Showing posts with label oktober 2011. Show all posts
Showing posts with label oktober 2011. Show all posts

Monday, 7 November 2011

Beli Jamu, Tewas Kena Peluru Nyasar


Glori K. Wadrianto | Jumat, 7 Oktober 2011 | 09:38 WIB


SUMENEP, KOMPAS.com — Diduga terkena peluru nyasar, seorang warga Desa Pamolokan, Kecamatan Kota, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, RB M Ridwan, tewas ketika hendak membeli jamu di Jalan Trunojoyo, Kamis (6/10/2011) malam sekitar pukul 21.45 WIB.
"Kami menduga peluru nyasar tersebut milik polisi karena pada saat bersamaan memang ada upaya penangkapan pelaku pencuri sepeda motor di sekitar lokasi," kata kakak ipar korban, Husin Satriawan, Jumat (7/10/2011).
Malam itu, korban yang juga pengurus takmir Masjid Agung Sumenep baru keluar dari masjid dan hendak membeli jamu di Jalan Trunojoyo. "Korban terkena peluru nyasar pada bagian kepala. Kami yakin peluru tersebut milik polisi. Kami akan meminta pertanggungjawaban polisi atas peristiwa ini," ujarnya.
Pada Kamis malam, korban dibawa ke Rumah Sakit Daerah (RSD) Moh Anwar Sumenep oleh warga yang berada di lokasi. Rencananya, korban akan dimakamkan pukul 15.30 WIB nanti. Hingga Jumat pagi, Kepolisian Resor Sumenep belum memberikan penjelasan resmi atas peristiwa tersebut.

http://nasional.kompas.com/read/2011/10/07/09380836/Beli.Jamu.Tewas.Kena.Peluru.Nyasar

Wednesday, 2 November 2011

Mitra Polisi Tertembak Dada, Tersangka Kena Kaki


Rabu, 2 November 2011 - 10:26 WIB






BEKASI (Pos Kota)- Satu petugas unit Narkoba Polresta Bekasi Kota bergumul dengan lelaki diduga pengedar narkoba di Jalan Raya Jati Mekar, Jati Makmur, Pondok Gede, Kopta Bekasi, Rabu (2/11) pagi.
Dalam insiden ini tersangka M Bili,44, luka tembak di kaki dan mitra polisi Ari Nudori,35, luka tembak di dada. Tersangka dilarikan ke RS Polri Kramatjati, sementara mitra polisi dilarikan ke RS Haji Pondok Gede.
Menurut keterangan, sekitar pukul 05.30, seorang anggota Narkoba Polresta Bekasi Kota bersama mitra polisi ini melakukan pemancingan untuk transaksi shabu setelah menangkap seorang pengedar shabu-shabu. Pemancingan dilakukan di Jalan Raya Jati Mekar. Tak lama orang yang ditunggu datang. Transaksi pun dilakukan diantara mereka. Namun si lelaki pengedar tersebut curiga dengan gerak gerik polisi penyamar ini.
Secepat kilat lelaki pengedar yang belakangan diketahui bernama Bili ini langsung mencabut pistol dan menodongkan ke kepala anggota narkoba. Merasa terancam jiwanya, anggota polisi ini pun melawan sehingga terjadi pergumulan diantara mereka. Ari yang ikut dalam transaksi ini melihat temannya bergumul ikut membantu.
Namun pistol yang digenggam lelaki yang dicurigai itu menyalak dan meletus mengenai dada Ari. Ari langsung tersungkur dengan dada berdarah, sementara polisi dan Bili terus bergumul sampai akhirnya Bili ditembak kakinya.
Warga setempat yang menyaksikan tak berani menolong. Korban dilarikan ke rumah sakit berbeda. Kasusnya ditangani Polresta Bekasi Kota.
(yanto/sir)
http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2011/11/02/mitra-polisi-tertembak-dada-tersangka-kena-kaki

Tuesday, 1 November 2011

Polisi Penembak Pedagang Tempe Ditahan


Maria Natalia | Heru Margianto | Selasa, 1 November 2011 | 16:06 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Saud Usman Nasution mengungkapkan, saat ini Briptu Eko Ristanto resmi ditahan di Kepolisian Daerah Jawa Timur. Eko adalah pelaku penembakan terhadap Riyadi Solikin, warga Desa Sepande, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Penetapan penahanan dirinya dilakukan setelah polisi melakukan pemeriksaan saksi-saksi di tempat kejadian.
"Berdasarkan pemeriksaan saksi di TKP, kini pelaku Briptu E telah di tahan di Polda Jatim dalam rangka untuk pertangungjawabkan perbuatannya," ujar Saud di Gedung Humas Polri, Jakarta, Selasa (1/11/2011).
Briptu Eko Ristanto, anggota Kepolisian Resor Sidoarjo, menembak Riyadi Solikin, seorang penjual tempe, hingga tewas, Jumat (28/10/2011) dinihari.
Versi polisi, Solikin yang mengendarai minibus menabrak Briptu Widiarto yang sedang melakukan patroli di jalan Pahlawan Sidoarjo. Rekan-rekan Widiarto, yang berjumlah lima orang, diantaranya Eko, mengejar Solikin hingga ke arah Sepande. Eko menembak Solikin hingga tewas karena melawan dengan celurit.
Keterangan polisi ini mendapat perlawanan dari masyarakat dari pelbagai elemen. Ribuan massa melakukan demo di Sidoarjo, Senin (31/10/2011). Mereka tidak percaya Solikin membawa celurit, apalagi melawan petugas.
Penetapan Eko sebagai tersangka dengan tuduhan kelalaian juga diprotes karena penembakan dilakukan dengan sengaja. Massa juga meyakini Eko dalam keadaan mabuk setelah minum minuman keras di kafe Ponti.
Solikin yang juga dikenal sebagai guru ngaji ini tewas dan meninggalkan seorang istri dan dua orang anak yang masih kecil.

