Thursday, 13 June 2013
Ahok Ditemukan Tewas Di Kamar Mandi Sel
Sunday, 16 January 2011
Polisi Tidak Menganiaya hingga Tewas
AMBON, KOMPAS.com - Kapolda Maluku Brigjen Pol Syarief Gunawan menegaskan, bentrokan yang terjadi antara warga Dobo, Kepulauan Aru, dan aparat kepolisian, Jumat siang, karena warga terprovokasi isu menyesatkan yang diembuskan pihak tidak bertanggung jawab.
"Bentrokan ini terjadi karena warga terprovokasi isu menyesatkan dan sengaja diembuskan pihak tidak bertanggung jawab, terkait meninggalnya pegawai kantor Camat Aru Selatan Alibaba Raharusun," kata Kapolda saat dimintai keterangan di Ambon, Jumat (14/1/2011).
Kapolda menegaskan, ada upaya pihak-pihak tertentu memprovokasi warga dengan memutarbalikkan fakta dan peristiwa kematian Raharusun yang sebenarnya.
"Perlu saya tegaskan bahwa Alibaba Raharusun meninggal bukan karena dianiaya oknum polisi di Pos Lalu Lintas seperti isu yang beredar, tetapi murni karena kecelakaan tunggal," katanya.
Kapolda mengatakan, korban menderita luka kritis akibat terjatuh dari motornya yang dikendarai dalam kecepatan tinggi saat dikejar seorang anggota polisi lalu lintas Polres Aru.
Korban sebenarnya tertangkap tidak menggunakan helm oleh polisi yang sedang melakukan razia kelengkapan kendaraan di depan Pos Lalu Lintas Tugu Cenderawasih pada Kamis siang pukul 14.00 WIT.
"Saat hendak ditahan, Raharusun kemudian lari dengan sepeda motornya dan dikejar petugas, dia akhirnya terjatuh dari sepeda motor sehingga ditahan dan dibawa ke pos lalu lintas," katanya.
Korban ditahan di Pos Lalu Lintas Tugu Cenderawasih dan baru dibawa ke RSUD Dobo untuk mendapatkan perawatan pada Jumat sekitar pukul 03.00 WIT, tetapi kemudian meninggal pada pukul 08.00 WIT.
"Sekali lagi saya tegaskan, kematian Raharusun bukan karena dianiaya oknum polisi lalu lintas Polres Aru, tetapi murni akibat kecelakaan lalu lintas saat dikejar aparat," kata Kapolda.
Ia meminta masyarakat untuk menahan diri dan tidak terprovokasi serta memercayakan penyelesaian masalah tersebut kepada aparat kepolisian.
Namun, keluarga korban bersama warga menduga kematian Raharusun karena dianiaya oleh oknum anggota polisi lalu lintas Polres Aru hingga sekarat baru kemudian dibawa ke RSUD Dobo untuk dirawat intensif pada Jumat subuh.
Mereka terprovokasi dan melakukan unjuk rasa ke Polres Aru untuk meminta dilakukan visum terhadap jenazah korban.
Warga yang telah emosi kemudian melakukan perusakan dan pembakaran terhadap Pos Lalu Lintas di depan Tugu Cenderawasih serta Pasar Jargaria.
Melihat aksi massa yang beringas, Kapolres AKBP Solichin kemudian memerintahkan anak buahnya untuk turun dan melakukan pengamanan di lokasi kejadian, tetapi kehadiran aparat polisi malah disambut massa dengan lemparan batu.
Melihat situasi yang tidak memungkinkan, aparat Polres Aru kemudian melepaskan tembakan peringatan untuk membubarkan massa.
Kapolda mengimbau masyarakat untuk tenang dan tidak terprovokasi serta memberikan kesempatan bagi aparat untuk menyelidiki kasus tersebut hingga tuntas.
"Percayakan penyelesaian masalah ini kepada aparat kepolisian. Kami akan melakukan penyelidikan dan penyidikan untuk mengungkap kasus ini, termasuk penyebab kematian Alibaba Raharusun. Jika ada oknum polisi yang terlibat, akan ditindak sesuai prosedur hukum yang berlaku," katanya.
