Showing posts with label Sidoarjo. Show all posts
Showing posts with label Sidoarjo. Show all posts
Friday, 19 July 2013
Tuesday, 8 January 2013
Bandit Sadis Sidoarjo Ditembak Mati
Dua Tersangka Boron
SELASA, 08 JANUARI 2013 23:35 WIB
LENSAINDONESIA.COM: Abdullah Halim (24) warga desa Keterungan Krian Sidoarjo, Jawa Timur, satu dari empat pelaku perampasan sepeda motor disertai pembunuhan berhasil diringkus jajaran Satreskrim Polres.
Tersangka yang teridentikasikan sebagai eksekutor dan otak pembunuhan itu terpaksa ditembak mati polisi karena berusaha melawan dengan celurit saat ditangkap.
Halim adalah eksekutor pembunuhan atas korban Fadlan. Ia juga otak perampasan motor sadis yang dilakukan di berbagai TKP wilayah Sidoarjo, Gresik, Surabaya, Pasuruan dan Mojokerto. Dalam melakukan aksinya, komplotan Halim ini tak segan-segan melukai, bahkan membunuh korbannya.
Menurut Kapolres Sidoarjo AKBP Marjuki, penangkapan Halim bermula dari tertangkapnya salah satu tersangka Nusa Erwan, Senin (07/01/2013) kemarin. Dari keterangan Erwan, Halim, T dan TJ, polisi langsung melakukan pengejaran serta menggrebek Halim saat pesta minuman keras (miras) di kawasan Kecamatan Tarik.
Saat itu, korban sempat melakukan perlawanan dengan sebuah celurit ketika hendak ditangkap. Sehingga langsung ditembak polisi. Namun sayang, dua rekan Halim kabur dalam penggerebekan tersebut.
Orang tua tersangka, Abdul Baki mengaku kaget dengan penembakan anaknya tersebut. Namun dirinya hanya pasrah serta meminta ma’af kepada warga Sidoarjo dan sekitarnya atas kelakuan anaknya yang memang dikenal pemarah dan berani terhadap orang tua.
“Saya hanya pasrah saja, kepada warga Sidoarjo saya mohon maaf atas kelakuan anak saya,” katanya.
Dengan tertembaknya Abdul Halim, polisi masih harus mengejar dua tersangka lainnya, yaitu T dan TJ yang keberadaannya juga mulai terendus petugas.
Seperti diketahui, Abdul Halim, Erwan, T dan TJ adalah pelaku Curas Ranmor dan pembunuhan sadis terhadap Fadlan, warga desa Kemuning kecamatan Tarik Sidoarjo. Mayat Fadlan ditemukan tergeletak di lahan kosong perumahan Grand Indra Prasta Prambon, Minggu (06/01/2013) pagi.@jani
Labels:
Curanmor,
ditembak mati,
januari 2013,
Jatim,
Sidoarjo
Tuesday, 24 July 2012
Curi motor, Aji Santoso ditembak polisi
Minggu, 22 Juli 2012 20:16:08
Satu bulan keluar dari Lapas Sidoarjo, M. Aji Santoso (33) kembali beraksi di Surabaya, Jawa Timur. Namun nahas, saat sedang berusaha mencuri motor bersama rekannya, keduanya ditangkap petugas.
"Dia baru sebulan lalu keluar penjara Sidoarjo. Tersangka Aji ini kami tangkap di Jalan Perak Timur," terang Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Tanjung Perak, AKP Hendri Umar, Minggu (22/7)
Bahkan, petugas terpaksa mengarahkan timah panas ke arah kaki tersangka Aji karena tak menghiraukan tembakan peringatan petugas yang hendak menangkapnya. Sayang, rekan Aji berhasil lolos dari sergapan polisi.
"Dia terpaksa kami tembak kakinya, sebab berusaha melarikan diri saat ditangkap. Identitas rekannya sudah kami kantongi," tegas dia.
Ketika terjadi penangkapan, tersangka Aji dan rekannya berinisial FA, kepergok petugas hendak melarikan motor Yamaha Mio Nopol L 6827 RS.
"Modusnya sama dengan pelaku-pelaku ranmor yang lain, mereka berkeliling mencari sasaran kemudian jika sudah menemukan sasaran, mereka merusak kunci motor dengan kunci T," lanjut Hendri.
Selanjutnya, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya itu, tersangka Aji dijerat dengan pasal 363 KUHP tentang tindak pidana pencurian dan diancam dengan hukuman 7 tahun penjara.
"Untuk pelaku berinisial F, akan terus kami beru hingga tertangkap. Saat ini kami masih mengembangkan kasusnya," pungkasnya.
"Dia baru sebulan lalu keluar penjara Sidoarjo. Tersangka Aji ini kami tangkap di Jalan Perak Timur," terang Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Tanjung Perak, AKP Hendri Umar, Minggu (22/7)
Bahkan, petugas terpaksa mengarahkan timah panas ke arah kaki tersangka Aji karena tak menghiraukan tembakan peringatan petugas yang hendak menangkapnya. Sayang, rekan Aji berhasil lolos dari sergapan polisi.
"Dia terpaksa kami tembak kakinya, sebab berusaha melarikan diri saat ditangkap. Identitas rekannya sudah kami kantongi," tegas dia.
Ketika terjadi penangkapan, tersangka Aji dan rekannya berinisial FA, kepergok petugas hendak melarikan motor Yamaha Mio Nopol L 6827 RS.
"Modusnya sama dengan pelaku-pelaku ranmor yang lain, mereka berkeliling mencari sasaran kemudian jika sudah menemukan sasaran, mereka merusak kunci motor dengan kunci T," lanjut Hendri.
Selanjutnya, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya itu, tersangka Aji dijerat dengan pasal 363 KUHP tentang tindak pidana pencurian dan diancam dengan hukuman 7 tahun penjara.
