Showing posts with label buruh. Show all posts
Showing posts with label buruh. Show all posts

Thursday, 12 January 2012

TransJakarta Worker Deafened by Furious Cop


Dofa Fasila | January 12, 2012


A TransJakarta worker ended up in hospital on Thursday after an armed police officer threatened to kill him when he tried to stop the armored security van the officer was escorting from illegally using a bus lane in Central Jakarta.


The head of TransJakarta, M. Akbar, said that the employee, Rocky, tried to stop an armored vehicle belonging to Securicor, a subsidiary of Britain-based Group 4 Securicor, from using the lane as it sped by Hotel Central. Busways are by law reserved for buses and the emergency services. 

“Because the Securicor vehicle is not allowed to enter the busway lane [Rocky] stopped it. And then a police officer [escorting the armored car] stepped out furiously. [The police officer] threatened to kill Rocky,” Akbar said. 

The police officer then lifted his standard-issue assault rifle and fired a shot into the air next to Rocky’s left ear. The shot burst Rocky’s eardrum and he is now having problems hearing. 

Rocky’s peers who were working at the bus stop with him immediately rushed him to a nearby hospital to have his hearing checked. 

TransJakarta management, Akbar said, reported the incident to the Jakarta Police’s internal affairs division in the hope that police would bring the officer involved to justice. 

Akbar said that authorities had since learned the officer’s identity but have so far refused to divulge his name to the press. 

“When our workers try to keep the busway lane clear they are often harassed. It can start from loud honk to being shouted at by car drivers. But this incident is by far the worst because a shot was fired,” he said.

The busway lane is dedicated to buses belonging to TransJakarta and may be used by ambulances and fire trucks in emergency situations like floods or other disasters.

“But there was no emergency when the incident occurred. Securicor cars are not ambulances or fire trucks, so they are not allowed to use that lane,” Akbar said. 

He added that TransJakarta would hold a meeting with Jakarta police to try to prevent similar incidents from happening again.


http://www.thejakartaglobe.com/home/transjakarta-worker-deafened-by-furious-cop/490887

Friday, 25 November 2011

Polri Bantah Gunakan Peluru Tajam Saat Rusuh Batam,

Jumat, 25 November 2011 15:51 WIB     






JAKARTA--MICOM: Polri menegaskan tiga buruh yang tertembak saat kerusuhan di depan kantor Wali Kota Batam, Kepulauan Riau terkena peluru karet. Polisi menyangkal menggunakan peluru tajam untuk menenangkan massa yang membakar dan merusak fasilitas umum. 

Hal itu ditegaskan Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Saud Usman Nasution, di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (25/11). "Tidak ada peluru tajam," lanjutnya. 

Sementara, ada 12 orang terluka dalam kerusuhan yang berawal dari demonstrasi menuntut kenaikan upah layak regional menjadi Rp1,76 juta itu. Dua orang luka dari Satpol PP, tiga korban dari Brimob, seorang korban adalah warga sipil, dan enam luka bagian dari pendemo. 

Sebelumnya, sekitar 20 ribu buruh dari berbagai perusahaan di Batam melanjutkan aksi demonstrasi menuntut kenaikan UMK. Namun, aksi tersebut berakhir dengan beringas. 

Mereka merusak 11 mobil antara lain milik Satpol PP dan Dinas Perhubungan Batam. Kendaraan milik Dinas Perhubungan Batam, seperti sebuah mobil pick-up dan sepeda motor. (Bob/OL-04) 



http://www.mediaindonesia.com/read/2011/11/25/279174/284/1/Polri-Bantah-Gunakan-Peluru-Tajam-Saat-Rusuh-Batam

Thursday, 24 November 2011

Konflik Kebun Sawit, Warga Ditembak Polisi


Agustinus Handoko | Marcus Suprihadi | Kamis, 24 November 2011 | 13:21 WIB


PONTIANAK, KOMPAS.com  Seorang warga Balai Sepuak, Kecamatan Belitang Hulu, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, ditembak polisi di bagian betis karena menyerang polisi dalam sebuah konflik terkait perkebunan kelapa sawit. Satu peleton polisi dari Kepolisian Resor Sekadau datang ke lokasi untuk menjemput warga yang diduga merusak kendaraan milik PT Grand Utama Mandiri.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Kalimantan Barat Ajun Komisaris Besar Mukson Munandar, Kamis (24/11/2011), mengatakan, satu warga yang tertembak berinisial D.

