Showing posts with label demonstran ditembak mati. Show all posts
Showing posts with label demonstran ditembak mati. Show all posts

Monday, 8 July 2013

Heri Ditembak Polisi, Polsek Rupit Kembali Dibakar Massa


Rabu, 3 Juli 2013 08:17 WIB

Laporan Wartawan Tribun Sumsel, Yohanes Trinugroho

TRIBUNNEWS.COM, MURATARA - Polsek Kelurahan Muara Rupit Kecamatan Rupit kembali dibakar massa. Pembakaran tersebut diduga karena adanya penembakan hingga tewas terhadap Erlika alias Heri (19) yang dilakukan anggota kepolisian terhadap seorang warga Desa Karang Ayar Kecamatan Rupit, sekitar pukul 17.00 WIB, Selasa (2/7/2013).

Informasi yang dihimpun Tribun Sumsel (Tribunnews.com Network), Heri diduga merupakan anggota komplotan bandit jalinsum yang sering meresahkan warga. Sebelumnya terjadi baku tembak antara pelaku dengan petugas. Saat itu pelaku tewas dengan luka tembak dari tangan kanan tembus ke dada.

Kapolres Musi Rawas (Mura), AKBP Chaidir melalui Kasat Reskrime, AKP Erlangga, mengakui bahwa pelaku terlibat baku tembak dengan aparat Kepolisian. Dikatakannya sebenarnya Heri bersama kakaknya Syaipul sudah lama diincar aparat. Karena banyak melakukan perampokan di Jalinsum dari Desa Karang Waru hingga Desa Lesung Batu.

"Saat anggota melakukan penggerebekan Syaipul langsung melarikan diri. Sementara Heri melakukan perlawanan dengan mengeluarkan senpi rakitan sehingga ditembak oleh petugas," ungkapnya.