http://regional.kompas.com/read/2011/11/01/16065576/Polisi.Penembak.Pedagang.Tempe.Ditahan

PBNU: Peluru Polisi Dibeli dengan Uang Rakyat, Jangan Disalahgunakan

Selasa, 01/11/2011 15:25 WIB

Surabaya - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta kasus penembakan Riyadhus Sholihin, guru ngaji yang juga anggota GP Ansor oleh oknum anggota reskrim Polres Sidoarjo tidak dibelokkan dalam penanganannya.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengingatkan bahwa peluru yang dimiliki kepolisian dibeli dengan menggunakan uang rakyat, yang dalam penggunaan tidak semestinya disalahgunakan.

Hal itu disampaikan oleh Kiai Said setelah sebelumnya melakukan pertemuan dengan Kapolda Metro Jaya Irjend Untung S Radjab. Kapolri Jendral Timur Pradopo, berdasarkan keterangan dari Untung, sudah merespon kasus tersebut dan menyampaikan pesan agar penanganannya tidak dibelokkan.

"Itu yang disampaikan Pak Untung ke saya. Jadi Kapolri sudah berpesan agar penanganan kasus itu tidak dibelokkan, seperti yang sekarang tampak di pemberitaan," terang Kiai Said, dam rilis yang dikirim ke redaksi, Selasa, (1/11/2011).

Kiai Said menambahkan, berdasarkan investigasi kepolisian terjadinya penembakan bermula adanya tabrak lari oleh korban Riyadhus Sholihin. Meski bersalah karena kelalaiannya, tidak semestinya polisi yang melakukan pengejaran langsung menembaknya hingga mati.

"Tabrak lari iya memang benar, tapi dia (Riyadhus Sholihinn) disebut membawa celurit itu tidak benar. Apalagi ada yang mengatakan dia mabuk, itu sama sekali tidak benar. Itu keterangan Kapolda, keterangan dari hasil investigasi yang dilakukan kepolisian sendiri," tegas Kang Said.

Yang lebih penting, masih menurut Kang Said, polisi sebagai pengayom dan pelindung masyarakat tidak semestinya melakukan tindakan main hakim sendiri, dengan secara langsung menghukum pelaku tabrak lari. Terlebih kepolisian Indonesia memiliki anggaran operasional yang juga didapatkan dari sumbangsih masyarakat.

"Peluru yang dipunyai polisi itu kan dibeli juga menggunakan uang rakyat, jadi penggunaannya jangan untuk membunuh rakyat, jangan disalahgunakan" pesan Kang Said tegas.

Seperti yang diberitakan, Riyadhus Sholihin tewas ditembak anggota Reskrim Polres Sidoarjo, usai menyerempet seorang polisi Briptu Widiarto di depan GOR Delta Sidoarjo, pada Jumat (28/10/2011) dini hari sekitar pukul 02.30 WIB.

Sholihin yang sempat melarikan diri karena ketakutan, dikejar oleh 5 anggora reskrim lainnya hingga di Desa Sepande. Sebelum kader Ansor itu ditembak, mobil yang dikendarainya sempat menabrak pagar rumah milik seorang warga.

Dan yang tragis, di dalam mobil yang digunakan untuk antar jemput karyawan PT Ecco, guru ngaji yang juga penjual tempe itu ditembak oleh Britu Eko Kristanto, karena hendak melawan dengan clurit.

Almarhum Riyadhus Sholihin kini meninggalkan seorang istri, dan dua orang anak yang masih kecil.

(bdh/bdh) 



http://us.surabaya.detik.com/read/2011/11/01/152518/1757461/475/pbnu-peluru-polisi-dibeli-dengan-uang-rakyat-jangan-disalahgunakan

Dor! Gembong Curanmor Kota Brebes Ditembak

01 Nopember 2011 | 17:59 wib


Brebes, CyberNews. Jajaran Polres Brebes berhasil meringkus Edi Susanto (29), gembong pencurian sepeda motor (curanmor) yang biasa beroperasi di Kota Brebes, kemarin. Anggota Reserse Mobil (Resmob) Polres Brebes yang mengerebek pelaku terpaksa melumpukannya dengan timah panas. Tembakan petugas mengenai paha kiri pelaku hingga tersungkur di tanah.
Polisi terpaksa melumpukan dengan tembakan, karena tersangka berusaha melawan. Bahkan, ia juga menantang petugas. Sebelum berhasil dilumpuhkan, petugas dan tersangka telibat kejar-kejaran yang cukup seru. Aksi itu berlangsung cukup lama dan memacing perhatian warga sekitar. Tersangka warga Kelurahan Limbangan Kulon, Kecamatan/Kabupaten Brebes itu akhirnya berhasil diringkus di jalan Desa Padasugih, setelah paha kirinya ditembak petugas.
"Tersangka ini merupakan TO kami. Ia adalah gembong curanmor di wilayah Kota Brebes. Banyak warga yang telah menjadi korbannya," tandas Kasat Reskrim Polres Brebes AKP Sugeng SH, Selasa (1/11).
Dia mengatakan, aksi penangkapan yang dilakukan anggota Resmob cukup seru, karena tersangka mencoba melawan. Bahkan, anggotanya juga ditantang tersangka untuk duel. Mereka sempat terlibat kejar-kejaran seru di sepanjang jalan Desa Padasugih Brebes. Tersangka yang mencoba kabur dengan sepeda motor bisa dilumpuhkan setelah anggotanya melepaskan tembakan ke paha sebelah kiri.
"Sekarang tersangka sudah kami tahan dan tengah menjalani proses penyidikan," ujarnya.
Dari hasil pemeriksaan sementara, lanjut dia, tersangka itu diketahui telah puluhan kali melakukan aksi pencurian motor di Kota Brebes. Namun, dari jumlah tersebut sebanyak 5 kejadian yang dilaporkan ke polisi.
"Dari penangkapan ini kami berhasil mengamankan barang bukti 2 sepeda motor. Yakni, jenis Honda Revo dengan tempat kejadian perkara Dukuh Bangon Desa Banjaranya, Kacamatan Brebes dan Yamaha Mio yang lokasinya di Desa Pemaron," terangnya.