"Kejadian pada Rabu pukul 03.00 dalam rangka penegakan hukum. D sudah dirawat di Puskesmas Balai Sepuak. Situasi di Balai Sepuak sudah kondusif. Untuk berjaga-jaga, satu kompi dari Satuan Brimob Polda Kalimantan Barat sudah berada di lokasi," kata Mukson.
Tertembaknya D bermula ketika pekan lalu sejumlah warga merusak sebuah bangunan dan kendaraan milik PT Grand Utama Mandiri karena tidak puas dengan manajemen perusahaan. Menurut Mukson, pada 22 November malam, upaya persuasif sudah dilakukan, tetapi gagal.
"Pada 23 November dini hari, polisi sudah memberi tembakan peringatan kepada warga yang hendak menyerang polisi. Namun, D justru mengejar polisi menggunakan mandau. Polisi lalu menembak D di betis," kata Mukson.

http://regional.kompas.com/read/2011/11/24/13215343/Konflik.Kebun.Sawit.Warga.Ditembak.Polisi

Tiga Buruh Terluka Ditembak Polisi

Kamis, 24 November 2011
BATAM (Suara Karya): Sebanyak tiga orang buruh yang melakukan aksi unjuk rasa menuntut penetapan Upah Minimun Kota Batam terluka akibat tembakan polisi di depan kantor Wali Kota Batam, Rabu (23/11). Di Cimahi, Jabar, aksi buruh menuntut kenaikan UMP juga terjadi. Namun, tidak ada kericuhan.

Usai melakukan aksi unjuk rasa, massa pendemo meninggalkan kantor Wali Kota Batam. Sambil membubarkan diri, mereka merusak dan menghancurkan kaca belasan mobil yang berada di kantor Wali Kota Batam. Sasaran perusakan itu adalah mobil berpelat merah milik pegawai kantor wali kota. Namun, ada juga beberapa mobil pelat hitam yang terparkir di kantor Wali Kota Batam tak luput menjadi korban perusakan massa.

"Ketiga buruh itu terkena luka tembak dan sudah dilarikan ke RS Awal Bros Batam," kata Presidium Komite Aksi Upah Layak Edward kepada wartawan. Ia menjelaskan, sebelumnya terjadi aksi saling lempar antara ribuan buruh dan polisi yang berusaha membubarkan unjuk rasa itu. Namun, kemudian polisi melepaskan tembakan ke arah massa, sehingga tiga buruh terluka.

Menurut Edward, buruh yang terluka itu bernama Gagan, Prapto, dan Yoni. Ketiganya merupakan buruh anggota Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia. Ia menjelaskan, aksi unjuk rasa itu untuk menuntut penetapan UMK Batam sebesar Rp 1.760.000 per bulan sesuai dengan hasil survei kebutuhan hidup layak (KHL) kota itu, sementara dari Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) setempat meminta Rp 1.260.000 per bulan.

"Tuntutan itu layak karena UMP di Jakarta, UMK di Bekasi dan Papua, semua di atas KHL. Sangat aneh kalau UMK di Batam justru lebih rendah dari Jakarta dan Bekasi, apalagi biaya hidup di sana lebih tinggi," katanya.

Sebelumnya, puluhan ribu buruh berkumpul di halaman kantor Wali Kota Batam sejak pukul 08.30 WIB, dan sebagian sudah merapat ke tempat itu sejak pukul 07.00 WIB.

Buruh meminta Wali Kota Batam Ahmad Dahlan menemui pengunjuk rasa dan menjelaskan perkembangan penetapan UMK 2012 yang keputusannya diserahkan kepada Gubernur Kepri Muhammad Sani. Menjelang tengah hari, pengunjuk rasa bertambah banyak. Di sebagian besar industri galangan kapal Tanjunguncang dan industri elektronik di Muka Kuning dan Batam Kota kegiatan pabrik lumpuh sejak pagi.

Jumlah pedemo mencapai puluhan ribu orang setelah peserta pawai dari kawasan industri Muka Kuning tiba. Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Federasi Serikat Pekerja Metal Seluruh Indonesia (FSPMI), dan Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) memotori unjuk rasa besar-besaran itu setelah delapan kali perundingan tripartit berakhir buntu. "Hari ini kami menuntut pemerintah memberlakukan UMK 2012 sama dengan nilai kebutuhan hidup layak hasil survei real buruh Rp 1,76 juta," kata Sekretaris KSPSI Kota Batam Saripiyan. 