"Untuk pelaku berinisial F, akan terus kami beru hingga tertangkap. Saat ini kami masih mengembangkan kasusnya," pungkasnya.
http://www.merdeka.com/peristiwa/curi-motor-aji-santoso-ditembak-polisi.html
Thursday, 22 December 2011
Sidang Polisi Tembak Mati Guru Ngaji Beragenda Eksepsi Dihadiri Istri
Kamis, 22/12/2011 14:38 WIB
"Kami berharap eksepsi keberatan penasehat hukum terdakwa ditolak dan pemeriksaan kembali diteruskan," kata Darwati dalam sidang yang digelar, Kamis (22/12/2011).
Dalam sidang ini dihadiri Maisyaroh istri almarhum, keluarga, GP Anshor, Banser, PMII dan warga lainnya. Sidang ini juga mendapatkan penjagaan dari aparat Polres Sidoarjo. Sidang dilanjutkan tahun depan tepatnya, Rabu (4/1/2012) mendatang.
Sebelumnya diberitakan, Riyadhus Sholihin tewas ditembak oknum anggota Reskrim Polres Sidoarjo, usai menyerempet seorang polisi di depan GOR Delta Sidoarjo, pada Jumat (28/10/2011) dini hari sekitar pukul 02.30 WIB.
(fat/fat)
Sidoarjo - Sidang ketiga penembakan guru ngaji asal Desa Sepande, Candi, Riyadhus Sholihin, yang dilakukan Briptu Eko Ristanto, anggota reskrim Polres Sidoarjo, digelar.
Sidang digelar di PN Sidoarjo ini beragenda pembacaan tanggapan nota keberatan (eksepsi) yang diajukan tim penasehat hukum terdakwa.
Jaksa Penuntut Umum (JPU) Darwati, memohon kepada majelis hakim yang diketuai Bahtiar Sitompul SH, untuk menyatakan menerima tanggapan atau pendapat penuntut umum terhadap keberatan tim penasehat hukum terdakwa.
Selain itu jaksa meminta majelis hakim tidak menerima secara keseluruhan keberatan tim penasehat hukum terdakwa dsn menyatakan pemeriksaan pokok perkara terdakwa Eko Ristanto dapat dilanjutkan.
Sidang digelar di PN Sidoarjo ini beragenda pembacaan tanggapan nota keberatan (eksepsi) yang diajukan tim penasehat hukum terdakwa.
Jaksa Penuntut Umum (JPU) Darwati, memohon kepada majelis hakim yang diketuai Bahtiar Sitompul SH, untuk menyatakan menerima tanggapan atau pendapat penuntut umum terhadap keberatan tim penasehat hukum terdakwa.
Selain itu jaksa meminta majelis hakim tidak menerima secara keseluruhan keberatan tim penasehat hukum terdakwa dsn menyatakan pemeriksaan pokok perkara terdakwa Eko Ristanto dapat dilanjutkan.
"Kami berharap eksepsi keberatan penasehat hukum terdakwa ditolak dan pemeriksaan kembali diteruskan," kata Darwati dalam sidang yang digelar, Kamis (22/12/2011).
Dalam sidang ini dihadiri Maisyaroh istri almarhum, keluarga, GP Anshor, Banser, PMII dan warga lainnya. Sidang ini juga mendapatkan penjagaan dari aparat Polres Sidoarjo. Sidang dilanjutkan tahun depan tepatnya, Rabu (4/1/2012) mendatang.
Sebelumnya diberitakan, Riyadhus Sholihin tewas ditembak oknum anggota Reskrim Polres Sidoarjo, usai menyerempet seorang polisi di depan GOR Delta Sidoarjo, pada Jumat (28/10/2011) dini hari sekitar pukul 02.30 WIB.
(fat/fat)
http://us.surabaya.detik.com/read/2011/12/22/143843/1797656/475/sidang-polisi-tembak-mati-guru-ngaji-beragenda-eksepsi-dihadiri-istri
Labels:
desember 2011,
eksepsi,
guru ngaji,
Jatim,
polisi disidang,
Sidoarjo
Monday, 12 December 2011
Sidang Perdana Polisi Tembak Mati Guru Ngaji Dijaga Ketat
Sidang perdana Briptu Eko/Suparno
Sidoarjo - Sidang perdana guru ngaji asal Desa Sepande, Candi, Sidoarjo, Riyadhus Sholihin, yang dilakukan Briptu Eko Ristanto, anggota reskrim Polres Sidoarjo, dijaga ketat ratusan polisi.
Ratusan polisi itu berjaga di depan kantor dan halaman Pengadilan Negeri (PN) Sidoarjo, Jalan Jaksa Agung Suprapto. Sidang yang dimulai pukul 09.30 WIB, hanya berjalan 30 menit. Selain polisi, ratusan Banser dan anggota Ansor Kabupaten Sidoarjo, juga menyaksikan jalannya sidang.
Sidang yang dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim Bakhtiar Sitompul dan dua anggotanya Berlian Napitupulu Dan Sarjiman, itu beragendakan pembacaan dakwaan. Briptu Eko terbukti melakukan pelanggaran sesuai pasal 351 tentang penganiayaan, pasal 354 tentang penganiayaan dan pemberatan pasal 338 tentang pembunuhan.
Dakwaan jaksa Darwati dan Hari Wibisono dari Kejati Jatim dan Bambang Jumantoro Kejari Sidoarjo menyebutkan jika Briptu Eko terancam hukuman masing-masing pasal 10 tahun penjara.
Sedangkan 8 kuasa hukum Briptu Eko yang diketuai Trimoelja mengaku keberatan dengan pasal yang dibacakan jaksa. "Saya sangat keberatan dengan pasal yang dibacakan jaksa," kata Trimoelja.
Sementara Ketua Ansor Kabupaten Sidoarjo Ir Ubaidilah mengaku pihaknya hadir dalam PN untuk mengawal sidang pembunuhan guru ngaji.
"Saya dan rekan-rekan ini datang ke sini untuk mengawal sidang dan dukungan moril terhadap KH Riyadhus Sholihin, agar pelaku ditindak seadil-adilnya. Bila dari pihak pengadilan minta saksi yang dibutuhkan, kami siap memberikannya," jelas Ubaidillah.
Sidang itu sendiri ditunda minggu depan 19 Desember 2011 dalam agenda eksepsi.
