Showing posts with label solo. Show all posts
Showing posts with label solo. Show all posts

Thursday, 27 June 2013

BNPT: 90 Teroris Ditembak Mati Sejak 2002


Kamis, 27 Juni 2013 04:34 wib
Ilustrasi (Foto: Dok Okezone)
Ilustrasi (Foto: Dok Okezone)
SOLO - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Ansyaad Mbai, membeberkan 900-an pelaku teror ditangkap sejak 2002. Dari jumlah tersebut hanya 90 pelaku yang ditembak.

Ansyaad membantah bila penanganan pelaku teroris yang dilakukan Densus 88 maupun BNPT melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) karena selalu diakhiri dengan tewasnya teroris. Menurutnya, penanganan terorisme di Indonesia lebih lembut jika dibandingkan dengan negara lain.

“Di Amerika yang katanya negara menjunjung tinggi HAM dan demokrasi, hampir 100 persen pelaku terorisme ditembak. Tapi di Indonesia, yang penanganannya jauh lebih lembut dibandingkan negara lain masih saja dikatakan melanggar HAM bila Densus menembak mati teroris," papar Ansyaad Mbai di Solo, Jawa Tengah, Rabu 26 Juni.

Berbeda saat ada anggota Densus yang tertembak mati, tidak pernah ada pembelaan terkait HAM.

“Kadang Densus diperlakukan tidak adil. Densus itu hadir karena kebrutalan teroris dan terorisme harus diungkap sampai akar-akarnya,” jelasnya.

Menurut Ansyaad, penanggulangan terorisme di Indonesia telah diakui dunia internasional. Bahkan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) merekomendasikan Indonesia sebagai tempat belajar penanggulangan terorisme dan menjadi model penanggulangan terorisme internasional.

Ansyaad mengatakan, pelaku teror harus dibasmi. Pasalnya jika aksi-aksi terorisme tidak bisa diungkap maka akan terjadi konflik horisontal dan saling tuduh di antara kelompok masyarakat.

“Pemerintah Nigeria datang ke Indonesia khusus untuk belajar penanganan masalah terorisme atas rekomendasi dari PBB,” katanya.

Terkait aksi terorisme di Indonesia, Ansyaad mengatakan aksi-aksi terorisme beralih ke Poso setelah gagal di Aceh. Untuk membiayai kegiatan di Poso, kelompok-kelompok teroris tersebut menghimpun dana dengan melakukan perampokan di sejumlah bank, toko emas, dan sebagainya.

“Dari kegiatan yang mereka sebut sebagai fai tersebut, kelompok Abu Roban berhasil mengumpulkan dana  Rp1,8 miliar. Tetapi ternyata dana yang diperoleh tidak disetorkan semuanya, karena digunakan untuk kepentingan pribadi,” ujarnya.

Di tempat yang sama Abdul Rahman Ayub, salah satu alumnus Afghanistan, mengatakan aksi-aksi terorisme di Indonesia terjadi karena kelompok tersebut tidak paham bahwa Indonesia adalah negara Darul Islam.

“Tetapi kelompok-kelompok itu menginginkan Indonesia menjadi negara Darul Islam versi mereka,” ujarnya.
 

Berita Selengkapnya Klik di Sini

(tbn)

http://jogja.okezone.com/read/2013/06/27/511/828207/bnpt-90-teroris-ditembak-mati-sejak-2002