( Bayu Setiawan / CN27 / JBSM )

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2011/11/01/100677/Dor-Gembong-Curanmor-Kota-Brebes-Ditembak

Pemuda Ansor Ditembak Mati, Polda Jatim Minta Maaf




TEMPO InteraktifSurabaya - Kepolisian Daerah Jawa Timur meminta maaf kepada keluarga almarhum Riyadi Solikin, anggota Departemen Pendidikan dan Kader Gerakan Pemuda Ansor Sidoarjo, yang tewas ditembak Brigadir Satu Eko Ristanto pada Jumat, 28 Oktober 2011 dini hari pekan lalu. Eko adalah anggota Satuan Reserse Kriminal Polres Sidoarjo.

Permintaan maaf itu disampaikan Wakil Kepala Polda Jatim Brigadir Jenderal Edi Sumantri seusai mengunjungi keluarga korban di Desa Sepande, Kecamatan Candi, Sidoarjo, Selasa, 1 November 2011.

Kedatangan Edi didampingi oleh Direktur Profesi dan Pengamanan Polda Jatim Komisaris Besar Tomsi Tohir, Direktur Bimbingan Masyarakat Komisaris Besar Puji Astuti, dan Ketua Tim Pencari Fakta Komisaris Besar Coki Manurung. "Kami meminta maaf sebesar-besarnya pada keluarga korban sekaligus memulihkan nama baik yang bersangkutan," kata Edi di Balai Wartawan Polda Jawa Timur.

Pemulihan nama baik korban dilakukan karena sebelumnya, Eko, yang kini telah ditetapkan sebagai tersangka, mengatakan bahwa Solikin terpaksa dihabisi karena berusaha melawan dengan celurit. Namun, keluarga korban membantah bahwa dini hari itu Solikin tidak membawa senjata tajam.

Pernyataan tersangka membuat geram ratusan warga Sepande. Satu hari kemudian mereka berunjuk rasa ke Polres Sidoarjo meminta agar polisi meralat soal celurit sekaligus memecat pelaku penembakan dari kepolisian. "Masalah korban bawa celurit atau tidak masih kami dalami karena baru keterangan dari tersangka. Yang jelas, korban orang baik-baik, bukan penjahat," kata Edi.

Ketua Pengurus Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur Alfa Isnani menilai permintaan maaf tersebut belum cukup. Sebab, kata dia, yang lebih penting dari itu adalah mengusut tuntas pelaku penembakan hingga dijatuhi hukuman yang setimpal. "Dengan meminta maaf, kesannya Polda Jatim seperti menutup-nutupi kesalahan pelaku," kata Alfa.

Karena itu, kata dia, GP Ansor Jawa Timur tetap mendesak agar Eko diseret ke pengadilan. Selain mendesak agar tersangka dijatuhi hukuman berat, Alfa juga meminta agar atasan Eko turut bertanggung jawab atas tewasnya Solikin. "Karena pelaku bertugas di bawah kendali komandannya," ujar Alfa.

Tewasnya Solikin berawal dari terserempetnya sepeda motor Briptu Widianto oleh mobil korban di dekat Stadion Gelora Delta Sidoarjo. Saat itu Widianto bersama empat rekannya tengah melakukan patroli tertutup di sekitar stadion.

Melihat rekannya terjatuh, Eko spontan mengejar mobil Solikin yang tetap melaju kencang. Versi Edi, Eko sempat memberi tembakan peringatan agar Solikin berhenti, namun tak dihiraukan. Saat laju kendaraan Solikin sampai di tikungan, Eko memepet dan menembak ban belakangnya.

Tak hanya itu, saat posisi kendaraan sejajar, Eko menembak Solikin dari arah samping. Tembakan ini mengenai lengan korban dan tembus hingga paru-paru. Namun, beberapa saksi mata mengatakan, sebelum ditembak korban tidak mengacungkan celurit seperti klaim pelaku.

KUKUH S WIBOWO



http://www.tempointeraktif.com/hg/surabaya/2011/11/01/brk,20111101-364304,id.html

