Showing posts with label densus 88. Show all posts
Showing posts with label densus 88. Show all posts

Thursday, 13 June 2013

Tabrak Aparat, Terduga Teroris Ditembak Mati


  • Written by  
  • Tue,11 June 2013 | 14:33

  • KBR68H, Jakarta – Kepolisian Poso dan Detasemen Khusus 88 menembak mati Nurdin alias Bondan kemarin karena orang yang diduga teroris itu melawan saat hendak ditangkap. Saat hendak ditangkap, Nudin mengeluarkan senjata api dan menabrakkan motornya kepada aparat keamanan. Juru Bicara Kepolisian Indonesia Agus Rianto mengklaim, penembakan itu sesuai dengan standar dan prosedur yang ada.

    “Namun yang bersangkutan melakukan perlawanan dan menabrak kendaraan yang ada di depannya, selain itu yang bersangkuta juga mengeluarkan senjata api. Karena yang bersangkutan melawan dan tidak menutup kemungkinan membahayakan orang lain dan anggota yang bertugas. Akhirnya anggota yang sedang melakukan penangkapan berusaha melumpuhkan yang bersangkutan dengan cara memberikan tembakan,” ucap Juru bicara Kepolisian Agus Rianto di Mabes Polri.

    Juru Bicara Kepolisian Agus Rianto menambahkan, Nudin alias Bondan yang merupakan jaringan buronan Santoso adalah pendukung logistik sejumlah perampokan pimpinan Abu Roban. Dari peristiwa itu, Kepolisian menyita sebuah senjata api jenis pistol, termasuk enam butir peluru. Saat ini jenazah Nudin sudah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Kota Palu.

    Editor: Suryawijayanti  


    http://www.portalkbr.com/berita/nasional/2671672_4202.html

    Terkait Jaringan Pengebom Polres Poso dan Jaringan Bima


    TERSANGKA TERORIS DITEMBAK MATI
    11 June, 2013
    JAKARTA-Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror menembak mati terduga teroris bernama Nudin alias Bondan di Jalan Irian, Poso, Sulawesi Tengah, kemarin sekitar pukul 16 Wita. Petugas menembak terduga setelah ada upaya perlawanan saat akan diringkus.
    Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Boy Rafli Amar menjelaskan, operasi masih berlangsung di lapangan. “Masih ada tersangka lain yang dikejar,” ujar Boy. Petugas  berhasil menemukan barang bukti berupa senjata api jenis pistol dan enam butir peluru.
    Boy menjelaskan, saat tersangka naik sepeda motor keluar dari Kayamanya menuju Jalan Irian, anggota berusaha menghentikan. Namun yang bersangkutan melaju dan menabrak mobil. Pada saat akan ditangkap, tersangka menembak anggota Densus 88 Antiteror sehingga anggota membalas tembakan dan mengakibatkan tersangka meninggal dunia.
    Informasi yang dihimpun Jawa Pos (Grup Sumut Pos), anggota Densus yang ditembak itu luka parah. Namun, Boy mengaku belum menerima update informasi. “Untuk anggota masih kami cek ulang, yang jelas tersangka tewas,” katanya.
    Penyidik Densus 88 Mabes Polri juga masih mendalami peran dua orang yang ditangkap akhir pekan di Sulawesi Selatan. Keduanya masih diperiksa di suatu tempat yang dirahasiakan.
    “Betul,  ini lanjutan penangkapan pada hari Sabtu di dua tempat Makassar dan Poso. Dengan tersangka pelaku teror atas nama Fatih dan Mus’ab,” katanya.
    Fatih ditangkap jam 19.30 Wita di perumahan Permata Sudiang Kecamatan Brinkinaya, Makassar sementara Mus’ab alias Amir alias Umar alias Madinah ditangkap di jalan depan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kayamanya, Poso Kota jam 18.30 Wita.
    “Saat ini para tersangka masih dilakukan pemeriksaan dugaan keterlibatan yang bersangkutan adalah terkait dengan peledakan bom Pondok Pesantren Umar bin Khatab (UBK) di Bima,” katanya.
    Mereka diduga juga ikut pelatihan militer di Gunung Biru Tamanjeka, Poso pada bulan April 2012 masuk regu 2 bersama Santoso yang saat ini masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). “Mereka juga diketahui mengetahui identitas pelaku pengeboman tunggal Polres Poso awal Juni lalu,” katanya.
    Secara terpisah, Kepala BNPT Ansyaad Mbai menjelaskan, setiap operasi penindakan selalu berdasar bukti dan fakta yang kuat. “Kami tidak pernah salah tangkap atau asal-asalan dalam menangkap,” ujarnya.
    Ansyaad, menjelaskan, BNPT selalu mendapatkan  kritik dari berbagai pihak selama ini. Termasuk di antaranya menyangkut penangkapan terduga teroris, Farouk, di Kelurahan Sudiang, Makassar. BNPT ditudfing tidak peka karena Farouk baru saja keluar dari masjid.
    “Penangkapan terduga teroris yang habis beribadah, ini hal (yang) sangat berbahaya sekali. Bisa menimbulkan konflik di masyarakat. Tapi intelijen sudah mengatakan bahwa ini orang yang berbahaya. Dan ini orang yang potensial melakukan tindakan berbahaya, jadi tetap kami tangkap,” katanya.
    Farouk sehari-hari menjadi  imam Masjid Besar Al-Musabbihin di Kompleks Perumahan Permata Sudiang Raya, Blok H2 No 11, RT 2, RW 24, Jalan Dg Ramang, Kelurahan Sudiang, Kecamatan Biringkanaya, Makassar. “Kita tidak memerangi Islam, kami menangkap orang yang berpotensi melakukan tindakan berbahaya,” katanya. (rdl/jpnn)