http://www.tribunnews.com/2013/07/03/polsek-rupit-kembali-dibakar-massa

Kronologi Amuk Massa dan Pembakaran Dua Mapolsek


Rabu, 3 Juli 2013 00:28 WIB
TRIBUNNEWS.COM, MURATARA - Markas Polsek (Mapolsek) sementara di Kecamatan Rupit, Selasa (2/7/2013) dibakar sekelompok massa sekitar pukul 16.30 WIB. Aksi pembakaran Mapolsek ini diduga dipicu tewasnya warga Desa Karanganyar Kecamatan Rupit, Herlika yang diduga pelaku kejahatan Jalinsum oleh Timsus Polres Musirawas.
Informasi yang dihimpun di lapangan menyebutkan, aksi pembakaran Maspolsek Rupit bermula ketika sekelompok massa yang berjumlah sekitar 30-an orang menggunakan dua unit mobil dan motor yang diduga pihak keluarga dari warga yang tewas saat digerebek tersebuit.
Massa yang datang sekitar pukul 16.30 WIB langsung membakar Mapolsek. Melihat banyak massa yang datang dengan beringas, beberapa anggota Polsek yang ada didalam Mapolsek langsung menyelamatkan diri dan diselamatkan oleh warga sekitar.
"Kejadiannya tiba-tiba, massa yang naik dua mobil dan motor yang diduga dari arah Desa Karanganyar datang langsung membakar Polsek. Untung saja, api bisa dipadamkan oleh warga disini dengan menggunakan peralatan seadanya" kata Firdaus, Camat Rupit, kepada Sripoku.com Selasa (2/7/2013).
Menurutnya, dari info yang dia dapat, pembakaran Mapolsek Rupit itu diduga dipicu penembakan terhadap warga Desa Karanganyar yang disinyalir dilakukan oleh aparat kepolisian.
Menurut informasi yang berkembang ditengah masyarakat kata Firdaus, penembakan yang menyebabkan warga Karanganyar tersebut tewas, katanya dari info yang berkembang karena kurang tepat sasaran. Karena, target operasi (TO) yang dicari oleh polisi bukan yang itu.
Sementara Kapolres Musirawas AKBP Chaidir dikonfirmasi Sripoku.com Selasa (2/7/2013) malam di Muararupit mengatakan, penembakan terhadap Erlika (17) sudah sesuai dengan prosedur.
Dikatakannya, penggerebekan di Desa Karanganyar dilakukan menindaklanjuti keluhan masyarakat, karena diwilayah Rupit dan sekitarnya banyak tindak kejahatan curas. Dari hasil inventarisir kasus, tersangka yang tewas telah sepuluh kali melakukan tindak kejahatan. 
Kelompok pelaku diidentifikasi bahkan pelaku utama SP, sudah terlibat 50 kasus, jadi sangat meresahkan. Menurut Kapolres, TO ada beberapa orang, salah satunya dua orang ini, yaitu SP dan Herlika (yang tewas tertembak).
"Ya, kami telah bentuk timsus untuk penegakan hukum, kita sudah identifikasi pelaku curas, salah satunya adalah kakak bertadik, atas nama SP dan Er. Kita lakukan penggerebekan, di Desa Karanganyar tapi pelaku melawan dengan senpi rakitan, kita tembak peringatan melawan, maka dilumpuhkan dan akhirnya meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit. Sedangkan tersangka SP, kabur" kata
Kapolres.
Tapi lanjut Kapolres, kejadian itu dipelintir oleh kelompok tersangka bahwa polisi melakukan salah tangkap dan salah tembak. Sehingga menimbilkan gejolak ditengah masyarakat dan memancing sekelompok masyarakat membakar Polsek Rupit yang merupakan Polsek sementara. Kejadian tak hanya berhenti disitu, massa juga membakar Polsek Rawasulu.
"Berimbas juga ke Polsek Rawasulu dan sekarang ada aksi pemblokiran jalan di Jalinsum Desa Karanganyar. Kita lakukan pengamanan, kita juga  minta bantuan TNI, Brimob dan kordinasi dengan Polda Jambi untuk amankan sekitar Rawasulu, kita cegah supaya tidak ada konflik horizontal antara masyarakat Karanganyar dan Rupit, penembakan sudah sesuai prosedur, pelaku inventarisir sepuluh kasus, kelompok pelaku kita identifikasi bahkan pelaku utama SP, sudah terlibat 50 kasus, jadi sangat meresahkan, TO kita ada beberapa salah satunya dua orang ini, yaitu SP dan Herlika (yang tewas tertembak),"ujar Kapolres.
Komentar Amrullah, paman dari Erlika (17), warga Karanganyar yang tewas ditembak mati oleh polisi, karena diduga bandit jalinsum mengatakan, Bohong kalau ada LP, dia libur sekolah dan tidak ada kerjaan maka nyadap karet supaya ada penghasilan saat liburan. Saat menyadap karet inilah digerebek polisi.
"Dia itu (Erlika-red) masih sekolah di SMA Rupit pak, kalau syaiful kakaknya okelah, kalau herlika itu, dia anak lugu, tidak masuk akal dia penjahat apalagi harus ditembak mati" kata Amrullah.(Ahmad Fahrozi)

http://www.tribunnews.com/2013/07/03/kronologi-amuk-massa-dan-pembakaran-dua-mapolsek

Monday, 6 May 2013

Anarkis, Dua Aktivis Papua Merdeka Ditembak Mati Polisi


SORONG, suaramerdeka.com - Dua aktivis pro Papua merdeka tewas ditembak polisi pada peringatan hari aneksasi Papua ke NKRI pada 1 Mei lalu, di Aimas Kabupaten Sorong, Papua Barat. Polisi mengklaim penembakan terhadap kedua aktivis Papua Merdeka itu sudah sesuai prosedur.
Abner Malagawak (22) dan Thomas Blesua (28) tewas ditembak saat keduanya bersama ratusan rekannya menggelar aksi demo
"Penembakan itu diatur undang-undang, tepatnya pasal 48 dan 49 KUHP, di mana saat polisi terancam, sesuai diskresinya bisa melakukan pembelaan dengan mengeluarkan tembakan melumpuhkan," kata Juru Bicara Polda Papua Kombes I Gede Sumerta Jaya, Sabtu (4/5).
Menurut dia, polisi terpaksa harus mengeluarkan tembakan, karena ratusan massa yang menggelar aksi demo menyerang dengan senjata tajam. Bahkan, juga membakar mobil polisi. "Massa anarkis, menyerang anggota yang sedang berpatroli, serta membakar mobil wakapolres Aimas," katanya.
Sementara ini, Sumerta melanjutkan, sudah dilakukan olah kejadian perkara di kediaman IK yang diduga sebagai pimpinan Papua Merdeka Aimas. Dia juga yang memimpin aksi demo saat peristiwa penembakan terjadi.
"Dari lokasi ditemukan ratusan amunisi untuk senjata laras panjang dan pendek, satu pucuk senjata api rakitan jenis FN, senjata tajam, bendera Bintang Kejora, serta kartu anggota Papua Merdeka," katanya.
Namun, IK hingga saat ini belum diketahui keberadaannya. "IK menghilang, masih dicari," katanya.
( vvn / CN34

