Showing posts with label polisi ditembak mati. Show all posts
Showing posts with label polisi ditembak mati. Show all posts

Sunday, 14 July 2013

Para Jenderal TNI & Polri Senang Prajuritnya Mati Ditembak


June 29, 2013 By: admin Category: KNPB PusatOpiniTPN
Oleh: Wedauma
Mati untuk NKRI
Nyawa Prajurit Tentara dan Polisi Indonesia di West Papua, terus menerus dikorbankan oleh para penguasa Indonesia, terutama para Jenderal TNI dan Polri yang sibuk mengurus proyek konflik. Bukan rahasia lagi, demi kantong pribadi dan pemburuan pangkat para petinggi Militer dan Polisi Indonesia, nyawa prajurit dipertaruhkan dengan doktrin nasionalisme -NKRI Harga Mati.
Malang benar nasib para prajurit berpenghasilan 800.000 an perbulan itu, bahwa selain mereka siap untuk mati percuma, mereka pun harus menanggung kebencian rakyat West Papua, terlebih juga kepada Tuhan atas dosa pembunuhan, pemerkosaan, intimidasi, teror, perampasan dan penguasaan hak bangsa Papua dalam misi penjajahan penguasa Indonesia.
Padahal, penguasa mereka, juga para jenderalnya sibuk dalam urusan pencitraan diri dan korupsi untuk penggendutan rekening pribadi. Memprihatinkan juga, disaat mayat prajurit yang mati disambut tangis pilu keluarga di Bandara, para Jenderalnya bersenang-senang ajukan budget proposal untuk dana operasi dan perluasan komando teritorial (koter). Mereka tidak bersedih, apalagi merasa kehilangan. Mereka justru bersyukur karena darah prajurit TNI dan Polri yang mati dianggap sebagai pemupuk ladang konflik mereka.
Korban penembakan di Puncak Jaya, Papua, Selasa (25/6/2013) terhadap Letda Inf I Wayan Sukarta, anggota TNI dan kedua agennya oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN-PB) dibawa komando Panglima Tinggi, Gen. Goliat Tabuni bukanlah hal baru. Rangkaian penembakan terhadap prajurit TNI maupun Polisi, dan sebaliknya Penembakan terhadap anggota TPN. PB dan rakyat West Papua sudah berlangsung lama sejak penguasa kolonial Indonesia merebut paksa wilayah West Papua melalui operasi militer Trikora tahun 1962.
Di hampir seluruh pelosok wilayah West Papua masih tersimpan rapih cerita-cerita pembunuhan masal, penyiksaan, mutilasi, pemerkosaan hingga pencurian dan mengrusakan kekayaan alam milik bangsa Papua yang dilakukan secara keji dan tak berperikemanusiaan oleh militer Indonesia.
Kekuasaan kolonial Indonesia belum juga mengambil hikmah dari korban rakyat dan militer yang terus berjatuhan di West Papua. Mereka menutup mata terhadap cara cara penyelesaian masalah West Papua secara damai. Mereka ingin, lagi-lagi pejabat Pemerintah dan para jenderalnya, mempertahankan konflik bersenjata agar alokasi dana TNI dan Polri naik terus, dan kesempatan bagi para pejabat militer untuk menambah pangkat dan perluasan basis militer.
Guna menjaga kepentingan itu, mereka juga sangat lihai dan pandai munafik dalam menyembunyikan watak ekspansionisme dan militerismenya dari sorotan Internasional. Wartawan lokal maupun nasional di West Papua direkrut dan digaji agar senantiasa meliput pernyataan-pernyataan dan tema-tema perdamaian, pembangunan, kesejahteraan dan pesan-pesan moral yang seakan-akan memposisikan TNI dan Polri di pihak yang benar, sambil menyudutkan perlawanan rakyat West Papua untuk merdeka.
Dalam kasus terakhir, Anda bisa baca contoh pernyataan Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol I Gede Sumerta Jaya, di Harian Bintang Papua Rabu (26/6/2013), “Informasinya si korban ini berperan aktif membantu kelancaran pembangunan di Illu. Karena anggotanya dan dia mengamankan jalur pasukan bahan makanan masuk ke Puncak Jaya khsusnya di Illu supaya tidak terjadi perampokan dan penghadangan atau mengganggu distribusi pasokan bahan makanan,” kata Sumerta.
