Showing posts with label polisi diserang massa. Show all posts
Showing posts with label polisi diserang massa. Show all posts

Monday, 25 March 2013

Sembilan Warga Ditembak Polisi


Minggu, 24 Maret 2013 , 01:05:00


PALAS - Sekitar 200-an warga dari tiga desa yakni Aek Buaton, Sidondong, dan Hutabargot bentrok dengan aparat Polsek Barumun Tengah, Padang Lawas (Palas), Sumut, Sabtu (23/3) sekira pukul 07.00 WIB. Sembilan warga ditembak, satu di antaranya kritis dan lima polisi luka-luka.  

Bentrokan ini dipicu kedatangan 200 warga ke Polsek Barumun Tengah yang meminta polisi membebaskan tiga pemuda Desa Aek Buaton; Banua Nasution (50), Tongku Nasution (24), dan Julmanan (30), yang ditangkap pada Sabtu (23/3) sekira pukul 05.00.

Informasi dihimpun Metro Tabagsel (grup JPNN), tiga pemuda itu, ditangkap aparat polisi Polsek Barumun Tengah (Barteng) saat berjaga di lahan sengketa antara warga Aek Buaton, Sidondong, dan Hutabargot, dengan salah seorang warga Desa Sayur Matua, Harapan Harahap.

Mendengar kabar tiga temannya ditangkap, sekira pukul 07.00 WIB, secara spontan sekitar 200 warga dari tiga desa yang memang berdekatan ini berkumpul di Desa Aek Buaton. Tidak lama kemudian, sebagian besar warga yang menaiki sepedamotor dan  sebagian kecil angkutan umum ini, bersama-sama menuju Polsek Barteng, yang berjarak sekitar 10 kilometer dari Aek Buaton.

Di lokasi ini, sebagian warga sempat memarkirkan sepeda motornya di halaman polsek dan sebagian lagi di luar. Begitu juga warga lain yang menaiki angkutan umum, langsung turun di depan Polsek Barteng. Diduga sebagian warga membawa senjata tajam dan kayu.

Melihat kedatangan massa yang berjumlah sekitar 200 orang ini, polisi langsung memberikan tembakan peringatan untuk menakuti warga dan membubarkan massa yang mulai berkumpul dari halaman Mapolsek hingga ke jalan besar.

Namun, warga tak gentar, sehingga polisi mengarahkan tembakan ke warga. Ratusan warga baik yang berada di halaman Mapolsek, langsung berlarian, masing-masing berusaha menyelamatkan diri dari tembakan aparat polisi. Tembakan yang berasal dari pihak polisi, tak tentu arah. Beberapa warga terkena peluru tajam dan peluru karet polisi.

Tidak lama kemudian, warga kembali berkumpul dan menyelamatkan kawannya yang terluka. Sebagian warga membawa kawannya ke puskesmas dan rumah sakit terdekat.  Sementara beberapa polisi dari Polsek Barteng terus melakukan pengejaran terhadap warga, beberapa warga yang berhasil mereka kejar, terkena pukulan senapan polisi.

Amatan METRO, dua jam pascakejadian atau sekitar pukul 09.00 WIB, pihak Mapolsek Barteng terus melakukan sweeping di sekitar wilayah Mapolsek Barteng. Sebab, diduga masih ada masyarakat Aek Buaton bersembunyi di belakang-belakang rumah warga. Siang hari, baru terasa TKP benar-benar aman dan terkendali.

Kades Aek Buaton Hosni Mubarok Nasution kepada METRO, Sabtu (23/3), mengatakan,  dua ibu rumah tangga tertembak polisi. "Masih pendataan. Infonya ada banyak lagi yang tertembak. Warga saya juga tidak ada yang berani ke luar rumah lagi," jelasnya.

Kades Hutabargot Aliamat Pulungan menambahkan, ada dua warganya tertembak yakni Amir Khotib Pulungan (62) dan Subur (26). "Saat ini sedang dirawat di RSUD Aek Haruaya Kecamatan Portibi," jelasnya.

Sementara itu, Camat Aek Nabara Barumun Jamal  Siregar menyebutkan, penyebab kejadian tersebut adalah ada sengketa lahan saling mengklaim antara warga Aek Buaton, Sidondong, dan Hutabragot dengan Harapan Harahap.

Harapan ini  membeli tanah dari salah satu warga Unte Rudang  di atas lahan seluas 1.500 hektare. "Tanah ini diklaim warga Aek Buaton tanah ulayat mereka. Inilah awal kejadiannya. Sudah dilakukan mediasi beberapa kali. Namun, tidak kunjung menuai kesepakatan makanya terjadi hal ini," tukasnya.

Kapolsek Disandera 

Sementara itu, Kapolsek Barumun Tengah AKP H Syahnur Siregar mengaku sempat disandera warga. "Warga menyandera saya dan melempari Mapolsek. Namun, saya berhasil diselamatkan petugas," ucap Kapolsek.

Kapolsek menambahkan, dalam kejadian itu, lima personil dari Polres Tapsel mengalami luka-luka yang diduga dilempar massa dengan batu.