    Read more: http://www.hariansumutpos.com/2013/06/60167/terkait-jaringan-pengebom-polres-poso-dan-jaringan-bima#ixzz2W6BTjSlC

    Monday, 10 June 2013

    Satu Tersangka Teroris Tewas Ditembak di Poso


    Ilustrasi Densus 88: Anggota tim Densus 88 saat baku tembak dengan tersangka dalam penggerebegan rumah yang dikontrak tersangka teroris di Kampung Batu Rengat, Cigondewah Hilir, Bandung, Jawa Barat, Rabu (8/5/2013). Tiga tersangka teroris tewas dalam baku tembak dan satu tertangkap saat 

    penggerebegan yang berlangsung selama 9 jam. | KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

    • Penulis :
    • Dian Maharani
    • Senin, 10 Juni 2013 | 17:45 WIB

    JAKARTA, KOMPAS.com - Satu orang tersangka kasus terorisme, Nudin alias Bondan tewas ditembak aparat kepolisian di Jalan Pulau Irian, Poso, Sulawesi Tengah, Senin (10/6/2013), sekitar pukul 16.00 WITA. Kepolisian mengatakan, Nudin terpaksa ditembak karena melakukan perlawanan saat upaya penangkapan oleh tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri.
    “Pada saat akan ditangkap, yang bersangkutan menembak anggota Densus sehingga anggota membalas tembakan dan mengakibatkan tersangka meninggal dunia,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal (Pol) Boy Rafli Amar di Jakarta, Senin (10/6/2013).
    Boy menerangkan, awalnya tersangka keluar dari kediamannya menggunakan sepeda motor. Saat itu aparat berusaha menghentikan Nudin. Namun Nudin terus melaju dan menabrak mobil saat akan dilakukan penangkapan itu.
    Dalam penangkapan itu polisi menyita sebuah pistol dengan 6 butir peluru. Nudin diduga terkait jaringan buronan teroris di Poso yaitu Santoso.

    http://nasional.kompas.com/read/2013/06/10/17450844/Satu.Tersangka.Teroris.Tewas.Ditembak.di.Poso