Begitu juga, Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XVII/Cenderawasih Kol Inf Jansen Simanjuntak, pada  pada harian Cepos Kamis (27/6/2013) menegaskan, walaupun banyak anggota TNI yang tewas akibat ditembak Kelompok Sipil Bersenjata (KSB), namun Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Christian Zebua tetap pada komitmennya untuk mengajak saudara-saudara kita di Papua itu untuk turun dan kembali ke kampung halaman mereka. “Mari kita bersama-sama membangun Papua, sehingga dapat mengejar ketertinggalan dengan daerah lainnya,” kata dia.
Pernyataan kedua institusi militer diatas dengan jelas terlihat mementingkan kepentingan pencitraan penguasa dan para jenderalnya, sambil menyepelekan 9 Kopassus yang korban atas nama doktrin “NKRI Harga Mati,” dan tentu juga menyembunyikan puluhan nyawa rakyat sipil West Papua yang telah korban dalam aksi balas dendam Kopasus di Puncak Jaya beberapa waktu lalu.
Yang lebih para lagi, mereka, para pejabat militer, penguasa Indonesia dibantu media, tidak mampu dengan jujur memberitakan kepada publik nasional dan Internasional tentang kejelasan aktor dan motif dari konflik penembakan di Puncak Jaya, bahkan di daerah lain. Mereka sengaja menutup akses publikasi perjuangan bangsa Papua, dan menyudutkan mereka sebagai Gerombolan Pengacau Keamanan (GPK), Kelompok Sipil Bersenjata ( KLB), atau Orang Tak Kenal ( OTK).
Padahal, sangat jelas bahwa konflik bersenjata (armed conflict) di Puncak Jaya sudah masuk dalam ranah, yang menurut hukum humaniter internasional (Viery, Geneva, 1992) sebagai konfrontasi yang melibatkan suatu negara dengan suatu “entitas bukan-Negara”, yang juga biasa disebut “perang pembebasan nasional” (war of national liberation).
Yang dimaksud dengan “perang pembebasan nasional” adalah suatu sengketa bersenjata di mana suatu bangsa berperang melawan dominasi kolonial, atau pendudukan asing, atau rezim rasialis dalam rangka melaksanakan hak untuk menentukan nasib sendiri (right of self-determination) sebagaimana yang tercantum di dalam Piagam Perserikatan Bangsa-bangsa.
Nah, dalam kasus konflik bersenjata di Papua, sudah jelas sejak lama TNI/Polri dan TPN-PB melakukan perlawanan senjata, dimana TNI/Polri berada dengan penguasa Indonesia untuk menjajah dan menguasai wilayah koloninya, West Papua. Sedangkan TPN-PB adalah sayap pertahanan militer bangsa Papua, milik rakyat West Papua, yang sedang berjuang untuk bebas dari kungkungan kolonial Indonesia, sebagaimana diatur dibawah hukum internasional tentang hak penentuan nasib sendiri.
Selama belum ada kemauan untuk penyelesaian damai, konflik bersenjata ini tidak akan pernah berhenti, dan karena itu korban di pihak TNI/Polri maupun TPN-PB akan terus ada. Dan rakyat sipil pun akan terus menjadi korban akibat konflik bersenjata yang tidak menerapkan hukum perang (hukum humaniter).
Menggolongkan TPN-PB sebagai sipil bersenjata hanyalah taktik kolonial agar rakyat sipil yang bukan militer TPN-PB jadi sasaran serang. Oleh karena itu sudah waktunya Kolonial Indonesia mengakui eksistensi TPN-PB agar hukum humaniter diterapkan dan menjadi jelas apa motif dan siapa aktor konflik bersenjata itu. Niat tersebut sudah mulai diterapkan oleh Panglima TPN-PB, Gen Goliat Tabuni jajarannya. Dia secara terbuka menyampaikan bahwa dirinya bertanggung jawab terhadap penembakan anggota TNI dan meminta TNI Polri untuk tidak mengganggu sipil.
Selama hal itu tidak diterapkan, maka kembali lagi pada opini awal dari tulisan ini bahwa Penguasa Indonesia dan para pejabat militer TNI dan Polri membiarkan konflik bersenjata di Papua sebagai lahan perburuan alokasi dana APBN, dana Otsus, dana keamanan perusahaan-perusahaan asing dan juga sebagai tempat mendulang pangkat di jajaran institusi TNI/Polri, juga sebagai politik stimulasi bagi politisi kemiliteran dalam merebut tambu kepresidenan. Untuk kepentingan itu, prajurit TNI dan Polri akan terus dijadikan anjing penjaga lahan, yang harus bersedia mati demi doktrin “NKRI Harga Mati”.
———-
Wedauma adalah pengamat konflik bersenjata di KNPB Pusat

