Showing posts with label juni 2013. Show all posts
Showing posts with label juni 2013. Show all posts

Sunday, 14 July 2013

Para Jenderal TNI & Polri Senang Prajuritnya Mati Ditembak


June 29, 2013 By: admin Category: KNPB PusatOpiniTPN
Oleh: Wedauma
Mati untuk NKRI
Nyawa Prajurit Tentara dan Polisi Indonesia di West Papua, terus menerus dikorbankan oleh para penguasa Indonesia, terutama para Jenderal TNI dan Polri yang sibuk mengurus proyek konflik. Bukan rahasia lagi, demi kantong pribadi dan pemburuan pangkat para petinggi Militer dan Polisi Indonesia, nyawa prajurit dipertaruhkan dengan doktrin nasionalisme -NKRI Harga Mati.
Malang benar nasib para prajurit berpenghasilan 800.000 an perbulan itu, bahwa selain mereka siap untuk mati percuma, mereka pun harus menanggung kebencian rakyat West Papua, terlebih juga kepada Tuhan atas dosa pembunuhan, pemerkosaan, intimidasi, teror, perampasan dan penguasaan hak bangsa Papua dalam misi penjajahan penguasa Indonesia.
Padahal, penguasa mereka, juga para jenderalnya sibuk dalam urusan pencitraan diri dan korupsi untuk penggendutan rekening pribadi. Memprihatinkan juga, disaat mayat prajurit yang mati disambut tangis pilu keluarga di Bandara, para Jenderalnya bersenang-senang ajukan budget proposal untuk dana operasi dan perluasan komando teritorial (koter). Mereka tidak bersedih, apalagi merasa kehilangan. Mereka justru bersyukur karena darah prajurit TNI dan Polri yang mati dianggap sebagai pemupuk ladang konflik mereka.
Korban penembakan di Puncak Jaya, Papua, Selasa (25/6/2013) terhadap Letda Inf I Wayan Sukarta, anggota TNI dan kedua agennya oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN-PB) dibawa komando Panglima Tinggi, Gen. Goliat Tabuni bukanlah hal baru. Rangkaian penembakan terhadap prajurit TNI maupun Polisi, dan sebaliknya Penembakan terhadap anggota TPN. PB dan rakyat West Papua sudah berlangsung lama sejak penguasa kolonial Indonesia merebut paksa wilayah West Papua melalui operasi militer Trikora tahun 1962.
Di hampir seluruh pelosok wilayah West Papua masih tersimpan rapih cerita-cerita pembunuhan masal, penyiksaan, mutilasi, pemerkosaan hingga pencurian dan mengrusakan kekayaan alam milik bangsa Papua yang dilakukan secara keji dan tak berperikemanusiaan oleh militer Indonesia.
Kekuasaan kolonial Indonesia belum juga mengambil hikmah dari korban rakyat dan militer yang terus berjatuhan di West Papua. Mereka menutup mata terhadap cara cara penyelesaian masalah West Papua secara damai. Mereka ingin, lagi-lagi pejabat Pemerintah dan para jenderalnya, mempertahankan konflik bersenjata agar alokasi dana TNI dan Polri naik terus, dan kesempatan bagi para pejabat militer untuk menambah pangkat dan perluasan basis militer.
Guna menjaga kepentingan itu, mereka juga sangat lihai dan pandai munafik dalam menyembunyikan watak ekspansionisme dan militerismenya dari sorotan Internasional. Wartawan lokal maupun nasional di West Papua direkrut dan digaji agar senantiasa meliput pernyataan-pernyataan dan tema-tema perdamaian, pembangunan, kesejahteraan dan pesan-pesan moral yang seakan-akan memposisikan TNI dan Polri di pihak yang benar, sambil menyudutkan perlawanan rakyat West Papua untuk merdeka.
Dalam kasus terakhir, Anda bisa baca contoh pernyataan Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol I Gede Sumerta Jaya, di Harian Bintang Papua Rabu (26/6/2013), “Informasinya si korban ini berperan aktif membantu kelancaran pembangunan di Illu. Karena anggotanya dan dia mengamankan jalur pasukan bahan makanan masuk ke Puncak Jaya khsusnya di Illu supaya tidak terjadi perampokan dan penghadangan atau mengganggu distribusi pasokan bahan makanan,” kata Sumerta.