    BNPT: Satu Teroris Mati, ya Kita Syukuri


    • Penulis :
    • Sabrina Asril
    • Senin, 10 Juni 2013 | 18:30 WIB


    JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) meminta publik untuk tidak menghakimi aksi pemberantasan terorisme yang dilakukan Tim Densus 88 Antiteror. Ketua BNPT Ansyaad Mbai menilai aksi itu seharusnya didukung semua lapisan masyarakat.
    "Sekarang semua kelompok teroris tujuan mau buat negara, mengubah konstitusi. Sekarang bangsa kita maunya gimana? Mau diapain orang-orang seperti ini?" ujar Ansyaad di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (10/6/2013).
    Ansyaad meminta agar langkah Densus dicermati terlebih dulu. Saat menangkap teroris, Ansyaad menjelaskan hal ini bukan berarti mengindikasikan semakin banyak kelompok teroris yang ada di Indonesia. "Sama seperti dokter dan orang sakit. Jadi bukan berarti kita tangkap teroris, jadi kesannya kok semakin banyak," ucap Ansyaad.
    Lebih lanjut, Ansyaad juga menyoroti aksi bom bunuh diri di Mapolsek Poso, Sulawesi Tengah. Ansyaad mengaku bersyukur aksi teror ini tak menimbulkan korban sipil lain. "Bomnya cuman bikin mati sendiri, biarin aja. Satu teroris mati ya syukurin aja," kata Ansyaad.
    Sebelumnya, tim Densus 88 Antiteror Polri menangkap terduga teroris Fatih alias Umar Farouk (25) di Makassar, Sulawesi Selatan dan Mus'ab alias Amir alias Umar alias Madinah (27) di Poso, Sulawesi Tengah. Keduanya diduga terkait aksi bom bunuh diri di Mapolres Poso beberapa waktu lalu.
    BNPT mensinyalir bahwa kedua terduga teroris itu terkait dengan jaringan Santoso dan Autatrawa. Santoso dan Autatrawa merupakan otak kelompok teroris yang pernah berlatih di Filipina. Keduanya kemudian membentuk jaringan teror di Poso.

    http://nasional.kompas.com/read/2013/06/10/18303420/BNPT.Satu.Teroris.Mati..ya.Kita.Syukuri

    Tuesday, 4 June 2013

    BNPT: Di AS Semua Teroris ditembak Mati, Tak Ada Protes! Read more: http://news.atjehcyber.net/2013/06/bnpt-di-as-semua-teroris-ditembak-mati.html#ixzz2VFPND2SZ



    Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) tak setuju jika Detasemen Khusus (Densus) 88 dibubarkan. Kabar itu justru membuat angin segar para teroris yang selama ini selalu terhambat aksinya oleh Densus 88. 

    Kepala BNPT Ansyaad Mbai menegaskan wacana pembubaran Densus 88 itu hanyalah bentuk salah kaprah. "Itu jelas sesat pikir, yang harus dibubarkan itu jaringan teroris dan orang-orang yang mengkampanyekan kebencian permusuhan negara," jelasnya di Bandung, Selasa (6/4).

    Saat bicara Hak Asasi Manusia (HAM), baginya hanyalah sebagian kecil teroris yang tewas akibat ditembak Densus 88. Dari 900 teroris yang ditangkap, hanya sekitar 90 orang yang tewas setelah ditembak mati dalam penangkapannya.

    "Kita hanya kurang dari 10 persen atau tidak sampai 90 orang yang mati," terangnya. Karenanya ia meminta apa dampak terburuk jika benar Densus 88 dan BNPT dibubarkan.

    Dia pun membandingkan dengan Amerika Serikat yang di mana hampir 100 persen teroris ditembak mati. "Amerika yang disebut raja HAM hampir 100 persennya ditembak mati, sedangkan di Indonesia kurang dari 10 persen, tapi di Indonesia ini ribu-ribut," ucapnya.

