Showing posts with label Kediri. Show all posts
Showing posts with label Kediri. Show all posts

Tuesday, 14 May 2013

Curi 29 HP, Dua Orang Kakek-kakek Ditembak Polisi

Headline

INILAH.COM, Kediri - Tim Buru Sergap (Buser) Polres Kediri Kota, menghadiahi timah panas untuk Ambyah (55) dan Rasimin (67). Pasalnya dua pria paruh baya itu telah dua kali melakukan aksi pencurian dengan modus menggarong atau melubangi tembok.

Ambyah (55) Jalan Urip Sumoharjo 005/005, Kelurahan Ngronggo, Kota Kediri dan Rasimin (67) warga Desa Kolak Selatan 003/001 Wonorejo, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri. Parahnya, mereka sudah dua kali keluar masuk lembaga permasyarakat (Lapas) Blitar dalam dua kasus yang sama.

Kasat Reskrim Polres Kediri Kota AKP Siswandi mengatakan, selain kedua tersangka, pihak kepolisian juga mengamankan tiga orang penadah hasil pencurian. Ironisnya, dua diantaranya adalah anak dan cucu salah satu tersangka pelaku utama.

Masing-masing, Hartini (28) Ringinanom, Kota Kediri, Mohammad Faik (22) anak Rasminin, warga Dusun Wonorejo, Desa Kolak, Kecamatan Ngadiluwih dan Azam (21) Desa Bobang, Kecamatan Semen, cucu Rasimin.

"Penangkapan dua pencuri konter dan penadahnya tersebut berdasarkan laporan dari pemilik konter. Setelah itu kami koordinasi dengan Polsek Mojo. Kemudian kami melakukan penyelidikan dan penangkapan dari penadahnya terlebih dahulu," ujar Kasat Reskrim AKP Siswandi, Senin (13/5/2013).

Saat dikonfirmasi, kedua tersangka Rasimin dan Ambyah mengaku, nekat membobol konter handphone (HP) Ramadhan di Dusun Mayan, Desa Kranding, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri karena terdesak kebutuhan ekonomi. Dengan bekal dua buah obeng dan linggir, mereka berhasil menguras sesisi konter diantaranya, 50 buah HP berbagai merk dan asesorisnya.

"Saya masuk ke dalam. Sedangkan Ambyah di luar mengawasi. Hasilnya kami bagi berdua," ujar Rasimin.

Residivis yang pernah mendekam di Lapas Blitar selama 3 bulan, pada 1978 dan 3 bulan pada 1989 lalu itu mengaku, mendapat bagian 29 buah HP. Sedangkan Ambyah 21 buah. Rasimin menjual sebanyak 14 buah HP kepada anaknya Faik, dan 15 buah HP kepada cucunya Azam. Sedangkan Ambyah menjualnya kepada Hartini sejumlah pedagang di Pasar Setono Betek Kota Kediri.

"Saya jual ke pasar setono betek Rp 1 juta. Uangnya sudah habis saya pakai untuk mencukupi kebutuhan hidup," ujar pria yang kini domisili Komplek Krian, Desa Purwokerto, Kecamatan Ngadiluwih.

Ambyah pernah menjalani hukuman di Lapas Blitar sebanyak dua kali dalam kasus pencurian pada 1978 selama 4 bulan dan tahun 1998 selama 8 bulan. Selain melakukan pencurian dengan modus garong di Konter Ramadhan, kedua tersangka juga mengaku, melakukan aksi kejahatan serupa di sebuah toko pracangan dekat Polsek Mojo. Mereka berhasil menggasak berbagai macam barang dagangan dan telah dijualnya.

Sementara itu, akibat kejadian tersebut Atqiyul Umam (31) pemilik konter mengalami kerugian sebenar Rp 30 juta. Untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, para tersangka kini harus mendekam di sel tahanan Polres Kediri Kota. Mereka terancam hukuman penjara selama tujuh tahun.[beritajatim]


http://metropolitan.inilah.com/read/detail/1988698/curi-29-hp-dua-orang-kakek-kakek-ditembak-polisi#.UZLXAeBMGZY

Friday, 3 August 2012

Kakak Beradik Pencuri Motor Ditembak Polisi






indosiar.com, Kediri - (Jumat, 03.08.2012) Maraknya kasus pencurian motor di Kediri belakangan ini, ditanggapi polisi setempat dengan mencari dan bertindak tegas terhadap pelakunya. Rabu malam mereka menembak dua kakak beradik yang terlibat pencurian sepeda motor, bahkan menurut data, Basirin dan kakaknya Sukirman, terbilang spesialis pencurian kendaraan ini. Sukirman, saat ini masih dirawat di rumah sakit karena luka tembaknya cukup parah.

