Showing posts with label Puncak Jaya. Show all posts
Showing posts with label Puncak Jaya. Show all posts

Sunday, 14 July 2013

Para Jenderal TNI & Polri Senang Prajuritnya Mati Ditembak


June 29, 2013 By: admin Category: KNPB Pusat, Opini, TPN
Oleh: Wedauma
Mati untuk NKRI
Nyawa Prajurit Tentara dan Polisi Indonesia di West Papua, terus menerus dikorbankan oleh para penguasa Indonesia, terutama para Jenderal TNI dan Polri yang sibuk mengurus proyek konflik. Bukan rahasia lagi, demi kantong pribadi dan pemburuan pangkat para petinggi Militer dan Polisi Indonesia, nyawa prajurit dipertaruhkan dengan doktrin nasionalisme -NKRI Harga Mati.
Malang benar nasib para prajurit berpenghasilan 800.000 an perbulan itu, bahwa selain mereka siap untuk mati percuma, mereka pun harus menanggung kebencian rakyat West Papua, terlebih juga kepada Tuhan atas dosa pembunuhan, pemerkosaan, intimidasi, teror, perampasan dan penguasaan hak bangsa Papua dalam misi penjajahan penguasa Indonesia.
Padahal, penguasa mereka, juga para jenderalnya sibuk dalam urusan pencitraan diri dan korupsi untuk penggendutan rekening pribadi. Memprihatinkan juga, disaat mayat prajurit yang mati disambut tangis pilu keluarga di Bandara, para Jenderalnya bersenang-senang ajukan budget proposal untuk dana operasi dan perluasan komando teritorial (koter). Mereka tidak bersedih, apalagi merasa kehilangan. Mereka justru bersyukur karena darah prajurit TNI dan Polri yang mati dianggap sebagai pemupuk ladang konflik mereka.
Korban penembakan di Puncak Jaya, Papua, Selasa (25/6/2013) terhadap Letda Inf I Wayan Sukarta, anggota TNI dan kedua agennya oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN-PB) dibawa komando Panglima Tinggi, Gen. Goliat Tabuni bukanlah hal baru. Rangkaian penembakan terhadap prajurit TNI maupun Polisi, dan sebaliknya Penembakan terhadap anggota TPN. PB dan rakyat West Papua sudah berlangsung lama sejak penguasa kolonial Indonesia merebut paksa wilayah West Papua melalui operasi militer Trikora tahun 1962.
Di hampir seluruh pelosok wilayah West Papua masih tersimpan rapih cerita-cerita pembunuhan masal, penyiksaan, mutilasi, pemerkosaan hingga pencurian dan mengrusakan kekayaan alam milik bangsa Papua yang dilakukan secara keji dan tak berperikemanusiaan oleh militer Indonesia.
Kekuasaan kolonial Indonesia belum juga mengambil hikmah dari korban rakyat dan militer yang terus berjatuhan di West Papua. Mereka menutup mata terhadap cara cara penyelesaian masalah West Papua secara damai. Mereka ingin, lagi-lagi pejabat Pemerintah dan para jenderalnya, mempertahankan konflik bersenjata agar alokasi dana TNI dan Polri naik terus, dan kesempatan bagi para pejabat militer untuk menambah pangkat dan perluasan basis militer.
Guna menjaga kepentingan itu, mereka juga sangat lihai dan pandai munafik dalam menyembunyikan watak ekspansionisme dan militerismenya dari sorotan Internasional. Wartawan lokal maupun nasional di West Papua direkrut dan digaji agar senantiasa meliput pernyataan-pernyataan dan tema-tema perdamaian, pembangunan, kesejahteraan dan pesan-pesan moral yang seakan-akan memposisikan TNI dan Polri di pihak yang benar, sambil menyudutkan perlawanan rakyat West Papua untuk merdeka.
Dalam kasus terakhir, Anda bisa baca contoh pernyataan Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol I Gede Sumerta Jaya, di Harian Bintang Papua Rabu (26/6/2013), “Informasinya si korban ini berperan aktif membantu kelancaran pembangunan di Illu. Karena anggotanya dan dia mengamankan jalur pasukan bahan makanan masuk ke Puncak Jaya khsusnya di Illu supaya tidak terjadi perampokan dan penghadangan atau mengganggu distribusi pasokan bahan makanan,” kata Sumerta.
