Showing posts with label Pasca-penembakan. Show all posts
Showing posts with label Pasca-penembakan. Show all posts

Sunday, 21 November 2010

Buronan Ditembak Mati di TTS

KUPANG, POS KUPANG.Com -- Tim buser yang terdiri dari lima orang anggota Kepolisian Sektor Kota (Polsekta) Alak menembak mati Benyamin Nubatonis (25), tersangka kasus penganiayaan dan perusakan yang melarikan diri ke TTS.

Nubatonis ditembak anggota buser Polsekta Alak di kawasan Batu Putih, Jumat (19/11/2010) malam, sekitar pukul 22.30 wita, ketika dia berusaha melarikan diri ke arah Bena.
Nubatonis masuk dalam DPO Polsekta Alak karena terlibat penganiayaan terhadap John S Rajaka, S. H, tanggal 14 Oktober 2010 lalu serta merusak sepeda motor milik korban di Kelurahan Manutapen, Kecamatan Alak. Tersangka Benyamin Nubatonis lalu melarikan diri ke TTS.

Aparat Polsekta Alak mendapat informasi dari keluarga korban di TTS bahwa Benyamin Nubatonis sedang berada di TTS. Lima anggota buser dari Polsekta Alak pun langsung meluncur ke TTS untuk menangkap tersangka.

Pada Jumat (19/11/2010) malam sekitar pukul 22.30, tersangka sempat melintas di kawasan Batu Putih. Anggota Tim Buser yang sudah mengetahui keberadaan Benyamin Nubatonis langsung membuntutinya.

Diduga mengetahui sedang dibuntuti aparat kepolisian, dia berusaha melarikan diri ke arah Bena. Dia menghentikan sepeda motornya lalu melarikan diri.

Anggota Buser dari Polsekta Alak yang melihat pelaku berusaha melarikan lalu langsung mengeluarkan tembakan untuk melumpuhkannya, dengan mengarahkan tembakan ke kaki. Namun pada saat bersamaan Nubatonis melompat untuk tiarap. Ternyata muntahan peluru yang dilepaskan anggota buser bersarang di leher kanannya, tembus sampai di bahu kiri.
Sejumlah anggota Polsekta Alak sempat berusaha membawa Nubatonis yang sudah tertembak itu ke RSUD SoE, namun dalam perjalanan dia meninggal.

"Anggota kita sempat membawa dia ke SoE, tetapi sebelum sampai di RSU, dia meninggal," kata Kanit Reskrim Polsekta Alak, Aiptu Mikael Wila Here.

Kapolresta Kupang, AKBP Drs. Bambang Sugiarto melalui Kabag Binamitra, AKP Tobi Willahuki kepada wartawan di rumah duka di Kelurahan Manutapen, menjelaskan, Benyamin Nubatonis merupakan tersangka dalam kasus perusakan dan penganiayaan yang sedang dalam pencarian aparat Polsekta Alak.

"Korban tertembak pada bagian leher kanan saat berusaha melompat untuk menyembunyikan diri," kata Wilahuki.
Pihak keluarga Nubatonis sempat bersitegang di ruang jenazah Rumah Sakit Bhayangkara (RSB) Kupang, karena tanpa diketahui pihak keluarga besar korban, pihak kepolisian telah menyerahkan satu amplop sebagai uang duka kepada salah seorang anggota keluarga Nubatonis.

Mengetahui hal itu sejumlah anggota keluarga lainnya langsung mengembalikan uang tersebut kepada kepolisian. Keluarga menganggap pemberian uang duka itu tidak layak dilakukan di ruang jenazah.

"Rumah duka bukan di ruang jenazah seperti ini. Kalau ada keinginan seperti itu, kita harusnya bicarakan di rumah, bukan di sini tempatnya. Kembalikan uang itu," kata seorang anggota keluar korban yang tampak meradang ketika mengetahui adanya uang pemberian dari pihak kepolisian tersebut.

Bayu Mauta, salah seorang anggota keluarga korban, ketika menerima kehadiran aparat Polresta Kupang di rumah duka, meminta agar kepolisian bertanggung jawab terhadap masa depan tiga anak korban.
(ben/ll)

Lima Anggota Kepolisian Diperiksa

LIMA anggota tim buser Polsekta Alak yang menangkap dan menembak Benyamin Nubatonis sedang diperiksa intensif oleh Provos Polresta Kupang.

Kapolresta Kupang, AKBP Drs. Bambang Sugiarto, M.Si melalui Kabag Binamitra, AKP Tomi Wilahuki, mengatakan hal itu ketika dikonfirmasi wartawan di rumah duka, Kelurahan Manutapen, Sabtu (20/11/2010.

"Kelima anggota yang menangkap korban masih dalam pemeriksaan. Kita belum tahu seperti apa hasil pemeriksaanya karena pemeriksaan masih berlangsung," tegasnya.
Informasi yang dihimpun Pos Kupang, selain lima anggota kepolisian itu, Provos Polresta Kupang juga memeriksa sejumlah saksi, termasuk adik dari korban.
(ben/ll)

http://www.pos-kupang.com/read/artikel/55297/kupangnews/Buronan%20Ditembak%20Mati%20di%20TTS

Saturday, 20 November 2010

Jukir ditembak, perintah mantan Kapoltabes

(WOL Photo)

SATURDAY, 20 NOVEMBER 2010 07:18
MEDAN – Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara, Irjen Oegroseno menegaskan, penembakkan Zainal Abidin Nasution juru parkir (jukir) yang dituduh membunuh Direktur PT Sewangi Sejati Luhur Medan, Kesuma Wijaya, atas perintah Mantan Kapoltabes Medan (sekarang Polresta Medan-red) Kombes Pol Imam Margono.