"Ada sekitar lima polisi mengalami luka-luka akibat kejadian itu. Di antaranya saya dan sejumlah personil lainnya," aku kapolsek.

Ditanya, berapa jumlah warga yang tertembak dalam bentrok tersebut, Kapolsek mengatakan, pihaknya masih mengindentifikasi warga yang tertembak, namun untuk sementara ada sekitar lima warga tertembak. "Ada sekitar lima warga tertembak dan sudah berobat itu sekarang," kilahnya.

Menurut kapolsek, penembakan tersebut sudah sesuai prosedur. Sebelumnya pihak kepolisian juga sudah melakukan tembakan peringatan berulang-ulang.

"Itu sudah sesuai prosedur, karena sudah dilakukan tembakan peringatan berulang-ulang terlebih dahulu. Namun, massa terus menyerang," sebut kapolsek. (amr/mag 01)

http://www.jpnn.com/read/2013/03/24/164146/Sembilan-Warga-Ditembak-Polisi-

10 Warga Palas Ditembak Polisi


PADANGLAWAS– Sepuluh warga Desa Aek Buaton, Kecamatan Aeknabara Barumun, Kabupaten Padanglawas, terluka setelah ditembak oleh aparat Polsek Binanga, Sabtu (23/3). Sementara empat polisi juga turut terluka karena diserang warga. 

Para korban sempat dilarikan ke Rumah Sakit Gunung Tua. Namun karena kondisinya yang cukup parah dan tidak bisa ditangani petugas rumah sakit tersebut, sembilan warga dirujuk ke RSUD Padangsidimpuan. Seorang di antaranya, Kahar,54, masih kritis karena peluru yang bersarang di dadanya. Seorang korban lainnya, Murni Siregar,52, dirujuk ke rumah sakit di Kota Medan karena luka tembak di tangan dan rusuk kirinya. 

Penembakan ini dilakukan setelah ratusan warga dari empat desa di Kecamatan Aeknabara Barumun mendatangi Kantor Polsek Binanga dengan membawa parang, kayu, dan batu. Mereka menuntut pembebasan tiga warga desa setempat yang ditahan dini hari kemarin, tanpa alasan jelas. 
Kapolsek Binanga AKP H Sahnur Siregar mengatakan, warga menyerang Kantor Polsek Binanga sekitar pukul 07.00 WIB kemarin. Ratusan warga bersenjata tajam dan batu datang dengan mengendarai mobil L 300 dan 39 sepeda motor. “Ratusan warga memenuhi halaman polsek sambil berteriak-teriak membuat keributan,” katanya kepada KORAN SINDO MEDAN, kemarin. 

Sahnur yang kebetulan berada di rumah dinas, lalu keluar menemui massa. Permintaan itu tidak bisa dituruti Sahnur karena penangkapan ketiga warga dilakukan petugas Polres Palas. Tidak terima, massa memaksa sembari melempari Kantor Polsek Binanga dan memukuli Sahnur. Bahkan, dia mengaku sempat diseret-seret hingga ke badan jalan. 

Aksi ini membuat personel polisi yang sudah siaga melepaskan tembakan ke udara. Tembakan ini malah membuat massa semakin berani dan anarkis melempari petugas kepolisian dan Kantor Polsek Binanga hingga sejumlah polisi terluka, sementara ruangan dan kaca hancur berantakan. Petugas pun kembali melepaskan tembakan untuk mengingatkan warga. 
Sementara salah seorang korban penembakan, Hualah Pulungan,18, yang ditemui di RSUD Padangsidimpuan mengatakan, warga sebenarnya tidak ingin bentrok dengan polisi. Namun, karena polisi lebih dulu menyerang mereka dengan langsung menembak warga saat baru sampai di depan Kantor Polsek Binanga, warga pun berusaha melindungi diri. 

“Kalau orang itu tidak menyerang dan menembak kami, kami juga tidak akan menyerang mereka. Tapi mereka terlebih dahulu menembak dan kami terpaksa melindungi diri kami,” ujar pria yang mengalami luka tembak di paha kirinya ini. 

Di tempat terpisah, Kepala Desa Aek Buaton Hosni Mubarak Nasution yang dikonfirmasi KORAN SINDO MEDAN menuturkan, ratusan massa yang mendatangi Polsek Binanga berasal dari empat desa yaitu, Aek Buaton, Hutabargot, Sidongdong dan Batu Dundung. Warga bergabung untuk mendesak polisi melepaskan tiga rekan mereka yang ditangkap dini hari kemarin yakni, Banua,43; Zul Abdi Nasution,26, dan Tongku Nasution,19. 

”Ketiganya ditangkap pukul 04.00 WIB ketika sedang duduk-duduk di warung. Tak jelas mengapa mereka ditangkap. Makanya warga mendesak agar mereka dibebaskan,” ungkap Hosni. Hosni mengaku tidak mengetahui pasti penyebab bentrokan antara polisi dan warga keempat desa karena tidak melihat awal terjadinya peristiwa itu. 