Demonstrasi masif ini menyebabkan sebagian besar kegiatan industri lumpuh. Pekerja shift pagi dihalangi aktivis buruh di gerbang-gerbang agar tidak masuk kerja dan mereka diarahkan bergabung ke kantor wali kota bersama rekan-rekan yang baru selesai shift malam. Saat itu pengunjuk rasa dijaga ketat aparat Brimob Polda Kepri, Kepolisian Resor Kota Batam Rempang Galang, dan Satpol Pemkot Batam di depan lobi bawah dan atas kantor tersebut. (Ant/Yon Parjiyono)

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=291717

Wednesday, 16 November 2011

Polda Papua Bantah 8 Warga Tewas Tertembak


"Tidak benar berita itu, yang ditembak itu malah polisi. 

Saya sudah cek ke Kapolresnya."

RABU, 16 NOVEMBER 2011, 13:53 WIB
Eko Huda S
Korban penembakan di Jayapura , 
Papua (ANTARA/ Marcelinus Kelen)
VIVAnews - Kepala Bidang Humas Polda Papua, Kombes Pol Wachyono membantah ada delapan warga sipil tewas tertembak di Kabupaten Paniai, Papua. Justru, anggota polisi yang ditembak oleh kelompok bersenjata di Papua.

"Tidak benar berita itu, yang ditembak itu malah polisi. Saya sudah cek ke Kapolresnya, tidak ada," kata Wachyono saat berbincang denganVIVAnews.com, Rabu 16 November 2011. "Informasinya jangan dibalik-balik. Delapan orang tewas itu dari mana, saya cek di mana lokasinya."

Menurut dia, memang pada Sabtu 12 November 2011 terjadi tembak menembak antara polisi dengan kelompok bersenjata pimpinan Salmon Magai Yogi. Saat itu, para polisi tengah memberi pengamanan kepada para penambang emas. "Mereka menembak dari tebing, maka terjadilah tembak menembak," kata dia.

"Masak kita ditembaki diam saja, kita kan membela diri dan memberi perlindungan kepada masyarakat yang lain. Kalau diam saja kita bisa habis."

Menurut dia, pengamanan diberikan kepada masyarakat karena kelompok Salmon Yogi ini mengedarkan surat kepada masyarakat. Isinya, mereka meminta uang kepada para pengusaha tambang. "Surat itu kemudian diteruskan para pengusaha tambang itu ke polsek daan polres," kata Wachyono.

"Makanya kita bangun pos pengamanan di sekitar penambangan dengan dibantu brimob. Kehadiran polisi di sana kan memberi keamanan masyarakat." (umi)
• VIVAnews

Kronologi Kontak Senjata di Paniai, Papua

Kronologi Kontak Senjata di Paniai, 


Papua


Jumlah korban dalam kontak senjata ini masih simpang-siur.

RABU, 16 NOVEMBER 2011, 14:51 WIB
Anggi Kusumadewi
Pasukan OPM (VIVAnews/Banjir Ambarita
VIVAnews – Kontak senjata antara polisi dengan kelompok bersenjata terjadi di penambangan emas Tayaga, Baya Biru, Distrik Bogobaida, Kabupaten Paniai,  Papua,  Sabtu 12 November 2011 kemarin pukul 07.30 WIT. Akibatnya, satu orang anggota kelompok sipil bersenjata pimpinan Salmon Yogi, tewas.

Juru Bicara Polda Papua Kombes Wachyono mengatakan, kontak senjata terjadi karena kelompok sipil bersenjata hendak menyerang areal tambang emas. “Mereka mau menyerang lokasi tambang, dan polisi berupaya menghalau. Namun kontak senjata tak terelakkan,” paparnya.

Wachyono kemudian membeberkan kronologi kejadian. Menurutnya, sebelum terjadi kontak senjata, 7 anggota Pos Polisi Baya Biru mengendap di sekitar Jembatan Tayaga sekitar pukul 05.00 WIT. “Polisi berjaga-jaga karena diperoleh informasi bahwa kelompok kriminal bersenjata pimpinan Salmon Yogi akan melakukan penyerangan ke lokasi tambang emas Baya Biru,” kata dia.

Kemudian sekitar pukul 07.30 WIT, lanjut Wachyono, kelompok kriminal bersenjata ternyata benar-benar datang ke lokasi tambang Baya Biru. Mereka kemudian dihadang oleh 7 anggota Pos Polisi Baya Biru yang dipimpin oleh Komandan Pos Polisi Bripka Kansai.

