Showing posts with label SOP. Show all posts
Showing posts with label SOP. Show all posts

Wednesday, 1 May 2013

Polisi Klaim Penembakan Sesuai SOP di Musi Rawas


Penulis : Irene Sarwindaningrum | Selasa, 30 April 2013 | 09:04 WIB
PALEMBANG, KOMPAS.com — Penembakan di Musi Rawas yang mengakibatkan empat orang tewas diklaim polisi telah sesuai standar operasional prosedur (SOP).

Semua sudah sesuai tahapan pembubaran massa, mulai mengimbau hingga memberi tembakan peringatan.
-- Djarod Padakova

"Semua sudah sesuai tahapan pembubaran massa, mulai mengimbau hingga memberi tembakan peringatan," kata Kabid Humas Polda Sumsel Ajun Komisaris Besar Djarod Padakova di Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (30/4/2013).
Menurut Djarod, pelepasan tembakan mendatar merupakan langkah terakhir karena tahapan sebelumnya gagal. Saat ketegangan kepolisian dan massa meningkat, juga terdengar suara letusan yang diduga merupakan suara tembakan rakitan (kecepek).
Dalam bentrokan itu, belasan anggota polisi terluka. Sebanyak empat luka parah dan 10 lainnya luka ringan.
Polisi mengerahkan Brimob untuk mengatasi kondisi di Musi Rawas. Pasukan TNI juga dikirim untuk mendukung pengamanan.

Editor :

Robert Adhi Ksp


http://regional.kompas.com/read/2013/04/30/09042843/Polisi.Klaim.Penembakan.Sesuai.SOP.di.Musi.Rawas

Sunday, 19 June 2011

Mahasiswa Tawur, Polisi Lepas Tembakan

Ingki Rinaldi | Benny N Joewono | Kamis, 16 Juni 2011 | 21:26 WIB

PADANG, KOMPAS.com — Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas dan mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Andalas, Kamis (16/6/2011), terlibat tawuran dalam kampus mereka di kawasan Limau Manis, Kota Padang.

Sembilan mahasiswa FISIP Universitas Andalas kemudian sempat diperiksa aparat Polresta Padang dalam tawuran yang melibatkan ratusan orang itu. "Seorang lainnya dikenai wajib lapor dua kali dalam sepekan selama dua minggu," kata staf Divisi Pendampingan Hukum dan Paralegal, Taufik Fajrin.

Sementara itu, seorang mahasiswa mengalami luka berat dan mesti dirawat di RS Tentara tingkat III Reksodiwiryo, Kota Padang.

Salah seorang mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Andalas, Syahrul Fitra, mengatakan, polisi masuk ke dalam kampus sekitar setengah jam sejak tawuran pecah. "Kemudian ada tembakan peringatan beberapa kali," kata Syahrul yang saat kejadian berada di dalam kampus.

Syahrul mengatakan, tawuran dipicu hasil pertandingan sepak bola dalam Liga Universitas Andalas. Malam sebelumnya, perselisihan itu berupaya didamaikan, tetapi gagal sehingga berakhir dengan tawuran pada Kamis siang.

Wendra Rona Putra, salah seorang mahasiwa Fakultas Hukum lainnya yang berada di kampus saat tawuran terjadi, mengatakan, akibat tembakan peringatan yang dilepaskan berkali-kali itu, seorang mahasiswi sempat pingsan. "Beberapa mahasiswi histeris. Situasi memang mencekam saat itu," katanya.

Kapolresta Padang Kombes M Seno Putra membantah soal tembakan peringatan yang dilepaskan oleh anak buahnya. "Kalau ada tembakan, pasti ada laporan kepada saya. Tidak ada tembakan peringatan itu," katanya.

Pembantu Rektor I Universitas Andalas Padang Febrin Anas Ismail mengatakan, tindakan polisi sesuai dengan standar operasi yang dimiliki. "Saya kira polisi sudah punya SOP (standard operating procedure)," katanya.

http://regional.kompas.com/read/2011/06/16/21264066/Mahasiswa.Tawur..Polisi.Lepas.Tembakan

Saturday, 28 August 2010

Maling Ditembak Mati Polisi Hanya Karena Sebuah Helm

SATURDAY, 28 AUGUST 2010

Polda Kalimantan Selatan bersikukuh bahwa anggotanya sudah menjalankan prosedur dengan benar dalam kasus tewasnya tersangka maling helm, Bahran (29) yang ditembak polisi gara-gara akan kabur pada Rabu (25/8) malam. Begitu menurut penyampaian Kepala Bidang Propam Polda Kalimantan Selatan AKBP Zuhdi Arrasuli.

“Sebenarnya kejadian tersebut petugas melakukan sesuai SOP pihak kepolisian, terkait situasi yang emergency,” kata Zuhdi. Meski begitu, secara prosedur pihak kepolisian juga turut bertanggung jawab untuk membawa jenazah korban dan upaya memberikan pertolongan pertama dan tanggung jawab secara kemanusiaan. “Tanggung jawab secara kemanusiaan, artinya turut berbelasungkawa atas meninggalnya tersangka,” katanya.

Bahran semula diamankan polisi karena nyaris dihakimi massa, setelah diketahui mencuri satu helm di kawasan Pengambangan, Banjarmasin. Setelah dibawa ke Poltabes Banjarmasin dan menjalani pemeriksaan, malam harinya, seorang petugs menggiring Bahran ke sel Poltabes Banjarmasin.

Belum sampai di ruang tahanan, Bahran malah melawan dengan menyodokkan sikunya ke dada polisi hingga terjatuh. Bahran pun melarikan diri. Polisi lainnya yang mengetahui kejadian tersebut langsung mengejar Bahran yang sudah berlari keluar dari area Poltabes Banjarmasin.

Sempat diberi tembakan peringatan ke udara, tapi Bahran tetap tidak menggubris. Tembakan kemudian diarahkan ke tubuh Bahran. Pemuda malang itu akhirnya jatuh dan meninggal satu jam kemudian.

Bila demi sebuah helm, sungguh sia-sia harus berkorban nyawa seperti itu. Dengan alasan ekonomi, banyak orang yang mau melakukan kejahatan seperti ini. Mungkin Bahran sendiri tidak menyangka bahwa polisi akan menembak dirinya. Terlebih lagi tidak menyangka dirinya akan berakhir seperti itu. Jika Anda menemukan Bahran-Bahran lain, berilah mereka pengertian. Berilah mereka bantuan, tapi berikan juga ‘kail’ agar dia mampu mencari ‘ikan’nya sendiri.

Source : kompas/lh3


http://www.jawaban.com/index.php/news/detail/id/91/news/100827174157/limit/0/