Showing posts with label Propam. Show all posts
Showing posts with label Propam. Show all posts

Sunday, 9 September 2012

Korban Penembakan Anggota Polisi Lapor ke Polda


korban penembakan
Sabtu, 8 September 2012 17:13 WIB
JAKARTA – Main tembak, polisi dilaporkan ke Propam. Jumat (7/9/2012) malam, Devit Merpati,30, melaporkan seorang anggota polisi berpangkat brigadir yang bertugas di jajaran Polresta Manado berinisial D karena menembak bokongnya. Di Palembang, seorang anggota Brimob dilaporkan Sudirman yang ditembak bahunya.
Kabar diperoleh, Devit Merpati, terpaksa ditembak karena mengancam dengan parang kepada anggota polisi tersebut saat mengisi bensin motornya di sebuah kios pengecer bensin di Jalan Sam Ratulangi (PIKAT), Kecamatan Sario Manado. Sebelum ditembus bokongnya, anggota tersebut sudah memberi peringatan ke udara tapi tak digubris.
Kapolresta Manado Kombes Pol Amran Ampulembang saat dikonfirmasi membenarkan adanya peristiwa tersebut. Dia menyebut penembakan yang dilakukan anggotanya sudah sesuai prosedur yang berlaku. Aparat kepolisian masih memeriksa keduanya untuk mengungkap kasus yang sebenarnya.
“Kalau memang ada unsur penyalahgunaan senjata oleh anggota saya, maka akan diproses,” pungkas Ampulembang. Di Palembang, Sudirman ditembak anggota Brimob saat mengamankan lahan perkebunan tebu dan Pabrik Gula Cinta Manis PT Perkebunan Nusantara VII, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatra Selatan, 27 Juli 2012, melaporkan kasusnya ke Polda setempat, Jumat (7/9).
Menurut organisasi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumsel, Sabtu (8/9), korban didampingi Andre, salah satu anggota tim advokasi penyelesaian konflik agraria dengan PTPN VII.
Korban yang melapor yakni Sudirman yang mengalami luka tembak di lengan, Farida yang yang tertembak di bahu, Rusman, korban tertembak di tangan dan harus diamputasi salah satu tangannya, serta Darmawan orang tua Angga, bocah SMP yang tewas tertembak.
http://www.harianterbit.com/2012/09/08/korban-penembakan-anggota-polisi-lapor-ke-polda/

Sunday, 2 September 2012

Oknum Polisi Tembak Pengendara Ugal-ugalan

Nasional / Minggu, 2 September 2012 07:01 WIB


Metrotvnews.com, Ternate: Warga korban penembakan oknum anggota Polres Ternate, Maluku Utara, masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Hasan Busoiri, Ternate, Sabtu (1/9).

Muhlis Safii merupakan warga Kelurahan Fitu, Ternate Selatan. Ia dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Hasan Busoiri setelah sebuah proyektil peluru bersarang di kakinya. Muhlis ditembak Bripka Adam, anggota polisi kesatuan reserse kriminal Polres Ternate berpangkat Brigadir Kepala.

Penembakan itu terjadi di pinggir jalan raya Pertamina, Ternate Selatan. Muhlis ditembak karena Bripka Adam merasa tersinggung dengan tingkah laku korban yang ugal-ugalan saat berkendara.

Korban mengaku, sebelum ditembak dirinya dipukul dulu oleh Bripka Adam hingga babak belur dan tak berdaya. Setelah melumpuhkan korban, pelaku pun melarikan diri.