Sebelumnya diberitakan, Riyadhus Sholihin tewas ditembak oknum anggota Reskrim Polres Sidoarjo, usai menyerempet seorang polisi di depan GOR Delta Sidoarjo, pada Jumat (28/10/2011) dini hari sekitar pukul 02.30 WIB.
(fat/fat)
http://us.surabaya.detik.com/read/2011/12/12/111045/1788775/475/sidang-perdana-polisi-tembak-mati-guru-ngaji-dijaga-ketat?y990101mainnews
Labels:
desember 2011,
guru ngaji,
Jatim,
polisi disidang,
Sidoarjo
Tuesday, 15 November 2011
Lagi, Enam Anggota Polisi Tersangka
| Tuesday, 15 November 2011 | |
| SURABAYA – Tersangka penembakan guru mengaji Riyadus Solihin bertambah. Enam polisi yang sebelumnya menjadi saksi, akhirnya ditetapkan sebagai tersangka. Bertambahnya enam tersangka ini berarti ada tujuh tersangka, termasuk Briptu Eko Ristanto yang menjadi pelaku penembakan. Kapolda Jatim Irjen Pol Hadiatmoko menjelaskan, penetapan tersangka baru dilakukan karena penyidik telah menemukan bukti dan fakta baru atas keterlibatan mereka. ”Kami tidak bisa menyebut peran masing-masing, sebab itu adalah rahasia penyidikan. Bahkan, Kapolda sendiri tidak boleh intervensi. Yang pasti, semua telah ditetapkan sebagai tersangka. Bahkan sebagian berkas mereka juga sudah dilimpahkan ke kejaksaan,” katanya kemarin. Namun, sumber di Polda Jatim menyebutkan penetapan enam anggota sebagai tersangka karena perannya menghilangkan barang bukti, termasuk merekayasa kejadian. Sementara sebagian lagi karena ikut bersama-sama dalam perburuan terhadap korban. Keenamnya adalah mantan Kasat Reskrim AKP ES,Aiptu AGS, Iptu SWJ, Briptu DMGS, Briptu IWN,dan Briptu SWT. Menurut Hadiatmoko, proses pemeriksaan yang dilakukan penyidik sudah pada jalurnya yakni profesional dan proporsional. Bagi mantan Kapolda Bali ini, siapa saja boleh memberikan informasi dan melakukan pengawalan agar tidak muncul kecurigaan. Namun, cara yang dilakukan harus baik dan tidak anarki. ”Penyidikan kasus ini sudah on the track.Kita profesional saja. Siapa pun yang bersalah akan dihukum, termasuk anggota Polri,”tegasnya. Sementara itu, berkas Briptu Eko yang dijerat dengan Pasal 338 dan 353 KUHP tentang Penganiayaan, yang menyebabkan kematian sudah diserahkan ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur. Adapun untuk yang lain masih dalam proses pemeriksaan. Seperti diberitakan sebelumnya, pengurus GP Ansor Sidoarjo Riyadus Solihin tewas ditembak polisi pada Jumat (28/10) dini hari. Dia ditemukan tewas di lokasi kejadian sekitar 1,5 kilometer dari rumahnya.Saat itu,korban yang mengendarai Suzuki Futura W 1499 NW hijau, baru saja mengantarkan karyawan PT Ecco Indonesia pulang. ihya’ ulumuddin |
Labels:
guru ngaji,
Jatim,
nopember 2011,
polisi jadi tersangka,
Sidoarjo
Friday, 11 November 2011
Polisi Penembak Guru Ngaji Dikenakan Pasal Berlapis
Jumat, 11 November 2011 - 16:51 WIB
SURABAYA(Pos Kota)- Briptu Eko Ristanto, tersangka pembunuh Riyadi Solikin tidak hanya terancam pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dan pasal 351 KUHP tentang penganiayaan yang menyebabkan kematian seperti yang dijeratkan penyidik Polda Jatim.
Anggota reskrim polres Sidoarjo ini juga akan dijerat Pasal 354 KUHP tentang penganiayaan berat yang mengakibatkan kematian.
Pasal ini sesuai dengan petunjuk Kejati Jatim ke penyidik Polda. Asisten Pidana Kejati Jatim Agus Tri Handoko menjelaskan, pemberian Pasal 354 KUHP ini semata-mata untuk melapisi dua pasal yang sudah dijeratkan polisi.
“Yang jelas di perkara ini kami melihat ada orang mati karena ditembak. Dan kematian itu bisa disebabkan karena pembunuhan, penganiayaan berat dan penganiayaan biasa. Jadi harus dilapisi agar jangan sampai ada yang lolos,”kata Agus, Jumat (11/11).
Penambahan satu pasal ini sesuai penelaahan jaksa peneliti Darwati dan Haribowo. “Senin petunjuk ini akan kami berikan ke penyidik,” tegasnya.(nurqomar/b)
Labels:
guru ngaji,
nopember 2011,
oknum,
polisi ditangkap,
Sidoarjo
Tuesday, 1 November 2011
Polisi Penembak Pedagang Tempe Ditahan
Maria Natalia | Heru Margianto | Selasa, 1 November 2011 | 16:06 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Saud Usman Nasution mengungkapkan, saat ini Briptu Eko Ristanto resmi ditahan di Kepolisian Daerah Jawa Timur. Eko adalah pelaku penembakan terhadap Riyadi Solikin, warga Desa Sepande, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Penetapan penahanan dirinya dilakukan setelah polisi melakukan pemeriksaan saksi-saksi di tempat kejadian.
"Berdasarkan pemeriksaan saksi di TKP, kini pelaku Briptu E telah di tahan di Polda Jatim dalam rangka untuk pertangungjawabkan perbuatannya," ujar Saud di Gedung Humas Polri, Jakarta, Selasa (1/11/2011).
Briptu Eko Ristanto, anggota Kepolisian Resor Sidoarjo, menembak Riyadi Solikin, seorang penjual tempe, hingga tewas, Jumat (28/10/2011) dinihari.
