Showing posts with label nopember 2010. Show all posts
Showing posts with label nopember 2010. Show all posts

Sunday, 12 December 2010

Hari HAM Diperingati di Sejumlah Daerah

10/12/2010 23:02
Liputan6.com, Jombang: Unjuk rasa memperingati Hari Hak Asasi Manusia terjadi di beberapa daerah. Di Jombang, Jawa Timur, ratusan mahasiswa dan buruh berhasil mendobrak pagar kantor DPRD setempat, Jumat (10/12). Tidak kuat menahan dorongan massa yang jumlahnya lebih banyak, pagar besi kantor DPRD Jombang pun ambruk. Seorang polisi yang tidak sempat menghindar tertimpa pagar. Massa marah karena tidak diizinkan bertemu dengan anggota Dewan.

Unjuk rasa memperingati Hari HAM juga dilakukan ratusan mahasiswa di Ambon, Maluku. Dengan menggusung isu kebebasan pers, mereka berharap tidak ada lagi kriminalisasi dan pelanggaran HAM pada pekerja media.

Dari Bulukumba, Sulawesi Selatan, dilaporkan ratusan orang dari berbagai tempat juga turun ke jalan memperingati Hari HAM. Mereka meminta polisi tidak lagi melanggar HAM. Aksi sempat memanas meski akhirnya pendemo lebih memilih mengalah.

Ratusan mahasiswa di Manokwari, Papua, juga turun ke jalan. Mereka memilih konvoi sepanjang jalan untuk mengkampanyekan perlindungan pada HAM. Mereka juga meminta polisi tidak kembali mengulang pelanggaran HAM seperti yang terjadi pada Naftali, warga Papua yang ditembak oknum Brimob.(ADO)
http://berita.liputan6.com/daerah/201012/310807/Hari.HAM.Diperingati.di.Sejumlah.Daerah

Seorang Perampok Kantor Pos Ditembak Mati

SOEKARNO-HATTA,(GM)-
Tim Cepat Tindak (TCT) Ditreskrim Polda Jabar meringkus empat perampok yang membawa kabur uang pensiunan kantor PT Pos Indonesia Cabang Jampang Kulon, Sukabumi, sebanyak Rp 90 juta, Kamis (9/12) dini hari, di tempat yang berbeda. Keempat tersangka yang diamankan tersebut berinisial RN, Do, Di, dan Is. Salah satu di antaranya ditembak mati.

Para petugas yang dipimpin Kompol Zul Azmi, terpaksa menembak mati tersangka RN, karena hendak melarikan diri dan berusaha melawan petugas saat ditangkap di tempat persembunyiannya, di daerah Padalarang. Kini polisi masih mengejar pimpinan perampok berinisial Ek.

Selain menangkap dan mengamankan tersangka, polisi menyita barang bukti alat kejahatan serta hasil perampokan, yaitu satu unit Suzuki AVP, kapak, golok, linggis, lakban, tali sumbu kompor, dan uang tunai sebesar Rp 40 juta.

Berdasarkan hasil penyelidikan, polisi mendapat informasi bahwa Di, salah seorang tersangka berada di salah satu tempat hiburan di Kota Bandung. Polisi pun menangkap Di. Kepada polisi, ia mengaku telah ikut merampok di daerah Jampang Kulon bersama kelima rekannya. Setelah mendapatkan identitas serta alamat pelaku lainnya dari Di, polisi pun mengejar tersangka lainnya.

Saat menangkap tersangka RN dam Do di daerah Padalarang, petugas sempat mendapatkan perlawanan dari kedua tersangka. Bahkan salah seorang polisi terluka akibat sabetan golok RN. Melihat keadaan itu, polisi pun menembaknya karena perbuatan tersangka RN membahayakan jiwa petugas lainnya.

Dari tempat kontrakan yang dijadikan safe house yang disewa kawanan perampok tersebut, polisi menyita barang bukti berupa kapak, golok, linggis, lakban, tali sumbu kompor, dan mobil.

Setelah itu polisi langsung mengembangkan penyelidikan ke Sukabumi, tempat tersangka Is bersembunyi. Berbekal data akurat, polisi dengan cukup mudah menangkap tersangka Is dan menyita hasil kejahatan berupa uang tunai sebesar Rp 40 juta.

"Kini tinggal gembong perampoknya Ek yang belum tertangkap. Diduga dia (Ek, red) mencium penangkapan rekan-rekannya dan ia pun langsung kabur," kata sumber di Polda Jabar yang enggan disebutkan namanya.

Dikatakan, keempat tersangka merupakan residivis dengan kasus sama. "Para pelaku residivis dengan kasus yang sama," ujarnya.

Ketika dikonfirmasi, Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Agus Rianto membenarkan, jajaran Ditreskrim Polda Jabar telah menangkap 4 perampok uang pensiunan sebesar Rp 90 juta dari kantor Pos Indonesia Cabang Jampang Kulom Sukabumi.

"Kami pun terpaksa menambak salah satu tersangka karena saat ditangkap melakukan perlawanan yang dapat membahayakan jiwa anggota. Kami pun memberikan tindakan tegas. Kasus ini masih dalam pengembangan," terangnya.(B.115)**

http://www.klik-galamedia.com/indexnews.php?wartakode=20101210090245&idkolom=beritautama

Thursday, 9 December 2010

Salah Tembak, 8 Polisi Diproses Propam

Kamis, 9 Desember 2010 - 1:36 WIB

LAMPUNG (Pos Kota) – Kapolda Lampung, Brigjend Pol. Drs. Sulistiyo Ishak dalam jumpa persnya, pada Rabu (8/12) di Aula Polda Lampung mengatakan bahwa 8 anggota yang melakukan penggerebekan hingga menewaskan, Jailani ,40, penjemur onggok (limbah singkong) sudah diproses di Propam Polda Lampung.