Saat ini Bripka Adam telah diamankan oleh Provos dan menjalani pemeriksaan intensif di Propam Polda Malut. (Wtr4)
http://www.metrotvnews.com/read/newsvideo/2012/09/02/158615/Oknum-Polisi-Tembak-Pengendara-Ugal-ugalan/6

Monday, 6 August 2012

Kapolres Cirebon: Penembakan Terhadap Agus tidak DIsengaja


SUMBER,(PRLM).- Penembakan terhadap Agus Bin Waryo (18), asal Desa Blender, Kecamatan Karangsembung, Kabupaten Cirebon oleh Brigadir WJ anggota Reskrim Polsek Karangsembung tidak ada unsur kesengajaan, namun, akibat pistol mengalami gangguan dan pelaku dipengaruhi alkohol.
"Kalau tembakan pertama ke arah atas sebagai peringatan memang disangaja oleh pelaku. Namun, yang kedua tidak disengaja," kata Kapolres Cirebon, Ajun Komisaris Besar Hero Henrianto Bachtiar, usai memberikan santunan kepada keluarga korban di Desa Blender, Minggu (5/8) malam.
Menurut Hero, setelah melakukan tembakan peringatan, pistol pelaku macet, pelatuk tidak kembali pada posisi semula. Pelaku sebetulnya telah berusaha memperbaiki posisi pelatuk.
Untuk itu harus mengeluarkan peluru dari rumah peluru. Namun, karena pelaku dipengaruhi oleh alkohol, tiba tiba meletus dan mengenai korban yang berjarak sekitar satu meter.
Diakuinya, pelaku lalai mengarahkan posisi pistol saat memperbaiki. Seharusnya mengarah ke bawah ternyata ke arah korban.
Pelaku Brigadir WJ, selain diperiksa Propam Polres Cirebon, dia juga telah diperiksa oleh Propam Polda Jabar untuk proses lebih lanjut. Pelaku pun akan menghadapai dua peradilan sekaligus, yakni peradilan umum dan secara internal akan menjalani peradilan kode etik kepolisian.
"Santunan ini hanya ungkapan rasa prihatin kepada keluarga korban, bukan apa-apa, dan tidak akan memengaruhi proses peradilan nanti," kata Hero.
Sementara itu jenazah korban telah dipulangkan ke rumah duka di Desa Blender, sekitar pukul 19.00 WIB setelah dilakukan otopsi di RS Bhayangkari Indramayu untuk dikebumikan di kuburan umum.(A-146/A-89).***

http://www.pikiran-rakyat.com/node/198523

Friday, 20 July 2012

Kasus Peluru "Nyasar", Anggota Polisi Diperiksa Propam


Penulis : Imanuel More | Jumat, 20 Juli 2012 | 13:05 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com - Salah seorang anggota unit Ranmor, Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Selatan harus menjalani pemeriksaan oleh bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) setempat. Pemeriksaan itu dilakukan akibat peristiwa pelurunyasar yang mengenai warga sipil, Kamis (19/7/2012) kemarin.
DD, inisial nama anggota tersebut, sedang dimintai keterangan terkait laporan tugas yang diembannya. Ajun Komisaris Besar Hermawan, Kasat Reskrim Polrestro Jaksel, saat dikonfirmasi Jumat (20/7/2012) menerangkan, pihaknya sedang menyiapkan laporan tugas untuk DD guna mengetahui kronologis kejadian salah tembak itu.
"Nanti baru diproses. Sementara diperiksa di Propam Jakarta Selatan untuk ditindak lebih lanjut," terang AKBP Hermawan.
Ia membenarkan peristiwa penyergapan tersangka pencurian oleh anggotanya. Penyergapan yang berlangsung di pelataran parkir sebuah ruko di Mangga Besar, Jakarta Barat, itu disertai penembakan dengan tujuan melumpuhkan tersangka yang berupaya melarikan diri.
"Perlu dilumpuhkan, karena salah satu tersangka bawa senjata api," jelas AKBP Hermawan.
Petugas sempat mengeluarkan tiga kali tembakan peringatan sebelumnya. Namun, lantaran dua tersangka kasus pencurian yang disertai tindak kekerasan itu terus berupaya meloloskan diri, petugas terpaksa melepaskan tembakan ke arah pelaku. Sayangnya, tembakan DD meleset dan malah bersarang di bokong Rudi, warga Sawah Besar, yang kebetulan melintas.
"Anggota mengejar pelaku, pelaku ada di posisi kiri, tapi rekorset (memantul) dan mengenai korban yang berada di sisi kanan. Hal itu juga dibenarkan korban," jabar Hermawan.
Penyergapan tersebut sebenarnya dilakukan aparat gabungan dari Polres Jakarta Selatan dan Polres Jakarta Selatan. Tiga di antaranya adalah anggota Reskrim Polres Jakarta Selatan, sedangkan dua lainnya anggota Polres Jakarta Pusat. Target yang diburu adalah kelompok pelaku perampasan mobil APV dengan korban berinisial M0.
Adapun peristiwa perampasan mobil itu terjadi saat korban melintas di depan kawasan Mal Ambassador, Kamis (19/7/2012) dini hari. Korban yang dihadang kelompok beranggotakan enam orang itu kemudian dianiaya dan dibuang di daerah Cimanggis, Depok, sementara mobilnya dilarikan.
Pada Kamis sore, petugas mendapat laporan soal keberadaan mobil yang dicurigai tersebut berada di kawasan Mangga Besar. Petugas pun kemudian berangkat ke lokasi dan melakukan penyergapan hingga berujung pada kasus peluru nyasar itu.
Editor :
Latief