" Hasil keterangan saksi yang kita himpun Dit Reskrim Poldasu penembakkan terhadap Zainal Abidin Nasution atas perintah Mantan Kapoltabes Medan," jelas mantan Kabis Propam Mabes Polri, pagi ini.

Menurut Kapolda Sumut, setelah kita panggil dan periksa serta diminta penjelasan, saksi mengatakan penembakkan atas adanya perintah mantan Kapoltabes Medan Kombes Imam Margono.

" Itu penjelasan dari kesaksian yang disampaikan mantan Kanit Reskrim dan anggota Polsek Medan Kota yang terlibat dalam penembakan,” katanya.

Ditanya wartawan apakah, Mantan Kapoltabes Medan itu akan diperiksa, Jenderal Bintang Dua ini menyatakan, pemeriksaan belum dilakukan. Pihaknya masih menunggu kelengkapan BAP dari saksi-saksi.

"Kita akan proses kasus penembakkan Zainal sampai ke pengadilan," tegas Kapolda Sumut.

Mengenai mantan Kapolsek Medan Kota AKP Darwin Ginting diduga terlibat dalam kasus penembakan Zainal Abidin, Kapolda Sumut menjelaskan, yang diduga terlibat akan kita periksa.

"Saat ini Dit Reskrim Poldasu sudah memeriksa Zainal Abidin, istrinya, mantan Kanit Reskrim Polsek Medan Kota dan anggota yang terlibat dalam peristiwa penembakkan," jelas Oegroseno.

Disinggung penembakkan Zainal Abidin yang dilakukan anggota Polsek Medan Kota itu adalah tindak pidana penganiayaan, Kapolda menjelaskan, anggota yang terlibat kini sudah diproses etika profesi dan sudah dijatuhkan sangsi.

Sebelumnya, Kapolda Sumut juga menyatakan, Tim Propam dan Direskrim Polda Sumut tengah mendalami dugaan keterlibatan Kombes Pol Imam Margono dalam kasus itu. Bentuk pendalaman dilakukan tim Propam dan Direskrim adalah mengumpulkan bukti dan keterangan saksi untuk memastikan apakah mantan Kapolresta Medan itu memang terlibat atau tidak.

Dari pengumpulan bukti dan keterangan ini, diketahui apakah perintah tembak yang dilakukan anggota Polsekta Medan Kota merupakan terstruktur atau tidak dari atasannya.

Seperti diberitakan, pada 25 Mei 2009, Zainal Abidin ditangkap dari rumahnya dan mengalami penyiksaan dari oknum Polsek Medan Kota diduga dipaksa mengaku sebagai pelaku pembunuhan Kesuma Wijaya. Metode penangkapan yang digunakan lebih kepada penculikan daripada sebuah penangkapan.

Polisi membawa Zainal dengan sebuah mobil dan berputar-putar keliling kota, bukannya langsung menuju kantor polisi. Di sebuah tempat, Zainal diturunkan, dan di sana dieksekusi tembak oleh polisi, padahal saat itu Zainal sudah tidak berdaya. Akibatnya hingga saat ini proyektil peluru belum bisa diambil dari kakinya.

Setelah melalui proses penyidikan diduga diwarnai penyiksaan, BAP Zainal pun akhirnya tuntas diselesaikan aparat kepolisian yang kemudian dinyatakan P21 oleh Kejaksaan Negeri Medan, setelah itu, Zainal kemudian diadili di Pengadilan Negeri Medan, didakwa melakukan pembunuhan keji.

Setelah melalui proses persidangan yang panjang, majelis hakim membebaskan Zainal karena tidak terbukti melakukan perbuatan pidana. Pasca putusa bebas itu, Zainal, istrinya bersama kuasa hukumnya pun mulai bergerilya mencari keadilan menuntut polisi yang telah menembaknya. Laporan pengaduan masuk ke Propam Poldasu. Bahkan, kuasa hukumnya telah membawa Zainal kehadapan Kapoldasu Irjen Oegroseno di Polda Sumut.

Editor: SASTROY BANGUN
(dat03/waspada)


http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=157515:jukir-ditembak-perintah-mantan-kapoltabes&catid=14:medan&Itemid=27

Friday, 22 October 2010

Kontras Minta TPF Juga Libatkan Kompolnas dan Komnas HAM

Jum'at, 22 Oktober 2010 , 14:13:00 WIB

RMOL.
Komisi Orang Hilang dan Korban Kekerasan (Kontras) meminta Tim Pencari Fakta penembakan mahasiswa Universitas Bung Karno saat terjadi aksi unjuk rasa 20 Oktober kemarin turut melibatkan unsur Kompolnas, Komnas HAM, dan elemen masyarakat selain anggota kepolisian yang ada di lapangan.

Hal tersebut dikatakan Koordinator Kontras, Harry Azhar terkait penilaian bahwa mekanisme kontrol dan koordinasi institusi Polri di tidak berjalan.

Kontras melihat apa yang terjadi pada peristiwa kemarin itu sebenarnya tidak sesuai dengan prosedur pengamanan yang berlaku.

