Showing posts with label augustus 2011. Show all posts
Showing posts with label augustus 2011. Show all posts

Wednesday, 14 March 2012

Peluru Itu Dikeluarkan dengan Sendok




TEMPO.COJakarta - Rahmatullah, 29 tahun, warga Dusun Gluduk, Desa Pakis, Kecamatan Panti, Jember, Jawa Timur, telah divonis empat tahun penjara, Rabu, 14 Maret 2012. Ia dinyatakan bersalah telah merampok dan memperkosa.

Padahal korban perampokan dan majikan dari pembantu yang diperkosa, Herawati alias Tacik Dani, telah membantah Rahmat merampok rumahnya. Tiga kali Rahmat dituduh merampok. Nyatanya semua korbannya menyangkal keterlibatan Rahmat.

Rahmat saat ditangkap polisi di rumahnya, 18 Agustus 2011, mendapat perlakuan keji. Selain mukanya ditinju dan dipukul dengan gagang senapan, lutut kanannya juga ditembak. (baca pengakuan Rahmat disiksa polisi)

Saat Rahmat di tahanan, polisi tak membawa Rahmat ke rumah sakit. "Saya cuma dikasih perban dan obat merah," katanya saat ditemuiTempo di Lembaga Pemasyarakatan Jember. Alhasil, luka tembaknya tambah parah. Rahmat tak bisa berjalan normal. "Untungnya orang tua dan teman yang menjenguk membawakan obat penahan nyeri dan pembersih luka."

Sekitar dua pekan Rahmat berada di tahanan Kepolisian Resor Jember. Karena tak tahan dengan peluru yang mendiami lututnya, Rahmat bertindak nekat. Awalnya, dia mencoba mengeluarkan peluru dengan benang. Tapi tak berhasil. Setelah itu, dia menggunakan kain basah. Juga tak berhasil.

Akhirnya, dibantu dua temannya sesama tahanan, Rahmat menggunakan sendok untuk mencongkel peluru itu. Peluru dalam daging keluar. Kini, kaki Rahmat tak bisa berjalan normal.

Kepala Subbagian Hubungan Masyarakat Polres Jember Ajun Komisaris Polisi Bangun Witjoro membantah ada rekayasa pada kasus Rahmat. Soal penembakan dan tindak kekerasan selama penyidikan, kata Bangun, adalah kesalahan manusiawi anggota polisi yang kini sudah diadili dalam sidang etik anggota kepolisian. "Dua anggota sudah ditindak tegas," katanya.

Dua anggota Sabhara Polres Jember itu, dalam sidang kode etik yang digelar Rabu, 15 Januari, divonis 21 hari hukuman kurungan. Keduanya juga dikenakan penundaan pangkat dan pendidikan selama setahun.

PRAMONO, MAHBUB DJUNAIDY (JEMBER)
http://www.tempo.co/read/news/2012/03/14/063390212/Peluru-Itu-Dikeluarkan-dengan-Sendok

Thursday, 1 September 2011

Curi Lembu, Centeng PT Lonsum Tewas Ditembak Polisi

Kamis, 25/08/2011 16:24 WIB
Medan - Kepolisian Sumatera Utara (Sumut) menembak seorang pencuri ternak di kawasan Deli Serdang. Mulyadi (31) tewas setelah mencoba melarikan diri saat disergap petugas.

Peristiwa penembakan itu terjadi saat petugas kepolisian melakukan penyergapan di rumah Mulyadi Jl Nagarejo, Dusun III, Gang Salim, Kelurahan Nagarejo, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang pada Rabu (24/8) sekitar pukul 21.00 WIB.

Salah seorang keluarga, Wandi mengatakan, saat penyergapan, Adi berusaha melarikan diri. Kemudian petugas melepaskan tembakan hingga mengenai rusuk kanan. Akibatnya, Mulyadi langsung rubuh bersimbah darah.

Akibat luka tersebut, Mulyadi dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan. Namun dalam perjalanan lelaki yang bekerja sebagai centeng di perkebunan sawit milik PT London Sumatera (Lonsum) tersebut tewas. Jenazahnya kemudian dibawa ke RSU Pirngadi, Jl HM Yamin, Medan.

"Mulyadi dan dua temannya memang terlibat pencurian lembu milik warga dua minggu lalu. Tapi sudah berdamai dan diselesaikan secara kekeluargaan. Tapi tiba-tiba polisi datang mau melakukan penangkapan. Karena itu dia berusaha melarikan diri," kata Wandi.

Sementara itu, Nuryati, istri Mulyadi menyatakan keluarga tidak bisa menerima perlakuan aparat karena suaminya sudah berdamai dengan pemilik lembu.

"Suami saya sudah berdamai dengan pemilik lembu. Keluarga berencana menempuh jalur hukum agar polisi tidak asal main tembak saja," kata Nuryati sambil terisak di rumah sakit, Kamis siang.

Usai menjalani otopsi, jenazah langsung dibawa ke rumah duka. Rencananya pihak keluarga akan melakukan prosesi pemakaman Kamis sore.
http://us.detiknews.com/read/2011/08/25/162417/1711286/10/curi-lembu-centeng-pt-lonsum-tewas-ditembak-polisi

Friday, 26 August 2011

Delapan Warga Ditembak Polisi Saat Berdemo

Nasional / Rabu, 24 Agustus 2011 05:32 WIB
Metrotvnews.com, Morowali:Polisi menembak delapan warga Mamosalato, Morowali, Selasa (23/8). Aksi penembakan terjadi saat warga berdemo di lokasi pengeboran minyak dan gas kob Medco-Pertamina di Pulau Tiaka, Morowali, Sulawesi Tengah.

Kedelapan korban langsung dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Banggai, Luwuk. Namun, dua di antara mereka tewas dalam perjalanan. Kedua korban bernama Yurifin dan Marten yang menderita luka tembak di bagian dada hingga tembus. Sementara, enam korban lain masih menjalani perawatan intensif. Aksi penembakan itu terjadi saat warga menuntut hak-hak dana pemberdayaan masyarakat yang belum diberikan perusahaan.
http://www.metrotvnews.com/read/newsvideo/2011/08/24/134678/Delapan-Warga-Ditembak-Polisi-Saat-Berdemo

Polri Persilakan Komnas HAM Bentuk TPF

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Polri mempersilakan Komnas HAM membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) untuk mengusut dugaan pelanggaran HAM dalam kasus amuk massa di Tiaka, pulau tempat pengeboran minyak JOB Pertamina-Medco E&P Tomori, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, yang mengakibatkan dua warga sipil tewas ditembak polisi.