http://regional.kompas.com/read/2012/07/20/13053360/Kasus.Peluru.Nyasar.Anggota.Polisi.Diperiksa.Propam

Monday, 20 February 2012

Ditembak Polisi, Jhon Kei Ngadu Ke Propam


Senin, 20 Februari 2012 , 13:12:00


JAKARTA - Tersangka dugaan pembunuhan direktur PT Sanex Steel Indonesia, Jhon Refra alias Jhon Kei mengadukan dugaan pelanggaran aturan terkait penangkapan dirinya ke Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Mabes  Polri. Pengaduan ini secara resmi dilayangkan kuasa hukum John Kei, Alam P Simamora dan Djamaluin Koedoeboen bersama istri John Kei, Yulianti Refra.

"Dalam laporan itu masalah kemanusisaan lah ya, soalnya Ibu Yulianti merasa keberatan suaminya, diperlakukan tidak manusiawi. Ditangkap dan ditembak itu saja," ujar Alam P Simamora di Mabes Polri Jakarta, Senin (20/2).

Pada kesempatan itu mereka yang dilaporkan ke Div Propam adalah Kasat Resmob Polda Metro Jaya, AKBP Heri Heriawan dan Kompol Novianto, Kanit Empat Jatanras Polda Metro Jaya.

Sebelumnya Yulianti dan pengacara suaminya mendatangi Mabes Polri Minggu (19/2) untuk melaporkan tindakan penembakan yang diterima suaminya dalam penangkapan akhir pekan kemarin.

"Kemarin kan kita datang ke sini, karena hari Minggu kan libur. Kita mendampingi istri untuk melaporkan tentang penangkapan kemarin yang menurut kami kurang prosedural, kenapa harus ada penembakan dan segala macam, tambah, Djamaludin Koedoeboen.

Seperti diberitakan sebelumnya John Kei ditangkap di Hotel C"One, Pulomas, Jakarta Timur, Sabtu (18/2). Penangkapan ini atas dugaan keterlibatannya  dalam kasus pembunuhan pimpinan  PT Sanex Steel Indonesia, Tan Harry Tantono, di Swiss Belhotel  (26/1) lalu.

Kini keluarga Jhon Kei mempermasalahkan langkah polisi yang menembak kaki kanan John Kei saat penangkapan itu.(zul/jpnn)

http://www.jpnn.com/read/2012/02/20/117949/Ditembak-Polisi,-Jhon-Kei-Ngadu-Ke-Propam-

Sunday, 12 February 2012

Benarkah Yusli Meninggal di Tangan Polisi?


Agnes Rita Sulistyawaty | Robert Adhi Ksp | Senin, 6 Februari 2012 | 13:46 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com — Pihak keluarga almarhum Yusli (23) belum mendapatkan kejelasan tentang pembunuh Yusli pada 26 Desember lalu. Mereka berharap polisi menuntaskan kasus ini, termasuk bila polisi terlibat di dalamnya.



Agnes Rita Sulistiawaty/KOMPAS
Benarkah Yusli Meninggal di Tangan Polisi?