Kontak senjata pun tak terhindarkan. Satu orang dari kelompok sipil bersenjata tersebut tertembak dan jatuh ke sungai. “Identitas korban yang tertembak belum diketahui karena setelah jatuh ke sungai, jasadnya terbawa arus deras, dan hingga kini masih dalam pencarian,” jelas Wachyono.

Sehari sebelumnya, Jumat 11 November, kata Wachyono, pihak Tentara Pembebasan Nasional, Organisasi Papua Merdeka, menyurati pemilik lokasi tambang emas Tayaga,  Boy Rakinaung. Surat itu berisi permintaan uang sebesar Rp40 juta yang harus dipenuhi sampai batas waktu 14 November 2011.  Surat tersebut kemudian diserahkan ke Pos Polisi Baya Biru.

Korban Simpang Siur

Terkait beredarnya kabar bahwa korban tewas dalam kontak senjata tersebut sebanyak 8 orang, Wachyono menyatakan belum memperoleh data tersebut. “Laporan yang masuk ke saya, korban hanya seorang dari kelompok sipil bersenjata,” terangnya.

Sementara ini, ujarnya, anggota polisi yang bertugas di lokasi tambang emas Tayaga masih berjaga-jaga guna mengantisipasi kemungkinan adanya serangan balasan dari kelompok bersenjata akibat tewasnya anggota mereka itu. “Kami perintahkan seluruh anggota yang ada di sana untuk meningkatkan kewaspadaan,” ujar Wachyono.

Sementara salah seorang tokoh masyarakat Paniai, John Gobay, mengungkapkan bahwa informasi soal jumlah korban yang jatuh dalam kontak senjata itu, masih simpang-siur. “Saya dapat laporan, korban ada 8 orang, dan mereka semua tewas ditembak,” kata dia saat dihubungi lewat telpon.

Untuk memastikan jumlah korban, ujar Gobay, pemerintah bersama tokoh masyarakat dan tokoh agama harus segera membentuk tim investigasi yang independen guna mengusut insiden tersebut.

“Kasus ini harus diusut tuntas oleh tim independen. Pasalnya, polisi kerap mengambinghitamkan kelompok bersenjata OPM sebagai pemicu masalah. Padahal belum tentu mereka. Polisi juga terus menunjukkan kekuatannya di Paniai dengan menambah jumlah personel Brimob dari Jakarta, dan mengesankan seolah-olah situasi sedang genting,” kata Gobay.

Ia juga menyesalkan sikap aparat keamanan yang selalu melakukan pendekatan keamanan di Papua. “Kami orang Papua terus-menerus ditembaki aparat, seolah-olah kami tidak berarti dan tidak berharga,” ujar Gobay.

Sementara itu, ratusan warga di sekitar lokasi tambang Tayaga saat ini terpaksa mengungsi karena khawatir akan tejadi kontak senjata yang lebih besar lagi.

