Showing posts with label buol. Show all posts
Showing posts with label buol. Show all posts

Tuesday, 7 September 2010

Inilah Amirullah, Penembak Mati Kerusuhan Buol

INILAH.COM, Jakarta - Mabes Polri menyatakan seorang anggotanya Briptu Amirullah yang bertugas di Polsek Biau, Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah sebagai tersangka.

"Yang pasti jadi tersangka ya Amirullah, walaupun sekarang belum ditetapkan pasti tersangka," ujar Kadiv Humas Polri Brigjen Pol. Iskandar Hasan, saat dihubungi, Selasa (7/9).

Mengenai kapan tepatnya Amirullah akan ditetapkan sebagai tersangka, Iskandar enggan mengungkapkannya. Dia memastikan dalam waktu dekat anggotanya itu akan menjadi tersangka kasus kerusuhan di Buol, Sulawesi Tengah.

Amirullah diduga menembak seorang warga berinisial IM hingga tewas, saat kerusuhan di Buol terjadi Kamis (2/9) petang. Dalam insiden kerusuhan itu 8 orang warga sipil dinyatakan tewas, salah satu korban diduga ditembak mati oleh Amirullah.

Sejauh ini polisi telah menetapkan 3 orang polisi sebagai tersangka, atas tuduhan kelalaian yang menyebabkan seorang tahanan, Kashmir, meninggal dunia, yang kemudian kasus tersebut mengakibatkan kerusuhan di Buol.

Belum diketahui penyebab tewasnya 7 warga sipil lainnya dalam kerusuhan Buol, penyelidikan polisi masih berlangsung hingga saat ini dengan melakukan pemeriksaan intensif terhadap tersangka yang telah ditetapkan dalam kasus tersebut, juga pemeriksaan saksi. [mah]

http://www.inilah.com/news/read/politik/2010/09/07/806591/inilah-amirullah-penembak-mati-kerusuhan-buol/

Monday, 6 September 2010

Komnas HAM Bingung Penambahan Pasukan di Buol

Buol, 4 September 2010 14:38
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Daerah Sulawesi Tengah mengaku bingung dengan Polri yang memobilisasi pasukan keamanan ke Buol, padahal situasi keamanan di daerah bagian utara provinsi itu perlahan sudah kondusif.

"Heran! Kenapa ada mobilisasi pasukan lagi ke sini hanya karena alasan keamanan," kata Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Sulteng, Dedi Askari di Buol, Jumat malam (3/9).

Dedi mengatakan, skenario yang mau dibangun di Buol saat ini mestinya lebih pada pembangunan komunikasi kepada keluarga korban, lintas tokoh masyarakat, agama, pemuda, Polri, TNI dan semua elemen yang terkait dalam membangun situasi kondusif.

Menurut Dedi mobilisasi pasukan keamanan bisa saja ditanggapi lain masyarakat bahkan rawan terjadi gesekan.

Hingga Jumat malam, Komnas HAM masih mengunjungi kediaman korban tewas penembakan, salah satunya adalah Saktipan Kapuung yang pada 1 Oktober nanti berusia 38 tahun.

Saktipan kena tembak setelah kembali dari rumah sakit mengantar temannya yang juga kena tembakan pada Rabu (1 September dini hari). Menurut pihak keluarga, korban ditembak sekitar 400 meter dari konsentrasi massa di Polsek Biau.

"Makanya kami menduga penembak tidak saja dari Polsek tetapi di luar itu juga ada penembak," kata Abdi Turunku, saudara ipar korban.

Hasil sementara investigasi Komnas HAM menyebutkan diduga kuat terjadi pelanggaran HAM serius yang dilakukan oknum anggota polri dalam tragedi berdarah di Buol.

"Untuk menentukan apakah nanti ada pelanggaran HAM berat atau pelanggaran HAM ringan nanti ditentukan rapat komisioner," jelas Dedi.

Dia mengatakan, Peraturan Kapolri dengan tegas diatur bahwa tidak boleh menghilangkan nyawa seseorang termasuk warga sipil.

Sementara itu, Kapolda Sulawesi Tengah Brigjen Polisi Muhammad Amin Saleh mengatakan, mobilisasi pasukan tersebut hanya bersifat pergantian pasukan saja. Pasukan yang sudah bertugas di Buol ditarik diganti pasukan yang lain.

Jumlah pasukan dari satuan Brimob Kelapa Dua yang akan tiba di Buol sebanyak 170 orang. Saat ini mereka dalam perjalan ke Buol. Hingga pukul 23.00 waktu setempat pasukan tersebut belum juga tiba.