Versi polisi, Solikin yang mengendarai minibus menabrak Briptu Widiarto yang sedang melakukan patroli di jalan Pahlawan Sidoarjo. Rekan-rekan Widiarto, yang berjumlah lima orang, diantaranya Eko, mengejar Solikin hingga ke arah Sepande. Eko menembak Solikin hingga tewas karena melawan dengan celurit.
Keterangan polisi ini mendapat perlawanan dari masyarakat dari pelbagai elemen. Ribuan massa melakukan demo di Sidoarjo, Senin (31/10/2011). Mereka tidak percaya Solikin membawa celurit, apalagi melawan petugas.
Penetapan Eko sebagai tersangka dengan tuduhan kelalaian juga diprotes karena penembakan dilakukan dengan sengaja. Massa juga meyakini Eko dalam keadaan mabuk setelah minum minuman keras di kafe Ponti.
Solikin yang juga dikenal sebagai guru ngaji ini tewas dan meninggalkan seorang istri dan dua orang anak yang masih kecil.
http://regional.kompas.com/read/2011/11/01/16065576/Polisi.Penembak.Pedagang.Tempe.Ditahan
Labels:
ditembak mati.,
guru ngaji,
Jatim,
oknum,
oktober 2011,
polisi ditahan,
Sidoarjo
PBNU: Peluru Polisi Dibeli dengan Uang Rakyat, Jangan Disalahgunakan
Selasa, 01/11/2011 15:25 WIB
Surabaya - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta kasus penembakan Riyadhus Sholihin, guru ngaji yang juga anggota GP Ansor oleh oknum anggota reskrim Polres Sidoarjo tidak dibelokkan dalam penanganannya.
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengingatkan bahwa peluru yang dimiliki kepolisian dibeli dengan menggunakan uang rakyat, yang dalam penggunaan tidak semestinya disalahgunakan.
Hal itu disampaikan oleh Kiai Said setelah sebelumnya melakukan pertemuan dengan Kapolda Metro Jaya Irjend Untung S Radjab. Kapolri Jendral Timur Pradopo, berdasarkan keterangan dari Untung, sudah merespon kasus tersebut dan menyampaikan pesan agar penanganannya tidak dibelokkan.
"Itu yang disampaikan Pak Untung ke saya. Jadi Kapolri sudah berpesan agar penanganan kasus itu tidak dibelokkan, seperti yang sekarang tampak di pemberitaan," terang Kiai Said, dam rilis yang dikirim ke redaksi, Selasa, (1/11/2011).
Kiai Said menambahkan, berdasarkan investigasi kepolisian terjadinya penembakan bermula adanya tabrak lari oleh korban Riyadhus Sholihin. Meski bersalah karena kelalaiannya, tidak semestinya polisi yang melakukan pengejaran langsung menembaknya hingga mati.
"Tabrak lari iya memang benar, tapi dia (Riyadhus Sholihinn) disebut membawa celurit itu tidak benar. Apalagi ada yang mengatakan dia mabuk, itu sama sekali tidak benar. Itu keterangan Kapolda, keterangan dari hasil investigasi yang dilakukan kepolisian sendiri," tegas Kang Said.
Yang lebih penting, masih menurut Kang Said, polisi sebagai pengayom dan pelindung masyarakat tidak semestinya melakukan tindakan main hakim sendiri, dengan secara langsung menghukum pelaku tabrak lari. Terlebih kepolisian Indonesia memiliki anggaran operasional yang juga didapatkan dari sumbangsih masyarakat.
"Peluru yang dipunyai polisi itu kan dibeli juga menggunakan uang rakyat, jadi penggunaannya jangan untuk membunuh rakyat, jangan disalahgunakan" pesan Kang Said tegas.
Seperti yang diberitakan, Riyadhus Sholihin tewas ditembak anggota Reskrim Polres Sidoarjo, usai menyerempet seorang polisi Briptu Widiarto di depan GOR Delta Sidoarjo, pada Jumat (28/10/2011) dini hari sekitar pukul 02.30 WIB.
Sholihin yang sempat melarikan diri karena ketakutan, dikejar oleh 5 anggora reskrim lainnya hingga di Desa Sepande. Sebelum kader Ansor itu ditembak, mobil yang dikendarainya sempat menabrak pagar rumah milik seorang warga.
Dan yang tragis, di dalam mobil yang digunakan untuk antar jemput karyawan PT Ecco, guru ngaji yang juga penjual tempe itu ditembak oleh Britu Eko Kristanto, karena hendak melawan dengan clurit.
Almarhum Riyadhus Sholihin kini meninggalkan seorang istri, dan dua orang anak yang masih kecil.
(bdh/bdh)
http://us.surabaya.detik.com/read/2011/11/01/152518/1757461/475/pbnu-peluru-polisi-dibeli-dengan-uang-rakyat-jangan-disalahgunakan
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengingatkan bahwa peluru yang dimiliki kepolisian dibeli dengan menggunakan uang rakyat, yang dalam penggunaan tidak semestinya disalahgunakan.
Hal itu disampaikan oleh Kiai Said setelah sebelumnya melakukan pertemuan dengan Kapolda Metro Jaya Irjend Untung S Radjab. Kapolri Jendral Timur Pradopo, berdasarkan keterangan dari Untung, sudah merespon kasus tersebut dan menyampaikan pesan agar penanganannya tidak dibelokkan.
"Itu yang disampaikan Pak Untung ke saya. Jadi Kapolri sudah berpesan agar penanganan kasus itu tidak dibelokkan, seperti yang sekarang tampak di pemberitaan," terang Kiai Said, dam rilis yang dikirim ke redaksi, Selasa, (1/11/2011).
Kiai Said menambahkan, berdasarkan investigasi kepolisian terjadinya penembakan bermula adanya tabrak lari oleh korban Riyadhus Sholihin. Meski bersalah karena kelalaiannya, tidak semestinya polisi yang melakukan pengejaran langsung menembaknya hingga mati.
"Tabrak lari iya memang benar, tapi dia (Riyadhus Sholihinn) disebut membawa celurit itu tidak benar. Apalagi ada yang mengatakan dia mabuk, itu sama sekali tidak benar. Itu keterangan Kapolda, keterangan dari hasil investigasi yang dilakukan kepolisian sendiri," tegas Kang Said.