Basirin dan kakaknya, ditembak polisi karena berusaha melarikan diri saat ditangkap. Keduanya mencuri sepeda motor milik seorang warga bernama Sudarsih yang sedang berbelanja di minimarket di Jalan Letjen Suprapto, Kota Kediri. Keterlibatan keduanya diketahui polisi, setelah polisi mengamati rekaman CCTV yang diserahkan pemilik minimarket.
Dari kedua tersangka, polisi menyita sejumlah barang bukti, yakni kunci T dan dua sepeda motor, serta beberapa uang tunai. Polisi yakin, Basirin dan kakaknya Sukirman, terlibat di sejumlah kasus pencurian di minimarket yang belakangan marak terjadi di Kediri. (Danu Sukendro/Sup)


http://www.indosiar.com/patroli/kakak-beradik-pencuri-motor-ditembak-polisi_97960.html


Tayang: 3-Aug-2012 13:13 WIB

Monday, 5 March 2012

Pembunuhan Sadis di Kediri, Korban Ditembak Senapan Angin Dua Kali


M Agus Fauzul Hakim | Tri Wahono | Senin, 5 Maret 2012 | 13:59 WIB



KOMPAS.COM/ M. AGUS FAUZUL HAKIMHariyanto (tengah), salah satu tersangka pembunuhan sadis seorang karyawan bank Danamon Unit Kandangan, Kediri, Jawa Timur saat berada di Mapolres Kediri, Senin (5/3/2012).
KEDIRI, KOMPAS.com - Satu dari dua pelaku pembunuhan sadis terhadap Hidayat Bagus Febrianto (28), seorang karyawan Bank Danamon Unit Kandangan Kediri, Jawa Timur ditangkap polisi. Pelaku tidak dapat berkutik setelah betis sebelah kanannya dilumpuhkan dengan timah panas.
Setelah sempat buron selama sembilan hari, pelarian Hariyanto (37), warga Dusun Mulyorejo, Desa Kampungbaru, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri berakhir di tangan aparat. Dia ditangkap saat tengah bersembunyi di sebuah pemakaman umum yang ada di wilayah Prambon, Sidoarjo, Sabtu (3/3/2012).
"Saat ditangkap memang tidak melawan, tapi saat bersama petugas, yang bersangkutan mencoba melarikan diri," kata AKBP Kasero Manggolo, Kapolres Kediri, Senin (5/3/2012).
Peran tersangka dalam pembunuhan yang terjadi pada Kamis (23/2/2012) ini, menurut Kasero Manggolo, adalah turut serta membantu dalam pembunuhan yang diduga dilakukan oleh Darto, kakak kandungnya. Dari pengakuan tersangka, pembunuhannya dilakukan dengan menembak kepala korban sebanyak dua kali dengan senapan angin.
Bahkan kepalanya sempat dipukul dan diracun dengan obat tanaman hingga korban tewas. Usai tewas, mayat korban kemudian dikubur di pekarangan belakang rumah Darto, di Dusun Mulyorejo, Kepung, Kediri.
"Tersangka turut membantu dalam pembunuhan itu. Motif pembunuhannya karena kakaknya jengkel hutangnya ditagih terus," imbuh mantan Kapolres Sampang ini.
Sementara tersangka Hariyanto mengaku keterlibatannya dalam pembunuhan itu bukan karena materi, tapi karena diajak dan dipaksa kakaknya. "Saya dipisuhi (diumpat) disuruh untuk membantu (pembunuhan). Saya ikut nyeret mayatnya hingga ke belakang rumah," akunya.
Pria yang pada tahun 2008 silam pernah menghuni hotel prodeo atas kasus pencurian tersebut masih diamankan di Mapolres dan diancam pasal 340 KUHP Subsider pasal 338 KUHP Junto pasal 55, 56 KUHP dan Pasal 365 KUHP. Beberapa bukti yang dikumpulkan petugas di antaranya sebilah parang, satu botol obat tanaman, selembar karpet, dua lembar papan seng, serta sepasang sepatu milik korban.
Pengejaran kepada Darto, pelaku utama, saat ini masih terus dilakukan petugas. Begitu pula pencarian terhadap senapan angin kaliber 5,5 mm yang digunakan untuk pembunuhan.
Sebelumnya, pembunuhan yang terjadi pada Kamis (23/2/2012) tersebut bermula saat korban yang warga Tulungrejo, Pare, Kediri itu datang ke rumah Darto untuk menagih cicilan kredit dari hutang pokok sebesar Rp 575 juta. Korban sempat memberi kabar keberadaannya kepada koleganya di kantor.
Namun hingga malam korban tidak kunjung kembali ke kantor dan teleponnya tidak bisa lagi dihubungi. Pencarian yang dilakukan rekannya di lokasi terakhir kontak tidak membuahkan hasil. Akhirnya, pihak kantor melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwajib.
Hingga pada Sabtu (24/2/2012), petugas yang dibantu warga akhirnya menemukan mayat korban yang masih berpakaian seragam lengkap terkubur di lahan cabe pekarangan belakang rumah Darto. Dari catatan polisi, Darto pada tahun 2001 juga pernah tersangkut kasus pembunuhan dan perampokan.