Harry mencontohkan, saat aksi unjuk rasa terjadi ada provost kepolisian yang bertugas mencegah anggotanya malah ikut menembaki mahasiswa. Ini menunjukkan bahwa polisi belum profesional dalam menghadapi demontrasi termasuk dalam penggunakan senjata api. Padahal senjata api hanya boleh digunakan jika kepolisian terancam jiwanya dan tidak ada pilihan lain.

"Kalau peristawa di Jalan Diponegoro kemarin, saat polisi dilempari batu, masih sangat mungkin polisi menjauh dari jarak lempar dan membuat zona aman. Sehingga ada waktu bagi komandan untuk bernegoisasai dengan para mahasiswa," terang dia saat jumpa pers di kantor Kontras, Jalan Borobudur, Menteng, Jakarta Pusat, siang ini (Jumat, 22/10).

Penggunaaan prosedur tetap Kapolri 1/X/2010 tentang Penanggulangan Anarkisme Massa juga dipandang tidak tepat bila diberlakukan terhadap aksi unjuk rasa mahasisawa UBK kemarin.

Sementara masih di tempat yang sama, Ktua Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia, Hendrik Sirait menambahkan, kasus penembakan mahasiswa pada 20 Oktober kemarin tidak cukup diselesaikan dengan pemberian sanksi secara administratif atau kode etik terhadap pelaku. Menurut dia, pelaku bisa dikenakan pidana atas perbuatannya itu.

"UU yang tepat untuk menjerat adalah pasal 360 KUHP soal kealpaan yang menyebabkan seseorang terluka dan itu dapat diterapkan dalam pengusutan," tukas Hendrik.
[wid]

http://www.rakyatmerdeka.co.id/news.php?id=7286

Tuesday, 19 October 2010

juru parkir lapor ke kompolnas

Written by Syafri Harahap on Tuesday, 19 October 2010 04:58
MEDAN (Waspada): Zainal Abidin juru parkir di Jln Bandung korban penembakan oknum polisi Polsekta Medan Kota, menuntut keadilan ke kantor Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), pekan lalu.


Kedatangan Zainal Abidin dan istrinya Lisiani bersama kuasa hukumnya dari LBH Medan di Kompolnas diterima Sekretaris Kompolnas, Adenan Pandupraja Saleh dan sejumlah stafnya. “Selain memohon keadilan, mereka juga menyampaikan hasil investigasi atas pelanggaran oknum polisi yang melakukan penembakan terhadap korban, “ kata Surya Adinata, SH, Mkn selaku kuasa hukum Zainal Abidin di Medan, Senin (18/10).


Menurut Surya, oknum anggota Polsekta Medan Kota tersebut harus bertanggung jawab atas perbuatannya melakukan penangkapan dan penembakan terhadap warga Jln Pancing itu dengan tuduhan sebagai pelaku pembunuhan Komisaris PT Sewangi Sejati Luhur Medan, Kusuma Wijaya, 55.


“Polisi dinilai terlalu berani mengeksekusi tembak Zainal Abidin, tanpa lebih dulu mendapatkan alat bukti yang cukup, “ tegas Surya seraya menambahkan polisi seharusnya mengumpulkan bukti terlebih dahulu baru bertindak, bukan seenaknya menuduh seseorang sebagai pelaku pidana.


“Zainal Abidin divonis bebas murni oleh Pengadilan Negeri Medan karena tidak terbukti bersalah melakukan pembunuhan sebagaimana dituduhkan polisi, “ tegas Surya.


Karena itu, Zainal Abidin yang kini menderita cacat di kakinya akibat ditembak polisi menuntut keadilan ke Kompolnas, Satgas Mafia Hukum dan sejumlah lembaga perlindungan hak asasi manusia.


Surya menjelaskan, dalam laporan itu, mereka menceritakan kronologis peristiwa dan memberi sejumlah barang bukti berupa surat, rekaman serta alat bukti pendukung lainnya, sabagai bahan petunjuk bagi Kompolnas dan lain-lain.


Laporan ini merupakan bentuk upaya litigasi demi mendapatkan keadilan dalam proses penangkapan Zainal Abidin. Dalam kasus ini, telah terjadi pelanggaran HAM ketika oknum Polisi menangkap Zainal Abidin dan membawanya keluar dari rumah diakhiri dengan eksekusi penembakan.


Adenan Pandupraja mengatakan kepada Waspada, pihaknya segera menindak lanjuti kasus ini. Dalam waktu dekat timnya turun ke Medan guna mengklarifikasi laporan ini ke Polda Sumut.


Seperti diketahui, Zainal Abidin warga Jln Pancing Medan divonis bebas di Pengadilan Negeri Medan karena tidak terbukti bersalah melakukan pembunuhan terhadap Direktur PT Sewangi Sejati Luhur Kesuma Wijaya sebagaimana didakwakan jaksa. Sementara saat pemeriksaan, Zainal mengalami penyiksaan berupa penembakan pada kaki sebanyak tiga kali diduga dilakukan oleh penyidik.


Pasca putusan bebas itu, Zainal Abidin dan kuasa hukumnya menuntut keadilan. Namun, karena laporannya ke Polda Sumut belum ada tanggapan, mereka mencari keadilan ke Kompolnas, Komnas HAM, YLBHI, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban, Komisi Yudsial, dan Satgas Mafia Hukum di Jakarta. (h05)

http://waspadamedan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=7321:ditembak-oknum-polisi-juru-parkir-tuntut-keadilan-ke-kompolnas-&catid=51:medan&Itemid=206

Sunday, 3 October 2010

Mantan Kapolri: Perlakukan Teroris Manusiawi

01/10/2010 - 14:26

INILAH.COM, Jakarta- Mantan Kampolri Jendral (Purnawirawan) Chaeruddin Ismail menyarankan Polri untuk memperlakukan teroris yang tertangkap secara manusiawi. Langkah ini merupakan salah satu cara untuk memberantas terorisme.