“Kasus ini masih kita selidiki dan anggota sudah kami poses di Propam Polda Lampung”, kata Kapolda.
Sebelumnya diberitakan korban salah tembak, Jailani akhirnya tewas, setelah menjalani perawatan 5 hari di ruang Bougenville Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM), pada Senin (6/12) pukul 20.00 WIB.

Korban warga Kampung Gunungbatin Baru, Kecamatan Terusannunyai, Lampung Tengah, meninggalkan seorang istri dan 5 orang anak yang masih kecil. Korban tewas ditembak oknum polisi Polres Tulangbawang yang salah mengidentifikasi pelaku kejahatan dan menembak dada korban pada Kamis (2/12) lalu.

Istri korban, Sakdiah ,38, bersama warga dan pamong mendatangi polres dan polda untuk menuntut oknum anggota yang menembak itu dihukum. ’’Mohon perbuatan anggota yang salah menembak suami saya bertanggungjawab dan dihukum,’’ ungkap istri korban.
(koesma/sir)

http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2010/12/09/salah-tembak-8-polisi-diprose-propam

Polisi Ringkus Pelaku Pembunuhan di Bekasi

TEMPO Interaktif, Bekasi-Polisi menembak Mulyadi, 24 tahun, pelaku pembunuh Roni Rahman dengan cara menggorok batang lehernya hingga nyaris putus. Mulyadi diringkus di rumahnya Kampung Bojong Kaung, Nagrak, Sukabumi, Jawa Barat, dengan cara ditembak kakinya, Selasa lalu.

Kepala Kepolisian Resor Metropolitan Bekasi Kabupaten Komisaris Besar Setija Junianta, mengatakan identitas dan keberadaan pelaku berhasil diendus setelah memeriksa lima orang saksi usai pembunuhan yang dilakukan pada Senin dini hari lalu (6/12). Keterangan yang didapat polisi menyebutkan, pelaku adalah orang yang paling terakhir bersama korban.

"Dia (Mulyadi) terlihat ke rumah korban pada Ahad malam sebelum pembunuhan terjadi, ketika diringkus berusaha melawan sehingga kami tembak kakinya," kata Setija kepada wartawan di Bekasi, Rabu siang kemarin.

Pembunuhan sadistis itu dilatari persoalan sepele, pelaku tidak terima korban terus-terusan marah meminta ponsel miliknya Samsung B 2100 dikembalikan. Ponsel itu dia digadaikan kepada pelaku sebesar Rp 50 ribu. Namun pelaku tidak memberikan karena ponsel tersebut telah dia serahkan ke pacarnya.

Keduanya lantas terlibat perkelahian.Pelaku yang telah menyiapkan pisau panjang yang disimpan dalam tasnya menebas leher korban dua kali. Setelah mengetahui korbannya meninggal dunia, pelaku melarikan diri ke kampung halamannya. Dia membawa kabur dua ponsel milik korban Nokia E63 dan Esia.

Korban tewas di ruang tamu rumahnya di Kampung Rawa Sapi, Jatimulya, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Senin dini hari lalu.

Menurut pengakuan pelaku Mulyadi, malam hari sebelum membunuh dia mendatangi korban. Pelaku mengaku mengajak korban Roni membeli makan tidak jauh dari rumahnya. Seusai makan, keduanya kembali ke rumah konban untuk menonton televisi.

Sekitar pukul 24.00 WIB, korban kembali mengomel meminta ponseln miliknya dikembalikan. "Saya kesal dia (korban) marah-marah terus meminta handphonenya dikembalikan, jadi saya bacok," katanya di kantor Polres Metropolitan Bekasi Kabupaten.

Menurut Setija, pelaku diduga telah merencanakan pembunuhan tersebut karena lebih dulu menyiapkan pisau panjang di dalam tasnya. Pisau tersebut dia buang sekitar 50 meter dari rumah korban. Pelaku terancam dijerat pasal berlapis Pasal 340 KUH subsider Pasal 365 ayat 3 KUHP, tentang pembunuhan dan pencurian dengan kekerasan. "Ancaman hukumannya seumur hidup," katanya.

HAMLUDDIN

http://www.tempointeraktif.com/hg/kriminal/2010/12/09/brk,20101209-297659,id.html

Delapan Korban Penembakan Polisi Masih Dirawat

Hukum & Kriminal / Kamis, 9 Desember 2010 17:42 WIB

Metrotvnews.com, Madura: Delapan korban luka tembak dalam kericuhan eksekusi lahan di Blaban, Kecamatan Batu Mar-Mar Pamekasan, Madura, hingga Kamis (9/12), masih dirawat di Rumah Sakit Pamekasan. Seluruh korban terkena tembakan polisi.

Sebagian besar korban ditembak di bagian kaki dan lengan. Namun, ada juga yang terkena peluru nyasar di bagian pinggang dan mata. Seluruh korban mengutuk keras atas sikap arogansi polisi.

Keluarga korban berharap Kapolda Jawa Timur dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia mengusut tuntas kasut tersebut. Mereka tak terima polisi melepaskan tembakan secara membabi buta.

Ricuh terjadi pada Rabu siang, saat juru sita datang untuk mengeksekusi lahan seluas 3.000 meter persegi. Di atas lahan itu berdiri sejumlah rumah. Mereka menolak dieksekusi dan menghalangi petugas. Kericuhan tak terhindarkan hingga terjadi penembakan.(Agus Surachman/IKA)

http://www.metrotvnews.com/read/news/2010/12/09/36423/Delapan-Korban-Penembakan-Polisi-Masih-Dirawat/

Demo Antikorupsi, Sudah 12 Mahasiswa Makassar Tertembak

TEMPO Interaktif, Makassar - Korban terus bertambah dari pihak mahasiswa akibat bentrokan dengan polisi. Sebanyak delapan mahasiswa kembali terkena tembakan polisi. Sebelumnya empat mahasiswa terkena timah panas dan mereka dilarikan ke rumah sakit. Total yang tertembak hingga laporan ini ditulis pukul 16.25 sebanyak 12 mahasiswa.