"Memang kami harapkan demikian, dari Komnas turun, dari kita juga turun. Jadi, sama-sama," ujar Kadiv Humas Polri Irjen Pol Anton Bachrul Alam di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (25/8/2011).

Menurut Anton, kepolisian setempat juga melakukan evaluasi terhadap anggotanya yang diduga melakukan pelanggaran dalam penembakan tersebut. Bahkan, Propam Polda Sulteng telah turun ke lapangan untuk menyelidikinya.

Namun, Anton juga meyakinkan bahwa petugas harus menghentikan aksi massa dengan tindakan tegas berupa penembakan mengingat massa tak terkendali dan justru melakukan perlawanan, perusakan, penyanderaan, hingga menembak petugas dari senjata api yang dirampas saat kejadian Senin (22/8/2011).

"Masyarakat juga melakukan penembakan, ada dengan membawa parang. Anggota kami yang disandera kan juga harus diselamatkan. Apalagi, Kapolres kan dikalungi celurit, jadi enggak bisa apa-apa," kata Anton.

Menurut Anton, saat ini kondisi keamanan di Tiaka, pulau yang ditempuh 20 jam dari Palu itu, telah terkendali.

Tokoh masyarakat, aparat kepolisian, pihak perusahaan dan pejabat muspida di Tiaka, juga telah melakukan pertemuan dan menghasilkan sejumlah butir kesepakatan.

Masyarakat setempat dapat memahami kejadian tersebut dan telah mengembalikan senjata api yang sempat dirampas dari tangan aparat.

Selain itu, pihak perusahaan juga diharapkan bisa berusaha memenuhi aspirasi masyarakat sekitar berupa pengembangan ekonomi masyarakat setempat.


Penulis: Abdul Qodir | Editor: Budi Prasetyo
Akses Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat m.tribunnews.com

http://www.tribunnews.com/2011/08/26/polri-persilakan-komnas-ham-bentuk-tpf

Kenapa Demonstran Medco Ditembak Mati

VIVAnews - Kapolres Morowali, AKBP Suhirman mengatakan anggotanya terpaksa menembak dua warga dalam aksi demonstrasi yang berakhir rusuhdi fasilitas pengeboran minyak Joint Operating Body Medco-Pertamina di Lapangan Tiaka, Luwuk, Sulawesi Tengah. Dua warga itu dinilai membahayakan aparat.

"Mereka terpaksa dilumpuhkan karena melawan dan berbahaya," kata Suhirman kepadaVIVAnews.com, Rabu, 24 Agustus 2011.

Menurut dia, dua orang warga itu hendak menembak anggota polisi yang melakukan pengamanan. Mereka menodongkan senjata yang direbut dari polisi. "Kami sudah peringatkan sebelumnya, tapi mereka tidak mau meletakkan senjata dan malah akan menembak. Terpaksa kami lumpuhkan," kata Suhirman.

Suhirman mengklaim, saat ini situasi di lokasi kerusuhan sudah bisa dikendalikan. Polisi, kata dia, masih menyelidiki kasus tersebut. "Hari ini (Rabu, 24 Agustus) tim sedang melakukan kegiatan olah tempat kejadian perkara," kata dia.

Sebelumnya, Kapolda Sulawesi Tengah Brigjen Pol. Dewa Parsana mengatakan kerusuhan dipicu oleh aksi demonstrasi warga pada Sabtu kemarin.

Sehari kemudian, terjadi bentrok antara aparat Polres Luwuk dengan massa. Saat itu ada sekitar 50 warga masyarakat yang membawa senjata tajam dan bom molotov ke daerah pengeboran minyak. Kelompok massa itu langsung merusak enam sumur. Selesai melakukan pengerusakan dua karyawan Medco disandera oleh massa.

Setelah kejadian itu, sekitar 80 anggora polisi dan Brimob mendatangi lokasi untuk menjaga keamanan. "Takutnya ada kerusakan lagi," kata Kapolda ketika dihubungi VIVAnews.com, kemarin.

Pada hari Senin, warga yang berdemonstrasi kemudian kembali ke lokasi menggunakan perahu dan melempar bom molotov ke satu sumur minyak. Negosiasi antara polisi dengan warga gagal.

Menurut Parsana, warga masyarakat menyerang polisi yang mengamankan lokasi. Tiga polisi reguler dan satu anggota Brimob disandera dan dilarikan dengan perahu. Massa juga merebut senjata polisi sehingga terjadi baku tembak dengan aparat. (eh)

• VIVAnews

http://us.nasional.vivanews.com/news/read/242855-demonstran-morowali-ditembak-karena-berbahaya

Mahasiswa Ditembak Mati, Mahasiswa Unair Tuntut Polisi Bertanggungjawab

Kamis, 25 Agustus 2011 10:34:37 WIB
Reporter : Ribut Wijoto

Surabaya (beritajatim.com) - Mahasiwa Universitas Airlangga yang tergabung dalam Forum Advokasi Mahasiswa (FAM) mengecam tindakan represif aparat kepolisian. Utamanya atas penembakan mati terhadap mahasiswa asal Makassar.

Menurut aktivis FAM, tindakan brutal aparat tentunya sangat tidak patut dilakukan di bulan Agustus tahun ini yang penuh dengan makna, peringatan kemerdekaan Indonesia dan adanya Bulan Suci Ramadhan. "Apalagi tindakan tersebut di lakukan hanya untuk demi ‘mengamankan’ perusahaan yang jelas-jelas tidak lagi dipercaya oleh masyarakat karena mengumbar janji semata untuk memuluskan operasi mereka selama ini," kata Catur Wibowo, salah satu koordinator aksi, Kamis (25/8/2011).

Atas dasar itulah, FAM bersama dengan SBK-KP KSN, SKMR dan SMI Surabaya menyatakan sikap:
1. Berduka cita sedalam-dalamnya atas meninggalnya mahasiswa dan masyarakat karena kekerasan yang di lakukan aparat keamanan.
2. Mengecam tindakan Represif Aparat Kepolisian dalam ‘Mengamankan’ hingga mengakibatkan korban meninggal dunia.
3. Menuntut Bupati Morowali dan Pemerintah Indonesia berpihak kepada warganya yang dikorbankan karena aksi yang mereka lakukan adalah menuntut haknya.
4. Menuntut Kapolda Sulawesi Tengah harus bertanggung jawab atas kasus tersebut.