    Pembubaran itu menurutnya dikhawatirkan mendatangkan ancaman lebih besar. "Masa satuan yang itu dibubarkan. Itu memang suara teroris yang membuat angin segar, wajar, karena (Densus 88) selalu menghambat kerjanya," tandasnya.

    (*/merdekacom)


    Read more: http://news.atjehcyber.net/2013/06/bnpt-di-as-semua-teroris-ditembak-mati.html#ixzz2VFPHbXuQ

    Tuesday, 28 May 2013

    Indonesian counter-terrorist unit accused of mass killing in disputed Papua province


    Indonesian counter-terrorist unit accused of mass killing in disputed Papua province

    Updated Fri May 24, 2013 10:28pm AEST
    An elite counter-terrorist police unit in Indonesia has been accused of carrying out a mass killing in a village in the central highlands of Indonesia's disputed Papua province.
    Activists says 11 people were killed and 20 more are missing after a combined military and police crackdown on support for the Free Papua separatist movement in April.
    The names of victims and several grisly photographs have been provided to ABC's PM by the armed wing of the movement.
    It is impossible to verify the claims, but Indonesia's Embassy in Canberra has agreed to take up the matter.
    Indonesian police say the claims are untrue. The Papua police spokesman, I Gede Sumerta Jaya, says the killings did not happen and that unit does not operate in the Papua provinces anymore.
    The disputed Indonesian Papua province is the least populated but most restive corner of Australia's vast near neighbour.
    For 50 years Papuans have agitated for independence from their Javanese masters in a campaign fought bitterly on both sides.
    In recent weeks the pace of violence has quickened, especially in the central highlands.
    Shootings have become so frequent that locals have taken to calling it the Gaza Strip.
    It is from this territory that the shocking claims of extra-judicial killings are emerging.
    The ABC conducted an interview with the spokesman for the military wing of the Free Papua organisation, Jonah Wenda, via an exchange of text messages after telephone communications failed.
    He said that an entire village was targeted.
    "Indonesian government fear this village is a strong hold of Freedom Fighters in the centre highlands of West Papua," he said.
    "TNI and police did this. They were picked from different places like school, gardens, on the road and even taken from their home and kill them and throw them in the bush, side of the road and through in the river."
    Mr Wenda emailed the names of the 11 people he says were killed in the crackdown, all civilians.
    He also provided several photographs of corpses that appeared to have been beaten and suffered serious injuries.
    He also said there were two instances of rape.
    None of the claims can be verified, though they are strikingly similar in nature to allegations of human rights abuses by the Indonesian security forces.
    One of the most notorious units known as Densus 88 is partially equipped and trained by the Federal Police.

    Killings account accords with growing intimidation

    Professor Damien Kingsbury from Deakin University has been studying the decades long struggle by the Indonesian state to exert its will over the Papua province.
    He believes the claims of a mass killing are consistent with an upswing of violence and intimidation across the province.
    "The information we've received today from West Papua is consistent with information we've been receiving over the past couple of weeks. This is more detailed," he said.
    "It's more comprehensive but it's absolutely in line with the other information we've received and it comes from a reliable source, so we believe it to be accurate."
    He says the violence is being fuelled by increasing separatist intent.
    "There's always been a background of violence in West Papua and the Indonesian military and the police in particular. The anti-terror group there have always taken a very strong line against what they perceive to be separatists sentiments by West Papuans," he said.
    "But the West Papuans themselves are really looking for a negotiated settlement to the problems of the province and they're pushing that agenda by engaging in things like flag-raising ceremonies to demonstrate their unhappiness.
    "That's perceived to be a sign of separatist intent and the army and police are cracking down on it."
    Professor Kingsbury says it is possible residents of one particular village are being targeted for showing sympathy to separatist sentiment.
    "That may be the case or that may be what they believe but of course, if anybody is engaged in unlawful activities, of course they should be arrested and charged and taken through a due process rather than primarily execute," he said.
    "I think this is the nub of the problem in West Papua, that he military and the anti-terror police take it into their own hands to engage in trial and execution on the spot without going through due process.
    "It's not based on evidence. It's based on supposition, on rumour, on belief and there's huge problems with this and it only builds further resentment."
    First posted Fri May 24, 2013 7:49pm AEST

