Showing posts with label teroris ditembak mati. Show all posts
Showing posts with label teroris ditembak mati. Show all posts

Tuesday, 8 January 2013

Polisi identifikasi 7 jenazah terduga teroris


Merdeka.com – Sen, 7 Jan 2013
MERDEKA.COM, Jenazah tujuh terduga teroris yang ditembak mati polisi telah berada di RS Polri, Kramatjati. Polisi akan melakukan identifikasi terlebih dulu sebelum jenazah terduga teroris Makassar-Bima ini diserahkan dan dimakamkan keluarga.

"Sudah dilakukan pemeriksaan secara laboratoris. Untuk dua jenazah dilakukan hari Jumat itu. Untuk lima berikutnya dilaksanakan hari ini. Kita tinggal menunggu untuk pembanding dari hasil pemeriksaan tersebut dan selanjutnya akan dikomunikasikan pihak RS, penyidik, dan keluarga para korban," kata Kabag Penum Mabes Polri Kombes Agus Rianto di kantornya, Senin (7/1).

Agus juga menjelaskan untuk dua jenazah terduga teroris yang sebelumnya ditembak mati di Makasar yakni, Syamsudin HG alias Asmar alias Abu Uswah dan Ahmad Khalil alias Hasan alias Kholid telah selesai diidentifikasi. Namun polisi masih memerlukan sample pembanding untuk disempurnakan hasilnya.

"Sampai saat ini kita masih nunggu. Yang dua hari kemarin sudah selesai Jumat tapi kita belum terima sampel pembanding. Sementara yang lima baru tadi, kita komunikasikan ke penyidik untuk segera tindaklanjuti sesuai mekanisme penanganan jenazah lebih lanjut," pungkasnya.

Di hari Jumat dan Sabtu lalu, Densus 88 berhasil menangkap 11 terduga teroris. 7 Di antaranya tewas dibedil polisi. Sedangkan empat yang hidup masih menjalani pemeriksaan di Polda Makassar.

Jaringan yang mereka buat tak lain menyasar pada rumah ibadah, hotel dan pos polisi di Bima dan Toraja. Orang-orang baru ini rencananya akan menggunakan bom pipa yang dimasukan ke ransel kemudian dilemparkan ke sasaran mereka.
Sumber: Merdeka.com

http://tweetsay.sharedby.co/share/r6X5hF

Saturday, 3 November 2012

Densus 88 Tembak Mati Seorang Terduga Teroris di Poso


Aparat menjaga ketat mobil yang membawa jenazah terduga teroris di Poso (ANTARA/Muh Hamzah)
Jakarta, GATRAnews- Seorang terduga teroris tewas ditembak petugas saat diggerebek oleh Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Mabes Polri dibantu Satgas Penegakan Hukum (Gakkum) Polda Sulawesi Tengah di sebuah rumah di Poso, Sulawesi Tengah, Sabtu, (3/11).

Keterangan tersebut disampaikan Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri, Brigjen Pol Boy Rafli Amar di Jakarta. Menurutnya, jajarnnya terpaksa melumpuhkan terduga teroris tersebut dengan timah panas karena melawan. "Terjadi perlawanan kepada petugas dengan melempari bom dan petugas berupaya untuk melumpuhkan dengan tembakan," ujar Boy.

Menurutnya, penggerebekan tersebut dilakukan Tim Densus 88 Anti Teror Mabes Polri bersama Gakkum Polda Sulawesi Tengah pada pukul 05.00 waktu setempat. "Pukul 05.00 waktu setempat Satgas Gakkum Polda Sulteng dan Densus 88 melakukan pengepungan rumah terduga teroris di Desa Kayamaya, Poso Kota," ujarnya. (IS)

http://www.gatra.com/hukum/20307-densus-88-tembak-mati-seorang-terduga-teroris-di-poso.html