Friday, 21 December 2012

Teroris Poso: 3 Polisi Tewas Ditembak, 1 Pelaku Ditangkap


Teroris Poso: 3 Polisi Tewas Ditembak, 1 Pelaku Ditangkap

Politikindonesia - Situasi keamanan di Poso, Sulawesi Tengah kini mencekam. Sebuah regu Brimob dari Polda Sulteng yang sedang melakukan patroli diserang oleh sekelompok orang pada, Kamis (20/12). Dalam baku tembak itu, 3 polisi tewas, sementara salah seorang pelaku berhasil ditangkap.

“Pelaku serangan diperkirakan 15 orang dan satu diantaranya tertangkap," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Boy Rafli Amar kepada pers, Kamis (20/12). Selain itu, polisi berhasil merampas sepucuk senjata api jenis SS-1 yang digunakan pelaku.

Selain korban tewas, penyerangan itu juga menyebabkan 3 orang anggota Brimob lainnya menderita luka-luka. Para korban luka dibawa ke Rumah Sakit Parigi sedangkan jenazah ke RSUD Poso. “Polisi kini tengah melakukan pengejaran terhadap kelompok pelaku.”  

Boy mengatakan pelaku diduga kelompok teroris yang sama yang menggelar kamp pelatihan secara berpindah. Mereka juga yang diduga sebagai pelaku pembunuhan sadis terhadap 2 anggota polisi di Poso, yang sempat dilaporkan hilang sebelum ditemukan tewas mengenaskan pada 8 Oktober dalam satu lubang di daerah Tamanjeka, Kecamatan Poso Pesisir Utara.

Diceritakan Boy, awal kejadian baku tembak ketika sekitar 15 anggota Brimob melakukan penyisiran di wilayah yang dicurigai jadi tempat pelatihan teroris. Ada wilayah-wilayah baru yang ditemukan kepolisian. Rabu pekan lalu, polisi Poso menangkap seorang terduga teroris usai baku tembak di pegunungan Koroncopu, Desa Tambarana, Poso Pesisir.

Ketika patroli berjalan, terjadi tembakan, diduga dari wilayah perbukitan, oleh sekitar 10-15 orang bersenjata. “Patroli ini bagian dari rangkaian penyisiran. Mungkin mereka sudah terdesak karena polisi sudah menyisir wilayah-wilayah yang jadi tempat pelatihan. Saat itu kemungkinan mereka bertemu kebetulan, karena terdesak terjadi penembakan," jelas Boy.
(nif/rin/kap)

http://politikindonesia.com/index.php?k=hukum&i=40425-Teroris-Poso%3A-3-Polisi-Tewas-Ditembak%2C-1-Pelaku-Ditangkap-#.UNOVhwR4_-I.facebook

Tuesday, 4 December 2012

Polisi lepaskan lima terduga penyerangan Polsek Pirime


Selasa, 4 Desember 2012 15:38:01
Polisi melepaskan lima terduga penyerangan Polsek Pirime, Papua. Polisi menilai mereka kooperatif dan tak terlibat langsung dalam penyerangan. Sedangkan satu orang ditetapkan sebagai tersangka dan satu lainnya masih dalam perawatan karena ditembak polisi.

"Dari pengembangan yang dilakukan dari ke 7 orang yang diamankan di dua hari tersebut, telah ditetapkan satu tersangka atas nama DTT. Dia DPO kasus makar yang terjadi pada 2010 yang terjadi di wilayah Bolamei, Kabupaten Jaya Wijaya," ujar Kabag Penum Polri, Kombes Pol Agus Rianto di kantornya, Jakarta, Selasa (4/12).

Sebelumnya kelima orang tersebut yakni KW, LK, TW, GK dan TT sebelumnya ditahan bersama DTT. Namun kini hanya dikenakan wajib lapor.

