Showing posts with label paniai. Show all posts
Showing posts with label paniai. Show all posts

Wednesday, 24 October 2012

Dua Anggota TNi Ditembak Saat Amankan Pemilukada Paniai



Kepala Biro Penerangan Umum Mabes Polri, Brigjen Pol Boy Rafli Amar.
Kepala Biro Penerangan Umum Mabes Polri, Brigjen Pol Boy Rafli Amar. (sumber: Antara)
Aparat masih mengejar pelaku penembakan

Dua anggota TNI terluka akibat penembakan yang dilakuka oleh kelompok bersenjata di sungai Kebo di Kabupaten Paniai, Papua.

Saat Ditembak, anggota TNI itu tengah mengendarai speedboat, guna menjaga keamanan menjelang Pemilukada, yang berlangsung 13 Oktober.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Humas Mabes Polri Brigjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan, kedua korban luka tembak dari Batlyon Infanteri 753 Nabire.

Yaitu Praka Aris yang terluka di tangan dan Praka Arisoni yang terluka di lengan hingga tembus paha.

"Lokasi di wilayah di muara sungai Distrik 1 Kebo, Kabupaten Paniai. Tiga speedboat yang membawa anggota TNI ini diserang," kata Boy Rafli kepada pers di Jakarta, Jumat.

Boy mengatakan waktu penembakan sekitar pukul 14.00 WIT pada Kamis (11/10).

Ketika anggota TNI yang bekerjasama dengan Kepolisian hendak melakukan pergeseran pasukan. 

Saat ini, lanjut Boy, kedua korban sudah mengalami penanganan medis di Rumah Sakit Paniai.

Dia mengatakan saat penyerangan terjadi, sempat terjadi kontak senjata. 

"Anggota TNI sempat melawan, juga sempat kembali lagi untuk menyelamatkan salah satu rekannya di lokasi," katanya.

TNI dan kepolisian hingga saat ini masih melakukan pengejaran, terhadap kelompok bersenjata yang melakukan penyerangan tersebut, kata Boy.
 
http://www.beritasatu.com/nasional/77364-dua-anggota-tni-ditembak-saat-amankan-pemilukada-paniai.html

Wednesday, 22 August 2012

Brigadir Yohan Ditembak saat Mencuci Mobil


Penulis : Josie Susilo Hardianto | Selasa, 21 Agustus 2012 | 12:33 WIB

JAYAPURA, KOMPAS.com- Orang tak dikenal yang diduga anggota kelompok Organisasi Papua Merdeka menembak mati Brigadir Yohan Kisiwaitoi (29), anggota Polres Paniai, Selasa (21/8/2012) pagi.
Kepala Bidang Humas Polda Papua Komisaris Besar Johannes Nugroho Wicaksono menyatakan, penembakan terjadi sekitar pukul 10.30 WIT. Saat penembakan terjadi, korban tengah mencuci mobil tak jauh dari ujung Lapangan Terbang Enarotali, ibukota Kabupaten Paniai. Korban diduga ditembak dengan pistol.
Sebelumnya, pada tanggal 16 Agustus lalu, orang tak dikenal juga menembak mati Mustafa (22) seorang penjaga kios di Distrik Obano, Kabupaten Paniai.
Menurut keterangan warga Paniai, Okto Pekei, saat ini situasi Kota Enarotali lengang. Polisi meminta warga untuk tinggal di dalam rumah. Polisi tengah mengejar pelaku penembakan.
Editor :
Marcus Suprihadi


http://regional.kompas.com/read/2012/08/21/12332188/Brigadir.Yohan.Ditembak.Saat.Mencuci.Mobil

Saturday, 7 July 2012

Three People Found Dead in Papua


Farouk Arnaz | July 07, 2012

Three people were found stabbed to death in Ndeotadi in the Paniai district of Papua on Friday, including a member of the Indonesian Military (TNI).  

The victims were found by locals in a house-shop near a gold mine in Ndeotadi which was owned by the dead soldier, Warrant Officer Sunaryo.

“Sunaryo is member of Paniai district military command, while the two other victims were named Aco and Nini,” National Police spokesman Sr. Comr. Boy Rafli Amar said on Saturday. “The detailed identities of the latter [victims] are not yet known.”