"Sebanyak 68 personel yang pergi 170 orang pasukan yang datang," kata Kapolda.
[TMA, Ant]
http://www.gatra.com/2010-09-04/versi_cetak.php?id=141223

Ketika Senjata Api Mengoyak Buol

Senin, 6 September 2010 | 05:34 WIB
KOMPAS.com
— Supriadi (26) masih dalam keadaan kritis di Rumah Sakit Umum Buol. Ia menjadi salah satu korban penembakan saat terjadi bentrok antara polisi dan warga di Buol, Sulawesi Tengah, Kamis (2/9/2010).

Sementara itu, Stevani Verawaty (17), terkulai tak berdaya. Tubuhnya lentur sekali seperti tak bertulang saat digendong masuk ke kamarnya.

Wartawan foto dan kamerawan segera menyorot putri pertama Saktipan Kapuung, suami Dahlia Sondak, orangtua Verawaty.

Dia kaget mendapati ayahnya Saktipan Kapuung tewas dalam bentrok warga sipil bersenjata batu melawan polisi yang mengokang senapan mesin otomatis di Buol, Sulawesi Tengah, Rabu dini hari, 1 September 2010.

Saktipan bersimbah darah di atas motornya saat timah panas bersarang di rusuk kiri bapak empat anak itu.

Peristiwa tragis itu menimpanya saat pulang dari rumah sakit setelah membawa seorang korban penembakan lainnya.

Dalam perjalanan pulang, Saktipan tertembak dan akhirnya mengembuskan napas terakhir di rumah sakit, Kamis (2/9/2010).

"Kami berpikir penembaknya tersebar karena ia ditembak jauh dari kerumunan aparat dan orang-orang yang berhadapan dengan polisi," kata Abdi Turungku, adik ipar Saktipan.

Abdi menduga kakak iparnya itu dua kali ditembak karena dia menyaksikan dua lubang menembus bawah ketiak Saktipan. Anehnya, dia tidak menemukan proyektil bersarang pada Saktipan.

"Tidak mungkin hanya satu peluru dalam dua lubang yang berbeda," kata Abdi.

"Kami sakit sekali. Terus terang ini sadis," sambungnya pedih.

Kelurga almarhum meminta kasus ini segera dituntaskan sebab, sampai malam ketiga setelah almarhum dimakamkan, belum ada tanda-tanda tegaknya kebenaran bagi keluarga korban.

Pada 1 Oktober depan, usia Saktipan genap 48 tahun. Sebagai Kepala UPT Transmigrasi Buol, Saktipan baru saja menyelesaikan pendidikan transmigrasi di Jakarta.

Ia pulang ke Buol berkumpul bersama keluarga selama Ramadhan, menanti tibanya Idul Fitri. Tapi takdir berkata lain, Tuhan memanggilnya lebih awal sebelum hari agung itu tiba.

Timah panas yang dimuntahkan senapan otomatis milik polisi telah melukainya dan membuat empat putrinya mendadak yatim, sekaligus membuat istrinya, Dahlia, harus berubah status menjadi orangtua tunggal.

"Saya sangat berharap masalah ini segera tuntas," tutur Dahlia.

Berubah

Menurut Dahlia, sepulang dari pendidikan di Jakarta, sikap suaminya itu berubah. Dia banyak berdiam diri bahkan sehari sebelum wafat, almarhum meminta maaf kepada sang istri dan menitipkan putri bungsunya, Apriali Ningsih (5), untuk dirawat.

Dahlia tidak menyangka kalau sikap almarhum itu adalah pertanda dia akan segera pergi selamanya ke pangkuan Sang Pencipta.

Malam itu malam ketiga meninggalnya almarhum. Suasana rumah sedikit sepi karena jemaah takziah belum datang. Sebagian besar masih di masjid menunaikan shalat tarawih.

Silvena (15), putri kedua almarhum, dan dua adiknya yang lain sudah duduk bersila hendak menyambut tamu malam ketiga.

Silvena merunduk. Disekanya air mata yang membasahi pipinya dengan jilbab yang menutupi kepalanya. Sementara itu, foto ayahnya yang telah tiada itu dibekapnya erat dalam pangkuannya.

"Sebelum meninggal, papa bilang saya sudah besar. Papa tepuk bahu saya. Kata papa, saya sudah besar. Sekolah yang baik, Nak," kata Silvena mengenang pesan terakhir sang ayah.