"Namun mereka tetap sebagai tersangka dan diharuskan wajib lapor terhadap Polres, seminggu dua kali," kata Agus lagi.

Sebelumnya, tujuh orang terduga penyerangan Polsek Pirime ditangkap di tempat dan waktu yang berbeda. Pertama, YW ditangkap pada 27 November lalu di distrik Pirime, saat itu YW dilumpuhkan karena melawan.

Kemudian, di tanggal 29 November di distrik Piramit, Jaya Wijaya ditangkap 6 orang lainnya. Dari mereka didapat berbagai barang bukti termasuk bendera Komite Nasional Papua Barat (KNPB).

Dalam penyerangan di Polsek Pirime, 3 orang polisi tewas.
[ian]

http://www.merdeka.com/peristiwa/polisi-lepaskan-lima-terduga-penyerangan-polsek-pirime.html

Thursday, 29 November 2012

Dalam 3 Tahun, 11 Polisi Papua Tewas Ditembak



    KBR68H, Jayapura - Kepolisian Papua mencatat dalam tiga tahun terakhir, 11 personil mereka tewas ditembak oleh kelompok sipil bersenjata. Juru bicara Polda Papua I Gede Sumerta Jaya mengatakan, kesebelas polisi tersebut tewas saat bertugas. Dalam kurun yang sama polisi mencatat terdapat 30 kali kasus penembakan oleh kelompok sipil bersenjata yang menimpa 50-an polisi.
    “Karena anggota melaksanakan tugas baik di polres-polres maupun di polsek terutama yang paling banyak adalah Puncak Jaya dan Jayapura. (meninggal dunia?) sekitar 11 orang (luka berat berapa orang ndan?) luka berat ada 2 orang,” kata I Gede Sumerta Jaya.
    Juru bicara Polda Papua I Gede Sumerta Jaya menambahkan, data tersebut masih bisa bertambah sebab masih banyak Polres-polres di jajarannya yang belum melaporkan kekerasan terhadap polisi. Misalnya saja seperti di Wamena, saat terjadi kericuhan dalam demo KNBP. Selasa lalu, 3 polisi tewas akibat diserang sekitar 50-an orang.Salah satu yang tewas adalah Kepala Kepolisian Pirime.
    http://www.kbr68h.com/berita/papua/41262-dalam-3-tahun-11-polisi-papua-tewas-ditembak

    Wednesday, 28 November 2012

    Ini Penjelasan Kapolri Soal Tewasnya 3 Polisi Oleh OTK di Papua

    Selasa, 27/11/2012 14:39 WIB
    Jakarta - Tiga anggota Polri menjadi korban penembakan oleh orang tak dikenal (OTK) di Papua. Ketiga korban adalah Kapolsek Pirime Ipda Rofli Takubesi dan 2 anggotanya. 

    Kapolri Jenderal Timur Pradopo mengatakan masih mendalami dan menyelidiki pelaku penembakan tersebut. Belum bisa dipastikan apakah pelakunya Organisasi Papua Merdeka (OPM) atau bukan. 

    "Kita tunggu hasil penyelidikan. Itu yang masih kita dalami," ujar Timur sebelum mengikuti rapat kabinet paripurna di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (27/11/2012). 

    Timur menjelaskan peristiwa penembakan tersebut terjadi sekitar pukul 04.00 WIT. Lokasi Mapolsek Pirime berada di wilayah puncak Jaya Wijaya, sekitar 8 jam perjalanan dari kota Jayapura. 

    Timur juga membenarkan korban penembakan berjumlah tiga orang, yaitu Kapolsek Pirime dan dua anggotanya. "Kapolda Papua juga sudah mendekati TKP. Situasinya sudah bisa dikendalikan Kapolres," imbuhnya. 

    Timur juga mengatakan ketiga korban penembakan telah ditemukan, dan saat ini polisi masih melakukan penyelidikan. Satu SSK Brimob juga sudah diterjunkan ke lokasi untuk pengamanan wilayah. 

    "Status keamanan tetap bahwa lokasi terlokalisir di satu lokasi Jaya Wijaya," kata Timur. 

    Penyerangan pagi tadi menambah catatan peristiwa berdarah di Papua. Sebelumnya pada Oktober lalu, penembakan juga terjadi. Kala itu, personel gabungan TNI/Polri diserang kelompok bersenjata di Muara Sungai Kebo, Distrik Kebo, Kabupaten Paniai, Papua. Dua orang prajurit TNI mengalami luka tembak.