    Tuesday, 14 May 2013

    DPR Kritik Kinerja Densus 88


    Densus 88 diminta mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.
    JAKARTA, Jaringnews.com - Kinerja Densus 88 Anti Teror Mabes Polri dalam menumpas terorisme disorot DPR.

    Ketua DPR Marzuki Alie mengapresiasi kesuksesan Densus 88 melakukan penumpasan teroris. Namun, sambung dia, DPR juga menyayangkan kasus terorisme belum dapat dituntaskan.

    "Pimpinan DPR mencermati sejumlah kasus kekerasan melibatkan TNI, Polri dan antar kelompok masyarakat, termasuk penuntasan terorisme oleh aparat kepolisian. Jaringan terorisme sampai saat ini belum dapat dituntaskan walaupun dilakukan oleh Densus 88. Terakhir, penyergapan terhadap 24 terduga teroris di lima lokasi berbeda, tujuh diantaranya tertembak mati," kata Marzuki dalam pidatonya di paripurna DPR, Jakarta, Senin (13/5).

    "Kita apresiasi langkah aparat dalam hal ini, namun kita meminta agar Densus 88 melakukan tindakan dengan profesional, mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan," tambahnya.

    Marzuki menambahkan, DPR juga menyesalkan peristiwa bentrokan massa terkait pemekaran daerah Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan. DPR menilai pengamanan aparat kepolisian terhadap kasus tersebut tidak tepat. Ia menilai peristiwa yang menimbulkan korban jiwa tersebut sangat merugikan dengan adanya perusakan aset negara.

    "Jangan sampai pemekaran daerah yang diinginkan oleh masyarakat dimanfaatkan untuk kepentingan politik," ujar dia.

    http://jaringnews.com/politik-peristiwa/wakil-rakyat/40678/dpr-kritik-kinerja-densus-

    Friday, 10 May 2013

    Tujuh dari 20 Terduga Teroris Ditembak Mati



    Metrotvnews.com, Jakarta: Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri menangkap 20 terduga teroris di berbagai daerah di Indonesia, sejak Selasa (8/5) hingga Kamis (9/5).

    Tujuh di antaranya tewas ditembak.

    "Yang meninggal 3 orang di Kebumen, 3 orang di Bandung, dan 1 orang di Kendal," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (9/5).

    Dijelaskan Boy, awalnya penangkapan berlangsung di Jakarta dan sekitarnya, seperti Meruya, Pondok Aren, Ciputat, dan Pamulang. Dari empat tempat itu ditangkap lima terduga teroris, yakni Faisal alias Boim, Endang, Agung, Agus Widharto, dan Iman.

    "Barang bukti berupa satu senjata api revolver dan 20 butir peluru, beberapa perhiasan, laptop, hp, uang yang diduga hasil rampokan (fai) sekitar Rp 30juta," kata Boy.

    Kemudian penangkapan berlanjut di Bandung, Jawa Barat. Awalnya Densus 88 menangkap terduga teroris William Maksum alias Acum alias Dadang di Cipacing, Bandung, Jawa Barat, Selasa (7/5).

    Sehari kemudian, penangkapan berlanjut di rumah kontrakan milik H. Suhanda, Kampung Baturengat Hilir, Desa Cigondewah Hilir, Kecamatan Marga Asih, Kabupaten Bandung.

    Sempat terjadi baku tembak dalam penggerebekan tersebut. Tiga orang tewas, yakni Budi alias Angga, Bang June alias Encek, dan Sarame. Sementara Haris Fauzi alias Jablud ditangkap dalam keadaan hidup.