Yang lebih penting, masih menurut Kang Said, polisi sebagai pengayom dan pelindung masyarakat tidak semestinya melakukan tindakan main hakim sendiri, dengan secara langsung menghukum pelaku tabrak lari. Terlebih kepolisian Indonesia memiliki anggaran operasional yang juga didapatkan dari sumbangsih masyarakat.
"Peluru yang dipunyai polisi itu kan dibeli juga menggunakan uang rakyat, jadi penggunaannya jangan untuk membunuh rakyat, jangan disalahgunakan" pesan Kang Said tegas.
Seperti yang diberitakan, Riyadhus Sholihin tewas ditembak anggota Reskrim Polres Sidoarjo, usai menyerempet seorang polisi Briptu Widiarto di depan GOR Delta Sidoarjo, pada Jumat (28/10/2011) dini hari sekitar pukul 02.30 WIB.
Sholihin yang sempat melarikan diri karena ketakutan, dikejar oleh 5 anggora reskrim lainnya hingga di Desa Sepande. Sebelum kader Ansor itu ditembak, mobil yang dikendarainya sempat menabrak pagar rumah milik seorang warga.
Dan yang tragis, di dalam mobil yang digunakan untuk antar jemput karyawan PT Ecco, guru ngaji yang juga penjual tempe itu ditembak oleh Britu Eko Kristanto, karena hendak melawan dengan clurit.
Almarhum Riyadhus Sholihin kini meninggalkan seorang istri, dan dua orang anak yang masih kecil.
(bdh/bdh)
http://us.surabaya.detik.com/read/2011/11/01/152518/1757461/475/pbnu-peluru-polisi-dibeli-dengan-uang-rakyat-jangan-disalahgunakan
Labels:
ditembak mati,
guru ngaji,
Jatim,
keluarga protes,
oktober 2011,
Sidoarjo
Pemuda Ansor Ditembak Mati, Polda Jatim Minta Maaf
SELASA, 01 NOVEMBER 2011 | 16:08 WIB
TEMPO Interaktif, Surabaya - Kepolisian Daerah Jawa Timur meminta maaf kepada keluarga almarhum Riyadi Solikin, anggota Departemen Pendidikan dan Kader Gerakan Pemuda Ansor Sidoarjo, yang tewas ditembak Brigadir Satu Eko Ristanto pada Jumat, 28 Oktober 2011 dini hari pekan lalu. Eko adalah anggota Satuan Reserse Kriminal Polres Sidoarjo.
Permintaan maaf itu disampaikan Wakil Kepala Polda Jatim Brigadir Jenderal Edi Sumantri seusai mengunjungi keluarga korban di Desa Sepande, Kecamatan Candi, Sidoarjo, Selasa, 1 November 2011.
Kedatangan Edi didampingi oleh Direktur Profesi dan Pengamanan Polda Jatim Komisaris Besar Tomsi Tohir, Direktur Bimbingan Masyarakat Komisaris Besar Puji Astuti, dan Ketua Tim Pencari Fakta Komisaris Besar Coki Manurung. "Kami meminta maaf sebesar-besarnya pada keluarga korban sekaligus memulihkan nama baik yang bersangkutan," kata Edi di Balai Wartawan Polda Jawa Timur.
Pemulihan nama baik korban dilakukan karena sebelumnya, Eko, yang kini telah ditetapkan sebagai tersangka, mengatakan bahwa Solikin terpaksa dihabisi karena berusaha melawan dengan celurit. Namun, keluarga korban membantah bahwa dini hari itu Solikin tidak membawa senjata tajam.
Pernyataan tersangka membuat geram ratusan warga Sepande. Satu hari kemudian mereka berunjuk rasa ke Polres Sidoarjo meminta agar polisi meralat soal celurit sekaligus memecat pelaku penembakan dari kepolisian. "Masalah korban bawa celurit atau tidak masih kami dalami karena baru keterangan dari tersangka. Yang jelas, korban orang baik-baik, bukan penjahat," kata Edi.
Ketua Pengurus Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur Alfa Isnani menilai permintaan maaf tersebut belum cukup. Sebab, kata dia, yang lebih penting dari itu adalah mengusut tuntas pelaku penembakan hingga dijatuhi hukuman yang setimpal. "Dengan meminta maaf, kesannya Polda Jatim seperti menutup-nutupi kesalahan pelaku," kata Alfa.
Karena itu, kata dia, GP Ansor Jawa Timur tetap mendesak agar Eko diseret ke pengadilan. Selain mendesak agar tersangka dijatuhi hukuman berat, Alfa juga meminta agar atasan Eko turut bertanggung jawab atas tewasnya Solikin. "Karena pelaku bertugas di bawah kendali komandannya," ujar Alfa.
Tewasnya Solikin berawal dari terserempetnya sepeda motor Briptu Widianto oleh mobil korban di dekat Stadion Gelora Delta Sidoarjo. Saat itu Widianto bersama empat rekannya tengah melakukan patroli tertutup di sekitar stadion.
Melihat rekannya terjatuh, Eko spontan mengejar mobil Solikin yang tetap melaju kencang. Versi Edi, Eko sempat memberi tembakan peringatan agar Solikin berhenti, namun tak dihiraukan. Saat laju kendaraan Solikin sampai di tikungan, Eko memepet dan menembak ban belakangnya.
Tak hanya itu, saat posisi kendaraan sejajar, Eko menembak Solikin dari arah samping. Tembakan ini mengenai lengan korban dan tembus hingga paru-paru. Namun, beberapa saksi mata mengatakan, sebelum ditembak korban tidak mengacungkan celurit seperti klaim pelaku.
KUKUH S WIBOWO
http://www.tempointeraktif.com/hg/surabaya/2011/11/01/brk,20111101-364304,id.html
Labels:
guru ngaji,
Jatim,
minta maaf,
oktober 2011,
Sidoarjo
Monday, 31 October 2011
Kepala Desa Sepande : Riyadis Solichin Ditembak Tanpa Perlawanan
31 Oktober 2011, 10:27:09| Laporan Eddy Prastyo
suarasurabaya.net| Riyadis Solichin ditembak polisi setelah mobilnya berhenti tanpa ada perlawanan sebelumnya. Ini diungkapkan H. Ahmad Fauzi Kepala Desa Depande, Kecamatan Candi, Sidoarjo pada suarasurabaya.net, Senin (31/10/2011).