Salah satu caranya dengan membiarkan pelaku terorisme dalam keadaan hidup, tidak ditembak mati. Menembak mati teroris hanya akan membuat masalah baru dan memperpanjang usia jaringan teroris. Setelah ditangkap mereka dibina agar tidak lagi mempunyai pandangan mengenai terorisme.

"Bila dengan cara yang keras menurut saya itu bisa menimbulkan masalah baru. Mereka kan punya saudara punya teman, apa mereka senang lihat temannya di bunuh. Dan dibelakang mereka tentu banyak anggota lain ini yang masih harus ditelurusi," ujar Kapolri di era Presiden Abdurrahman Wahid itu.

Dalam hal ini, negara memiliki kewajiban untuk mengarahkan para pelaku kejahatan terorisme ke jalan yang benar. "Untuk kembali ke jalan yang benar, mereka berhak diperlakukan dengan halus."

Dalam pemberantasan terorisme itu, Chaeruddin menyarankan agar Polri mempertimbangkan untuk menggandeng TNI. "Bisa dibilang seperti itu, Polri tidak bisa memberantas sendirian. Itu juga merupakan bentuk kesamaan karena Polri tidak bisa sendirian menjaga setiap jengkal tanah."

Namun demikian, yang patut dikhawatirkan dalam menggandeng TNI adalah pendekatan dalam pemberantasannya itu sendiri. Sebab, TNI cenderung melakukannya dengan kekerasan.

"Jangan pakai tentara untuk menghantam rakyatnya sendiri, kecuali rakyat yang sudah pegang senjata. Karena pola-pola tentara itu kan menghantam, membasmi, sedangkan polisi tidak. Kekerasan yang dilakukan polisi kan kekerasan yang terbatas," terangnya.

Dia mencontohkan, tentara berhak menghancurkan sebuah bangunan bila ada target ancaman yang sedang diburu dan diketahui berada di dalam bangunan itu. "Kalau polisi tidak boleh, kalau ada polisi seperti itu artinya polisi yang militeristik." [TJ]

http://www.inilah.com/news/read/politik/2010/10/01/858611/mantan-kapolri-perlakukan-teroris-manusiawi/

Inilah Senjata Perampok Serdang Begadai

Sabtu, 2 Oktober 2010 | 22:26 WIB
remigius septian
Kadiv Humas Polri, Irjen Iskandar Hasan dan wakilnya, Brigjen Ketut Untung Yoga Ana
TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com - Markas Besar Polri menyatakan telah mengamankan barang bukti senjata yang dipakai para perampok di Dusun Sarang Puan, Desa Dolok Sagala, Dolok Masihul, Serdang Bedagai. Senjata yang digunakan para perampok ini aneka merek.

"Polisi berhasil mengamankan senjata yang digunakan para perampok. Yaitu, satu senjata api AK 56 dan 4 Magasen, peluru M 16 sebanyak 77 butir, peluru AK 47 sebanyak 394 butir, peluru call 7,62 sebanyak 182 butir, peluru call 7,2 (RPD) sebanyak 18 butir. Satu M16 milik anggota yang ditembak di CIMB, dan satu senjata api jenis FN rakitan," kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Iskandar Hasan lewat pesan singkat kepada Kompas.com, Sabtu (2/10/2010).

Menurut Iskandar, semua barang bukti senjata ditambah barang bukti enam unit sepeda motor telah diamankan di Markas Polda Medan. Sementara, empat tersangka yang tertembak mati dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Medan.

Dikatakan Iskandar, polisi akan terus memburu sekitar sembilan tersangka perampok lainnya yang masih dalam persembunyian.

Seperti diberitakan sebelumnya, aparat kepolisian di daerah Sumatera Utara terlibat baku tembak dengan kelompok perampok bersenjata yang telah mereka buru sejak kemarin. Dalam baku tembak, empat tersangka komplotan ditembak mati.

http://megapolitan.kompas.com/read/2010/10/02/22264389/Inilah.Senjata.Perampok.Serdang.Begadai

Ada Pelanggaran HAM Dalam Penangkapan Teroris

Nahyudi
03/10/2010 23:41
Lipuatn6.com, Depok: Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Patrialis Akbar mengatakan penangkapan para teroris belakangan ini terindikasi adanya pelanggaran HAM. Pasalnya Polri cenderung lebih banyak mengambil tindakan tegas dengan cara menembak mati para teroris.

Menurut Patrialis seharusnya Polri tak mengambil langkah itu mengingat pentingnya informasi dari para teroris yang ditangkap berkaitan jaringannya di Tanah Air. Seharusnya terduga teroris yang tidak melakukan perlawanan jangan dilumpuhkan dengan cara ditembak mati.

Demikian diungkapkan Patraialis dalam pembukaan kompetisi perancangan peraturan undang-undang bergerak dalam hukum di Kampus Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Ahad (3/10). Dalam kesempatan ini, Patrialis menyinggung perlunya diadakan tahanan khusus bagi teroris.