    "Haris ditangkap hidup. Dia sembunyi di kamar mandi. Dia Selamat. Sekarangs sedang dilakukan pemeriksaan," kata Boy.

    Barang bukti di lokasi, yakni 1 pistol rakitan, magazen 1 buah, amunisi  kaliber 3,8 special 200 butir, amunisi 9mm 80 butir, uang tunai Rp6 juta, pisau genggam, HP dua unit, kamera satu unit, modem dua unit, dan satu senjata api jenis revolver.

    Berselang beberapa jam, penangkapan berlangsung Desa Limpung, Batang, Kendal, Jawa Tengah. Ditangkap dua tersangka teroris, yakni Abu Roban alias Untung alias Bambang Nangka dalam keadaan tewas. Dua lainnya, Puryanto dan Iwan, ditangkap hidup-hidup.

    "Kelompok ini merupakan sisa kelompok Abu Omar dan Autad Rawa.

    Pengakuan sementara, mereka mencari dana untuk pendanaan di Poso pimpinan Autat Rawa dan Santoso," jelas Boy.

    Catatan kejahatan Abu Roban di kepolisian, yakni perampokan (fai) toko emas di Tambora, Jakarta Barat. Kemudian perampokan di BRI Batang Rp790 juta, BRI Grobogan Rp630 juta, dan BRI Lampung Rp460 juta.

    Barang bukti yang disita di Kendal, yakni 1 senjata api jenis FN dengan 6 butir peluru, 1 revolver dengan 3 butir peluru, notebook, dan flashdisk.

    Dari Kendal, penangkapan berlanjut di Kebumen, Jawa Tengah. Tujuh orang disergap, tiga di antaranya tewas ditembak. Mereka adalah Farel,

    Wagiono, Slamet, Budi, Bastari (meninggal), Toni (meninggal), Bayu alias Ucup (meninggal).

    ”Hingga kini kita masih memburu dua orang lagi di Kebumen. Mereka bersembunyi di dalam rumah yang telah kami kurung. Mereka kami perkirakan menyimpan 2 senjata api, 2 bom pipa, dan 1 granat,” kata Boy.

    Boy mengatakan, tujuh orang tewas ditembak karena memberi perlawanan saat ditangkap. Beberapa di antara mereka membalas tembakan dan melempar bom pipa ke polisi.

    Boy belum menjelaskan kaitan antara kelompok yang satu dengan lainnya. Namun, diduga mereka memiliki pimpinan yang sama, yakni Abu Roban. Kelompok ini diduga mengerucut pada satu nama, yaitu Santoso, buron teroris paling dicari.

    Editor: Edwin Tirani

    http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/05/09/1/152367/-Tujuh-dari-20-Terduga-Teroris-Ditembak-Mati