Namun dia mengaku, saat ini warga berselisih dengan oknum anggota DPRD berinisial AH, berawal dari sengketa lahan seluas 5.500 hektare (ha) yang diklaim warga sebagai tanah adat. Sejak tahun 1996, areal ini dikuasai oleh AH. Bahkan, 1.000 ha di antaranya sudah dilego ke perusahaan badan usaha milik negara (BUMN). 

“Jadi yang dikuasai oknum itu ada 250 ha dan yang lainnya dikuasai oleh HH, salah seorang pengusaha lokal. Tapi, warga tetap menggarap lahan tersebut dan sejak itulah perselisihan kerap terjadi. Tapi tidak ada sa-lahnya kalau warga juga menggarap karena itu tanah adat. Siapa saja boleh menguasainya,” ujarnya. 

Soal penangkapan ketiga warga desa oleh kepolisian setempat, Hosni tidak tahu apakah terkait dengan kasus itu. “Saya sendiri bingung mengapa mereka ditahan. Kalau ada pesanan dalam kasus ini, saya tidak mengerti,” ujarnya. 

Dia memaparkan, dari data yang dikumpulkannya, ada sepuluh warga yang terluka karena terkena tembakan polisi. Dua di antaranya ibu rumah tangga yang mencari keadilan karena menilai ketiga warga desa ditangkap dan ditahan tanpa alasan yang jelas. “Semuanya ditembak di halaman Kantor Polsek,” kata Hosni. 

Sementara itu, delapan warga lainnya ditangkap ketika kepolisian melakukan penyisiran dibantu petugas dari Kepolisian Resor (Polres) Tapanuli Selatan (Tapsel). Warga tersebut yakni, Ridho Nasution,63, warga Desa Aek Buaton; Saunan, warga Desa Batu Sundung; Ahmad Za-juli, 28, warga Desa Aek Buaton; Mangaraja, 65, warga Desa Aek Buaton; Maradoli,45, warga Desa Aek Buaton; Pamdina, Desa Aek Buaton; Masdah,40, warga Aek Buaton, dan sopir Hosni sendiri bernama Armadi, warga Desa Sibontar. “Saya kecewa karena seusai bentrokan, saya sempat diperiksa saat mobil saya melintas di depan Kantor Polsek Binanga. Sementara sopir saya, Armadi, ditahan polisi,” tuturnya. 

Kondisi Korban Memprihatinkan 


Sementara berdasarkan pantauan KORAN SINDO MEDAN di RSUD Kota Padangsidimpuan, kondisi warga Kecamatan Barumun Tengah, Kabupaten Padanglawas, yang menjadi korban penembakan polisi, masih memprihatinkan. Bagian badan warga yang terkena tembakan berbeda-beda, ada yang di dada, punggung, tangan, paha, kaki, dan ada yang terkena pukulan senjata di kepala. 

Salah seorang korban, Tengku Kahar Barunggam Harahap, tampak terbaring lemas di ruang Tulip II rumah sakit karena peluru yang bersarang di dadanya belum berhasil dikeluarkan. Istri korban, Piaguna, yang tengah menjenguk suaminya mengaku kejadian itu membuatnya trauma. Apalagi, perempuan itu menyaksikan sendiri suaminya tersungkur ke tanah setelah ditembak polisi ketika menuntut pembebasan tiga warga yang ditangkap. 

“Kami datang ke Polsek Binanga untuk menuntut agar polisi membebaskan warga desa yang ditahan. Soalnya penangkapan itu sepihak dan tidak jelas permasalahannya,” kata Piaguna. palapa harahap, zia ul haq nasution 

http://www.koran-sindo.com/node/301991

Thursday, 26 January 2012

Warga Ditembak Mati, Massa Bakar Mapolsek di Tulangbawang


Ilustrasi Pembakaran
Bandarlampung, Seruu.com - Aksi massa kembali terjadi di Lampung. Sekitar 30 orang warga Kampung Penawar Kecamatan Gedung Aji, Tulangbawang merusak dan membakar Mapolsek Gedung Aji, sekitar pukul 09.00 WIB, Rabu (25/01/12) pagi.
Menurut informasi yang berhasil kami himpun aksi pembakaran itu dipicu penembakan terhadap Doni, salah satu warga Kampung Penawar oleh anggota Polsek Gedung Aji. Penembakan yang membuat Doni tewas itu terjadi pada Senin (23/01/12) malam lalu, di areal perkebunan sawit di daerah setempat.
Namun berdasarkan versi Polisi, korban yang malam itu berboncengan mengendarai kendaraan bermotor bersama dua orang temannya hendak melakukan aksi kejahatan.
Menurut Kabidhumas Polda Lampung, AKBP  Dra Sulistiyaningsih, sebelumnya anggota Polsek mendapatkan informasi bahwa di wilayah Gedung Aji, tepatnya di Jl Pertamina  Kebun Kelapa Sawit PT SIP Tulangbawang, seringkali terjadi pembegalan.