Begitu juga, Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XVII/Cenderawasih Kol Inf Jansen Simanjuntak, pada  pada harian Cepos Kamis (27/6/2013) menegaskan, walaupun banyak anggota TNI yang tewas akibat ditembak Kelompok Sipil Bersenjata (KSB), namun Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Christian Zebua tetap pada komitmennya untuk mengajak saudara-saudara kita di Papua itu untuk turun dan kembali ke kampung halaman mereka. “Mari kita bersama-sama membangun Papua, sehingga dapat mengejar ketertinggalan dengan daerah lainnya,” kata dia.
Pernyataan kedua institusi militer diatas dengan jelas terlihat mementingkan kepentingan pencitraan penguasa dan para jenderalnya, sambil menyepelekan 9 Kopassus yang korban atas nama doktrin “NKRI Harga Mati,” dan tentu juga menyembunyikan puluhan nyawa rakyat sipil West Papua yang telah korban dalam aksi balas dendam Kopasus di Puncak Jaya beberapa waktu lalu.
Yang lebih para lagi, mereka, para pejabat militer, penguasa Indonesia dibantu media, tidak mampu dengan jujur memberitakan kepada publik nasional dan Internasional tentang kejelasan aktor dan motif dari konflik penembakan di Puncak Jaya, bahkan di daerah lain. Mereka sengaja menutup akses publikasi perjuangan bangsa Papua, dan menyudutkan mereka sebagai Gerombolan Pengacau Keamanan (GPK), Kelompok Sipil Bersenjata ( KLB), atau Orang Tak Kenal ( OTK).
Padahal, sangat jelas bahwa konflik bersenjata (armed conflict) di Puncak Jaya sudah masuk dalam ranah, yang menurut hukum humaniter internasional (Viery, Geneva, 1992) sebagai konfrontasi yang melibatkan suatu negara dengan suatu “entitas bukan-Negara”, yang juga biasa disebut “perang pembebasan nasional” (war of national liberation).
Yang dimaksud dengan “perang pembebasan nasional” adalah suatu sengketa bersenjata di mana suatu bangsa berperang melawan dominasi kolonial, atau pendudukan asing, atau rezim rasialis dalam rangka melaksanakan hak untuk menentukan nasib sendiri (right of self-determination) sebagaimana yang tercantum di dalam Piagam Perserikatan Bangsa-bangsa.
Nah, dalam kasus konflik bersenjata di Papua, sudah jelas sejak lama TNI/Polri dan TPN-PB melakukan perlawanan senjata, dimana TNI/Polri berada dengan penguasa Indonesia untuk menjajah dan menguasai wilayah koloninya, West Papua. Sedangkan TPN-PB adalah sayap pertahanan militer bangsa Papua, milik rakyat West Papua, yang sedang berjuang untuk bebas dari kungkungan kolonial Indonesia, sebagaimana diatur dibawah hukum internasional tentang hak penentuan nasib sendiri.
Selama belum ada kemauan untuk penyelesaian damai, konflik bersenjata ini tidak akan pernah berhenti, dan karena itu korban di pihak TNI/Polri maupun TPN-PB akan terus ada. Dan rakyat sipil pun akan terus menjadi korban akibat konflik bersenjata yang tidak menerapkan hukum perang (hukum humaniter).
Menggolongkan TPN-PB sebagai sipil bersenjata hanyalah taktik kolonial agar rakyat sipil yang bukan militer TPN-PB jadi sasaran serang. Oleh karena itu sudah waktunya Kolonial Indonesia mengakui eksistensi TPN-PB agar hukum humaniter diterapkan dan menjadi jelas apa motif dan siapa aktor konflik bersenjata itu. Niat tersebut sudah mulai diterapkan oleh Panglima TPN-PB, Gen Goliat Tabuni jajarannya. Dia secara terbuka menyampaikan bahwa dirinya bertanggung jawab terhadap penembakan anggota TNI dan meminta TNI Polri untuk tidak mengganggu sipil.
Selama hal itu tidak diterapkan, maka kembali lagi pada opini awal dari tulisan ini bahwa Penguasa Indonesia dan para pejabat militer TNI dan Polri membiarkan konflik bersenjata di Papua sebagai lahan perburuan alokasi dana APBN, dana Otsus, dana keamanan perusahaan-perusahaan asing dan juga sebagai tempat mendulang pangkat di jajaran institusi TNI/Polri, juga sebagai politik stimulasi bagi politisi kemiliteran dalam merebut tambu kepresidenan. Untuk kepentingan itu, prajurit TNI dan Polri akan terus dijadikan anjing penjaga lahan, yang harus bersedia mati demi doktrin “NKRI Harga Mati”.
———-
Wedauma adalah pengamat konflik bersenjata di KNPB Pusat