Para korban tersebut bernama Randi, Muhammad Fadli, Muhammad Nur, Fitria, Muhammad Fajri, Ashar, Herman, dan Astra. Dua diantara mereka diduga terkena peluru tajam, dan enam lainnya diduga terkena peluru karet.

Dugaan tersebut muncul setelah para mahasiswa menemukan selongsong peluru tajam di lapangan. Para mahasiswa itu ada yang terkena tembakan di bagian dada, kepala, dan tangan.

Mereka kemudian dilarikan ke unit gawat darurat Rumah Sakit Ibnu Sina untuk mendapatkan perawatan. Sampai saat ini, mereka masih ditangani tim dokter.

Sebelumnya ada empat mahasiswa yang juga terkena tembakan polisi. Diduga mereka terkena peluru karet. Keempat mahasiswa tersebut adalah Oppi (mahasiswa 45 Makassar), dan tiga mahasiswa UMI bernama Andi, Iwan, dan Ramadan.

Beberapa mahasiswa yang dimintai konfirmasi belum memberikan penjelasan soal kejadian itu. Mereka masih sibuk membalas serangan dari polisi.

Pantauan di lapangan, polisi menambah pasukan pengamanan. Satu kompi personel dari Brigadir Mobil Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan bersenjata lengkap didatangkan ke lokasi. Mereka membantu polisi yang sejak tadi terus mendesak para mahasiswa.

Sampai sore ini, mahasiswa terus saja beraksi. Mereka membalas serangan polisi dengan lemparan batu. Setelah bantuan dari Brigadir Modil datang, polisi semakin beringas. Mereka berhasil mendesak mahasiswa masuk ke dalam kampus. Terdengar beberapa kali tembakan polisi ke dalam kampus.

Bentrokan ini bermula di depan kantor Gubernur Sulawesi Selatan, siang tadi. Para mahasiswa yang berunjuk rasa memperingati hari antikorupsi berusaha masuk ke dalam kantor tersebut, tapi dihalau oleh polisi. Bentrokan antara polisi dan mahasiswa kemudian terjadi.

ABD RAHMAN

http://www.tempointeraktif.com/hg/makassar/2010/12/09/brk,20101209-297798,id.html

Kapolda: Korban Terkena Pantulan Peluru Karet

Rabu, 08/12/2010 18:27 WIB

Surabaya
- Kapolda Jatim mengaku jika peluru yang dimuntahkan sebagai tembakan peringatan hingga melukai warga, merupakan peluru karet. Sebelumnya polisi menembak dengan peluru hampa, namun saat warga mendekat dan menyerang, polisi menggunakan peluru karet.

"Itu rekoset dari peluru karet, bukan peluru tajam. Sebelum mengeluarkan peluru karet, polisi sudah melakukan peringatan peluru hampa," kata Kapolda Jatim Irjen Pol Badrodin Haiti kepada wartawan di mapolda Jatim Jalan Ahmad Yani, Rabu (8/12/2010).

Dia menjelaskan, jika pantulan peluru karet bisa melukai siapapun. Misalnya jika peluru karet mengenai kerikil dan terlempar, bisa melukai orang.

"Kalau nanti ada polisi yang terkena peluru ini ya risiko sebagai petugas dari kepolisian," tambahnya.

Saat ditanya tentang upaya menghalau massa menggunakan gas air mata, pihaknya mengaku tidak serta merta mengeluarkan karena ada ibu-ibu dan anak-anak. "Kan ada anak kecil, ibu-ibu. Jika ditembak gas air mata nanti ada pelanggaran HAM," tegasnya.

Pihaknya kini sudah menurunkan tim dari propam melakukan penyelidikan dalam kasus tersebut. "Sudah ada tim dari propam yang sudah berangkat ke sana. Nanti tugas-tugasnya menyelidiki dan pengecekan dari masyarakat dan petugas," tandasnya.

Sebelumnya, terjadi insiden terkena pantulan peluru polisi saat warga berusaha menghalang-halangi eksekusi petugas Pengadilan Negeri (PN) Pamekasan di rumah dan tanah yang diklaim milik keluarga Buk Tonah (64). Dalam perseteruan itu PN memenangkan kasus tersebut ke Ny Halimah (45).

Dari insiden itu 8 warga sipil mengalami luka di beberapa bagian tubuhnya. Sedangkan polisi yang mengalami pantulan peluru karet, lemparan batu dan sabetan senjata tajam berjumlah 4 orang. Mereka dirawat di RSD Pamekasan dan Puskesmas Batumarmar.
(roi/fat)

http://us.surabaya.detik.com/read/2010/12/08/182736/1511962/475/kapolda-korban-terkena-pantulan-peluru-karet?881104465

Wednesday, 8 December 2010

Sering Diejek, Teman Digorok

8 December 2010

BEKASI (Pos Kota) – Mulyadi, alias Iwan alias Amo 27, penggorok Roni Rahman, 27 , terpaksa ditembak anggota Serse Polsek Tambun, Selasa.Pelaku yang nekat gara-gara dihina korban nekat menggorok sahabat karibnya itu di Kampung Rawasapi RW 09, Jatimulya, Tambun Selatan, Senin dinihari.

Barang bukti yang disita tiga unit HP milik korban, golok berukuran 45 cm , celana jeans hitam , sweter yang dibakar. Polisi juga menemukan dua pisau dapur yang diletakan pelaku di samping jasad korban, aksi dilakukan untuk mengelabui kalau korban bunuh diri. “Semua barang bukti ada yang ditemukan di TKP dan dari pelaku sendiri,” ujar Kombes Setija Junianta, Kapolresta Bekasi, Rabu pagi.