http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2013/05/05/155656/Anarkis-Dua-Aktivis-Papua-Merdeka-Ditembak-Mati-Polisi

Wednesday, 1 May 2013

Polisi Klaim Penembakan Sesuai SOP di Musi Rawas


Penulis : Irene Sarwindaningrum | Selasa, 30 April 2013 | 09:04 WIB
PALEMBANG, KOMPAS.com — Penembakan di Musi Rawas yang mengakibatkan empat orang tewas diklaim polisi telah sesuai standar operasional prosedur (SOP).

Semua sudah sesuai tahapan pembubaran massa, mulai mengimbau hingga memberi tembakan peringatan.
-- Djarod Padakova

"Semua sudah sesuai tahapan pembubaran massa, mulai mengimbau hingga memberi tembakan peringatan," kata Kabid Humas Polda Sumsel Ajun Komisaris Besar Djarod Padakova di Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (30/4/2013).
Menurut Djarod, pelepasan tembakan mendatar merupakan langkah terakhir karena tahapan sebelumnya gagal. Saat ketegangan kepolisian dan massa meningkat, juga terdengar suara letusan yang diduga merupakan suara tembakan rakitan (kecepek).
Dalam bentrokan itu, belasan anggota polisi terluka. Sebanyak empat luka parah dan 10 lainnya luka ringan.
Polisi mengerahkan Brimob untuk mengatasi kondisi di Musi Rawas. Pasukan TNI juga dikirim untuk mendukung pengamanan.

Editor :

Robert Adhi Ksp


http://regional.kompas.com/read/2013/04/30/09042843/Polisi.Klaim.Penembakan.Sesuai.SOP.di.Musi.Rawas

Bentrok Musi Rawas: Polisi Tembak Lebih Dulu?


Bentrok Musi Rawas: Polisi Tembak Lebih Dulu?Googlemaps/KSPLokasi Musi Rawas, Sumatera Selatan
Penulis : Irene Sarwindaningrum | Selasa, 30 April 2013 | 10:59 WIB

PALEMBANG, KOMPAS.com — Presidium Pemekaran Muratara tengah mencari tahu apakah kepolisian telah bertindak sesuai prosedur dalam bentrok di Musi Rawas Senin tengah malam. Hal ini guna menilai ada tidaknya faktor kekerasan polisi dalam peristiwa yang menewaskan empat warga itu.
Seluruh korban tewas karena tembakan peluru tajam di bagian kepala dan kaki. Proyektil terlihat dalam visum yang dilakukan di RS Sobirin.
Ketua Presidium Muratara, Ibrahim, mengatakan, laporan dari warga sekitar bentrok menyebutkan pihak kepolisian menembak lebih dulu. "Masyarakat tak ada yang bersenjata saat unjuk rasa," katanya di Lubuk Linggau, Sumatera Selatan, Selasa (30/4/2013).
Selain itu, tak menutup kemungkinan adanya tokoh penggerak massa dalam unjuk rasa yang berakhir dengan bentrok dan pembakaran markas Polsek Muara Rukit itu.
Sejauh ini, 4 korban tewas tertembak, 1 dalam kondisi kritis, dan 9 warga lain terluka. Di pihak polisi, belasan anggota polisi terluka.
Ibrahim memastikan seluruh korban tewas karena tembakan peluru tajam di bagian kepala dan kaki. Proyektil terlihat dalam visum yang dilakukan di RS Sobirin.
Menurut Ibrahim, unjuk rasa tersebut dilakukan tanpa sepengetahuan Presidium Muratara. Aksi tersebut merupakan kekecewaan warga karena pelepasan Muratara dari Kabupaten Musi Rawas tak disetujui. Diduga aksi menjadi tak terkendali. 

