Showing posts with label tni. Show all posts
Showing posts with label tni. Show all posts

Thursday, 13 June 2013

RINGKASAN KASUS KEKERASAN, PENANGKAPAN, PENAHANAN, DAN PENEMBAKAN DI PAPUA SEJAK 30 April 2013 - 22 Mei 2013



RINGKASAN KASUS KEKERASAN, PENANGKAPAN, PENAHANAN, DAN PENEMBAKAN DI PAPUA SEJAK 30 April 2013 - 22 Mei 2013
Laporan ini disusun oleh : Oktovianus Pogau
Laporan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), pihak Gereja, hingga masyarakat sipil di Papua (red, Papua dan Papua Barat) melaporkan telah terjadi serangkain kekerasan yang masif berupa penembakan, pembunuhan, pelarangan dan pembubaran paksa massa aksi, hingga penangkapan dan penahanan, yang disertai dengan penyiksaan di beberapa tempat, seperti di Sorong, Jayapura, Biak, Timika, dan Wamena, sejak 30 April 2013 - 22 Mei 2013. 
Dalam laporan tersebut, disebutkan aparat keamanan dari Kepolisian Daerah Papua (Polda) Papua, dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari Kodam XVII/Cenderawasih menjadi aktor utama. Ruang demokrasi di tanah Papua benar-benar dibungkam. Wartawan asing, diplomat internasional, dan lembaga HAM Internasional “dilarang” untuk berkunjung ke tanah Papua.
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) dan National Papua Solidarity (NAPAS) di Jakarta juga melaporkan hal yang sama, yakni tindakan aparat keamanan telah mengakibatkan 4 orang tewas ditembak, 4 orang luka-luka kritis dan 34 orang ditangkap, 21 orang ditahan untuk menjalani proses hukum dengan tuduhan makar - kecuali Ketua Umum KNPB, Victor F Yeimo yang kembali menjalani sisa masa tahanan 2 tahun.
Adapun kronologis singkat peristiwa-peristiwa tersebut yang saya rangkum berdasarkan wilayah atau Kota terjadinya kekerasan (tabel kekerasan secara lengkap silakan lihat di lampiran dalam bentuk tabel).

Penembakan, Penyiksaan dan Penangkapan di Sorong
Pada 30 April 2013, sekitar pukul 21.00 Wit, aparat gabungan TNI/Polri menggunakan satu buah mobil Avanza, satu mobil Inova dan satu buah mobil patroli mendekati sejumlah warga yang sedang berada dalam tenda di rumah bapak Isak Klaibin. Warga sedang berkumpul untuk rapat dan ibadah menyambut hari aneksasi Papua ke dalam Negara Indonesia.
Melihat Polisi terus melakukan patroli, termasuk menghalangi warga yang akan ibadah di rumah bapak Isak Klaibin, warga marah dan sempat menghalangi satu buah mobil Avanza yang belakangan diketahui digunakan oleh Wakapolres Sorong. Melihat warga menghalangi mobil yang ditumpangi Wakapolres, aparat TNI/Polri marah dan mengeluarkan tembakan secara membabi buta.
Lima warga tertembak peluru aparat keamanan. Tiga warga yang meninggal adalah Apner Malagawak (22), Thomas Blesya (28), dan ibu Salomina Klaibin (37) - meninggal setelah dirawat seminggu lamanya di Rumah Sakit Se Be Solo, Sorong. Yang luka kritis dan masih dirawat keluarga hingga kini adalah Herman Lokden (18), dan Andreas Sapisa (22).

Sekitar pukul 22.30 Wit, aparat juga menangkap enam warga sipil, Klemens Kodimko (71), Obeth Kamesrar (65), Antonius Safuf (62), Obaja Kamesrar (40), Yordan Magablo (42) dan Hengky Mangamis (39). Keenam warga ini dituduh melakukan Tindak Pidana Kejahatan Terhadap Negara (Makar), sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106, Pasal 107, Pasal 108, Pasal 110, Pasal 160, Pasal 164 KUHP, ancama hukum maksimal 20 tahun penjara.