Wednesday, 31 October 2012

3 Teroris Disergap di Poso, 1 Tewas Ditembak


Rabu, 31/10/2012 | 10:41 WIB
JAKARTA - Mabes Polri mengamankan tiga orang 
tersangka teroris di Poso, Sulawesi Tengah. 
Mereka diduga terlibat berbagai aksi terorisme 
seperti di BCA Palu dan berbagai teror lainnya di 
kawasan Poso. Satu orang tewas ditembak petugas 
polisi saat beraksi.
Informasi yang berhasil dihimpun, Rabu (31/10), 
 penangkapan itu dilakukan sekitar pukul 05.30 WIB 
di Desa Kalora RT 03/RW 04, Poso Pesisir, Kabupaten 
Poso. Saat diringkus berbagai barang bukti ditemukan 
 seperti senjata api laras pendek, serbuh pupuk urea 
1 karung, 7 bom pipa dengan panjang 30 cm dan berdiameter 
10 cm, beberapa buah HP dan serbuk putih dalam sebuah 
kantong plastik.
Para terduga teroris ini merupakan DPO penembakan 
BCA Palu dan bom di Ponpes UBK Bima. Mereka juga 
diduga terlibat penembakan di Sape Silica Poso, penembakan 
Madani Poso Pesisir dan berbagai aksi teror lainnya.
Polisi kemudian mengamankan dua orang tersangka terorisme 
 ke Markas Brimob Mamboro sedangkan satu orang terduga 
teroris yang tewas bernama Jippo alias Ibeng dibawa ke 
RS Bhayangkara Palu.
Sebelumnya, aparat gabungan TNI dan Polri melakukan 
 penyisiran di pegunungan Biru, Poso, Sulawesi Tengah, 
untuk mencari kelompok teroris yang selama ini menjadi 
target buruan. Petugas menemukan dua bom rakitan yang 
sengaja disimpan teroris sebagai jebakan yang ditujukan 
kepada aparat yang melintas di kawasan itu.
Selain itu, petugas juga menemukan beberapa barang bukti 
 yang ada di dekat lokasi temuan bahan peledak yang salah 
satunya berdaya ledak rendah dan memiliki bobot berat 10 kilogram.
Menurut Karopenmas Polri, Brigjen Pol Boy Rafli Amar, dua 
 bom tersebut pertama kali ditemukan Sabtu (27/10). 
Sebuah bom rakitan ditemukan di kawasan Gunung Biru. 
"Dua bahan peledak ini difungsikan sebagai bom ranjau. 
Oleh karena itu, petugas kita dalam hal ini Densus, Polda, 
Brimob, dan TNI, terus melangkah ke atas. Jadi upaya-upaya 
melangkah ke kawasan Gunung Biru perlu kehati-hatian tinggi," 
ujar Boy saat itu.

http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=7a4bcdb7c370ea6740a9c01d2b1be
21f&jenis=c4ca4238a0b923820dcc509a6f75849b



Tuesday, 4 September 2012

Penembakan Solo Meninggalkan Banyak Tanda Tanya


Selasa, 04 September 2012 | 06:01

Petugas memeriksa lokasi penembakan Pos Polisi Singosaren Plaza, Solo, Jawa Tengah. FOTO: ANTARA
Petugas memeriksa lokasi penembakan Pos Polisi Singosaren Plaza, Solo, Jawa Tengah. FOTO: ANTARA
Kota Solo dilanda ancaman teror berturut-turut.

Bulan Agustus lalu, Kota Solo dilanda ancaman teror berturut-turut. Tiga ancaman itu berawal ketika sejumlah orang tak dikenal menembaki Pos Pengamanan Lebaran di Serengan, Solo. Dua hari berselang, tepat malam takbiran lalu, Pos Pengamanan Lebaran di kawasan jalan Sudirman, Solo dilempari granat hingga menyebabkan dua orang polisi terluka.

Puncaknya, seorang polisi Bripka Dwi Data Subekti tewas ditembak dengan empat peluru bersarang di dada. Penembakan terjadi di Pos Polisi Matahari, Singosaren di Jl. Dr. Radjiman, Solo, Jawa Tengah, Kamis (30/8) malam, sekitar pukul 21.30. Di lokasi penembakan, polisi menemukan 5 selongsong peluru jenis FN kaliber 99 mm. 

Berawal dari ketiga aksi teror itu, pasukan Densus 88 Antiteror langsung turun tangan. Sehari kemudian, Sabtu (1/9), tepat menjelang tengah malam, Kota Solo kembali dikagetkan peristiwa adu tembak antara pasukan Densus dengan para pelaku teror di belakang Lotte Mart, Tipes, Solo. 

Dalam aksi adu tembak itu, Densus berhasil membekuk para pelaku. Sayangnya, seorang anggota Densus bernama Bripka Suherman tewas dalam baku tembak itu karena tertembak di bagian perut. Sebaliknya, dua teroris tewas ditembak dan satu terduga terduga teroris berhasil ditangkap hidup-hidup.

Ada Kejanggalan
Meski berhasil menangkap para pelaku yang selama ini diduga meneror polisi dan warga Solo, proses penyergapan Densus 88 di belakang Lotte Mart, Tipes, Solo dinilai penuh kejanggalan. Ada sejumlah pihak yang menuding proses itu hanyalah bentuk rekayasa pengalihan isu. Memang sejumlah aksi teror itu melanda Solo, ketika Wali Kota Jako Widodo tengah bersiap-siap bertarung dalam Pemilukada DKI Jakarta Putaran Dua. Tak sedikit pula, pihak yang menghubungkan maraknya aksi teror itu sebagai bentuk kegagalan Jokowi menjaga keamanan Solo.