Begitu juga, Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XVII/Cenderawasih Kol Inf Jansen Simanjuntak, pada  pada harian Cepos Kamis (27/6/2013) menegaskan, walaupun banyak anggota TNI yang tewas akibat ditembak Kelompok Sipil Bersenjata (KSB), namun Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Christian Zebua tetap pada komitmennya untuk mengajak saudara-saudara kita di Papua itu untuk turun dan kembali ke kampung halaman mereka. “Mari kita bersama-sama membangun Papua, sehingga dapat mengejar ketertinggalan dengan daerah lainnya,” kata dia.
Pernyataan kedua institusi militer diatas dengan jelas terlihat mementingkan kepentingan pencitraan penguasa dan para jenderalnya, sambil menyepelekan 9 Kopassus yang korban atas nama doktrin “NKRI Harga Mati,” dan tentu juga menyembunyikan puluhan nyawa rakyat sipil West Papua yang telah korban dalam aksi balas dendam Kopasus di Puncak Jaya beberapa waktu lalu.
Yang lebih para lagi, mereka, para pejabat militer, penguasa Indonesia dibantu media, tidak mampu dengan jujur memberitakan kepada publik nasional dan Internasional tentang kejelasan aktor dan motif dari konflik penembakan di Puncak Jaya, bahkan di daerah lain. Mereka sengaja menutup akses publikasi perjuangan bangsa Papua, dan menyudutkan mereka sebagai Gerombolan Pengacau Keamanan (GPK), Kelompok Sipil Bersenjata ( KLB), atau Orang Tak Kenal ( OTK).
Padahal, sangat jelas bahwa konflik bersenjata (armed conflict) di Puncak Jaya sudah masuk dalam ranah, yang menurut hukum humaniter internasional (Viery, Geneva, 1992) sebagai konfrontasi yang melibatkan suatu negara dengan suatu “entitas bukan-Negara”, yang juga biasa disebut “perang pembebasan nasional” (war of national liberation).
Yang dimaksud dengan “perang pembebasan nasional” adalah suatu sengketa bersenjata di mana suatu bangsa berperang melawan dominasi kolonial, atau pendudukan asing, atau rezim rasialis dalam rangka melaksanakan hak untuk menentukan nasib sendiri (right of self-determination) sebagaimana yang tercantum di dalam Piagam Perserikatan Bangsa-bangsa.
Nah, dalam kasus konflik bersenjata di Papua, sudah jelas sejak lama TNI/Polri dan TPN-PB melakukan perlawanan senjata, dimana TNI/Polri berada dengan penguasa Indonesia untuk menjajah dan menguasai wilayah koloninya, West Papua. Sedangkan TPN-PB adalah sayap pertahanan militer bangsa Papua, milik rakyat West Papua, yang sedang berjuang untuk bebas dari kungkungan kolonial Indonesia, sebagaimana diatur dibawah hukum internasional tentang hak penentuan nasib sendiri.
Selama belum ada kemauan untuk penyelesaian damai, konflik bersenjata ini tidak akan pernah berhenti, dan karena itu korban di pihak TNI/Polri maupun TPN-PB akan terus ada. Dan rakyat sipil pun akan terus menjadi korban akibat konflik bersenjata yang tidak menerapkan hukum perang (hukum humaniter).
Menggolongkan TPN-PB sebagai sipil bersenjata hanyalah taktik kolonial agar rakyat sipil yang bukan militer TPN-PB jadi sasaran serang. Oleh karena itu sudah waktunya Kolonial Indonesia mengakui eksistensi TPN-PB agar hukum humaniter diterapkan dan menjadi jelas apa motif dan siapa aktor konflik bersenjata itu. Niat tersebut sudah mulai diterapkan oleh Panglima TPN-PB, Gen Goliat Tabuni jajarannya. Dia secara terbuka menyampaikan bahwa dirinya bertanggung jawab terhadap penembakan anggota TNI dan meminta TNI Polri untuk tidak mengganggu sipil.
Selama hal itu tidak diterapkan, maka kembali lagi pada opini awal dari tulisan ini bahwa Penguasa Indonesia dan para pejabat militer TNI dan Polri membiarkan konflik bersenjata di Papua sebagai lahan perburuan alokasi dana APBN, dana Otsus, dana keamanan perusahaan-perusahaan asing dan juga sebagai tempat mendulang pangkat di jajaran institusi TNI/Polri, juga sebagai politik stimulasi bagi politisi kemiliteran dalam merebut tambu kepresidenan. Untuk kepentingan itu, prajurit TNI dan Polri akan terus dijadikan anjing penjaga lahan, yang harus bersedia mati demi doktrin “NKRI Harga Mati”.
———-
Wedauma adalah pengamat konflik bersenjata di KNPB Pusat