http://regional.kompas.com/read/2013/04/30/10590542/Bentrok.Musi.Rawas.Polisi.Tembak.Lebih.Dulu
Editor :
Robert Adhi Ksp

Warga Tewas Ditembak Polisi


indosiar.com, Sumatera Selatan - (Rabu, 01/05/2013) Bentrokan memanas antara polisi dan warga di Sumatera Selatan Selasa kemarin. Ratusan warga Muara Rupit, Kabupaten Musi Rawas yang menuntut pemekaran wilayah berujung terlibat bentrok dengan pihak kepolisian. Polisi yang meminta masa untuk membuka jalan dan membubarkan diri dibalas dengan lemparan batu oleh warga. 4 orang warga tewas dan belasan orang termasuk polisi mengalami luka-luka.

18 warga yang mengalami luka tembak Selasa dini hari dilarikan ke RSUD Dokter Sobirin Lubuk Linggau Sumatera Selatan. Namun sayang, 4 warga yang kritis tidak dapat diselamatkan. Ke empatnya adalah Fadilah (40), Suharto (18), Nisar (21) dan Indra (15) yang mengalami luka tembak pada bagian kepala, dada dan punggungnya.

Bentrok warga dengan aparat keamanan ini terjadi saat ratusan warga melakukan aksi unjukrasa di jalan lintas Sumatera, terkait tuntutan pemekaran wilayah Musi Rawas Utara atau Muratara. Namun, karena dilakukan pada malam hari dan menganggu arus lalu lintas, massa diminta membubarkan diri oleh aparat kepolisian.

Akibatnya, massa emosi dan melempari polisi dengan batu hingga terjadi aksi penembakan. Atas kasus kekerasan ini, warga menuntut pihak kepolisian untuk bertanggungjawab. (Dedi Irwansyah/Sup)

http://www.indosiar.com/fokus/warga-tewas-ditembak-polisi_105864.html

Sunday, 29 July 2012

Angga Meregang Nyawa di Depan Masjid


Angga Meregang Nyawa di Depan Masjid

Tribunnews.com - Sabtu, 28 Juli 2012 00:10 WIB
Angga Meregang Nyawa di Depan Masjid
Tribun Sumsel/Andi Agus T
Angga (13), bocah yang baru duduk di kelas 1 MTs ini, meregang nyawa tepat di depan Masjid Darusalam Desa Limbang Jaya, Kecamatan Tanjung Batu Kabuapten Ogan Ilir. Jumat (27/7/2012). Peristiwa tersebut terjadi buntut dari sengketa lahan PTPN VII Cinta Manis dengan warga. Sejak bentrok warga dengan aparat kepolisian di PTPN VII, polisi terus melakukan patroli guna pengamanan dan sosialisasi kepada warga. (Tribun Sumsel/Andi Agus T) 