Monday, 31 October 2011

Perampok Bos Karet Ditembak Polisi


Senin, 31 Oktober 2011 - 9:11 WIB


LAMPUNG (Pos Kota) – Satu tersangka perampok dan pembunuhan bos karet ditangkap Reskrim Polres Tulangbawang. Suryadi ,35, dituduh membawa kabur uang Rp. 200 juta milik Wahyu Sutrisno ,29, warga Adi Jaya KNPI, Kecamatan Gedung Ajo Lama, Tulangbawang, Kamis (27/10).
Tersangka ditangkap saatng bersama wanita penghibur di Lampung Timur dan mencoba kabur sehingga kaki kanannnya langsung ditembak, a Senin (31/10) sekitar pukul 01.30 WIB.
Kapolres Tulangbawang, AKBP. Shobarmen membenarkan penangkapan tersebut. “Saat ini kami masih mengejar pelaku lainnya, yang ketika beraksi berboncengan dengan Suryadi mengendarai sepeda motor jenis Yamaha Vega R. Selain mengamankan tersangka juga diamankan sisa hasil uang rampokan senilai Rp 60 juta dari tangan Suryadi”, kata Kapolres.
Sebelumnya diberitakan, usai mengambil uang penjualan getah karet Rp 200 juta, bos karet Wahyu Sutrisno ,29, bersama keponakannya Seno ,16, warga Aji Jaya KNPI, Kecamatan Gedung Aji Lama, Tulangbawang, bertarung dengan perampok sehingga bos karet tewas ditikam pisau yang ditusukkan berulang kali ke dada dan perut korban. Demikian juga keponakannya mengalami luka-luka saat kedua penjahat merampas uang tersebut di tengah kebun karet di Kampung Aji Jaya KNPI, Banjar Agung, Tulangbawang, pada Kamis (27/10) sekitar pukul 14.30 WIB.
Seno keponakan korban menjelaskan, siang itu pamannya meminta diantar mengambil uang di salah satu bank Unit II Banjar Agung, Tulangbawang. Mereka menggunakan sepeda motor ke bank.
Setelah mengambil uang, mereka langsung pulang ke rumah . Namun saat lewat kebun karet mereka dihadang perampok yang menggunakan sepeda motor. “Paman saya mencoba melawan namun perapok yang menggunakan pisau, berulangkali menusuk paman saya dan ke saya membuat kami tersungkur di jalan lalu perampok merampas uang paman saya. Saya berteriak minta tolong warga dan membawa kami ke rumah sakit. Paman saya meninggal karena pisau mengenai jantungnya”, ujar keponakan korban.(Koesma/b)
http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2011/10/31/perampok-bos-karet-ditembak-polisi

Kepala Desa Sepande : Riyadis Solichin Ditembak Tanpa Perlawanan


31 Oktober 2011, 10:27:09| Laporan Eddy Prastyo


suarasurabaya.net| Riyadis Solichin ditembak polisi setelah mobilnya berhenti tanpa ada perlawanan sebelumnya. Ini diungkapkan H. Ahmad Fauzi Kepala Desa Depande, Kecamatan Candi, Sidoarjo pada suarasurabaya.net, Senin (31/10/2011).

Menurut Ahmad, kronologi polisi yang menyebutkan Riyadis ditembak saat mobil sedang melaju tidaklah benar. Juga tidak benar bahwa Riyadis melawan menggunakan clurit saat kendaraan sedang melaju setelah bahu kanannya ditembus peluru.

“Dari kesaksian banyak warga yang melihat kejadian, Riyadis ditembak setelah mobilnya berhenti. Sebelumnya memang ada tembakan mengarah ke ban belakang kiri dan bemper belakang, lalu mobilnya menabrak pagar rumah warga. Setelah menabrak, mobil sempat melaju lagi, lalu disalip oleh sepeda motor kemudian mobil berhenti. Saat itulah polisi menembak dari jarak dekat tembus kaca samping kanan,” kata dia.

Setelah ditembak, banyak warga juga yang melihat Riyadus Solichin ditarik keluar sampai terjatuh di aspal. Saat itu tidak ada yang tahu apakah dia sudah tewas atau belum, tapi menurut keterangan sejumlah saksi, tubuhnya tidak bergerak dan darah berceceran di aspal.

Kesaksian ini dilengkapi Hari Saputro warga sekitar yang melihat langsung kejadian. Mobil yang dikendarai Riyadis Solichin itu berhenti persis di depan rumahnya.

“Waktu itu sebelum jam dua dinihari, saya kaget ada suara braaak…!. Lalu ada suara letusan seperti tembakan dua kali. Lalu saya keluar rumah,” kata dia.

Hari melihat di depan rumahnya, mobil Suzuki Carry berhenti. Di aspal, bawah pintu depan mobil sebelah kanan dilihatnya tubuh seorang lelaki berlumuran darah. “Sudah meninggal atau belum, saya tidak tahu. Sepertinya sudah tidak bergerak waktu itu,” kata dia.

Saat itu warga sekitar mengira polisi sedang menangkap penjahat karena diantara yang mengejar, diduga polisi, berteriak maling….maling…!.

Apakah ada clurit selama pengamatannya? Hari menegaskan tidak ada. “Saya tidak melihat ada clurit di dekat tubuh yang jatuh di aspal itu juga di dalam mobil. Karena polisi setelah itu menggeledah isi mobil, tapi saya tidak melihat clurit dikeluarkan. Saya tidak tahu jika polisi sudah mengamankan lebih dulu clurit itu. Yang pasti, saya tidak melihatnya selama mengamati kejadian itu,” kata dia.
Yang dia lihat saat itu, di belakang mobil Riyadis, ada mobil jenis Avanza atau Xenia yang diduga dikendarai polisi. Tak lama kemudian, tubuh Riyadis diangkut masuk dalam mobil itu.

Kurang lebih satu jam kemudian, sebuah mobil jenis Honda CRV datang. Penumpangnya ada tiga orang meminta ijin pada warga sekitar memperkenalkan diri sebagai anggota Satreskrim Polres Sidoarjo ingin membawa mobil Suzuki Carry yang sempat ditinggal di jalan.