Tahanan untuk para teroris ini untuk mengantisipasi terjadinya indoktrinasi dari para teroris yang ditahan kepada tahanan lainnya. Apabila penggabungan tahanan terus berlangsung dikhawatirkan pula akan bermunculan bibit-bibit teroris baru di Tanah Air.(JUM)
http://berita.liputan6.com/hukrim/201010/299540/Ada.Pelanggaran.HAM.Dalam.Penangkapan.Teroris

Rampok Padang Murni Kriminal

Senin, 27 September 2010 , 08:23:00


TERLUKA: Salah seorang perampok ATM mengalami luka tembak setelah kontak senjata dengan polisi di Kabupaten Agam, Sumatera Barat.Padang Ekspres

PADANG--Tim gabungan Brimob, Densus 88 Polda Sumbar, dan Polresta Bukittinggi terus memburu dua perampok tiga Anjungan Tunai Mandiri (ATM) di Kampus I Universitas Bung Hatta (UBH) Padang, ke dalam hutan lereng Gunung Singgalang.

Dua perampok yang diketahui bernama Iwan dan Rahman ini, memang membuat cemas. Keduanya membawa tujuh pucuk senjata --tiga pistol jenis Baretta, empat laras panjang. Sementara itu, dari enam perampok yang dibekuk setelah kontak senjata di Nangguak Batu, Kenagarian Pakan Sinayang, Kecamatan Banuhampu, Agam, Sabtu (25/9) siang, hanya tersisa hidup dua orang.

Selebihnya tewas. Dua ditembak mati di tempat penangkapan, lainnya meninggal di perjalanan dari Agam ke Padang dan di Rumah Sakit Bhayangkara. Mereka yang ditembak mati bernama Pak De, asal Lampung, dan Bento asal Pariaman. Sudirman, dan Hendra, keduanya asal Jambi, tewas dalam perjalanan, dan saat dirawat. Salah seorang perampok, M Ihsan Gapar kemarin mulai membaik. Luka tembaknya tidak begitu parah.

Sedangkan Khairil, asal Pekanbaru, Riau masih menjalani perawatan. "Empat pelaku perampokan yang tewas belum dijemput keluarganya. Masih ada ruang mayat Rumah Sakit Bhayangkara Padang," kata Wakapolresta Padang AKBP Wisnu Handoko. Polisi, kata Wisnu juga agak kesulitan menelisik alamat pelaku. Sebab di tubuh para perampok memang ada sejumlah identitas. Tapi, polisi masih meragukan keasliannya.

"Belum ada yang dikembalikan kepada keluarganya, kita masih mencari alamat keluarga pelaku yang meninggal," jelas Wisnu Handoko. Hasil pemeriksaan jaringan perampok ATM di Padang menunjukkan tidak ada kaitan dengan kelompok teroris. Perampok yang berhasil dilumpuhkan personel Polda Sumatera Barat itu adalah penjahat kambuhan dan sindikat pembobol ATM yang sudah bertahun-tahun beroperasi.

"Pemeriksaan tersangka mereka ini memang sindikat ATM dan sementara tidak ada keterkaitan (terorisme)," ujar Kapolda Sumatera Barat Brigjen Andayono saat dihubungi kemarin (26/9). Salah seorang tersangka yang bernama Rahmat mengakui mereka telah melakukan berbagai aksi pembobolan ATM sejak tahun 2009.
Menurut mantan Wakapolda Kepulauan Riau itu, kelompok Rahmat ini pernah melakukan pembobolan ATM tahun 2009 sebanyak tiga kali dan dua kali pada tahun 2010.

"Mereka ini ada yang dari Jambi, ada juga yang dari Lampung, ini pengakuan tersangka," kata Andayono. Hingga tadi malam, menurut Kapolda, pengejaran terhadap dua orang tersangka yang lari di pegunungan Singgalang masih dilakukan. "Mereka ini membawa senjata api tujuh pucuk," kata Andayono. Mantan Kapolwil Bogor itu menjelaskan, dalam pengejaran tim Polda Sumatera Barat dan Polres Bukit Tinggi berhasil menemukan satu pucuk senjata api jenis FN buatan pabrikan di Belgia. "Ada pelurunya lima butir," kata polisi yang dikenal ramah ini.

Andayono menambahkan, selain senjata ada juga baju dan celana yang tercecer di semak-semak. "Mereka berusaha mengganti penampilan agar tersamar. Tapi, anggota sudah mengepung, untuk lolos sulit," katanya. Berapa sebenarnya jumlah kawanan bandit at mini? Andayono belum bisa menyebut jumlah pasti. "Dari pengakuan tiga satpam yang disekap dan dua warga yang sedang mengambil uang mereka hanya melihat belasan orang. Belasan itu berapa, masih kita pastikan," katanya.

Andayono juga memerintahkan jajarannya menutup akses ke Pekanbaru, Riau dengan melakukan blokade secara ketat. "Tapi yang jelas alat transportasi mereka sudah kita sita, yakni dua mobil," jelasnya. Secara terpisah, sumber di lingkungan anti teror Polri menyebut kelompok ini sama sekali berbeda dengan teroris Medan yang merampok CIMB Niaga. "Sudah dicek anggota, bukan kelompok Tholut," katanya saat dihubungi. Menurut perwira menengah itu, kelompok Rahmat yang merampok ATM di Padang ini juga tak berfaham radikal.

"Mereka memang nekad, berani menggasak ATM saat seluruh Polda waspada. Istilahnya kena batunya sendiri," katanya. Dari sisi mental, kelompok ini kalah jauh dengan teroris Medan. "Mereka memang punya senjata tapi lemah dalam penguasaan. Mereka juga takut mati dan gemetar saat diperiksa," katanya. Ini berbeda dengan kelompok teroris di bawah jaringan Tholut. Alih-alih takut polisi Mereka justru mencari mati dengan menyerang pos polisi. Bagi kelompok ini, mati dalam aksi imbalannya surga.