Mulyadi ditangkap anggota Reskrim Polsek Tambun yang dibantu Polres Bekasi, di Sukabumi, jawa Barat, Senin malam. Polisi terpaksa melumpuhkan pelaku, karena setiap hari pemuda karyawan bengkel itu selalu membawa golok.

Pelau yang masih bertetangga dengan korban di Kp Rawasapi RW 09, Jatimulya, Tambun Selatan, nekat menggorok korban karena sakit hati diejek sebagi orang yang tidak mau mengembalikan HP korban. “Saya sakit hati karena sering diejek dengan kata-kata kotor,” ujar pelaku, kepada Pos Kota.

Roni Rahman. Karyawan di pabrik pengecoran logam PT KBU di Jl Diponegoro, Tambun Selatan, beberapa waktu lalu sempat meminjamkan HP kepada pelaku yang bekerja sebagai karyawan bengkel automotif. Namun saat diminta Mulyadi tidak mau mengembalikan, meski keduanya teman akrab, Roni sempat memaki Mulyadi sehingga pelaku sakit hati, puncaknya pada Senin dinihari keduanya sempat ribuit dan diakhiri penggorokan leher korban oleh pelaku. (Saban/B)

Tuesday, 7 December 2010

Korban Salah Tembak Akhirnya Meninggal

Selasa, 7 Desember 2010 - 19:38 WIB




LAMPUNG (Pos Kota) – Korban salah tembak anggota Polres Tulangbawang, Jailani , 40, penjemur onggok(limbah singkong ) akhirnya meninggal, setelah menjalani perawatan 5 hari di ruang Bougenville Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Moeloek (RSUD AM), pada Senin (6/12) pukul 20.00 WIB.
Korban warga Kampung Gunungbatin Baru, Kecamatan Terusannunyai, Lampung Tengah, meninggalkan seorang istri dan 5 orang anak yang masih kecil.
Korban sebelumnya ditembak oknum polisi Polres Tulangbawang yang salah mengidentifikasi pelaku kejahatan dan menembak dada korban pada Kamis (2/12) lalu.
Istri korban, Sakdiah ,38, bersama warga dan pamong akan mendatangi polres dan polda untuk menuntut oknum anggota yang menembak itu dihukum. ’’Mohon perbuatan anggota yang salah menembak suami saya bertanggungjawab dan dihukum,’’ ungkap istri korban..
Diantara para pelayat yang hadir, anggota DPRD Lampung Tengah, Aliwansyah saat mengunjungi rumah duka sangat menyayangkan sikap oknum polisi Tulangbawang yang tidak menjalankan prosedur penangkapan karena penangkapan dilakukan tidak ada izin dari pamong setempat.
Saat itu kakak korban sudah mengatakan bahwa adiknya Jailani bukan Man yang dicari 8 anggota Polres Tulangbawang, pada Kamis (2/12) ’’Delapan anggota naik mobil mencari Man alias Lukman, polisi tidak percaya membuang lima kali tembakan yang membuat Jailani ketakutan lari hingga dadanya ditembak,’’ kata Solihin.
Kepala Kampung Gunungbatin Baru, Zulkarnaen membenarkan insiden itu. Jailani jadi korban salah tangkap oknum polisi dari Tulangbawang.
Sementara itu, Kapolda Lampung Brigjen Pol Sulistiyo Ishak, tetap mengelak untuk menyebut kasus tersebut sebagai salah tembak. “ Yang bersangkutan ada dugaan melakukan tindak kejahatan yang pernah dilakukannya,” ujar Sulistiyo Ishak.
Pihaknya juga berharap kejadian penembakan tersebut tidak salah tembak. ”Mudah-mudahan saja tidak salah tembak, Kami masih melakukan penyelidikan,” ungkap Kapolda. (Koesma/dms)

http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2010/12/07/korban-salah-tembak-akhirnya-meninggal

Terlibat Baku Tembak, Seorang Polisi Jadi Korban

Terlibat Baku Tembak, Seorang Polisi Jadi Korban

07 Desember 2010, 15:29:17| Laporan Sentral FM Lumajang


suarasurabaya.net| Penyelidikan intensif atas aksi yang dijalani tersangka ANAFI bin DASIL (25), perampok bersenjata api terus dilakukan di Mapolres Lumajang. Mereka memang dikenal sadis.

Betapa tidak, bersama 5 kawanan lainnya, masing-masing AMRON (masih buron), YUDA, telah tertangkap Polda Jatim, DIDIK PRAJITNO (27), yang bertindak sebagai joki, MOKID (49) dan SOHIB (50), seluruhnya warga Dusun Manggisan, Desa Tanggul Wetan, Kecamatan Tanggul, Jember terbilang sangat profesional dalam melakoni aksinya.

Pelaku merencanakan matang aksinya, dengan skenario perampokan yang rapi. "Pelaku agaknya survei terlebih dulu sebelum melakoni aksinya. Hal itu dibuktikan, mereka beraksi dalam hitungan beberapa menit saja, dan tahu persis bagaimana cara beraksi serta kabur,”kata AKP KUSMINDAR Kasat Reskrim Polres Lumajang ketika dikonfirmasi DIDI reporter Sentral FM Lumajang mendampingi AKBP TEJO WIJANARKO Kapolres, Selasa (07/12).

Bahkan, ketika arah kabur pelaku terlacak, ANAFI bin DASIL alias NAPI bersama kawanan lainnya nekad melakukan baku tembak dengan petugas. Mereka tak segan melakukan perlawanan dan saling jual tembakan.

Akibatnya, dua kawanannya yang bernama MOKID dan SOHIB akhirnya tewas. Sedangkan, seorang personil Polres Lumajang terluka tembak di bagian paha sebelah kirinya.

Di sisi lain, kawanaan rampok bersenpi ini diidentifikasi merupakan wajah lama dalam serangkaian aksi ’365’ (perampokan, red) di Pulau Jawa dan Bali. Selain itu, mereka juga pandai menyembunyikan kedoknya sebagai perampok dengan kamuflase sebagai tokoh terpandang di desanya.

