Showing posts with label unjuk rasa. Show all posts
Showing posts with label unjuk rasa. Show all posts

Monday, 31 October 2011

Polisi-Karyawan Freeport Bentrok


1 Tewas, 14 Terluka
TIMIKA – Unjuk rasa karyawan PT Freeport Indonesia (PTFI) kemarin (10/10) berujung bentrokan. Seorang tewas dan belasan lainnya terluka. Kejadian tersebut merupakan yang terburuk sejak ribuan warga yang tergabung sebagai karyawan PTFI dari tujuh suku itu melakukan protes selama sebulan terakhir Tuntutan mereka adalah adanya penyetaraan gaji dengan karyawan yang berasal dari luar Papua. Radar Timika (Jawa Pos Group) melaporkan, korban luka terdiri atas massa dan polisi. Mereka dirawat di RSUD Timika. Ada sembilan orang yang mengalami luka tembak. Seorang di antaranya telah meninggal, yakni Petrus Ayamiseba, 36. Sementara itu, para korban luka adalah Melkias Rumbiak, 36; Ahmad Mustofa, 42; Yunus Nguvuluduan; Charry Suripto, 35; Philiton Kogoya, 34; Leo Wandagau, 36; Alios Komba, 26; dan Rudolf Rumbino.
Dari pihak kepolisian, tujuh orang menderita luka berat dan ringan. Seorang di antaranya kritis, yakni Briptu Jamil dari Resmob Bogor. Kapolres Mimika AKBP Deny Edward Siregar mengakui adanya beberapa anggotanya yang terluka dalam peristiwa tersebut. Kabag Ops Polres Mimika Kompol Syamsu Ridwan menuturkan, tujuh anggota nya yang terluka dirawat di Rumah Sakit Caritas, Timika. Tapi, sebagian sudah kembali bertugas. Keluarga korban mengutuk polisi yang telah menembak sejumlah kar yawan hingga ada yang tewas dan menderita luka-luka. Sampai tadi malam, jenazah Petrus Ayami seba masih disemayamkan di teras Kantor DPRD Mimika dan dijaga ketat ribuan orang sebagai bentuk protes. Mereka memasang tenda di halaman DPRD. Beberapa lainnya menutup jalan di depan kantor wakil rakyat itu sepanjang lebih dari 300 meter. Mayat Petrus sempat diusung dari RSUD Timika oleh ribuan warga yang berkonvoi. Sayangnya, saat sampai di kantor DPRD, kantor itu kosong karena sudah menjelang malam.
Juru Bicara SPSI PTFI Julius Parorongan mengungkapkan, demo di Terminal Gorong-Gorong kemarin dilakukan oleh pekerja dari tujuh suku. Mereka bermaksud naik ke Tembagapura. Namun, karena dihadang aparat kepolisian, mereka tertahan dan terjadilah bentrokan. ’’Kami dari SPSI tidak berkapasitas menghalangi mereka,’’ ujarnya. Dia mengungkapkan, sebenarnya SPSI sudah berupaya untuk meredam. Saat itu, setelah keributan, SPSI berupaya berdialog dengan pekerja tujuh suku agar tidak terjadi masalah yang lebih besar. Soal tuntutan penyetaraan gaji, Julius menyatakan bahwa sampai saat ini belum ada titik temu antara yang diajukan karyawan melalui SPSI dan yang ditawarkan manajemen PTFI. ’’Setelah insiden ini, kami berharap manajemen (PTFI) membuka ruang dialog. Sebab, segala sesuatunya bisa dirun dingkan dengan dialog,’’ paparnya. Kapolres Mimika AKBP Deny Edward Siregar menegaskan bahwa pihaknya masih mengamankan area Terminal Gorong-Gorong. Pihaknya juga terus berkoordinasi dengan pendemo serta manajemen PTFI untuk mencari solusi terbaik. ’’Saya harap tidak anarkistis.
Sampaikanlah aspirasi secara arif.” Juru Bicara PTFI Ramdani Sirait menyampaikan keprihatinan atas insiden tersebut. ’’Kami menyesal telah terjadi gangguan pagi ini (kemarin pagi, Red) di terminal tempat perusahaan menyediakan transportasi bus untuk karyawan kami,’’ ungkapnya. Menurut dia, polisi bertindak tegas karena terdesak setelah di lem pari batu. Selain itu, selama ini memang ada pelanggaran terhadap kesepakatan bersama yang se harusnya tidak terjadi. Karena itu, saat terjadi unjuk ra sa, polisi ber usaha melindungi karyawan yang akan naik ke Tembagapura untuk bekerja. Peristiwa berdarah tersebut terjadi pukul 09.30 WIT di sekitar Terminal Gorong-Gorong, Timika.
Terminal tersebut merupakan tempat PTFI menyediakan bus un tuk mengangkut karyawan ke Tem bagapura, lokasi tambang. Keri butan terjadi setelah pengun juk rasa memaksa naik ke Tem bagapura. Untuk menenangkan massa, beberapa wakil PTFI yang terdiri atas Simon Morin, Demianus Dimara, dan tiga orang lainnya mencoba menjelaskan. Namun, massa menolak dan menghendaki Presiden Direktur & CEO PTFI Armando Mahler datang langsung. Mereka berusaha menerobos barikade polisi dan memaksa naik ke Tembagapura. Upaya tersebut dicegah polisi. Entah dari mana asalnya, puluhan batu melayang ke arah barikade polisi. Serangan batu tersebut dibalas polisi dengan tembakan. Tak butuh waktu lama, korban berjatuhan. Seorang tewas dan belasan lainnya roboh dengan luka berdarah. Melihat hal itu, massa semakin kalap. Mereka pun membakar beberapa mobil dan sepeda motor yang melintas di lokasi. (jpnn/c5/nw)
http://www.indopos.co.id/index.php/arsip-berita-indopos/66-indopos/16401-polisi-karyawan-freeport-bentrok.html