Menurut Ahmad, kronologi polisi yang menyebutkan Riyadis ditembak saat mobil sedang melaju tidaklah benar. Juga tidak benar bahwa Riyadis melawan menggunakan clurit saat kendaraan sedang melaju setelah bahu kanannya ditembus peluru.
“Dari kesaksian banyak warga yang melihat kejadian, Riyadis ditembak setelah mobilnya berhenti. Sebelumnya memang ada tembakan mengarah ke ban belakang kiri dan bemper belakang, lalu mobilnya menabrak pagar rumah warga. Setelah menabrak, mobil sempat melaju lagi, lalu disalip oleh sepeda motor kemudian mobil berhenti. Saat itulah polisi menembak dari jarak dekat tembus kaca samping kanan,” kata dia.
Setelah ditembak, banyak warga juga yang melihat Riyadus Solichin ditarik keluar sampai terjatuh di aspal. Saat itu tidak ada yang tahu apakah dia sudah tewas atau belum, tapi menurut keterangan sejumlah saksi, tubuhnya tidak bergerak dan darah berceceran di aspal.
Kesaksian ini dilengkapi Hari Saputro warga sekitar yang melihat langsung kejadian. Mobil yang dikendarai Riyadis Solichin itu berhenti persis di depan rumahnya.
“Waktu itu sebelum jam dua dinihari, saya kaget ada suara braaak…!. Lalu ada suara letusan seperti tembakan dua kali. Lalu saya keluar rumah,” kata dia.
Hari melihat di depan rumahnya, mobil Suzuki Carry berhenti. Di aspal, bawah pintu depan mobil sebelah kanan dilihatnya tubuh seorang lelaki berlumuran darah. “Sudah meninggal atau belum, saya tidak tahu. Sepertinya sudah tidak bergerak waktu itu,” kata dia.
Saat itu warga sekitar mengira polisi sedang menangkap penjahat karena diantara yang mengejar, diduga polisi, berteriak maling….maling…!.
Apakah ada clurit selama pengamatannya? Hari menegaskan tidak ada. “Saya tidak melihat ada clurit di dekat tubuh yang jatuh di aspal itu juga di dalam mobil. Karena polisi setelah itu menggeledah isi mobil, tapi saya tidak melihat clurit dikeluarkan. Saya tidak tahu jika polisi sudah mengamankan lebih dulu clurit itu. Yang pasti, saya tidak melihatnya selama mengamati kejadian itu,” kata dia.
Yang dia lihat saat itu, di belakang mobil Riyadis, ada mobil jenis Avanza atau Xenia yang diduga dikendarai polisi. Tak lama kemudian, tubuh Riyadis diangkut masuk dalam mobil itu.
Kurang lebih satu jam kemudian, sebuah mobil jenis Honda CRV datang. Penumpangnya ada tiga orang meminta ijin pada warga sekitar memperkenalkan diri sebagai anggota Satreskrim Polres Sidoarjo ingin membawa mobil Suzuki Carry yang sempat ditinggal di jalan.
Kata Kepala Desa Sepande, kasus ini mendapat perhatian serius Saiful Ilah Bupati Sidoarjo. Bupati yang juga tokoh Nahdlatul Ulama itu menyatakan siap mengawal kasus ini agar mendapat keadilan bagi pihak keluarga.(edy)
http://kelanakota.suarasurabaya.net/?id=d9ee42a7c3846d3f4c213ca5af790921201199412
Labels:
ditembak mati,
guru ngaji,
Jatim,
oknum,
oktober 2011,
Sidoarjo
Jika Sering Berbohong, Polisi akan Dibenci Masyarakat
Senin, 31/10/2011 20:14 WIB
Surabaya - Riyadus Sholihin, seorang kader Ansor warga Desa Sepande, Sidoarjo terkapar oleh terjangan peluru polisi, Jumat (28/10/2011) dini hari. Akibat tewasnya Solihin, yang juga seorang guru ngaji ini, Sidoarjo pun menjadi sorotan publik.
Menurut Mustofa B. Nahrawardaya, koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF), polisi dianggap berlebihan dan cenderung membohongi publik lantaran alasan yang dibuat-buat untuk menutupi perbuatan itu.
"Penembakan terhadap korban merupakan perbuatan keji, apalagi dengan alasan yang membohongi masyarakat, baik itu masyarakat Ansor maupun masyarakat umum," kata Mustofa saat berbincang dengan detiksurabaya.com, Senin (31/10/2011).
Sholihin, yang sehari-harinya sebagai penjual tempe dan guru ngaji ini ditembak oknum reskrim Polres Sidoarjo seusai menyerempet seonag anggota polisi. Kader Ansor ini ditembak oleh polisi yang mengejarnya, karena diakui melawan petugas saat akan ditangkap. Bahkan dikatakan korban membawa celurit.
"Kebiasaan polisi memberi alasan stereotip, melawan dan ditembak, tidak bisa begitu saja ditimpakan pada setiap orang yang berurusan dengan polisi. Terhadap penjahat, kemungkinan polisi terbiasa memberikan alasan semacam itu. Namun terhadap aktifis ormas Islam, apalagi anggota Ansor, sudah tidak lagi polisi patut melakukannya," jelas Mustofa.
Menurut Mustofa, sudah saatnya, polisi menghilangkan kebiasaan buruk dengan menyampaikan informasi yang menyesatkan kepada masyarakat, dan mencoba, sekali lagi mencoba meluruskan informasi agar tidak dituduh bohong.
Kejadian pembunuhan oleh oknum polisi di Sidoarjo, bagaimanapun telah mencoreng korps kepolisian. Kemungkinan peristiwa semacam itu sudah sering terjadi, namun tidak ada pihak yang peduli dan akhirnya tidak pernah terungkap ke publik.