Warga di Maluku Tengah Bentrok, 1 Tewas Tertembak

MI/Hamdi Jempot/fz


Laporan: Hamdi Jempot

Senin, 24 Juni 2013 | 19:49 WIB
Metrotvnews.com, Ambon: Warga dua desa di Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, kembali terlibat bentrokan. Bentrokan pecah sejak Senin (24/6) dini hari dan baru redah pada siang hari setelah kehadiran tambahan pasukan dari Kota Ambon.

Dalam bentrokan itu, warga kedua desa bertetangga itu saling serang dengan menggunakan senjata tajam, bom rakitan, dan senjata api. Beberapa kali terdengar ledakan bom dan letusan senjata api di perbatasan kedua desa itu.

Aparat Polsek dan Koramil Leihitu kewalahan mengatasi bentrokan itu. Bentrokan baru reda setelah tambahan pasukan dari TNI dan Polri yang dikirim dari Ambon.

Akibat bentrokan itu, seorang warga tewas dan 13 warga lainnya terluka. Enam rumah warga yang berada di perbatasan terbakar.

Korban tewas bernama Rusdi Sasole, 67, akibat tertembak di bagian paha kanan. Sedangkan 13 korban lainnya dirawat di sejumlah rumah sakit di Kota Ambon. Korban umumnya mengalami luka tembak dan terkena serpihan bom.

Kapolres Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease AKB Bintang Julianta menyatakan, bentrokan dipicu aksi perusakan sebuah perahu milik warga di perbatasan kedua desa itu.

Perusakan itu, lanjut Bintang sebenarnya sudah diselesaikan sesama warga. Namun, pada Senin dini hari, warga terprovokasi sehingga terlibat bentrokan.

"Ini masalah sepele saja, soal informasi perusakan perahu milik salah satu kelompok warga. Namun warga terprovokasi sehingga terjadi bentrokan dan menewaskan seorang warga dan lainnya terluka," kata Bintang saat ditemui di lokasi bentrokan kedua desa itu.

Ia mengakui, korban tewas akibat tertembak peluru. Namun,ia belum bisa memastikan jenis peluru tersebut. Menurutnya, saat ini yang dilakukan pihaknya adalah mencegah warga kedua desa itu kembali bentrok. Namun proses pengusutan bentrokan tetap berjalan.

Ia juga mengakui, warga kedua desa itu dalam bentrokan menggunakan senjata api, bom rakitan. Karena itulah, ia meminta warga kedua desa untuk menyerahkan senjata api maupun bom rakitan. "Apapun yang kami lakukan tidak akan membuahkan hasil kalau warga tidak memiliki kesadaran, dan masih menyimpan barang-barang berbahaya. Nanti setelah aparat tinggalkan desa ini, mereka bentrok lagi," katanya.

Jika tidak, tegas dia, aparat akan menggelar razia di kedua desa itu. Bintang juga menyatakan, warga kedua desa itu sering terlibat bentrokan yang dipicu masalah sepele.

Bintang menyatakan, untuk mengatasi bentrokan susulan, saat ini disiagakan dua satuan setingkat peleton (SST) Brimob Polda Maluku, satu SST Polres Pulau Ambon, dan dua SST Satuan Penugasan (Satgas) Â Yonif 611 yang kini di bawah kendali operasi Kodam 16 Pattimura. (Hamdi Jempot)


Editor: Henri Salomo Siagian


http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/06/24/6/163666/Warga-di-Maluku-Tengah-Bentrok-1-Tewas-Tertembak

Saturday, 29 June 2013

Kontras: Polisi Paling Banyak Lakukan Kekerasan

JAKARTA, KOMPAS.com — Kepolisian dinilai sebagai institusi yang paling banyak terlibat kasus kekerasan terhadap warga sipil. Dari 100 tindakan penyiksaan, sebanyak 55 di antaranya diduga dilakukan polisi, 10 kasus oleh TNI, dan 35 kasus oleh sipir. Data tersebut merupakan temuan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) pada Juli 2012 hingga Juni 2013.

