Showing posts with label deli serdang. Show all posts
Showing posts with label deli serdang. Show all posts

Sunday, 26 May 2013

Bahtera tewas ditembak polisi saat digerebek

FRIDAY, 24 MAY 2013 12:04   
MEDAN – Bahtera Sembiring tewas ditembak polisi saat penggerebekan,  empat tersangka pengedar narkoba dan pelaku perjudian di Pancurbatu, Deli Serdang tadi pagi dini hari.

Polisi menembak mati pelaku, karena menyerang petugas saat berusaha menangkapnya. Kepala tersangka  ditembak jebol, setelah belakang pelipis kirinya diterjang timah panas.

Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Heru Prakoso saat meninjau jenajah tersangka di RS Bhayangkara Polda Sumut mengatakan, kejadian itu berawal dari penggerebekan yang dilakukan petugas Polsek Pancurbatu di Jalan Djamin Ginting, Sibolangit, Deli Serdang, tepatnya di belakang Rumah Makan Andini.

Disebutkan, kalau Lokasi itu sudah lama diintai sebagai tempat peredaran narkoba dan perjudian.  Saat penggerebekan berlangsung, tiga orang, yaitu KS, AP dan KT, langsung tertangkap. Mereka diamankan bersama barang bukti uang judi Rp65 ribu, 2 set kartu joker, dan mangkuk dadu.

Namun, Bahtera yang ada di dalam rumah nekat melarikan diri saat penggerebekan itu. Dia dikejar Bripka Tumpak Sihombing. Diberi tembakan peringatan 2 kali. Setelah dekat langsung ditangkap dan terjadi pergumulan. Tersangka yang melarikan diri ini kemudian mengambil batu dan memukul kepala Bripka Tumpak yg mengejarnya hingga memar.

Ternyata tersangka juga membawa pisau dan melukai Bripka Tumka, namun hanya kena tangan kirinya. Heru melanjutkan, Tumpak yang merasa terancam melepaskan tembakan ke arah pelaku dan mengenai pelipis sebelah kiri tembus ke bagian kanan. Tersangka meninggal di TKP.

Sementara itu dari tersangka yang tewas ditembak, bukan cuma pisau, polisi juga menemukan satu tas berisi 8 bungkus ganja dari tangan Bahtera dengan berat brutonya diperkirakan 5 kg

Setelah olah TKP, jenazah Bahtera dievakuasi ke RS Bhayangkara Polda Sumut, Jalan KH Wahid Hasyim, Medan. Sementara itu  Bripka Tumpak Sihombing dilarikan ke RSUP Adam Malik untuk mendapatkan perawatan.

Sementara, tersangka  AS, KT dan KP kini ditahan di Mapolsek Pancurbatu beserta Barang buktinya diamankan.

Editor: SASTROY BANGUN

http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=290782:bahtera-tewas-ditembak-polisi-saat-digerebek&catid=14:medan&Itemid=27

Karena Ingin Melarikan Diri, Bandar Narkoba di Deliserdang Ditembak Mati Polisi



DELISERDANG, RIMANEWS - Petugas Satreskrim Polsek Pancur Batu, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara, menembak mati seorang bandar narkoba jenis ganja di kawasan Bandar Baru, Deliserdang. Pelaku ditembak karena berusaha kabur dan melawan saat akan ditangkap.
"Tersangka BS ditembak karena melawan saat akan ditangkap. Dia meninggal di tempat karena kehabisan darah," kata Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Raden Heru Prakoso, di Medan, Jumat (24/5/2013).
Dia menjelaskan, penggerebekan berawal saat petugas Satreskrim Pancur Batu menerima laporan dari warga akan ada transaksi narkoba di kawasan tersebut. Sebagai tindak lanjut, dibentuklah tim berjumlah delapan polisi.
Saat digerebek sekira pukul 03.20 WIB dini hari tadi, petugas mendapati empat orang, termasuk BS. Tiga lainnya berinisial KS, AP, dan KP. BS berusaha kabur sambil membawa tas hingga sempat terjadi pengejaran.
Lantaran takut tergetnya kabur, Bripka Tupak memberikan tembakan peringatan sebanyak dua kali ke udara, namun BS tidak menghiraukannya. Meski sudah berhasil ditangkap, BS kembali melawan dengan memukul petugas menggunakan batu serta  menusukkan senjata tajam ke lengan Bripka Tupak.
"Sempat terjadi pergumulan antara pelaku dan anggota, namun karena posisi tidak seimbang Tupak terpaksa menembaknya dan mengenai kepala bagian kiri," paparnya.
BS akhirnya tewas di tempat. Dari pelaku, disita barang bukti ganja seberat lima kilogram, senjata tajam, dan batu yang digunakan untuk memukul polisi.
Tiga tersangka lainnya sudah diboyong ke Mapolsek Pancur Batu serta barang bukti lainnya, yaitu uang Rp65 ribu dan kartu remi. Sementara jenazah BS dibawa ke RS Bhayangkara, Medan.
Bripka Tupak sendiri kini menjalani perawatan di RSUP Adam Malik. [12/oke]