”Seperti SOHIB anggota komplotan yang ditembak mati menyamar sebagai sosok terpandang yang dikenal kaya. Istri pertamanya memiliki 3 toko emas di wilayah Jember. Sedangkan, istri keduanya adalah pegawai Telkom di Jakarta. Dan, istri ketiganya adalah pegawai Bank Danamon. Hal ini menunjukkan jika SOHIB ini sosok terpandang,”paparnya.

Terkait dengan istrinya yang memiliki 3 toko emas di lokasi berbeda di wilayah Jember, petugas sempat menghubungkan dengan aksi perampokan toko emas Semar di Desa Kunir Lor, Kecamatan Kunir dan serangkaian perampokan emas lainnya. Diduga, di toko emas milik istrinya, digunakan sebagai tempat pencucian emas hasil rampokannya. (her/tin)

Share on Facebook


http://jaringradio.suarasurabaya.net/?id=6bf63ab988f7dd965e16181babbdedc2201085844

Sunday, 5 December 2010

Perampok Dua Truk Elpiji Diringkus

Nasional - Minggu, 5 Desember 2010 | 17:05 WIB

INILAH.COM, Surabaya – Anggota Reserse Mobile (Resmob) Polrestabes Surabaya, Jawa Timur, menembak mati Dul Gani alias Dul Joni (30). Empat anak buah otak perampokan dua truk berisi tabung elpiji PT Betjik Djoyo itu juga digulung polisi.

Dua di antara empat pelaku terpaksa ditembak betis kakinya karena melawan petugas saat akan ditangkap. Kedua tersangka perampok itu ialah Hariri (30), warga Wonosari Tegal IV, Surabaya, dan Abdul Muin (30), warga Kalimas Baru, Tanjung, Surabaya.

Dua pelaku lainnya ialah Abdul Aziz (40), warga Bulak Banteng, Gang Masjid, dan Sarip (45) ,warga Wonosari Tegal IV. Selain menangkap keempat anggota komplotan perampok tersebut, petugas menangkap Wan Sien (70), warga Beji, Pasuruan, Jawa Timur. Dia seorang pengusaha bahan bangunan yang menjadi penadah elpiji hasil rampokan itu.

“Otak dari komplotan perampok ini adalah Dul Joni. Kita masih memburu dua pelaku lainnya yang masih kabur yakni Babun dan Iwan alias Wawan,” ujar Kapolrestabes Surabaya Kombes Coki Manurung di halaman Satreskrim Mapolrestabes, Minggu (5/12/2010).

Coki mengungkapkan seluruh pelaku perampokan yang diotaki Dul Joni itu residivis kasus bajing loncat. “Bahkan Hariri dan Abdul Muin masuk DPO (daftar pencarian orang) Polres Gresik (Jawa Timur) dalam kasus bajing loncat. Mereka biasanya beraksi di wilayah pantura (pantai utara),” kata Coki.

Dalam aksinya, komplotan Dul Joni dikenal kejam karena mereka tak segan-segan melukai korban bila melawan. “Kemarin komplotan ini beralih merampok gudang dan melukai serta menyekap satpam,” kata Coki.

Jumat (3/12/2010) dinihari, PT Betjik Djoyo, distributor tabung elpiji, dirampok. Pelaku yang diperkirakan berjumlah lebih dari 5 orang itu membawa kabur dua truk bermuatan tabung elpiji ukuran 3 kilogram dan 12 kilogram.

Satu truk bernopol L 9302 ND diketahui memuat 739 tabung elpiji ukuran 3 kg. Sementara satu truk lainnya bernopol L 9755 NB memuat 142 tabung elpiji ukuran 12 kg. Tak hanya membawa kabur dua truk, pelaku juga menganiaya dan menyekap satpam yang sedang bertugas.

Kedua satpam yang menjadi korban itu adalah Zainul Ardianto (29) warga Jalan Ibrahim Zahir, Gresik dan Djoko Sampurno (35) warga Manukan Loka, Surabaya. Bahkan pelaku tega membacok dan mengepruk kepala Zainul. Akibatnya Zainul menjalani opname di RS Adi Husada Undaan Wetan. [beritajatim/nic]

http://nasional.inilah.com/read/detail/1032522/perampok-dua-truk-elpiji-diringkus

Polisi Batang Tembak Kaki Tersangka Pencurian Motor

Sriwijaya Post - Minggu, 5 Desember 2010 17:58 WIB

BATANG - Petugas Kepolisian Resor (Polres) Batang, Jawa Tengah, melalui operasi rutin meringkus tersangka pencurian kendaraan bermotor dan menembak kaki bagian kanannya karena berusaha melarikan diri.

Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Batang, AKP Sudharto, di Batang, Minggu, mengatakan tersangka, Ahmad Tohadi alias Turi (29), warga Kecamatan Reban, ditangkap polisi saat akan menjual sepeda motor hasil kejahatannya.

"Tersangka yang sudah menjadi target operasi polisi selama sebulan ini ditangkap saat akan melintas di jalan raya Blado-Reban. Namun, saat akan kami tangkap justru tersangka melarikan diri sehingga ditembak kaki bagian kanannya," katanya.

Ia mengatakan dari hasil pemeriksaan sementara, tersangka telah mengaku melakukan aksi kejahatan di empat lokasi daerah setempat.

"Saat ini, kami masih meneruskan pengembangan terhadap kasus yang dilakukan oleh tersangka karena ada kemungkinan pelaku dalam aksinya tidak bekerja sendirian," katanya.

Ia mengatakan, barang bukti kejahatan yang telah diamankan Polres Batang, yaitu tiga buah sepeda motor, sebuah telepon seluler, dan kunci "T".