Catur menuturkan, tercatat satu mahasiswa, Andri Sondeng, 21 tahun dan satu masyarakat tewas ditembak mati pada hari Senin (22/8/2011) oleh Polisi dan Security PT Medco di dalam perahu di Perairan Luwuk. Penembakan terjadi sepulang mahasiswa dan masyarakat melakukan aksi di Perwakilan Medco di Luwuk Sulawesi tengah.

Selain dua korban tewas, ada 5 orang masyarakat korban penembakan dalam keadaan kritis dan dirujuk ke Palu, karena RS luwuk tidak mampu menanganinya. Sedangkan 15 orang lainnya dilaporkan hilang di tengah laut dan 19 orang warga lainnya ditangkap dalam peristiwa itu dan akan segera dibawa ke Palu untuk kepentingan penyidikan. [but]

http://www.kaskus.us/showthread.php?p=500797113#post500797113

Tak Terima Suami Ditembak Polisi

10:53, 26/08/2011

MEDAN- Jenazah Muliadi alias Adi Dolo (40), warga Dusun III Desa Naga Rejo, Kecamatan Galang, Deli Serdang, pencuri lembu yang ditembak polisi, di otopsi di RSUD dr Pirngadi Medan, Kamis (25/8) siang.

Istri Muliadi, Nuryati (34), terlihat menangisi kepergian suaminya. “Saya tidak terima suami saya ditembak mati. Kalaupun dia mencuri, bukan begini caranya. Aku harap penembaknya segera ditangkap dan dihukum setimpal,” pinta Nuryati.

Sementara Wandi (41), salah satu kerabat korban mengaku, memang benar Muliadi terlibat dalam pencurian lembu. Tapi polisi seharusnya menangkap dia, bukan menembaknya.

“Kalau memang Muliadi menjadi salah satu pelakunya, seharusnya tidak ditembak mati. Kan ada hukum di negara ini,” kesalnya.

Brigadir Yusman, petugas Polsekta Galang, yang ditemui di depan ruang instalasi jenazah RSUD Pirngadi Medan mengaku, tersangka sendiri ditangkap saat mengendarai sepeda motor berboncengan bersama temannya. Saat dilakukan penangkapan, pelaku mencoba melawan.

“Karena dipepet polisi, teman tersangka Muliadi yang saat itu diboncengan langsung melompat dan melarikan diri,” katanya.(jon)

http://www.hariansumutpos.com/2011/08/13761/tak-terima-suami-ditembak-polisi.htm

Curi Lembu, Mulyadi Ditembak Mati Polisi

SEORANG pencuri ternak lembu di Deli Serdang, Mulyadi (31), tewas setelah diterjang timah panas milik anggota Kepolisian Sumatera Utara (Sumut) karena mencoba melarikan diri saat disergap petugas.

Penyergapan dilakukan polisi di rumah Mulyadi di Jl Nagarejo, Dusun III, Gang Salim, Kelurahan Nagarejo, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang pada Rabu (24/8/2011) sekitar pukul 21.00 WIB.

Saat itu, Adi berusaha melarikan diri. Namun, peluru mengenai rusuk bagian kanannya. Adi pun tersungkur dengan bersimbah darah. Ia sempat dibawa ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya. Namun, centeng perkebunan sawit milik PT London Sumatera (Lonsum) ini tak tertolong. Ia tewas di perjalanan. Jenazahnya kemudian dibawa ke RSU Pirngadi, Jl HM Yamin, Medan.

Kerabat Adi bernama Wandi membenarkan korban dan dua temannya terlibat pencurian lembu milik warga dua pekan lalu. Namun, persoalan itu sudah diselesaikan dengan cara perdamaian. “Tapi tiba-tiba polisi datang mau melakukan penangkapan. Karena itu dia berusaha melarikan diri,” kata Wandi.

Keterangan Wandi diperkuat Nuryati, istri Mulyadi. “Suami saya sudah berdamai dengan pemilik lembu. Keluarga berencana menempuh jalur hukum agar polisi tidak asal main tembak saja,” kata Nuryati sambil terisak di rumah sakit, Kamis siang. Menurutnya, keluarga tidak bisa menerima perlakuan polisi seperti itu. Jenazah korban sudah dikebumikan Kamis sore.

http://www.medantalk.com/curi-lembu-mulyadi-ditembak-mati-polisi/

Tuesday, 23 August 2011

Pembobol ATM Muamalat Pernah Bobol ATM BNI Duren Sawit


Foto: Taufiq (detikcom)

Minggu, 21/08/2011 15:39 WIB

Jakarta - Penangkapan 3 pembobol ATM Bank Muamalat Cileungsi di kawasan Koja, Jakarta Utara, ikut mengungkap kasus pembobolan ATM sebelumnya. Pelaku rupanya pernah membobol ATM BNI di Duren Sawit, Jakarta Timur.

"Ini dipastikan pelaku juga melakukan pencurian ATM di wilayah Duren Sawit," kata Kasat Reskrim Polrestro Jakarta Utara AKBP Irwan Anwar di Mapolresta Jakarta Utara, Minggu (21/8/2011).

Menurut Irwan, ada satu pelaku berinisial N. Dia terpaksa ditembak di pundak saat dibekuk polisi. N terlibat dalam 2 aksi pencurian ATM.

"Dia ikut pencurian 2 kali. Di Duren Sawit dan yang di kawasan Cikeas (Cileungsi-red) ini," kata Irwan.

Dari 9 pelaku, polisi telah membekuk 3 orang. Polisi kini mengejar 6 anggota komplotan yang tersisa.

"3 Orang berhasil kita tangkap sekarang, dan kita serahkan ke Polda Metro," ujarnya.

3 Perampok ATM tertangkap di Kawasan Plumpang Center, Koja dini hari tadi. Mereka membawa ATM yang dibobol dari Bank Muamalat, Cileungsi, Bogor, Jawa Barat. Sempat terjadi kejar-kejaran antara polisi dan perampok.

Sebelumnya, pada 6 Agustus silam, komplotan ini juga rupanya merampok ATM BNI di Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Polisi memperkirakan ATM itu berisi uang ratusan juta rupiah.