Pada 9 Mei 2013, sekitar pukul 12.30 Wit, bapak Isak Klaibin (38), yang disebut-sebut sebagai pimpinan OPM Wilayah Sorong menyerahkan diri kepada aparat kepolisian setelah dibujuk oleh pihak gereja di Sorong. Klaibin juga didakwa  melakukan Tindak Pidana Kejahatan Terhadap Negara (Makar), sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106, Pasal 107, Pasal 108, Pasal 110, Pasal 160, Pasal 164 KUHP, ancaman hukum maksimal 20 tahun penjara.  
Penangkapan, Penyiksaan dan Penahanan di Timika
Penangkapan, penyiksaan, disertai penahanan juga terjadi di Timika, pada 1 Mei 2013, sekitar pukul 13.00 Wit. Puluhan warga berkumpul di Jalan Trikora, tepat depan SD Negeri II Kwaki Baru, Timika, untuk beribadah.  Diketahui, massa juga sudah lebih dulu mengibarkan bendera bintang kejora disebuh tiang kayu pendek. Melihat itu, aparat Kepolisian dari Polres Timika, anggota Perintis, Dalmas Polres Mimika dan Polsek Mimika Baru, Brimob B Polda dan dibantu oleh Garnizun TNI membubarkan warga, dan mengeluarkan tembakan beruntun ke udara.
Aparat menangkap 16 Warga sipil. Mereka mengalami penyiksaan hebat selama dalam perjalan ke Polres Mimika, dan ketika sudah di Polres. Yang ditahan adalah Domy Mom, Altinus Uamang, Musa Elas, Jhony Niwilingame, Hari Natal Limagay, Jhon Kum, Semuil Deikme, Miriyan Tzenawatme, Mon Deikme, Aminus Hagabal, Yacob Onawame, Hery Onawame, Biru Kogoya, Seorang Suku Sorong Ayamaru, Seorang bermarga Beanal dan Alpon.
Keesokannya, 8 warga dibebaskan, dan 7 orang ditahan dengan dakwaan melakukan Tindak Pidana Kejahatan Terhadap Negara (Makar), sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106, Pasal 107, Pasal 108, Pasal 110, Pasal 160, Pasal 164 KUHP, ancama hukum maksimal 20 tahun penjara. 
Penangkapan Warga di Biak
Pada 1 Mei 2013, sekitar pukul 04.00 Wit, ada aksi pengibaran bendera Bintang Kejora di Kantor Diklat Pemerintah Kabupaten Biak, tetap di Kampung Ibdi. Setelah mendapat kabar, aparat dikerahkan untuk menurunkan Bendera tersebut, kemudian Polisi dibantu oleh TNI mencari pelaku pengbaran bendera yang diduga melarikan diri.
Lima orang dengan inisial YW, YA, YB, OW, MG dan GSY ditangkap aparat TNI/Polri di Kampung Ibdi siang harinya. Saat dibawa ke Kantor Polisi, mereka sempat disiksa, dan dipaksa mengakui sebagai pelaku pengibaran bendera. Saat ini, mereka telah ditetapkan sebagai tersangka dengan dakwaan melakukan Tindak Pidana Kejahatan Terhadap Negara (Makar), sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106, Pasal 107, Pasal 108, Pasal 110, Pasal 160, Pasal 164 KUHP, ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara.  
Pelarangan dan Pembubaran Massa Aksi, disertai dengan penangkapan sewenang-wenang di Jayapura
Pada 1 Mei 2013, sekitar pukul 09.30 Wit, tepat di Lingkaran, Depan Kantor Pos Abepura, aparat kembali melakukan penangkapan terhadap salah satu anggota Komite Nasional Papua Barat (KNPB), Martinus Yohame (26). Yohame saat itu sedang melakukan orasi-orasi untuk mengumpulkan massa aksi yang rencana akan beribadah di Sentani untuk memperingati hari Aneksasi Papua ke dalam Indonesia. Saat laporan ini dibuat, kabar Yohame masih belum diketahui.
Pada 8 Mei 2013, mahasiswa dan masyarakat yang tergabung dalam aliansi Solidaritas Peduli Penegakkan HAM (SPP HAM) mengajukan surat pemberitahuan aksi bernomor: 00/SP/PAN-SPHAM-UTSN/V/2013, untuk agenda aksi pada tanggal 13 Mei 2013. Pihak Polda Papua menolak mengeluarkan surat tanda terima dengan alasan SPP HAM sebagai organisasi pelaksana aksi tidak memiliki AD/ART dan tidak terdaftar pada Badan Kesbangpol Propinsi Papua.
Namun, pada 13 Mei 2013, SPP HAM tetap melaksanakan aksi damai di Kota Jayapura. Aksi ini bertujuan untuk menuntut pertanggungjawaban negara atas tewasnya 3 orang warga sipil di Aimas Kabupaten Sorong dan pengkapan seweng-wenang terhadap warga sipil di Sorong, Biak, Mimika dan Jayapura pada 30 April dan 1 Mei 2013.
Aksi dimulai sekitar pukul 08.30 Wit, didepan Kampus Universitas Cendrawasih (Uncen) Waena dan Kampus Uncen Abepura serta di depan taman Budaya Expo Waena, Distrik Heram Kota Jayapura. Aparat Kepolisian (Brimob dan Dalmas Polresta dan Polda Papua) membubar paksa aksi karena alasan tidak ada surat izin. Saat pembubaran paksa Polsi menangkap 4 orang masa aksi, selain itu mereka juga menyiksa seorang Mahasiswa Uncen. Aksi penangkapan dan penyiksaan ini terjadi  di depan halte bus Universitas Cendrawasih Perumnas 3 Waena Jayapura.
Empat orang yang ditahan dan seorang yang disiksa adalah sebagai berikut, Victor Yeimo (masih ditahan), Marthen Manggaprouw (sudah bebas), Yongky Ulimpa (sudah bebas), Elly Kobak (sudah bebas), dan Markus Giban (Mahasiwa Uncen) yang dipukul dengan popor senjata dan patah tangan kiri dan kini sedang dirawat di rumah Sakit RSUD Abepura
Pada 22 Mei 2013, sekitar pukul 12.00 Wit, Yason Ngelia, Ketua BEM Fisip Uncen ditahan, dan interogasi aparat Polresta Jayapura. “Saat itu saya menolak untuk diinterogasi karena tidak ada surat pemanggilan tetapi mereka (Polisi) katakan bahwa ini perintah jadi adik ikuti saja,” Kata Yason. Dia dimintai keterangan selama 6 jam (12.00-18.00 WIT) terkait aksi tanggal 13 Mei di depan kampus Uncen yang kemudian dibubarkan paksa oleh gabungan Aparat Kepolisian. Pada aksi itu, Yason Ngelia sebagai kordinator lapangan.
Penembakan Warga Sipil oleh Anggota TNI di Wamena
Pada tanggal 9 Mei 2013, Pukul 09.30 Wit, di Jalan Yos Sudarso, terjadi penembakan terhadap seorang warga sipil yang diketahui bernama Arton Kogoya. Menurut keterangan beberapa saksi mata, Arton dalam keadaan mabuk, dan membuat keonaran di sebuah warung internet di jalan Yos Sudarso. Pemilik warnet kemudian memanggil beberapa anggota TNI. Ada enam orang anggota TNI menegur korban, namun karena tidak digubris oleh korban, aparat kemudian menembak mati korban dengan timah panas sebanyak enam kali, dan tewas ditempat.