http://www.rimanews.com/read/20130524/103996/karena-ingin-melarikan-diri-bandar-narkoba-di-deliserdang-ditembak-mati-polisi?utm_source=dlvr.it&utm_medium=twitter

Thursday, 5 April 2012

Pembacok Polisi Ditembak


Kamis, 22 Maret 2012 , 11:30:00


Belawan: Ed alias Edi Racun (26), pembacok Briptu Fernandes, personel Polres Pelabuhan Belawan, Rabu (21/3) siang, ditembak petugas.  Tersangka diringkus dan ditembak polisi di kawasan Pasar IX Desa Manunggal, Kecamatan Labuhan Deli, Kabupaten Deliserdang, saat akan melarikan diri.

Informasi dihimpun Sumut Pos (Group JPNN) di Mapolres Pelabuhan Belawan, penangkapan pelaku penganiayaan terhadap polisi itu setelah petugas menerima informasi keberadaan tersangka dari masyarakat. Tak ingin menyia-nyiakan informasi itu, polisi kemudian melakukan pengejaran.

Setibanya di lokasi, beberapa personel kepolisian kemudian melakukan penyergapan. Namun saat akan ditangkap, tersangka yang sudah satu bulan lebih diburon petugas mencoba melawan dan melarikan diri. Polisi yang sempat memberikan tembakan peringatan ke udara, namun tak diindahkan pelaku.

Akhirnya, petugas mengarahkan laras senjatanya ke kaki kanan tersangka untuk melumpuhkannya. Akibatnya, pria berdomisili di kawasan Jalan TM Pahlawan, Kelurahan Belawan I, Kecamatan Medan Belawan ini, roboh dengan sebutir timah panas di kakinya. Guna mendapatkan pertolongan medis, tersangka selanjutnya diboyong petugas ke RS Bhayangkara di Jalan KH Wahid Hasyim, Medan.

Kasat Reskrim Polres Pelabuhan Belawan, AKP Hamam Wahyudi, ketika dikonfirmasi Sumut Pos tak bersedia ditemui. Bahkan saat dihubungi berulang kali dan di SMS melalui telepon selularnya terkait penembakan dimaksud, perwira polisi berpangkat balok tiga kuning dipundaknya ini tak bersedia menjawab.

Seperti diberitakan, personel Polri, Briptu Fernandes sebelumnya sempat kritis akibat dibacok beberapa pria di Jalan TM Pahlawan, Belawan. Pembacokan terhadap anggota Polres Pelabuhan Belawan tesebut diduga dipicu oleh tidak tanggapnya polisi melakukan pengamanan di daerah rawan bentrokan dan tidak merespon laporan warga atas kasus dugaan penculikan terhadap Khaidir (21) warga Lororong Melati, Belawan.

Warga yang kesal atas kinerja polisi, lantas menyerang sebuah warung kopi tempat di mana petugas kepolisian melakukan pengamanan pasca bentrok antar kampung di wilayah tersebut.  

Melihat gerombolan warga bersenjata tajam datang, tiga personel polisi satu diantaranya, Briptu Fernandes langsung terkejut dan melarikan diri. Naas, Briptu Fernandes yang mencoba menyelamatkan diri, dikejar warga dan berhasil menangkapnya hingga terjadi penganiayaan. Setelah mendapat penganiayaan dari warga, korban langsung dilarikan rekannya ke RS TNI AL di Jalan Bengkalis, Belawan.(mag-17)

Monday, 27 February 2012

Kronologi Pembakaran Dua Warga di Deli Serdang


M Hilmi Faiq/KOMPASDua jenazah korban pembakaran massa diotopsi di Rumah Sakit Umum Pusat Adam Malik, Meda, Sumatera Utara, Senin (27/2/2012).

