Monday, 31 October 2011
Polisi-Karyawan Freeport Bentrok
Wednesday, 9 June 2010
Pukul Brimob hingga Sempoyongan, Demonstran Ditembak
TEMPO Interaktif, Kupang - Bentrokan di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), antara polisi dan ribuan massa pengunjuk rasa diakibatkan pemukulan yang dilakukan kepada Komandan Kompi Brimob Manggarai Barat, Ajun Komisaris Dennis.
Ia dipukul setelah mencoba menenangkan massa pengunjuk rasa yang hendak menyerbu masuk ke dalam ruang pleno Komisi Pemilihan Umum Manggarai Barat yang diselenggarakan di salah satu ruangan Gereja New Center, Labuan Bajo.
Kepala Kepolisian Resor Manggarai Barat, Ajun Komisaris Besar Hambali, yang dikonfirmasiTempo dari Kupang, Rabu (9/6), mengatakan penembakan terhadap seorang pengujuk rasa, dilakukan setelah adanya penyerangan dari pengunjuk rasa. "Massa mulai beringas dan menyerbu masuk ke dalam ruang pleno KPU Manggarai," katanya.
Polisi berusaha menghalau pengunjuk rasa dengan melepaskan tembakan peringatan, dan gas air mata. Namun, justru Dennis yang dipukul oleh seorang pengunjuk rasa hingga sempoyongan.
"Dia (Dennis) dipukul hingga sempoyongan. Akibatnya pelaku pemukulan itu ditembak di bagian paha kanan oleh aparat keamanan yang bertugas mengamankan pleno tersebut," kata Hambali.
Pengunjuk rasa ditembak dengan peluru karet, karena polisi dilarang membawa peluru tajam. Sampai saat ini, pihaknya baru menahan satu orang pengunjuk rasa yang memukul Dennis. "Baru satu orang yang ditahan, dan kini masih menjalani perawatan di rumah sakit Ruteng akibat luka tembak itu," katanya.
"Suasana di sini masih terus memanas, sehingga kita masih terus berjaga mengamankan pleno KPU ini," katanya.
Dennis membenarkan, pemukulan terhadap dirinya hingga sempoyongan. "Benar, saya dipukul hingga sempoyongan oleh seorang pengunjuk rasa," katanya.
Unjuk rasa yang digelar ribuan massa menuntut agar pemilihan kepala daerah di Manggarai Barat diulang, karena diduga terjadi pelanggaran. Dugaan pelanggaran tersebut di antaranya adanya kotak surat suara tidak terkunci sehari sebelum pencoblosan dilakukan di Kecamatan Sanonggoang, serta dugaan politik uang oleh paket calon tertentu.
Pada pemilihan bupati Manggarai Barat yang digelar 3 Juni 2010 lalu, pasangan calon Agustinus Ch Dullah-Maximus Gasa (Gusti) meraih suara terbanyak dari delapan pasangan calon.
YOHANES SEO
http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa_lainnya/2010/06/09/brk,20100609-253947,id.html
Kapolres: 2 Tewas, Belum Tentu Ditembak
PEKANBARU, KOMPAS.com - Kapolres Kuansing, AKBP RA Kasenda mengatakan pihaknya merasa disudutkan terkait insiden berdarah yang menewaskan dua petani di areal kebun plasma perusahaan kelapa sawit PT Tribakti Sari Mas (TBS) di Desa Koto Cengar, Kuantan Mudik, Kuansing, Provinsi Riau.
Kasenda memaparkan, permasalahan itu berawal sejak Minggu (9/5/2010) lalu ketika warga bersikap anarkis dalam berunjuk rasa, bahkan menganiaya anggota KUD bernama Juned dan melempari mobil Polres.
Ketika itu warga minta agar pembagian hasil kerjasama warga dengan PT TBS berlangsung transparan. "Bahkan kami juga sudah lakukan mediasi antara PT TBS dengan Pemkab dan DPRD Kuansing, hingga akhirnya pihak PT TBS berencana membagikan hasil panen itu, Sabtu (12/6/2010) nanti," ucapnya.
Aksi anarkis warga kembali terjadi saat berlangsung hajatan di rumah Ketua KUD Prima Sehati, ketika itu warga sempat merusak mobil Kepala Security PT TBS Abu Bakar dan selanjutnya warga bernama M Zen menganiaya Abu Bakar.