Tak pernah dijajah

Tragedi berdarah di Buol yang menewaskan delapan orang dan menyebabkan puluhan orang luka-luka ini adalah peristiwa paling buruk dalam sejarah Kabupaten Buol.

"Selama ada gejolak di daerah ini, belum ada darah yang tumpah ke bumi dan nyawa yang melayang sia-sia," kata Raja Buol XII Ibrahim Turungku.

Dia menambahkan, "Di sini sering ada demo, tapi tidak sampai seperti ini. Peristiwa ini paling buruk selama Buol ini ada."

Lain daerah lain pula adat istiadatnya. Begitu juga Buol. Kekerabatan dan kekeluargaan masyarakat Buol sangat kental sebab asal muasal Buol hanya satu rumpun.

Tidak ada subetnis di Buol. Jika etnis Bugis menyebut "ibu" dalam beragam nama, seperti
indo,emma, dan mama, maka di Buol sebutan "ibu" hanya satu, "tiina".

"Ini yang membuat kami kuat," kata Ibrahim.

Selain mengenal sistem pemerintahan, masyarakat Buol juga masih kental dengan sistem kerajaan. Kerajaan Buol sudah ada sejak 15 Agustus 1858. Raja pertamanya bernama Mohammad Noer Aladin. Sekarang Buol dipimpin raja ke-12.

"Catatan Kerajaan Buol yang ada di tangan kami ini difotokopi dari Netherland (Belanda)," kata Ibrahim.

Menurut Ibrahim, etnis Buol tidak pernah dijajah Belanda. Memang ada Belanda di Buol, tapi tidak berhasil menjajah. Kerajaan Buol tidak mau dijajah sehingga Belanda mengajak masyarakat Buol bekerja sama membangun daerah itu.

"Kami tidak pernah dijajah. Tapi kami bekerja sama. Buktinya istana raja ini dibikin oleh Belanda," kata Ibrahim.

Puncak ketidakadilan

Abd Razak M Razak, tokoh muda terdidik Buol, mengungkapkan, karakter masyarakat Buol sangat terbuka.

"Sepanjang kami tidak diinjak,
welcome," kata Razak.

Dia menilai, tragedi Buol adalah bentuk perlawanan rakyat atas berbagai masalah dan ketidakadilan.

Menurut Razak, konflik vertikal di Buol saat ini adalah akumulasi kekecewaan masyarakat dari berbagai masalah yang selama ini terpendam, seperti diskriminasi penanganan unjuk rasa, arogansi aparat keamanan, dan tindakan-tindakan negatif lainnya, seperti kompensasi uang dari pelanggaran lalu lintas.

"Sudah jadi rahasia umum,
sweeping sepeda motor di sini kompensasinya Rp 50.000 tiap satu pelanggaran," kata Razak.

Kapolda Sulteng Brigjen (Pol) Muh Amin Saleh mengaku akan bertindak tegas dan obyektif sesuai fakta-fakta di lapangan.

"Sampai sekarang kami masih kumpulkan bukti-bukti," kata Amin Saleh.

Kasus Buol, menurut Kapolda, dibagi dalam tiga kategori kejadian, yakni tewasnya tahanan di Polsek Biau, warga yang meninggal karena tertembak, dan penembakan pada 1 September 2010.

Begitu juga dengan materi pelanggaran, pelanggaran dalam tragedi Buol terdiri atas pelanggaran disiplin, kode etik, dan pelanggaran pidana.

Hingga hari keempat setelah bentrokan, baru seorang polisi berpangkat brigadir yang disebut mengarah pelanggaran pidana.

Tragedi berdarah di Buol ini pecah setelah Kasmir Timumun meninggal di tahanan Polsek Biau, Senin 30 Agustus.

Polisi mengklaim Kasmir meninggal karena bunuh diri. Namun, rakyat tidak percaya dan menuduh polisi menganiayanya karena di tubuh korban ditemukan luka-luka memar dan mulutnya tersumpal kertas.

Ribuan warga kemudian berunjuk rasa ke Mapolsek Biau, Selasa (31/8/2010). Namun, mereka dihadang polisi dan anggota Brimob bersenjata otomatis.

Polisi-polisi ini melepaskan tembakan dengan alasan membubarkan massa dan mempertahankan diri dari serbuan warga.

http://oase.kompas.com/read/2010/09/06/05342569/Ketika.Senjata.Api.Mengoyak.Buol-3

Thursday, 2 September 2010

7 Pendemo Ditembak Mati di Kepala

Saat 3.000 Pendemo Serbu Polsek Polisi Bela Diri dengan Peluru Tajam

Palu - SURYA- Situasi di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, hingga Rabu (1/9) malam masih mencekam. Massa masih sulit melupakan kematian tujuh warga yang tertembus peluru polisi di bagian kepala.