Terpisah, Kadivhumas Mabes Polri Irjen Iskandar Hasan juga menyebut indikasi perampokan ATM di Sumatera Barat adalah kriminal murni sangat kuat. "Memang laporan awal dari lapangan seperti itu," katanya. Mantan Kapolda Bangka Belitung itu berjanji akan memberikan penjelasan yang lebih detail hari ini, Senin (27/9). "Kita masih kumpulkan informasinya supaya tidak sepotong-sepotong," katanya.(rdl/jpnn)

http://www.pontianakpost.com/index.php?mib=berita.detail&id=39516

Monday, 27 September 2010

KontraS Tuding Densus 88 Langgar HAM

Senin, 27 September 2010 , 04:04:00

MEDAN -
Sepak terjang anggota Detasemen Khusus 88/Anti Teror ketika menyergap orang-orang yang diduga teroris, memantik keprihatinan banyak pihak. Selain Komisi III DPR RI, Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) juga mengecam tindakan Densus 88/AT yang dituding kerap bertindak melanggar hak azasi manusia (HAM).

Ketua Ketua Badan Pengawas KontraS, Usman Hamid, mengingatkan Densus 88 agar memperhatikan kaidah-kaidah kemanusiaan dalam setiap penggerebekan. ”Orang-orang yang ditembak tersebut mempunyai keluarga, anak juga sanak saudara. Kalau dilakukan dengan cara tidak manusiawi akan menimbulkan kemarahan, kekecewaan dan rasa ingin membalas. Akhirnya yang terkena imbasnya adalah polisi yang tidak tahu apa-apa dan tidak bersalah,” kata Usman saat ditemui Sumut Pos (grup JPNN) di Hamparan Perak, Minggu (26/9).

Usman Hamid mengunjungi Mapolsek Hamparan Perak guna meninjau lokasi penyerangan sejumlah pria yang diduga teroris, Minggu (26/9) lalu. Usman Hamid mengatakan, pihaknya turut berduka cita atas peristiwa yang menewaskan tiga anggota Polsek Hamparan Perak tersebut. Karenanya KontraS juga mendukung penuh upaya Polri membongkar kasus ini.

Meski demikian mantan Koordinator KontraS itu tetap meminta Densus 88/AT memperhatikan hak-hak kemanusiaan dalam setiap penggerebekan. Menurutnya, Densus 88 sebenarnya bisa melakukan pendekatan yang lebih humanis. ”Jangan sampai ada darah dalam melakukan aksinya. Jangan membati buta, lebih baik dilumpuhkan saja,” ujarnya.

Lebih lanjut Usman mengatakan, tersangka juga memiliki hak hukum untuk dibawa ke pengadilan. ”Biarlah hukum yang memproses dan tidak ada satupun masyarakat yang mendukung teroris,” ujarnya seraya meminta jenazah korban Densus 88 dikembalikan kepada pihak keluarga.
(mag-11/jpnn)

http://www.jpnn.com/read/2010/09/27/73111/KontraS-Tuding-Densus-88-Langgar-HAM

Thursday, 23 September 2010

Keluarga Berharap Pelaku Ditembak Mati

[ Kamis, 23 September 2010 ]

KEDATANGAN
jenazah Aiptu Baek Sinulingga, 45, salah seorang korban yang tewas dalam insiden penyerangan Polsek Hamparan Perak kemarin dini hari (22/9), disambut tangisan histeris keluarga. Anak tunggal Baek, Ardiles Sinulingga, 17, bahkan sampai pingsan.

Iring-iringan yang membawa jasad Baek datang kemarin, sekitar pukul 12.30. Begitu tiba di rumah duka, di Jalan Pemasyarakatan, Desa Tanjung Gusta, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang, jerit tangis keluarga langsung terdengar. Istri korban, Tabitha Ginting, 41, bahkan terkulai begitu melihat dari dekat peti mati yang berisi jenazah suaminya.

"Kenapa kau pergi, Pak? Lihat anakmu ini, Pak! Siapa lagi kawan aku cerita-cerita, Bapak sayang? Kenapa kau tinggalkan kami, Pak?" kata Tabitha sambil menangis keras dan memeluk jenazah suaminya.

Saat itulah Ardiles pingsan, setelah peti mati bapaknya dibuka. Saat sadar, pemuda tersebut menangis sambil berteriak-teriak. "Pak, jangan kau tinggalkan aku. Tidak ada lagi yang memarahi aku, Pak. Pak, sama siapa lagi aku tertawa dan cerita?" ucap Ardiles.

Menurut warga yang mengenal Baek, sosok ayah Ardiles itu baik dan ramah. Dia baru dua tahun tinggal di Jalan Pemasyarakatan tersebut. Amir, 38, warga sekitar yang juga pengelola Warnet Davica Net, mengatakan bahwa Baek sering main ke warnet miliknya. Dia menuturkan, Baik selalu suka bercerita de ngannya. Amir menambahkan, nama almarhum sesuai dengan sikap dan kelakuannya.

"Nama beliau sesuai dengan kelakuannya setiap hari dalam bertetangga dan bermasyarakat. Bukan hanya itu, dia juga tidak kelihatan seperti polisi walaupun polisi," ucap Amir.