Tersangka, Turi mengatakan setiap melakukan pencurian kendaraan bermotor, dirinya memperoleh hasil sekitar Rp500.000 hingga Rp800.000.

"Sepeda motor yang berhasil kami curia selanjutnya dijual ke penadah seharga Rp500.000 hingga Rp800.000," katanya.


http://www.sripoku.com/view/54521/polisi_batang_tembak_kaki_tersangka_pencurian_motor

Friday, 3 December 2010

Lagi-lagi Polisi Salah Tembak

Jumat, 3 Desember 2010 - 17:26 WIB

LAMPUNG (Pos Kota ) – Gerebek pelaku kejahatan inisial Man, malah yang kena tembak orang penjemur anggok limbah singkong, Jaelani ,40, warga Kampung Gunungbatin Baru, Kecamatan Terusannunyai, Lampung Tengah, Kamis (2/12) sekitar pukul 17.30 WIB.

Korban digerebek empat oknum petugas Polres Tulangbawang di belakang rumahnya dengan tuduhan sebagai pelaku kejahatan berinisial Man. Bahkan, korban salah tangkap ini roboh diterjang timah panas seorang oknum petugas hingga harus dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Moeluk, Bandarlampung.

Korban mengalami luka tembak di punggung hingga tembus ke dada. Saat ini, dia kondisinya masih kritis.

Keluarga korban pun mempersoalkan saat penggerebekan, oknum petugas tidak menunjukkan surat penangkapan atau surat izin dari pamong kampung setempat, langsung menggerebek dan menembak.

Kepala Kampung Gunungbatin Baru, Zulkarnaen membenarkan insiden itu. Jaelani jadi korban salah tangkap oknum polisi dari Tulangbawang.

M. Solihin, 42, kakak korban, menyebutkan peristiwa itu terjadi tepat di belakang rumah Jaelani. ’’Adik saya didatangi empat lelaki berpakaian preman yang mengaku dari Polres Tulangbawang. Mereka bilang mau menangkap tersangka yang bernama Man. Dan, mereka mengira adik saya itu Man,’’ kata Solihin.

Lanjut Solihin, adiknya sudah berusaha menjelaskan kalau dia bukan Man. Tetapi, empat lelaki itu terus menyebutkan Jailani sebagai Man. Adik saya ketakutan. Sehingga dia berusaha lari, mereka langsung menembak punggung adik saya hingga tembus ke dadanya.

Sebelum dibawa ke RSUD AM, Jailani sempat dilarikan ke RSUD Menggala karena mengalami pendarahan akibat luka tembak itu. Tetapi oleh tim medis, Jailani kemudian dirujuk ke RSUD AM. “Kami sampai di sini sekitar jam 10.00 WIB,’’ ujar Solihin.

Pihak kepolisian Polda Lampung belum bisa menegaskan bahwa yang Jaelani merupakan korban salah tembak. Hal tersebut diungkapkan oleh Kapolda Lampung Brigjen Pol Sulistiyo Ishak.

“ Yang bersangkutan ada dugaan melakukan tindak kejahatan yang pernah dilakukannya,”ujar Sulistiyo Ishak, Jumat (3/12)usai syukuran HUT Pol Air ke-60 di Hotel Sahid.

Saat ditanyakan kasus apa, pihaknya masih melakukan penyidikan terhadap kasus tesebut.

Pihaknya juga berharap kejadian penembakan tersebut tidak salah tembak.”Mudah-mudahan saja tidak salah tembak,”ungkap kapolda. (Koesma/dms)

http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2010/12/03/lagi-lagi-polisi-salah-tembak

Firdaus Ditembak Mati

Sriwijaya Post - Kamis, 2 Desember 2010 21:38 WIB

PALEMBANG — Firdaus (32) yang diduga gembong perampok ditembak mati saat hendak ditangkap di Desa Petar Kecamatan Sukarami, Muaraenim, Rabu (1/12) pukul 21.00.

Warga Desa Muara Lematang, Kecamatan Sungai Rotan Muaraenim ini ditembak mati tim gabungan dari unit Jatanras Polda Sumsel pimpinan AKP FX Winardi Prabowo Sik dan Iptu Ali Rojikin SH MH dan Polsek Sungai Rotan pimpinan Kapolseknya AKP Syamseh. (mg14)

http://www.sripoku.com/view/54399/firdaus_ditembak_mati

Dikira OPM, Satu Napi Tewas Tertembak

Jumat, 3 Desember 2010 | 12:28 WIB

JAYAPURA, KOMPAS.com
- Miron Wetipo, napi Lembaga Pemasyarakatan Abepura Jayapura Papua, Jumat (3/12/2010), tewas ditembak aparat TNI di Perbukitan Tahiti, Tanah Hitam Abepura Kota Jayapura Papua. Korban yang sedang melarikan diri dari LP itu dikira anggota Organisasi Papua Merdeka.

Sumber
Kompas menerangkan sejak dini hari aparat TNI menemukan delapan orang sedang rapat gelap di Honai Komplek BTN Puskopad. Aparat satgas Korem 172 PWY yang sedang diperbantukan ke Polresta Jayapura menemukan parang, panah, munisi di lokasi itu. Karena itu, sejak pagi aparat bersenjata api berjaga-jaga di sekitar tanah hitam.

Saat berjaga-jaga, satu regu aparat Batalyon 751/BS melihat lima napi melintas di perbukitan dekat lokasi penggerebekan. "Kami sudah berteriak agar mereka (napi) berhenti, tetapi nekat lari. Satu orang malah mencoba melempar kami dengan botol miras, akhirnya kami tembak," ujar seorang sumber aparat di lokasi.

Alhasil, seorang dari lima napi bernama, Miron Wetipo tewas tumbang ditembak. Ia tertembus tepat di bagian belakang leher.sementara seorang napi, Jack Mabel berhasil ditangkap. Tiga napi lainnya berhasil melarikan diri.