Amuk massa di Buol, Sulawesi Tengah masih berlanjut sampai Rabu malam, dimana warga mulai membakar rumah milik polisi dan merusak sebuah pos polisi.

Wartawan Antara dari Buol melaporkan, dua rumah permanen milik anggota Polres Buol dibakar massa dan satu lainnya dibongkar, sementara pos polisi yang terbuat dari kayu dirobohkan lalu dibakar,

Rumah-rumah yang dibakar dan dibongkar warga itu sebelumnya sudah kosong karena penghuninya telah mengungsi dan berlindung di Asrama Polres.

Kemarahan massa ini muncul pasca tewasnya tujuh dari 17 korban tembak saat ribuan pendemo asal Kabupaten Buol menyerbu Mapolsek Biau, Selasa (31/8) malam hingga Rabu (1/9) dini hari. Empat warga juga masih dalam kondisi kritis.

Pelaksana tugas Direktur RSUD Buol Abdul Hamid Lakuntu mengatakan, semua korban yang tewas mengalami luka tembak di kepala. Dikatakan, rata-rata peluru yang menembus tujuh korban tewas dan keempat korban kritis itu tepat di bagian vital tubuh. “Peluru yang menewaskan itu rata-rata kena di bagian kepala,” jelas dia. Bahkan ada yang tewas dengan luka tembak di mata tembus ke belakang.

Hingga Rabu malam, polisi mencatat tujuh orang tewas dan lebih 30 orang lainnya luka-luka, termasuk 17 luka tembak. Itu belum termasuk belasan anggota polisi yang juga luka-luka terkena benda tajam dan lemparan batu. Tujuh korban tewas adalah Amran Abjalu, Rasyid S Jopori, Herman Hasan, Ridwan D Majo, Arfan Salakea, Saktipan, Muslimin Ashora.

Sementara itu, sedikitnya 19 anggota Brimob Polda Sulawesi Tengah terluka dalam insiden itu. Kapolres Buol AKBP Amin Litarso mengatakan, ke-19 anggota Brimob yang luka itu umumnya terkena lemparan batu, sabetan senjata tajam dan bom molotov dari massa yang mengamuk. Luka yang dialami para prajurit Brimob itu umumnya tidak parah kecuali satu orang yang tubuhnya terbakar setelah terkena lemparan bom molotov para penyerang.

Selain melukai 19 anggota Brimob, Kapolres Amin Litarso mengatakan, aksi anarkis warga itu juga menimbulkan kerusakan di bagian depan kantor Mapolsek Biau. Beberapa atribut kepolisian, seperti motor operasional dan pakaian seragam yang berada di Balai Tempat Umum (BTU) Buol juga menjadi sasaran amuk massa. “Di lokasi itu, tiga dari empat motor milik anggota di BTU dibakar, dan satu motor lainnya hanya dirusak,” katanya.

Berbagai pihak di Sulawesi Tengah menyesalkan bentrokan antara massa dan polisi di Kabupaten Buol yang merenggut tujuh warga. Diharapkan insiden ini segera dilokalisir agar tidak pecah menjadi kerusuhan rasial seperti yang pernah terjadi di Poso tahun 1999 sampai 2002.

Sekitar 3.000 orang warga Buol, Selasa malam, menyerbu Mapolsek Biau untuk memprotes dan meminta penjelasan polisi atas tewasnya seorang warga bernama Kasmir Timumun di ruang tahanan polsek tersebut. Massa yang membawa batu dan benda-benda tajam kemudian dihadang aparat bersenjata di sekitar Mapolsek sehingga terjadilah bentrokan. Polisi dilaporkan terdesak sehingga terpaksa mengeluarkan tembakan-tembakan peringatan. Namun entah bagaimana, tembakan-tembakan itu mengenai massa sehingga timbul korban tewas dan luka-luka.

Warga menduga bahwa kematian Kasmir bukan karena bunuh diri seperti yang disebutkan polisi, tetapi karena disiksa. Alasannya, kakak korban, Jamal, yang menjenguknya sebelum Kasmir ditemukan tewas, Senin (30/8), mengaku bahwa Kasmir mengeluh karena mendapat penganiayaan oknum anggota polisi. “Adik saya mengatakan kalau dirinya dianiaya secara bergantian oleh oknum polisi,” kata Jamal.