"Yusli dijemput empat pria berbadan tegap. Dua di antaranya membawa senjata laras panjang pada 26 Desember jam 03.00," ucap Marsa, mertua Yusli, Senin (6/2/2012), dalam keterangan pers di Lembaga Bantuan Hukum Jakarta.
Kejelasan nasib Yusli baru diketahui keluarga pukul 17.00. Yusli diketahui tidak bernyawa di RS Kramat Jati. Tubuh Yusli penuh luka memar dan ada beberapa luka tembak. Selain itu, pihak keluarga juga menerima sejumlah uang yang disebutkan berasal dari Kapolsek Cisauk.
Keluarga juga sempat dikabari bahwa Yusli ditembak hingga meninggal di area Puspiptek, Serpong. Keluarga melaporkan kasus dugaan pembunuhan ke polisi. Mereka berharap kasus ini segera jelas.
"Kalau adik saya salah, kan ada mekanisme hukum. Mengapa harus sampai dibunuh?" ucap Yeti, kakak korban.
http://megapolitan.kompas.com/read/2012/02/06/13463970/Benarkah.Yusli.Meninggal.di.Tangan.Polisi.

Polisi Masih Periksa Aparat Penembak Yusli


KOMPAS.com/SABRINA ASRILKepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto.

Sabrina Asril | Laksono Hari W | Senin, 6 Februari 2012 | 19:07 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisari Besar Rikwanto mengatakan, hingga kini aparat Polres Kabupaten Tangerang masih melakukan penyidikan terhadap Briptu AT, yang melepaskan tembakan dan menewaskan Yusli (23) pada 26 Desember 2011.


Rikwanto menerangkan, penyidikan dilakukan tidak hanya berdasarkan kode etik kepolisian, tetapi juga unsur pidana yang ada dalam peristiwa itu. "Sampai sekarang penyidikan masih berlangsung. Yang bersangkutan masih ada di polres, sambil menunggu hasil pemeriksaan," kata Rikwanto, Senin (6/2/2012), di Mapolda Metro Jaya.


Molornya penangangan kasus ini membuat gundah keluarga Yusli. Siang ini keluarga korban melaporkan kasus itu ke Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta. Mereka mempertanyakan kelanjutan laporan keluarga terkait tewasnya Yusli.


Rikwanto mengatakan, laporan itu dibuat keluarga korban ke Sentra Pelayanan Kepolisian Polres Kabupaten Tangerang, tak lama setelah keluarga mendapat kabar Yusli tewas di tangan aparat. Laporan yang dilakukan bukanlah penyalahan prosedur Briptu AT semata. Tetapi, keluarga Yusli menuding Briptu AT telah melakukan tindak pidana pembunuhan.
"Laporannya bukan di Propam, tapi laporannya dalam bentuk laporan polisi biasa. Keluarga melapor kalau Briptu AT telah membunuh kerabatnya. Sekarang masih dipegang (Unit) Reskrim Polres Tangerang," ucap Rikwanto.
Ia menambahkan, penembakan itu dipicu oleh aksi rebut senjata yang dilakukan Yusli. Yusli diciduk aparat kepolisian Polsek Cisauk pada Senin (26/12/2011) pukul 03.00 dari rumah mertuanya di Kampung Leuwiranji, Desa Sukamulya, Kecamatan Rumpin, Bogor. Berdasarkan catatan kepolisian, Yusli merupakan bagian dari komplotan pencurian sepeda motor yang sudah buron sejak Agustus 2009. Tercatat ada 29 kasus di Tangerang yang melibatkan Yusli sebagai penadah barang curian. Ia pun sempat mengecap kehidupan di dalam bui selama beberapa bulan sampai akhirnya bebas bersyarat.
Keluarga korban mengaku bahwa sekitar empat orang anggota polisi datang ke rumah Yusli tanpa membawa surat penangkapan. Keluarga juga tidak diberi penjelasan ke mana Yusli akan dibawa.
Pada Senin pagi hari, keluarga mencari-cari keberadaan Yusli di berbagai polsek, termasuk di Polsek Cisauk. Namun, tidak ada satu pun yang mengaku telah menangkap Yusli. Pada Senin pukul 17.00, keluarga akhirnya mendapat kabar dari lurah setempat bahwa Yusli tewas dengan luka tembak di dada dan sudah berada di RS Polri Kramat Jati. Keluarga pun berang dan langsung melaporkan polisi yang menembak Yusli ke Polres Kabupaten Tangerang atas tuduhan pembunuhan.