“Dua anggota yakni Briptu Iwan dan Briptu Uji Prasetiyo berhasil menangkap salah seorang begal bernama  Hamdani. Sedangkan dua  temannya Doni dan Kiki berhasil kabur,”  katanya.

Pada Rabu (25/01), sekitar pukul 08.00 WIB, tersangka Hamdani dikabarkan tewas ditembak. Mendengar informasi ini, keluarga dan kerabat mendatangi Polsek Gedung Aji lalu membakar Polsek.

“Jumlah anggota yang sedang piket dengan jumlah warga yang datang lebih banyak, membuat anggota lebih memilih mundur dari Polsek daripada harus bentrok dengan warga," ujar Sulis. [mus]

http://www.seruu.com/kota/regional/artikel/warga-ditembak-mati-massa-bakar-mapolsek-tulangbawang?utm_source=twitterfeed&utm_medium=twitter

Saturday, 4 June 2011

Buntut Peluru Polisi Nyasar, Warga Serang Polsek

Nasional - Jumat, 3 Juni 2011 | 22:32 WIB

INILAH.COM, Makassar - Buntut dari tewasnya dua warga akibat tembakan peluru polisi saat melakukan penggerebekan curanmor di rumah Labbang, Kamis (2/6/2011) malam sekitar pukul 22.30 Wita di Kampung Beru, Kecamatan Rumbia, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan (Sulsel), warga Kampung Beru dan Loka, Bonto Marrannu menyerang Polsek Ulure.

Menurut keterangan Junaedi, adik kandung Talla, salah seorang korban tewas yang berasal dari Loka, Desa Bonto Marannu, Kecamatan Uluere, Kabupaten Bantaeng, setelah terjadi penembakan, keluarga kerabat yang meninggal mendatangi Polsek Uluere yang letaknya tak jauh dari rumah korban.

"Kami datang mencari polisi untuk meminta keterangan apa yang terjadi di rumah Labbang, dan mengapa empat orang ini ditembak bahkan kakak saya ditembak mati," kata Junaid saat ditemui INILAH.COM, di RS Bhayangkara, Jumat (3/6/2011) petang.

Ia mengatakan sebenarnya yang dilakukan warga bukan menyerang hanya saat warga ingin mencari keterangan, mereka tak menemui seorang pun anggota polisi yang bertugas di Polsek yang baru berdiri empat tahun belakangan ini. Karena jengkel, tanpa sengaja merekapun merusak kantor Polsek yang terdiri dari bangunan rumah panggung tersebut.

Hal senada diungkapkan Bupati Bantaeng, Nurdin Abdullah bahwa yang terjadi bukan penyerangan tetapi spontanitas warga yang kesal dengan kejadian itu. " Yang semalam itu spontanitas, kebetulan Polsek Uluere itu dekat dari perbatasan jadi itu yang menjadi sasaran warga," kata Bupati.

Nurdin menambahkan sebenarnya yang terjadi bukan pembakaran tetapi pelemparan ke kantor yang sebenarnya bekas posyandu Desa Bontomarannu yang dipinjamkan ke Polsek Uluere. " Kebetulan Uluere itu kecamtan baru, pemekaran dari Kecamatan Bisappu yang belum ada kantor polisinya, jadi aset pemda ini kita pinjamkan ke Polsek," jelas Nurdin.

Ia juga menuturkan, selain merusak Polsek, warga juga mencari anggota Polsi hingga pagi tadi. Polisi yang personilnya sekitar 10 orang yang ditugaskan di Polsek Uluere, oleh pemda disuruh menyingkir. Kondisi kemudian terkendali setelah ia turun ke tempat kejadian untuk memberikan pengarahan langsung kepada warga.

"Saya memberi jaminan bahwa saya ikut sampai kasus penembakan keluarga mereka selesai, saya meyakinkan mereka, saya beri jaminan akan ikut sampai selesai.Saya sudah sampaikan ke masyarakat bahwa kasus ini akan ditangani polisi dan masyarakat kita sangat paham, keluarga almarhum sangat meenrima dan kita cepat mengantisipasi," tegasnya.

Warga yang menyerang Polsek Uluere merupakan gabungan dari warga Bantaeng dan warga Jeneponto yang keluarganya tertembak. Saat penggerebekan di Rumbia, ada beberapa warga yang berteriak kalau yang menembak adalah anggota Polsek Uluere. Padahal, dua orang anggota Polsek Uluere yang diperbantukan diyakini Bupati tidak memegang senjata api.[iaf]

http://nasional.inilah.com/read/detail/1572272/buntut-peluru-polisi-nyasar-warga-serang-polsek

Friday, 3 June 2011

"Kami Yakin Itu Peluru Polisi..."

K23-11
K23-11 | Glori K. Wadrianto | Jumat, 3 Juni 2011 | 11:05 WIB
Keluarga korban penembakan yang menangis di depan jenazah, Talla (45) yang ditembak oleh anggota Reskrim Polsek Kelara, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, Kamis tengah malam.