Wednesday, 28 November 2012

Ini Penjelasan Kapolri Soal Tewasnya 3 Polisi Oleh OTK di Papua

Selasa, 27/11/2012 14:39 WIB
Jakarta - Tiga anggota Polri menjadi korban penembakan oleh orang tak dikenal (OTK) di Papua. Ketiga korban adalah Kapolsek Pirime Ipda Rofli Takubesi dan 2 anggotanya. 

Kapolri Jenderal Timur Pradopo mengatakan masih mendalami dan menyelidiki pelaku penembakan tersebut. Belum bisa dipastikan apakah pelakunya Organisasi Papua Merdeka (OPM) atau bukan. 

"Kita tunggu hasil penyelidikan. Itu yang masih kita dalami," ujar Timur sebelum mengikuti rapat kabinet paripurna di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (27/11/2012). 

Timur menjelaskan peristiwa penembakan tersebut terjadi sekitar pukul 04.00 WIT. Lokasi Mapolsek Pirime berada di wilayah puncak Jaya Wijaya, sekitar 8 jam perjalanan dari kota Jayapura. 

Timur juga membenarkan korban penembakan berjumlah tiga orang, yaitu Kapolsek Pirime dan dua anggotanya. "Kapolda Papua juga sudah mendekati TKP. Situasinya sudah bisa dikendalikan Kapolres," imbuhnya. 

Timur juga mengatakan ketiga korban penembakan telah ditemukan, dan saat ini polisi masih melakukan penyelidikan. Satu SSK Brimob juga sudah diterjunkan ke lokasi untuk pengamanan wilayah. 

"Status keamanan tetap bahwa lokasi terlokalisir di satu lokasi Jaya Wijaya," kata Timur. 

Penyerangan pagi tadi menambah catatan peristiwa berdarah di Papua. Sebelumnya pada Oktober lalu, penembakan juga terjadi. Kala itu, personel gabungan TNI/Polri diserang kelompok bersenjata di Muara Sungai Kebo, Distrik Kebo, Kabupaten Paniai, Papua. Dua orang prajurit TNI mengalami luka tembak.

(rmd/try) 


http://news.detik.com/read/2012/11/27/143936/2102729/10/ini-penjelasan-kapolri-soal-tewasnya-3-polisi-oleh-otk-di-papua

Monday, 10 September 2012

Polisi Tewas Ditembak OTK

Selasa, 11 September 2012 | 7:50
[JAYAPURA]  Bripda Jefri Runtoboy tewas diterjang timah panas yang ditembakkan oleh orang  tak  dikenal (OTK). 