    Densus 88 Kills Six, Arrests 19 in Terrorism Crackdown


    A Densus 88 member keeps his sight on the house where terror suspects exchanged fire with police in Bandung on May 8, 2013. (AFP Photo/Usep Usman Nasrullah Akyat)
    A Densus 88 member keeps his sight on the house where terror suspects exchanged fire with police in Bandung on May 8, 2013. (AFP Photo/Usep Usman Nasrullah Akyat)
    Indonesia’s anti-terrorism squad Densus 88 staged raids across Java on Wednesday, cracking down on a terrorism cell accused of using the proceeds from numerous armed robberies to fund activities in Poso, Central Sulawesi.
    Police killed six suspects and arrested 19 others in raids in Kendal, Central Java, Sumedang, West Java, Bandung and Banten, a source in Densus 88 told the Jakarta Globe. The men were reportedly part of a terrorist network responsible for importing arms from the Philippines and had worked with convicted terrorist Abu Omar, the source said.
    “They managed to collect Rp 1.8 billion from the robberies, we can’t underestimate this number because they would keep on doing this to survive, they were also involved in an arson in Glodok Market in Jakarta,” he said.
    Densus 88 met resistance during a raid of a home in Bandung, West Java, on Wednesday. Police and terrorism suspects exchanged fire during a tense hours-long standoff that left three suspects dead and two behind bars.
    The Bandung standoff was reportedly linked to several raids in small cities throughout Java. It is unknown if the men were associated with any known terrorist organizations, but a source said they had worked closely with some of Indonesia’s most-wanted men.
    “They admitted that the robberies were done to collect money to fund the militants’ activities in the Eastern Indonesia led by Autad Rawa and Santoso,” he said.
    The men were recruited by Abu Roban, who was killed in a shootout with police in Kendal, Central Java, yesterday. They were recruited from West Java and Banten.
    “This group was united in a Hakalah [Koran recital group] in Ciledug, Tangerang which was led by Abu Roban,” the source said. “They are also connected to terrorist group in Bandung led by William Maksum.”
    William was captured alive during a raid in Sumedang, West Java, on Wednesday. The police confiscated a revolver and 200 ammunitions from the alleged terrorist leader.
    http://www.thejakartaglobe.com/news/densus-88-kills-six-arrests-19-in-terrorism-crackdown/

    Wednesday, 17 April 2013

    Densus 88 Dikecam, Polri: Kami Juga Ingin Masuk Surga


    Syarifah Nur Aida 
    Kamis, 11/04/2013 16:42 WIB

    Jakarta - Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah menggelar diskusi publik bertema "Memberantas Terorisme Tanpa Teror dan Melanggar Hak Azasi Manusia". Video kekerasan Densus 88 pun diputar. Apa jawaban Polri?

    Acara ini digelar sebagai kelanjutan dari laporan Ketua PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, ke Mabes Polri atas temuan video berisi kekerasan pada terduga teroris yang diduga dilakukan oleh Detasemen Khusus (Densus) 88. Sebelumnya, Komnas HAM sudah memastikan bahwa video tersebut adalah asli.

    "Terorisme yang sering disebut 'extraordinary crime against humanity', tidak ada akarnya dalam Islam. Saya kira ini yang patut dibicarakan. Kita menentang pemberantasan terorisme dengan cara tidak melakukan teror," ujar Din dalam diskusi tersebut di kantor pusatnya, di Jalan Menteng Raya No 62, Jakarta Pusat.

    Di sela-sela diskusi, diputar video kekerasan yang diduga dilakukan oleh Densus 88, salah satunya menampilkan penangkapan Wiwin Kalahe, terduga teroris Poso yang ditembak setelah menyerah pada 22 Januari 2007 silam.

    Meski beroperasi secara luas, Densus 88 belakangan memfokuskan operasi di Solo dan Poso, yang disebut sebagai markas teroris. Tokoh Islam Poso, Adnan Arsal, menyebut bahwa kotanya bukan sarang para penebar teror.

    "Kenapa tiba-tiba mengarah ke Poso sebagai sarang teroris? Kami tidak menerima itu. Polisi juga memberantas teroris dengan melakukan teror. Polisi yang seperi ini harus dibersihkan dari negara ini," kata Adnan.

    Komisioner Komnas HAM, Siane Indriani, menyebut pihaknya tengah menyelidiki video tersebut.

    "Kita sedang melanjutkan pemeriksaan atas temuan. Sudah bukan masanya lagi menanggulangi terorisme dengan cara-cara kekerasan seperti itu," ujarnya dalam kesempatan yang sama.

    Dalam kesempatan yang sama, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Boy Rafli Amar, pun memberikan jawaban. menegaskan bahwa Densus 88 bukan menarik pelatuk tanpa alasan.

    "Densus 88 tidak bertugas untuk membunuh. Hakekat ancamannya memang layak digunakan senjata api. Ini merupakan penegakkan hukum," kata Boy.