Dengan adanya protes yang besar dari masyarakat, maka polisi harus berbenah diri, dan tidak boleh lagi mengulangi perbuatan memalukan tersebut, baik di Sidoarjo maupun di kota-kota lain seluruh Indonesia.
Untuk itu, Mustofa meminta agar Kapolri jangan mudah puas dan percaya begitu saja atas prestasi semu yang didapat bawahan, karena kadang prestasi tersebut bukan prestasi yang sebenarnya.
Mustofa mencontohkan, sangat banyak kabar penembakan kaki terhadap orang maupun tembak mati terhadap penjahat dengan kronologi dan stereotip yang mirip.
"Yang paling penting adalah mencoba tidak berbohong pada masyarakat, agar masyarakat tidak membenci polisi," pungkas Mustofa.
(bdh/bdh)
http://us.surabaya.detik.com/read/2011/10/31/201432/1756705/475/jika-sering-berbohong-polisi-akan-dibenci-masyarakat?y990101mainnews
Menurut Mustofa B. Nahrawardaya, koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF), polisi dianggap berlebihan dan cenderung membohongi publik lantaran alasan yang dibuat-buat untuk menutupi perbuatan itu.
"Penembakan terhadap korban merupakan perbuatan keji, apalagi dengan alasan yang membohongi masyarakat, baik itu masyarakat Ansor maupun masyarakat umum," kata Mustofa saat berbincang dengan detiksurabaya.com, Senin (31/10/2011).
Sholihin, yang sehari-harinya sebagai penjual tempe dan guru ngaji ini ditembak oknum reskrim Polres Sidoarjo seusai menyerempet seonag anggota polisi. Kader Ansor ini ditembak oleh polisi yang mengejarnya, karena diakui melawan petugas saat akan ditangkap. Bahkan dikatakan korban membawa celurit.
"Kebiasaan polisi memberi alasan stereotip, melawan dan ditembak, tidak bisa begitu saja ditimpakan pada setiap orang yang berurusan dengan polisi. Terhadap penjahat, kemungkinan polisi terbiasa memberikan alasan semacam itu. Namun terhadap aktifis ormas Islam, apalagi anggota Ansor, sudah tidak lagi polisi patut melakukannya," jelas Mustofa.
Menurut Mustofa, sudah saatnya, polisi menghilangkan kebiasaan buruk dengan menyampaikan informasi yang menyesatkan kepada masyarakat, dan mencoba, sekali lagi mencoba meluruskan informasi agar tidak dituduh bohong.
Kejadian pembunuhan oleh oknum polisi di Sidoarjo, bagaimanapun telah mencoreng korps kepolisian. Kemungkinan peristiwa semacam itu sudah sering terjadi, namun tidak ada pihak yang peduli dan akhirnya tidak pernah terungkap ke publik.
Dengan adanya protes yang besar dari masyarakat, maka polisi harus berbenah diri, dan tidak boleh lagi mengulangi perbuatan memalukan tersebut, baik di Sidoarjo maupun di kota-kota lain seluruh Indonesia.
Untuk itu, Mustofa meminta agar Kapolri jangan mudah puas dan percaya begitu saja atas prestasi semu yang didapat bawahan, karena kadang prestasi tersebut bukan prestasi yang sebenarnya.
Mustofa mencontohkan, sangat banyak kabar penembakan kaki terhadap orang maupun tembak mati terhadap penjahat dengan kronologi dan stereotip yang mirip.
"Yang paling penting adalah mencoba tidak berbohong pada masyarakat, agar masyarakat tidak membenci polisi," pungkas Mustofa.
(bdh/bdh)
http://us.surabaya.detik.com/read/2011/10/31/201432/1756705/475/jika-sering-berbohong-polisi-akan-dibenci-masyarakat?y990101mainnews
Labels:
ditembak mati,
Jatim,
membohong.,
oknum,
oktober 2011,
salah tembak,
Sidoarjo
Guru Ngaji Ditembak, Ribuan Warga Blokir Jalan
Nasional - Senin, 31 Oktober 2011 | 15:25 WIB
INILAH.COM, Sidoarjo - Demo ribuan warga menghujat penembakan Raiyadhus Sholikhin (40) oleh Briptu Eko Ristanto terus berlanjut, Senin (31/10/2011). Rencana awal, warga bersama mahasiswa hendak mendatangi Mapolres Sidoarjo Jalan Kombes Duryat no 45 Sidoarjo, Jawa Timur.
Tetapi karena susah menembus jalan menuju Mapolres Sidoarjo, warga akhirnya balik arah dan kini melakukan pemblokiran jalan A Yani depan Makodim Sidoarjo. Pemblokiran dilakukan untuk arah Surabaya dan arah Malang.
Ribuan warga bergerombol duduk di atas aspal jalan. Kendaraannya pun diparkir di tengah jalan raya. Sebagian warga berlonjak-lonjak meneriakkan yel-yel dan meneriaki polisi sebagai pembunuh.
Akibat pemblokiran itu, arus lalu lintas dari Surabaya menuju Malang berhenti total. Aparat yang mengawal jalan aksi sepertinya tidak menyangka kalau ada pemblokiran. Sehingga, aparat sulit mengendalikan massa yang jumlahnya semakin bertambah.
Sampai saat ini, petugas belum bisa mengendalikan aksi warga. Aparat sibuk untuk membubarkan aksi atau menghalau pemblokiran. "Kami tidak akan bubar sebelum polisi penembak rakyat dihukum mati," teriak salah satu pendemo.
Sekadar diketahui, Raiyadhus Sholikhin (40) yang sehari-hari menjadi guru ngaji itu tewas tertembak oleh Briptu Eko Ristanto, Jumat (28/10/2011) dini hari. Penembakan dilakukan karena Sholikhin yang menaiki mobil real van nopol W 1499 NW diduga serempetan dengan anggota Reskrim Polres Sidoarjo bernama Briptu Widianto yang menaiki motor Supra W 5077 XL.