Boy said that locals grew suspicious because Sunaryo’s shop usually opens at 6 a.m. — they found it still locked at 8 a.m., and knocked on the door. After no one answered, the locals informed the police, according to reports.

“The police officer found the trio dead of sharp-weapon wounds,” Boy said. “Until now, we’re still searching for the perpetrator. The motive of the incident is not known.” 

In May, Brimob officers shot five locals at a Ndeotadi billard hall after an alleged altercation, killing two.   



http://www.thejakartaglobe.com/lawandorder/three-people-found-dead-in-papua/529169?utm_source=newsletter&utm_medium=email&utm_campaign=jgnewsletter

Thursday, 22 December 2011

Helikopter Mabes Polri Tembaki Markas OPM Paniai, Satu Terluka

KBR68H, Jayapura - Helikopter milik Mabes Polri menembaki tenda yang ditempati kelompok Organisasi Papua Merdeka, OPM disekitar Gunung Wege, Paniai. Tenda tersebut diduga ditempati kelompok OPM pimpinan John Yogi yang lari ke hutan. Tokoh agama setempat Pastor Oktavianus Pekey menuturkan tembakan terjadi sekitar pukul 14.00 WIT. Dari informasi yang diperolehnya ada satu korban dari kelompok OPM yang terkena tembakan di kaki.

"Aparat yang dari helicopter mereka melakukan penembakan tetapi terlebih dahulu itu sempat mereka turunkan semprot air mata kearah itu camp, lalu juru bicara dari tempat itu dari tempat itu mengatakan bahwa satu orang terluka dibagian kaki kemudian yang lain yang tempat mereka sama-sama mereka belum dapat kabar karena mereka lari masing-masing untuk menyelamatkan diri seperti itu"

Tokoh agama setempat Pastor Oktavianus Pekey menambahkan saat ini diduga tenda tersebut sudah dibongkar kembali oleh kelompok OPM karena takut ada penyerangan kembali yang dilakukan oleh aparat keamanan setelah mengetahui tenda tersebut adalah milik OPM. Lokasi tenda baru yang dibangun oleh kelompok tersebut berjarak sekitar 2 kilometer dari lokasi semula di Gunung Eduda yang sudah dikuasai oleh aparat keamaanan.
http://www.kbr68h.com/berita/papua/16978-helikopter-mabes-polri-tembaki-markas-opm-paniai-satu-terluka

Saturday, 19 November 2011

Mahasiswa Tuntut Polisi Ditarik dari Degeuwo


Josie Susilo Hardianto | Robert Adhi Ksp | Sabtu, 19 November 2011 | 17:34 WIB


JAYAPURA, KOMPAS.com - Selain menuntut agar Kapolda Papua bertanggung jawab atas kematian Matheus Tenouye (32) yang tewas ditembak polisi hari Minggu lalu, Aliansi Intelektual Suku Wolani-Moni (AISWM) menuntut agar polisi ditarik dari wilayah penambangan liar Degeuwo, Kabupaten Paniai.
Dalam jumpa pers yang digelar, Sabtu (19/11/2011) di Abepura, Papua Ketua AISWM Thobias Bagubau mengatakan, penambangan liar di sepanjang aliran Sungai Degeuwo itu juga harus ditutup.
Ia pun juga meminta agar DPR Provinsi Papua segera memfasilitasi pihak-pihak terkait untuk menyelesaikan kasus penembakan warga sipil dan penambangan liar di Degeuwo.
Ia mengkawatirkan, jika peristiwa penembakan terhadap warga sipil dibiarkan, di masa- masa berikutnya hal sangat mungkin terulang lagi, apalagi aparat selalu menggunakan stigma OPM kepada masyarakat asli Papua.
Sebagaimana diberitakan, Matheus Tenouye warga Kampung Nomouwodide, Distrik Bogobaida, Kabupaten Paniai pada Minggu (13/11) tewas ditembak aparat saat melintasi jembatan gantung di atas Sungai Degeuwo. Jasadnya hingga saat ini tidak ditemukan karena terse ret derasnya arus sungai itu.
Thobias Bogubau mengatakan, peristiwa itu bermula ketika Matheus Tenouye bersama dengan tujuh orang warga lain tengah bertemu di rumah seorang warga di Kampung Tagapige.
Seorang pengusaha tambang emas yang beroperasi di Tagapige curiga dengan pertemuan itu dan menduga mereka adalah kelompok OPM. Berdasarkan kecurigaan tanpa dasar itu, ia kemudian melaporkan keberadaan mereka kepada polisi yang berada di Pos Baya Biru.
Berdasarkan laporan itu, polisi kemudian berjag a-jaga, terutama di dekat jembatan gantung Sungai Degeuwo. Ketika itulah Matheus Tenouye melintasi jembatan itu. Dan menurut Thobias Bagubau, tanpa ditanya lebih dahulu Matheus langsung ditembak dan jatuh ke Sungai Degeuwo. Jasadnya terseret arus deras sungai itu dan tidak ditemukan hingga saat ini.
Terkait dengan peristiwa itu, ketika dihubungi beberapa waktu lalu Kepala Bidang Humas Polda Papua Kombes Wachyono mengatakan, yang terjadi saat itu adalah kontak tembak antara polisi dan gerombolan bersenjata yang diduga TPN-OPM. Pos polisi tuturnya ditembaki dari arah perbukitan.
Ia juga menjelaskan, sebelum kontak tembak, polisi memang mendapat laporan dari warga tentang adanya surat dari Pimpinan OPM setempat yang meminta uang sebesar Rp 60 juta. Menurut Wachyono, kehadiran polisi di kawasan itu adalah untuk mengamankan wilayah.

http://regional.kompas.com/read/2011/11/19/17340396/Mahasiswa.Tuntut.Polisi.Ditarik.dari.Degeuwo.

TNI / POLRI kills unarmed Papuan civilians in Paniai


TNI / POLRI kills unarmed Papuan civilian in Paniai
Thursday 17 November: Media Alert
Local human rights defenders report that Matius Tenouye, a farmer from Tagaya Degeuwo Village , Bogobaida District, Paniai Kabupaten, Papua was killed by the Indonesian security forces on the 13 November.
According to reports received by West Papua Media Mr. Tenouye (39 years old) was crossing a bridge when he was struck by a bullet in the back. He then fell into the Degeuwo River and drowned. Relatives have been unable to retrieve his body.
The killing comes days after Jubi, an independent online media organisation in Papua, reported eight people being shot dead in Degeuwo by members of the security forces. There have also been reports of destruction of civilian property in Kogekotu village, Camp Bapouda, Camp Ipakiye and Camp Madi, all close to a gold mining area that has been the scene of long-standing conflict over land rights, corruption and control of mining activity.
The area is off limits to local and foreign journalists, and due to its remote location human rights workers are having difficulty safely accessing the scene.
Paramilitary Brimob police from the Paniai garrison, armed by the  Australian government, on Sunday(10am local time) launched an unprovoked  attack on traditional Mee tribal gold miners in Degeuwo, near Enaratoli.
Local human rights activist Servius Kedepa told Jubi that he  was unable to ascertain any apparent cause for the shooting.  However local observers have long pointed to a deep involvement of Brimob officers in the mining conflict in the regency.
Papuan community members from Degeuwo Paniai are reportedly seeking refuge in the jungle.
The Victims (and cause of death) are:
1. Matias Tenouye (30 yr) Bullet through Right thigh, femoral bleed ,
2. Simon Adii (35 years) The bullet penetrated ribs and exited through abdomen,
3. Peter Gobay (40 years) Shot in Chest.
4. Joel Ogetay (30 years) shot through the head
5. Benjamin Gobay  (25 years) massive chest trauma through shooting, rear exit wound.
6. Marius Maday (35 years) massive chest trauma through shooting, rear exit wound.
7. Matias Anoka (40 years )massive chest trauma through shooting, rear exit wound.
8. Yus Pigome (50 years massive chest trauma through shooting, rear exit wound.
The causes of death are consistent with standard rifle use shoot-to-kill training by aiming at the central body mass.
http://westpapuamedia.info/2011/11/19/tni-polri-kills-unarmed-papuan-civilians-in-paniai/ 

Thursday, 17 November 2011

Komnas HAM: 8 Warga Papua Tewas Ditembak


RABU, 16 NOVEMBER 2011, 15:42 WIB

VIVAnews - Komnas HAM Papua mengklaim ada delapan warga suku Mee di Kabupaten Paniai, Papua tewas ditembak oleh aparat Brimob. Mereka diberondong peluru saat melakukan aktivitas penambangan emas di kawasan Degewo pada Minggu 13 November 2011.

''Ini adalah pelanggaran HAM berat, dan negara harus bertanggung jawab,'' kata Wakil Komnas HAM Papua, Matius Murib di Papua, Rabu 16 November 2011.

Sesuai data Komnas HAM,  8 orang tewas akibat ditembak mati adalah Matias Tenouye (30), Simon Adii (35), Petrus Gobai (40), Yoel Ogetai (30), Benyamin Gobai (25), Marius Madai (35), Matias Anoka (40), Yus Pigome (50).

Menurut Murib, hingga kini belum diketahui secara jelas. ''Laporan warga, Brimob tiba-tiba menembak kedelapan pendulang tanpa alasan yang jelas,'' ucapnya.

Hingga saat ini, kedelapan warga sipil yang ditembak mati masih berada di lokasi, karena akses menuju dan keluar dari lokasi hanya bisa dengan helikopter. ''Korban masih berada di lokasi dan saat ini sedang diupayakan untuk bisa dievakuasi,'' kata dia.

Matius mengatakan telah mendapatkan laporan tentang peristiwa itu. Komnas HAM Papua juga mengklaim memiliki sejumlah bukti. ''Kami juga segera melakukan identifikasi langsung ke lapangan,'' ujarnya.

''Komnas HAM sangat mengutuk keras penembakan terhadap delapan warga sipil di lokasi tambang Paniai, karena tanpa alasan yang jelas serta tidak sesuai prosedur hukum yang berlaku.''

Sebelumnya, Kepala Bidang Humas Polda Papua, Kombes Pol Wachyono membantah klaim itu. Justru, anggota polisi yang ditembak oleh kelompok bersenjata di Papua.

“Laporan yang masuk ke saya, korban hanya seorang dari kelompok sipil bersenjata,” kata Wachyono.

Menurut dia, memang pada Sabtu 12 November 2011 terjadi tembak menembak antara polisi dengan kelompok bersenjata pimpinan Salmon Magai Yogi. Saat itu, para polisi tengah memberi pengamanan kepada para penambang emas. "Mereka menembak dari tebing, maka terjadilah tembak menembak," kata dia.

"Masak kita ditembaki diam saja, kita kan membela diri dan memberi perlindungan kepada masyarakat yang lain. Kalau diam saja kita bisa habis."

Menurut dia, pengamanan diberikan kepada masyarakat karena kelompok Salmon Yogi ini mengedarkan surat kepada masyarakat. Isinya, mereka meminta uang kepada para pengusaha tambang. "Surat itu kemudian diteruskan para pengusaha tambang itu ke Polsek daan Polres," kata Wachyono.

"Makanya kita bangun pos pengamanan di sekitar penambangan dengan dibantu Brimob. Kehadiran polisi di sana kan memberi keamanan masyarakat." (eh)

Baca kronologi tembak menembak versi polisi di sini.

Laporan: banjir Ambarita l Papua
• VIVAnews
 
Rating
KOMENTAR
piss
17/11/2011
trus aparat yang gugur sama opm atau separatis bersenjata itu gimana??? mereka juga manusia,bung!! emangnya kalo aparat yang mati sama penghianat bangsa urusan jadi biasa2 aja ya... mana pembelaanmu untuk aparat yang gugur sama opm atau separatis lainnya
• Balas   • Laporkan
lebay
16/11/2011
kemana densus 88?..
• Balas   • Laporkan

http://us.nasional.vivanews.com/news/read/264759-komnas-ham--8-warga-papua-tewas-ditembak

Delapan Pendulang Emas Diduga Ditembak Polisi

Riyanto Nae
17/11/2011 05:16
Liputan6.com, Jayapura: Delapan pendulang emas di Kecamatan Dewogo, Kabupaten Paniai, Papua, diduga ditembak mati oleh polisi yang menjaga keamanan di wilayah pertambangan. Demikian diungkapkan Wakil Komnas HAM Papua Matius Murib di Jayapura, Papua, Rabu (16/11).

“Penembakan terjadi pada Minggu, 13 November 2011,” kata Matius. “Korban tewas adalah para pendulang emas, sedangkan pelaku penembakan adalah anggota Brimob yang bertugas mengawasi pertambangan di daerah pedalaman Degowo, Kabupaten Paniai”.

Sejauh ini, Komnas HAM belum tahu latar belakang penembakan itu, karena lokasinya sangat sulit dijangkau.

Sebaliknya, polisi membantah tudingan itu. “Yang sebenarnya terjadi adalah penyerangan terhadap pos polisi di Paniai oleh sekelompok orang bersenjata, yang diduga anggota Organisasi Papua Merdeka pimpinan Salmon Yogi,” kata Kabid Humas Polda Papua Kombes Polisi Wachyono. “Polisi melawan dan berhasil melumpuhkan seorang penyerang.”(SHA)

http://berita.liputan6.com/read/363330/delapan-pendulang-emas-diduga-ditembak-polisi

Polda Papua: Informasi 8 Pendulang Ditembak Mati di Paniai Bohong

Rabu, 16/11/2011 15:22 WIB 


Jayapura - Polda Papua membantah kabar penembakan terhadap 8 warga sipil pendulang emas di Kabupaten Paniai, Papua. Informasi tewasnya 8 pendulang itu bohong.

Menurut Kabid Humas Polda Papua, Kombes Wachyono, penembakan tersebut merupakan berita bohong yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

"Jadi saya tegaskan bahwa tidak ada penembakan dan pembunuhan warga sipil di Paniai. Itu berita bohong dan tidak betul. Saya sudah telpon Kapolres Paniai untuk mengecek di tiap-tiap rumah sakit tapi tidak ada 8 korban dimaksud," kata Wachyono saat dikonfirmasi wartawan, Rabu (16/11/2011) diruang kerjanya.

Menurut Kombes Wachyono, kejadian yang sebenarnya adalah terjadi penyerangan terhadap pos polisi di Paniai sehingga aparat melakukan perlawanan dan berhasil melumpuhkan seorang dari pelaku penyerangan tersebut.

"Jadi kemarin karena mereka (kelompok kriminal bersenjata) terganggu dengan kehadiran polisi mereka menyerang Pospol disana dan mereka ada korban 1 orang dan tidak diketahui identitasnya karena masuk ke sungai yang arusnya sangat deras sekali. Ini kejadian yang sebenarnya yang saat ini terjadi di Paniai," kata dia.

Lebih lanjut ia menerangkan, kejadian lain di Paniai saat ini adalah adanya intimidasi oleh kelompok kriminal bersenjata kepada rakyat yang kerap meminta sejumlah uang kepada para pengusaha. Atas kejadian ini, pihak keamanan merasa perlu untuk melakukan pengamanan guna memberi rasa aman kepada warga lainnya yang beraktivitas.

"Bahkan disinyalir, mereka sering lakukan intimidasi kepada rakyat disana, baik usaha tambang dan pengusaha lainnya. Dan sebelum kejadian tanggal 12 November 2011 yaitu penyerangan pos polisi. Mereka tanggal 11 November 2011 sudah kirim surat kepada pengusaha, yang dilakukan kelompok kriminal bersenjata pimpinan Salmon Yogi untuk meminta sejumlah uang," jelasnya.

Kelompo itu juga diduga melakukan perampasan senjata milik Pospol di sana pada 17 Agustus. 2011 lalu. "Sehingga selain kami melakukan pengaman, dan kita juga mau mengejar senjata kami yang dirampas. Jadi sekali lagi penembakan warga sipil tidak ada dan itu berita bohong," tutur Wachyono.

Sebelumnya kabar tewasnya 8 pendulang itu disampaikan Anggota Komnas HAM Papua Hal Mathius Murib saat ditemui wartawan di ruang kerjanya di Jayapura, Papua, Rabu pagi. Mathius menjelaskan penembakan 8 orang itu terjadi pada Minggu (13/11) pukul 10.00 WIT.

Kedelapan nama korban penembakan yang dirilis Komnas HAM Papua tersebut, yakni Simon Adi (35) Matias Tenoye (30), Petrus Gobay (40), Yoel Ogetay (30), Benyamin Gobay (25), Marius Maday (35), Mathias Anoka (40), dan Yus Pigome (50).


(ndr/fay)
http://us.detiknews.com/read/2011/11/16/152214/1768668/10/polda-papua-informasi-8-pendulang-ditembak-mati-di-paniai-bohong