"Saat itu Abu Bakar melapor ke polisi, dan M Zen kami panggil dua kali tapi tidak diindahkan," ucapnya.
Selanjutnya, kata Kasenda, sekitar 200 personil Polres Kuansing dan Brimob Polda Riau dengan senjata lengkap Selasa (8/6/2010) menuju lokasi untuk menangkap M Zen. "Tapi saat kami tiba di lokasi dan hendak menangkap M Zen, tiba-tiba warga emosi dan menyerang petugas dengan parang serta dilempari batu," ujarnya
Petugas yang merasa terancam melakukan tembakan peringatan beberapa kali ke udara, namun tidak diindahkan. Warga terus melawan serta melempari petugas, namun berhasil diredam dan selanjutnya dilakukan mediasi.
"Saat itu tidak ada yang menyampaikan ada warga tertembak, dan saat semua anggota sudah saya tarik, barulah sorenya dapat kabar dua warga tertembak satu tewas dan satu kritis," kata Kasenda.
"Jadi belum tentu korban yang tewas itu karena polisi yang menembak. Dan kami sudah mengambil visum kedua korban. Walapun begitu kasus ini masih kami selidiki," ucapnya.
Kasenda juga menyampaikan, saat kejadian massa jumlahnya mencapai 500 orang sedangkan polisi hanya sekitar 200 personel yang berasal dari Polres Kuansing dan Brimob Polda Riau.
Dalam insiden itu, kata Kasenda, satu anggotanya mengalami luka parah karena kena sabetan parang warga. Lalu beberapa anggota mengalami luka lebam di bagian kepala kena lempar batu. "Selain itu satu unit mobil patroli kami juga dibakar warga," ucapnya.
Kasenda menambahkan, saat ini pihaknya telah menangkap 11 orang yang diduga provokator. "Tapi sejauh ini belum ada yang kami tetapkan sebagai tersangka," ujarnya.
(rsy)http://regional.kompas.com/read/2010/06/09/0622207/Kapolres.2.Tewas..Belum.Tentu.Ditembak.
Polisi Tembak 2 Petani dari Belakang
- Korban kerusuhan di Desa Koto Cengar, Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, pada Selasa (8/6) bertambah menjadi dua orang.
Kepala Bidang Humas Polda Riau, Ajun Komisaris Besar Zulkifli mengungkapkan, korban yang tewas adalah petani perempuan bernama Yusniar (47) dan lelaki bernama Disman (40).
Polisi, katanya, terpaksa menembak karena warga menjarah kelapa sawit milik PT TBS. "Selain itu warga juga membakar mobil patroli dan 30 buah rumah milik PT TBS," ujar Zulkifli dihubungi Selasa (8/6/2010) malam.
Kepala Polres Kuantan Singingi, Ajun Komisaris Besar RA Kasenda, yang dihubungi terpisah berdalih, polisi terpaksa menembak karena warga menyerang terlebih dahulu. Polisi telah melakukan tembakan peringatan namun warga tetap melawan.
"Jumlah warga mencapai 500 orang dan kebanyakan membawa senjata tajam, sementara jumlah polisi cuma 200 orang," alasan Kasenda.
Namun berdasarkan versi warga, polisi jelas-jelas memihak PT TBS. Justru polisi yang memprovokasi warga agar terjadi kerusuhan. Syamsir, salah seorang warga mengungkapkan, polisi menembak dengan cara membabi buta.
Yusniar yang tewas akibat tembakan polisi mengalami luka di dada dari arah belakang dan tembus ke dada depan.
"Apakah itu yang dinamakan membela diri? Perempuan yang mati ditembak polisi itu tidak bersenjata dan ditembak dari belakang!" gugat Syamsir.
Syamsir menambahkan, Disman juga mengalami luka tembak di bagian dada. Disman sempat dibawa ke rumah sakit, namun di tengah jalan nyawanya sudah melayang.
Selasa malam, kondisi di Kuantan Mudik semakin panas. Ribuan warga mengepung Mapolsek Kuantan Mudik, meminta pertanggungjawaban polisi yang menembak mati warga. Warga juga meminta 12 rekannya yang ditahan polisi dibebaskan tanpa tuntutan.
http://regional.kompas.com/read/2010/06/08/20323164/Polisi.Tembak.2.Petani.dari.Belakang