"Penyiksaan banyak dilakukan oleh polisi di satuannya masing-masing. Ada yang pelakunya diketahui pasti, tapi banyak juga yang tidak diketahui karena penyiksaan dilakukan bergantian. Atau kemudian polisi itu sudah tidak bertugas di sana," terang Koordinator Kontras, Haris Azhar, di kantornya, Jumat (28/6/2013).

Haris menambahkan, tindakan penyiksaan yang diduga dilakukan oleh polisi telah menyebabkan 149 korban luka dan 5 tewas. Kemudian, yang diduga dilakukan TNI, 10 luka-luka dan 2 tewas. Adapun diduga yang dilakukan oleh sipir menyebabkan 45 orang luka-luka dan 8 tewas. Haris mencontohkan kasus penyiksaan tahanan Polsek Sabu Barat pada 14 Agustus 2012.

Pada kasus itu, sebanyak 17 orang warga Dusun Mapipa ditangkap oleh anggota Polsek Sabu Barat dengan tuduhan melakukan pembunuhan terhadap Bernadus Jaya. Sebanyak 17 warga sipil tersebut ditelanjangi, ditempatkan dalam satu ruangan 3x2,5 meter, dipukul, hingga disiram dengan air laut pada tubuh yang luka. Penyiksaan berlangsung selama 120 hari hingga akhirnya korban penyiksaan dibebaskan karena tidak terbukti melakukan tindak pidana.

"Mereka tidak bersalah tapi sudah disiksa seperti itu. Kemudian tidak ada upaya apa pun setelah mereka bebas. Korban dilanggar haknya berkali-kali. Hal ini berdampak pada kondisi psikologis korban," kata Haris.

Haris menyayangkan, dari sejumlah kasus yang telah diusut, penegakan hukum hanya dilakukan oleh pihak internal yakni baik sidang etik maupun disiplin. Menurutnya, hukuman dari internal kepolisian itu tidak setimpal dan tidak membuat efek jera.

"Kalau polisi biasanya hanya 3 minggu ditahan, lalu penundaan kenaikan pangkat cuma setahun," kata Haris.

Selain itu, menurutnya belum ada perubahan revisi atas peraturan perundang-undangan khususnya KUHP dan KUHAP terkait pengaturan pasal penyiksaan.
Editor : Caroline Damanik

Thursday, 27 June 2013

Melawan, Bandar Sabu Ditembak Polisi

Usai Dipukuli Massa, Pejambret di KRL Ditembak Polisi

Mengamuk di Jalan, Residivis Ditembak Polisi


2 Perampok Juragan Barang Bekas Ditembak Polisi

Senin, 17/06/2013 15:50 WIB

Mojokerto - 2 Kawanan perampok yang membawa kabur uang senilai Rp 100 juta dan perhiasan emas senilai puluhan juta rupiah dari rumah Ismail (59), pengusaha barang bekas ditangkap. Kedua pria itu ditembak karena melawan.

"Dua pelaku sudah kami tangkap. Mereka dilumpuhkan karena mencoba melukai anggota saat ditangkap," kata Kapolresta Mojokerto, AKBP Widji Suwartini saat dikonfirmasi detikcom, Senin (17/6/2013).

Informasi yang dihimpun detikcom, pelaku perampokan yang berjumlah 4 orang ini, disergap polisi di suatu tempat di Kota Mojokerto. Dua lainnya pelaku berhasil kabur. Sementara dua pelaku berhasil diringkus anggota Resmob.

Kedua pelaku yang ditembak pada kakinya ini informasinya dirawat di RSUD Wahidin Soediro Husodo Kota Mojokerto. Selain itu polisi juga masih memburu pelaku lainnya. "Dua pelaku lainnya masih diburu," ujar Widji.