Wednesday, 9 June 2010

Pukul Brimob hingga Sempoyongan, Demonstran Ditembak

TEMPO Interaktif, Kupang - Bentrokan di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), antara polisi dan ribuan massa pengunjuk rasa diakibatkan pemukulan yang dilakukan kepada Komandan Kompi Brimob Manggarai Barat, Ajun Komisaris Dennis.

Ia dipukul setelah mencoba menenangkan massa pengunjuk rasa yang hendak menyerbu masuk ke dalam ruang pleno Komisi Pemilihan Umum Manggarai Barat yang diselenggarakan di salah satu ruangan Gereja New Center, Labuan Bajo.

Kepala Kepolisian Resor Manggarai Barat, Ajun Komisaris Besar Hambali, yang dikonfirmasi
Tempo dari Kupang, Rabu (9/6), mengatakan penembakan terhadap seorang pengujuk rasa, dilakukan setelah adanya penyerangan dari pengunjuk rasa. "Massa mulai beringas dan menyerbu masuk ke dalam ruang pleno KPU Manggarai," katanya.

Polisi berusaha menghalau pengunjuk rasa dengan melepaskan tembakan peringatan, dan gas air mata. Namun, justru Dennis yang dipukul oleh seorang pengunjuk rasa hingga sempoyongan.

"Dia (Dennis) dipukul hingga sempoyongan. Akibatnya pelaku pemukulan itu ditembak di bagian paha kanan oleh aparat keamanan yang bertugas mengamankan pleno tersebut," kata Hambali.

Pengunjuk rasa ditembak dengan peluru karet, karena polisi dilarang membawa peluru tajam. Sampai saat ini, pihaknya baru menahan satu orang pengunjuk rasa yang memukul Dennis. "Baru satu orang yang ditahan, dan kini masih menjalani perawatan di rumah sakit Ruteng akibat luka tembak itu," katanya.

"Suasana di sini masih terus memanas, sehingga kita masih terus berjaga mengamankan pleno KPU ini," katanya.

Dennis membenarkan, pemukulan terhadap dirinya hingga sempoyongan. "Benar, saya dipukul hingga sempoyongan oleh seorang pengunjuk rasa," katanya.

Unjuk rasa yang digelar ribuan massa menuntut agar pemilihan kepala daerah di Manggarai Barat diulang, karena diduga terjadi pelanggaran. Dugaan pelanggaran tersebut di antaranya adanya kotak surat suara tidak terkunci sehari sebelum pencoblosan dilakukan di Kecamatan Sanonggoang, serta dugaan politik uang oleh paket calon tertentu.

Pada pemilihan bupati Manggarai Barat yang digelar 3 Juni 2010 lalu, pasangan calon Agustinus Ch Dullah-Maximus Gasa (Gusti) meraih suara terbanyak dari delapan pasangan calon.

YOHANES SEO

http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa_lainnya/2010/06/09/brk,20100609-253947,id.html

Kapolres: 2 Tewas, Belum Tentu Ditembak

PEKANBARU, KOMPAS.com - Kapolres Kuansing, AKBP RA Kasenda mengatakan pihaknya merasa disudutkan terkait insiden berdarah yang menewaskan dua petani di areal kebun plasma perusahaan kelapa sawit PT Tribakti Sari Mas (TBS) di Desa Koto Cengar, Kuantan Mudik, Kuansing, Provinsi Riau.

Kasenda memaparkan, permasalahan itu berawal sejak Minggu (9/5/2010) lalu ketika warga bersikap anarkis dalam berunjuk rasa, bahkan menganiaya anggota KUD bernama Juned dan melempari mobil Polres.

Ketika itu warga minta agar pembagian hasil kerjasama warga dengan PT TBS berlangsung transparan. "Bahkan kami juga sudah lakukan mediasi antara PT TBS dengan Pemkab dan DPRD Kuansing, hingga akhirnya pihak PT TBS berencana membagikan hasil panen itu, Sabtu (12/6/2010) nanti," ucapnya.

