Showing posts with label Semarang. Show all posts
Showing posts with label Semarang. Show all posts
Monday, 1 July 2013
Thursday, 27 June 2013
Rekonstruksi Satpam Ditembak Polisi, Keluarga Korban Histeris
Rekonstruksi pemembakan satpam di Semarang (Foto: Nugroho/Okezone)
Selasa, 25 Juni 2013 11:11 wib
SEMARANG - Polisi menggelar rekonstruksi penembakan seorang satpam, Nuki Nugroho (25), oleh oknum anggota Polrestabes Semarang, Briptu PRY. Reka ulang dilakukan di lokasi kejadian di Jalan Guntur Nomor 26, Kota Semarang, Jawa Tengah.
Isak tangis mewarnai rekonstruksi puluhan anggota keluarga korban yang hadir di lokasi. Mereka datang beramai-ramai dengan menggunakan angkutan umum dan sepeda motor.
Salah satu bibi korban, Warjiati (43), menyesalkan peristiwa tragis yang menimpa keponakannya. Dia berharap pelaku dihukum mati, setimpal dengan yang dilakukannya.
"Saya berharap dia dihukum mati. Paling tidak dihukum seumur hidup," geram Warjiati Selasa (25/06/13).
Dia tidak menyangka pelaku penembakan merupakan teman dekat korban dan mengenal baik keluarganya. Apalagi, pada saat kejadian pelaku dikabarkan dalam pengaruh minuman keras.
"Saya sangat marah saat mendengar pelaku penembakan adalah teman keponakan saya itu. Kok tega, pas kejadian tersangka juga dalam keadaan mabuk. Polisi kok mabuk waktu tugas," herannya.
Akibat kejadian itu, keluarga korban masih syok. Korban dikenal sebagai pemuda yang baik dan menjadi tulang punggung keluarga. Kesedihan tidak hanya pada keluarga namun juga calon istri korban yang batal menikah dalam waktu dekat.
"Sampai saat ini ibu korban masih syok, susah untuk diajak berkomunikasi. Ponakan saya itu tulang punggung keluarga, jadi kami semua merasa kehilangan," tambahnya.
Diberitakan sebelumnya, karyawan PT TAG perusahaan pengawalan uang ATM, menjadi korban penembakan oleh oknum polisi Satuan Sabhara Polrestabes Semarang. Peristiwa nahas itu terjadi pada Sabtu, 15 Juni 2013.
Isak tangis mewarnai rekonstruksi puluhan anggota keluarga korban yang hadir di lokasi. Mereka datang beramai-ramai dengan menggunakan angkutan umum dan sepeda motor.
Salah satu bibi korban, Warjiati (43), menyesalkan peristiwa tragis yang menimpa keponakannya. Dia berharap pelaku dihukum mati, setimpal dengan yang dilakukannya.
"Saya berharap dia dihukum mati. Paling tidak dihukum seumur hidup," geram Warjiati Selasa (25/06/13).
Dia tidak menyangka pelaku penembakan merupakan teman dekat korban dan mengenal baik keluarganya. Apalagi, pada saat kejadian pelaku dikabarkan dalam pengaruh minuman keras.
"Saya sangat marah saat mendengar pelaku penembakan adalah teman keponakan saya itu. Kok tega, pas kejadian tersangka juga dalam keadaan mabuk. Polisi kok mabuk waktu tugas," herannya.
Akibat kejadian itu, keluarga korban masih syok. Korban dikenal sebagai pemuda yang baik dan menjadi tulang punggung keluarga. Kesedihan tidak hanya pada keluarga namun juga calon istri korban yang batal menikah dalam waktu dekat.
"Sampai saat ini ibu korban masih syok, susah untuk diajak berkomunikasi. Ponakan saya itu tulang punggung keluarga, jadi kami semua merasa kehilangan," tambahnya.
Diberitakan sebelumnya, karyawan PT TAG perusahaan pengawalan uang ATM, menjadi korban penembakan oleh oknum polisi Satuan Sabhara Polrestabes Semarang. Peristiwa nahas itu terjadi pada Sabtu, 15 Juni 2013.
Berita Selengkapnya Klik di Sini
http://jogja.okezone.com/read/2013/06/25/512/827170/rekonstruksi-satpam-ditembak-polisi-keluarga-korban-histeris
Labels:
Jateng,
juni 2013,
keluarga protes,
oknum,
satpam ditembak mati,
Semarang
Monday, 17 June 2013
Banyak polisi main tembak, bukti rekrutmen Polri amburadul
16 Juli 2013
Kasus penembakan yang dilakukan Brigadir Satu polisi PY di Semarang bukan yang pertama kalinya terjadi. Peristiwa Brigadir PY ini merupakan kasus yang kesekian kali, polisi menembak warga sipil yang tak berdosa.
Komisioner Kompolnas, M Nasser, mengatakan kasus-kasus seperti ini mencerminkan amburadulnya proses rekrutmen anggota kepolisian. Rekrutmen anggota kepolisian itu tidak dapat mendeteksi jiwa dan kondisi psikologis calon polisi yang labil.