Jamal mengatakan, adiknya ditangkap karena adanya dugaan kecelakaan lalu lintas antara korban dan salah satu oknum polisi bernama Ridho, Sabtu (28/8) malam. Saat itu Kasmir terjaring razia balapan liar. Saat polisi melakukan razia, secara tak terduga Kasmir menabrak polisi lalu lintas bernama Ridho. Polisi itu mengalami patah tangan dan sedang dirujuk perawatannya ke Palu. “Polisi melakukan sweeping di tempat gelap, jadi adik saya tak lihat,” kata Jamal.

Saat ini tidak ada satu pun polisi yang berjaga-jaga di tempat strategis seperti rumah sakit dan tempat pengisian bahan bakar minyak. “Rumah sakit dan SPBU sekarang hanya dijaga aparat dari TNI,” kata Marwan Dahlan, Wakil Ketua DPRD Buol.

Dia mengatakan, polisi terkonsentrasi di Polres Buol, Polsek Biau, dan Hotel M3 tempat Kapolda Sulteng, Brigjen Pol Moh Amin Saleh dan rombongan menginap.

Rabu siang, tidak kurang 500 warga juga kembali menyerang kantor Polsek Biau yang terletak di Kelurahan Kali. Warga tak bisa merangsek karena Mapolsek Biau sudah dijaga aparat TNI. Polisi tak melakukan perlawanan karena Mapolsek kini dijaga aparat TNI dari Kabupaten Tolitoli, tetangga Kabupaten Buol. TNI melakukan barikade sehingga warga hanya bisa melempar dari jarak jauh. “Pelemparan tidak segencar tadi malam, massa pun sudah berkurang,” kata Ricky, warga Buol.

Menangis di Polda

Seorang anggota Komisi I DPRD Sulawesi Tengah tidak kuasa menahan tangis saat bertemu Wakapolda Sulteng Kombes Pol Dewa Parsana, Rabu siang, karena menyesali kerusuhan di Kabupaten Buol yang muncul tiba-tiba seperti ‘petir di siang bolong itu.’ “Pak Waka, terus terang saya tidak tahan melihat pertumpahan darah di bulan suci Ramadan ini. Bulan Ramadan justru dilumuri dengan darah. Mohon ini tidak terjadi lagi,” kata Yahya R Kibi, salah seorang anggota komisi I dengan suara yang terbata-bata sambil meneteskan air mata.

Situasi serupa juga dialami Ketua Komisi I Sri Indraningsih Lalulusu dan Zainal Abidin Ishak, anggota komisi I lainnya. Ketiga anggota komisi I tersebut beberapa kali menyeka air mata mereka.

Yahya R Kibi yang juga anggota DPRD daerah pemilihan Buol dan Tolitoli ini mempertanyakan prosedur penembakan warga sipil di Buol. Dia menilai penembakan tersebut melanggar prosedur karena korban ditembak di mata hingga tembus ke belakang. Yahya bahkan mensinyalir peluru yang digunakan adalah peluru tajam. “Kenapa polisi menembak di bagian kepala bukan di bagian kaki. Apakah ini sudah sesuai prosedur,” kata Yahya.

Wakapolda Dewa Parsana mengatakan, tahapan-tahapan pengamanan di Buol sudah dilakukan, diawali dengan pendekatan yang lunak. Hanya saja karena situasi yang tidak normal lagi sehingga terjadilah aksi saling serang. “Situasinya terjadi pada malam hari dalam kondisi yang gelap,” kata Dewa Parsana. Dia mengatakan, sebelum kerusuhan tersebut, polisi sudah melakukan upaya persuasif antara lain memeriksa anggota polisi atas tewasnya seorang tahanan di Polsek Biau. “Belum selesai pemeriksaan internal, masyarakat sudah marah dan mengepung Polsek Biau,” ujarnya.

Atas perintah Kapolri, Wakapolri Komjen Pol Jusuf Manggabarani bersama tim telah tiba di Buol guna menginvestigasi kasus tersebut. “Kapolri telah memerintahkan Wakapolri dengan tim dari Propam, Intelkam dan Reskrim untuk melakukan investigasi,” kata Kadiv Humas Polri, Brigjen Pol Iskandar Hasan di Jakarta, Rabu.

Tim dari Mabes polri ini akan melakukan investigasi baik internal maupun eksternal untuk melihat apa yang terjadi dan masyarakat tidak usah ragu terhadap kerja tim ini. Kadiv Humas mengatakan, bila ditemukan kesalahan prosedur akan ditindak, karena setiap butir peluru yang dipegang oleh anggota harus dipertanggungjawabkan.