Kata Kepala Desa Sepande, kasus ini mendapat perhatian serius Saiful Ilah Bupati Sidoarjo. Bupati yang juga tokoh Nahdlatul Ulama itu menyatakan siap mengawal kasus ini agar mendapat keadilan bagi pihak keluarga.(edy)



http://kelanakota.suarasurabaya.net/?id=d9ee42a7c3846d3f4c213ca5af790921201199412

Pemeras Tamu Hotel Ditembak




Spesialis pemeras tamu hotel dengan modus mengumpan korbannya perempuan berhasil dibekuk jajaran Reskrim Polsek Utara, Minggu (30/10). Pelaku berinisial Ec. Ketika akan ditangkap, Ec berupaya melawan polisi hingga kakinya dilumpuhkan petugas menggunakan timah panas.
“Ketika hendak ditangkap di Komplek Pasar Kapuas Indah, pelaku melawan. Akhirnya petugas dengan terpaksa menembak kaki kirinya,” jelas Kompol S Alam SH Sik, Kapolsek Utara, kemarin.
Residivis berbagai kejahatan di Kota Pontianak itu sebelumnya memeras Gaspar Ngandhi, 30, warga asal Desa Bloyan, Kabupaten Melawi, di Wisma Siantan, Pasar Puring, Kecamatan Pontianak Utara, Jumat (14/10) sekitar pukul 09.00. Atas laporan Gaspar, makanya Ec dikejar jajaran Polsek Utara.
“Pelaku merupakan residivis berbagai tindak kejahatan di Kota Pontianak. Sejak tahun 2003, pelaku melakukan berbagai kasus, di antaranya penganiayaan, pemerasan, dan pencurian dengan kekerasan. Kemudian sejak tahun 2010 pelaku beraksi sebagai pemeras dengan modus mengumpankan perempuan kepada korbannya di hotel,” ungkap Alam.
Setelah diselidiki, Ec merupakan spesialis pemeras tamu hotel. Bahkan pria tersebut telah membentuk jaringan wanita penghibur yang nantinya akan diumpankan kepada korbannya. Ketika tamu hotel sudah berada di kamar, datang seorang perempuan. Tujuannya menggoda tamu hotel. Kemudian datang Ec yang mengaku sebagai suami wanita tersebut.
“Saat itulah pelaku memeras korbannya. Alasannya tidak akan memperpanjang masalah, karena korbannya membawa istrinya ke hotel. Padahal itu merupakan akan-akalan Ec agar berhasil membuat takut tamu hotel dan dapat memerasnya,” jelas Alam.
Ec memeras Gaspar Ngandhi sekitar satu jam sebelum dilaporkan ke kantor polisi. Berawal ketika Gaspar menginap di Wisma Siantan. Di saat bersamaan, pintu kamar korban diketuk. Begitu dibuka, ada seorang wanita yang pengakuan Gaspar, tak dikenalinya. Wanita itu lantas masuk ke kamarnya. Merasa khawatir dan takut dijebak, pria tersebut meminta wanita itu keluar.
Tak lama kemudian, Ec pun menyusul dan masuk ke dalam kamar. Begitu melihat keduanya berada di satu kamar, Ec lantas bertanya, mengapa Gaspar membawa istrinya. Pengakuan Ec terhadap Gaspar, jika wanita tersebut adalah istrinya.
Mendengar hal tersebut, terang saja ditepis Gaspar. Pasalnya ia tak mengenal siapa wanita itu. Tak lama berselang, beberapa orang yang diduga rekan-rekan pelaku malah berdatangan ke kamar Gaspar. Mereka meminta Gaspar berdamai dengan pelaku. Jika tidak, akan dibunuh.
Mendengar hal itu, Gaspar merasa takut dan kemudian mau menerima tawaran tersebut. Ketika berdamai, Gaspar hanya sanggup memberikan uang sebesar Rp400 ribu. Namun hal itu ditolak pelaku, ia malah meminta lebih, akhirnya lantaran takut dibunuh, Gaspar memberikan uang sebesar Rp1,3 juta. Usai itu korban lantas melaporkan kejadian yang dialaminya ke kantor polisi. (sul)

http://www.equator-news.com/patroli/20111031/pemeras-tamu-hotel-ditembak

Jika Sering Berbohong, Polisi akan Dibenci Masyarakat

Senin, 31/10/2011 20:14 WIB

Surabaya - Riyadus Sholihin, seorang kader Ansor warga Desa Sepande, Sidoarjo terkapar oleh terjangan peluru polisi, Jumat (28/10/2011) dini hari. Akibat tewasnya Solihin, yang juga seorang guru ngaji ini, Sidoarjo pun menjadi sorotan publik.

Menurut Mustofa B. Nahrawardaya, koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF), polisi dianggap berlebihan dan cenderung membohongi publik lantaran alasan yang dibuat-buat untuk menutupi perbuatan itu.

"Penembakan terhadap korban merupakan perbuatan keji, apalagi dengan alasan yang membohongi masyarakat, baik itu masyarakat Ansor maupun masyarakat umum," kata Mustofa saat berbincang dengan detiksurabaya.com, Senin (31/10/2011).

Sholihin, yang sehari-harinya sebagai penjual tempe dan guru ngaji ini ditembak oknum reskrim Polres Sidoarjo seusai menyerempet seonag anggota polisi. Kader Ansor ini ditembak oleh polisi yang mengejarnya, karena diakui melawan petugas saat akan ditangkap. Bahkan dikatakan korban membawa celurit.

"Kebiasaan polisi memberi alasan stereotip, melawan dan ditembak, tidak bisa begitu saja ditimpakan pada setiap orang yang berurusan dengan polisi. Terhadap penjahat, kemungkinan polisi terbiasa memberikan alasan semacam itu. Namun terhadap aktifis ormas Islam, apalagi anggota Ansor, sudah tidak lagi polisi patut melakukannya," jelas Mustofa.