    (rmd/try) 


    http://news.detik.com/read/2012/11/27/143936/2102729/10/ini-penjelasan-kapolri-soal-tewasnya-3-polisi-oleh-otk-di-papua

    Polsek Ditembaki OTK, Dua Polisi Tewas

    Selasa, 27/11/2012, 12:08 WIB
    Mapolsek Pirime, Kabupaten Lany Jaya, Provinsi Papua, pada Selasa (27/11/2012) pagi sekitar pukul 05.00 WITA diserang dengan berondongan peluru oleh sekelompok orang tak dikenal yang menyebabkan dua anggota polisi tewas dan satu lainnya hilang. 

    Dari informasi yang dihimpun dari Jayapura, salah seorang anggota polisi yang tewas ditembak adalah Kapolsek Pirime berinisial T dan anggota lainya berinisial JR. Dan seorang anggota lainya berinisial DM masih dalam pencarian, demikian sepeti dikutip AntaraNews. 

    Kabid Humas Polda Papua, AKBP I Gede Sumerta Jaya ketika dikonfirmasi terkait informasi tersebut mengatakan pihaknya belum dapat data yang lengkap. 

    "Iya saya belum dapat konfirmasi, data yang lengkap dari sana," katanya. 

    Menurut dia, meskipun Polsek Pirime secara administrasi masuk dalam kabupaten Lany Jaya tetapi untuk wilayah hukum dan kerjanya masih menyatu dengan Polres Jayawijaya. (fat/an)


    http://www.berita8.com/read/2012/11/27/27/58707/Polsek-Ditembaki-OTK,-Dua-Polisi-Tewas----

    Monday, 10 September 2012

    Polisi Tewas Ditembak OTK

    Selasa, 11 September 2012 | 7:50
    [JAYAPURA]  Bripda Jefri Runtoboy tewas diterjang timah panas yang ditembakkan oleh orang  tak  dikenal (OTK). 

    Dari  informasi yang diperoleh SP, Senin (10/9) siang, di  Kampung Milineri, Distrik Wenam,  sekitar 5 orang tak dikenal tiba tiba menembak   Bripda Jefri Runtuboy, anggota Polres Tolikara yang sedang melaksanakan pengamanan   pengaspalan jalan raya Wamena - Puncak Jaya milik PT Modern. 

          Sekitar pukul 10.00 WIT, Bripda Jefri Runtuboy dan Bripda Faisal Asri menuju  lokasi pengaspalan Jalan di Kampung  Milineri dengan menggunakan truk bersama sama  dengan karyawan PT. Modern. 

     Setelah tiba di lokasi pengaspalan yang merupakan jalan tanjakan menikung, Bripda jefri Runtuboy berbagi tugas dengan Bripda Faisal Asri. Bripda Jefri bertugas mengamankan bagian atas sektor jalan dan Bripda Faisal Asri mengamankan bagian bawah sektor jalan.

    Sekitar pukul 11.40 WIT pada saat karyawan PT. Modern mengerjakan   pengaspalan jalan, melintas  dua OTK dengan berjalan  kaki menuju korban yang ada di bagian sektor atas jalan pengaspalan. 

         Kemudian dua  OTK menghampiri Bripda Jefri Runtuboy. Mereka berbincang sebentar dan tiba tiba salah seorang mengeluarkn pistol dan menembaki korban. Pada saat OTK menembaki korban, tiba tiba muncul 3 OTK lain.  

    Setelah  melakukan penembakan, pelaku kemudian menodongkan pistol ke arah Indi (20)  karyawan PT. Modern, namun karena  Indi mengaku sebagai karyawan  pelaku membebaskannya dan kemudian langsung melarikan diri ke arah Distrik Geya.

        Bripda Faisal Basri yang mendengar suara tembakan segera lari ke arah korban dan mendapatkan korban telah meninggal dunia.  Sebanyak 20 orang anggota Polres Tolikara  datang ke lokasi dan melakukan pengejaran.      