TRIBUNNEWS.COM,INDRALA




A--Angga (13), bocah yang baru duduk di kelas 1 MTSini, meregang nyawa tepat di depan Masjid Darusalam Desa Limbang Jaya, Kecamatan Tanjung Batu Kabuapten Ogan Ilir
Dalam peristiwa berdarah itu, anak ke empat dari pasangan Darmawan dan Yuana itu tertembak di bagian kepala telinga sebelah kanan dan langsung  menghembuskan nafas terakhir di tempat tersebut.
Anak ke empat dari enam bersaudara ini, menurut Yuana, Ibu korban, hendak melihat banyaknya mobil polisi yang melintas di jalan. Ketika itu, ia sempat pamitan kepada ibunya.
"Mak, banyak mobil polisi aku nak lihat. Kata dia. Kemudian langsung pergi sedangkan saya di rumah," kata ibunya sambil terus menangis.
Setelah pamitan, Yuana mendapat berita, anak  tercintanya sudah tidak bernyawa lagi. Sementara, ayahnya yang berprofesi sebagai pandai besi, baru dua hari merantau.
Usai kejadian, Paldi kakaknya, terlihat menangis berserta keluarganya yang  lain. Sementara sang ibu tidak henti-hentinya meneteskan air mata. Ia masih tidak percaya dengan kepergian sang buah hati.
Dengan tersedu-sedu, ia meminta pertanggungjawaban atas kepergian sang buah hati.
Dari informasi yang dihimpun, menurut warga sekitar, Angga sedang melihat suasana ramai, ada anggota Brimob yang dikerumuni warga. Ketika polisi memberondong warga menggunakan senjata, ia tidak bisa menghindar dan akhirnya tertembak.
Sementara, situasi empat desa di kawasan tersebut, masih mencekam. Jelang Magrib, ratusan polisi Brimob siaga di simpang Limbang Jaya. Sedangkan, situasi desa juga masih mencekam. Mereka sangat trauma dengan apa yang terjadi.
Selongsongan peluru bekas rentetan tembakan, masih disimpan warga. Mereka berharap, usut tuntas kasus tersebut. Mereka tidak terima dengan perlakuan aparat yang memborbardi warga dengan tembakan bersenjata.
http://www.tribunnews.com/2012/07/28/angga-meregang-nyawa-di-depan-masjid

Polda Sumsel Bantah Pakai Peluru Tajam


Bentrok antara warga dan Brimob pecah di Desa Limbang Jaya, Ogan Ilir, Sumsel.
Bentrok antara warga dan Brimob pecah di Desa Limbang Jaya, Ogan Ilir, Sumsel.(ANTARA/ Yusran Uccang)
Minggu, 29 Juli 2012, 14:30

"Kata siapa ada penembakan?" kata Kabid Humas Polda Sumatera Selatan.

VIVAnews – Polda Sumatera Selatan membantah personelnya menggunakan peluru atau senjata tajam saat terjadi bentrok antara warga dan Brimob di Desa Limbang Jaya, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, 27 Juli 2012.

“Kata siapa ada penembakan? Kami belum tahu apakah itu kasus penembakan menggunakan laras panjang atau peluru tajam, karena saat ini kami masih melakukan olah Tempat Kejadian Perkara,” kata Kabid Humas Polda Sumsel, AKBP R Djarod Padakova, kepada VIVAnews, Minggu 29 Juli 2012.

Djarod menuturkan, bentrok antarwarga dan Brimob itu terjadi pukul 16.00 WIB. Saat itu, rombongan Polda Sumsel sedang melintasi Desa Limbang Jaya menggunakan 15 mobil. “Kami lalu diserang warga saat melintas. Warga menggunakan batu, parang, dan melempar ke arah personel,” ujar Djarod.

Dalam kejadian tersebut, Djarot melanjutkan, lima mobil anggota Polda ditahan oleh warga, dan 10 orang di antara anggota mereka yang sempat terjebak berhasil meloloskan diri dari amukan warga. “Kami belum tahu apa motif mereka menyerang kami. Kami masih selidiki,” kata dia.

Bentrokan itu menyebabkan Angga, remaja 12 tahun yang baru duduk di kelas 1 SMP, tewas tertembak di bagian kepala saat ia keluar dari tempat bermain PlayStation. Selain satu korban tewas, sedikitnya lima orang lainnya terluka dalam bentrok warga dan Brimob ini.

Versi warga menyatakan, bentrok Ogan Ilir bermula ketika pasukan Brimob memasuki Desa Limbang Jaya guna menyisir dan mencari pelaku pencurian 127 ton pupuk milik Pabrik Gula Cinta Manis yang dikelola PTPN VII.

Melihat iring-iringan truk Brimob itu, warga beramai-ramai mendatangi mereka. Namun, melihat banyaknya warga yang menghampiri mereka, anggota Brimob disebut mengeluarkan tembakan. Bentrokan pun tak terhindarkan.

Komnas HAM telah membentuk tim investigasi untuk menyelidiki dugaan pelanggaran HAM pada peristiwa tersebut. Warga Ogan Ilir dan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VII Unit Cinta Manis memang telah lama bersitegang dan terlibat sengketa lahan sejak 1982. (art)

http://us.nasional.news.viva.co.id/news/read/339731-polda-sumsel-bantah-pakai-peluru-tajam