Saat ini, Briptu Eko sudah dilakukan penahanan oleh Propam Polda Jatim. Briptu Eko dikenakan pasal 359 tentang perbuatan atau penganiayaan yang mengakibatkan orang meninggal dunia. [beritajatim.com]
http://nasional.inilah.com/read/detail/1791279/guru-ngaji-ditembak-ribuan-warga-blokir-jalan
Labels:
demo,
ditembak mati,
guru ngaji,
keluarga protes,
oknum,
oktober 2011,
Sidoarjo
Polisi Main Tembak, DPP PKB Surati Polri
"Harus segera mengusut dan memberi saksi pelakunya," kata Imam Nahrawi, Sekjen PKB
SENIN, 31 OKTOBER 2011, 16:46 WIB
VIVAnews - Terkait penembakan kadernya, Sekretaris Jenderal DPP PKB yang juga Ketua DPW PKB Jatim, Imam Nachrowi angkat bicara. Meminta oknum polisi Briptu Eko Ristanto anggota Reskrim Polres Sidoarjo ditindak tegas sesuai kesalahannya menembak Riyadis Sholikin hingga tewas. Itu terjadi di kawasan Taman Pinang, Sidoarjo, Jawa Timur sekitar pukul 02.30 WIB, Jumat dinihari, 28 Oktober 2011.
"PKB juga melayangkan surat protes kepada Polri atas terjadinya kesewenangan itu. Harus segera mengusut dan memberi saksi pelakunya," kata Imam dalam rilisnya, Senin 31 Oktober 2011.
Menurutnya, sebagai anggota polisi, tindakan oknum tersebut mencederai tugas dan fungsi polri sebagai pelindung, pengayom dan pelayan serta menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat.
Selain menyesalkan terjadinya penembakan, pihaknya juga meminta Fraksi PKB DPRD Sidoarjo mengawal proses hukum penanganannya. "Melalui wewenang dan fungsinya, mengawal dan memastikan agar penyelesaian hukum kasus tersebut berjalan transparan dan adil."
Diberitakan sebelumnya, Riyadis Sholikin usai mengantar pulang karyawan pabrik sepatu PT Ecco yang menjadi langganannya, warga Desa Sepande RT 01 RW 1, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur ditembak oknum polisi hingga tewas. Dalam peristiwa itu, korban dikabarkan menyerempet Briptu Widianto anggota Reskrim Polres Sidoarjo pengendara motor Supra bernomor polisi W-5077-XL saat melintas di depan Cafe Ponti dekat GOR Delta Sidoarjo.
Kemudian, Briptu Widianto mengejar sambil melepaskan tembakan, dan memanggil sejumlah rekannya sesama polisi berpakaian preman. Satu tembakan mengenai bodi belakang dekat plat nomor, peluru kedua mengenai ban kanan belakang, mobil oleng kemudian menabrak pagar. Kemudian sejumlah polisi menghampiri, memecah kaca kanan depan dan menembak lengan kanan, tembus bagian dada kanan yang mengakibatkan korban tewas.
Selain sopir antar jemput, korban berprofesi guru mengaji, penjual tempe dan anggota Banser Sidoarjo. Buntut peristiwa itu massa Garda Bangsa Jatim mendatangi Mapolda Jatim di Jalan A Yani, Surabaya, melayangkan protes. Sementara, di Sidoarjo, ratusan massa juga mendatangi Polres Sidoarjo, mereka menuntut oknum polisi yang melakukan penembakan ditindak tegas.
Laporan: Tudji Martudji | Surabaya, umi
http://us.nasional.vivanews.com/news/read/260260-polisi-main-tembak--dpp-pkb-surati-polri
Labels:
ditembak mati,
guru ngaji,
Jatim,
oknum,
oktober 2011,
Sidoarjo
Friday, 28 October 2011
Guru Ngaji Tewas di Tembak Oknum Polisi
Jum'at, 28 Oktober 2011 15:39 wib
SIDOARJO - Diduga terlibat kasus tabrak lari, seorang guru ngaji, yang juga bekerja sebagai petugas antar jemput karyawan di Sidoarjo, Jawa Timur, tewas ditembak oknum polisi. Korban ditembak saat masih berada di dalam mobil usai kendaraannya diberhentikan paksa.
Riyadus Sholihin (31), warga Dusun Kauman Desa Sepande Kecamatan Candi, Sidoarjo, Jawa Timur, Jumat dini hari, sekira pukul 02.00 WIB, tewas di tempat kejadian setelah ditembak oleh oknum polisi.
Menurut Ahmad yang merupakan saksi mata, korban terlihat melaju mengendarai mobil Suzuki Carry dengan kecepatan tinggi, warga melihat ada sebuah mobil Avanza silver dan sepeda motor yang mengejar korban.
Sesampainya di tempat kejadian perkara (TKP), laju korban terhenti akibat dipotong oleh sepeda moto. Tanpa banyak bicara penumpang, sepeda motor langsung menghujani guru ngaji itu dengan beberapa kali tembakan sehingga korban langsung tewas di tempat kejadian.
Setelah tertembak, korban dikeluarkan dari mobil dan diseret sejauh lima meter dan dinaikkan kedalam mobil Avanza. Setelah itu, mobil Avanza langsung kabur meninggalkan TKP.
Warga yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa terdiam tidak berani memberikan pertolongan.
Sementara itu keluarga dan istri korban hanya bisa menunggu kedatangan jenazah pria yang juga penjual tempe di kampungnya itu.
Saat ini jenasah Riyadhus Sholihin masih diautopsi di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jatim.
Istri korban, Maisaroh, mengaku tidak mendapat firasat apapun sebelum peristiwa memilukan ini. Dia menuturkan, suaminya selama ini tidak memiliki musuh.
Aparat kepolisian Sidoarjo yang dimintai keterangan enggan berkomentar dan hanya memberi penjelasan kasus ini sekarang ditangani Polda Jatim. (nto)
(Sony Hermawan/Sindo TV/ahm)
http://news.okezone.com/read/2011/10/28/340/521812/guru-ngaji-tewas-di-tembak-oknum-polisi
Labels:
ditembak mati,
Jatim,
keluarga protes,
oknum,
oktober 2011,
Sidoarjo
Subscribe to:
Posts (Atom)