Laporan: Banjir Ambarita | Papua, umi
• VIVAnews

Monday, 31 October 2011

Polisi-Karyawan Freeport Bentrok


1 Tewas, 14 Terluka
TIMIKA – Unjuk rasa karyawan PT Freeport Indonesia (PTFI) kemarin (10/10) berujung bentrokan. Seorang tewas dan belasan lainnya terluka. Kejadian tersebut merupakan yang terburuk sejak ribuan warga yang tergabung sebagai karyawan PTFI dari tujuh suku itu melakukan protes selama sebulan terakhir Tuntutan mereka adalah adanya penyetaraan gaji dengan karyawan yang berasal dari luar Papua. Radar Timika (Jawa Pos Group) melaporkan, korban luka terdiri atas massa dan polisi. Mereka dirawat di RSUD Timika. Ada sembilan orang yang mengalami luka tembak. Seorang di antaranya telah meninggal, yakni Petrus Ayamiseba, 36. Sementara itu, para korban luka adalah Melkias Rumbiak, 36; Ahmad Mustofa, 42; Yunus Nguvuluduan; Charry Suripto, 35; Philiton Kogoya, 34; Leo Wandagau, 36; Alios Komba, 26; dan Rudolf Rumbino.
Dari pihak kepolisian, tujuh orang menderita luka berat dan ringan. Seorang di antaranya kritis, yakni Briptu Jamil dari Resmob Bogor. Kapolres Mimika AKBP Deny Edward Siregar mengakui adanya beberapa anggotanya yang terluka dalam peristiwa tersebut. Kabag Ops Polres Mimika Kompol Syamsu Ridwan menuturkan, tujuh anggota nya yang terluka dirawat di Rumah Sakit Caritas, Timika. Tapi, sebagian sudah kembali bertugas. Keluarga korban mengutuk polisi yang telah menembak sejumlah kar yawan hingga ada yang tewas dan menderita luka-luka. Sampai tadi malam, jenazah Petrus Ayami seba masih disemayamkan di teras Kantor DPRD Mimika dan dijaga ketat ribuan orang sebagai bentuk protes. Mereka memasang tenda di halaman DPRD. Beberapa lainnya menutup jalan di depan kantor wakil rakyat itu sepanjang lebih dari 300 meter. Mayat Petrus sempat diusung dari RSUD Timika oleh ribuan warga yang berkonvoi. Sayangnya, saat sampai di kantor DPRD, kantor itu kosong karena sudah menjelang malam.
Juru Bicara SPSI PTFI Julius Parorongan mengungkapkan, demo di Terminal Gorong-Gorong kemarin dilakukan oleh pekerja dari tujuh suku. Mereka bermaksud naik ke Tembagapura. Namun, karena dihadang aparat kepolisian, mereka tertahan dan terjadilah bentrokan. ’’Kami dari SPSI tidak berkapasitas menghalangi mereka,’’ ujarnya. Dia mengungkapkan, sebenarnya SPSI sudah berupaya untuk meredam. Saat itu, setelah keributan, SPSI berupaya berdialog dengan pekerja tujuh suku agar tidak terjadi masalah yang lebih besar. Soal tuntutan penyetaraan gaji, Julius menyatakan bahwa sampai saat ini belum ada titik temu antara yang diajukan karyawan melalui SPSI dan yang ditawarkan manajemen PTFI. ’’Setelah insiden ini, kami berharap manajemen (PTFI) membuka ruang dialog. Sebab, segala sesuatunya bisa dirun dingkan dengan dialog,’’ paparnya. Kapolres Mimika AKBP Deny Edward Siregar menegaskan bahwa pihaknya masih mengamankan area Terminal Gorong-Gorong. Pihaknya juga terus berkoordinasi dengan pendemo serta manajemen PTFI untuk mencari solusi terbaik. ’’Saya harap tidak anarkistis.
Sampaikanlah aspirasi secara arif.” Juru Bicara PTFI Ramdani Sirait menyampaikan keprihatinan atas insiden tersebut. ’’Kami menyesal telah terjadi gangguan pagi ini (kemarin pagi, Red) di terminal tempat perusahaan menyediakan transportasi bus untuk karyawan kami,’’ ungkapnya. Menurut dia, polisi bertindak tegas karena terdesak setelah di lem pari batu. Selain itu, selama ini memang ada pelanggaran terhadap kesepakatan bersama yang se harusnya tidak terjadi. Karena itu, saat terjadi unjuk ra sa, polisi ber usaha melindungi karyawan yang akan naik ke Tembagapura untuk bekerja. Peristiwa berdarah tersebut terjadi pukul 09.30 WIT di sekitar Terminal Gorong-Gorong, Timika.
Terminal tersebut merupakan tempat PTFI menyediakan bus un tuk mengangkut karyawan ke Tem bagapura, lokasi tambang. Keri butan terjadi setelah pengun juk rasa memaksa naik ke Tem bagapura. Untuk menenangkan massa, beberapa wakil PTFI yang terdiri atas Simon Morin, Demianus Dimara, dan tiga orang lainnya mencoba menjelaskan. Namun, massa menolak dan menghendaki Presiden Direktur & CEO PTFI Armando Mahler datang langsung. Mereka berusaha menerobos barikade polisi dan memaksa naik ke Tembagapura. Upaya tersebut dicegah polisi. Entah dari mana asalnya, puluhan batu melayang ke arah barikade polisi. Serangan batu tersebut dibalas polisi dengan tembakan. Tak butuh waktu lama, korban berjatuhan. Seorang tewas dan belasan lainnya roboh dengan luka berdarah. Melihat hal itu, massa semakin kalap. Mereka pun membakar beberapa mobil dan sepeda motor yang melintas di lokasi. (jpnn/c5/nw)
http://www.indopos.co.id/index.php/arsip-berita-indopos/66-indopos/16401-polisi-karyawan-freeport-bentrok.html

Monday, 30 May 2011

Polisi Purworejo Tembak Buruh Pabrik Tahu

VHRmedia, Purworejo
– Menonton pentas musik di alun-alun Kutoarjo, Tusiman warga Desa Kaliwatubumi, Purworejo, menjadi korban peluru nyasar polisi. Tusiman sekarang dirawat di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah dengan luka tembak di paha kiri.