Sebelumnya, 4 kawanan perampok bersenjata tajam, membawa kabur uang senilai Rp 100 juta dan perhiasan emas senilai puluhan juta rupiah dari rumah Ismail (59), seorang pengusaha barang bekas di Jalan KH Usman, Kota Mojokerto, Rabu (12/6/2013) malam.

(fat/fat) 


http://news.detik.com/surabaya/read/2013/06/17/155005/2275761/475/2-perampok-juragan-barang-bekas-ditembak-polisi

BNPT: 90 Teroris Ditembak Mati Sejak 2002


Kamis, 27 Juni 2013 04:34 wib
Ilustrasi (Foto: Dok Okezone)
Ilustrasi (Foto: Dok Okezone)
SOLO - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Ansyaad Mbai, membeberkan 900-an pelaku teror ditangkap sejak 2002. Dari jumlah tersebut hanya 90 pelaku yang ditembak.

Ansyaad membantah bila penanganan pelaku teroris yang dilakukan Densus 88 maupun BNPT melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) karena selalu diakhiri dengan tewasnya teroris. Menurutnya, penanganan terorisme di Indonesia lebih lembut jika dibandingkan dengan negara lain.

“Di Amerika yang katanya negara menjunjung tinggi HAM dan demokrasi, hampir 100 persen pelaku terorisme ditembak. Tapi di Indonesia, yang penanganannya jauh lebih lembut dibandingkan negara lain masih saja dikatakan melanggar HAM bila Densus menembak mati teroris," papar Ansyaad Mbai di Solo, Jawa Tengah, Rabu 26 Juni.

Berbeda saat ada anggota Densus yang tertembak mati, tidak pernah ada pembelaan terkait HAM.

“Kadang Densus diperlakukan tidak adil. Densus itu hadir karena kebrutalan teroris dan terorisme harus diungkap sampai akar-akarnya,” jelasnya.

Menurut Ansyaad, penanggulangan terorisme di Indonesia telah diakui dunia internasional. Bahkan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) merekomendasikan Indonesia sebagai tempat belajar penanggulangan terorisme dan menjadi model penanggulangan terorisme internasional.

Ansyaad mengatakan, pelaku teror harus dibasmi. Pasalnya jika aksi-aksi terorisme tidak bisa diungkap maka akan terjadi konflik horisontal dan saling tuduh di antara kelompok masyarakat.

“Pemerintah Nigeria datang ke Indonesia khusus untuk belajar penanganan masalah terorisme atas rekomendasi dari PBB,” katanya.

Terkait aksi terorisme di Indonesia, Ansyaad mengatakan aksi-aksi terorisme beralih ke Poso setelah gagal di Aceh. Untuk membiayai kegiatan di Poso, kelompok-kelompok teroris tersebut menghimpun dana dengan melakukan perampokan di sejumlah bank, toko emas, dan sebagainya.

“Dari kegiatan yang mereka sebut sebagai fai tersebut, kelompok Abu Roban berhasil mengumpulkan dana  Rp1,8 miliar. Tetapi ternyata dana yang diperoleh tidak disetorkan semuanya, karena digunakan untuk kepentingan pribadi,” ujarnya.

Di tempat yang sama Abdul Rahman Ayub, salah satu alumnus Afghanistan, mengatakan aksi-aksi terorisme di Indonesia terjadi karena kelompok tersebut tidak paham bahwa Indonesia adalah negara Darul Islam.

“Tetapi kelompok-kelompok itu menginginkan Indonesia menjadi negara Darul Islam versi mereka,” ujarnya.
 

Berita Selengkapnya Klik di Sini

(tbn)

http://jogja.okezone.com/read/2013/06/27/511/828207/bnpt-90-teroris-ditembak-mati-sejak-2002

Dor... Dua Maling Motor Ditembak Mati Polisi di Cibubur


Senin, 24 Juni 2013 19:07 wib

JAKARTA- Anggota Subdit Ranmor Polda Metro Jaya, telah menembak mati dua orang pelaku pencurian mobil di wilayah Cibubur, Jakarta Timur, Minggu (23/6). 