Kini puluhan aparat TNI dan Polisi berjaga-jaga di lokasi dan jenazah telah dievakuasi. Di lokasi berkumpul Kepala Kanwil Hukum dan HAM Papua Nazaruddin Bunas, Asisten Intelijen Kodam XVII Cenderawasih Kolonel (Inf) Victor Tobing, Komandan Kodim 1701 Letkol (inf) Sihombing, Kepala Polresta AKBP Imam Setiawan, dan sejumlah perwira.

http://regional.kompas.com/read/2010/12/03/12281712/Dikira.OPM..Satu.Napi.Tewas.Tertembak

Thursday, 2 December 2010

Penembakan 8 Orang di Torgamba

Rabu, 1 Desember 2010 | 17:10

[LABUHAN BATU] Warga Sei meranti, Kecamatan Torgamba, Kabupaten Labuhan Batu Selatan, Sumatera Utara (Sumut) mengharapkan, pihak kepolisian untuk serius mengusut pelaku penembakan terhadap 8 orang di sana. Salah seorang dari warga yang ditembak petugas kehutanan itu adalah Tukidi (28) warga Desa Swadaya.

Dia ditembak saat terjadi pertikaian di Desa Sei Meranti, Kecamatan Torgamba. Dalam kondisi kritis akibat luka tembak di kepala dan dana, dia dilarikan ke Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan. Tujuh rekannya yang juga tertembak petugas, kini dirawat di Rumah Sakit Umum (RSU) di Labuhan Batu.

"Ini merupakan tindakan kriminal murni. Mereka sudah berbuat semena - mena terhadap kami masyarakat di sini," ujar seorang warga, Sartana kepada SP saat ditemui di lokasi pertikaian masyarakat dengan aparat polisi kehutanan di Torgamba, Rabu (1/12).

Menurut Sartana, tindakan penembakan oleh oknum aparat kehutanan terhadap masyarakat saat terjadinya perselisihan tersebut, dilakukan secara membabibuta. mereka sama sekali tidak memberikan peringatan maupun teguran.

"Penembakan itu mereka lakukan untuk menunjukkan kekuatan. Ada warga yang tertembak di bagian dada dan kepala. Mereka itu harus ditangkap dan diajukan sampai ke pengadilan. Kami akan melakukan aksi jika mereka tidak diproses," katanya.

Kepala Bidang Humas Polda Sumut Kombes Pol Baharuddin Djafar mengatakan, penembakan terhadap masyarakat di sana masih dalam penyelidikan. Polisi sudah mengorek keterangan empat oknum petugas kehutanan.

"Polisi sudah mengamankan senjata jenis pelontar yang diduga dipergunakan salah seorang oknum ketika menembak masyarakat. Motif dari kejadian penembakan ini pun masih ditelusuri. Polisi tetap melakukan pengusutan.

Motif dari pertikaian tersebut berawal dari perselisihan antara masyarakat dengan PT Sinar belantara Indah (SBI). Puncak dari kemarahan masyarakat karena tidak terima dituduh menggarap lahan milik perusahaan tersebut.

Sebelum kejadian pertikaian, di antara oknum polisi kehutanan di sana menegur warga ketika sedang menggarap lahan. Menurut warga, lahan tersebut merupakan peninggalan dari leluhur mereka, bukan milik PT SBI. [155]


http://www.suarapembaruan.com/home/penembakan-8-orang-di-torgamba/1596

Wednesday, 1 December 2010

Sengketa Tanah - Delapan Warga Ditembak Polhut

Polisi Kehutanan (Polhut) dan masyarakat terlibat bentrokan di areal perkebunan Dusun Janji Mulya Desa Sei Meranti Kecamatan Torgamba Kabupaten Labuhanbatu Selatan (Labusel) Selasa (30/11).


Sebanyak delapan warga tertembak, tiga di antaranya kritis yakni Rony Budianto, Taupik Akrom dan Sukidi. Sedangkan lima warga lainnya mengalami luka ringan yakni Suparman, Bambang Aryo, Herman, Erwin dan Wawan. Korban langsung dilarikan ke Rumah Sakit Indah Baganbatu, Riau.


Salah seorang tim medis, dr Riyono mengatakan ada puluhan pecahan peluru di tubuh ketiga korban.


Bentrokan berawal dari perseteruan lahan Areal Petak 23 antara warga dengan PT SBI. Sengketa berlangsung sejak 1997 dan berulang kali Pemkab Labusel memfasilitasi perdamaian namun gagal.


Rony Budianto salah seorang korban mengemukakan, pagi itu warga hanya melarang pekerja PT SBI untuk menanami areal Petak 23 yang menjadi sengketa. Namun beberapa petugas Polhut dibantu karyawan PT SBI menyerang. “Teman kami Sukidi dan Taupik ditembak lalu dipijak-pijak," katanya.


Kapolres Labuhanbatu AKBP Robert Kenedy SIK mengatakan, untuk mengamankan situasi sejumlah personil sudah diterjunkan. Sebanyak 8 orang yang diduga pelaku penembakan sudah diamankan di Mapolres Labuhanbatu. "Sementara ini situasi sudah relatif kondusif," ujarnya.


Selain korban luka, di lokasi kejadian ditemukan banyak selongsong peluru dan mobil dinas Polhut yang terbakar.

Amin Wahyudi | Global | Kotapinang


http://www.harian-global.com/index.php?option=com_content&view=article&id=50755:sengketa-tanah-delapan-warga-ditembak-polhut&catid=31:global-hot&Itemid=57

Polisi Tembak Residivis Pencuri Motor

TEMPO Interaktif, Makassar - Asrul, 27 tahun, ditembak polisi karena berusaha kabur saat akan ditangkap polisi. Warga Jalan Paccerakang, Biringkanaya, Makassar ini merupakan resedivis pencuri motor.