Dari  informasi yang diperoleh SP, Senin (10/9) siang, di  Kampung Milineri, Distrik Wenam,  sekitar 5 orang tak dikenal tiba tiba menembak   Bripda Jefri Runtuboy, anggota Polres Tolikara yang sedang melaksanakan pengamanan   pengaspalan jalan raya Wamena - Puncak Jaya milik PT Modern. 

      Sekitar pukul 10.00 WIT, Bripda Jefri Runtuboy dan Bripda Faisal Asri menuju  lokasi pengaspalan Jalan di Kampung  Milineri dengan menggunakan truk bersama sama  dengan karyawan PT. Modern. 

 Setelah tiba di lokasi pengaspalan yang merupakan jalan tanjakan menikung, Bripda jefri Runtuboy berbagi tugas dengan Bripda Faisal Asri. Bripda Jefri bertugas mengamankan bagian atas sektor jalan dan Bripda Faisal Asri mengamankan bagian bawah sektor jalan.

Sekitar pukul 11.40 WIT pada saat karyawan PT. Modern mengerjakan   pengaspalan jalan, melintas  dua OTK dengan berjalan  kaki menuju korban yang ada di bagian sektor atas jalan pengaspalan. 

     Kemudian dua  OTK menghampiri Bripda Jefri Runtuboy. Mereka berbincang sebentar dan tiba tiba salah seorang mengeluarkn pistol dan menembaki korban. Pada saat OTK menembaki korban, tiba tiba muncul 3 OTK lain.  

Setelah  melakukan penembakan, pelaku kemudian menodongkan pistol ke arah Indi (20)  karyawan PT. Modern, namun karena  Indi mengaku sebagai karyawan  pelaku membebaskannya dan kemudian langsung melarikan diri ke arah Distrik Geya.

    Bripda Faisal Basri yang mendengar suara tembakan segera lari ke arah korban dan mendapatkan korban telah meninggal dunia.  Sebanyak 20 orang anggota Polres Tolikara  datang ke lokasi dan melakukan pengejaran.      

Jenazah korban dibawa ke  Puskesmas Karubaga. Hasil outopsi  diketahui terdapat luka tembak pada  mata kanan, 6 luka tembak di dada, luka tembak di tengkuk, luka tembak di lengan kanan atas serta luka tembak di punggung. Ditemukan juga dua   butir proyektil kaliber  9 mm dibagian tubuh korban.  [154]


http://www.suarapembaruan.com/home/polisi-tewas-ditembak-otk/24458

Tuesday, 6 December 2011

Penyerang Brimob Kelompok Penembak Kapolsek


Senin, 05 Desember 2011 , 10:31:00

JAKARTA---Tim Mabes Polri mengaku sudah mengetahui kelompok siapa yang menembak dua anggotanya. Gerombolan pengacau keamanan ini diduga identik dengan kelompok yang menembak Kapolsek Puncak Jaya Dominggus Awes Oktober lalu.

""Saat menyerang mereka berkelompok, antara lima sampai 10 orang,""ujar Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Boy Rafli Amar di kantornya kemarin. Meski Minggu dan seharusnya libur, Boy diperintahkan untuk memberi keterangan pada media.

Menurut mantan Kanit Negosiasi Densus 88 ini, Bripda Eko Afriansyah dan Ferliyanto Kaluku sempat melakukan perlawanan sebelum akhirnya tertembak dan meninggal di lokasi.""Ini penghadangan mendadak, anggota yang disergap mencoba bertahan dan membalas menembak,""katanya.

Namun, kelompok penyerang itu lantas menghilang di hutan.""Mereka ini memang pakai strategi hit and run, setelah menyerang lari,"" kata Boy. Namun, karena ada satu anggota yang selamat Bripda Syukur, informasi berhasil dikumpulkan.

Tim forensik juga meneliti bekas luka tembak pada kedua jenazah untuk menentukan peluru yang digunakan. Dari sana, senjata kelompok ini bisa diketahui jenis dan asal usulnya.""Masih diproses di Kedokteran Forensik,"" kata Boy.