Menurut Tusiman, ditengah acara terjadi perkelahian antara dua kelompok pemuda. Tusiman bersama keponakannya, Aris mencoba menghindar ke pinggir lapangan.

Anggota polisi Brigadir Kepala (Bripka) If datang ke lokasi dan melerai perkelahian. If bermaksud melepaskan tembakan peringatan. Namun pistolnya keburu meletus sebelum diarahkan ke atas dan mengenai paha kiri Tusiman.

“Tembakan pertama membuat saya kaget. Paha saya terasa panas dan keluar darah. Setelah saya gerayangi, ternyata ada pelurunya,” kata Tusiman, Minggu (29/5).

Tusiman dilarikan ke RS Palangbiru Kutoarjo. Namun karena tidak ada kamar kosong, Tusiman dibawa ke RSU PKU Muhammadiyah.

Sogol Sutaryo, kakak Tusiman mengaku tidak akan menuntut polisi. Dia hanya meminta polisi membayar biaya pengobatan dan ganti rugi selama adiknya tidak bisa bekerja.

Sehari-harinya, Tusiman bekerja di pabrik tahu di Grantung, Bayan, Purworejo. ”Saya ingin adik saya sembuh. Ini musibah, saya tidak akan menuntut polisi,” ujar Sogol Sutaryo.

Kapolres Purworejo, AKBP Priyo Waseso mengatakan, pihaknya masih memeriksa Bripka If. ”Untuk sementara senjatanya kami tarik. Kami belum memberikan sanksi, karena masih diperiksa,” kata Priyo Waseso. (E1)

Foto: VHRmedia/Prayitno


http://www.vhrmedia.com/2010/detail.php?.e=2796

Saturday, 16 October 2010

Puluhan buruh ’ditembak’ polisi

Saturday, 16 October 2010

SURABAYA – Satreskrim Polrstabes Surabaya kembali menembak dua pelaku pencurian dengan kekerasan (curas), Sabtu (16/10) dini hari tadi. Satu pelaku tewas dan satunya masih hidup dengan beberapa peluru bersarang di pahanya. Pelaku yang ditembak mati itu bernama Ferry Setiawan (27), warga Kampung Malang Utara I. Sedangkan pelaku lainnya, Resi Tamura, warga Banyu Urip Lor II. Kedua pelaku curas ini diringkus di depan gedung Siola Jl Tunjungan sekitar pukul 04.30 WIB.

Sehari sebelumnya, Jumat (15/10) jajaran Polrestabes telah menembak mati, Simon Sudarmadji (29) warga Jalan Kutai II. Dia salah satu pelaku pencurian dengan pemberatan (curat) yang menjadi buruan polisi.

Wakil Kepala Satuan Reserse dan Kriminal (Wakasat Reskrim) Polrestabes Surabaya Kompol Sudamiran mengatakan, Ferry ditembak mati setelah berusaha melawan petugas

”Sekitar pukul 04.30 WIB, anggota memergoki Fery ini beraksi di kawasan Siola. Anggota langsung mengejar pelaku," kata Sudamiran, Sabtu siang tadi.

Ferry yang berboncengan dengan rekannya rupanya tidak mau menyerah setelah petugas memberikan tiga kali tembakan peringatan. Bahkan, mereka berusaha melawan petugas dengan clurit. Petugas pun terpaksa mengarahkan tembakan ke tubuh pelaku. Dua peluru bersarang di dada kanan dan kiri, sedangkan satu peluru di lengan kanan. Sudamiran mengatakan, kedua pelaku ini dikejar petugas setelah berusaha merampas korbannya para mahasiswa.

Tempat kejadian perampasan diketahui di daerah sekitar Jl. Ngagel. ”Ada empat korban tapi yang jadi korban perampasan satu orang, katanya mahasiswa,” ujar Sudamiran.

Ia menegaskan, kalau Ferry dan Resi ini bukan komplotan Simon Sudarmadji, pelaku curat yang ditembak mati polisi, Jumat dini hari.

Polisi sendiri saat ini tengah memburu jaringan Simon, salah satunya ke Semarang Jawa Tengah. Perlu diketahui, anggota unit Pidum Satreskrim Polrestabes Surabaya kemarin menembak mati Simon Sudarmadji (29) warga Jalan Kutai II.