http://megapolitan.kompas.com/read/2012/02/06/19075589/Polisi.Masih.Periksa.Aparat.Penembak.Yusl
i

Polisi Penembak Yusli Tidak Lagi Bertugas Sebagai Reserse


Tribunnews.com - Senin, 6 Februari 2012 20:36 WIB

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Briptu AT, anggota kepolisian Sektor Cisauk yang dilaporkan pihak keluarga Yusli atas penembakan Yusli (23) pada 26 Desember 2011 lalu kini tidak lagi bertugas sebagai reserse kriminal Polsek Cisauk.
"Dia sudah dipindahkan kerja di belakang meja, tidak lagi sebagai reserse karena terkait laporan dari keluarga Yusli," terang Kapolres Tangerang Kabupaten, Komisaris Besar Bambang Priyo Andaga saat dihubungi  Senin (6/2/2012).
Priyo menjelaskan Briptu AT dipindahkan karena laporan keluarga Yusli kepada yang bersangkutan dengan tuduhan pembunuhan.
Selain itu Priyo juga mengaku terus melakukan pengawasan terhadap kinerja Briptu AT. "Kami belum bisa  mengenakan sanksi disiplin karena proses pemeriksaan di Reskrim Polres dan penyidikan pelanggaran kode etik di Propam Polres selesai dilakukan," tutup Priyo.
Untuk diketahui, Yusli ditangkap polisian Polsek Metro Cisauk pada Senin (26/12/2011) lalu  pukul 03.00 dari rumah mertuanya di Rumpin, Bogor.
Berdasarkan catatan kepolisian, Yusli adalah komplotan curanmor yang sudah buron sejak Agustus 2009. Di Tangerang Yusli tercatat terlibat 29 kasus sebagai penadah barang curian. Ia juga sempat hidup di hotel prodeo.
Menurut keterangan dari keluarga, ada empat orang anggota polisi yang datang ke rumah saat itu dan tidak membawa surat penangkapan. Kemudian keluarga mencari keberadaan Yusli di beberapa polsek, termasuk di Polsek Cisauk. Namun, tidak ada satu pun yang mengaku telah menangkap Yusli.
Akhirnya Senin pukul 17.00 WIB, keluarga dapat kabar dari lurah jika Yusli tewas dengan luka tembak di dada dan  berada di RS Polri Kramat Jati. Keluarga pun tidak terima  dan langsung melaporkan polisi yang menembak Yusli ke Polres Tangerang Kabupaten atas tuduhan pembunuhan.

Penulis: Theresia Felisiani  |  Editor: Johnson Simanjuntak
Akses Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat m.tribunnews.com

http://www.tribunnews.com/2012/02/06/polisi-penembak-yusli-tidak-lagi-bertugas-sebagai-reserse

Tembak gembong Ranmor, 3 Polisi diperiksa Provoost

Sindonews.com - Peristiwa penembakan Yusli bin Durahman (23), warga Kampung Bojong Keong, Rt 03/04, Desa Mekar Sari, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, yang diindikasi sebagai gembong pelaku curanmor oleh jajaran petugas Polsek Cisauk pada Desember 2011 lalu berbuntut panjang.

Tiga anggota Polsek Cisauk yang terkait dengan penembakan Yusli, kini terpaksa menjalani pemeriksaan intensif di Unit Provoost Polres Kota Tangerang.

Pemeriksaan terhadap ketiganya bermula dari laporan keluarga Yusli, yang merasa tidak terima dengan penembakan tersebut. Keluarga juga mempersoalkan proses penangkapan Yusli yang dianggap tidak prosedural. Akhirnya pihak keluarga korban melaporkan Polsek Cisauk ke Komnas HAM.