Wednesday, 1 May 2013

Polisi Klaim Penembakan Sesuai SOP di Musi Rawas


Penulis : Irene Sarwindaningrum | Selasa, 30 April 2013 | 09:04 WIB
PALEMBANG, KOMPAS.com — Penembakan di Musi Rawas yang mengakibatkan empat orang tewas diklaim polisi telah sesuai standar operasional prosedur (SOP).

Semua sudah sesuai tahapan pembubaran massa, mulai mengimbau hingga memberi tembakan peringatan.
-- Djarod Padakova

"Semua sudah sesuai tahapan pembubaran massa, mulai mengimbau hingga memberi tembakan peringatan," kata Kabid Humas Polda Sumsel Ajun Komisaris Besar Djarod Padakova di Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (30/4/2013).
Menurut Djarod, pelepasan tembakan mendatar merupakan langkah terakhir karena tahapan sebelumnya gagal. Saat ketegangan kepolisian dan massa meningkat, juga terdengar suara letusan yang diduga merupakan suara tembakan rakitan (kecepek).
Dalam bentrokan itu, belasan anggota polisi terluka. Sebanyak empat luka parah dan 10 lainnya luka ringan.
Polisi mengerahkan Brimob untuk mengatasi kondisi di Musi Rawas. Pasukan TNI juga dikirim untuk mendukung pengamanan.