Di luar aspek politik itu, Indonesia Police Watch (IPW) menyebut ada dua kejanggalan dalam penyergapan Densus di Solo tersebut. Kejanggalan pertama, pistol dari tertuduh teroris yang tewas ditembak adalah Bareta dengan tulisan Property Philipines National Police. Namun, Kapolresta Solo Kombes Asdjima'in sebelumnya menyebutkan senjata yang digunakan menembak polisi di pospam Lebaran jenis FN kaliber 99 mm.

"Apakah orang yang ditembak polisi itu benar-benar orang yang menembak polisi di Pospam Lebaran kota Solo atau ada pihak lain sebagai pelakunya?" kata Ketua IPW Neta S. Pane, beberapa waktu lalu.

Keganjilan kedua, anggota Densus 88 Bripda Suherman tewas akibat tertembak di bagian perut. Fakta ini menunjukkan anggota Densus dalam bertugas tidak sesuai dengan Standart Operating Procedure (SOP) yang harus memakai rompi anti peluru. "Apakah benar pada malam 31 Agustus itu ada operasi Densus. Jika ada kenapa anggota Densus bisa teledor, bertugas tidak sesuai SOP?" kritik Neta.

Terkait Internal Polisi
Sementara itu, Pengamat Teroris Noor Huda Ismail mengungkapkan aksi penembakan polisi di Solo ini terkait internal polisi. Dari informasi yang didapat Noor dari sumber internal kepolisian, pelaku penembakan dan pelemparan granat adalah bekas polisi berinisial NB. "N ditangkap di Kebumen, Jateng. Polisi sendiri hingga kini belum mengekspose pelaku tersebut," tuturnya. 

Noor juga menyesalkan adanya pembentukan opini aksi penembakan di Solo dilakukan Farhan dan Mukhsin, kedua terduga anggota teroris yang tewas dalam penggerebekan Densus 88. "Jadi bukan dua terduga teroris, Farhan dan Mukhsin yang ditembak mati anggota Densus 88," tandas dia.

Pemerintah Bantah Rekayasa
Adanya suara-suara dugaan rekayasa ini membuat pemerintah bersuara keras. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mba membantah tegas peristiwa di Solo tersebut adalah rekayasa pemerintah. "Terlalu kejam, fitnah (itu) rekayasa. Polisi sudah tewas gitu masih rekayasa. Bagaimana sih kalian otaknya?" kata dia, ketika ditemui di Istana Negara, Senin (3/9).

Sebaliknya, Ansyaad menyatakan dengan tegas aksi teror di Solo itu dilakukan kelompok Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) pimpinan Abu Bakar Baasyir. Ditambahkannya, aparat sudah berhasil memetakan pola pendanaan aksi mereka, yang berasal dari hasil meretas situs, MLM online, speed cash online dan juga merampok. "Dana dari langit pun kalau ada, mereka ambil," tegas purnawirawan jenderal bintang dua kepolisian ini.

Berhubungan Dengan Jaringan Moro
Terkait jenis pistol Pietro Bareta buatan Italia, dengan tulisan Property Philippines National Police yang ditemukan di lokasi penyergapan berbeda dengan selonsong peluru di lokasi penembakan Bripka Dwi Data Subekti (FN kaliber 99 mm), Ansyaad justru mengatakan salah satu tersangka teroris yang tewas terbunuh, Farhan, adalah juga sosok yang membawa senjata dari Filipina ke Indonesia.

Menurut Ansyaad, Farhan termasuk kelompok darah biru dalam organisasi teroris, anak dari Suhartono, yang pernah mencoba membunuh Matori Abdul Jalil pada tahun 1999. Suhartono sendiri meninggal dihakimi oleh tukang ojek.

Ibunda Farhan juga diketahui menikah lagi dengan Abu Umar yang ditangkap tahun lalu. "Farhan ini yang membawa senjata dari Filipina ke Indonesia, sama si Abu Umar itu," tandas dia. 

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Letjen Marciano Norman mengungkapkan jaringan teroris di Solo itu memiliki keterkaitan erat dengan wilayah Moro di Filipina bagian selatan. "Ini ada kaitannya dengan Moro. Memang, Abu Umar pernah memasukkan senjata dari Filipina. Kita sedang mengembangkan dan melihat link-nya dengan Islam garis keras yang ada di negara tetangga," tandas dia.

http://www.beritasatu.com/hukum/69608-penembakan-solo-meninggalkan-banyak-tanda-tanya.html

Terduga Teroris Muchsin Suka Bantu Ibu Tiri Mencuci Piring


Muchsin
Senin, 03/09/2012 17:43 WIB
Jakarta Terduga teroris Muchsin (19) yang tewas ditembak mati di Solo, berperilaku baik terhadap ibu tirinya, Ziny Hasanah (41). Bahkan Muchsin suka membantu ibu tirinya mencuci piring.