Daerah Puncak Jaya, kata Boy, memang sering dijadikan basis kelompk-kelompok seperti OPM. Itu karena kondisi alamnya yang sangat cocok untuk gerilya.""Hutan-hutannya tinggi dan medannya sulit bagi yang tidak berpengalaman,"" kata Boy.

Selain itu, meningkatkatnya tindak kekerasan juga diduga terkait pilkada di Puncak Jaya yang bulan ini dihelat.""Ini membuat situasi kemanan disana cukup rawan. Kami minta semua anggota disana waspada,"" kata Boy.

Kelompok ini diduga mempunyai bekal amunisi senjata aktif yang cukup banyak. Namun Boy belum neyebutkan secara detail siapa nama pemimpin kelompok penyerang Brimob itu.""Masih terlalu dini disebut,"" kata mantan Kapolres Pasuruan, Jawa Timur itu.

Jenazah Bripda Eko sudah diterbangkan ke Palembang dan dimakamkan secara militer. Sedangkan Ferliyanto dimakamkan di Gorontalo.""Atas nama pimpinan kami menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban,"" kata Boy.

Juru bicara Korps Brimob Kelapa Dua Depok AKBP Budiman menambahkan, Brimob akan memberi santunan untuk keluarga korban. Menurut Budiman, meninggalnya dua anggota Brimob Mabes Polri di Papua itu merupakan kehilangan besar bagi Korps Brimob.""Mereka telah berjuang demi negara sampai titik darah terakhir. Kami sedih tapi juga bangga,"" katanya.(rdl)


RELATED NEWS





 http://www.jpnn.com/read/2011/12/05/110150/Penyerang-Brimob-Kelompok-Penembak-Kapolsek-

Monday, 5 December 2011

Dua Polisi Ditembak Mati Di Papua


  2011-12-05 12:09:48  CRI

Pihak kepolisian Indonesia kemarin(4/12) mengatakan, dua polisi ditembak mati di Propinsi Papua, Indonesia timur.
Juru bicara pihak kepolisian Papua, Wachyono mengatakan, satu kelompok bersenjata yang kurang jelas indentitasnya menembak polisi di Puncak Jaya. Dalam hal ini polisi tersebut segera membalas tembakan. Kontak senjata berlangsung sekitar 30 menit. Ketika memburu penyerang, kedua polisi tersebut ditembak mati dan seorang polisi cedera.
Sejak tahun ini, situasi di Papua tidak stabil, kekerasan pun selalu terjadi. Dua peristiwa kekerasan yang terjadi pada tanggal 30 Juli dan tanggal 1 Agustus lalu telah mengakibatkan 21 orang tewas dan selebihnya dinyatakan luka-luka.

http://indonesian.cri.cn/201/2011/12/05/1s123382.htm

Monday, 24 October 2011

Kapolsek Mulia Ditembak di Kepala dan Dada


Nasional - Senin, 24 Oktober 2011 | 14:00 WIB



INILAH.COM, Jakarta - Kapolsek Mulia, Puncak Jaya, Papua, AKP Dominggus Octavianus, tewas ditembak mati dua orang yang diduga dari kelompok separatis Papua, Senin (24/10/2011) sekitar pukul 11.30 WIT.

Kabid Humas Polda Papua, Kombes (Pol) Wachyono, mengatakan bahwa Dominggus ditembak dua kali hingga menyebabkan kematian. "Mengena pada bagian hidung dan dada sehingga mengakibatkan korban meninggal dunia," ucapnya melalui pesan singkat, Senin (24/10/2011).

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Anton Bahrul Alam, mengungkapkan Dominggus ditembak di bagian hidung, setelah sebelumnya dilumpuhkan oleh dua orang tak dikenal, saat sedang bertugas di Bandar Udara Mulia, Puncak Jaya Papua

"Satu kali (ditembak), keduanya (pelaku) berusaha untuk mengambil senjata api Kapolsek dan akhirnya berhasil. Kemudian ditembakkan ke hidung hingga tembus ke (bagian) belakang," terang Anton di Mabes Polri, Jakarta.