Menurut Mustofa, sudah saatnya, polisi menghilangkan kebiasaan buruk dengan menyampaikan informasi yang menyesatkan kepada masyarakat, dan mencoba, sekali lagi mencoba meluruskan informasi agar tidak dituduh bohong.

Kejadian pembunuhan oleh oknum polisi di Sidoarjo, bagaimanapun telah mencoreng korps kepolisian. Kemungkinan peristiwa semacam itu sudah sering terjadi, namun tidak ada pihak yang peduli dan akhirnya tidak pernah terungkap ke publik.

Dengan adanya protes yang besar dari masyarakat, maka polisi harus berbenah diri, dan tidak boleh lagi mengulangi perbuatan memalukan tersebut, baik di Sidoarjo maupun di kota-kota lain seluruh Indonesia.

Untuk itu, Mustofa meminta agar Kapolri jangan mudah puas dan percaya begitu saja atas prestasi semu yang didapat bawahan, karena kadang prestasi tersebut bukan prestasi yang sebenarnya.

Mustofa mencontohkan, sangat banyak kabar penembakan kaki terhadap orang maupun tembak mati terhadap penjahat dengan kronologi dan stereotip yang mirip. 

"Yang paling penting adalah mencoba tidak berbohong pada masyarakat, agar masyarakat tidak membenci polisi," pungkas Mustofa.

(bdh/bdh) 



http://us.surabaya.detik.com/read/2011/10/31/201432/1756705/475/jika-sering-berbohong-polisi-akan-dibenci-masyarakat?y990101mainnews

Perampok Motor Tewas Ditembak


Agnes Rita Sulistyawaty | Agus Mulyadi | Senin, 31 Oktober 2011 | 19:08 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Badri Kayo (37) tewas akibat ditembak polisi di simpang lima Senen, Senin (31/10/2011). Badri ditembak setelah mencuri sepeda motor Yamaha Mio bernomor polisi B 6204 BTH, yang dikendarai oSamuel Setiawan (23).
Kejadian berawal ketika Samuel sedang berhenti di lampu merah dari arah Kwitang menuju Cempaka Putih. Badri menodongkan pisau dapur, sambil memaksa korban turun dan sepeda motornya.
Merasa khawatir, Samuel turun. Tidak berapa lama setelah sepeda motor dibawa kabur, korban berteriak. Massa di sekitar lokasi kejadian itu lantas mengejar pelaku. Pelaku sempat menakut-nakuti orang yang mengejarnya.
Pada saat bersamaan, polisi lewat di lokasi kejadian. Untuk melumpuhkan pelaku, polisi menembak kaki pelaku. Pelaku jatuh dan bisa diamankan. Pelaku dibawa ke RS Polri Kramat Jati. Dalam perjalanan, dia mengembuskan napas terakhir. (RATIH P SUDARSONO)

http://megapolitan.kompas.com/read/2011/10/31/19084796/Perampok.Motor.Tewas.Ditembak

Guru Ngaji Ditembak, Ribuan Warga Blokir Jalan


Nasional - Senin, 31 Oktober 2011 | 15:25 WIB


INILAH.COM, Sidoarjo - Demo ribuan warga menghujat penembakan Raiyadhus Sholikhin (40) oleh Briptu Eko Ristanto terus berlanjut, Senin (31/10/2011). Rencana awal, warga bersama mahasiswa hendak mendatangi Mapolres Sidoarjo Jalan Kombes Duryat no 45 Sidoarjo, Jawa Timur.
Tetapi karena susah menembus jalan menuju Mapolres Sidoarjo, warga akhirnya balik arah dan kini melakukan pemblokiran jalan A Yani depan Makodim Sidoarjo. Pemblokiran dilakukan untuk arah Surabaya dan arah Malang.
Ribuan warga bergerombol duduk di atas aspal jalan. Kendaraannya pun diparkir di tengah jalan raya. Sebagian warga berlonjak-lonjak meneriakkan yel-yel dan meneriaki polisi sebagai pembunuh.
Akibat pemblokiran itu, arus lalu lintas dari Surabaya menuju Malang berhenti total. Aparat yang mengawal jalan aksi sepertinya tidak menyangka kalau ada pemblokiran. Sehingga, aparat sulit mengendalikan massa yang jumlahnya semakin bertambah.
Sampai saat ini, petugas belum bisa mengendalikan aksi warga. Aparat sibuk untuk membubarkan aksi atau menghalau pemblokiran. "Kami tidak akan bubar sebelum polisi penembak rakyat dihukum mati," teriak salah satu pendemo.
Sekadar diketahui, Raiyadhus Sholikhin (40) yang sehari-hari menjadi guru ngaji itu tewas tertembak oleh Briptu Eko Ristanto, Jumat (28/10/2011) dini hari. Penembakan dilakukan karena Sholikhin yang menaiki mobil real van nopol W 1499 NW diduga serempetan dengan anggota Reskrim Polres Sidoarjo bernama Briptu Widianto yang menaiki motor Supra W 5077 XL.
Saat ini, Briptu Eko sudah dilakukan penahanan oleh Propam Polda Jatim. Briptu Eko dikenakan pasal 359 tentang perbuatan atau penganiayaan yang mengakibatkan orang meninggal dunia. [beritajatim.com]

http://nasional.inilah.com/read/detail/1791279/guru-ngaji-ditembak-ribuan-warga-blokir-jalan