Thursday, 13 June 2013

Penjambret Ditembak Mati Polisi Surakarta


Sabtu, 08 Juni 2013, 19:07 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Jajaran Kepolisian Resor Kota Surakarta menembak tersangka kasus penjambretan di depan Toko Sepatu Sadinoe di Jalan Kusumodiningratan Keprabon, Banjarsari Solo, Sabtu (8/6).
Polisi Polsek Banjarsari mampu melumpuhkan pelaku dengan menembak kakinya, saat tersangka bernama Wawan Ardi (30), warga Pasar Kliwon Solo, berupaya kabur hingga di depan SMP Theresia Surakarta di Jalan Saharjo Kebalen Solo, Solo.
Kini, tersangka dirawat di Rumah Sakit Brayat Minulya Solo, untuk perawatan karena tertembak di bagian paha kanannya.
Sulardi (41), saksi mata dan warga Pringgondani Banjarsari mengatakan penembakan tersangka yang mengendarai sepeda motor itu terjadi di Jalan Kusumoyudan Keprabon.
Tersangka langsung melarikan diri lagi ke arah kanan Jalan Saharjo atau di depan sekolah SMP Theresia, namun dia dapat ditembak kakinya oleh petugas, setelah mengabaikan tembakan peringatan. "Peristiwa jambret itu terjadi sekitar pukul 11.00 WIB," katanya.
Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Banjarsari AKP Sunarto saat dikonfirmasi membenarkan kejadian tersebut yakni tersangka penjambretan dengan membawa senjata mainan jenis pistol 'airsoft gun.'
Pelaku penembakan terpaksa melumpuhkan korban dengan ditembak kakinya karena saat dilakukan tembakan peringatan justru melarikan diri.
Menurut dia, kronologi kejadian berawal saat pelaku melakukan penjambretan terhadap korban pengendara sepeda motor, Mutiara (39) yang berboncengan dengan Lie Tuan (70), warga Perum Wanawasa Blok E 3 Mojosongo Solo.
Korban dengan mengendara sepeda motor Honda Supra X 125 Nopol AD 6998 EK dari arah selatan dan setibanya lokasi kejadian, pelaku yang mengendarai Yamaha Xeon Nopol AD 6972 ZU langsung merebut tas korban.
Namun, pelaku tidak sempat membawa kabur tas korban karena petugas polisi yang sedang melintas di lokasi tersebut langsung mendatangi penjambret itu.
Pelaku langsung membawa lari sepeda motor korban ke arah Jalan Kusumoyudan dan petugas langsung melakukan pengejaran. Pelaku terjatuh setelah ditembak oleh petugas dan akhirnya dilumpuhkan kakinya dengan timah panas.
Korban yang terluka lecet pada kakinya langsung dibawa ke rumah sakit, tetapi keduanya minta rawat jalan dan pulang ke rumahnya. "Kami menyita sebuah sepeda motor Yamaha Xeon dan senjata airsoft gun, sebuah handphone milik tersangka," katanya.
Redaktur : Djibril Muhammad
Sumber : Antara

http://www.republika.co.id/berita/nasional/jawa-tengah-diy-nasional/13/06/08/mo2ppa1-penjambret-ditembak-mati-polisi-surakarta

Monday, 10 June 2013

Jambret Nenek, Pelaku Ditembak Polisi


  • Penulis :
  • Kontributor Surakarta, M Wismabrata
  • Sabtu, 8 Juni 2013 | 14:23 WIB
Pelaku jambret setelah ditembak kakinya oleh petugas, Sabtu (8/5/2013). | KOMPAS.COM/M Wismabrata
SOLO, KOMPAS.com — Seorang pria bernama Wawan Ardi (30), warga Pasar Kliwon Solo, ditembak polisi karena menjambret tas milik seorang nenek bernama Lit Wan (70), yang sedang berkendara bersama putrinya, Mutiara (39). Wawan ditembak paha kanannya saat mencoba melarikan diri bersama rekannya yang masih buron.
Menurut saksi mata, peristiwa penjambretan terjadi Sabtu (8/6/2013) sekitar pukul 11.45, saat korban melintas di Jalan Kusumo, Keprabon, Banjarsari, Solo. Di depan toko sepatu Sadinoe, mereka dipepet oleh pelaku yang mencoba merampas tas milik korban. Sempat terjadi perebutan tas karena korban mencoba mempertahankan tasnya sehingga pelaku jatuh. Pada saat yang bersamaan, petugas kepolisian melintas dan langsung mencoba menangkap pelaku.
Melihat polisi datang, pelaku mencoba lari dengan merebut sepeda motor milik korban, Honda Supra X dengan nomor polisi AD 6998 EK. Saat itu petugas sempat melakukan tembakan peringatan, tetapi pelaku justru melarikan diri sehingga polisi mengarahkan senjata ke kaki pelaku.
"Saat itu saya juga sedang lewat dan melihat pelaku dikejar polisi, lalu pelaku tersungkur setelah ditembak petugas," kata Sulardi (40), salah satu saksi mata.
Warga sekitar lokasi langsung berdatangan karena mendengar suara tembakan. Dari pengamatan Kompas.com, sepeda motor pelaku jenis Xion dengan nomor polisi ­­AD 6972 ZU, yang digunakan untuk menjambret, telah diamankan petugas. Selain itu, sebuah senjata api juga diamankan dari pelaku.
"Kami masih melakukan pengembangan dan mengejar pelaku yang buron," kata AKP Sunarto, Kanitreskrim Polsek Banjarsari, Solo.
Dua korban langsung dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan karena mengalami luka di bagian kaki. "Saya baru kerja, lalu ditelepon saudara kalau ibu dan kakak saya jadi korban jambret. Kondisinya masih shock dan mengalami luka di bagian kaki," kata Pambudi (34), anak korban.
Sementara Wawan, sang pelaku, hanya bisa mengerang kesakitan saat petugas Rumah Sakit Brayat Minulyo, Solo, merawat luka tembak di paha kanannya.
http://regional.kompas.com/read/2013/06/08/14233068/Jambret.Nenek..Pelaku.Ditembak.Polisi.