Laksono Hari W | Selasa, 28 Februari 2012 | 01:42 WIB

MEDAN, KOMPAS.com
 - Dua pria yang dibakar oleh massa di Deli Serdang, Sumatera Utara, Minggu (26/2/2012) malam, ternyata merupakan pengusaha rental mobil. Keduanya diduga hendak mencuri sapi saat mereka sedang mencari mobil mereka yang telah sebulan tak dikembalikan.



Kristian Marco Siregar (24) dan Jeferson Ricardo Sitorus (26), warga Jalan Perkutut, Kecamatan Medan Helvetia, tewas setelah dihakimi massa di Glugur Rimbun, Desa Lau Bekeri, Kutalimbaru, Deli Serdang, Minggu sekitar pukul 22.00 WIB. Warga juga menghancurkan mobil Toyota Kijang Innova yang dikendarai keduanya saat mereka berdua mencoba mencari mobil mereka yang tak kunjung dipulangkan setelah sebulan dipakai orang. Adapun tiga temannya luput dari amukan massa.


Peristiwa itu bermula ketika warga melihat mobil Kijang Innova warna titam bernomor polisi BK 1020 HK melaju kencang di perkampungan Lau Bekeri sekitar pukul 21.30 WIB. Pada saat bersamaan, muncul lima pengendara sepeda motor yang membuntuti mobil tersebut seraya meneriakkan,"Maling!"
Warga yang mendengar dan melihat kejadian itu langsung melakukan pengejaran terhadap mobil korban. Massa akhirnya menemukan mobil tersebut berada di semak-semak di daerah Lau Bakeri Kutalimbaru. Melihat korban bersembunyi di kolong mobil, emosi massa memuncak. Warga kemudian menyeret korban dan memukuli keduanya.


Kedua korban sempat berusaha meloloskan diri dan berlari sejauh 50 meter, tetapi tertangkap kembali dan akhirnya dibakar di dalam mobil tersebut. Salah satu korban diduga mengaku sebagai anggota Polres Sumatera Utara, tetapi massa tak memedulikan hal itu dan justru semakin beringas.


http://regional.kompas.com/read/2012/02/28/01421812/Kronologi.Pembakaran.Dua.Warga.di.Deli.Serdang
 

Friday, 26 August 2011

Tak Terima Suami Ditembak Polisi

10:53, 26/08/2011

MEDAN- Jenazah Muliadi alias Adi Dolo (40), warga Dusun III Desa Naga Rejo, Kecamatan Galang, Deli Serdang, pencuri lembu yang ditembak polisi, di otopsi di RSUD dr Pirngadi Medan, Kamis (25/8) siang.

Istri Muliadi, Nuryati (34), terlihat menangisi kepergian suaminya. “Saya tidak terima suami saya ditembak mati. Kalaupun dia mencuri, bukan begini caranya. Aku harap penembaknya segera ditangkap dan dihukum setimpal,” pinta Nuryati.

Sementara Wandi (41), salah satu kerabat korban mengaku, memang benar Muliadi terlibat dalam pencurian lembu. Tapi polisi seharusnya menangkap dia, bukan menembaknya.

“Kalau memang Muliadi menjadi salah satu pelakunya, seharusnya tidak ditembak mati. Kan ada hukum di negara ini,” kesalnya.

Brigadir Yusman, petugas Polsekta Galang, yang ditemui di depan ruang instalasi jenazah RSUD Pirngadi Medan mengaku, tersangka sendiri ditangkap saat mengendarai sepeda motor berboncengan bersama temannya. Saat dilakukan penangkapan, pelaku mencoba melawan.