Hal senada dikatakan oleh J. Sinuraya SH MH, yang juga pengurus gereja dan famili Tabitha. Ditambahkan Sinuraya, keponakannya dari pasangan mendiang Baek dan Tabitha hanya Ardiles. "Mereka hanya dikaruniai seorang anak laki-laki, yaitu Ardiles Sinulingga, pelajar kelas tiga SMU Negeri 16 Terjun, Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan," terang dia.

Thomas Ginting (40), adik ipar Aiptu Baek mengatakan, kakaknya sudah 20 tahun bertugas di Polsekta Hamparan Perak. Pihak keluarga, kata dia berencana memakamkan Baek ke pemakaman keluarga di Namotating, Desa Sei Bingai, Kabupaten Langkat.

Thomas menuturkan, Aiptu Baek merupakan anak ke-4 dari 4 bersaudara. Thomas menambahkan, bahwa kakak iparnya itu terkena peluru sebanyak 4 butir jenis senjata laras panjang SS.

Thomas berharap, pelaku penembakan abang iparnya itu segera ditangkap dan ditembak mati karena sudah membuat abang iparnya meninggal dunia. "Harapan saya agar pelakunya segera dibekuk dan ditembak mati saja karena perbuatan mereka itu tidak manusiawi," ucap Thomas.

Sementara itu, polisi tewas lainnya yang menjadi korban penyerangan Mapolsek Hamparan Perak adalah Aiptu Deto Sutejo. Ketika jenazahnya tiba di rumah duka di Jl Perkutut, Kompleks Perumahan Pemda Langkat, kemarin (22/9), sanak keluarga menyambut dengan isak tangis dan jerit histeris.

Istri korban, Rosmawati, nyaris pingsan saat melihat peti jenazah di mobil jenazah dari RS Bhayangkara. Bahkan, dia tak kuasa berdiri ketika peti jenazah dibawa masuk ke rumah duka. Dia terpaksa dipapah untuk masuk ke rumah. Demikian pula anak tertuanya, Bima Pratama Sutejo, 14. Dia histeris melihat jasad ayahnya.

Setelah setengah jam disemayamkan di rumah duka, jasad Deto kembali dikafani dan dimasukkan ke dalam peti. Setelah dilakukan serah terima dari pihak keluarga kepada kepolisian, jenazah dimakamkan dengan upacara polisi yang dipimpin Kapolres Langkat. (jon/jpnn/c11/kum)

http://www.jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=156644

Saturday, 18 September 2010

Polri: Brimob Tak Akan Ditarik dari Manokwari

VIVAnews - Desakan dari masyarakat Manokwari untuk mengusir Brimob dari tanah mereka tampaknya akan sia-sia. Brimob dipastikan akan terus menjalankan kewajibannya di sana.

"Brimob kan polisi juga, masa masyarakat tidak butuh penegak hukum?" kata Kepala Bidang Penerangan Umum (Kabidpenum) Mabes Polri, Kombes Marwoto Soeto di Jakarta, Sabtu 18 September 2010.

Marwoto menerangkan dalam kejadian bentrok di Manokwari, posisi anggota Brimob yang melepaskan tembakan peringatan saat itu sangat beralasan. Biar bagaimana pun, masyarakat Manokwari masih membutuhkan Brimob.

"Waktu itu kan tujuannya ingin membubarkan masyarakat. Brimob masih dibutuhkan, masyarakat kan tidak mungkin bisa menyelesaikan masalah seperti ini tanpa penegak hukum," tegasnya.

Bentrok Brimob-warga terjadi Rabu malam sekitar pukul 19.30 WIT. Saat itu terjadi kecelakaan lalu lintas di Jalan Esau Sesa, Manokwari Selatan.

Seorang pejalan kaki ditabrak motor. Lalu warga yang berada di lokasi melihat pengendara motor kabur ke arah markas Brimob yang tidak jauh dari tempat terjadinya kecelakaan. Puluhan warga kemudian menuju markas Brimob, di sana terjadi percekcokan.

Warga lantas memanah dua anggota Brimob masing-masing Brigadir Amri dan Ismail. Akibatnya, oknum anggota Brimob mengamuk dan menyisir warga ke perkampungan di sekitar lokasi kecelakaan.

Oknum Brimob kemudian menembaki warga di sekitar secara membabi buta. Dua warga, Naftali Kuan dan Septianus Kuan tewas. Sementara warga bernama Antipeniman kritis.

Massa yang tak terima kemarin mengamuk dan memblokir jalan menuju Bandara Rendani Manokwari. Massa juga sempat mengarak jenazah Septinuas Kuan ke kantor DPRD Manokwari.

Di kantor Bupati Manokwari, massa menuntut ganti rugi Rp30 milliar, seluruh biaya pemakaman korban ditanggung Kapolres.

Mereka juga menuntut Brimob angkat kaki dari Manokwari, tanah Markas Brimob harus ditarik dan jangan digunakan lagi sebagai markas. (umi)

Laporan: Dwifantya Aquina

http://nasional.vivanews.com/news/read/178185-polisi--brimob-masih-dibutuhkan-di-manokwari

Friday, 17 September 2010

Satu Lagi Korban Tewas Ditemukan

Nico Pattipawae
17/09/2010 13:07
Liputan6.com, Manokwari: Pascabunyi rentetan tembakan dari daerah sekitar Kompi Detasemen C Brigade Mobil Kepolisian Daerah Papua di Manokwari, Kamis (16/9) malam, warga kembali menemukan sesosok mayat di lokasi itu. Korban diketahui bernama Septi Kwan. Sejauh ini, belum diketahui penyebab kematian Septi.