Direktur Reserse Kriminal Umum, Polda Metro Jaya, Kombes Pol Slamet Riyanto mengatakan, pihaknya telah menangkap empat pelaku yakni PM (28), CS (35), ZN, dan DD (36). "Pelaku ZN dan DD kami tembak, karena saat ditangkap dua pelaku melarikan diri," ujar Slamet kepada wartawan, Senin (24/6/2013).

Polisi memburu dua pelaku itu setelah mendapatkan laporan masyarakat yang telah kehilangan mobil Kijang Toyota Avanza warna hitam bernopol B 1591 BKV di kawasan Latumenten, Jelambar, Jakarta Barat.

"Anggota kami langsung mengejar dan menghadang pelaku di kawasan Cibubur pom bensin Jakarta Timur. Tapi saat dikejar pelaku malah mempercepat kendaraannya," tuturnya.

Setelah dihadang, kata Slamet, para pelaku hendak melarikan diri, polisi pun memberikan tembakan peringatan tapi tidak dihiraukan oleh para tersangka.

"Akhirnya polisi menembak, dan mengenai dua orang pelaku. Mereka tewas saat perjalanan ke RS Polri Jakarta Timur," tutupnya.

Sementara itu, menurut Kasubdit Ranmor Polda Metro Jaya, AKBP Arie Ardian Rishadi, para pelaku sudah melakukan aksinya sebanyak tujuh kali dengan menggunakan mobil Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia. "Modusnya mereka yaitu, menyewa kendaraan lalu mencari sasaran yang terparkir di pinggir jalan, dan merusak pintu mobil dengan kunci Letter T," ujar Arie. 

Berita Selengkapnya Klik di Sini

(ugo)

http://jakarta.okezone.com/read/2013/06/24/501/826960/dor-dua-maling-motor-ditembak-mati-polisi-di-cibubur

Rekonstruksi Satpam Ditembak Polisi, Keluarga Korban Histeris


Rekonstruksi pemembakan satpam di Semarang (Foto: Nugroho/Okezone)
Rekonstruksi pemembakan satpam di Semarang (Foto: Nugroho/Okezone)
Selasa, 25 Juni 2013 11:11 wib
SEMARANG - Polisi menggelar rekonstruksi penembakan seorang satpam, Nuki Nugroho (25), oleh oknum anggota Polrestabes Semarang, Briptu PRY. Reka ulang dilakukan di lokasi kejadian di Jalan Guntur Nomor 26, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Isak tangis mewarnai rekonstruksi puluhan anggota keluarga korban yang hadir di lokasi. Mereka datang beramai-ramai dengan menggunakan angkutan umum dan sepeda motor.

Salah satu bibi korban, Warjiati (43), menyesalkan peristiwa tragis yang menimpa keponakannya. Dia berharap pelaku dihukum mati, setimpal dengan yang dilakukannya.

"Saya berharap dia dihukum mati. Paling tidak dihukum seumur hidup," geram Warjiati Selasa (25/06/13).

Dia tidak menyangka pelaku penembakan merupakan teman dekat korban dan mengenal baik keluarganya. Apalagi, pada saat kejadian pelaku dikabarkan dalam pengaruh minuman keras.

"Saya sangat marah saat mendengar pelaku penembakan adalah teman keponakan saya itu. Kok tega, pas kejadian tersangka juga dalam keadaan mabuk. Polisi kok mabuk waktu tugas," herannya.

Akibat kejadian itu, keluarga korban masih syok. Korban dikenal sebagai pemuda yang baik dan menjadi tulang punggung keluarga. Kesedihan tidak hanya pada keluarga namun juga calon istri korban yang batal menikah dalam waktu dekat.

"Sampai saat ini ibu korban masih syok, susah untuk diajak berkomunikasi. Ponakan saya itu tulang punggung keluarga, jadi kami semua merasa kehilangan," tambahnya.

Diberitakan sebelumnya, karyawan PT TAG perusahaan pengawalan uang ATM, menjadi korban penembakan oleh oknum polisi Satuan Sabhara Polrestabes Semarang. Peristiwa nahas itu terjadi pada Sabtu, 15 Juni 2013.
 