Sementara itu Polres Buol menahan empat orang yang diduga otak penyerangan Mapolsek Biau. “Saat ini keempat warga itu ditahan karena diduga kuat terlibat dalam tindakan anarkis itu,” kata Pelaksana Harian Kabid Humas Polda Sulteng Kompol Kahar Muzakkir.

Kahar menuturkan, Kapolda Sulteng Brigjen Muhammad Amin Saleh langsung menuju Kabupaten Buol untuk memantau perkembangan kasus Buol. Kapolda tiba menggunakan pesawat Express dan langsung memimpin rapat koordinasi dengan bupati, Ketua DPRD, tokoh masyarakat dan MUI setempat. Rapat koordinasi yang dihadiri Danrem 132 Tadulako Kolonel Kav Muhammad Thamrin Marzuki juga dihadiri pihak keluarga almarhum Kasmir, tahanan yang meninggal di Mapolsek Biau. Dalam pertemuan itu, Kapolda meminta para tokoh agama dan tokoh masyarakat bersama-sama aparat keamanan memberikan pemahaman kepada warga untuk segera menghentikan aksi-aksi kekerasan yang terjadi.

Di tempat terpisah, belasan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Sulawesi Tengah, mendesak Polda Sulteng segera menyelesaikan kerusuhan di Kabupaten Buol. “Jangan sampai kerusuhan di Buol meluas sehingga melumpuhkan aktivitas masyarakat,” kata Muhammad, salah satu mahasiswa saat berorasi di depan Markas Polda Sulteng. “Kalau ada polisi yang terbukti salah harus ditindak demi terciptanya keadilan,” katanya.nant/tribunnews


http://www.surya.co.id/2010/09/02/7-pendemo-ditembak-mati-di-kepala.html

Wednesday, 1 September 2010

Buol Mencekam, Mapolsek Momuni Dibakar

Kamis, 2 September 2010 | 02:05 WIB

PALU, KOMPAS.com - Markas Kepolisian Sektor Momunu, Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah diserbu dan dibakar ratusan orang, Kamis (2/9/2010) dini hari.

"Iya, informasi soal insiden itu sudah saya terima," kata Kapolres Buol AKBP Amin Litarso saat dihubungi per telepon dari Palu, Kamis dini hari.

Amin Litarso mengaku belum mengetahui pasti kronologi kejadian penyerangan Mapolsek Momunu yang berjarak sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Buol itu.

Namun dia mengatakan, penyerangan hingga pembakaran kantor polisi itu dilakukan massa terjadi pada Kamis sekitar 01.10 Wita.

Dalam insiden itu, kata Kapolres Amin Litarso, tidak ada korban jiwa, baik dari kubu warga sipil maupun polisi sendiri yang menjaga kantor polisi itu.

"Untuk tingkat kerusakannya, kami belum tahu persis karena situasinya masih belum memungkinkan untuk ke lokasi kejadian," katanya.

Menurut dia, saat kejadian, semua anggotanya pergi menyelamatkan diri meninggalkan polsek untuk menghindari adanya korban. Saat ini, kata dia, situasi keamanan di wilayahnya belum kondusif.

Sebab kata Kapolres Amin Litarso, penyisiran atau razia yang dilakukan massa terhadap rumah polisi masih berlangsung, begitu pun dengan aksi penghadangan dengan memblokade jalan pun masih ada sampai Kamis dini hari.

Sebelumnya, massa juga menjarah rumah dinas Wakil Kapolres Buol Kompol Ali. Massa bahkan membakar tiga rumah anggota Polri yang bertugas di wilayah Polres Buol.

Amin Litarso juga menyebutkan, beberapa sarana kepolisian seperti sepeda motor operasional dan pakaian seragam yang berada di Balai Tempat Umum (BTU) Buol juga menjadi sasaran amuk massa.

Di lokasi itu, tiga dari empat motor milik anggota di BTU dibakar dan satu lainnya dirusak. Amin Litarso juga membenarkan adanya upaya penyisiran warga terhadap para anggota polisi baik di asrama, kos-kosan maupun di lokasi lain.

Kerusuhan Buol pecah Selasa malam menyusul tewasnya seorang tahanan Polsek Biau bernama Kasmir Timumun pada Senin (30/8/2010) sore.

Keluarga menduga tewasnya Kasmir Timumun, warga Kelurahan Leok II yang bekerja sebagai tukang ojek itu, akibat penganiayaan oknum polisi.

Kasmir ditahan karena kasus kecelakaan lalu lintas yang melibatkan seorang anggota kepolisian di kota itu, tetapi hari Senin dia tewas di dalam tahanan.