Editor :

Robert Adhi Ksp


http://regional.kompas.com/read/2013/04/30/09042843/Polisi.Klaim.Penembakan.Sesuai.SOP.di.Musi.Rawas

Sunday, 28 April 2013

F-PKB Desak Polri Serius Usut Peluru Nyasar


 
Diterbitkan pada Jum'at, 26 April 2013 20:58
Ditulis oleh Eka Mutia Yuniarsih

KEDAIBERITA.COM – JAKARTA – Ketua F-PKB Marwan Jafar meminta, pihak Kepolisian menangani secara serius kasus peluru nyasar yang masuk ke rumah anggota DPR Ir H Nur Yasin MBA di Jl S Parman 111, Jember, Jawa Timur pukul 07.10 WIB, Rabu (24/04/13).
“Kami sebagai pimpinan Fraksi PKB meminta agar aparat kepolisian serius menangani kasus ini dan mengusut tuntas asal-usul peluru tersebut,“ tegas Marwan dalam rilisnya, Jakarta, Jumat (26/04/13).
Dengan menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah, Marwan berharap, pengusutan agar dilakukan bersama aparat TNI. Sebab, di sebelah rumah Pak Nur Yasin adalah asrama tentara.

Politisi PKB ini mendesak agar kepolisian serius dan teliti menangani kasus peluru nyasar itu. Ia juga meminta, agar jangan sampai ada upaya pengaburan kasus sebelum benar-benar tuntas penyelidikannya.

“Khususnya aparat Polres Jember, karena wilayah kejadiannya di Jember. Saya berharap Polres Jember tidak main-main dalam menangani kasus ini,” harapnya.

Namun, Jika memang kasus ini tidak bisa diselesaikan oleh polisi, maka FPKB mengancam akan menempuh jalur politik dengan membawa kasus ini ke Komisi I dan Komisi III DPR RI untuk meminta pertanggung jawaban Panglima TNI dan Kapolri.*
http://www.kedaiberita.com/index.php/polhukam/politik-hukum-dan-keamanan/keamanan/2206-f-pkb-desak-polri-serius-usut-peluru-nyasar

Wednesday, 31 October 2012

3 Teroris Disergap di Poso, 1 Tewas Ditembak


Rabu, 31/10/2012 | 10:41 WIB
JAKARTA - Mabes Polri mengamankan tiga orang 
tersangka teroris di Poso, Sulawesi Tengah. 
Mereka diduga terlibat berbagai aksi terorisme 
seperti di BCA Palu dan berbagai teror lainnya di 
kawasan Poso. Satu orang tewas ditembak petugas 
polisi saat beraksi.
Informasi yang berhasil dihimpun, Rabu (31/10), 
 penangkapan itu dilakukan sekitar pukul 05.30 WIB 
di Desa Kalora RT 03/RW 04, Poso Pesisir, Kabupaten 
Poso. Saat diringkus berbagai barang bukti ditemukan 
 seperti senjata api laras pendek, serbuh pupuk urea 
1 karung, 7 bom pipa dengan panjang 30 cm dan berdiameter 
10 cm, beberapa buah HP dan serbuk putih dalam sebuah 
kantong plastik.
Para terduga teroris ini merupakan DPO penembakan 
BCA Palu dan bom di Ponpes UBK Bima. Mereka juga 
diduga terlibat penembakan di Sape Silica Poso, penembakan 
Madani Poso Pesisir dan berbagai aksi teror lainnya.
Polisi kemudian mengamankan dua orang tersangka terorisme 
 ke Markas Brimob Mamboro sedangkan satu orang terduga 
teroris yang tewas bernama Jippo alias Ibeng dibawa ke 
RS Bhayangkara Palu.
Sebelumnya, aparat gabungan TNI dan Polri melakukan 
 penyisiran di pegunungan Biru, Poso, Sulawesi Tengah, 
untuk mencari kelompok teroris yang selama ini menjadi 
target buruan. Petugas menemukan dua bom rakitan yang 
sengaja disimpan teroris sebagai jebakan yang ditujukan 
kepada aparat yang melintas di kawasan itu.
Selain itu, petugas juga menemukan beberapa barang bukti 
 yang ada di dekat lokasi temuan bahan peledak yang salah 
satunya berdaya ledak rendah dan memiliki bobot berat 10 kilogram.
Menurut Karopenmas Polri, Brigjen Pol Boy Rafli Amar, dua 
 bom tersebut pertama kali ditemukan Sabtu (27/10). 
Sebuah bom rakitan ditemukan di kawasan Gunung Biru. 
"Dua bahan peledak ini difungsikan sebagai bom ranjau. 
Oleh karena itu, petugas kita dalam hal ini Densus, Polda, 
Brimob, dan TNI, terus melangkah ke atas. Jadi upaya-upaya 
melangkah ke kawasan Gunung Biru perlu kehati-hatian tinggi," 
ujar Boy saat itu.