http://regional.kompas.com/read/2012/03/05/13590036/Pembunuhan.Sadis.di.Kediri.Korban.Ditembak.Senapan.Angin.Dua.Kali

Wednesday, 9 March 2011

Polisi Tembak Pelaku Curanmor

Kediri, 9 Maret 2011 14:24
Aparat Satreskrim Polres Kediri Kota, Jawa Timur, menembak kaki satu dari lima tersangka pelaku pencurian sepeda motor (curanmor) yang beroperasi di tempat kos.

Kasatreskrim Polres Kediri Kota AKP Didit Prihantoro, Rabu (9/3), mengemukakan, tersangka curanmor yang ditembak kakinya bernama Andi Hermawan, 23 tahun. Ia terpaksa ditembak di kaki sebelah kanan karena ia nekat melawan petugas. "Ia nekat akan melawan petugas dengan kayu. Ia juga berencana melarikan diri," kata Didit.

Selain menangkap Andi, yang tinggal di Desa Kranggan, Kecamatan Gurah, polisi juga menahan empat pelaku lain, masing-masing Roni Cahyo Sumunar dan Evan Rika Septianus, 20 tahun, yang juga dari Desa Kranggan, Kecamatan Gurah. Selain itu, Yogik Febrin Arim 20 tahun, dari Dusun Balong, Desa Gogorante, Kecamatan Gampengrejo, dan Agus Widodo, 20 tahun, warga Desa Katang, Kecamatan Gurah.

Didit mengatakan, sindikat itu terungkap setelah polisi menangkap Roni, salah seorang pelaku di tempat ia kos, Jalan Kawi, Kota Kediri. Roni berhasil membawa empat sepeda motor milik penghuni kos yang ia bawa lari dalam semalam, Selasa (8/3) malam.

Dalam melancarkan aksinya, ia dibantu teman-temannya, membawa langsung sepeda motor yang diparkir di halaman kamar kos.

Sepeda motor itu lalu dibawa lari ke beberapa lokasi, di antaranya di belakang sebuah panti pijat "Enggar" dekat Sungai Brantas dan di rumah Agus di Desa Katang. Bahkan, mereka sempat pesta minuman keras di sebuah warung wilayah Kediri, usai melakukan aksinya.

"Setelah Roni tertangkap, petugas lalu menjebak pelaku lain untuk bertemu di dekat Kantor Pos Kediri, hingga kami berhasil meringkus mereka di tempat itu," paparnya.

Didit mengungkapkan, modus pencurian di tempat kos tergolong baru. Mereka berdalih mencari tempat tinggal, sebelum akhirnya mencuri barang-barang milik penghuni kos, seperti sepeda motor maupun benda berharga lainnya.