Aksi anarkis warga kembali terjadi saat berlangsung hajatan di rumah Ketua KUD Prima Sehati, ketika itu warga sempat merusak mobil Kepala Security PT TBS Abu Bakar dan selanjutnya warga bernama M Zen menganiaya Abu Bakar.

"Saat itu Abu Bakar melapor ke polisi, dan M Zen kami panggil dua kali tapi tidak diindahkan," ucapnya.

Selanjutnya, kata Kasenda, sekitar 200 personil Polres Kuansing dan Brimob Polda Riau dengan senjata lengkap Selasa (8/6/2010) menuju lokasi untuk menangkap M Zen. "Tapi saat kami tiba di lokasi dan hendak menangkap M Zen, tiba-tiba warga emosi dan menyerang petugas dengan parang serta dilempari batu," ujarnya

Petugas yang merasa terancam melakukan tembakan peringatan beberapa kali ke udara, namun tidak diindahkan. Warga terus melawan serta melempari petugas, namun berhasil diredam dan selanjutnya dilakukan mediasi.

"Saat itu tidak ada yang menyampaikan ada warga tertembak, dan saat semua anggota sudah saya tarik, barulah sorenya dapat kabar dua warga tertembak satu tewas dan satu kritis," kata Kasenda.

"Jadi belum tentu korban yang tewas itu karena polisi yang menembak. Dan kami sudah mengambil visum kedua korban. Walapun begitu kasus ini masih kami selidiki," ucapnya.

Kasenda juga menyampaikan, saat kejadian massa jumlahnya mencapai 500 orang sedangkan polisi hanya sekitar 200 personel yang berasal dari Polres Kuansing dan Brimob Polda Riau.

Dalam insiden itu, kata Kasenda, satu anggotanya mengalami luka parah karena kena sabetan parang warga. Lalu beberapa anggota mengalami luka lebam di bagian kepala kena lempar batu. "Selain itu satu unit mobil patroli kami juga dibakar warga," ucapnya.

Kasenda menambahkan, saat ini pihaknya telah menangkap 11 orang yang diduga provokator. "Tapi sejauh ini belum ada yang kami tetapkan sebagai tersangka," ujarnya.

(rsy)http://regional.kompas.com/read/2010/06/09/0622207/Kapolres.2.Tewas..Belum.Tentu.Ditembak.

Polisi Tembak 2 Petani dari Belakang

Laporan wartawan Kompas Syahnan Rangkuti
Selasa, 8 Juni 2010 | 20:32 WIB

- Korban kerusuhan di Desa Koto Cengar, Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, pada Selasa (8/6) bertambah menjadi dua orang.

Kepala Bidang Humas Polda Riau, Ajun Komisaris Besar Zulkifli mengungkapkan, korban yang tewas adalah petani perempuan bernama Yusniar (47) dan lelaki bernama Disman (40).

Polisi, katanya, terpaksa menembak karena warga menjarah kelapa sawit milik PT TBS. "Selain itu warga juga membakar mobil patroli dan 30 buah rumah milik PT TBS," ujar Zulkifli dihubungi Selasa (8/6/2010) malam.

Kepala Polres Kuantan Singingi, Ajun Komisaris Besar RA Kasenda, yang dihubungi terpisah berdalih, polisi terpaksa menembak karena warga menyerang terlebih dahulu. Polisi telah melakukan tembakan peringatan namun warga tetap melawan.

"Jumlah warga mencapai 500 orang dan kebanyakan membawa senjata tajam, sementara jumlah polisi cuma 200 orang," alasan Kasenda.

Namun berdasarkan versi warga, polisi jelas-jelas memihak PT TBS. Justru polisi yang memprovokasi warga agar terjadi kerusuhan. Syamsir, salah seorang warga mengungkapkan, polisi menembak dengan cara membabi buta.

Yusniar yang tewas akibat tembakan polisi mengalami luka di dada dari arah belakang dan tembus ke dada depan.

"Apakah itu yang dinamakan membela diri? Perempuan yang mati ditembak polisi itu tidak bersenjata dan ditembak dari belakang!" gugat Syamsir.

Syamsir menambahkan, Disman juga mengalami luka tembak di bagian dada. Disman sempat dibawa ke rumah sakit, namun di tengah jalan nyawanya sudah melayang.

Selasa malam, kondisi di Kuantan Mudik semakin panas. Ribuan warga mengepung Mapolsek Kuantan Mudik, meminta pertanggungjawaban polisi yang menembak mati warga. Warga juga meminta 12 rekannya yang ditahan polisi dibebaskan tanpa tuntutan.

http://regional.kompas.com/read/2010/06/08/20323164/Polisi.Tembak.2.Petani.dari.Belakang