Akibat laporan itulah, pihak kepolisian melakukan pemeriksaan terhadap tiga anggotanya itu. "Ya benar, ada  tiga anggota kami yang bertugas di Polsek Cisauk saat ini sedang menjalani pemeriksaan di Unit Provoost," kata Kapolres Kota Tangerang, Kombes Bambang Priyo Andogo, kepada wartawan, Rabu (8/2/2012).

Materi pemeriksaan terhadap ketiga anggotanya itu, menurut Kapolres,  berkaitan dengan prosedur penangkapan dan penembakan terhadap Yusli.

"Saat ini didalami dulu apakah penangkapan dan penembakan Yusli sudah melalui prosedur yang benar atau tidak, kalau memang tidak sesuai tentunya akan ada sangsi," ucapnya lagi.

Tapi secara tegas Kapolres meyakini, Yusli adalah buronan yang sudah masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) Di Kabupaten Tangerang. Catatan kejahatan Yusli sudah sebanyak 29 kasus atau LP (Laporan Polisi). Bahkan menurut data yang didapat, di Jakarta Barat laporan kejahatan Yuslih ada sebanyak 52 LP.

Seperti diberitakan beberapa waktu lalu Yusli ditangkap petugas Polsek Cisauk. Yusli terpaksa ditembak mati karena berupaya kabur dan nyaris merebut senjata petugas saat dibawa untuk pengembangan kasus, pada Selasa 27 Desmber 2011. (san)




Editor: Hariyanto Kurniawan



http://www.sindonews.com/read/2012/02/08/437/571584/tembak-gembong-ranmor-3-polisi-diperiksa-provoost

Tanda Tanya di antara Pukul 03.00 dan 17.00


Hertanto Soebijoto | Selasa, 7 Februari 2012 | 09:57 WIB


BOGOR, KOMPAS.com — Siti Maryanah (19) berusaha menyembunyikan air mata ketika gambar almarhum suaminya, Yusli (23), ditampilkan di Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, Senin (6/2/2012). Kemarin tepat 40 hari Yusli dijemput paksa dari rumah orangtua Maryanah di Rumpin, Bogor, Jawa Barat. Hari itu tanggal 26 Desember 2011 pukul 03.00. Gedoran pintu mengagetkan seisi rumah.

Marsa (40), mertua Yusli, membukakan pintu. Ada dua orang di pintu depan dan satu orang di pintu belakang. Satu lagi menunggu di mobil Kijang. Mereka masuk, lalu minta dibawa ke kamar Yusli dan Maryanah. Tanpa surat penangkapan, Yusli diborgol dan digelandang dengan kasar ke mobil. Rombongan ini berlalu.

”Saya sempat mengejar ke mobil untuk membawakan kaus karena Yusli hanya pakai celana panjang, tetapi tidak terkejar,” ucap Marsa.

Tidak jelas ke mana Yusli dibawa. Maryanah dan kakak Yusli, Yeni (30), sempat mendatangi sejumlah polsek, seperti Rumpin, Cisauk, dan Pagedangan. Namun, polisi yang ditemui mengatakan tidak ada penangkapan hari itu. Informasi baru datang pukul 17.00. Yusli terbaring tak bernyawa di Rumah Sakit RS Sukanto (Polri), Kramat Jati, Jakarta Timur.

”Wajah anak saya sudah penuh lebam. Ada luka tembak di dada. Darah masih mengucur dari kepala bagian belakang,” ujar Dulrahman (55), ayah Yusli.

Pihak keluarga melaporkan kasus ini ke Polres Tangerang karena menduga ada kesengajaan yang menyebabkan Yusli meninggal. Hingga kemarin, belum ada hasil pasti penyelidikan polisi.

Yeni mengakui, adiknya pernah terlibat kriminalitas. Awal tahun 2011, Yusli ditangkap karena menjadi penadah sepeda motor, tetapi waktu itu polisi membawa surat penangkapan. Hukuman 10 bulan sudah dijalani. Yusli mendapatkan remisi dan bebas pada 18 Agustus.