(fay/vit)
http://us.detiknews.com/read/2011/08/21/153912/1707744/10/pembobol-atm-muamalat-pernah-bobol-atm-bni-duren-sawit?n991102605

Sindikat Pembobol ATM Tertangkap


indosiar.com, Jakarta, Denpasar
- Komplotan spesialis pembobol mesin ATM Minggu (21/08/11) siang diringkus satuan reskrim Polres Jakarta Utara. Sempat terjadi baku tembak saat dilakukan penyergapan dan satu diantaranya ditembak petugas. Sementara itu dari Denpasar Bali juga dilaporkan polisi menangkap seorang pelaku pembobol ATM disejumlah bank di Denpasar. Pelaku kerap berpura-pura sebagai petugas teknisi bank untuk memperdaya nasabah. Sang pelaku tak bisa berkelit karena aksinya itu terekam kamera CCTV.

Terungkapnya kasus pembobolan ATM di Denpasar Bali ini karena sang tersangka Abdul Azis kepergok petugas teknisi bank ketika sedang beraksi membuka boks ATM milik sebuah bank ternama. Azis saat itu akan mengambil kartu ATM milik nasabah yang tertinggal didalam mesin. Azis juga tidak bisa berkelit karena petugas mendapati rekaman CCTV saat tersangka beraksi.

Dalam beraksi tersangka sengaja menempelkan stiker berisi nomor telepon miliknya dan selanjutnya memasukan plat plastik pada lubang tempat memasukan kartu ATM agar kartu ATM nasabah tidak bisa keluar. Saat para nasabah panik dan menghubungi nomor hotline tersebut, tersangka yang berpura-pura sebagai petugas teknisi bank akan meminta para nasabah memberikan nomor PIN kartu ATM mereka. Selanjutnya tersangka langsung menuju mesin ATM tersebut dan membongkar mesin ATM untuk mengambil kartu dan menguras uang milik para nasabah.

Sementara itu dari Jakarta dilaporkan, 3 dari 9 pelaku anggota kelompok spesialis pembobol mesin ATM Minggu siang berhasil diringkus Satuan Reskrim Polres Jakarta Utara. Salah seorang pelaku tertembak dibagian punggung dalam penggerebekan yang diwarnai baku tembak antar petugas dengan para pelaku di Jalan Plumpang Raya, Koja, Jakarta Utara tersebut.

Menurut pihak kepolisian penggerebekan berawal dari informasi petugas patroli Polres Metro Jakarta Utara yang mencurigai dua buah mobil minibus yang membawa sebuah mesin ATM. Diduga komplotan tersebut baru saja beraksi membobol ATM sebuah bank swasta di Cilengsi Bogor, Jawa Barat. Dari hasil pemeriksaan diketahui komplotan ini terlibat dalam beberapa kasus pembobolan ATM yang terjadi disejumlah wilayah seperti di Jakarta Timur, Depok dan Tangerang, Kota.

Dari 3 tersangka, satu orang diantaranya merupakan oknum TNI AL yang telah diserahkan petugas ke kesatuannya. Petugas juga mengamankan antara lain sebuah mesin ATM yang masih berisi uang sejumlah ratusan juta rupiah, mesin gerinda dan dua buah mobil. Ketiga pelaku terancam Pasal 363 KUHP dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara, sedangkan ke 6 pelaku yang kabur kini dalam pengejaran pihak aparat. (Abdul Haris/Sup)
http://www.indosiar.com/patroli/91773/sindikat-pembobol-atm-tertangkap

Saturday, 20 August 2011

7 Perampok Dikepung & Ditembak Polisi, 1 Tewas


Jum'at, 19 Agustus 2011 07:40 wib


PROBOLINGGO
- Tidak ada ampun untuk pelaku kriminal. Polisi terpaksa menembak satu dari tujuh perampok bercadar. Mereka sempat dikepung setelah merampok sebuah toko beras di Probolinggo, Jawa Timur.

Meski seorang perampok tewas, namun enam perampok berhasil kabur dan menggasak harta korban senilai Rp90 juta berbentuk uang tunai dan perhiasan.

Pelaku perampokan, Yanto (30), warga Ranuyoso, Lumajang, tewas setelah berusaha melawan petugas. Timah panas pun terpaksa diarahkan ke tubuh pelaku.

Perampok diperkirakan masuk memalui jendela rumah kemudian menyergap dan mengancam penghuni rumah, Bahran, di Desa Liprak Kulon, Kecamatan Banyuanyar, Kabupaten Probolinggo. Selain Bahran, istrinya, Endang, juga kalungi celurit.

Namun anak korban, Novi, yang tidur di kamar depan lepas dari pengamatan perampok. Dia pun langsung menelepon polisi yang hanya berjarak sekira 200 meter dari rumah.

Saat perampok asyik mengacak isi almari, seketika anggota Polsek Banyu Anyar sudah mengepung.

Kawanan perampok berhasil kabur melalui atap kandang sapi dan seorang terjebak kemudian berhasil dilumpuhkan.

Untuk kepentingan penyedilikan mayat pelaku dibawa ke Rumah Sakit Waluyo Jati untuk diautopsi.

Polisi hingga hari ini masih mengembangkan kasus ini guna mengungkap apakah aksi perampokan tersebut terkait dengan kasus-kasus sebelumnya. Kasus perampokan seperti ini merupakan kali ketiga dalam sebulan terakhir di Probolinggo.

(Hana Purwadi/RCTI/ton)

Perampok Nasabah Bank Ditembak

WATAMPONE– Sebuah aksi perampokan nasabah bank di Kota Watampone berhasil digagalkan polisi, kemarin. Empat perampok ditangkap Tim Buru Sergap Polres Bone sesaat setelah menjalankan aksinya.

Aksi perampokan ini menimpa seorang nasabah Bank BRI Cabang Watampone bernama Suryani. Uang korban sebanyak Rp45 juta berhasil digasak perampok saat dia memarkir sepeda motornya di Jalan Mangga,sekitar 500 meter dari bank. Dalam aksinya, keempat perampok membagi tugas. Seorang perampok bernama Sapri berpura-pura sebagai wartawan masuk ke bank pada pukul 10.30, untuk mengintai korban.