Polisi Main Tembak, DPP PKB Surati Polri



"Harus segera mengusut dan memberi saksi pelakunya," kata Imam Nahrawi, Sekjen PKB

SENIN, 31 OKTOBER 2011, 16:46 WIB

VIVAnews - Terkait penembakan kadernya, Sekretaris Jenderal DPP PKB yang juga Ketua DPW PKB Jatim, Imam Nachrowi angkat bicara. Meminta oknum polisi Briptu Eko Ristanto anggota Reskrim Polres Sidoarjo ditindak tegas sesuai kesalahannya menembak Riyadis Sholikin hingga tewas. Itu terjadi di kawasan Taman Pinang, Sidoarjo, Jawa Timur sekitar pukul 02.30 WIB, Jumat dinihari, 28 Oktober 2011.
"PKB juga melayangkan surat protes kepada Polri atas terjadinya kesewenangan itu. Harus segera mengusut dan memberi saksi pelakunya," kata Imam dalam rilisnya, Senin 31 Oktober 2011.
Menurutnya, sebagai anggota polisi, tindakan oknum tersebut mencederai tugas dan fungsi polri sebagai pelindung, pengayom dan pelayan serta menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat.
Selain menyesalkan terjadinya penembakan, pihaknya juga meminta Fraksi PKB DPRD Sidoarjo mengawal proses hukum penanganannya. "Melalui wewenang dan fungsinya, mengawal dan memastikan agar penyelesaian hukum kasus tersebut berjalan transparan dan adil." 
Diberitakan sebelumnya, Riyadis Sholikin usai mengantar pulang karyawan pabrik sepatu PT Ecco yang menjadi langganannya, warga Desa Sepande RT 01 RW 1, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur ditembak oknum polisi hingga tewas. Dalam peristiwa itu, korban dikabarkan menyerempet Briptu Widianto anggota Reskrim Polres Sidoarjo pengendara motor Supra bernomor polisi W-5077-XL saat melintas di depan Cafe Ponti dekat GOR Delta Sidoarjo.
Kemudian, Briptu Widianto mengejar sambil melepaskan tembakan, dan memanggil sejumlah rekannya sesama polisi berpakaian preman. Satu tembakan mengenai bodi belakang dekat plat nomor, peluru kedua mengenai ban kanan belakang, mobil oleng kemudian menabrak pagar. Kemudian sejumlah polisi menghampiri, memecah kaca kanan depan dan menembak lengan kanan, tembus bagian dada kanan yang mengakibatkan korban tewas.
Selain sopir antar jemput, korban berprofesi guru mengaji, penjual tempe dan anggota Banser Sidoarjo. Buntut peristiwa itu massa Garda Bangsa Jatim mendatangi Mapolda Jatim di Jalan A Yani, Surabaya, melayangkan protes. Sementara, di Sidoarjo, ratusan massa juga mendatangi Polres Sidoarjo, mereka menuntut oknum polisi yang melakukan penembakan ditindak tegas.
Laporan: Tudji Martudji | Surabaya, umi

http://us.nasional.vivanews.com/news/read/260260-polisi-main-tembak--dpp-pkb-surati-polri