Kepolisian Sektor Panakkukang terpaksa melumpuhkan Asrul karena berusaha kabur dari kejaran petugas, malam ini. Peluru polisi menembus kaki kanan dan kiri tersangka. Sepekan lalu, polisi sudah mengendus keberadaan tersangka.

Penangkapan Asrul dilakukan setelah polisi mengetahui keberadaannya di Jalan Hertasning. Dia malang melintang sebagai pencuri kendaraan roda dua. Dalam sepekan, Asrul telah mencuri dua unit sepeda motor.

Motor tersebut akan dijual namun keburu tertangkap polisi. Bersama tersangka, polisi turut mengamankan barang bukti.

Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polsekta Panakkukang, Inspektur Satu Fadly mengatakan tersangka berhasil mencuri motor di jalan Urip Sumoharjo, dan jalan Antang Raya. Motor tersebut diangkut menggunakan mobil avanza.

"Modusnya sangat lihai. Tersangka bersama rekannya menyewa mobil untuk mengangkut hasil curian," ujar Fadly.

Dalam beraksi, Asrul bersama empat orang rekannya. Mobil yang digunakan disewa di Kabupaten Maros. Asrul bertugas sebagai pengemudi mobil.

"Mobil kami sewa Rp 250 ribu. Sebelum dijual, motor tersebut kami simpan dulu sambil mencari pembeli," jelas Asrul.

Ayah tiga anak ini baru dua pekan bebas dari Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Makassar. Selama dua bulan dia ditahan atas tuduhan mencuri motor dan kopmpresor di Kabupaten Bone. Selepas dari hotel prodeo, kembali mencuri. "Saya hanya sopir mobil dengan penghasilan yang rendah. Saya diajak teman-teman untuk cari uang," kata Asrul.

Setelah penangkapan Asrul, polisi mencari empat rekan Asrul. Fadly mengaku keberadaan mereka telah diketahui.

ABDUL RAHMAN

http://www.tempointeraktif.com/hg/makassar/2010/11/30/brk,20101130-295713,id.html

Monday, 29 November 2010

Polri Siap Tembak Pengibar Bendera Separatis

SENIN, 29 NOVEMBER 2010, 17:52 WIB


VIVAnews
- Menjelang peringatan ulang tahun Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang jatuh setiap 1 Desember, situasi di Jayapura, Papua, kian memanas. Terutama pasca penembakan oleh orang tak dikenal di Nafri Abepura.

Intensitas razia di sejumlah sudut kota terus meningkat. Dan Polisi memperingatkan, bagi siapapun yang mengibarkan bendera separatis akan ditembak di tempat.

Sebanyak 700 personil gabungan Polisi dan TNI, dikerahkan mengantisipasi 1 Desember, dan ditempatkan di sejumlah titik. "Mereka siap diperintahkan menembak siapapun yang mengibarkan bendera separatis," kata Kapolresta Jayapura AKBP Imam Setiawan kepada wartawan, Senin 29 November 2010.

Menurut Kapolresta, pihaknya tidak main-main dengan peringatan tersebut, jika memang dianggap meresahkan akan ditembak. "Kami akan bertindak tegas, kalau mengancam keutuhan negara akan ditembak," ujarnya.

Tidak hanya itu, sambung Kapolresta, pihaknya juga akan menembak kelompok-kelompok yang kedapatan memiliki dan membawa senjata api. "Kami tidak mau kecolongan lagi, kalau dianggap berbahaya tembak," ujarnya.

Mengenai titik yang akan mendapat perhatian dan diwaspadai akan dijadikan sebagai tempat pengibaran bendera separatis Bintang Kejora, kapolresta mengatakan, ada 8 sektor dan 14 titik. "Kami konsentrasi di beberapa titik antara lain, perbatasan RI-PNG, Tanah Hitam, Nafri dan Skyline," jelasnya.

http://nasional.vivanews.com/news/read/191222-polri-siap-tembak-pengibar-bendera-separatis

Sunday, 28 November 2010

Aktivis Ditangkap Bawa Ganja

Jumat, 26 November 2010 | 22:51 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — FR, mahasiswa yang namanya pernah melambung karena kakinya ditembak polisi saat berdemonstrasi memperingati satu tahun kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono pada 20 Oktober lalu, kini kembali berurusan dengan polisi.

Kali ini, dia tertangkap tangan membawa ganja 1,72 gram. "Dia diamankan petugas kemarin (Kamis) di Jalan Cik Ditiro, Menteng, Jakarta Pusat, saat naik bus Kopaja 502 sekitar pukul 16.30 WIB. Saat itu, petugas kita sedang melakukan Operasi Pekat Jaya dengan meminta penumpang Kopaja untuk turun," kata Kepala Satuan Narkoba Kepolisian Resor Metro Jakarta Pusat Komisaris Apollo Sinambela kepada wartawan, Jumat (26/11/2010).

Apollo mengatakan, saat sedang melakukan pemeriksaan terhadap para penumpang, petugas mencurigai FR yang gerak-geriknya terlihat kikuk. "Gerakannya aneh, ada gerakan tangan yang memindahkan barang dari saku celana dipindah ke sepatu sebelah kanan," jelasnya.

Melihat gerakan mencurigakan, petugas langsung mengamankannya. Ketika polisi menanyakan namanya, barulah polisi tahu orang itu ternyata FR yang pernah berurusan dengan polisi.

"Saat digeledah, petugas menemukan sebuah bungkusan, dan dibuka di hadapan sopir dan kondektur. Isinya ternyata ganja seberat 1,72 gram," jelas Apollo.

Kepada polisi, FR mengaku barang haram itu didapatkan dari seseorang bernama Reno, yang sebelumnya ia jumpai di depan gerbang kampus UBK. FR mengatakan, ganja tersebut tidak akan dijual, tetapi untuk dikonsumsi sendiri di rumah.

http://megapolitan.kompas.com/read/2010/11/26/22513738/Aktivis.Ditangkap.Bawa.Ganja