Berita Selengkapnya Klik di Sini

(tbn)

http://jogja.okezone.com/read/2013/06/25/512/827170/rekonstruksi-satpam-ditembak-polisi-keluarga-korban-histeris

1 dari 4 Pencuri Motor Keluaran Terbaru Ditembak Polisi


Selasa, 25 Juni 2013 11:40 wib
Pelaku curanmor keluaran terbaru di kantor polisi (Prabowo/Okezone)
Pelaku curanmor keluaran terbaru di kantor polisi (Prabowo/Okezone)
YOGYAKARTA - Adik-kakak asal Lombok, NTB, Sahrum (22) dan Gatot (20), diamankan polisi karena mencuri sepeda motor. Petugas menambak kaki kanan Sahrum karena berusaha kabur.

"Kami terpaksa melumpuhkan SR (Sahrum) karena yang bersangkutan berusaha kabur saat diminta menunjukkan lokasi rekan-rekannya," kata Kasat Reskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Dodo Hendro Kusumo, Selasa (25/6/2013).

Selain dua bersaudara itu, polisi juga mengamankan tersangka lain asal Palembang, yakni Rico (20) dan Dodi (20).

"Hanya satu dari empat tersangka yang statusnya sebagai mahasiswa, inisialnya GT (Gatot). Dia adik dari tersangka SR. SR sendiri sudah tidak kuliah," katanya. 

Dari tangan empat tersangka, polisi mengamankan 17 unit sepeda motor keluaran terbaru tahun 2012 dan 2013. "Sasaran mereka motor baru, tahun keluaran 2012 dan 2013," tambahnya.

Komplotan tersebut biasanya beraksi di sekitar kampus menggunakan kunci baja 'Y'. "Sejenis kunci T, tapi diberi gagang (pegangan) seperti huruf Y. Dalam melakukan aksi, mereka tidak butuh waktu lama. Lima menit motor sudah berhasil dibawa kabur," katanya.

Motor hasil curian dijual ke penadah di Palembang, Sumatera Selatan. Satu unit dijual antara Rp3 juta dan Rp5 juta sesuai kondisi motor. Motor yang mereka jual dipaketkan dengan menggunakan STNK Palsu.

"Dikirim ke Palempang, sebelum sampai Palembang harus transit dulu di Jakarta. Yang membuat STNK palsu ini masih kami cari keberadaanya," paparnya.

Dari pengakuan empat tersangka, mereka sudah mengirim 25 unit sepeda motor ke Palembang.

"Biasanya 10 sudah dikirim, tapi kok sampai 17 unit motor ini karena belum sempat sudah kita amankan," paparnya.

Sebanyak 17 motor yang berhasil diamankan itu di antaranya, empat unit Yamaha Vixon, empat unit Suzuki Satria FU, satu unit Honda Scoopy, empat Honda Megapro, satu unit Honda Vario, dan tiga unit Yamaha Mio.

"Silakan bagi masyarakat yang kehilangan motor baru datang ke Polreta Yogyakarta mengambil motornya, gratis tidak dipungut biaya. Syaratnya, tentu menunjukkan surat-surat kendaran, seperti STNK dan BPKB, serta laporan polisi tentang kehilangan motor. Nanti kami cek nomor rangka dan nomor mesinnya, kalau cocok silakan dibawa pulang," pungkasnya. 

Berita Selengkapnya Klik di Sini

(ris)

http://jogja.okezone.com/read/2013/06/25/510/827196/1-dari-4-pencuri-motor-keluaran-terbaru-ditembak-polisi

Gerandong Ditangkap Warga, Satu Ditembak Polisi


Rabu, 26 Juni 2013 08:59


MARTAPURA - Empat dari delapan gerandong yang baru 
usai memangsa korbannya, pada Selasa (26/6) sekitar pukul 
23.00 WIB berhasil diringkus warga dan aparat kepolisian. 
Dari tangan keempat gerandong ini polisi  mengamankan 
empat unit sepeda motor berbagai jenis. "Satu tersangka 
terpaksa kita lumpuhkan dengan timah panas saat hendak 
diamankan karena berusaha melarikan diri," ungkap Kapolres 
OKU Timur, AKBP Hengky Widjaya melalui AKP Janton Silaban.
(Sal/ndy) Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Kamis (27/6)

http://sumeks.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=13090:
gerandong-ditangkap-warga-satu-ditembak-polisi&catid=60:news-update&Itemid=134