Istri korban, Antomina Kwan, juga menjadi korban. Ia menderita luka di bagian lutut kanan dan harut dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

Dengan tewasnya Septi Kwan, berarti keluarga Kwan dalam sehari kehilangan dua anggota keluarganya. Sebelumnya, keluarga Kwan juga kehilangan Naftali Kwan. Naftali diduga ditembak seorang polisi dari kesatuan Brimob pada Rabu malam. Dia tewas setelah terkena tembakan di bagian betis sebelah kanan [baca: Warga Ditembak Oknum Brimob, Jalan Diblokade].

Keluarga Kwan belum tahu kapan memakamkan Septi dan Naftali. Pemakaman baru dilakukan jika polisi datang dan melihat jenazah kedua korban. Tak hanya itu, mereka juga menuntut ganti rugi. Hingga kini, kedua jenazah disemayamkan di rumah duka.

Atas peristiwa penembakan ini, warga mendesak Kepala Kepolisian Resor Manokwari Ajun Komisaris Besar Polisi Bambang Ricky mundur dari jabatannya. Bambang sendiri sudah mengaku siap mundur untuk mempertanggungjawabkan tindakan anak buahnya [baca: Kepala Kepolisian Manokwari Siap Mundur].(BOG)
http://berita.liputan6.com/hukrim/201009/296723/Satu.Lagi.Korban.Tewas.Ditemukan

Polda Papua Periksa 7 Anggota Brimob

Laporan wartawan KOMPAS.com Sandro Gatra
Jumat, 17 September 2010 | 13:34 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kepolisian Daerah Papua telah memeriksa tujuh anggota brimob terkait kericuhan di Manokwari, Papua. Namun, kepolisian belum dapat meminta keterangan dari pihak warga lantaran situasi yang belum memungkinkan.

Hal itu dikemukakan Kepala Bidang Penerangan Umum Polri Komisaris Besar Marwoto Soeto di Mabes Polri, Jumat ( 17/9/2010 ), terkait kericuhan yang mengakibatkan dua orang tewas dan dua orang lainnya menderita luka.

Marwoto mengatakan, kericuhan akibat kesalahpahaman warga setempat terkait kecelakaan lalu lintas yang terjadi di dekat Markas Brimob Detasemen C Manokwari. Kecelakaan itu melukai warga setempat. Saat itu, beberapa anggota brimob datang dengan maksud menolong. Namun, warga mengira mereka adalah para penabrak.

"Anggota brimob diteriaki seolah yang nabrak. Warga makin banyak yang datang. Mereka ada yang bawa senjata tajam, panah. Anggota mencoba bertahan dengan keluarin tembakan ke atas," kata Marwoto.

Tembakan itu, ucapnya, melukai kaki salah satu warga, yakni Naftali Kwan (30), yang juga korban kecelakaan. Korban langsung dibawa ke Rumah Sakit TNI AL. Setelah sempat dirawat, pihak rumah sakit memperbolehkan korban dibawa polisi untuk dimintai keterangan terkait kecelakaan itu. "Rupanya dia masih belum sehat. Belum sempet diperiksa, dia dibawa lagi ke RSUD. Di sana dia meninggal," paparnya.

Sedangkan korban tewas lain, Septinus Kwan (28), tambah Marwoto, tewas akibat jatuh ke jurang. "Di sana informasinya dekat jurang. Pada saat bentrok ada warga yang ketakutan seolah-olah mau ditangkap polisi. Kemungkinan jatuh ke jurang," ujarnya.

http://regional.kompas.com/read/2010/09/17/13343918/Polda.Papua.Periksa.7.Brimob

Tuesday, 7 September 2010

Inilah Amirullah, Penembak Mati Kerusuhan Buol

INILAH.COM, Jakarta - Mabes Polri menyatakan seorang anggotanya Briptu Amirullah yang bertugas di Polsek Biau, Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah sebagai tersangka.

"Yang pasti jadi tersangka ya Amirullah, walaupun sekarang belum ditetapkan pasti tersangka," ujar Kadiv Humas Polri Brigjen Pol. Iskandar Hasan, saat dihubungi, Selasa (7/9).

Mengenai kapan tepatnya Amirullah akan ditetapkan sebagai tersangka, Iskandar enggan mengungkapkannya. Dia memastikan dalam waktu dekat anggotanya itu akan menjadi tersangka kasus kerusuhan di Buol, Sulawesi Tengah.

Amirullah diduga menembak seorang warga berinisial IM hingga tewas, saat kerusuhan di Buol terjadi Kamis (2/9) petang. Dalam insiden kerusuhan itu 8 orang warga sipil dinyatakan tewas, salah satu korban diduga ditembak mati oleh Amirullah.

Sejauh ini polisi telah menetapkan 3 orang polisi sebagai tersangka, atas tuduhan kelalaian yang menyebabkan seorang tahanan, Kashmir, meninggal dunia, yang kemudian kasus tersebut mengakibatkan kerusuhan di Buol.

Belum diketahui penyebab tewasnya 7 warga sipil lainnya dalam kerusuhan Buol, penyelidikan polisi masih berlangsung hingga saat ini dengan melakukan pemeriksaan intensif terhadap tersangka yang telah ditetapkan dalam kasus tersebut, juga pemeriksaan saksi. [mah]

http://www.inilah.com/news/read/politik/2010/09/07/806591/inilah-amirullah-penembak-mati-kerusuhan-buol/