    "Terhadap video itu, itu dinyatakan oleh Pak Kapolri, memang itu adalah bagian kegiatan kepolisian di sana. Apabila memang ada kekeliruan, kita juga tidak ingin menutupi kesalahan. Kami ini, polisi, juga ingin masuk surga," tambah Boy.

    (mad/mad)

    http://news.detik.com/read/2013/04/11/164246/2217892/10/densus-88-dikecam-polri-kami-juga-ingin-masuk-surga?9922022

    Monday, 14 January 2013

    Bahtiar Ditembak Densus 88, Motor Pinjaman dan Uang 10 Juta Raib


    DOMPU (voa-islam.com) - Ibu Nur Aini, istri dari Bahtiar, merasa geram lantaran suaminya menjadi korban penembakan Densus 88 di Dompu pada Sabtu (5/1/2013).

    Ia membantah sama sekali pernyataan Polri bahwa suaminya terlibat kasus terorisme di Poso, sebab selama ini suaminya tinggal menetap dan tak pernah pergi jauh.
    Sore ini, menurut Nur Aini, suaminya Bahtiar bekerja seperti biasa. Setelah berdagang roti dan kue kering, sang suami pergi menagih hutang dagangan.
    “Setahu saya dia pergi menagih hutang. Paginya dia jualan terus sorenya karena ada yang hutang, dia menagih hutang. Dia pergi jam 03.00 sore, terus dia pulang, lalu saya tanya mau ke mana sudah jam 05.00? terus saya tunggu-tunggu sampai sekarang tidak pulang-pulang,” tuturnya kepada voa-islam.com, Selasa (8/1/2013).
    ...Saya sakit hati. Cuma pesan saya, saya punya motor itu mereka bawa, sama uang di sadel motor itu 10 juta lebih
    Hingga kini ia belum mendapatkan kabar secara resmi dari pihak kepolisian jika suaminya telah wafat, informasi yang ia dapat hanya dari berita di televisi jika sang suami ditembak mati oleh Densus 88.
    “Sampai sekarang belum dikasih kabar, saya cuma lihat dari berita aja di tv,” ujarnya.
    Hal itulah yang membuat Nur Aini sakit hati, bahkan yang lebih parahnya lagi, motor pinjaman dan uang sebesar 10 juta yang diletakkan di sadel motor itu raib dan belum dikembalikan.
    “Saya sakit hati. Cuma pesan saya, saya punya motor itu mereka bawa, sama uang di sadel motor itu 10 juta lebih. Itu uang hasil jualan dan uang arisan saya,” ungkapnya.
    Bahkan, yang menambah parah penderitaannya adalah, sang pemilik motor hingga kini terus menagihnya.
    “Sampai sekarang orangnya datang minta terus motornya. Uang disadel motor itu hasil jualan kue punya orang juga,”ucapnya sedih.
    Nur Aini kembali menegaskan jika suaminya hanya pedagang roti dan tidak terkait kasus terorisme di Poso. “Kerjaannya cuma jual kue kering, donat sama roti, itu saja sehari-harinya. Pak Bahtiar itu tidak pernah kemana-mana,” jelasnya.
    ...Belum tahu gimana nasib anak-anak saya dan keluarga ini karena tidak ada yang cari uang
    Ia pun meminta kepada aparat kepolisian, agar segera mengembalikan jenazah suaminya beserta motor dan uang yang dibawanya.
    “Kembalikan jenazahnya cepat! Kita mau kuburkan di sini,  sama motor dan uang di sadelnya kurang lebih 10 juta,” tegasnya.
    Pasca ditinggal wafat suaminya, Nur Aini masih bingung, bagaimana nanti ia menghidupi empat orang anaknya yang masih kecil-kecil.
    “Belum tahu gimana nasib anak-anak saya dan keluarga ini karena tidak ada yang cari uang,” tutupnya. [Ahmed Widad]

    http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2013/01/09/22684/bachtiar-ditembak-densus-88-motor-pinjaman-dan-uang-10-juta-raib/?utm_source=dlvr.it&utm_medium=twitter