Sebelumnya pada Juli lalu, polisi juga menembak mati si penjahat bercelurit, M Nuri (22), warga Banyu Urip, Surabaya. Nuri sempat melakukan penjambretan di Jalan Dharmahusada Indah di depan SMK 5 dengan korban Yeni Aprilia (31), warga Keputran Pasar Kecil I.

Dalam catatan Surabaya Post, aparata kepolisian di awal Januari 2010 juga , saat memburu komplotan Sukandar cs, yang selama ini dikenal sebagai penjahat dengan modus menebar sandal paku ditembak mati. Sukandar (31), warga Glagah Lamongan, ditembak mati saat beraksi bersama dengan Budianto (38) dan Suyantono (37), keduanya warga

Tambak Asri Gg. Kembang Turi, Surabaya. sab, faz

http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=d94de3696df7260a4bb04c5d443c44c3&jenis=c81e728d9d4c2f636f067f89cc14862c


Wednesday, 28 July 2010

Mahasiswa Ditembak Polisi, LMND Mengadu ke Bareskrim

TEMPO Interaktif, Jakarta - Eksekutif Nasional Liga Mahasiswa untuk Demokrasi (EN-LMND) akhirnya mengeruduk Gedung Bareskrim Mabes Polri, Rabu (21/7). Mereka meminta Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri memerintahkan jajarannya mengusut tuntas kasus tewasnya Herman, mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan dan pendidikan (STIKIP) Kabupaten Garut, Jawa Barat.

"Kami dari EN-LMND datang ke Bareskrim melaporkan penembakan dan pembunuhan Herman," kata Ketua Umum Eksekutif LMND, Lalu Hilman Afriandi di Mabes Polri, Jakarta.

Hilman menduga, pembunuhan itu diawali dari penculikan Herman dari tempat kost-nya setelah melakukan aksi bersama ratusan warga Pasir Wangi di depan kantor PT Chevron Geothermal Indonesia di Garut. Setelah aksi itu, Herman dibawa di suatu tempat kemudian ditembak. "Kami menduga ada motif terselubung. Ada proses pengiringan korban dari rumah kos ke lokasi kejadian. Juga sasaran peluru yang tepat di bagian kepala korban" kata Hilman.

Hilman menuduh polisi terkesan menutup-nutupi kejadian ini. Semua saksi dalam kejadian ini diisolasi. "Polisi juga melakukan isolasi terhadap para saksi kunci kejadian ini, sehingga keluarga dan masyarakat kesulitan mendapatkan penjelasan objektif mengenai kejadian itu," katanya.

Karenanya, dia mendesak Mabes Polri untuk segera mengusut kasus penembakan tersebut. Lalu mengatakan LMND menyatakan sikap diantaranya "menuntut pihak kepolisian untuk segera memberikan sanksi seberat-beratnya terhadap oknum Polri pelaku penembakan tersebut."

Peristiwa penembakan tersebut terjadi pada Senin (19/07) sekitar pukul 18.15 WIB di daerah Cirengit, Kelurahan Sukagalih, Kecamatan Tarogong Kidul, Garut, Jawa Barat.


http://www.tempointeraktif.com/hg/hukum/2010/07/21/brk,20100721-265241,id.html

Wednesday, 9 June 2010

Kapolres: 2 Tewas, Belum Tentu Ditembak

PEKANBARU, KOMPAS.com - Kapolres Kuansing, AKBP RA Kasenda mengatakan pihaknya merasa disudutkan terkait insiden berdarah yang menewaskan dua petani di areal kebun plasma perusahaan kelapa sawit PT Tribakti Sari Mas (TBS) di Desa Koto Cengar, Kuantan Mudik, Kuansing, Provinsi Riau.

Kasenda memaparkan, permasalahan itu berawal sejak Minggu (9/5/2010) lalu ketika warga bersikap anarkis dalam berunjuk rasa, bahkan menganiaya anggota KUD bernama Juned dan melempari mobil Polres.

Ketika itu warga minta agar pembagian hasil kerjasama warga dengan PT TBS berlangsung transparan. "Bahkan kami juga sudah lakukan mediasi antara PT TBS dengan Pemkab dan DPRD Kuansing, hingga akhirnya pihak PT TBS berencana membagikan hasil panen itu, Sabtu (12/6/2010) nanti," ucapnya.

Aksi anarkis warga kembali terjadi saat berlangsung hajatan di rumah Ketua KUD Prima Sehati, ketika itu warga sempat merusak mobil Kepala Security PT TBS Abu Bakar dan selanjutnya warga bernama M Zen menganiaya Abu Bakar.