"Penyalahgunaan senpi (senjata api) itu disebabkan rendahnya kejiwaan orang (labil) dan sikap penghargaan terhadap hukum oleh anggota Polri, bahwa rekrutmen polisi ini perlu lebih keras dan lebih selektif. Karena beberapa bulan ini punya pengalaman yang kurang bagus," ujarnya saat berbincang dengan merdeka.com (15/5) malam.
Menurut Nasser, pelaku Briptu PY adalah seorang polisi yang labil. Diduga Briptu PY menembak korban di bawah pengaruh minuman beralkohol. Inilah yang menurut Nasser juga harus ditertibkan, dengan melarang anggota polisi mabuk.
"Perlu diatur bahwa anggota polisi tidak boleh mabuk. Kalau minum hanya 1 sendok saja," ujarnya.
Nasser mengakui tentunya hal itu akan sangat sulit, mengingat pihaknya tidak bisa melarang satu persatu personel kepolisian yang meminum minuman berakohol. Namun, menurut Nasser, bisa saja para personel itu di minimalkan minumnya, jangan sampai mabuk.
"Ya kita memang tidak bisa melarang kalau polisi minum satu dua teguk, asal jangan sampai mabuk," ujarnya.
M Nasser menambahkan perlu juga diatur suatu aturan dalam keputusan Kapolri atau Peraturan Pemerintah berupa manajemen penguasaan senjata api bagi anggota polisi yang menjalankan jabatan, pekerjaan atau tugas yang dipercaya. Nasser menyayangkan peristiwa Briptu PY yang seharusnya mengawal sopir jasa pengiriman uang malah berbuat demikian. Menembak mati sang sopir tepat di kepalanya hingga tewas.
"Perlu diaturnya manajemen penguasaan senpi. Jadi orang-orang yang megang senjata api itu melalui jabatan, pekerjaan, tugas yang dipercaya harus melalui tes khusus," ujarnya.
Kompolnas pun mendesak dibuatkan khusus terkait peraturan penguasaan senpi ini. Sebab, pada peraturan sebelumnya tidak diatur dengan jelas dan sanksi terbilang ringan.
"Sebetulnya ada aturan Perkap tentang disiplin anggota Polri menggunakan senpi dsb. Tetapi mereka kalau hanya ngikut saja, sanksinya tidak jelas. Ada peraturannya, tapi sanksinya rendah saja. Harusnya ada perkap khusus tentang ini," tutupnya.
Kepolisian Resor Kota Besar Semarang menyelidiki penyebab tindakan penembakan yang dilakukan Brigadir Satu PY, anggota yang bertugas sebagai pengawal perusahaan jasa pengawalan uang hingga menewaskan seseorang. Briptu PY diduga dalam pengaruh alkohol saat kejadian.
"Tindakan pelaku sudah tidak terkontrol, sedang dilakukan pemeriksaan," kata Kepala Polrestabes Semarang Komisaris Besar Elan Subilan di Semarang seperti dikutip dari Antara, Sabtu (15/6).
Tindakan pelaku yang menewaskan sopir PT TAG Semarang bernama Nuki Nugroho (25) tersebut diduga akibat pengaruh minuman keras. Elan menjelaskan usai bertugas mengawal, pelaku tidak pulang kembali ke rumah dan membeli minuman keras.
Saat kejadian pada sekitar pukul 03.00 WIB, korban Nuki dalam keadaan tidur. Pelaku menggunakan senjata jenis Revolver dengan dua pengaman yang disiapkan.
Komisioner Kompolnas, M Nasser, mengatakan kasus-kasus seperti ini mencerminkan amburadulnya proses rekrutmen anggota kepolisian. Rekrutmen anggota kepolisian itu tidak dapat mendeteksi jiwa dan kondisi psikologis calon polisi yang labil.
"Penyalahgunaan senpi (senjata api) itu disebabkan rendahnya kejiwaan orang (labil) dan sikap penghargaan terhadap hukum oleh anggota Polri, bahwa rekrutmen polisi ini perlu lebih keras dan lebih selektif. Karena beberapa bulan ini punya pengalaman yang kurang bagus," ujarnya saat berbincang dengan merdeka.com (15/5) malam.
Menurut Nasser, pelaku Briptu PY adalah seorang polisi yang labil. Diduga Briptu PY menembak korban di bawah pengaruh minuman beralkohol. Inilah yang menurut Nasser juga harus ditertibkan, dengan melarang anggota polisi mabuk.
"Perlu diatur bahwa anggota polisi tidak boleh mabuk. Kalau minum hanya 1 sendok saja," ujarnya.
Nasser mengakui tentunya hal itu akan sangat sulit, mengingat pihaknya tidak bisa melarang satu persatu personel kepolisian yang meminum minuman berakohol. Namun, menurut Nasser, bisa saja para personel itu di minimalkan minumnya, jangan sampai mabuk.