Dalam melakukan aksinya, para pelaku ternyata sudah merencanakan cukup lama. Terbukti, pelaku cukup ulet dan lihai. Sindikat itu, juga melibatkan seorang mekanik yang bekerja di sebuah bengkel sepeda motor yang terletak di Jalan Kawi, Kediri, yaitu Yogik.

Selain menahan kelima pelaku, petugas juga menyita lima barang bukti berupa sepeda motor. Empat sepeda merupakan barang curian, yaitu satu Yamaha Mio AG-2870-JB, dua Honda Supra, masing-masing AD-5661-RR dan B-6555-KWD, serta Suzuki Smash AG-4542-BC. Selain itu, satu barang bukti sepeda Suzuki Smash AG-3190-GH milik salah seorang pelaku.

Salah seorang korban, Ulfasari, mengaku tidak menyangka jika Romi yang merupakan tetangga kamarnya, adalah seorang pencuri. Roni baru diketahuinya kos selama dua hari.

Ia sendiri usai tiba dari tempatnya bekerja pada Selasa (8/3) pukul 21.00 WIB langsung masuk ke dalam kamar. Namun, ia sempat melihat Roni sedang memeriksa sepeda motor milik penghuni kos lainnya. Karena ia capai, ia tidak peduli dan langsung masuk ke kamar kos, meninggalkan kunci sepeda motor di luar.

"Usai tiba dari kerja, saya langsung tidur. Bangun-bangun, sudah ada keramaian karena adanya pencurian," tuturnya.

Hingga kini, polisi masih memproses kelima pelaku. Mereka diperiksa intensif di ruang penyidik Markas Polres Kediri Kota, Jalan Brawijaya. Mereka terancam dijerat dengan Pasal 363 KUHP tentang Pencurian Sepeda Motor dengan ancaman hukuman empat tahun penjara. [TMA, Ant]

http://www.gatra.com/2011-03-09/artikel.php?id=146102

Sunday, 11 July 2010

Polisi Kediri, Lima Bulan Dor Lima Penjahat

KEDIRI- Dorr...! Dorr..! Suara letupan pistol berulangkali terdengar di halaman belakang Mapolres Kediri kemarin. Bising suara senjata api (senpi) jenis Revolver tersebut menarik perhatian setiap orang yang melintas. Namun suara tembakan itu bukan karena polisi sedang menembak penjahat yang sedang kabur. Melainkan mereka sedang melakukan latihan menembak. Di sebuah ruangan terbuka, lima orang berdiri berjajar. Di depan masing-masing anggota polisi tersebut terdapat sebuah pistol dengan peluru tergeletak di sebelahnya.

Sesaat kemudian terdengar aba-aba kalau anggota disuruh memegang senjata dan kemudian menembak sasaran yang berada sekitar 25 meter di depannya. Seketika suara letupan pistol bersahutan memekakan telinga orang yang berada di sekitar lokasi.

Latihan menembak tersebut digelar di halaman belakang Mapolres Kediri diikuti sekitar 200 peserta yang terdiri dari perwira dan bintara. Acara dimulai sekitar pukul 08.00 sampai dengan pukul 11.00. Masing-masing anggota diberi dua kali kesempatan. Setiap kesempatan, anggota diberi 5 peluru.

Menurut keterangan Wakapolres Kediri Kompol Arnapi, latihan menembak tersebut wajib diikuti semua anggota yang memegang senjata. "Mulai dari perwira sampai dengan bintara yang memegang senjata wajib ikut," ujarnya kemarin. Lebih lanjut, mantan Wakasatreskrim Polwiltabes Surabaya tersebut menerangkan kalau tidak ada maksud tertentu diadakan latihan tersebut. "Hanya agar anggota tidak lupa dan terasah kemampuan menembaknya," urainya.

Dengan latihan itu, perwira dengan satu melati di pundak itu berharap anggota terbiasa memegang senjata. Sehingga kalau sewaktu-waktu dibutuhkan, maka mereka sudah siap. "Memegang senjata harus terbiasa. Kalau tidak, sangat rawan. Karena kondisi di lapangan lebih sulit," sambung perwira menengah yang hobi mengkoleksi mobil jeep tersebut.