"Saat itu Abu Bakar melapor ke polisi, dan M Zen kami panggil dua kali tapi tidak diindahkan," ucapnya.

Selanjutnya, kata Kasenda, sekitar 200 personil Polres Kuansing dan Brimob Polda Riau dengan senjata lengkap Selasa (8/6/2010) menuju lokasi untuk menangkap M Zen. "Tapi saat kami tiba di lokasi dan hendak menangkap M Zen, tiba-tiba warga emosi dan menyerang petugas dengan parang serta dilempari batu," ujarnya

Petugas yang merasa terancam melakukan tembakan peringatan beberapa kali ke udara, namun tidak diindahkan. Warga terus melawan serta melempari petugas, namun berhasil diredam dan selanjutnya dilakukan mediasi.

"Saat itu tidak ada yang menyampaikan ada warga tertembak, dan saat semua anggota sudah saya tarik, barulah sorenya dapat kabar dua warga tertembak satu tewas dan satu kritis," kata Kasenda.

"Jadi belum tentu korban yang tewas itu karena polisi yang menembak. Dan kami sudah mengambil visum kedua korban. Walapun begitu kasus ini masih kami selidiki," ucapnya.

Kasenda juga menyampaikan, saat kejadian massa jumlahnya mencapai 500 orang sedangkan polisi hanya sekitar 200 personel yang berasal dari Polres Kuansing dan Brimob Polda Riau.

Dalam insiden itu, kata Kasenda, satu anggotanya mengalami luka parah karena kena sabetan parang warga. Lalu beberapa anggota mengalami luka lebam di bagian kepala kena lempar batu. "Selain itu satu unit mobil patroli kami juga dibakar warga," ucapnya.

Kasenda menambahkan, saat ini pihaknya telah menangkap 11 orang yang diduga provokator. "Tapi sejauh ini belum ada yang kami tetapkan sebagai tersangka," ujarnya.

(rsy)http://regional.kompas.com/read/2010/06/09/0622207/Kapolres.2.Tewas..Belum.Tentu.Ditembak.

Polisi Tembak 2 Petani dari Belakang

Laporan wartawan Kompas Syahnan Rangkuti
Selasa, 8 Juni 2010 | 20:32 WIB

- Korban kerusuhan di Desa Koto Cengar, Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, pada Selasa (8/6) bertambah menjadi dua orang.

Kepala Bidang Humas Polda Riau, Ajun Komisaris Besar Zulkifli mengungkapkan, korban yang tewas adalah petani perempuan bernama Yusniar (47) dan lelaki bernama Disman (40).

Polisi, katanya, terpaksa menembak karena warga menjarah kelapa sawit milik PT TBS. "Selain itu warga juga membakar mobil patroli dan 30 buah rumah milik PT TBS," ujar Zulkifli dihubungi Selasa (8/6/2010) malam.

Kepala Polres Kuantan Singingi, Ajun Komisaris Besar RA Kasenda, yang dihubungi terpisah berdalih, polisi terpaksa menembak karena warga menyerang terlebih dahulu. Polisi telah melakukan tembakan peringatan namun warga tetap melawan.

"Jumlah warga mencapai 500 orang dan kebanyakan membawa senjata tajam, sementara jumlah polisi cuma 200 orang," alasan Kasenda.

Namun berdasarkan versi warga, polisi jelas-jelas memihak PT TBS. Justru polisi yang memprovokasi warga agar terjadi kerusuhan. Syamsir, salah seorang warga mengungkapkan, polisi menembak dengan cara membabi buta.

Yusniar yang tewas akibat tembakan polisi mengalami luka di dada dari arah belakang dan tembus ke dada depan.

"Apakah itu yang dinamakan membela diri? Perempuan yang mati ditembak polisi itu tidak bersenjata dan ditembak dari belakang!" gugat Syamsir.

Syamsir menambahkan, Disman juga mengalami luka tembak di bagian dada. Disman sempat dibawa ke rumah sakit, namun di tengah jalan nyawanya sudah melayang.

Selasa malam, kondisi di Kuantan Mudik semakin panas. Ribuan warga mengepung Mapolsek Kuantan Mudik, meminta pertanggungjawaban polisi yang menembak mati warga. Warga juga meminta 12 rekannya yang ditahan polisi dibebaskan tanpa tuntutan.

http://regional.kompas.com/read/2010/06/08/20323164/Polisi.Tembak.2.Petani.dari.Belakang