Selepas menembak, kedua pelaku langsung melarikan diri ke arah hutan sambil membawa senjata korban. [mvi]
http://nasional.inilah.com/read/detail/1788632/kapolsek-mulia-ditembak-di-kepala-dan-dada

Saturday, 25 June 2011

Anggota Polisi Ditembak di Kepala

Saturday, 25 June 2011
JAYAPURA – Kasus penembakan terhadap anggota polisi kembali terjadi. Briptu M Yazin, anggota Kepolisian Pelaksana Pengamanan Pelabuhan (KP3) Bandara Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Papua, ditembak orang tak dikenal pukul 09.00 WIT kemarin.


Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Wachyono mengungkapkan, korban ditembak saat melakukan tugas. Motifnya perampasan senjata api laras pendek yang dipegang korban.“Telah terjadi perampasan senpi laras pendek dan penembakan terhadap pemilik senpi anggota KP3 Bandara Mulia, Puncak Jaya atas nama Briptu M Yazin,”ujarWachyono.

Menurutnya,pelaku adalah orang tidak dikenal berjumlah lima orang.Setelah melakukan aksi,mereka melarikan diri ke arah Gunung Nanas.Sementara itu, korban dibiarkan dalam kondisi bersimbah darah.“Korban masih kritis saat ini dirawat di RS Bhayangkara Jayapura,” katanya. Dia mengungkapkan,M Yazin terkena peluru di bagian kepala sebelah kiri.

Disinggung kemungkinan para pelaku adalah anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM), Wachyono enggan berandai-andai.Pihaknya masih mendalami kasus ini dan melakukan olah tempat kejadian perkara.“Kasusnya masih kami selidiki,”tambahnya. Seorang saksi mengaku mendengar dua kali tembakan.

Setelah itu didapati seorang anggota polisi tergeletak bersimbah darah. Ria, warga Kabupaten Puncak Jaya, mengungkapkan saat penembakan terjadi kondisi Bandara Mulia sepi. Menurutnya, bandara biasanya ramai menjelang siang hari, di mana pesawat-pesawat berbadan kecil pengangkut sembako mulai berdatangan dari Kota Jayapura,Kabupaten Wamena, dan Nabire.

“Kami langsung masuk rumah dan mengunci pintu begitu mendengar suara tembakan. Setelah itu,kami melihat seorang polisi tergeletak bersimbah darah,” ujarnya. Kapolri Jenderal Polisi Timur Pradopo mengaku sudah membentuk tim untuk melakukan pengejaran, dibantu TNI.

“Lima saksi terkait perampasan senjata dan penembakan misterius itu sudah kami mintai keterangan,” kata Timur di Jakarta. Meski demikian, Timur belum bisa memastikan siapa pelaku penembakan itu. “Sekali lagi, itu masih dalam penyelidikan,”tambahnya. m yamin/okezone
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/408258/

Friday, 18 June 2010

Personel Brimob Ditembak Mati di Papua

Gerombolan bersenjata menembaki patroli rutin yang dilakukan personel Brimob.
SELASA, 15 JUNI 2010, 07:37 WIB

VIVAnews - Aksi brutal yang diduga dilakukan kelompok separatis bersenjata Organisasi Papua Merdeka kembali terjadi di Puncak Jaya, Papua.

Kali ini peristiwa brutal terjadi pada Senin 14 Juni 2010 pukul 15.00 Waktu Indonesia Timur di Distrik Yambi: patroli anggota Brimob ditembaki.

Akibat penembakan ini, salah seorang anggota Brimob yang berasal dari kesatuan Kepala Dua ini, Brigadir Satu Hendra, tewas tertembak. Kepala Kepolisian Resor Puncak Jaya Ajun Komisaris Besar Alex Korwa ketika dikonfirmasi
VIVAnews, membenarkan peristiwa itu.