Tiga rekannya menunggu di luar.Pelaku yang bertindak sebagai eksekutor adalah Anwar.Dia beraksi saat calon korban keluar dari bank seusai mengambil uang. Pelaku lalu mengikuti korban ke jalan raya sambil menunggu momen yang tepat menjalankan aksinya. Pelaku mulai beraksi saat korban singgah mengisi pulsa ponsel di Jalan Mangga. Dia mengambil uang di jok motor milik korban yang terparkir.

Setelah berhasil, uang Rp45 juta tersebut langsung diberikan kepada Sapri yang menunggu di dalam mobil. Sementara itu, pelaku lain, Rani dan Surjadi, yang juga berada di dalam mobil, berusaha menghalangi korban. Namun, nahas bagi kawanan perampok ini.Aksi mereka kali ini tidak berjalan lancar.

Rupanya polisi yang berpakaian preman telah mencurigai gerak-gerik mereka saat masih berada di dalam bank. Komplotan ini memang sudah menjadi target polisi karena sebelumnya pernah menjalankan aksi yang sama di Watampone. Polisi menguntit pelaku saat mereka mengikuti korban keluar dari bank. Saat pelaku beraksi di Jalan Mangga, saat itu pula polisi langsung menyergap.

Rani dan Surjadi ditangkap di Jalan Mangga. Sapri dan Anwar ditangkap di Jalan Biru saat berusaha melarikan diri. Sapri bahkan diterjang timah panas di bagian bawah punggungnya karena tidak menghiraukan peringatan polisi. Akibat luka yang diderita, Sapri dirujuk ke Rumah Sakit Bhayangkara Makassar karena peluru masih bersarang di tubuhnya.

Menurut Wakil Direktur Rumah Sakit Tenriawaru Watampone Andi Aminah Yusuf, proyektil yang bersarang di tubuh korban sulit dikeluarkan. “Kami rujuk ke Rumah Sakit Bhayangkara Makassar. Nanti di sana pelurunya baru dikeluarkan,”kata dia. Tiga pelaku lain kini ditahan di Polsek Tanete Riattang.

Kasat Reskrim Trihanto Nugroho mengatakan, pelaku adalah jaringan spesial perampok nasabah bank. Kasat Reskrim Polres Bone AKP Trihanto Nugroho mengatakan, keempat pelaku bernama Anwar,35,Suriadi,24,Rani, 26, dan Muhammad Sapri, 30. Saat beraksi, pelaku menggunakan sepeda motor Mio dengan nomor polisi DD 3587 OI dan mobil Avanza perak bernomor polisi DD 777 JO. Barang bukti kendaraan tersebut sudah diamankan di Polsek Tanete Riattang.

Selain kendaraan, uang milik korban Rp2 juta berhasil diamankan anggota Buser. Sisanya belum ditemukan karena perampok diduga membuangnya ke sungai saat dikejar petugas. Di depan polisi, para tersangka mengaku sudah beberapa kali melakukan aksi di Bone.Pada 26 Juli 2011,mereka juga merampok Sunandar, 37, yang baru saja mengambil uang Rp45 juta di Bank BNI Jalan Ahmad Yani, Watampone. Waktu itu,kaca mobil yang diparkir korban dihancurkan pelaku untuk mengambil uang di mobil. Seputar Indonesia-yos naiobe

http://www.makassarterkini.com/index.php?option=com_content&view=article&id=3044:perampok-nasabah-bank-ditembak&catid=44:info-terkini&Itemid=139

Dua Pelaku Jambret Ditembak Polisi

Tribun Medan - Sabtu, 20 Agustus 2011 12:35 WIB

Laporan Mahyuddin

TRIBUN-MEDAN.com, Makassar - Dua pelaku jambret dibekuk Satuan Unit Khusus Polres Gowa, Sabtu (20/8) dini hari. Ke dua pelaku tersebut dihadiahi proyektil polisi di bagian paha masing-masing.

Mereka adalah Ismail (22) warga Jl Lambengi, Kecamatan Pallangga dan Irham (20) warga Kabupaten Sidrap. Mereka tertangkap tangan di Jl Mesjid Raya, Kelurahan Tinggi Mae, Kecamatan Somba Opu oleh polisi yang sedang berpatroli.

Penangkapan ke dua pelaku berawal ketika Eranawati (18) warga Jl manyyampa, Desa Bontoala, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa melintas di depan kantor Rumah Jabatan Bupati Kabupaten Gowa. Tiba-tiba ke dua pelaku menyambar korban dan berusaha merebut tas korbannya namun korban dan pelaku terjatuh.

Pihak Kepolisian Polresta Gowa yang sedang berpatroli melihat kejadian tersebut dan mencoba menangkap para pelaku. Namun para pelaku berusaha meloloskan diri. Setelah diberi tiga kali tembakan peringatan, pelaku terus berusaha meloloskan diri sehingga ditembaki di paha masing-masing pelaku.

Pelaku kemudian dilarikan ke rumah sakit Bhayangkara untuk mendapatkan perawatan intensif pada lukanya. (*)

Editor : Sofyan Akbar
Sumber : Tribun Timur

Monday, 15 August 2011

Ditinggal Kencing, Jagau Ditembak Petugas

Banjarmasinpost.co.id - Senin, 15 Agustus 2011 | 05:21 Wita | Dibaca 314 kali | Komentar

BANJARMASINPOST.CO.ID, KUALAKAPUAS -Ditinggalkan petugas kencing, Yunadi alias Jagau (25) dihadiahi dua butir timah panas di kakinya, Minggu (14/8/2011) dini hari.

Sebabnya, warga Sungaihanyu RT 3, Kecamatan Kapuashulu, Kualakapuas, Kapuas, Kalteng, tersebut mencoba kabur dari mobil anggota Polres Kapuas yang mengangkutnya.

Satu proyeklil bersarang di sekitar tumit kiri dan satu lagi di sekitar betis kanan. Selanjutnya, lelaki itu pun dibawa IGD RSUD Kapuas untuk menjalani operasi.

"Dia terpaksa ditembak karena mencoba kabur dari anggota yang mengawalnya. Ketika itu, anggota sedang buang air kecil dan tersangka sempat meninggalkan mobil, tapi keburu ketahuan," ujar AKP Bronto Budiono, Kasat Reskrim Polres Kapuas.

Lelaki tersebut ditangkap anggota Unit Buru Sergap (buser) Satreskrim Polres Kapuas dalam sebuah penangkapan di rumahnya, Sabtu (13/8/2011).