Sebagai buntut dari kematiannya, Selasa sekitar pukul 21.30 Wita, ribuan warga mendatangi Mapolsek Biau hingga mengakibatkan kerusuhan dan mengakibatkan tujuh orang tewas terkena tembakan dan puluhan lainnya luka-luka.

Editor: yuli | Sumber : ANTDibaca : 487
http://regional.kompas.com/read/2010/09/02/02055166/Buol.Mencekam..Mapolsek.Momuni.Dibakar

Rumah Wakapolres Diserbu, 3 Motor Dibakar

PALU, KOMPAS.com — Sebuah rumah dinas yang ditinggali Wakil Kepala Kepolisian Resor Buol, Sulawesi Tengah, dijarah massa yang melakukan sweeping terhadap polisi di Buol, Rabu (1/9/2010) malam.

"Iya, rumah Wakapolres Kompol Ali dijarah massa," kata Kapolres Buol AKBP Amin Litarso saat dihubungi per telepon dari Palu, Rabu malam.

Dia mengatakan, massa mengambil sejumlah barang berharga di rumah tersebut dan membawanya pergi. Selain menjarah rumah Wakapolres, massa juga membakar tiga rumah milik anggota Polri yang bertugas di Polres Buol.

Dia menambahkan, beberapa sarana kepolisian seperti sepeda motor operasional dan pakaian seragam di Balai Tempat Umum (BTU) Buol juga menjadi sasaran amuk massa.

"Di lokasi itu, tiga dari empat motor milik anggota di BTU dibakar dan satu lainnya dirusak," katanya. Kapolres Amin Litarso juga membenarkan adanya upaya penyisiran warga terhadap para anggota polisi baik di asrama, kos-kosan maupun di lokasi lain.

"Saya juga mendapat informasi bahwa sejumlah warga di Desa Lakea memblokir jalan masuk ke Kota Buol untuk menghalangi pasukan BKO yang ingin memasuki wilayah Buol," kata Amin Litarso.

Kerusuhan Buol pecah Selasa malam menyusul tewasnya seorang tahanan Polsek Biau bernama Kasmir Timumun pada Senin (30/8/2010) sore.

Keluarga menduga tewasnya Kasmir Timumun, warga Kelurahan Leok II yang bekerja sebagai tukang ojek itu, akibat penganiayaan oknum polisi.

Kasmir ditahan karena kasus kecelakaan lalu lintas yang melibatkan seorang anggota kepolisian di kota itu, tetapi hari Senin dia tewas di dalam tahanan.

Sebagai buntut dari kematiannya, Selasa sekitar pukul 21.30 Wita, ribuan warga mendatangi Mapolsek Biau hingga mengakibatkan kerusuhan dan mengakibatkan tujuh orang tewas terkena tembakan dan puluhan lainnya luka-luka.

http://regional.kompas.com/read/2010/09/01/2338386/Rumah.Wakapolres.Diserbu..3.Motor.Dibakar

Bentrok, Polisi Bantah Aniaya Napi di Sulteng

Rabu, 1 September 2010 - 15:47 wib
JAKARTA
- Mabes Polri mengklarifikasi bentrok yang berawal dari dugaan penganiayaan aparat kepolisian Polsek Biau Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, terhadap salah seorang tahanan.

Dalam konferensi pers di Mabes Polri, Kadiv Humas Mabes Polri Brigjen Pol Iskandar Hasan, mengatakan berdasarkan hasil autopsi tidak ditemukan adanya penganiayaan terhadap tahanan yang bernama Kasmir.

"Hasil pemeriksaan luar sementara oleh Dr Elli di Rumah Sakit Bual, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban," ujar Iskandar, Jakarta Selatan, Rabu (1/9/2010).

Namun, Iskandar menambahkan masyarakat tidak mempercayai hasil autopsi dan melakukan penyerangan. "Polisi bela diri dan terjadi salah sasaran, akibatnya meninggal lima orang. Semuanya laki-laki," katanya.

"Pertama, Arfan Salatea, Ridwan, Ling, Amran, satu korban belum jelas identitas," ucapnya.

Selain korban tewas, terdapat 28 korban luka-luka. Akibat peristiwa penyerangan tersebut, seluruh kaca kantor Polsek Biau pecah.(hri)

http://news.okezone.com/read/2010/09/01/340/369058/bentrok-polisi-bantah-aniaya-napi-di-sulteng

Mabes Polri: Ada Korban Tewas Karena Tertembak

Rabu, 01/09/2010 16:14 WIB
Jakarta
- Kerusuhan di Biau, Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah (Sulteng) memakan korban hingga 5 orang. Kuat dugaan ada korban yang tewas tertembak peluru tajam.