"Lokasi penembakan memang hutan sehingga anggota Brimob kewalahan saat terjadi penembakan. Satu anggota tewas tertembak," ujarnya saat dihubungi VIVAnews, Selasa pagi.

Menurut Kapolres, pelaku diduga keras adalah kelompok dari Werius Telenggen Komandan Regu OPM yang beberapa waktu lalu tewas ditembak. "Memang kami belum bisa simpulkan secara pasti, tapi ini masih terkait dan merupakan rangkaian kejadian sebelumnya," ujarnya.

Jenazah Briptu Hendra, Selasa siang ini akan dievakuasi dari Mulia, Puncak Jaya menuju Jayapura. Selanjutnya diterbangkan ke Jakarta menuju Mako Kelapa Dua. "Saya lagi sibuk mencari pesawat untuk evakuasi, sementara cukup dulu ya," ujar Kapolres melalui selulernya.

Juru Bicara Polda Papua AKBP Wachyono saat dikonfirmasi mengatakan, peristiwa itu terjadi Senin sore. Namun Wachyono menyatakan hingga kini belum mendapat kronologis kejadian.

"Saya sudah berupaya menghubungi Kapolres Puncak Jaya tapi sinyalnya sulit," kata Wachyono. Namun, ia membenarkan korban yang tertembak akan di evakuasi hari ini menuju Jakarta. (umi)

Laporan Banjir Ambarita | Jayapura

• VIVAnews

http://nasional.vivanews.com/news/read/157667-personel-brimob-ditembak-mati-di-papua?utm_source=twitterfeed&utm_medium=twitter

Monday, 24 May 2010

Tim Gabungan Polri/TNI Diserang Kelompok Bersenjata

Nusantara / Sabtu, 22 Mei 2010 16:06 WIB

Metrotvnews.com, Jayapura: Kelompok bersenjata, Sabtu (22/5) siang, menghadang tim gabungan dari Polri/TNI yang hendak mengevakuasi anggota TNI yang terluka di Pos TNI Yambi, Kabupaten Puncak Jaya.

"Sempat terjadi kontak senjata dengan kelompok bersenjata hingga mengakibatkan satu anggota Polri dari Kepolisian Resor Puncak Jaya tertembak di bagian kaki,"jelas Kapolres Puncak Jaya Ajun Komisaris Besar Polisi Alek Korwa.

Alex Korwa mengatakan, penyerangan dilakukan kelompok bersenjata yang diduga kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) itu terjadi sekitar dua kilometer dari Pos TNI Yambi.

Akibat penyerangan itu terjadi kontak senjata, antara tim gabungan Polri/TNI dengan kelompok bersenjata hingga menyebabkan Bripda Saumileka tertembak di bagian kaki dan saat ini sedang dirawat di RS Mulia bersama dua anggota TNI yang dievakuasi.

http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/news/2010/05/22/18484/Tim-Gabungan-Polri/TNI-Diserang-Kelompok-Bersenjata/


Sebelumnya, Jum'at (21/5) sekitar pukul 20.00 Waktu Indonesia Timur, kelompok bersenjata menembaki Pos TNI di Yambi, sekitar 75 km dari Mulia. Akibatnya dua anggota terluka, salah satunya Komandan Pleton yakni Letnan Dua Agung tertembak di bagian tangan.

Tuesday, 18 May 2010

Anggota OPM Ditembak di Puncak Jaya

Selasa, 18 Mei 2010 17:04 WIB

JAYAPURA--MI:
Polda Papua memastikan seorang warga yang tewas ditembak oleh aparat gabungan TNI dan Polri di Kampung Goburuk, pada Senin (17/5) sore merupakan salah satu dari delapan orang yang masuk daftar pencarian orang (DPO).

"Ia bernama Werianus Telenggen yang tercatat sebagai anggota OPM (Organisasi Papua Merdeka) yang selama ini melakukan aksi penembakan misterius yang kerapkali terjadi di Puncak Jaya," kata Kepala Bidang Humas Polda Papua Komisaris Besar Agus Rianto, Selasa (18/5) siang.

