamatan Mutiara, Pidie,” sebut Kapolres. Selain aksi-aksi yang sangat meresahkan itu, Mustafa juga terlibat dalam aksi perampokan terhadap Hery, Bendaharawan SMP Negeri 2 Tiro, Pidie awal Juni lalu. Akibatnya, ketika itu uang tunai sebesar Rp 23.283.000 untuk gaji 12 staf guru ludes dibawa kabur bersama dua rekannya.

“Dengan tertembaknya, Mustafa, warga dan tokoh masyarakat di Kecamatan Tiro merasa sangat bersyukur, karena selama ini dia sangat meresahkan,” pungkas Kapolres Pidie itu.

Menuai protes Sementara itu, aksi penembakan yang menewaskan Aji Don bin Kadim alias Raden (25) oleh anggota Polsek Simpang Keuramat, Lhokseumawe yang dituduh mencuri getah PT Satya Agung di kawasan Simpang Keuramat, Kamis (10/6) sore lalu, kembali menuai protes. Para elemen sipil di Aceh Timur meminta Polres Lhokseumawe menginvestigasi kasus ini dan jika terbukti oknum tersebut agar langsung dipecat dari dinas di kepolisian. Selain itu, mereka juga meminta kepada Perusahaan PT Satya Agung agar memberikan perhatian terhadap keluarga korban. Karena bagaimanapun juga PT Satya Agung dinilai tidak boleh melepas tangan atas kasus ini. Desakan pemecatan terhadap oknum penembak Raden itu di antaranya dikeluarkan LSM Gerakan Masyarakat Partisipatif (GeMPAR) Aceh.

Dalam pernyataan tertulis yang diterima Serambi, Sabtu (12/6), Ketua GeMPAR, Auzir Fahlevi SH mengatakan, penembakan itu adalah tindakan improsedural dan harus diproses hingga tuntas. “Dan ini memerlukan tindakan nyata dari pihak kepolisian,” kata Auzir.

Sementara itu pada Jumat (11/6), pihak Polda Aceh, yang diwakili Kapolres Aceh Timur AKBP Ridwan Usman dan rombongan Polres Lhokseumawe yang diwakili AKBP Kukuh, mengunjungi rumah almarhum Raden di Bagok, Aceh Timur. Kunjungan petinggi polisi tersebut untuk menyampaikan belangsungkawa atas meninggalnya Raden, dan menyerahkan santunan. “Tidak hanya pihak keluarga yang mengalami musibah, tetapi pihak kepolisian juga mengalami musibah atas kejadian ini. Kami berharap kepada keluarga korban bersabar dan tabah menghadapinya. Pimpinan akan mengambil tindakan terhadap oknum polisi yang telah melakukan penembakan itu,” tegas Ridwan Usman.

Pada kesempatan itu Kapolres Aceh Timur AKBP Drs Ridwan Usman bersama AKBP Kukuh juga menyerahkan titipan Kapolda Aceh, berupa sumbangan sejumlah uang dan sembako yang diterima oleh ayah korban, Kadim (62). Saat kedatangan Kapores Aceh Timur dan rombangan, jenazah Raden telah dibawa untuk disemanyamkan di Desa Paya Bakong Kecamatan Darul Falah, Aceh Timur, sekitar 10 Km dari rumah duka. Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Raden (25), warga Bagok, Aceh Timur, tewas setelah perutnya ditembus peluru yang ditembakkan seorang oknum polisi yang sedang mengawal aktivitas PT Satya Agung di Kecamatan Simpang Keuramat, Aceh Utara, Kamis (10/6) menjelang magrib. “Raden ditembak karena ia mencuri getah di perkebunan karet PT Satya Agung,” kata Kapolres Lhokseumawe AKBP Zulkifli saat ditanyai Serambi, Kamis (10/6) malam.(c43/yuh/is)

http://serambinews.com/news/view/32660/perampok-tewas-didor

Saturday, 12 June 2010

Polisi Lalai, Tuntaskan di Peradilan Umum

(Banda Aceh): Polisi kembali memperlihatkan tindakan buruk dalam menangani pelaku kriminalitas di Aceh. Hal tersebut ditunjukkan dengan menembak mati Raden (25), yang diduga mencuri getah milik perkebunan karet PT Satya Agung, Kec. Simpang Keuramat, Aceh Utara (10/6).