http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=7a4bcdb7c370ea6740a9c01d2b1be
21f&jenis=c4ca4238a0b923820dcc509a6f75849b



Sunday, 15 April 2012

Belum Ada Oknum TNI Terbukti Terlibat Geng Motor



KOMPAS/WISNU WIDIANTORO
Sabrina Asril | Tri Wahono | Minggu, 15 April 2012 | 19:15 WIB

Trianawati kerabat dari almarhum Anggi yang merupakan korban tewas dalam peristiwa penyerangan oleh geng motor di Kawasan Salemba, Jakarta Pusat, menunggu jenasah keponakannya di Kamar Jenazah Rumah Sakit Islam Jakarta, Jakarta Pusat, Jumat (13/4/2012).

JAKARTA, KOMPAS.com
 - Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, menegaskan bahwa belum ada oknum TNI yang terbukti terlibat dalam aksi penyerangan yang dilakukan ratusan orang beberapa hari belakangan ini.



Namun, polisi akan mendalami keterangan dua oknum TNI yang tertembak di Jalan Pramuka, Jakarta Pusat.


"Hingga kini belum ada oknum TNI yang terbukti terlibat. Kalau ada indikasi oknum yang terlibat maka akan kami sesuaikan pengurusannya. Kalau ada angkatan maka ke Pom AL," ungkap Rikwanto, Minggu (15/4/2012), di Parkir Timur Senayan, Jakarta.


Dugaan keterlibatan anggota TNI ini mengemuka dari kesaksian sejumlah saksi mata di lokasi kejadian. J, salah seorang juru parkir di 7Eleven Salemba menduga 200 orang pria berbadan tegap yang menyerang minimarket itu pada tanggal 13 April 2012 dini hari bukanlah pemuda.


"Dari nada bicaranya tegas, pria dewasa, seperti aparat bukan geng motor yang biasanya berisi anak-anak muda," tutur J, Jumat sore, saat dijumpai di lokasi.


Peristiwa sebelumnya pada tanggal 7 April 2012 dini hari di SPBU Shell, Jalan Danau Sunter Utara, Jakarta Utara juga merekam ciri-ciri pelaku dengan jelas.


Di dalam rekaman itu, tampak beberapa orang pria berbadan tegap dan berambut cepak. Beberapa di antaranya ada yang memakai kaos ketat berwarna biru gelap seperti kaos latihan milik TNI.


Untuk menelusuri dugaan keterlibatan oknum TNI itu, aparat kepolisian akan memeriksa dua anggota TNI yang tertembak di Jalan Pramuka yakni Klasi Sugeng Riyadi dan Prada Akbar Yudhi.


Mereka ditembak oleh orang tak dikenal yang menggunakan mobil Toyota Yaris warna putih usai ratusan pria bersepeda motor menyerang di sejumlah tempat.


"Dua ini belum terbukti terlibat. Mereka belum diperiksa karena masih menjalani perawatan," tandas Rikwanto.


http://megapolitan.kompas.com/read/2012/04/15/19151746/Belum.Ada.Oknum.TNI.Terbukti.Terlibat.Geng.Motor