Bentrokan itu mengakibatkan empat orang mengalami luka-luka akibat terkena timah panas, yakni Santo Mangar (17), siswa SMA Negeri 1 Dobo; Wajid Kalliem (32) dan Wilman Walten (35); serta seorang anggota Polres Dobo John Maitimu.
Semua korban mengalami luka tembak di kaki sebelah kiri dan dirawat di Puskesmas Dobo, tetapi karena luka yang diderita tergolong serius sehingga dirujuk ke RSUD Dobo untuk mendapatkan perawatan intensif.
Suasana di Kota Dobo hingga Jumat malam dilaporkan masih mencekam, aparat kepolisian melakukan penjagaan ekstra ketat di ruas Jalan Cederawasih, Dobo, sedangkan massa masih bergerombol di sejumlah ruas jalan.
http://regional.kompas.com/read/2011/01/15/03553950/Polisi.Tidak.Menganiaya.hingga.Tewas
Sunday, 17 October 2010
Kabur dari Polisi, Pengedar Narkoba Ditemukan Tewas Tenggelam
"Korban memang sebelumnya ditangkap karena kepemilikan narkoba," kata Kapolsek Rungkut, AKP Naufil Hartono, saat dikonfirmasi, Minggu (17/10/2010).
Naufil enggan menjelaskan lebih detil tentang kronologi kasus warga Jalan Wonorejo
gang Langgar itu sebelum tewas. Naufil hanya mengatakan bahwa Andiyanto ditangkap
karena memiliki 2 poket sabu-sabu dan 4 poket ganja kering.
Dari informasi yang didapat, pria satu anak tersebut pertama kali diamankan petugas
Polsek Rungkut pada Jumat (15/10/2010) di Jalan Penjaringan Sari. Polisi sempat
kesulitan mengejar laju motor Andiyanto yang berusaha lari. Andiyanto baru bisa
diamankan setelah motornya ditabrak motor petugas. Saat digeledah, dari baju Andiyanto ditemukan 0,25 gram sabu-sabu.
"Setelah itu, pada Sabtu dini hari kami membawa tersangka ke rumahnya," kata sumber.
Karena tidak bisa masuk ke dalam gang, mobil petugas terpaksa diparkir di depan mulut gang. Beberapa petugas masuk ke rumah Andiyanto yang berjarak 200eter dari mulut gang sedangkan sebagian lagi menjaga pria bertubuh besar tersebut. Saat dilakukan penggeledahan, petugas menemukan 1 poket sabu-sabu dan 4 poket ganja. Selain itu ditemukan juga seperangkat alat hisap, pipet dan satu ikat sedotan. Saat melakukan penggeledahan tersebut, didapat kabar jika tersangka berhasil kabur dari penjagaan petugas.
"Tersangka kabur dan langsung nyemplung Sungai Wonorejo yang letaknya tak jauh dari rumahnya," tambah sang sumber.
Polisi yang kecolongan segera melakukan pencarian.Bahkan petugas juga menyewa kapal
untuk melakukan pencarian di tengah sungai. Hingga pukul 07.00 WIB hasilnya nihil.
Minggu (17/10/2010), pagi, seorang nelayan yang sedang mencari kerang, Milan, melihat sesosok tubuh mengambang tertelungkup di air. Melihat hal itu, agar mayat tidak hanyut, Milan segera mengikat kaki mayat yang akhirnya diketahui adalah Andiyanto. Milan segera menuju ke darat dan melaporkan penemuannya ke polisi.
Polisi yang menuju ke lokasi segera meminta bantuan para nelayan untuk membawa tubuh Andiyanto ke darat. Saat ditemukan, tubuh Andiyanto yang mengenakan kaos hitam sudah berbau busuk. Tubuh Andiyanto juga sedikit bengkak karena terlalu lama berada di air.
Andiyanto tenggelam diduga karena tidak bisa berenang. Tetapi ada yang mengatakan jika Andiyanto tak bisa berenang karena saat tercebur ke laut, diduga tangannya dalam keadaan terborgol.