”Kami berpikir untuk menikahkan Yusli agar hidupnya berubah. Untuk biaya pernikahan, sepeda motor adik bungsu dijual. Pengawasan juga terus dilakukan agar jangan sampai Yusli jatuh lagi,” papar Yeni.

Versi polisi

Secara terpisah, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto mengatakan, laporan dari keluarga Yusli sudah ditindaklanjuti. ”Jangankan ada laporan dugaan polisi sengaja menembak seseorang, wong setiap peluru yang digunakan anggota itu harus ada laporan pertanggungjawabannya,” katanya.

Satuan Reserse Kriminal Polres Kota Tangerang sudah memeriksa terlapor, yakni tiga anggota Polsek Cisauk yang menangkap dan membawa Yusli dari rumahnya. Dari pemeriksaan ketiganya terungkap, Yusli tertembak saat terjadi perebutan senjata api laras panjang yang dibawa Briptu AT.

Pada saat itu, Yusli mengatakan haus dan minta minum. Dia juga minta agar borgol di tangannya dikendurkan karena sakit. Permintaan itu dituruti Briptu AT yang saat itu menjaganya. ”Pada saat Briptu AT melonggarkan borgol, borgolnya terlepas. Tersangka berontak dan merebut senjata anggota. Tersangka memegang laras senjata dan Briptu AT pegang popornya. Terjadi tarik-menarik dengan posisi itu,” tuturnya.

Briptu AT spontan menarik tangan kiri Yusli. Pada saat itu tanpa sengaja pelatuk senjata tertarik dan meletus. Pelurunya mengenai dada Yusli. ”Jadi, dia tertembak, bukan ditembak,” ujar Rikwanto.

Kepala Polrestro Tangerang Kabupaten Komisaris Besar Bambang Priyo Andogo menyatakan, pihaknya masih menyelidiki polisi yang diduga menembak Yusli, tersangka kasus pencurian kendaraan bermotor pada akhir Desember 2011.

”Kami tetap memeriksa anggota polisi yang menembak, apakah tindakannya itu sesuai prosedur atau tidak. Proses inilah yang akan mengklarifikasi tindakan anggota salah atau benar. Sepanjang pemeriksaannya sudah sesuai prosedur, berarti anggota kami tidak bersalah,” kata Bambang menjelaskan.

Kendati begitu, Bambang meyakini anggotanya tidak melakukan tindakan semena-mena membunuh Yusli. Dari laporan yang masuk di Kabupaten Tangerang, lanjut Bambang, Yusli adalah orang yang dicari polisi karena sudah melakukan 29 kasus pencurian kendaraan bermotor di wilayah Tangerang dan 30 kasus curanmor di Jakarta Barat. (PIN/RTS/ART)

http://megapolitan.kompas.com/read/2012/02/07/09575418/Tanda.Tanya.di.antara.Pukul.03.00.dan.17.00

Saturday, 11 February 2012

Anak Sengaja Ditembak, Ayah Laporkan Polisi


Jum'at, 10 Februari 2012 , 15:19:00


TIDAK terima anaknya ditembak tanpa prosedur, Asnawi (49), warga Pekon Balak, Wonosobo, Tanggamus, melaporkan empat anggota polsek setempat ke Bidpropam Polda Lampung kemarin (9/2). Laporan tersebut tertuang dalam Nomor LP/B-13/II/2012/Yanduan tertanggal 8 Februari 2012 tentang Dugaan Bersikap Arogan dalam Proses Penyidikan.

Kelima oknum polisi yang dilaporkan adalah Brigpol HT,  Briptu YA, Briptu RS, Briptu JO dan Briptu DE yang diduga telah menembak kaki sebelah kanan Herwandi (24) di Lapangan Kalirejo Wonosobo, Tanggamus.