    Jenazah korban dibawa ke  Puskesmas Karubaga. Hasil outopsi  diketahui terdapat luka tembak pada  mata kanan, 6 luka tembak di dada, luka tembak di tengkuk, luka tembak di lengan kanan atas serta luka tembak di punggung. Ditemukan juga dua   butir proyektil kaliber  9 mm dibagian tubuh korban.  [154]


    http://www.suarapembaruan.com/home/polisi-tewas-ditembak-otk/24458

    Friday, 31 August 2012

    Polisi di Solo Ditembak 4 Kali dari Jarak Dekat


    Penulis : Dian Maharani | Kamis, 30 Agustus 2012 | 23:58 WIB
    JAKARTA, KOMPAS.com — Penembakan terhadap polisi kembali terjadi di Solo, Jawa Tengah, Kamis (30/8/2012) malam. Seorang polisi tewas karena ditembak dari jarak dekat oleh seorang tak dikenal di Pos Polisi Singosaren, Jalan Rajiman Serengan, Solo.
    Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Anang Iskandar saat dihubungi, Kamis malam, mengatakan bahwa peristiwa berdarah itu terjadi sekitar pukul 21.00. Korban bernama Bripka Dwi Data Subekti (sebelumnya disebutkan Aipda Widata) tewas seketika akibat tertembak di dada sebanyak empat kali.
    "Ya, telah terjadi penembakan di Pos Polisi Matahari Singosaren jam 21.00, ditembak jarak dekat. Korban Briptu Data, anggota Polsek Serengan dengan luka empat tembakan di dada," kata Anang di Jakarta.
    Anang mengatakan, pelaku terdiri dari dua orang yang menggunakan sepeda motor Suzuki Smash (sebelumnya ditulis Honda Supra). Pelat nomor kendaraan pelaku pun tercatat AD 2434 HB/BH. Pelaku berhasil melarikan diri dengan cepat menggunakan sepeda motor itu. "Pelaku penembakan lari, ditunggu temannya menggunakan sepeda motor. Dikejar massa lari, terus menembak lagi," ujar Anang.
    Pada saat kejadian, ada beberapa anggota polisi lain yang sedang berjaga dan patroli di luar pos polisi. Korban langsung dilarikan ke rumah sakit dan saat ini telah dipindahkan ke Rumah Sakit Dr Moewardi Solo untuk menjalani otopsi.
    Aksi penembakan ke arah pos polisi ini menambah panjang daftar penyerangan terhadap polisi di kota tersebut. Sebelumnya, aksi serupa juga terjadi di dua Pos Pengamanan (Pospam) Lebaran di Solo. Penembakan dan pelemparan granat oleh orang tak dikenal dilakukan secara berturut-turut. Pertama di Pospam Simpang Gemblengan, Jumat (17/8/2012). Kemudian, kembali terulang pada di Bundaran Gladak, Jalan Jenderal Sudirman, Sabtu (18/8/2012). Pada kejadian tersebut, dua polisi terluka.
    Editor :
    Laksono Hari W

    http://regional.kompas.com/read/2012/08/30/23583966/Polisi.di.Solo.Ditembak.4.Kali.dari.Jarak.Dekat

    Polres Malang Shalat Gaib untuk Bripka Dwi Data


    KOMPAS.COM/M WismabrataFoto almarhum Bripka Dwi Data Subekti
    Jumat, 31 Agustus 2012 | 14:42 WIB
    MALANG, KOMPAS.com -- Peristiwa penembakan di Solo yang menewaskan Bripka Dwi Data Subekti (57) mengundang keprihatinan bagi seluruh anggota kepolisian di jajaran Polres Malang.

    Karena itu,  siang ini (31/8/2012) mereka menggelar shalat jenazah bil gaib (shalat gaib) di Masjid Polres Malang.
    Shalat gaib dilakukan setelah shalat Jumat dan diikuti oleh puluhan anggota Polres. Ditemui usai shalat, Wakapolres Malang Kompol Wahyu Wim Harjanto menyebutkan bahwa shalat gaib digelar sebagai bentuk empati dari anggota Polri di Polres Malang.

    “Walau tidak berdinas di Solo, namun kita merasa empati karena almarhum meninggal saat menjalankan tugas pelayanan masyarakat. Setelah shalat gaib, dilanjutkan dengan doa bersama mendoakan arwah almarhum agar diterima di sisi Allah SWT, keluarga yang ditinggal diberi ketabahan, juga agar kasusnya cepat terungkap,” urai Wahyu.