Sekitar tiga bulan terakhir, Yunadi dicari atas dugaan pembunuhan terhadap Jumadi (20), warga sedesanya.

Peristiwa itu terjadi Mei 2011, di sebuah pesta perkawinan seorang warga Sungaihanyu. Malamnya, digelar hiburan berupa organ tunggal.

Dugaan sementara, terjadi perselisihan saat hiburan itu berlangsung yang berujung duel. Selanjutnya, pelaku menusukkan pisau dan mengenai sekitar pinggang lawan. Jumadi tewas di tempat kejadian.

Kepada petugas, Yunadi mengaku perbuatannya dilakukan karena takut keduluan dibunuh oleh korban yang saat itu juga membawa senjata tajam.

Dalih pelaku, korban merupakan adik dari seorang pemuda yang pada 2006 pernah ditusuknya.

"Daripada dibunuh, lebih baik saya yang melakukannya duluan," kata Yunadi menjawab BPost.

Kasat Reskrim menyebut, tersangka memiliki beberapa kasus penganiayaan. Selain pada 2006 dan 2011, pada 2008 juga ada kasus serupa. Namun tidak diproses secara hukum karena diselesaikan secara kekeluargaan.

Selama ini, polisi terus melakukan pengejaran terhadap Yunadi yang disebutkan sempat bersembunyi hingga ke Kualakurun setelah kasus pembunuhan Jumadi.

"Hancur hidup saya kalau begini," kata Yunadi sambil meringis saat mendapat perawatan tim medis RSUD Kapuas.
(ami/bpost online)

http://banjarmasin.tribunnews.com/read/artikel/1970/1/1/94804/Ditinggal-Kencing-Jagau-Ditembak-Petugas

Curi Emas di Rumah Polisi, Tersungkur Dibedil

Senin, 15 Agustus 2011 - 15:13 WIB

SERANG (Pos Kota) – Tak punya uang buat lebaran di kampung, Nurul Jakaria Lutfiari, 24, nekad curi perhiasan milik anak majikannya di Komplek Taman Kristan Blok J/01, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang.

Tersangka berhasil diringkus Tim Khusus Anti Bandit (Tekab) Polres Serang saat nunggu bus di Terminal Pakupatan, Kota Serang mau pulang kampung, Minggu (14/8) sekitar pukul 23:00.

Pria asal Jombang, Jawa Timur ini ditembak karena melakukan perlawanan saat disergap.

Kasat Reskrim Polres Serang, AKP Doni Hadi Santoso mengatakan tersangka dilaporkan telah melakukan pencurian perhiasan di rumah Weber, anggota Polda Banten, di Komplek Taman Krisan. Peristiwa pencurian terjadi pada Sabtu (24/7) saat korban dan dr Sylviana, isterinya sedang pergi ke Jakarta.

“Perhiasan cincin dan gelang senilai Rp 10 juta dari dalam lemari dibawa pelaku,” ujar AKP Doni, Senin (15/8).

Dari keterangan korban, sehari sebelum terjadi aksi pencurian, tersangka di ketahui menginap di rumah korban. Antara korban dengan tersangka sudah saling kenal karena tersangka juga bekerja di GSC cafe milik pejabat Polda Banten, AKBP Jasmarni, orang tua korban.

Kecurigaan makin menguat karena tersangka tidak lagi tinggal di mess GSC cafe. Setelah dilakukan penyelidikan ternyata tersangka diketahui berada di Terminal Pakupatan.

Sadar dirinya sedang diintai petugas, tersangka yang akan pulang kampung ini berusaha kabur. Melihat buronannya melarikan diri, polisipun langsung mengejar sambil membuat tembakan peringatan.

Karena tembakan peringatan tak digubris, tersangkapun akhirnya ditembak. Residivis yang baru 3 bulan bebas dari LP Tangerang tersungkur setelah betis kanannya diterjang timah panas.

Ditemui di ruang reskrin Unit Jatanras, tersangka mengakui telah mencuri perhiasan dan uang tunai di rumah anak majikannya di Komplek Taman Krisan. Perhiasan gelang dan cincin emas dikatakan sudah dijual kepada seseorang yang ditemui di Pasar Ciruas seharga Rp 3 juta.

“Rencananya saya mau pulang kampung mau lebaran. Tapi sudah ketangkep duluan,” kata tersangka. (haryono/dms)


http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2011/08/15/curi-emas-di-rumah-polisi-tersungkur-dibedil

Friday, 12 August 2011

Akbar dan Maman Sudah jadi Buron Polisi Sejak 2010

Tribun Timur - Jumat, 12 Agustus 2011 10:29 WITA


MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM - Sepak terjang Akbar Mahendra (23) mahasiswa semester sembilan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poltik (Fisipol) Unhas, berakhir di tangan polisi. Ia ditembak di areal kampus Unhas Tamalanrea, setelah berusaha mencuri sepeda motor milik rekannya di area parkir Fakultas Hukum Unhas, Jumat (12/8/2011).

Ia nyaris diamuk mahasiswa yang memergoki aksinya. Beruntung polisi segera datang ke lokasi kejadian tak lama kemudian. Namun bukannya menyerah, Akbar dan rekannya, Sulaiman alias Maman, berusaha kabur. Ia pun langsung diberondong peluru.

Kejahatan Akbar dan Maman ternyata tidak sampai di situ. Hasil interogasi polisi sementara menyebutkan, kedua orang ini mengincar laptop yang tersimpan di dalam laptop mobil Suzuki APV yang juga sedang terparkir di area parkir Fakultas Hukum Unhas.

"Sebenarnya, pelaku sudah menjadi incaran polisi sejak 2010 lalu, bahkan pelaku masuk dalam deretan daftar pencarian orang atau DPO. Karena kami tak ingin kehilangan jejak, makanya kami mengambil langkah dengan melumpuhkan pelaku," ujar Surono.

Selain meringkus pelaku, polisi juga berhasil mengamankan satu unit motor Ninja RR, hasil curiannya di kampus Unhas Makassar siang tadi.

Kepala unit reserse dan kriminal Polsekta Tamalanrea, Iptu Ahmad Rusma membenarkan pihaknya berhasil meringkus dua gembong ranmor yang selama ini jadi incaran polisi.