Wakil Koordinator KontraS Aceh, Asiah Uzia mengatakan, “Lagi-lagi polisi menunjukkan tindakan penggunaan kekuatan yang berlebihan. Harusnya polisi berpedoman pada Peraturan Kapolri (Perkap) No. 1/2009 tentang Penggunaan Kekuatan dalam Tindakan Kepolisian”, ujar Asiah.

Dalam Perkap No. 1/2009 tersebut disebutkan penggunaan kekuatan dalam tindakan Kepolisian dibagi 6 tahapan yaitu, tahap 1, kekuatan yang memiliki dampak deterent/pencegahan; tahap 2, perintah lisan; tahap 3, kendali tangan kosong lunak; tahap 4, kendali tangan kosong keras; tahap 5, kendali senjata tumpul atau senjata Kimia; dan tahap 6, kendali dengan menggunakan Senjata Api.

Menurut Asiah, sepengetahuan pihaknya Polri telah mensosialisasikan Perkap tersebut ke seluruh jajarannya di Aceh sebagai pedoman bagi anggota Polri dalam pelaksanaan tindakan kepolisian yang memerlukan penggunaan kekuatan, sehingga polisi dapat menghindari penggunaan kekuatan yang berlebihan atau tidak dapat dipertanggung jawabkan.

Pihak kepolisian harus sungguh-sungguh mengusut kasus ini tanpa pandang bulu. “Karena tindakan kedua oknum polisi tersebut diduga keras merupakan tindak pidana, maka kasus tersebut harus diusut tuntas melalui peradilan umum sesuai dengan pasal 359 tentang kelalaian yang menyebabkan kematian. Tidak hanya sebatas sanksi indisipliner semata”, tambah Asiah. (KA)

http://www.kontras.org/index.php?hal=siaran_pers&id=1058


Friday, 11 June 2010

Polisi Tembak Mati Warga Aceh Timur

Petugas UGD Rumah Sakit Umum Cut Mutia sedang menangani jenazah Raden yang tewas tertembak di kawasan Desa Meunasah Dayah, Kecamatan Simpang Keuramat, Aceh Utara, Kamis (10/6).SERAMBI/SAIFUL BAHRI

Fri, Jun 11th 2010, 11:56

LHOKSEUMAWE
- Raden (25), warga Bagok, Aceh Timur, tewas setelah perutnya ditembus peluru yang ditembakkan seorang oknum polisi yang sedang mengawal aktivitas PT Satya Agung di Kecamatan Simpang Keuramat, Aceh Utara, Kamis (10/6) menjelang magrib. “Raden ditembak karena ia mencuri getah di perkebunan karet PT Satya Agung,” kata Kapolres Lhokseumawe AKBP Zulkifli saat ditanyai Serambi, tadi malam.

Berdasarkan informasi dihimpun dari berbagai sumber, menjelang magrib kemarin banyak warga yang mendengar sekitar delapan kali suara tembakan di areal perkebunan karet, tepatnya di Dusun Leubok Pakam, Desa Meunasah Dayah, Kecamatan Simpang Keuramat. Tak lama setelah suara tembakan itu reda, ternyata Raden, warga Aceh Timur yang dan menetap di desa itu sejak 1,5 tahun lalu, ditemukan tewas bersimbah darah. Korban pun langsung dievakuasi naik mobil patroli Polsek Simpang Keuramat ke Rumah Sakit Umum Cut Meutia Lhokseumawe.