BANTAENG, KOMPAS.com — Jenazah Talla (45), warga Bantaeng, yang menjadi korban tewas dalam penembakan yang diduga dilakukan aparat Kepolisian Sektor Uluere, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, Kamis tegah malam, dikembalikan ke rumah sakit, Jumat (3/6/2011).

Jenazah Talla, yang semula sudah berada di rumah duka, dibawa kembali ke RS untuk menjalani operasi pengambilan proyektil yang masih bersarang di kepala. "Saya yakin, proyektil itu adalah milik anggota polisi," kata Natsir, salah satu keluarga korban saat ditemui di rumah duka.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Talla ditembak saat menghadiri sebuah resepsi pernikahan di Desa Rumbia yang berada di perbatasan Kabupaten Jeneponto dan Bantaeng. Talla diduga menjadi salah satu buronan polisi untuk tindak kejahatan yang dilakukannya.

Selain Talla, ada dua korban penembakan lainnya yang kini dirawat di Puskesmas Rumbia, Jeneponto. Mereka adalah Baso, warga Jeneponto, yang mengalami luka tembak di tangan dan paha, serta Paco dengan luka tembak di tangan.

Nurul, istri Talla, tak kuasa menahan kesedihan saat mengetahui suaminya tewas dalam sebuah pesta pernikahan. "Saya tak menyangka nyawanya berakhir di sana," kata Nurul.

Nurul pun dengan tegas membantah tuduhan bahwa suaminya adalah seorang pelaku tindak kejahatan yang namanya masuk di dalam daftar pencarian orang. "Suami saya itu adik kepala desa," kata Nurul. Rencananya, jenazah ayah empat anak ini akan dimakamkan setelah shalat Jumat, seusai operasi pengambilan proyektil.

Seperti yang diberitakan, penembakan tersebut telah memicu aksi massa yang merusak kantor Kepolisian Sektor Uluere, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian belum memberikan keterangan atas peristiwa tersebut.

Sementara itu, belum ada anggota polisi yang bisa mendekat ke kawasan Polsek Uluere. Pengamanan wilayah sedang diupayakan untuk dilakukan oleh dua SSK Brimob yang didatangkan dari Makassar.

http://regional.kompas.com/read/2011/06/03/11055080/.Kami.Yakin.Itu.Peluru.Polis
i

Monday, 9 May 2011

Massa Rusak Pos Polisi di Sulawesi Tengah

Senin, 09 Mei 2011 07:16 WIB

PALU--MICOM:
Pos polisi masyarakat Kota Palu dan pos Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah dirusak massa yang terlibat bentrok antardua wilayah perbatasan tersebut, Senin (9/5) dini hari.

Massa merusak dua pos di perbatasan tersebut karena kecewa rekan mereka terkena tembak oleh senjata petugas kepolisian dari Polres Donggala yang berusaha membubarkan aksi bentrokan tersebut.

"Kenapa kami ditembak Pak. Petugas tidak adil," kata Zainal (21), korban luka tembak saat bentrok berlangsung.

Zainal dan puluhan massa lainnya berontak dan menuding aparat kepolisian tidak netral dalam bentrokan tersebut. Polisi dituding membela satu pihak.

Mereka akhirnya membakar ban bekas dan kursi yang terletak di teras-teras rumah warga. Kursi tersebut mereka seret ke jalan lalu membakarnya.

Warga juga melampiaskan kekecewannya di pos Polmas dan pos DLLAJ. Kursi-kursi dan meja serta televisi di Pos Polmas di perbatasan Kota Palu dan Kabupaten

Donggala dikeluarkan dari pos penjagaan lalu mereka rusak. Hal yang sama juga diperlakukan terhadap pos DLLAJ.

Pos tersebut dibangun berdekatan di perbatasan tersebut. Pos Polmas dibangun di Kelurahan Pantoloan, Kota Palu sementara pos DLLAJ dibangun di Desa Wani

Kabupaten Donggala.

Kapolsek Labuan, Donggala AKP Andi Mappaimang mengatakan, bagian depan pos Polmas dan DLLAJ tersebut rusak.

"Bagian luarnya di lempari batu. Isi dalamnya mereka keluarkan lalu dibakar di jalan," kata Mappaimang.

Dia mengatakan, hingga Senin pagi ini situasi di lokasi bentrokan sudah kondusif setelah pasukan gabungan Polda Sulteng, Polres Palu dan Polres Donggala diterjunkan ke lokasi.

Bentrokan tersebut melibatkan sejumlah warga bertetangga. Di wilayah Kota Palu warga yang terlibat antara lain gabungan warga Kelurahan Pantoloan, Baiya, dan

Kayumalue. Sementara di wilayah Donggala gabungan warga dari Desa Wani I dan Wani II. Umumnya warga yang terlibat bentrok tersebut anak-anak muda.

Selain merusak pos Polmas dan DLLAJ, massa juga merusak enam unit mobil, lima diantaranya mobil polisi yakni tiga unit truk, satu mobil patroli, satu unit

mobil operasional dan satu unit lagi milik anggota polisi yang di parkir berdekatan dengan mobil truk polisi tersebut.