"Semoga dengan tertangkapnya dua pelaku ranmor lintas kampus ini, semakin memudahkan polisi untuk mengungkap para kaki tangan pelaku," ujar Ahmad Rusma.(*/tribun-timur.com)

Penulis : Nashrudin
Editor : Muh. Irham

http://makassar.tribunnews.com/2011/08/12/akbar-dan-maman-sudah-jadi-buron-polisi-sejak-2010

Wajarkah Tersangka Ditembak?

Padang Ekspres • Jumat, 12/08/2011 11:34 WIB • 62 klik

Sepekan terakhir, Sumatera Barat kembali diguncang oleh kabar tak sedap mengenai tindakan brutal yang dilakukan oleh oknum anggota kepolisian terhadap seorang tersangka tindak pidana penadahan secara membabi-buta. Dengan dalih tersangka melakukan perlawanan dan membahayakan, sang aparat tanpa ragu dan pikir panjang melepaskan timah panas yang digenggamnya ke tubuh si tersangka. Sangat mustahil alibi yang dikemukakan oleh aparat tersebut, mengingat saat melakukan penangkapan sang aparat tidaklah sendirian, tapi ditemani oleh rekannya, dan itu pun dilengkapi dengan senjata.


Tidaklah mungkin seorang warga sipil biasa yang sama sekali belum pernah terlibat kejahatan, berani melawan beberapa orang petugas yang datang dengan senjata lengkap. Sungguh sebuah alasan yang terlalu mengada-ada dan semakin mempertontonkan betapa tidak profesionalnya aparat yang satu ini ketika bertugas menangani kasus yang melibatkan rakyat biasa. Senjata yang dibeli dengan uang rakyat malah dipergunakan untuk mencelakakan rakyat itu sendiri.


Anehnya, sang pemimpin kepolisian yang semestinya memproses hukum kasus penembakan tersebut, justru melontarkan statement yang nadanya kental membela oknum tersebut, dengan dalih bahwa anggotanya telah bertindak sesuai prosedur tetap (protap) dalam melakukan penembakan tersebut. Publik tentunya bertanya protap mana yang memperbolehkan seorang anggota kepolisian menembak secara membabi buta terhadap seorang warga sipil yang tidak bersenjata? Kalaulah memang seperti itu protapnya, apakah tidak ada implementasi standar HAM bagi setiap anggota kepolisian yang bertugas sehingga tidak bertindak serabutan?


Perlu dipahami bahwa institusi kepolisian bukanlah pengadilan, sebab hanya pengadilanlah (baca: melalui hakim) yang berhak memutuskan nasib seseorang apakah bersalah atau tidak, apalagi sampai beraninya melakukan eksekusi di tempat terhadap orang yang belum jelas derajat kesalahannya. Sungguh perbuatan yang sangat keterlaluan dan memalukan, sebab tindakan sang aparat tersebut tidak hanya melanggar kode etik, tapi juga merupakan sebuah tindak pidana yang meresahkan masyarakat luas. Bagaimanapun juga, pelaku penembakan tersebut harus mendapatkan sanksi etik dan hukum yang tegas. Bila perlu tidak hanya dicopot, tapi juga dipecat dan dihukum sesuai ketentuan berlaku. Karena apabila dibiarkan, sangat dikhawatirkan akan membahayakan masyarakat lainnya dan akan memperburuk citra kepolisian sebagai salah satu pilar penegak hukum.


Penulis mahfum, kalau seandainya yang melakukan penembakan secara serabutan tersebut adalah seorang perampok atau penjahat jalanan yang memang tidak pernah dilatih khusus dan dibekali pendidikan mengenai cara penggunaan senjata, sehingga apabila yang ditembak kaki, wajarlah bila yang kena adalah kepala ataupun bagian vital lainnya. Tapi ini beda kondisinya, sebab sebagaimana diketahui tidak mudah masuk kepolisian. Selain harus mengikuti seleksi yang ketat saat masuk, setelah lulus juga harus mengikuti serangkaian pendidikan dan pelatihan, termasuk dalam hal penggunaan senjata api. Tidak hanya itu, setelah berdinas pun apabila ingin memegang senjata sang aparat tersebut juga harus mengikuti proses seleksi berupa tes psikologi guna mendapatkan izin penggunaan senjata dalam bertugas. Namun, kenapa peristiwa penembakan secara membabi-buta masih saja terjadi? Logikanya, kalau tembakan yang dilakukan adalah untuk mengamankan tersangka, kenapa bagian yang ditembak adalah badan yang merupakan bagian sangat vital, mengapa bukan bagian kaki? Apakah ini yang namanya profesional? Entahlah.


Mungkin masih teringat jelas dalam ingatan publik peristiwa penembakan Beny Irzal alias Aciak (terduga pembunuh anggota Brimob) yang dieksekusi mati di tempat kejadian oleh oknum anggota kepolisian di wilayah Limaumanis, Padang, dengan alasan yang sama, yakni tersangka melawan saat akan ditangkap oleh satu regu kepolisian bersenjata lengkap. Masih banyak kasus penembakan lainnya, yang umumnya si korban adalah orang-orang kecil yang baru dalam tahapan diduga melakukan tindak pidana. Akibat dari penembakan tersebut, tidak jarang si korban mengalami kelumpuhan, bahkan meninggal dunia.


Tentunya masyarakat bertanya-tanya kenapa aparat kepolisian hanya berani main tembak terhadap orang-orang kecil sekalipun belum terbukti bersalah? Kenapa adegan main tembak tersebut tidak pernah terjadi terhadap para penjahat berdasi? Jawaban semua pertanyaan tersebut tentu saja hanya bisa dijawab oleh korps berbaju cokelat tersebut. Penulis yakin, bahwa tidak ada satu pun anggota kepolisian di negeri ini yang tidak paham dengan asas praduga tak bersalah (presumption of innocence). Sebuah asas dasar dalam penegakan hukum yang seyogianya tidak hanya dipahami, tapi juga diimplementasikan oleh setiap anggota kepolisian dalam melaksanakan tugasnya. (*)


http://padangekspres.co.id/?news=nberita&id=788

Terlibat Ranmor, Mahasiswa Fisipol Unhas Ditembak

Tribunnews.com - Jumat, 12 Agustus 2011 16:51 WIB

Laporan Wartawan Tribun Timur, Rudhy

TRIBUNNEWS.COM, MAKASSAR - Akbar Mahendra (23), mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Sulsel ditembak oleh Satuan Unit Khusus Polsekta Tamalanrea karena terlibat kasus pencurian motor (ranmor) lintas kampus.