’’Mereka (oknum polisi, red) menangkap anak saya Herwandi tanpa menunjukan surat, bahkan dalam proses penembakannya pun sudah tidak manusiawi dimana tangan dan kaki anak saya dipegang, terus polisi lain menembak kaki kanan anak saya,’’ ungkapnya saat menemui di Graha Jurnalis Polda Lampung, kemarin (9/2).

Sementara, Syahroni (38) paman dari Herwandi menceritakan, peristiwa penangkapan dan penembakan yang dialami keponakannya terjadi pada hari Jum’at (3/2) sekitar pukul 23.00wib saat Herwandi sedang bermain Karambol tak jauh dari kediamannya.

’’Waktu itu keponakan saya lagi main karambol, tiba-tiba datang tiga orang polisi, tanpa bicara apa-apa langsung menangkap Herwandi dan dibawanya kedalam mobil, kebetulan saat itu saya ada disana (lokasi penangkapan, red),’’ ungkap Syahroni mengenang proses penangkapan keponakannya, kemarin (9/2).

Melihat keponakannya dibawa oleh Aparat, Syahroni mencoba mengikutinya, tiba diperjalanan Syahroni kehilangan jejak sehingga dirinya berinisiatif mengunjungi Polsek Wonosobo untuk melihat kondisi Herwandi.

’’Sekitar pukul 02.00 WIB hari Sabtu (4/2) keponakan saya enggak ada dipolsek, saya pulang dan jam 04.00 WIB saya kesana lagi (Polsek Wonosobo, red), tapi belum ada juga. Pas saya kesana lagi pukul 07.00 WIB, baru dia ada dengan kaki kanan sudah tertembak,’’ bebernya.

Asnawi menambahkan, berdasarkan pengakuan anaknya, Herwandi telah ditembak oleh lima anggota Polsek Wonosobo di sebuah lapangan dengan posisi badan ditelungkupkan, kaki dan tangan dipegang kemudian kaki kanan ditembak oleh salah satu polisi.

’’Kalau kata anak saya, Dia (Herwandi, red) dituduh oleh polisi karena kasus 365 tentang pencurian pada tahun pada tahun 2009, Saat itu katanya Dia (Herwandi, red) sedang memecah batu di sungai Pekon Balak Wonosobo Tanggamus kedatangan tiga pemuda desa setempat, tiga pemuda itu lalu meminta uang Rp50 ribu kepada seseorang yang tengah mencuci motor di kali itu,’’ ungkapnya menirukan ucapan Herwandi.

Setelah meminta uang, sambung Asnawi, ketiganya meminjam motor untuk membeli minuman, Namun motor yang dipinjam ternyata dibawa kabur oleh ketiga pemuda tersebut, setelah dua hari kemudian para pelaku bertemu di lokasi tempat Herwandi biasa melakukan aktivitasnya memecah batu di kali Pekon Balak Tanggamus.

’’Saat ditanyakan sama anak saya, mereka (para pelaku, red) meminta anak saya untuk diam dan anak saya dikasih uang Rp300 ribu sama mereka, uang Rp300 ribu itulah yang membuat anak saya diamankan petugas dan dihadiahi timah panas,’’ bebernya.

Terpisah, Kapolres Tanggamus AKBP Bayu Aji membantah penangkapan yang dilakukan anggotanya terhadap Herwandi tidak sesuai prosedur, dikarenakan berdasarkan pengakuan dari dua rekannya yang terlebih dahulu tertangkap, Herwandi terlibat dalam pencurian motor.

’’Kalau masalah penembakan, Dia (Herwandi, red) berusaha melawan untuk melarikan diri saat menuju Mapolsek Wonosobo, anggota saya berinisiatif untuk melumpuhkan pelaku agar tidak lari,’’ pungkasnya, kemarin (9/2).

Sementara, Kabid Propam Polda Lampung AKBP Ruslan Efendi membenarkan telah menerima laporan yang ditujukan pada lima Oknum Polsek Wonosobo yang diduga telah bersikap Arogan dalam proses penyidikan dalam menangkap pelaku Herwandi. ’’Laporannya kan baru kemarin (Rabu,red), nanti kami akan proses laporannya,’’ tegasnya. (yud/c1/ary)