"Ada yang kena tembakan. Namun apa seluruhnya kena tembakan atau lain-lain kita tunggu hasil visum," ujar Kadiv Humas Mabes Polri, Brigjen Pol Iskandar Hasan, dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (1/9/2010).

Menurut Iskandar, untuk mengecek prosedur penggunaan senjata oleh polisi yang ada di lokasi kejadian, Kapolri telah memerintahkan Wakapolri untuk mengusut. Apabila ditemukan pelanggaran maka akan ditindak tegas.

"Pimpinan akan ambil tindakan tegas bilamana prosedur baku yang telah ditetapkan dilanggar oleh anggota di lapangan. Karena sebutir peluru pun harus dipertanggungjawabkan," terang Iskandar.

Iskandar menjamin Polri akan transparan dalam mengusut kasus ini. "Tidak akan ditutupi karena pasti akan diketahui oleh tim ini dan akan disampaikan. Masyarakat sekarang tenang saja," imbaunya.

5 Orang warga tewas dalam penyerangan polsek Biau yakni, Arfan Salatea, Ridwa, Ling, Amran, satu korban lagi belum jelas identitasnya.

Kondisi di Biau sendiri dikabarkan telah kondusif. Polisi dibantu muspida setempat telah melakukan diskusi dengan warga.

(ddt/gun)

http://us.detiknews.com/read/2010/09/01/161402/1432943/10/mabes-polri-ada-korban-tewas-karena-tertembak

Anggota DPRD Sulteng Tangisi Kerusuhan Buol

Rabu, 01 September 2010 14:43 WIB\
PALU--MI:
Anggota Komisi I DPRD Sulawesi Tengah tidak kuasa menahan kesedihan menyesali kerusuhan di Kabupaten Buol, hingga air mata mereka menetes saat berdialog dengan Wakil Kapolda Sulteng Kombes Dewa Parsana di Mapolda Sulteng, Rabu (1/9).

"Pak Waka, terus terang saya tidak tahan melihat pertumpahan darah di bulan Ramadan ini. Bulan Ramadan justru dilumuri dengan darah. Mohon ini tidak terjadi lagi," kata Yahya R Kibi, salah seorang anggota komisi I dengan suara yang terbata-bata dan meneteskan air mata.

Situasi serupa juga dialami Ketua Komisi I Sri Indraningsih Lalulusu dan Zainal Abidin Ishak, anggota komisi I lainnya. Ketiga anggota komisi I tersebut beberapa kali menyeka mata mereka.

Kedatangan komisi I tersebut untuk mempertanyakan kronologis kerusuhan Buol serta langkah antisipasi terhadap bertambahnya korban luka-luka akibat ditembak.

Yahya R Kibi yang juga anggota DPRD daerah pemilihan Buol dan Tolitoli ini mempertanyakan prosedur penembakan warga sipil di Buol.

Dia menilai penembakan tersebut melanggar prosedur karena korban ditembak di mata hingga tembus ke belakang. Yahya bahkan mensinyalir peluru yang digunakan adalah peluru asli. "Kenapa polisi menembak di bagian kepala bukan di bagian kaki. Apakah ini sudah sesuai prosedur," kata Yahya.

Kombes Dewa Parsana mengatakan, tahapan-tahapan pengamanan di Buol sudah dilakukan, diawali dengan pendekatan yang lunak. Hanya saja kata Parsana, karena situasi yang tidak normal lagi sehingga terjadilah aksi saling serang. "Situasinya terjadi pada malam hari dalam kondisi yang gelap," kata Parsana.

Dia mengatakan, sebelum kerusuhan tersebut terjadi kepolisian sudah melakukan upaya persuasif antara lain memeriksa anggota polisi atas tewasnya seorang tahanan di Polsek Biau pada Minggu malam (29/8). "Belum selesai pemeriksaan internal, masyarakat sudah marah dan mengepung Polsek Biau," kata Parsana.

Dia mengatakan, hingga Rabu siang, korban luka akibat kerusuhan di Buol sudah mencapai 28 orang. Lima di antaranya meninggal dunia serta tiga dalam kondisi kritis. (Ant/wt/X-11)

http://www.mediaindonesia.com/read/2010/09/01/166109/128/101/Anggota-DPRD-Sulteng-Tangisi-Kerusuhan-Buol