Akibatnya, Akbar yang duduk disemester sembilan Fakultas Sosial dan Politik mengalami luka di bagian betis kanannya setelah dilumpuhkan dengan timah panas. Ketika itu tersangka hendak melarikan diri.

Penembakan tersebut terjadi di areal kampus Unhas, Jumat (12/8/2011) siang tadi, setelah Akbar yang tinggal di Jalan Bung permai B3 No 13 dan rekannya, Sulaiman alias Maman, warga Bulue, Kabupaten Bantaeng mencoba melarikan diri setelah diamuk mahasiswa Unhas.

Karena pelaku mencoba kabur dari sergapan massa dan polisi, keduanya pun dilumpuhkan dengan timah panas di kaki pelaku. Khusus untuk Akbar, Ia mengalami luka tembak di bagian betis kanan, sementara Maman ditembak di bagian betis dan paha kanan.

"Keduanya terpaksa kita lumpuhkan, karena mencoba melarikan diri. Kedua pelaku ini sudah sejak dulu jadi incaran polisi,"kata Perwira Unit (Panit) II Polsekta Tamalanrea, Iptu Surono kepada Tribun, Jumat (12/8/2011) sore.

Surono mengatakan, Akbar dan Maman berhasil dibekuk setelah dilumpuhkan dengan timah panas. Pelaku ditangkap berawal saat hendak mencuri sepeda motor jenis Kawasaki Ninja RR berwarna hijau di area parkiran tak jauh dari fakultas hukum.

Bukan hanya itu, selain mencuri motor, kedua pelaku yang menjalankan aksinya pada siang bolong itu juga mengincar barang berupa laptop di dalam mobil jenis APV yang juga terparkir di area fakultas hukum. Namun, aksi keduanya lebih awal diketahui polisi yang sejak awal membuntuti pelaku ke dalam kampus.

"Sebenarnya, pelaku sudah menjadi incaran polisi sejak 2010 lalu, bahkan pelaku masuk dalam deretan daftar pencarian orang atau DPO. Karena kami tak ingin kehilangan jejak, makanya kami mengambil langkah dengan melumpuhkan pelaku," ujar pria asal Bone ini.

Selain meringkus pelaku, polisi juga berhasil mengamankan satu unit motor Ninja RR, hasil curiannya di Kampus Unhas Makassar siang tadi.

Kepala Unit Reserse dan Kriminal Polsekta Tamalanrea, Iptu Ahmad Rusma membenarkan telah meringkus dua gembong ranmor ini.

Secara terpisah, kedua korban mengakui pekerjaan ini digeluti sejak 2009 lalu. Berdasarkan data kepolisian, khusus Sulaeman telah mencuri tujuh unit motor berbagai jenis.

"Per unitnya biasa kami jual seharga Rp 4-6 juta termasuk merek motor Ninja RR," ujar Sulaeman dan Akbar yang terbaring di Unit Gawat Darurat RS Bhayangkara Makassar itu.

http://www.tribunnews.com/2011/08/12/terlibat-ranmor-mahasiswa-fisipol-unhas-ditembak

Polisi Desertir dan Istrinya Pelaku Pembunuhan Karyawati BRI

KOMPAS/MOHAMMAD HILMI FAIQ
Tribunnews.com - Jumat, 12 Agustus 2011 18:18 WIB
Jenazah Wahyuni, karyawati Bank BRI Syariah yang ditemukan di Samosir, Jumat (5/8/2011).

Laporan wartawan Tribun Medan / M Azhari Tanjung

TRIBUNNEWS.COM, MEDAN - Pelaku penculikkan sekaligus pembunuhan Teller BRI Syariah, Jalan S Parman, Wahyuni Simangunsong (26) dibekuk Petugas Sat Reskrim Gabungan Polresta Medan, Jumat (12/8/2011) dini hari di kedua tempat berbeda.

Erwin Panjaitan (30), warga Pasar II, Tanah 600, Marelan dihadiahi 4 peluru oleh petugas ditempat karena melakukan perlawanan saat dibekuk dikediamannya, Jumat (11/8/2011) dini hari.

Pantuan Tribun-medan.com, di RS Bayangkara Polda Sumut sekitar pukul 07.00 WIB di Jalan KH Hasyim, terlihat petugas Sat Reskrim Polresta Medan dan Sat Brimob Polda Sumut melakukan pengamanan di RS Bayangkara.

Pasalnya, 4 pelaku penculikkan Wahyuni Simangungsong dan Rizaldi Mavi sudah dibekuk petugas polisi. Erwin Panjaitan ditembak petugas dengan empat peluru masing-masing di kaki kanan tembus ke mata kaki, lutut kanan, betis kanan dan selangkangan paha kiri.

Saat tiba di RS Bayangkara Polda Sumut, Erwin Panjaitan langsung diboyong ke IGD RS Bayangkara dan dilakukan pengambilan empat peluru tersebut.Pengakuan Kanit Jahtanras Polresta Medan, AKP Yudi P SIK saat di RS Bayangkara mengatakan, bahwa pelaku dibekuk dimasing-masing tempat.

“Erwin Panjaitan dan istrinya, Ria br Hutabarata dibekuk dikediamannya Pasar II, Tanah 600, Marelan dan Suherman alias Mbot dan istrinya Eva Lestari dibekuk di Komplek Wakiki, Sunggal,” tukasnya.

Lebih lanjut, ditambahkannya, salah satu pelaku ditembak karena melakukan perlawanan saat hendak dibekuk. “Dia (Erwin Panjaitan, Red) terpaksa ditembak karena melakukan perlawanan saat dibekuk oleh tim kita,” cetusnya.

Berdasarkan informasi yang diterima tribun ternyata Erwin sendiri merupakan, petugas polres KP3 Belawan yang disersi selama 9 bulan. Terakhir kali, Erwin sendiri terlibat dalam penjambretan di seputaran jalan pancing.

Sementara itu, Kapolres Belawan, AKBP Endro saat di RS Bayangkara saat ditanyai mengatakan, bahwa memang benar salah satu pelaku petugas. “satu pelaku memang petugas dan sempat bertugas di di Polres Belawan,” ujarnya.


Editor: Yulis Sulistyawan | Sumber: Tribun Medan
Akses Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat m.tribunnews.com