“Karena dipepet polisi, teman tersangka Muliadi yang saat itu diboncengan langsung melompat dan melarikan diri,” katanya.(jon)

http://www.hariansumutpos.com/2011/08/13761/tak-terima-suami-ditembak-polisi.htm

Curi Lembu, Mulyadi Ditembak Mati Polisi

SEORANG pencuri ternak lembu di Deli Serdang, Mulyadi (31), tewas setelah diterjang timah panas milik anggota Kepolisian Sumatera Utara (Sumut) karena mencoba melarikan diri saat disergap petugas.

Penyergapan dilakukan polisi di rumah Mulyadi di Jl Nagarejo, Dusun III, Gang Salim, Kelurahan Nagarejo, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang pada Rabu (24/8/2011) sekitar pukul 21.00 WIB.

Saat itu, Adi berusaha melarikan diri. Namun, peluru mengenai rusuk bagian kanannya. Adi pun tersungkur dengan bersimbah darah. Ia sempat dibawa ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya. Namun, centeng perkebunan sawit milik PT London Sumatera (Lonsum) ini tak tertolong. Ia tewas di perjalanan. Jenazahnya kemudian dibawa ke RSU Pirngadi, Jl HM Yamin, Medan.

Kerabat Adi bernama Wandi membenarkan korban dan dua temannya terlibat pencurian lembu milik warga dua pekan lalu. Namun, persoalan itu sudah diselesaikan dengan cara perdamaian. “Tapi tiba-tiba polisi datang mau melakukan penangkapan. Karena itu dia berusaha melarikan diri,” kata Wandi.

Keterangan Wandi diperkuat Nuryati, istri Mulyadi. “Suami saya sudah berdamai dengan pemilik lembu. Keluarga berencana menempuh jalur hukum agar polisi tidak asal main tembak saja,” kata Nuryati sambil terisak di rumah sakit, Kamis siang. Menurutnya, keluarga tidak bisa menerima perlakuan polisi seperti itu. Jenazah korban sudah dikebumikan Kamis sore.

http://www.medantalk.com/curi-lembu-mulyadi-ditembak-mati-polisi/

Tuesday, 21 June 2011

Penembak cs minta damai

WEDNESDAY, 22 JUNE 2011 00:08
MEDAN - Pasca kematian Darmawan Muhammad (22), cleaning service (cs) Bank BRI Cabang Putri Hijau yang ditembak mati Briptu Vico Simanjuntak beberapa waktu lalu di pelataran parkir gedung bank. Keluarga tersangka terus mendatangi kediaman korban. Kedatangan keluarga tersangka disebut untuk meminta perdamaian.

"Beberapa kali ada orang datang ke rumah kakak kami, untuk minta perdamaian. Mereka berupaya mendesak keluarga kami menandatangani surat perdamaian. Anehnya surat yang disodorkan tidak ada berisi tulisan," ujar Iwan malam ini.

Menurut Iwan yang tinggal di Pasar V Desa Tembung Kacamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang, utusan keluarga tersangka, juga meminta perdamain melalui kepala dususn (kadus) setempat. Utusan yang datang, kata Iwan, penampilannya seperti aparat kepolisian. "Mereka datang sewaktu, kakak kami hanya berada di rumah sendiri. Tapi, kalau abang ipar kami di rumah atau saya, tidak ada yang datang," sebutnya.

Sementara informasi diperoleh, Briptu Vico Simanjuntak yang menembak mati korban disebut anak dari seorang perwira polisi berpangkat komisaris besar di jajaran Polda Sumut. Hasil rekonstruksi penembakan korban ternyata membuktikan tersangka melakukannya dengan sengaja. Sebelumnya tersangka mengaku tidak sengaja.

Korban tewas dengan tubuh ditembus peluru dari punggu ke dada sebelah kanan, dan peluru juga mengenai lingkar ban sepeda motor korban yang pada kejadian sedang jongkok membersikan sepeda motor miliknya, akibatnya korban langsung tewas ditempat.

Editor: PRAWIRA SETIABUDI

http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=201280:penembak-cs-minta-damai&catid=14:medan&Itemid=27

Wednesday, 22 September 2010

Tiga Anggota Polisi Tewas Ditembak

JAKARTA (Suara Karya): Sukses menangkap hidup 16 tersangka dan menembak mati tiga tersangka lain terkait aksi terorisme dan perampokan Bank CIMB Niaga, tidak bisa membuat polisi menarik napas lega. Bahkan sebaliknya, aksi Densus 88 Antiteror itu langsung dibalas dengan penyerbuan oleh gerombolan bersenjata api lengkap ke Markas Kepolisian Sektor (Mapolsek) Hamparan Perak, Deli Serdang, Sumatera Utara, Rabu (22/9) dini hari. Akibat penyerbuan gerombolan yang diyakini terkait teroris itu, tiga anggota polisi di sana tewas.