    Meski peristiwa penembakan tersebut cukup memprihatinkan seluruh jajaran Polres Malang, namun ditegaskan Wahyu bahwa tidak akan ada antisipasi yang berlebihan, agar kejadian serupa tidak terulang di Kabupaten Malang.

    “Tidak ada tindakan khusus yang berlebihan. Untuk di Malang, tetap sesuai protap dimana setiap Pos Pengamanan atau Pos Polisi diisi minimal dua personel. Mereka juga akan diperkuat anggota yang melaksanakan pam tertutup. Yang jelas, anggota tetap harus siaga dan waspada,” pungkasnya.

    Sumber :
    Editor :
    Farid Assifa

    http://regional.kompas.com/read/2012/08/31/14423533/Polres.Malang.Shalat.Gaib.untuk.Bripka.Dwi.Data

    Tuesday, 28 August 2012

    Polisi Ditembak Perampok


    Senin, 16 April 2012 | 03:13 WIB

    PALEMBANG, KOMPAS - Dua polisi Sumatera Selatan ditembak di dua lokasi berbeda selama dua hari berturut-turut. Penembakan tersebut diduga bermotif perampokan.
    Kedua petugas polisi tersebut adalah Briptu Ramisa (28), anggota Samapta Polsek Pulau Rimau, Kabupaten Banyuasin, dan Brigadir (Pol) Pasehono (34), anggota Polsek Mesuji. Ramisa ditembak di Kecamatan Sungai Lilin (Musi Banyuasin), Minggu (15/4). Pasehono ditusuk dan ditembak di Kecamatan Mesuji Makmur (OKI), Sabtu (14/4).

    Kapolres Banyuasin Ajun Komisaris Besar Agus Setiawan mengakui insiden tersebut. Kedua polisi itu kini dirawat di Rumah Sakit Charitas di Palembang, Sumatera Selatan.
    Di lokasi, ditemukan tiga selongsong senjata yang diduga dari senjata rakitan laras pendek.
    Dari Tuban, Jawa Timur, dilaporkan, polisi berhasil menangkap lima tersangka perampokan senilai Rp 2,6 miliar di Pegadaian Unit Pasar Jenu, di Desa Beji, Kecamatan Jenu (Tuban), Jumat (13/4). Dua pelaku lainnya hingga kini masih buron.

    Anggota Sabhara Kepolisian Resor Tuban, Ajun Inspektur Satu EH (42), turut ditangkap karena diduga menjadi otak dan dalang perampokan itu.

    Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Jatim Komisaris Besar Hilman Thayib, Sabtu (14/4), mengakui otak perampokan itu anggota polisi. Tersangka lainnya yang ditangkap adalah Swn (41), warga Dusun Mojosari, Kelurahan Temurejo, Blora (Jawa Tengah); IH (25), warga Dusun Jetis, Kelurahan Sidorejo, Kecamatan Polukulon, Kabupaten Grobongan (Jateng); MS (27), warga Desa Cangkring, Kecamatan Plumpang; dan AAM (40), warga Jenu (Tuban).

    Dari penanganan kasus tersebut, polisi menyita, antara lain, satu mobil Toyota Avanza warna krem S 1729 HC dan 15 paket perhiasan emas berbagai jenis. (ACI/IRE)

    http://regional.kompas.com/read/2012/04/16/03131717/Polisi.Ditembak.Perampok

    Wednesday, 22 August 2012

    Brigadir Yohan Ditembak saat Mencuci Mobil


    Penulis : Josie Susilo Hardianto | Selasa, 21 Agustus 2012 | 12:33 WIB

    JAYAPURA, KOMPAS.com- Orang tak dikenal yang diduga anggota kelompok Organisasi Papua Merdeka menembak mati Brigadir Yohan Kisiwaitoi (29), anggota Polres Paniai, Selasa (21/8/2012) pagi.
    Kepala Bidang Humas Polda Papua Komisaris Besar Johannes Nugroho Wicaksono menyatakan, penembakan terjadi sekitar pukul 10.30 WIT. Saat penembakan terjadi, korban tengah mencuci mobil tak jauh dari ujung Lapangan Terbang Enarotali, ibukota Kabupaten Paniai. Korban diduga ditembak dengan pistol.
    Sebelumnya, pada tanggal 16 Agustus lalu, orang tak dikenal juga menembak mati Mustafa (22) seorang penjaga kios di Distrik Obano, Kabupaten Paniai.
    Menurut keterangan warga Paniai, Okto Pekei, saat ini situasi Kota Enarotali lengang. Polisi meminta warga untuk tinggal di dalam rumah. Polisi tengah mengejar pelaku penembakan.
    Editor :
    Marcus Suprihadi


    http://regional.kompas.com/read/2012/08/21/12332188/Brigadir.Yohan.Ditembak.Saat.Mencuci.Mobil