Sementara itu, data yang dihimpun Radar Kediri, pada tahun ini terhitung 5 orang pelaku kejahatan menjadi sasaran timah panas polisi jajaran Polres Kediri. Mulai dari residivis pencurian kendaraan bermotor (Curanmor), pencurian sapi, sampai dengan tersangka pembunuhan menjadi sasaran tembak petugas. Bahkan satu tersangka, Juana, 45, warga Desa Pondokagung, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang tewas setelah dua betisnya ditembus peluru akibat mencoba lari saat ditangkap di rumahnya. Juana tewas di rumah sakit karena kehabisan darah hanya beberapa jam setelah ditembak tim buser Polres Kediri.

Sementara tersangka lain yang ditembak polisi adalah Purwadi, 35, warga Desa Slumbung, Kecamatan Ngadiluwih. Sama seperti Juana, tersangka pencurian sapi itu dilumpuhkan kakinya dengan timah panas karena mencoba kabur saat dibekuk Polsek Ngadiluwih.

Sedangkan Dimas Deby Wahyudi, 26, warga Dusun Bukur, Desa/ Kecamatan Kandangan didor tim Buser Polres Kediri karena kasus pembunuhan terhadap Eny Astuti, 26, warga Desa Jajar, Kecamatan Wates.

Adapun Supri alias Copet, 40, warga Desa Kaniten, Kecamatan Mojo, dia ditembak anggota Polsek Semen atas tindakan curanmor. Terakhir, Dodik Hartono, 27, warga Desa Jambu, Kecamatan Kayenkidul, kaki kirinya ditembus timah panas petugas Polsek Pare akibat tindakan kejahatan curanmor. Semua pelaku ditembak akibat melarikan diri saat ditangkap. (dp/aj/jpnn)

http://www.jpnn.com/index.php?mib=berita.detail&id=67727

Saturday, 12 June 2010

2 Gembong Curanmor Dibekuk, 1 Pelaku Didor

Sabtu, 12/06/2010 18:34 WIB

Kediri
- Unit Reskrim Polsek Semen, Kabupaten Kediri, berhasil mengungkap kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor) yang belakangan meresahkan masyarakat. 2 Orang pelaku berhasil dibekuk, 1 diantaranya terpaksa ditembak karena berusaha melawan.

2 Pelaku yang diamankan masing-masing Supri dan Wiyono, warga Kelurahan Bandar Lor, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Supri ditangkap di rumah salah seorang kerabatnya di Desa Keniten, Kecamatan Mojo, sementara Wiyono dibekuk saat asyik menikmati karaoke bersama sejumlah purel di Cafe Piring Sewu.

"Tersangka Supri oleh anggota terpaksa dilumpuhkan, karena begitu mengetahui kedatangan petugas dia malah kabur. Tapi saat berhasil ditangkap dia juga memberikan perlawanan, sampai akhirnya ditembak," jelas Kapolsek Semen, AKP Abraham Sisik, dalam gelar perkara di Mapolsek, Sabtu (12/6/2010).

Abraham menambahkan, akibat tembakan tersebut Supri saat ini tengah menjalani perawatan intensiv di RS Bhayangkara Kota Kediri, dengan mendapatkan penjagaan ketat aparat kepolisian. Sementara Wiyono saat menjalani pemeriksaan, guna mengungkap kemungkinan adanya pelaku lain.

Dari tangan kedua pelaku polisi mengamankan sebuah sepeda motor yang diduga hasil kejahatan, serta 2 buah kunci T yang menjadi alat kerja keduanya. Sementara dari catatan kepolisian, keduanya tercatat sebagai pemain lama yang malang melintang dalam kejahatan curanmor di Kota dan Kabupaten Kediri.

"Bisa dikatakan gembong, karena dari serangkaian kejadian dugaan pelakunya ya 2 tersangka ini dan juga komplotannya," imbuh Abraham.

Akibat perbuatannya, kedua pelaku akan dijerat Pasal 363 KUHP tentang tindak pidana pencurian, dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara.

Sementara guna mengantisipasi terus merebaknya tindak pidana curanmor, Abraham kembali mengingatkan masyarakat untuk selalu meningkatkan kewaspadaan. Dalam setiap kali memarkir sepeda motor, pengawasan dan penggunaan kunci ganda diimbau agar selalu dilakukan.