Menurut keterangan sejumlah warga dari dua belah pihak bahwa bentrokan tersebut diduga berawal dari acara ulang tahun di kompleks pelabuhan Wani pada Sabtu

malam. Kejadian itu bermula saat seorang anak muda dari Kelurahan Pantoloan meraung-raungkan sepeda motornya di dekat acara ulang tahun tersebut.

Beberapa warga sempat melarang aksi tersebut. Entah bagaimana tiba-tiba meluas menjadi bentrokan yang melibatkan banyak orang.

Bentrokan kemudian berlanjut lagi Minggu malam hingga Senin dini hari. Situasi di lokasi bentrokan baru redah setelah puluhan polisi diterjunkan ke lokasi.

Polisi memaksa massa dari kedua pihak yang bertikai mundur dari lokasi.

Bentrokan antara sesama warga bertetangga itu akhirnya beralih menjadi bentrokan antara warga dengan polisi. Beberapa kali polisi mengeluarkan tembakan ke

udara dan melepas gas air mata. Akibat bentrokan tersebut sejumlah polisi dan warga terluka. Para korban dilarikan ke puskesmas terdekat untuk mendapat

perawatan. (Ant/OL-12)

http://www.mediaindonesia.com/read/2011/05/09/224540/290/101/Massa-Rusak-Pos-Polisi-di-Sulawesi-Tengah-

Thursday, 21 April 2011

Berebut Biduan, Polisi Bentrok Dengan Warga, 2 Tewas Tertembak

Rabu, 20 April 2011 - 19:15 WIB

LAMPUNG (Pos Kota) – Akibat cemburu rebutan seorang biduan orgen tunggal, Sahab, 34, tewas ditembak polisi di arena pesta pernikahan di Kampung Gunungmenanti, Tumijajar, Tulangbawang Barat, Lampung Utara, Selasa (19/4) malam.

Mendengar ada yang tewas ditembak seorang polisi, warga setempat marah. Ratusan orang kemudian menyerang kantor polsek. Sehingga terjadi bentrokan dan baku tembak antara polisi dengan warga. Akibatnya, seorang warga lagi, Anton, 27, seorang PNS di Metro, tewas tertembak.

Sahab, warga Gunungbatin Udik, Kecamatan Terusan Nunyai, Lampung Tengah meninggal dalam perjalanan menuju ke Rumah Sakit Islam (RSI) Bandarjaya, Terbanggibesar, Lampung Tengah.

Anton, warga Gunungbatin Udik, Terusan Nunyai, Lampung Tengah, tewas tertembak saat baku tembak dengan polisi.

Menurut , Pusat, 30, adik sepupu Sahab, Aiptu David menembak Sahab karena cemburu. Di tengah pesta, Sahab menuju panggung dan bersalaman dengan seorang biduan. Tita-tiba Aiptu David menegur dan memarahi korban.
“Ketika itulah sempat cekcok mulut di atas panggung. Sahab kemudian turun dari panggung disusul Aiptu David yang mengarahkan pistol ke dada korban. Saat itu juga terdengar suara tembakan. Tembakan itu mengenai dada dan perut. Akibat banyak kehilangan darah, korban meninggal saat dibawa ke rumah rumah sakit,” kata Pusat, Rabu (20/4).

MENYULUT KEMARAHAN

Kematian Sahab menyulut kemarahan warga Gunungbatin Udik, Lampung Tengah. Malam hari itu, sekitar pukul 22:30, massa di antaranya menggunakan 4 truk, sebuah minibus, puluhan sepeda motor berusaha mendatangi Polsek Tulangbawang Udik yang berada di Pasar Dayamurni.

Ratusan petugas kepolisian sudah berjaga-jagar 20 meter dari kantor polsek, karena sebelumnya telah mendengar kabar warga bakal mendatangi polsek.

Massa yang datang langsung dihadang polisi. Mobil Suzuki Escudo BE 1085 T warna hitam yang berada paling depan mendekati polisi. Dari dalam mobil terdengar teriakan: Serang…! Dan, terdengar suara tembakan dari dalam mobil, sehingga terjadi baku tembak dengan polisi.

Mobil berusaha kabur tetapi gagal, karena ban pecah akibat ditembak polisi. Penumpangnya turun dan kabur. Massa yang di atas truk dan sepeda motor pun kabur menjauhi petugas.Saat itulah, petugas menemukan Anton tewas dekat mobil Escudo miliknya. Dalam mobil, petugas juga menemukan sebuah senjata api rakitan.
Polisi juga menangkap dua warga berikut sebuah sepeda motor dan mobil Escuda. Di polsek, juga tampak sebuah mobil milik wartawan yang kacanya dipecahkan massa.