    Thursday, 2 February 2012

    Inilah Daftar Polisi yang Dikeroyok Warga


    Rabu, 01 Februari 2012 , 11:09:00

    JAKARTA - Indonesia Police Watch (IPW) melansir data sebelas polisi dikeroyok warga sepanjang Januari 2012. Berikut data lengkap yang disampaikan Ketua Presidium IPB, Neta S Pane kepada wartawan di Jakarta, Rabu (1/2).

    Pada 28 Januari 2012, Briptu Sukarno (33) Anggota Brimob Polda Papua tewas ditembak orang tak dikenal di Kampung Wandenggobak, Puncak Jaya. 
    Penembakan terjadi saat korban sedang patroli dan melukai bagian kepalanya.

    Desember 2011 Bripda Feriyanto Kaluku dan Bripda Eko Afriansya juga tewas ditembak di tempat yang sama.

    Pada 26 Januari 2012, Brigadir Alence Yohanes anggota Polsek Saparua, Maluku dibacok sekelompok pemuda hingga tangannya nyaris putus di Negeri Sori-Sori Sarane, Saparua. Penyebabnya istri Alence memaksa ingin melintas di desa yang sedang konflik itu.

    Pada 25 Januari 2012, gara-gara  bercanda, Bripda HB secara tidak sengaja menembak mati rekannya Bripda F. Peristiwa bermain-main dengan pistol ini terjadi di Tanjungpriok Jakarta Utara. Korban tertembak di bagian kepala.

    Pada 22 Januari 2012, AKP ABL perwira di Mabes Polri dipukuli dan keroyok lima orang di rumahnya di Kemang Pratapa, Bekasi. Akibatnya korban luka-luka di bagian wajah. Satu dari lima pengeroyok adalah kakak iparnya.

    Pada 22 Januari 2012, Briptu Dodi anggota Polsek Caringin, Bogor, Jawa Barat babak belur dikeroyok sejumlah orang saat merelai pertengkaran sekelompok anggota ormas dengan sopir angkot.

    Pada 20 Januari 2012, Brigadir Suhartono anggota Reserse Polsek Koja, Jakarta Utara  terpaksa dilarikan ke ICU Rumah Sakit Puri Medika Tanjungpriok setelah dikeroyok dan disabet samurai oleh tiga lelaki saat korban akan menangkap pelaku kejahatan.

    Pada 20 Januari 2012, Aiptu Suyono anggota Polres Kudus, Jatim dikeroyok dua pelajar YR dan OS yang sedang mabuk dan kebut-kebutan di jalanan.

    Pada 10 Januari 2012, Briptu Alex Chandra anggota lalulintas Polresta Blitar dikeroyok segerombolan orang di rumahnya di Blitar, Jatim. Akibat pengeroyokan ini korban menderita luka-luka dan dirawat di RS Mardi Waluyo.

    Pada 8 Januari 2012, Bripka Insa Ansori anggota Polsek Pagelaran, Malang, Jawa Timur babak belur setelah dikeroyok tujuh anak jalanan yang menumpang mobilnya.

    Pada 6 Januari 2012, Briptu Amanuel Purba anggota Polres Bontang dikeroyok puluhan penonton sepakbola di luar Stadion Bontang, Kalimantan Timur.

    Pada 1 Januari 2012, Briptu Prayoga, anggota Lantas Polsek Sanan Wetan, Blitar, Jatim tewas, setelah sebelumnya ditusuk dua pemuda seusai mengikuti apel pengamanan malam tahun baru di Jalan Legundi, sekitar 500 meter dari Mapolsek Sanan Wetan. (boy/jpnn)

    RELATED NEWS

    http://www.jpnn.com/read/2012/02/01/115950/Inilah-Daftar-Polisi-yang-Dikeroyok-Warga-