Keuchik Meunasah Dayah, Saiful Bahri, menyatakan tak tahu persis awal mula insiden itu, karena saat kejadian dia sedang tak berada di tempat. Tapi berdasarkan informasi yang dia himpun dari warganya, sebelum Raden tewas banyak warga yang mendengar suara tembakan. Jumlahnya diperkirakan sekitar delapan kali.

Sedangkan motif penembakan Raden, menurut Saiful, masih simpang siur. Versi masyarakat menyebutkan bahwa dia sedang pulang dari menderes getah (karet) dengan berjalan kaki. Sedangkan yang dikejar oknum polisi justru dua orang yang ditengarai mencuri karet, tapi mereka lari naik sepeda motor. Dengan demikian, Raden diduga korban peluru nyasar.

Namun, versi lain menyebutkan bahwa Radenlah yang diyakini polisi sebagai pencuri getah. Apalagi, polisi menemukan empat karung getah di tempat korban dipergoki dan akhirnya didor. “Jadi pastinya saya tidak tahu, karena saya pun baru akan meluncur ke lokasi kejadian,” ujar Keuchik Saiful Bahri via telepon pukul 21.0 WIB tadi malam.

Berdasarkan data rumah sakit, korban diantar naik mobil patroli Polsek Simpang Keuramat sekitar pukul 18.45 WIB dalam keadaan sudah tak bernyawa. Berdasarkan hasil visum, di sekujur tubuh korban tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan/penyiksaan. Hanya ada luka berbentuk lubang kecil di bagian punggung belakang dan luka lubang lebih besar di atas pusat korban. Luka di bagian depan itulah yang membuat usus korban menjulur ke luar. Usai ditangani petugas di Unit Gawat Darurat (UGD) RSU Cut Meutia, sekitar satu jam kemudian jenazah korban dievakuasi ke ruang kamar mayat RSU tersebut.

Diduga curi getah
Sementara itu, Kapolres Lhokseumawe AKBP Zulkifli yang dihubungi Serambi tadi malam membenarkan, ada seorang pria yang tewas ditembak anggota kepolisian yang sedang bertugas menjaga keamanan di PT Satya Agung. Korban diduga terlibat mencuri getah milik perusahaan perkebunan yang berlokasi di pedalaman Kecamatan Simpang Keuramat, Aceh Utara itu, persisnya di kawasan Simpang Tiga Lubuk Pakam.

Sejauh ini, Polres Lhokseumawe telah menahan di mapolres setempat dua oknum polisi, satu di antaranya diduga sebagai pelaku penembakan. “Apa pun alasannya, dia dinyatakan telah melanggar hukum dan akan ditindak sesuai dengan hukum yang berlaku,” tegas Kapolres sembari meminta maaf kepada warga jika ada tingkah laku anggotanya yang tidak menyenangkan serta menyakiti hati masyarakat.

Menurut Zulkifli, dua anggota polisi jajaran Polres Lhokseumawe itu memang sedang ditugaskan menjaga keamanan di PT Satya Agung, Simpang Keuramat. Saat kedua personel polisi itu menjaga keamanan, tiba-tiba ada tiga pria yang diduga pencuri getah, datang dengan cara mengendap-endap.

Melihat patroli polisi datang, kata Kapolres, tiga pria itu langsung lari, masuk ke semak belukar. Pada saai itulah polisi melepaskan tembakan peringatan ke udara tiga kali. Namun, ketiga pria itu tidak mengindahkannya, sehingga polisi melepaskan tembakan ke kaki tersangka. Tapi ternyata tembakannya meleset. Yang terkena justru perut Raden, sehingga ia menemui ajal di tempat kejadian. Sedangkan dua temannya berhasil kabur dan sampai tadi malam belum diketahui keberadaannya. “Namun, di lokasi kejadian polisi berhasil menyita barang bukti berupa empat karung getah, tiga sepeda motor yang diduga milik korban dan dua temannya,” kata Kapolres melalui telepon genggamnya.
(bah/ib)

http://www.serambinews.com/news/view/32520/polisi-tembak-mati-warga-aceh-timur