POS LANTAS DIBAKAR
Tidak lama setelah massa mundur, polisi juga mendapat kabar bahwa Pos Lantas Kalimiring di Kampung Murnijaya, Kecamatan Tumijajar, sekitar 10 km dari Polsek Tulangbawang Udik, dibakar massa.
Kapolres Tulangbawang, AKBP Dwi Iriyanto dan Pejabat Bupati Tulangbawang Barat, Bachtiar Basri masih berada di Polsek Tulangbawang Udik. Tetapi, keduanya enggan berkomentar. “Saya belum bisa berkomentar,” ujar kapolres,

Sementara Bachtiar Basri masih berusaha meredam massa dengan menghubungi sejumlah tokoh masyarakat.
Untuk mengantisipasi massa yang bakal berdatangan, petugas dari Polres Lampung Utara sejak dinihari dikerahkan membantu aparat yang telah berjaga-jaga di sekitar Polsek Tulangbawang Udik.
Sodikin, 42, salah satu kerabat Anton yang ditemui saat dilakukan otopsi mengatakan, ada 3 peluru bersarang di kepala Anton hasil otopsi RSUD Abdul Moeloek Bandar Lampung, Rabu (20/4) petang.
Penembakan tersebut, kata Sodikin, menurut keluarga besar harus diproses, pihaknya sudah menyiapkan pengacara.

Satu anggota Samapta Polres Tulangbawang juga dikabarkan luka pada bagian paha kiri, karena terserempet peluru. Bahkan mobil Yusuf, wartawan Radar Lampung dirusak massa.

BANDAR NARKOBA

Sementara Kabidhumas Polda Lampung, AKBP Sulistiyaningsih mengatakan, berdasarkan hasil penyelidikan, ternyata korban Sahab merupakan bandar narkoba di wilayah Tulangbawang dan masuk DPO.
Sementara Aiptu David yang menembak, saat ini sedang menjalani pemeriksaan terkait keberadaannya di organ tunggal tersebut.

“Masalah penyerangan yang dilakukan 250 warga yang kemudian terjadi baku tembak, apa yang dilakukan polisi sudah melalui prosedur karena massa merangsek mau menyerang polsek,” katanya, kemarin.

Sementara keluarga Anton, meminta polisi menegakkan hukum seadil-adilnya. “Kami mohon jangan ada rekayasa. Soal senjata yang ada di dalam mobil, itu sama sekali tidak benar. Saat penyerbuan warga hanya membawa botol dan kayu. Kami sama sekali tidak membawa senjata api. Saya harap hukum dapat ditegakkan,” kata Lukman, perwakilan keluarga korban.

Lukman juga mempertanyakan keberadaan uang Rp7,4 juta yang dibawa Anton. Dia mengaku, saat berada di Rumah Sakit Ryacudu Kotabumi, perawat mengatakan jika uang yang dibawa Anton telah diserahkan ke polisi.
“Kami ingin tahu uang ke mana sekarang? Selain uang, ada juga dua buah handphone. Itu juga tidak jelas ada di mana sekarang. Kami menuntut keterbukaan, keadilan, dan kejujuran polisi,” lanjut Lukman. (koesma/B)

http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2011/04/20/berebut-biduan-polisi-bentrok-dengan-warga-2-tewas-tertembak

Thursday, 23 September 2010

Dijarah, Diserbu, dan Ditembak

Kepala Polda Sumatera Utara, Inspektur Jenderal Oegroseno meninjau Polsek Hamparan Perak yang diserang kelompok bersenjata laras panjang dan jenis pistol. Para pelaku menembak mati tiga personel polsek, Rabu (22/9) dinihari. TEMPO/Soetana Monang Hasibuan

TEMPO Interaktif, Jakarta -

Serangan kelompok bersenjata yang diduga teroris terhadap instalasi kepolisian dan anggota polisi bukan tanpa preseden. Serangan sudah terjadi setidaknya sejak 2000 di berbagai tempat. Berikut ini catatanTempo.


2000
Arman Kristianto alias Abdullah Sunata, pemimpin Komite Aksi Penanggulangan Krisis (Kompak) di Ambon, mengkomando massa untuk menyabot gudang senjata Brimob Polri di Tantui, Ambon. Ia ditangkap di Klaten, Jawa Tengah, pada 23 Juni 2010.

23 Oktober 2001
Ratusan orang Kelompok Putih dari Desa Mapane, Kecamatan Poso Pesisir, Sulawesi Tengah, membakar puluhan pos polisi karena 42 rekan mereka diperiksa di kantor Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah.

19 November 2003
Belasan orang bersenjata menyerang pos penjagaan aparat di Dusun Taripa, Desa Toini, Kecamatan Poso Pesisir.

24 Januari 2004
Aparat Kepolisian Resor Poso, Bharada Azis, mengalami luka tembak di betis
kiri karena diberondong tiga orang bercadar di Desa Masani, Kecamatan Poso Pesisir.

Mei 2005
Kelompok Asep Jaja menyerang pos Brimob Polri di Seram, Maluku. Lima anggota Brimob tewas.

12 Oktober 2005
Enal Tao menembak Brigadir Satu Agus Sulaeman, anggota Polres Poso. Enal terlibat banyak kejahatan di Poso pada 2005 dan 2006, termasuk mutilasi tiga siswi SMU Kristen Poso.