"Sekarang yang jadi persoalan adalah malingnya banyak cara, jadi satu-satunya usaha meredam adalah kewaspadaan masyarakat. Kami tegaskan, masyarakat jangan sekali-kali lengah saar memarkir sepeda motor," pungkasnya.

http://us.surabaya.detik.com/read/2010/06/12/183441/1377120/475/2-gembong-curanmor-dibekuk-1-pelaku-didor

Tuesday, 18 May 2010

Saya Dendam Dia Mengajak 'Gituan'

Selasa, 18 Mei 2010 | 11:29 WIB
Surya
Ketiga pelaku pembunuh Sugito berhasil dibekuk polisi.

KEDIRI, KOMPAS.com — Penyebab kematian Sugito (45) terungkap. Bapak dua anak yang mayatnya ditemukan tergeletak di pinggir sungai Perumahan Magersari PG Mrican, Kota Kediri, tersebut dipastikan dibunuh. Kasus ini melibatkan tiga pemuda, dua di antaranya pelajar kelas 2 sebuah SMP negeri di Kota Kediri.

Para tersangka dibekuk oleh petugas Sat Reskrim Polresta Kediri, Senin (17/5/2010) pagi. Mereka adalah Jefry Sulistiyanto (19), pengamen asal Nganjuk yang kos di Jalan Mayor Bismo, Semampir, Kota Kediri; Ag (15), warga Mrican, Kota Kediri; dan Don (15), warga Jalan Mayor Bismo.

Jefry, yang diduga menjadi otak pembunuhan, ditangkap saat menjual sepeda motor milik korban ke pasar loak di Jalan Sriwijaya, Kota Kediri. Kaki kanan Jefri ditembak polisi.

Adapun Ag, yang berstatus pelajar SMP, ditangkap di tempat kos di Jalan Mayor Bismo. Sedangkan Don, yang juga pelajar SMP, dibekuk secara terpisah.

Menurut Kasat Reskrim Polresta Kediri AKP Rofik Ripto Himawan, penangkapan para pelaku dilakukan berdasar penyelidikan petugas. Sebelumnya, polisi memeriksa 16 saksi, terdiri dari keluarga dan teman dekat Sugito.

Seperti diberitakan, Sugito, warga Sendang, Banyakan, Kabupaten Kediri, tewas di pinggir sungai di Perumahan Margesari PG Mrican, Minggu (16/5/2010) pagi. Di leher penjual makanan kecil pentol ini ada bekas jeratan, pipi memar, dan mulut mengeluarkan darah. Adapun sepeda motor Honda Revo, yang biasa digunakan untuk berjualan pentol, hilang.

Saat diinterogasi polisi, Jefri mengaku kesal dengan Sugito sehingga nekat membunuhnya. Menurut Jefri, Sugito yang dikenal sejak sekitar dua bulan lalu itu diduga mempunyai kelainan seks karena sering meraba-raba kemaluannya.

“Saya dendam karena dia mengajak saya
gituan (oral seks),” katanya.

Sempat gagal

Jefri kemudian mengajak Ag, yang merupakan teman satu kelompok saat mengamen. “Sebenarnya rencana itu muncul seminggu lalu, tetapi gagal karena Ag tidak ada motor,” jelasnya.

Akhirnya, Sabtu (15/5/2010) sekitar pukul 22.00 WIB, niat tersebut terlaksana. Jefry pura-pura mengajak korban berkencan, tetapi sebelumnya Jefry mengatur strategi dengan Ag. Dia menyuruh Ag membuntuti, kemudian mengeksekusi korban. Caranya, saat Sugito hendak oral seks dengan Jefry, Ag menjerat leher Sugito dengan tali.

Adapun Don tidak terlibat langsung pembunuhan itu. Dia diajak Jefry menjual sepeda motor milik korban, tetapi kepergok petugas dan sempat dihakimi massa.

“Saya tidak ikut pembunuhan tersebut, tapi diceritai sama Jefry dan Ag bahwa mereka habis membunuh dan mengambil sepeda motor korban,” kata Don.
(nst34)

http://regional.kompas.com/read/2010/05/18/1129067/Saya.Dendam.Dia.Mengajak..quot.Gituan.quot.