Sunday, 16 September 2012

Kondisi Polisi yang Tertembak Belum Pulih


image
TERBARING LEMAS: Kondisi kesehatan Bripka Endro Margiyanto (46), anggota polisi yang menjadi korban penembakan teroris di Pospam Gemblegan, Serangan, hingga kini, belum pulih. (suaramerdeka.com/Muhamad Nurhafid)
16 September 2012 | 15:35 wib
SOLO, suaramerdeka.com -Kondisi kesehatan Bripka Endro Margiyanto (46), anggota polisi yang menjadi korban penembakan terduga teroris di Pospam Gemblegan, Serangan, Jumat (17/8) lalu, belum pulih. Kendati telah diijinkan pulang dari RS
Kasih Ibu, namun dia masih tergolek lemas di kediamannya di Asrama Polisi Panularan, Jalan Moh Yamin, Serengan.
Hingga hari ini, Endro belum bisa berjalan walau sudah bisa berkomunikasi. Peluru menembus pingga kirinya hingga ke perut sebelah kanan dan mengenai saraf motorik. Akibatnya, salah satu kaki Endro hingga kini belum bisa digerakan normal, meski peluru yang menyarang di bagian perutnya telah dikeluarkan oleh tim dokter RS Kasih Ibu. Endro dirawat di RS Kasih ibu sesaat setelah ditembak hingga tanggal 9 September kemarin.
"Kesehatan saya sudah semakin membaik, tetapi belum bisa berjalan sendiri," terang Endro saat dijumpai sejumlah wartawan di tempat tinggalnya di Aspol Panularan, tadi pagi. Menurut dia, kaki kirinya masih lemah dan belum bisa untuk berjalan, kendati sudah bisa digerakkan. Untuk kaki kanannya tidak bermasalah. Tetapi, dia masih harus mendapat bantuan orang lain jika ingin ke kamar mandi atau duduk dan diwajibkan kontrol ke dokter untuk memulihkan fungsi kakinya tersebut.
Endro menceritakan, aksi penembakan di Pospam Gemblegan yang dilakukan dua terduga teroris Jumat (17/8) dini hari, dimana dia tengah berjaga dan bertugas mengatur arus mudik, berlangsung sangat cepat. Saat kejadian, dia baru saja dari kamar mandi di pos jaga Satpam BPR yang di belakang Pospam.
( Muhammad Nurhafid / CN32


http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2012/09/16/130070/Kondisi-Polisi-yang-Tertembak-Belum-Pulih

Tuesday, 4 September 2012

Penembakan Solo Meninggalkan Banyak Tanda Tanya


Selasa, 04 September 2012 | 06:01

Petugas memeriksa lokasi penembakan Pos Polisi Singosaren Plaza, Solo, Jawa Tengah. FOTO: ANTARA
Petugas memeriksa lokasi penembakan Pos Polisi Singosaren Plaza, Solo, Jawa Tengah. FOTO: ANTARA
Kota Solo dilanda ancaman teror berturut-turut.

Bulan Agustus lalu, Kota Solo dilanda ancaman teror berturut-turut. Tiga ancaman itu berawal ketika sejumlah orang tak dikenal menembaki Pos Pengamanan Lebaran di Serengan, Solo. Dua hari berselang, tepat malam takbiran lalu, Pos Pengamanan Lebaran di kawasan jalan Sudirman, Solo dilempari granat hingga menyebabkan dua orang polisi terluka.

Puncaknya, seorang polisi Bripka Dwi Data Subekti tewas ditembak dengan empat peluru bersarang di dada. Penembakan terjadi di Pos Polisi Matahari, Singosaren di Jl. Dr. Radjiman, Solo, Jawa Tengah, Kamis (30/8) malam, sekitar pukul 21.30. Di lokasi penembakan, polisi menemukan 5 selongsong peluru jenis FN kaliber 99 mm. 

Berawal dari ketiga aksi teror itu, pasukan Densus 88 Antiteror langsung turun tangan. Sehari kemudian, Sabtu (1/9), tepat menjelang tengah malam, Kota Solo kembali dikagetkan peristiwa adu tembak antara pasukan Densus dengan para pelaku teror di belakang Lotte Mart, Tipes, Solo. 

Dalam aksi adu tembak itu, Densus berhasil membekuk para pelaku. Sayangnya, seorang anggota Densus bernama Bripka Suherman tewas dalam baku tembak itu karena tertembak di bagian perut. Sebaliknya, dua teroris tewas ditembak dan satu terduga terduga teroris berhasil ditangkap hidup-hidup.

Ada Kejanggalan
Meski berhasil menangkap para pelaku yang selama ini diduga meneror polisi dan warga Solo, proses penyergapan Densus 88 di belakang Lotte Mart, Tipes, Solo dinilai penuh kejanggalan. Ada sejumlah pihak yang menuding proses itu hanyalah bentuk rekayasa pengalihan isu. Memang sejumlah aksi teror itu melanda Solo, ketika Wali Kota Jako Widodo tengah bersiap-siap bertarung dalam Pemilukada DKI Jakarta Putaran Dua. Tak sedikit pula, pihak yang menghubungkan maraknya aksi teror itu sebagai bentuk kegagalan Jokowi menjaga keamanan Solo.

Di luar aspek politik itu, Indonesia Police Watch (IPW) menyebut ada dua kejanggalan dalam penyergapan Densus di Solo tersebut. Kejanggalan pertama, pistol dari tertuduh teroris yang tewas ditembak adalah Bareta dengan tulisan Property Philipines National Police. Namun, Kapolresta Solo Kombes Asdjima'in sebelumnya menyebutkan senjata yang digunakan menembak polisi di pospam Lebaran jenis FN kaliber 99 mm.

"Apakah orang yang ditembak polisi itu benar-benar orang yang menembak polisi di Pospam Lebaran kota Solo atau ada pihak lain sebagai pelakunya?" kata Ketua IPW Neta S. Pane, beberapa waktu lalu.

Keganjilan kedua, anggota Densus 88 Bripda Suherman tewas akibat tertembak di bagian perut. Fakta ini menunjukkan anggota Densus dalam bertugas tidak sesuai dengan Standart Operating Procedure (SOP) yang harus memakai rompi anti peluru. "Apakah benar pada malam 31 Agustus itu ada operasi Densus. Jika ada kenapa anggota Densus bisa teledor, bertugas tidak sesuai SOP?" kritik Neta.

Terkait Internal Polisi
Sementara itu, Pengamat Teroris Noor Huda Ismail mengungkapkan aksi penembakan polisi di Solo ini terkait internal polisi. Dari informasi yang didapat Noor dari sumber internal kepolisian, pelaku penembakan dan pelemparan granat adalah bekas polisi berinisial NB. "N ditangkap di Kebumen, Jateng. Polisi sendiri hingga kini belum mengekspose pelaku tersebut," tuturnya. 

Noor juga menyesalkan adanya pembentukan opini aksi penembakan di Solo dilakukan Farhan dan Mukhsin, kedua terduga anggota teroris yang tewas dalam penggerebekan Densus 88. "Jadi bukan dua terduga teroris, Farhan dan Mukhsin yang ditembak mati anggota Densus 88," tandas dia.

Pemerintah Bantah Rekayasa
Adanya suara-suara dugaan rekayasa ini membuat pemerintah bersuara keras. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mba membantah tegas peristiwa di Solo tersebut adalah rekayasa pemerintah. "Terlalu kejam, fitnah (itu) rekayasa. Polisi sudah tewas gitu masih rekayasa. Bagaimana sih kalian otaknya?" kata dia, ketika ditemui di Istana Negara, Senin (3/9).

Sebaliknya, Ansyaad menyatakan dengan tegas aksi teror di Solo itu dilakukan kelompok Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) pimpinan Abu Bakar Baasyir. Ditambahkannya, aparat sudah berhasil memetakan pola pendanaan aksi mereka, yang berasal dari hasil meretas situs, MLM online, speed cash online dan juga merampok. "Dana dari langit pun kalau ada, mereka ambil," tegas purnawirawan jenderal bintang dua kepolisian ini.

Berhubungan Dengan Jaringan Moro
Terkait jenis pistol Pietro Bareta buatan Italia, dengan tulisan Property Philippines National Police yang ditemukan di lokasi penyergapan berbeda dengan selonsong peluru di lokasi penembakan Bripka Dwi Data Subekti (FN kaliber 99 mm), Ansyaad justru mengatakan salah satu tersangka teroris yang tewas terbunuh, Farhan, adalah juga sosok yang membawa senjata dari Filipina ke Indonesia.

Menurut Ansyaad, Farhan termasuk kelompok darah biru dalam organisasi teroris, anak dari Suhartono, yang pernah mencoba membunuh Matori Abdul Jalil pada tahun 1999. Suhartono sendiri meninggal dihakimi oleh tukang ojek.

Ibunda Farhan juga diketahui menikah lagi dengan Abu Umar yang ditangkap tahun lalu. "Farhan ini yang membawa senjata dari Filipina ke Indonesia, sama si Abu Umar itu," tandas dia. 

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Letjen Marciano Norman mengungkapkan jaringan teroris di Solo itu memiliki keterkaitan erat dengan wilayah Moro di Filipina bagian selatan. "Ini ada kaitannya dengan Moro. Memang, Abu Umar pernah memasukkan senjata dari Filipina. Kita sedang mengembangkan dan melihat link-nya dengan Islam garis keras yang ada di negara tetangga," tandas dia.

http://www.beritasatu.com/hukum/69608-penembakan-solo-meninggalkan-banyak-tanda-tanya.html

Terduga Teroris Muchsin Suka Bantu Ibu Tiri Mencuci Piring


Muchsin
Senin, 03/09/2012 17:43 WIB
Jakarta Terduga teroris Muchsin (19) yang tewas ditembak mati di Solo, berperilaku baik terhadap ibu tirinya, Ziny Hasanah (41). Bahkan Muchsin suka membantu ibu tirinya mencuci piring.

"Anaknya baik sih. Suka membantu mencuci piring, ringan tangan begitu," kenang Ziny, di kediaman ayah Muchsin, Gang Haji Latif, Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (3/9/2012).

Ziny tidak menyangka anak tirinya tersebut bisa terjerumus dalam aksi terorisme. Apalagi usia Muchsin masih terbilang muda.

"Tidak menyangka banget soalnya anaknya sopan," kata Ziny.

Ziny terakhir bertemu Muchsin pada Lebaran bulan Agustus 2012. Muchsin bahkan ikut renang bersama keluarga.

Di tempat yang sama, Muslimin, ayah kandung Muchsin membenarkan terduga teroris yang tewas di Solo merupakan anaknya. Namun dia tidak menyangka jika anaknya merupakan teroris.

"Dia ramah, suka bercanda. Makanya saya nggak begitu yakin yang diduga teroris adalah anak saya," kata Muslimin.

Muslimin membenarkan Muchsin pernah menuntut ilmu di Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Sukoharjo. Muchsin mondok di pesantren itu selama 4 tahun. 

Pertemuan terakhir Muslimin dengan Muchsin terjadi pada 26 Agustus lalu. Setelah itu Muchsin pamit pulang ke Solo.

"Dia mau menyiapkan ternak ikan untuk usaha," ucap Muslimin.

Muchsin bersama rekannya Farhan ditembak mati Densus 88 di Solo pada Jumat (31/8). Jasad keduanya kini berada di RS Polri Kramat Jati menunggu hasil autopsi.

(nik/nrl) 



http://news.detik.com/read/2012/09/03/174356/2006704/10/terduga-teroris-muchsin-suka-bantu-ibu-tiri-mencuci-piring

Polisi di Solo Ditembak Aparat Keamanan


Pertanyaannya, siapa yang berani menembak polisi dari jarak dekat? Tak lain adalah orang-orang terlatih dan orang-orang yang sudah terbiasa berada di lingkungan aparat keamanan. IPW menilai, antara penembakan polisi di Solo dan penyergapan polisi di Solo adalah dua hal yang berbeda.

Reporter : Alan Jhon (alan@gresnews.com) 
Editor : Dudi Sabil Iskandar (dudi.iskandar@gresnews.com) 
Selasa, 04 September 2012








    Pola penyerangan yang dilakukan pihak tertentu terhadap polisi di lapangan perlu dicermati Polri secara jernih agar polisi di lapisan bawah tidak menjadi korban. Penembakan polisi di Solo tidak dilakukan teroris seperti yang diklaim polisi, sebab banyak hal sangat berbeda dan sangat signifikan.

    Hal tersebut dikatakan Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane, dalam rilis yang diterima gresnews.com, (4/9). "Pelaku menembak polisi dengan jarak dekat dengan senjata yang menurut polisi adalah FN. Fakta yang ada selama ini, teroris selalu menyerang targetnya dengan jarak jauh memakai remot kontrol atau telepon seluler. Kalau pun ada serangan jarak dekat, hanya aksi bom bunuh diri," jelas Neta. 

    Menurutnya, perbedaan ini sangat signifikan. Pertanyaannya, siapa yang berani menembak polisi dari jarak dekat? Tak lain adalah orang-orang terlatih dan orang-orang yang sudah terbiasa berada di lingkungan aparat keamanan. IPW menilai, antara penembakan polisi di Solo dan penyergapan polisi di Solo adalah dua hal yang berbeda.

    Target penembakan terhadap polisi, sambungnya karena dua hal. Pertama, akumulasi kekesalan terhadap sikap, perilaku dan kinerja polisi. Kedua, memperburuk citra Polri agar terjadi krisis kepercayaan pada Polri sehingga muncul opini, untuk melindungi dirinya saja Polri tidak mampu, bagaimana pula untuk melindungi masyarakat.

    "Opini ini penting untuk mengegolkan RUU Keamanan Nasional. Esensi keberadaan RUU Kamnas adalah mengkebiri dan mengkerdilkan peran Polri dalam sistem keamanan di negeri ini," tambah Neta.

    IPW berharap, Polri tidak terjebak dengan stigma ala Orde Baru, yakni jika terjadi masalah langsung main tuding PKI dan komunis. Kini stigmanya diubah, jika terjadi masalah langsung main tuding, teroris dan Islam radikal.
    KOMENTAR
    http://www.gresnews.com/berita/politik/132049-polisi-di-solo-ditembak-aparat-keamanan?utm_source=twitterfeed&utm_medium=twitter

    Monday, 3 September 2012

    Polri Persilakan Keluarga Terduga Teroris Melapor



    KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA
    Aparat keamanan memeriksa lokasi penyergapan terhadap terduga pelaku penembakan polisi di Jalan Veteran, Kota Solo, Jawa Tengah, Jumat (31/8) malam. Terduga pelaku teror tersebut ditembak sekitar pukul 21.30. Hingga saat ini kasus tersebut masih ditangani secara intensif oleh pihak kepolisian.

    JAKARTA, KOMPAS.com - Kepolisian mempersilakan keluarga terduga teroris Solo, Bayu, yang merasa mendapatkan penganiayaan saat penggerebekan oleh tim Detasemen khusus (Densus) 88 Antiteror untuk melapor. Polri siap jika dilaporkan untuk dibawa ke ranah hukum.

    "Kalau ada keluarga yang merasa keberatan, kami siap untuk menerima laporan itu," ujar Kepala Bagian Penerangan Umum Komisaris Besar Agus Rianto, Senin (3/9/2012).

    Menurut Agus, pemukulan terhadap Wiji Siswo Suwito, mertua terduga teroris Bayu, itu di luar perkiraan anggota Densus 88 Antiteror saat melakukan penggerebekan. Wiji diperkirakan tidak terima saat Anggota Densus melakukan penggerebekan di rumahnya. Hal yang tak diinginkan petugas pun terjadi.

    "Adakalanya saat kita melakukan upaya paksa, ada pihak-pihak yang tidak menyetujui. Akhirnya melakukan perlawanan, berusaha mencegah, atau menghalang-halangi," ujarnya.

    Hal senada dikatakan Kepala Bareskrim Polri Komisaris Jenderal Sutarman. Menurutnya, Wiji mencoba menghalang-halangi tim Densus 88 Anti Teror ketika hendak menangkap Bayu.

    "Orangtua Bayu ini menghalang-halangi. Mungkin terpukulnya tidak sengaja," kata Sutarman di sela-sela rapat kerja dengan Komisi III, di Gedung Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin.

    Sutarman mengatakan, petugas di lapangan harus bertindak cepat ketika melakukan operasi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Tindakan cepat itu, kata dia, kemungkinan mengakibatkan pemukulan terhadap Wiji.

    Seperti diberitakan, Bayu tertangkap dalam keadaan hidup di kediaman Wiji di Desa Bulurejo, Kecamatan Gondangrejo, di Karanganyar, Jawa Tengah, Jumat (31/8/2012) malam. Berbeda dengan dua terduga lainnya, Farhan dan Mukhsin yang tewas dalam pernyergapan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror di Jl Veteran, Solo, pada hari yang sama.

    Saat baku tembak tersebut, seorang anggota Densus bernama Briptu (Anm) Suherman juga tewas. Menurut Kepolisian, Bayu terlibat dalam tiga penyerangan aparat kepolisian di Solo. Ia juga bertugas membeli pelat nomor palsu untuk kendaraan roda dua yang digunakan dalam aksi penembakan di Pos Pengamanan dan Pos Polisi di Solo.
    Editor :
    Inggried Dwi Wedhaswary

    http://nasional.kompas.com/read/2012/09/03/17132432/Polri.Persilakan.Keluarga.Terduga.Teroris.Melapor

    Polisi Tes DNA Dua Terduga Teroris

    Polhukam | Senin, 3 September 2012 16:43 WIB

    Metrotvnews.com, Jakarta: Jenazah dua terduga teroris yang tewas ditembak Densus 88 Antiteror dalam penyergapan di Solo, Jawa Tengah, Jumat pekan lalu, telah menjalani tes deoxyribonucleic acid (DNA). Tes dilakukan di Rumah Sakit Polri Kramatjati, Jakarta Timur, untuk memastikan identitas keduanya.

    "DNA sudah dilakukan sejak kemarin. Sementara satu keluarga korban sudah diambil sample, keluarga FN (Farhan). Membutuhkan waktu 2-3 hari," kata Kepala Bagian Penerangan Umum Komisaris Besar Polisi Agus Riyanto di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (3/9).

    Sebelumnya, Kabiro Penerangan Masyarakat Brigadir Jenderal Polisi Boy Rafli Amar mengatakan pihaknya tinggal menunggu sampel dari keluarga Mukhsin. Bila tes keduanya DNA selesai dilakukan, jenazah akan diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan.

    Seperti diberitakan, Densus 88 menyergap tiga terduga teroris di Jalan Veteran, Solo, Jumat pekan lalu. Dua terduga teroris, Farhan dan Muksin, tewas dalam penyergapan tersebut. Sementara Bayu ditangkap di kediaman mertuanya di Karanganyar.

    Kapolri Jenderal Timur Pradopo dalam keterangan pers di Polres Surakarta, Sabtu pekan lalu, mengatakan, ketiga orang tersebut adalah pelaku teror yang terjadi di Solo selama Agustus 2012. Terjadi tiga kali penyerangan dalam kurun waktu tersebut.

    Pertama, penembakan terjadi di Pos Pengamanan Lebaran Simpang Gemblengan pada 17 Agustus 2012. Kemudian di Pos Pengamanan Bundaran Gladak, Jalan Jenderal Sudirman, esok harinya. Dua polisi mengalami luka tembak dalam kejadian tersebut.

    Penyerangan kembali terjadi di Pos Polisi Singosaren, Jalan Rajiman, Serengan, Solo, 20 Agustus. Seorang anggota polisi Bripka Dwi Data Subekti tewas. Polri menyatakan kelompok ini merupakan jaringan Filipina yang bergabung dengan kelompok Abu Sayyaf di Mindano, Filipina.(IKA)


    http://www.metrotvnews.com/metromain/news/2012/09/03/104465/Polisi-Tes-DNA-Dua-Terduga-Teroris

    Sunday, 2 September 2012

    Pelaku Teror Solo Didor Polisi, Ini Kronologisnya


    Pelaku Teror Solo Didor Polisi, Ini Kronologisnya



    Sabtu, 01 September 2012, 10:51 WIB

    JAKARTA -- Dua pelaku teror penembakan anggota polisi dan pelemparan granat di pos polisi di wilayah Surakarta, Jawa Tengah akhirnya tewas ditembak polisi, Jumat (31/8).


    Petugas Puslabfor Polda Jateng memeriksa tempat kejadian perkara penembakan di Pos Pengamanan Lebaran Polresta Surakarta di Gemblegan, Solo, Jateng, Jumat (17/8).

    Kejadian berawal dari baku tembak antara dua orang pelaku teror dengan anggota satuan tugas khusus antiteror Densus 88 di samping pusat perbelanjaan Lottemart di Jalan Veteran, Surakarta sekitar pukul 21.30. Sebelumnya saat akan ditangkap terjadi pergumulan di antara mereka. 

    Namun, menurut Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Polisi Anang Iskandar tersangka mencabut senjata api lalu menembak anggota Densus 88 Bripda Suherman. "Dua tersangka meninggal dunia di tempat, yaitu Farhan dan Mukhsin," katanya melalui pesan singkat kepada Republika, Sabtu (1/9). 

    Sedangkan Suherman meninggal dunia sesampainya di rumah sakit. Barang bukti yang disita polisi adalah satu pucuk pistol pietro bareta buatan Italia yang bertuliskan PNP Property Philipines National Police, tiga buah magazin, 43 peluru kaliber sembilan milimeter Luger dan sembilan holopoint CBC. 

    Sebelum Lebaran, Jumat (17/8), Pos Pengamanan Gemblegan di Pospam Lebaran di Jalan Brigjen Sudiarto Solo diserang sekitar pukul 01.00 WIB. Orang tidak dikenal menembaki pos tersebut. Akibatnya dua petugas jaga, Bripka Endro Margiyanto dan Brigadir Kukuh Budiyanto mengalami luka-luka. Di depan depan pospam, petugas menemukan sembilan selongsong peluru dan enam proyektil.

    Hanya berselang satu hari setelah penembakan, terjadi ledakan di Pospam Gladak Jalan Jenderal Sudirman, Solo. Ledakan yang diduga berasal dari granat terjadi sekitar pukul 23.32, Sabtu (18/8). Granat dilempar oleh orang tidak dikenal yang berboncengan sepeda motor. Tidak ada korban dalam peristiwa tersebut. 

    REPUBLIKA.CO.ID,

    Redaktur: Ajeng Ritzki Pitakasar

    Reporter: Ani Nursalikah


    http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/09/01/m9nk21-pelaku-teror-solo-didor-polisi-ini-kronologisnya

    Penyergapan Teroris Solo Dianggap Janggal



    KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA

    Penulis : Dian Maharani | Minggu, 2 September 2012 | 10:37 WIB

    Aparat keamanan memeriksa lokasi penyergapan terhadap terduga pelaku penembakan polisi di Jalan Veteran, Kota Solo, Jawa Tengah, Jumat (31/8/2012) malam. Terduga pelaku teror tersebut ditembak sekitar pukul 21.30. Hingga saat ini kasus tersebut masih ditangani secara intensif oleh pihak kepolisian.
    JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesian Police Watch (IPW) menganggap janggal peristiwa penggerebekan kelompok teroris di Solo yang dilakukan Densus 88. Menurut Ketua Presidium IPW, Neta S Pane, ada tiga kejanggalan dalam penggerebekan yang terjadi pada Jumat (31/8/2012) malam itu.

    Kejanggalan pertama, kata Neta, pistol yang disita dari tertuduh teroris yang terbunuh adalah jenis Bareta dengan tulisan 'Property Philipines National Police'. Padahal, sebelumnya Kapolresta Solo Kombes Asdjima'in menyebutkan senjata yang digunakan menembak polisi di Pos Pengamanan (Pospam) Lebaran adalah jenis FN kaliber .99 milimeter (mm).

    "Pertanyaannya apakah orang yang ditembak polisi itu, benar-benar orang yang menembak polisi di Pospam Lebaran atau ada pihak lain sebagai pelakunya," kata Neta dalam keterangan tertulisnya, Minggu (2/9/2012).

    Kedua, ia menambahkan, Bripda (sekarang Briptu) Suherman, anggota Densus 88 tewas akibat tertembak di bagian perut. "Ini menunjukkan anggota Densus 88 dalam bertugas yang bersangkutan tidak sesuai dengan Standard Operational Procedure (SOP) yang harus memakai rompi anti peluru," katanya.

    Pertanyaannya apakah benar pada 31 Agustus 2012 malam itu, ada operasi Densus 88. "Jika ada kenapa anggota Densus 88 bisa teledor bertugas tidak sesuai SOP," tanyanya.

    Ketiga, beberapa jam setelah penyergapan itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan Kapolri segera meninjau tempat kejadian perkara (TKP).

    "Padahal dalam peristiwa-peristiwa sebelumnya, hal itu tidak pernah terjadi, bahkan saat tiga kali penyerangan terhadap Pospam Lebaran itu, Presiden tidak bersikap seperti itu," tuturnya.

    Pertanyaannya, lanjut dia, apakah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ingin membangun citra dan menarik simpati publik dari peristiwa Solo yang terjadi sebelumnya yang sempat memojokkan Joko Widodo, Wali Kota Solo yang saat ini menjadi Calon Gubernur DKI Jakarta.

    Karena itu, IPW menganalisa meski Densus 88 sudah melakukan penyergapan di Solo tapi teror dan penembahkan terhadap polisi tetap menjadi ancaman.

    "Sebab rasa kesal sebagai masyarakat terhadap polisi kian memuncak," cetusnya.

    Selama lima bulan pertama pada 2012, terdapat 11 polisi yang dikeroyok masyarakat.

    "Untuk itu, IPW mengimbau Polri agar mengubah sikap, perilaku dan kinerjanya. Jangan arogan, represif, memeras dan memungli masyarakat," ujarnya, sambil menambahkan bahwa Polri harus bekerja secara profesional dan proporsional.

    Editor :
    Ana Shofiana Syatiri


    http://nasional.kompas.com/read/2012/09/02/10374396/Penyergapan.Teroris.Solo.Dianggap.Janggal#komentar