Menurutnya, Werianus tewas ditembak aparat gabungan Polri dan TNI yang melakukan penyisiran di Kampung Goburuk. "Sebelumnya aparat meminta Werianus bersama rekan-rekannya menyerahkan diri. Namun, imbauan itu malah dibalas dengan serangan tembakan kepada aparat," jelasnya.

Aparat gabungan yang saat itu berrjumlah puluhan orang, ujarnya, berhasil memukul mundur sejumlah anggota OPM yang bersembunyi di Kampung Goburuk.

"Werianus tewas terkena timah panas dalam baku tembak antara aparat dan anggota OPM. Dari lokasi kejadian polisi menyita sepucuk senjata api AK 47 dan puluhan butir peluru yang digunakan Werianus untuk menyerang aparat keamanan," ungkapnya.

Ia menambahkan, Werianus Telenggen merupakan anak buah pimpinan OPM wilayah Puncak Jaya, Goliat Tabuni. Werianus bersama anggota OPM lainnya melakukan serangkaian penembakan, di antaranya penyerangan terhadap para karyawan PT Moderen yang mengakibatkan tiga orang tewas beberapa waktu lalu.

"Werianus tercatat sebagai pimpinan di kawasan Distrik (Kecamatan) Mulia. Jenazahnya hingga kini masih berada di RSUD Mulia guna proses identifikasi," tambah Agus. (FO/OL-01)

http://www.mediaindonesia.com/read/2010/05/18/143591/130/101/Anggota-OPM-Ditembak-di-Puncak-Jaya

Monday, 17 May 2010

Aparat Keamanan Tembak Mati Anggota OPM

Anggota kawanan bersenjata itu ditembak karena tidak bersedia menyerah.
SENIN, 17 MEI 2010, 19:45 WIB

VIVAnews - Penyisiran yang dilakukan aparat gabungan kepolisian dan TNI di Puncak Jaya, Papua mengakibatkan terbunuhnya seorang anggota kelompok bersenjata Organisasi Papua Mereka (OPM). Aparat menembak mati anggota OPM dalam penyergapan di Kampung Goburuk Distrik Yamo, Senin, 17 Mei 2010.

Juru Bicara Kepolisian Daerah Papua, Komisaris Besar Agus Rianto, mengatakan, anggota kawanan bersenjata itu ditembak karena tidak bersedia menyerah, bahkan berupaya melakukan perlawanan. “Saat disergap, kelompok ini mencoba lari bahkan juga melawan, sehingga ditembak,’’ ujarnya dalam pesan singkatnya kepada VIVAnews.

Dalam penyergapan itu, aparat juga menyita sejumlah amunisi senjata api jenis AK 47 dari tempat kejadian. Dalam penyergapan itu, hanya satu orang yang berhasil ditembak, sedangkan lainya melarikan diri. “Kawanan bersenjata yang tewas diduga berinisial WT dan merupakan DPO Polda Papua atas kasus penembakan terhadap pekerja proyek jalan PT Modern beberapa waktu lalu,’’ ujarnya.

Polisi dan TNI masih terus melakukan pengejaran terhadap kawanan bersenjata itu. Mereka meminta warga proaktif untuk melapor jika melihat keberadaan mereka. “Kami masih terus melakukan perburuan terhadap kelompok bersenjata yang belum tertangkap,’’ucapnya.

Sementara jasad pelaku yang tertembak mati, kata Agus, saat ini masih berada di Rumah Sakit Mulia Puncak Jaya untuk identifikasi.

Sejak beberapa hari lalu, aparat keamanan melakukan penyisiran di Puncak Jaya, untuk mengejar dan menangkap kelompok separatis bersenjata yang selama ini kerap menebar terror penembakan maupun pembunuhan. (jn)

http://nasional.vivanews.com/news/read/151613-aparat_keamanan_tembak_mati_anggota_opm