25 Januari 2006
Kepala Polres Poso Ajun Komisaris Besar Rudy Sufahriadi selamat dari tembakan Enal Tao. Rudi ditembak dari jarak dekat sepulang salat subuh berjemaah di Masjid Raya Poso. Pada April 2010, Enal Tao tewas ditembak di Aceh Besar dalam pengejaran terhadap kelompok pelatihan militer di Pegunungan Jalin, Jantho.

8 Mei 2006
Selepas subuh, empat anggota Densus 88 diserang sekelompok orang di Poso. Dua sepeda motor aparat dibakar, petugas lolos dari amuk massa. Kala itu anggota Densus 88 hendak menangkap Taufik Bulaga alias Upik Lawanga, warga Kelurahan Lawanga, Kecamatan Poso Kota.

April 2010
Dua polisi tewas ditembak saat berjaga di pos Kentengrejo, Purworejo, Jawa Tengah. Tersangka pelaku, Yuli Sartono, tewas ditembak pada 23 Juni 2010 dalam penggerebekan oleh Densus 88 di Cungkrungan, Blangwetan, Klaten, Jawa Tengah. Yuli adalah desertir Pusdishub TNI Angkatan Darat dengan pangkat terakhir prajurit dua.

22 September 2010
Tiga polisi tewas diberondong di kantor Polsek Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, pukul 00.00-00.30 WIB. Pelaku setidaknya berjumlah 10 orang, bersenjata laras panjang.

Evan | Jobpie S | Berbagai Sumber


http://www.tempointeraktif.com/hg/hukum/2010/09/23/brk,20100923-279875,id.html

Tuesday, 31 August 2010

Warga Serbu Mapolsek, 2 Ditembak Mati

Rabu, 1 September 2010 | 03:33 WIB

PALU, KOMPAS.com - Insiden serangan warga terhadap kantor Mapolsek Biau, Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, Selasa (31/8/2010) malam, menewaskan sedikitnya dua orang dan melukai enam anggota Polri.

"Jumlah anggota Polri yang luka-luka tercatat enam orang," kata Kapolda Sulteng Brigjen Muhammad Amin Saleh kepada wartawan di Palu, Rabu (1/9/2010) dini hari.

Dari enam anggota Polri yang terluka itu, satu di antaranya mengalami luka bakar serius akibat terkena lemparan bom molotov dari massa penyerang. "Anggota Polri yang terbakar itu adalah personel Brimob," kata Kapolda Amin Saleh.

Ke-enam anggota Polri yang terluka itu sudah mendapatkan perawatan di RS Buol. Sementara itu, korban tewas dari pihak warga yang menyerang Mapolsek bertambah menjadi dua orang. Mereka terkena tembakan dalam insiden yang pecah Selasa pukul 21.30 WITA itu.

"Identitasnya belum kami ketahui karena situasinya masih belum memungkinkan untuk didata," kata orang nomor satu di Polda Sulteng itu.

Informasi dari Buol menyebutkan, korban tewas terakhir yang dilarikan ke RSUD Buol pada Rabu dini hari itu bernama Ridwan. Warga Kelurahan Leok itu terkena tembakan di kepala.

Korban diduga sudah tewas di lokasi bentrokan sebelum dievakuasi ke rumah sakit. Korban tewas sebelumnya bernama Amran Abjalu (19). Warga Kelurahan Kali ini terkena tembakan di bagian mata.

Kondisi dua korban lainnya, yakni Firman, warga Kelurahan Kali, dan Irfan, warga Leok, kini kritis. Dokter piket RSUD Buol, dr.Mariaty, mengatakan, pihaknya mencatat sedikitnya 17 orang korban dirawat di rumah sakit pemerintah itu.

Sementara itu, situasi Kota Biau, ibu Kota Kabupaten Buol, masih mencekam namun bentrokan sudah terhenti kendati konsentrasi kerumunan warga masih tampak di beberapa tempat.

Kerusuhan itu berawal saat sekitar 3.000 warga yang datang dari Kelurahan Buol, Leok, Kulango dan Kali yang menyerbu Kantor Polsek Biau Selasa malam.

Massa tidak dapat menerima kematian Kasmir Timumun, seorang tukang ojek, di tahanan Polsek Biau hari Senin (30/8).

Kasmir ditahan karena kasus kecelakaan lalu lintas yang melibatkan seorang anggota kepolisian di kota itu namun hari Senin dia tewas di dalam tahanan. Banyak warga mencurigai bahwa kematiannya akibat penganiayaan.

Sebagai buntut dari kematiannya, Selasa malam sekitar pukul 21.30 WITA, ribuan warga mendatangi Markas Polsek Biau yang terletak di Kelurahan Kali dan berdekatan dengan Kantor Bupati Buol.

Aparat kepolisian mengeluarkan tembakan peringatan ke udara untuk mengendalikan massa namun massa penyerang semakin beringas.

Editor: yuli | Sumber : AN

http://regional.kompas.com/read/2010/09/01/03334783/Warga.Serbu.Mapolsek..2.Ditembak.Mati