Menurut informasi yang dihimpun Suara Karya, gerombolan penyerang itu sekitar pukul 00.30 hingga 01.00 WIB masuk Mapolsek dan memberondong kan tembakan. Pelakunya diperkirakan lebih dari 10 orang. Mereka menggunakan 4 sepeda motor dan 1 mobil Kijang. Semua mengenakan tutup muka dan helm.

Setelah melakukan tembakan shock terapy, 4 orang bersenjata masuk ke pekarangan, lalu masuk ke dalam dan melakukan penembakan terhadap 3 anggota yang tengah bertugas. Setelah itu para penyerang bersenjata tersebut keluar, lalu melemparkan bom molotov ke arah Polsek dan mobil patroli di depan hingga terbakar.

Tiga personel polisi yang ditembak semua tewas. Mereka adalah Aiptu Baik Sinulingga (48), Kepala Sentra Pengamanan Kepolisian (SPK), Aiptu Deto Sutejo (38) dan Bripka Riswandi (38). Baik Sinulingga tewas dengan empat luka tembak di dada, lengan dan pinggang. Deto Sutejo mengalami luka tembak telak di bagian dada, sedangkan Riswandi mengalami sembilan luka tembak di bagian dada, dan satu tembakan di bagian kepala.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Iskandar Hasan kepada wartawan di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (22/9), mengemukakan, dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), ditemukan 20 butir selongsong peluru senjata api dari jenis SS1, M16, pistol dan AK47.

"Saat ini sedang dilakukan uji balistik untuk mengecek apakah ada kaitannya barang bukti tersebut dengan kasus perampokan di Bank CIMB Niaga di Medan," kata Iskandar.

Dia menambahkan, berdasarkan hasil analisis di lapangan dan keterangan para saksi termasuk tahanan yang ada di Mapolsek Hamparan Perak, diketahui bahwa para pelaku melakukan aksinya tanpa ada suara, mirip saat dilakukan perampokan Bank CIMB Niaga.

Untuk memburu penyerang bersenjata itu, Kapolda Sumut Irjen Pol Oegroseno mengerahkan 200 personel Satuan Brimob untuk mengamankan seluruh polsek di Medan dan sejumlah wilayah perbatasan, di samping juga mengerahkan tim untuk mengejar kelompok penyerang yang menewaskan tiga personel Polsek Hamparan Perak.

Terkait penyerangan ini, Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri memerintahkan seluruh polsek, polres, dan polda seluruh Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan dan siaga dengan melakukan tindakan preventif refresif. Bahkan, lanjut dia, setiap polda untuk melakukan koordinasi dengan TNI guna mengantisipasi berbagai kemungkinan.

Kapolri juga memastikan, penyerangan Mapolsek Hamparan Perak terkait dengan upaya Polri mengungkap dan menangkap aksi terorisme. Bahkan, Kapolri mensinyalir adanya rencana untuk menggunakan kekerasan terhadap aparat, pejabat tertentu, dan pos-pos penjagaan TNI di daerah terpencil.

"Saya rasa tidak aksi balas dendam. Yang pasti, mereka memang sudah punya konsep assassination dengan menggunakan kekerasan terhadap aparat, khususnya pejabat tertentu dan juga anggota-anggota Polri. Juga pos-pos TNI tertentu yang terpencil menjadi sasaran mereka," kata Kapolri.

Ditanya soal kaitan jaringan kelompok bersenjata ini dengan jaringan lain, Kapolri memaparkan, jaringan ini ada kaitannya dengan pelatihan di Aceh, dan kegiatan mereka tidak terputus dari rangkaian kegiatan di Bandung dan Sumatera Utara.

"Jadi kegiatan mereka tidak terputus dari rangkaian kegiatan pelatihan, kemudian Bandung, Sumatera Utara menyiapkan anggaran pembelian senjata, aktivitas-aktivitas tertentu, kegiatan dengan persiapan kegiatan mereka berikutnya," ujar Kapolri.