"Ya kita memang tidak bisa melarang kalau polisi minum satu dua teguk, asal jangan sampai mabuk," ujarnya.
M Nasser menambahkan perlu juga diatur suatu aturan dalam keputusan Kapolri atau Peraturan Pemerintah berupa manajemen penguasaan senjata api bagi anggota polisi yang menjalankan jabatan, pekerjaan atau tugas yang dipercaya. Nasser menyayangkan peristiwa Briptu PY yang seharusnya mengawal sopir jasa pengiriman uang malah berbuat demikian. Menembak mati sang sopir tepat di kepalanya hingga tewas.
"Perlu diaturnya manajemen penguasaan senpi. Jadi orang-orang yang megang senjata api itu melalui jabatan, pekerjaan, tugas yang dipercaya harus melalui tes khusus," ujarnya.
Kompolnas pun mendesak dibuatkan khusus terkait peraturan penguasaan senpi ini. Sebab, pada peraturan sebelumnya tidak diatur dengan jelas dan sanksi terbilang ringan.
"Sebetulnya ada aturan Perkap tentang disiplin anggota Polri menggunakan senpi dsb. Tetapi mereka kalau hanya ngikut saja, sanksinya tidak jelas. Ada peraturannya, tapi sanksinya rendah saja. Harusnya ada perkap khusus tentang ini," tutupnya.
Kepolisian Resor Kota Besar Semarang menyelidiki penyebab tindakan penembakan yang dilakukan Brigadir Satu PY, anggota yang bertugas sebagai pengawal perusahaan jasa pengawalan uang hingga menewaskan seseorang. Briptu PY diduga dalam pengaruh alkohol saat kejadian.
"Tindakan pelaku sudah tidak terkontrol, sedang dilakukan pemeriksaan," kata Kepala Polrestabes Semarang Komisaris Besar Elan Subilan di Semarang seperti dikutip dari Antara, Sabtu (15/6).
Tindakan pelaku yang menewaskan sopir PT TAG Semarang bernama Nuki Nugroho (25) tersebut diduga akibat pengaruh minuman keras. Elan menjelaskan usai bertugas mengawal, pelaku tidak pulang kembali ke rumah dan membeli minuman keras.
Saat kejadian pada sekitar pukul 03.00 WIB, korban Nuki dalam keadaan tidur. Pelaku menggunakan senjata jenis Revolver dengan dua pengaman yang disiapkan.
[hhw]
http://www.merdeka.com/peristiwa/banyak-polisi-main-tembak-bukti-rekrutmen-polri-amburadul.html
Labels:
Jateng,
juni 2013,
keluarga protes,
oknum,
polisi menembak,
satpam ditembak mati,
Semarang
Drunk Semarang police officer grilled over fatal shooting
Ainur Rohmah, The Jakarta Post, Semarang | Archipelago | Mon, June 17 2013, 10:20 AM
A member of the Semarang Police, First Brig. (Briptu) Priya Yustianto, 26, could face disciplinary action and ethics sanctions for allegedly killing a security guard in Semarang, Central Java, on Saturday morning.Semarang Police Chief Sr. Comr. Elan Subilan said on Sunday that Priya was officially declared a
suspect, and is faced with the prospect of being fired from the police force for his misconduct.
According to Elan, Priya shot Nucky Nugroho, 25, who worked as a security guard at PT Tunas Artha Graha (TAG), a security service company, at around 2:30 a.m. at the company’s mess hall.
Priya had been assigned to safeguard the PT TAG office. Priya and Nucky were known to be good friends. It was reported that Priya was drunk when he accidentally shot Nucky in the head.
“Briptu Priya was off duty at 10 p.m., and since he had the morning shift the next day and it was too late to go back to his home in Grobogan [which is about 60 kilometers from Semarang], he decided to stay in town and bought congyang [local alcoholic beverage instead. He got drunk on Jl. Pahlawan,” said Elan.
Later on, the drunk officer went to PT TAG mess hall and later found three employees asleep. Priya then played a lethal game of chance with his pistol similar to Russian roulette, placing the gun to each of the employee’s heads.
“In the first two chances, he [Priya] pointed the gun at the two employees, fired it, but nobody got hurt. In the third chance, however, the shot killed Nucky,” said Elan, adding that the bullet had pierced Nucky’s head from the back going forward.
Nucky was in a critical condition when he was taken to the Kariadi Hospital. He died at dawn.
Separately, Central Java Police Chief Insp. Gen. Dwi Priyatno said the incident was a dereliction of his duty as Priya should have returned the pistol to the station when he finished his shift.
Dwi said that Priya had undergone a urine test to find out whether he had also consumed drugs and the results were negative.
“There is no malice in this case. It is merely a dereliction of duty which has caused death,” he added.
Nucky’s father, Muryanto, 63, confirmed that Priya and Nucky were friends. “He [Priya] often came to our house. He knew him [Nucky] well,” said Muryanto.
Meanwhile, