Showing posts with label densus. Show all posts
Showing posts with label densus. Show all posts

Friday, 10 May 2013

Satu Terduga Teroris Juga Ditembak Mati di Batang


INILAH.COM, Jakarta- Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Boy Rafli Amar membenarkan Densus 88 Polri menembak mati satu terduga teroris dalam penggerebekan di Desa Limpung Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Rabu sekitar pukul 15.00 WIB.

"Telah dilakukan penangkapan-penangkapan tersangka teroris yang bernama Abu Roban alias Untung alias Bambang Nangka dan Sugiyanto," kata Boy melalui pesan singkatnya.

Menurutnya, Abu Roban terpaksa ditembak mati karena mencoba melawan petugas saat penggerebekan berlangsung. "Pada saat tersangka akan dilakukan penangkapan, tersangka Abu Roban mencoba mencabut senjata sehingga ditembak oleh anggota terlebih dahulu, tersangka Abu meninggal dunia," imbuhnya.

Abu Roban, lanjut Boy merupakan pimpinan halaqoh (pengajian) Ciledug kelompok jaringan teroris Abu Umar. Baik Abu Roban dan Sugiyanto juga terlibat dalam perampokan toko emas 'Terus Jaya' di kawasan Tambora, Jakarta Barat.

Selain itu keduanya juga terlibat perampokan Kantor Bank BRI Cabang Reban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah pada Januari 2013 lalu. "Barang bukti senpi jenis pistol FN milik abu roban dengan 8 butir peluru." [tjs]

http://nasional.inilah.com/read/detail/1987204/satu-terduga-teroris-juga-ditembak-mati-di-batang#.UYz_j-BMGZY

Monday, 3 September 2012

Ex-Antiterror Chief Set to Be New Papua Police Chief

The former head of Indonesia's elite anti-terrorism unit is set to become the new Papua Police chief, according to a copy of the decision letter obtained by the Jakarta Globe. 

Brig. Gen. Tito Karnavian, 47, was head of Densus 88 from 2004 until last year, when he was appointed deputy chief of the recently formed National Counterterrorism Agency (BNPT). Under his watch, Densus 88 was able to arrest or kill several key members of the Al-Qaeda-linked terrorist organization Jemaah Islamiyah, including Noordin M. Top and Azhari. 

Tito is replacing Insp. Gen. Bigman Lumban Tobing, who critics say has failed to secure Papua, which has seen increasing violence since late last year. 

The decision letter was dated Sept. 3, 2012. The official handover ceremony is usually held one week after the decision letter is signed. 

Rumors that Tito was being considered for the Papua post have been circulating since June in response to the escalating conflict in the restive region. 

Indonesia Police Watch chairman Neta S. Pane has previously voiced opposition to the move, saying the police should choose someone who could consolidate the security apparatus in Papua and engage the citizenry in dialogue, not clamp down with increasingly harsh force. 

“We strongly reject the efforts of the National Police to deploy Densus 88 in Papua because the problem in Papua is not terrorism but prolonged socioeconomic gaps,” Neta said in June. 

Police have said the violence in Papua was the work of the separatist Papua Free Organization (OPM). On Sunday, Papua Police successfully arrested 22 OPM members, including its leader Daniel Kogoya, who is said to have claimed responsibility for several spouts of violence and shooting incidents in the past year. 

Densus 88, frequently criticized by human rights organization for its harsh treatment of terrorism suspects, has been involved in a number of crackdowns against separatists in Papua and Maluku, with officers saying their participation was justified because the nation’s Law on Terrorism categorizes armed insurgence as an act of terrorism. 

In August last year, counterterrorism officers were deployed in Papua after four people were killed in an ambush by suspected armed separatists in Nafri village, on the outskirts of Jayapura. 

Last week, the Australian Broadcasting Corporation ran a story on Papuans testifying that Densus 88, which is trained and supplied by the Australian government, was involved in the June killing of Mako Tabuni, then-chairman of the pro-independence West Papua National Committee (KNPB).http://www.thejakartaglobe.com/lawandorder/ex-antiterror-chief-set-to-be-new-papua-police-chief/542004

Polisi Tes DNA Dua Terduga Teroris

Polhukam | Senin, 3 September 2012 16:43 WIB

Metrotvnews.com, Jakarta: Jenazah dua terduga teroris yang tewas ditembak Densus 88 Antiteror dalam penyergapan di Solo, Jawa Tengah, Jumat pekan lalu, telah menjalani tes deoxyribonucleic acid (DNA). Tes dilakukan di Rumah Sakit Polri Kramatjati, Jakarta Timur, untuk memastikan identitas keduanya.

"DNA sudah dilakukan sejak kemarin. Sementara satu keluarga korban sudah diambil sample, keluarga FN (Farhan). Membutuhkan waktu 2-3 hari," kata Kepala Bagian Penerangan Umum Komisaris Besar Polisi Agus Riyanto di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (3/9).

Sebelumnya, Kabiro Penerangan Masyarakat Brigadir Jenderal Polisi Boy Rafli Amar mengatakan pihaknya tinggal menunggu sampel dari keluarga Mukhsin. Bila tes keduanya DNA selesai dilakukan, jenazah akan diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan.

Seperti diberitakan, Densus 88 menyergap tiga terduga teroris di Jalan Veteran, Solo, Jumat pekan lalu. Dua terduga teroris, Farhan dan Muksin, tewas dalam penyergapan tersebut. Sementara Bayu ditangkap di kediaman mertuanya di Karanganyar.

Kapolri Jenderal Timur Pradopo dalam keterangan pers di Polres Surakarta, Sabtu pekan lalu, mengatakan, ketiga orang tersebut adalah pelaku teror yang terjadi di Solo selama Agustus 2012. Terjadi tiga kali penyerangan dalam kurun waktu tersebut.

Pertama, penembakan terjadi di Pos Pengamanan Lebaran Simpang Gemblengan pada 17 Agustus 2012. Kemudian di Pos Pengamanan Bundaran Gladak, Jalan Jenderal Sudirman, esok harinya. Dua polisi mengalami luka tembak dalam kejadian tersebut.

Penyerangan kembali terjadi di Pos Polisi Singosaren, Jalan Rajiman, Serengan, Solo, 20 Agustus. Seorang anggota polisi Bripka Dwi Data Subekti tewas. Polri menyatakan kelompok ini merupakan jaringan Filipina yang bergabung dengan kelompok Abu Sayyaf di Mindano, Filipina.(IKA)


http://www.metrotvnews.com/metromain/news/2012/09/03/104465/Polisi-Tes-DNA-Dua-Terduga-Teroris

Sunday, 2 September 2012

Terduga teroris ditembak mati karena melawan


Slamet Riadi - Sindonews

Minggu,  2 September 2012  −  17:00 WIB
dok.Okezone
dok.Okezone
Sindonews.com - Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror terpaksa menembak mati dua terduga teroris karena saat disergap keduanya melakukan perlawanan.

Bahkan, kedua terduga teroris yakni Muksin (19) dan Farhan (19) melepaskan tembakan lebih dahulu ke arah petugas.

"Target kami pasti bisa menangkap hidup-hidup. Mereka ditembak karena perlawananya sudah membahayakan anggota di lapangan," tegas Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri, Brigjen Pol Boy Rafli Amar kepada Sindonews, Minggu (2/92012). 

Menurut Boy, terduga teroris Farhan justru orang yang pertama kali melakukan perawanan dengan menembak jarak dekat ke arah petugas. Sehingga, dalam upaya penangkapan itu salah seorang anggota Densus tewas di tangan  terduga teroris.

Dijelaskan  Boy, terduga teroris yang tewas sebanyak dua orang, sedangkan Bayu Setiawan (22) hanya dilumpuhkan. Bayu saat ini dalam pemeriksaan intensif pihak kepolisian. "Mereka, termasuk Bayu yang berhasil kami ringkus ini sama-sama satu komplotan," tegas Boy. 

Sebelumnya, terjadi baku tembak di Jalan Veteran Solo, Jumat 31 Agustus 2012 sekitar pukul 21.30 WIB. Tiga orang tewas, dua diduga pelaku teror Solo, satu petugas Densus 88 Bripda Suherman. Satu pelaku lain yang masih hidup, diamankan kepolisian. 

http://nasional.sindonews.com/read/2012/09/02/14/669287/terduga-teroris-ditembak-mati-karena-melawan?utm_source=twitterfeed&utm_medium=twitter

Thursday, 29 March 2012

Perampok CIMB Medan Ditembak Mati di Bali

Polisi berjaga-jaga di gerbang pintu masuk TKP, jalan danau Poso 99 X, Sanur, Denpasar, sementara polisi lainnya di dalam






MIFTAHUDDIN/RADAR BALI
Polisi berjaga-jaga di gerbang pintu masuk TKP, jalan danau Poso 99 X, Sanur, Denpasar, sementara polisi lainnya di dalam
DENPASAR-Buronan perampokan CIMB Medan berhasil ditembak mati di Bali. Tercatat lima pelaku teror tewas di tempat tadi malam setelah baku tembak dengan Densus 88 di dua lokasi berbeda di Denpasar.
Mabes Polri mengumumkan penyergapan terhadap sejumlah pelaku yang diduga terkait jaringan teroris di Bali. “Telah dilumpuhkan 5 pelaku kejahatan,” kata Kabag Penum Mabes Polri Kombes Pol Boy Rafli Amar dalam siaran pers, Minggu (18/3).
Penyergapan terhadap pelaku jaringan teror itu dilakukan di dua lokasi. Penyergapan dilakukan tadi malam. “Lokasi pertama di Jl Gunung Sapotan, Denpasar dan lokasi kedua di Jl Danau Poso, Sanur, Denpasar,” jelas Boy.
5 Pelaku yang tewas dikabarkan ada yang buronan perampokan CIMB Niaga Medan beberapa waktu lalu. Adalah HN (32) asal Bandung, pelaku yang dimaksud. Bersama HN, ada AG (30) warga Jimbaran yang disergap di kawasan Gunung Soputan. 3 Orang lainnya yakni UH alias Kapten, Dd (27) asal Bandung, dan M alias Abu Hanif (30) asal Makasar mereka disergap di kawasan Jl Danau Poso. “Para pelaku adalah kelompok gabungan terkait DPO CIMB Niaga di Medan. Semua tersangka meninggal dunia pada saat dilakukan penangkapan karena melakukan perlawanan dengan senjata api pistol,” terangnya.
Dari para pelaku, polisi menyita dua pucuk senjata api jenis FN. Satu pucuk ditemukan di TKP Saputan dan satu lainnya di Danau Poso. Selain itu, disita pula satu magasen, 48 butir peluru caliber 9 mm, dan cebo penutup wajah. “Para pelaku telah dipantau dalam sebulan terakhir,” papar Boy.
Mereka diduga hendak melakukan serangkaian aksi kriminal di Pulau Dewata itu. “5 pelaku kejahatan akan melakukan aksi teror dan perampokan money changer juga toko emas di beberapa tempat di Bali,” jelas Boy Rafli.
“Para pelaku telah diikuti, mereka melakukan survey beberapa tempat antara lain Toko Mas Uluwatu, Bali money changer, dan cafe Lavida Loca. Semua tersangka meninggal dunia,” tambah Boy.
Setelah menembak mati 3 teroris di Sanur, Densus 88 Antiteror menembak mati dua teroris lagi di Jl Gunung Soputan, Denpasar. Di TKP penembakan terdapat ceceran darah. Menurut saksi mata, ditembak mati dua orang teroris di Jl soputan No 2 Banjar Abiantumbul Denpasar, pukul 21.30 WITA, Minggu (18/3). Kronologis penembakan, awalnya ada orang jalan dari lampu merah. Setelah berupaya lari ditembak di depan bengkel oleh Densus 88 Antiteror. Terdapat ceceran darah dan bekas ditarik dibawa ke mobil. Peristiwa terjadi sangat cepat, kurang dari 5 menit.
TKP sudah ditutup dengan police line. Brimob menjaga ketat lokasi penembakan. Penembakan dilakukan oleh puluhan anggota Densus Mabes Polri yang melakukan penggerebekan TKP. Puluhan Brimob, Polsek Denpasar Selatan melakukan penjagaan ketat TKP.
Puluhan warga Sanur juga memadati TKP. Mereka ikut menjaga lokasi dan memeriksa setiap orang yang melintas di kawasan ini “Setiap orang ditanya oleh warga. Di cek KTPnya,” kata seorang warga yang sengaja melihat TKP.
Informasi yang berhasil dihimpun Radar Bali (grup Sumut Pos), saat penyergapan pelaku di kawasan Jalan Danau Poso 99X, Sanur, itu, sempat terjadi balasan tembakan. “Saya sempat melihat adegan penembakan itu dari kejauhan,” papar Ketut Ariawan, sopir taksi Blue Bird, bernomor DK 185 IA semalam, seusai kejadian.
Menurutnya, kejadian berlangsung dengan sangat cepat. Petugas yang sudah bersiaga melakukan penyergapan di bungalow yang masuk kawasan abu-abu itu menghujani tembakan dan dibalas. “Kayaknya, ada juga petugas yang kena,” ujarnya.
Yang jelas, baku tembak itu berlangsung dalam rentetan tembakan. “Mereka tiadak diam saja saat diserbu, tapi membalas,” terang Ariawan, perihal adegan baku tembak yang menyebabkan mereka roboh.
“Saya di lokasi di Danau Poso. Di sini tertembak tiga orang. di Jalan Gunung Soputan dua orang, informasi ini valid dari pihak polisi,” ujar Ketua Komisi I DPRD Bali Made Arjaya yang tadi malam berada di lokasi di Jalan Danau Poso.
Arjaya mengatakan, dia mampu masuk ke dalam untuk melihat proses pengangkutan mayat yang diduga teroris tersebut. “Saya masih di dalam, masih sedang bicara. Sebentar lagi saya telepon ya,” ungkap Arjaya sambil mematikan telepon.
Sementara itu, Kelian Banjar Adat Belanjong Wayan Sabra mengatakan sekitar pukul 21.00 ada tiga kali tembakan yang terdengar. “Kami awalnya tidak tahu ada penyergapan, yang kabarnya teroriris. Setelah ada tembakan tiga kali baru saya ke sini (Jalan Danau Poso). Suaranya keras tiga kali..tar..tar..tar, berturut-turut,” ujar Sabra.
Dia mengatakan setelah ada tembakan, situasi ramai. Bahkan polisi juga sangat ramai, dengan jumlah hampir seratus orang. Dia mengatakan beragam polisi, mulai Gegana, Tim Forensik sudah masuk ke penginapan dan kos-kosan milik Pak Losen.
Namun Sabra mengaku tidak bisa masuk, lantaran masih proses steril kawasan penginapan Pak Losen itu. “Yang punya namanya Pak Losen, tempat itu penginapan dan kos-kosan,” ungkap Sabra. (art/pra/dwi/wan/jpnn)
http://www.hariansumutpos.com/2012/03/29183/perampok-cimb-medan-ditembak-mati-di-bali.htm

Sunday, 18 March 2012

Lima teroris ditembak mati di Bali


Terbaru  19 Maret 2012 - 08:47 WIB
densus 88
Polisi melakukan penggerebekan setelah selama sebulan memantau pergerakan di Bali.
Pasukan anti teror Densus 88 melumpuhkan lima pelaku kejahatan yang disebut akan melakukan aksi teror di Bali.

Lokasi pertama penembakan berlangsung di Jl. Gunung Sapotan Denpasar dengan tersangka HN, yang selama ini juga masuk dalam daftar buruan polisi karena terlibat perampokan Bank CIMB Medan. HN berusia 32 tahun diketahui berasal dari Bandung.Dalam siaran pers yang diterima BBC, Markas Besar Kepolisian Indonesia menyebutkan lima orang tersebut ditembak mati saat akan melakukan aksi teror dan perampokan money changer juga toko emas di beberapa tempat di Bali.
Tersangka kedua dengan inisial AG berusia 30 tahun tinggal di Jimbaran.
Sementara di lokasi penembakan kedua di Jl. Danau Poso, Sanur, polisi menembak mati UH alias kapten, DD 27 tahun asal Bandung Jawa barat dan M alias Abu Hanif, 30 tahun asal Makassar.
Polisi menyatakan aksi baku tembak tidak dapat dihindari karena para pelaku melakukan perlawanan dengan senjata api.

Sebulan dipantau

Aksi lima orang ini menurut polisi telah terendus setelah diikuti melakukan survey di beberapa tempat, antara lain toko Mas uluwatu, Bali money changer, Dan Cafe Lavida Loca.
Saat ditangkap para pelaku juga berencana melakukan perampokan di PT Bali Money Changer Jl Sriwijaya Kuta dan Toko emas Jl Uluwatu, Jimbaran.
Mereka disebut polisi tengah mengumpulkan dana untuk pembiayaan aksi teror selanjutnya.
Polisi menyebut lima pelaku ini telah dipantau polisi dalam satu bulan terakhir.
Para pelaku adalah kelompok gabungan yang masuk dalam daftar pencarian orang yang terlibat dalam perampokan CIMB Medan, yang juga menggelar pelatihan militer di Aceh dan Solo, Jawa Tengah.
Polisi menemukan sejumlah barang bukti dalam aksi kali ini yaitu dua pucuk senjata api jenis FN (satu dari tersangka di Sapotan dan satu lainnya dari tersangka di Jl. Danau Poso), dua magazine dan 48 butir peluru kaliber 9 mm.
Polisi menduga lima orang tersebut berencana melakukan aksi terorisme saat perayaan Hari Nyepi di Bali, Kamis (22/03/2012).
Bali pernah mengalami dua kali serangkaian teror bom pada tanggal 12 Oktober 2002 yang menewaskan 202 orang dan 1 Oktober 2005 dengan sedikitnya 23 orang tewas.

http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2012/03/120319_baliteroris.shtml

Friday, 5 August 2011

Polri: Banyak Teroris Tidak Ditembak Mati

Kamis, 04/08/2011 11:05 WIB

Jakarta - Polri dikritik karena dinilai sering menembak mati terduga pelaku tindak terorisme. Sebaliknya Polri menyatakan bahwa tidak semua terduga oris ditangkap dalam keadaan mati oleh Densus 88.

"Banyak juga yang tidak kita tembak mati," ujar Kadivhumas Mabes Polri, Irjen Anton Bachrul Alam, di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, Kamis (4/8/2011).

Meski begitu, Anton berterimakasih atas kritik yang disampaikan. Polisi tidak ingin menembak mati jika teroris yang akan ditangkap tidak melakukan penyerangan yang membahayakan warga masyarakat sekitarnya.

"Itu jadi masukan buat kita, terimakasih. Pada intinya kita tidak mau tembak mati, kita tidak mau tembak mati kalau teroris itu tidak menyerang," jelasnya.

Sebelumnya Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais) Laksamana Muda TNI Soleman B Ponto mencermati tindakan Polri dalam menangkap tersangka teroris. Seharusnya pelaku terorisme itu ditangkap dalam keadaan hidup, bukan dengan ditembak mati.

"Kalau polisi mau bunuh, masuk tentara saja. Kalau harus tertangkap lalu dihukum ada alatnya yaitu polisi. TNI dapat melakukan penindakan dan pencegahan," tuturnya.

(mpr/lh)

http://us.detiknews.com/read/2011/08/04/110507/1696298/10/polri-banyak-teroris-tidak-ditembak-mati?n990102mainnews

Thursday, 30 June 2011

Nembak Warga, Anggota Densus 88 Diadili

Kamis, 30 Juni 2011 - 17:54 WIB




SERANG (Pos Kota) – Oknum anggota Detasemen Khusus (Densus) 88 Mabes Polri, Brigadir Herlambang ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara penembakan warga.
Pelaku diduga telah melakukan penganiaya dengan cara menembak betis kiri Satibi, 38, warga Kampung Baru, Desa Pasanggrahan, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang.
Kapolres Serang, AKBP Krisnandi menyayangkan sikap oknum anggota Bhayangkara yang mudah main tembak. “Sudah ditetapkan sebagai tersangka. Memang seharusnya tak terjadi aksi penembakan itu yang dilakukan seorang polisi. Seorang polisi tak boleh main tembak, karena pistol itu hanya digunakan ketika mengejar penjahat,” papar Kapolres kepada wartawan di ruang kerjanya, Kamis (30/6).
Dijelaskan, tersangka akan diproses secara pidana dengan pasal yang disangkakan penganiayaan, meski melakukan tembakan dengan pistol. Ia juga berjanji akan memproses perkara itu hingga tuntas.
Kapolres mengaku sudah melakukan pertemuan dengan keluarga korban, termasuk pembiayaan pengobatan yang akan ditanggung oleh Densus 88 Mabes Polri.
“Kami juga sudah berkoordinasi dengan Densus 88 Mabes Polri yang akan membiayai seluruh pengobatan. Bila Densus tak siap maka Polres Serang yang akan mengganti seluruh biaya pengobatan,” kata Kapolres.
Ditambahkan, berdasarkan informasi dari tersangka Brigadir Herlambang bahwa dirinya terpaksa menembak korban lantaran terdesak, karena teman korban membawa senjata tajam.
“Itu baru keterangan dari tersangka secara sepihak. Makanya penyidik akan melakukan pemeriksaan terhadap rekan korban yang saat kejadian berada di lokasi. Apakah benar memang rekan korban membawa senjata tajam atau tidak ? Ini yang akan diluruskan,” katanya.
Sementara Sanusi, saksi yang berada di lokasi saat kejadian membantah bila pihaknya membawa senjata tajam. “Jangankan membawa senjata tajam, kata-kata kasar saja tak ada. Saya juga heran kenapa kok dihembuskan isu bahwa kalau kita yang membawa senjata tajam. Ini informasi yang menyesatkan,” katanya.
Sementara korban Satibi sudah dioperasi betisnya untuk mengeluarkan proyektil yang masih bersarang. Bahkan pria beranak dua ini dipindahkan ke ruangan Pavilliun RSUD Serang.
“Kakak saya sudah dioperasi dan dipindahkan ke Pavilliun,” ujar Muhdi, adik korban. (haryono/dms)

http://www.poskota.co.id/kriminal/2011/06/30/nembak-warga-anggota-densus-88-diadili

Saturday, 4 June 2011

Dua tersangka teroris ditembak di Poso


Dua tersangka teroris ditembak mati setelah terjadi baku tembak dalam penggerebekan di Poso, Sulawesi Tengah, kata polisi.

Penggerebekan di Poso melibatkan personel antiteror dari Densus 88

Penggerebekan di Poso melibatkan personel antiteror dari Densus 88

Kedua orang tersebut tewas dalam penggerebekan di Bukit Buyungkele di Desa Tambaro, Sabtu (4/6).


Penggerebekan melibatkan personel Densus 88, Brimob dan petugas kepolisian setempat.''Kedua tersangka tewas dalam penggerebekan pukul 11:00 (WITA) di Desa Tambaro, Kabupaten Poso,'' kata Kapolres Poso AKBPPulung Rohmadianto kepada media.

Menurut Pulung, kedua tersangka melawan dengan menembak ke arah polisi ketika hendak ditangkap.

Tim kepolisian kemudian terlibat kontak tembak dengan keduanya dan kedua orang yang dicari akhirnya tewas tertembak.

''Kami juga menyita sepucuk M-16 dan pistol revolver dari tersangka yang tewas,'' kata Pulung seperti dikutip AFP.

"Kami juga menyita sepucuk M-16 dan pistol revolver dari tersangka yang tewas."

AKBP Pulung Rohmadianto

Menurut Pulung, kedua orang yang ditembak mati hari Sabtu tersebut diduga terkait dengan kawanan yang menembak mati dua orang polisi dan melukai seorang lain bulan lalu di depan sebuah bank di kota Palu, Sulawesi Tengah.

Beberapa orang yang mengenakan helm dan penutup wajah terlibat dalam penyerangan tanggal 25 Mei tersebut.

Polisi telah menahan dua tersangka dari ''kelompok teror'' tersebut dan memperkirakan tiga orang lain dalam kelompok tersebut masih bebas.

Poso, tempat dua orang tersangka ditembak mati, pernah menjadi ajang konflik antara warga Kristen dan Muslim antara tahun 1998 dan 2002. Sekitar 1.000 orang terbunuh dalam konflik tersebut.

http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2011/06/110604_suspectskilled.shtml

Tuesday, 31 May 2011

Keluarga Terduga Teroris Sukoharjo Praperadilankan Polisi

Muchus Budi R. - detikNews

Selasa, 31/05/2011 15:57 WIB

Sukoharjo
- Keluarga Hendro Yunanto, terduga teroris yang tewas dalam penyergapan polisi di Sukoharjo 14 Mei lalu, mempraperadilankan Polri. Keluarga menemukan sejumlah bukti dan alasan untuk menilai polisi sengaja membunuh Hendro.

Gugatan praperadilan dilakukan oleh The Islamic Study and Action Center (ISAC) selaku kuasa hukum keluarga Hendro ke Pengadilan Negeri Sukoharjo, Selasa (31/5/2011) sore. Pendaftaran gugatan diterima panitera muda pidana PN Sukoharjo, Sri Widodo.

Menurut ISAC dari kondisi jenazah Hendro, keluarga menyimpulkan Hendro meninggal setelah dianiaya dan ditembak berulang-ulang oleh Densus 88. Terbukti ditemukan luka lebam di wajah, luka lecet di kepala, dan 10 luka tembak di bagian kepala, leher, dada, tangan, dan perut.

Keluarga juga menyimpulkan Hendro ditembak dari jarak dekat. Yang dijadikan bukti adalah ceceran darah di jalan, bekas peluru di tembok, sisa bercak darah di tembok hingga menempel di lantai dua setinggi 7 meter.

Densus juga diyakini tidak terlebih dulu memberikan tembakan peringatan atau tembakan melumpuhkan, melainkan langsung melepaskan tembakan mematikan. Sedangkan Hendro dalam kondisi tidak bisa memberikan perlawanan sama sekali.

"Hasil temuan Komnas HAM juga menyebutkan Hendro tidak mungkin menembak karena tidak ada tanda-tanda Hendro bisa melepaskan tembakan. Komnas HAM juga tidak menemukan bukti Hendro melakukan perlawanan," ujar Ketua ISAC, Kurniawan.

Hal lain yang juga dipersoalkan keluarga adalah, hingga saat ini keluarga belum menerima surat penangkapan dari kepolisian untuk Hendro. Dengan demikian, hingga belum diketahui atas tuduhan dan kesalahan apa Hendro harus ditangkap dengan cara dibunuh.

Dalam kasus tersebut, ISAC menilai polisi telah melanggar Pasal 28 (I) UUD 1945, Pasal 18 ayat 1 UU No 39 tahun 1999, Pasal 29 UU No 39 tahun 1999, Pasal 33 ayat 1 UU No 39 tahun 1999, Pasal 33 ayat 2 UU No 39 tahun 1999, dan asas hukum humaniter internasional yaitu asas perikemanusiaan.

"Kami menilai penangkapan dan pembunuhan terhadap Hendro Yunanto oleh Densus 88 adalah tidak sah. Keluarga Hendro berhak atas ganti rugi dan atau rehabilitasi nama baiknya. Sedangkan dalam pandangan syariat Islam, pembunuhan tanpa alasan yang benar maka walinya berhak atas tebusan atau membunuh pelakunya," ujar Kurniawan.

Hendro Yunanto tewas dalam penyergapan polisi di Sukoharjo, 14 Mei lalu. Dia tewas bersama Sigit Qurdowi. Keduanya disebut polisi sebagai terduga pelaku tindak terorisme. Selain keduanya, seorang pedagang angkringan juga tewas dalam penyergapan itu.

http://us.detiknews.com/read/2011/05/31/155713/1651062/10/keluarga-terduga-teroris-sukoharjo-praperadilankan-polisi