Sementara itu, Iskandar Hasan menambahkan, ada beberapa indikasi yang perlu diwaspada oleh masyarakat dari kelompok radikal ini. Polri meminta masyarakat melaporkan keberadaan mereka untuk mengeliminasi dan membatasi ruang gerak mereka.

Menurut Iskandar, dari pola mereka selama ini, mereka selalu tinggal di satu tempat, menyewa atau kos. Namun, mereka kurang bersosialisasi dengan tetangga dan lingkungan sekitar.

"Pada umumnya, mereka berkedok jualan keliling. Mereka umumnya pergi pagi pulang malam. Jika keluar-masuk rumah, mereka pake helm untuk menutup wajah. Biasanya mereka melakukan kegiatan tertutup dan tidak melibatkan warga sekitar. Kalau tahu ini, segera lapor ke petugas," kata Iskandar.

Polri, menurut Iskandar, sejauh ini belum menyimpulkan aksi penyerangan mapolsek tersebut sebagai upaya balas dendam. Namun, dia mengakui bahwa aksi itu ingin menunjukkan eksistensi mereka.

Iskandar juga menolak penyerangan itu sebagai kecolongan. Menurut dia, aksi penyerangan semacam itu memang dilakukan oleh orang-orang yang terlatih dan dilakukan di daerah aman, bukan daerah konflik.

Tak Beradad

Kesal atas aksi para teroris ini, Kapolda Sumut Inspektur Jenderal Oegroseno berang. Dia menyebut para penyerang itu sebagai tak beradab dan tidak beragama.

"Ini teroris-teroris yang tidak beragama. Tidak beragama dan tidak bermoral. Tulis saja seperti itu," kata Oegroseno saat menghadiri pemakaman Bripka Riswandi di Plumpang, Hamparan Perak, Deli Serdang. Terkaitan keterlibatan Jemaah Ashorut Tauhid (JAT), Ketua Departemen Dakwan dan Publikasi JAT Abdurrochim Ba'asyir menolak JAT dikaitkan dengan kasus perampokan Bank CIMB Medan atau terlibat jaringan Al-Qaida. JAT juga menolak bila dari 18 tersangka yang ditangkap ada jemaah JAT.

Putra Abu Bakar Ba'asyir itu juga menolak upaya mengait-kaitkan Ustad Abu Bakar Ba'asyir dengan kasus perampokan Bank CIMB Niaga Medan. Sebab, saat terjadi perampokan, Ustad Ba'asyir sedang menjalani penahanan di tahanan Mabes Polri.

Dia juga menjelaskan, kegiatan JAT bersifat terbuka dan terang-terangan, tidak ada kegiatan bersifat rahasia, dan tidak pernah merencanakan kegiatan yang mengindikasikan adanya muatan atau unsur-unsur yang terkait dengan kriminalitas apalagi terorisme.

"Upaya-upaya yang selalu mengaitkan institusi JAT dengan tersangka pelaku kriminal maupun dugaan pelaku tindak terorisme yang dilakukan seseorang, jelas merupakan upaya rekayasa pemaksaan kasus seperti pada zaman Orde Baru yang selalu menjadikan Islam dan kaum Muslimin menjadi pesakitan," kata dia.

JAT, tandas dia, menolak keras berbagai upaya rekayasa terorisasi maupun kriminalisasi terhadap berbagai kasus yang menimpa aktivis atau ulama Islam.

Sementara itu, Gubernur Sumatera Utara Syamsul Arifin menyatakan, aksi terorisme yang terjadi di wilayahnya itu bermaksud mengacaukan keamanan dan rasa aman masyarakat setempat. Sedangkan soal tewasnya tiga petugas kepolisian Polsek Hamparan Perak, Deli Serdang, diyakini sebagai aksi balas dendam kelompok terorisme setelah penangkapan sejumlah tersangka perampokan CIMB Niaga, beberapa waktu lalu.

"Sudah ada empat aparat negara yang meninggal. Ini sangat mengganggu rasa aman masyarakat," kata Syamsul. (Hanif/ Tampubolon/Endang K/B Sugiharto)

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=262426