"Anaknya baik sih. Suka membantu mencuci piring, ringan tangan begitu," kenang Ziny, di kediaman ayah Muchsin, Gang Haji Latif, Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (3/9/2012).

Ziny tidak menyangka anak tirinya tersebut bisa terjerumus dalam aksi terorisme. Apalagi usia Muchsin masih terbilang muda.

"Tidak menyangka banget soalnya anaknya sopan," kata Ziny.

Ziny terakhir bertemu Muchsin pada Lebaran bulan Agustus 2012. Muchsin bahkan ikut renang bersama keluarga.

Di tempat yang sama, Muslimin, ayah kandung Muchsin membenarkan terduga teroris yang tewas di Solo merupakan anaknya. Namun dia tidak menyangka jika anaknya merupakan teroris.

"Dia ramah, suka bercanda. Makanya saya nggak begitu yakin yang diduga teroris adalah anak saya," kata Muslimin.

Muslimin membenarkan Muchsin pernah menuntut ilmu di Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Sukoharjo. Muchsin mondok di pesantren itu selama 4 tahun. 

Pertemuan terakhir Muslimin dengan Muchsin terjadi pada 26 Agustus lalu. Setelah itu Muchsin pamit pulang ke Solo.

"Dia mau menyiapkan ternak ikan untuk usaha," ucap Muslimin.

Muchsin bersama rekannya Farhan ditembak mati Densus 88 di Solo pada Jumat (31/8). Jasad keduanya kini berada di RS Polri Kramat Jati menunggu hasil autopsi.

(nik/nrl) 



http://news.detik.com/read/2012/09/03/174356/2006704/10/terduga-teroris-muchsin-suka-bantu-ibu-tiri-mencuci-piring

Polisi di Solo Ditembak Aparat Keamanan


Pertanyaannya, siapa yang berani menembak polisi dari jarak dekat? Tak lain adalah orang-orang terlatih dan orang-orang yang sudah terbiasa berada di lingkungan aparat keamanan. IPW menilai, antara penembakan polisi di Solo dan penyergapan polisi di Solo adalah dua hal yang berbeda.

Reporter : Alan Jhon (alan@gresnews.com) 
Editor : Dudi Sabil Iskandar (dudi.iskandar@gresnews.com) 
Selasa, 04 September 2012








    Pola penyerangan yang dilakukan pihak tertentu terhadap polisi di lapangan perlu dicermati Polri secara jernih agar polisi di lapisan bawah tidak menjadi korban. Penembakan polisi di Solo tidak dilakukan teroris seperti yang diklaim polisi, sebab banyak hal sangat berbeda dan sangat signifikan.

    Hal tersebut dikatakan Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane, dalam rilis yang diterima gresnews.com, (4/9). "Pelaku menembak polisi dengan jarak dekat dengan senjata yang menurut polisi adalah FN. Fakta yang ada selama ini, teroris selalu menyerang targetnya dengan jarak jauh memakai remot kontrol atau telepon seluler. Kalau pun ada serangan jarak dekat, hanya aksi bom bunuh diri," jelas Neta. 

    Menurutnya, perbedaan ini sangat signifikan. Pertanyaannya, siapa yang berani menembak polisi dari jarak dekat? Tak lain adalah orang-orang terlatih dan orang-orang yang sudah terbiasa berada di lingkungan aparat keamanan. IPW menilai, antara penembakan polisi di Solo dan penyergapan polisi di Solo adalah dua hal yang berbeda.

    Target penembakan terhadap polisi, sambungnya karena dua hal. Pertama, akumulasi kekesalan terhadap sikap, perilaku dan kinerja polisi. Kedua, memperburuk citra Polri agar terjadi krisis kepercayaan pada Polri sehingga muncul opini, untuk melindungi dirinya saja Polri tidak mampu, bagaimana pula untuk melindungi masyarakat.

    "Opini ini penting untuk mengegolkan RUU Keamanan Nasional. Esensi keberadaan RUU Kamnas adalah mengkebiri dan mengkerdilkan peran Polri dalam sistem keamanan di negeri ini," tambah Neta.

    IPW berharap, Polri tidak terjebak dengan stigma ala Orde Baru, yakni jika terjadi masalah langsung main tuding PKI dan komunis. Kini stigmanya diubah, jika terjadi masalah langsung main tuding, teroris dan Islam radikal.
    KOMENTAR
    http://www.gresnews.com/berita/politik/132049-polisi-di-solo-ditembak-aparat-keamanan?utm_source=twitterfeed&utm_medium=twitter