Polisi-Karyawan Freeport Bentrok


1 Tewas, 14 Terluka
TIMIKA – Unjuk rasa karyawan PT Freeport Indonesia (PTFI) kemarin (10/10) berujung bentrokan. Seorang tewas dan belasan lainnya terluka. Kejadian tersebut merupakan yang terburuk sejak ribuan warga yang tergabung sebagai karyawan PTFI dari tujuh suku itu melakukan protes selama sebulan terakhir Tuntutan mereka adalah adanya penyetaraan gaji dengan karyawan yang berasal dari luar Papua. Radar Timika (Jawa Pos Group) melaporkan, korban luka terdiri atas massa dan polisi. Mereka dirawat di RSUD Timika. Ada sembilan orang yang mengalami luka tembak. Seorang di antaranya telah meninggal, yakni Petrus Ayamiseba, 36. Sementara itu, para korban luka adalah Melkias Rumbiak, 36; Ahmad Mustofa, 42; Yunus Nguvuluduan; Charry Suripto, 35; Philiton Kogoya, 34; Leo Wandagau, 36; Alios Komba, 26; dan Rudolf Rumbino.
Dari pihak kepolisian, tujuh orang menderita luka berat dan ringan. Seorang di antaranya kritis, yakni Briptu Jamil dari Resmob Bogor. Kapolres Mimika AKBP Deny Edward Siregar mengakui adanya beberapa anggotanya yang terluka dalam peristiwa tersebut. Kabag Ops Polres Mimika Kompol Syamsu Ridwan menuturkan, tujuh anggota nya yang terluka dirawat di Rumah Sakit Caritas, Timika. Tapi, sebagian sudah kembali bertugas. Keluarga korban mengutuk polisi yang telah menembak sejumlah kar yawan hingga ada yang tewas dan menderita luka-luka. Sampai tadi malam, jenazah Petrus Ayami seba masih disemayamkan di teras Kantor DPRD Mimika dan dijaga ketat ribuan orang sebagai bentuk protes. Mereka memasang tenda di halaman DPRD. Beberapa lainnya menutup jalan di depan kantor wakil rakyat itu sepanjang lebih dari 300 meter. Mayat Petrus sempat diusung dari RSUD Timika oleh ribuan warga yang berkonvoi. Sayangnya, saat sampai di kantor DPRD, kantor itu kosong karena sudah menjelang malam.
Juru Bicara SPSI PTFI Julius Parorongan mengungkapkan, demo di Terminal Gorong-Gorong kemarin dilakukan oleh pekerja dari tujuh suku. Mereka bermaksud naik ke Tembagapura. Namun, karena dihadang aparat kepolisian, mereka tertahan dan terjadilah bentrokan. ’’Kami dari SPSI tidak berkapasitas menghalangi mereka,’’ ujarnya. Dia mengungkapkan, sebenarnya SPSI sudah berupaya untuk meredam. Saat itu, setelah keributan, SPSI berupaya berdialog dengan pekerja tujuh suku agar tidak terjadi masalah yang lebih besar. Soal tuntutan penyetaraan gaji, Julius menyatakan bahwa sampai saat ini belum ada titik temu antara yang diajukan karyawan melalui SPSI dan yang ditawarkan manajemen PTFI. ’’Setelah insiden ini, kami berharap manajemen (PTFI) membuka ruang dialog. Sebab, segala sesuatunya bisa dirun dingkan dengan dialog,’’ paparnya. Kapolres Mimika AKBP Deny Edward Siregar menegaskan bahwa pihaknya masih mengamankan area Terminal Gorong-Gorong. Pihaknya juga terus berkoordinasi dengan pendemo serta manajemen PTFI untuk mencari solusi terbaik. ’’Saya harap tidak anarkistis.
Sampaikanlah aspirasi secara arif.” Juru Bicara PTFI Ramdani Sirait menyampaikan keprihatinan atas insiden tersebut. ’’Kami menyesal telah terjadi gangguan pagi ini (kemarin pagi, Red) di terminal tempat perusahaan menyediakan transportasi bus untuk karyawan kami,’’ ungkapnya. Menurut dia, polisi bertindak tegas karena terdesak setelah di lem pari batu. Selain itu, selama ini memang ada pelanggaran terhadap kesepakatan bersama yang se harusnya tidak terjadi. Karena itu, saat terjadi unjuk ra sa, polisi ber usaha melindungi karyawan yang akan naik ke Tembagapura untuk bekerja. Peristiwa berdarah tersebut terjadi pukul 09.30 WIT di sekitar Terminal Gorong-Gorong, Timika.
Terminal tersebut merupakan tempat PTFI menyediakan bus un tuk mengangkut karyawan ke Tem bagapura, lokasi tambang. Keri butan terjadi setelah pengun juk rasa memaksa naik ke Tem bagapura. Untuk menenangkan massa, beberapa wakil PTFI yang terdiri atas Simon Morin, Demianus Dimara, dan tiga orang lainnya mencoba menjelaskan. Namun, massa menolak dan menghendaki Presiden Direktur & CEO PTFI Armando Mahler datang langsung. Mereka berusaha menerobos barikade polisi dan memaksa naik ke Tembagapura. Upaya tersebut dicegah polisi. Entah dari mana asalnya, puluhan batu melayang ke arah barikade polisi. Serangan batu tersebut dibalas polisi dengan tembakan. Tak butuh waktu lama, korban berjatuhan. Seorang tewas dan belasan lainnya roboh dengan luka berdarah. Melihat hal itu, massa semakin kalap. Mereka pun membakar beberapa mobil dan sepeda motor yang melintas di lokasi. (jpnn/c5/nw)
http://www.indopos.co.id/index.php/arsip-berita-indopos/66-indopos/16401-polisi-karyawan-freeport-bentrok.html

Friday, 28 October 2011

Guru Ngaji Tewas di Tembak Oknum Polisi


Jum'at, 28 Oktober 2011 15:39 wib








SIDOARJO - Diduga terlibat kasus tabrak lari, seorang guru ngaji, yang juga bekerja sebagai petugas antar jemput karyawan di Sidoarjo, Jawa Timur, tewas ditembak oknum polisi. Korban ditembak saat masih berada di dalam mobil usai kendaraannya diberhentikan paksa.

Riyadus Sholihin (31), warga Dusun Kauman Desa Sepande Kecamatan Candi, Sidoarjo, Jawa Timur,  Jumat dini hari, sekira pukul 02.00 WIB, tewas di tempat kejadian setelah ditembak oleh oknum polisi. 

Menurut Ahmad yang merupakan saksi mata, korban terlihat melaju mengendarai mobil Suzuki Carry dengan kecepatan tinggi, warga melihat ada sebuah mobil Avanza silver dan sepeda motor yang mengejar korban.

Sesampainya di tempat kejadian perkara (TKP), laju korban terhenti akibat dipotong oleh sepeda moto. Tanpa banyak bicara penumpang, sepeda motor langsung menghujani guru ngaji itu dengan beberapa kali tembakan sehingga korban langsung tewas di tempat kejadian.

Setelah tertembak, korban dikeluarkan dari mobil dan diseret sejauh lima meter dan dinaikkan kedalam mobil Avanza. Setelah itu, mobil Avanza langsung kabur meninggalkan TKP.

Warga yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa terdiam tidak berani memberikan pertolongan.

Sementara itu keluarga dan istri korban hanya bisa menunggu kedatangan jenazah pria yang juga penjual tempe di kampungnya itu.

Saat ini jenasah Riyadhus Sholihin masih diautopsi di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jatim. 

Istri korban, Maisaroh, mengaku tidak mendapat firasat apapun sebelum peristiwa memilukan ini. Dia menuturkan, suaminya selama ini tidak memiliki musuh.

Aparat kepolisian Sidoarjo yang dimintai keterangan enggan berkomentar dan hanya memberi penjelasan kasus ini sekarang ditangani Polda Jatim. (nto)
(Sony Hermawan/Sindo TV/ahm)



http://news.okezone.com/read/2011/10/28/340/521812/guru-ngaji-tewas-di-tembak-oknum-polisi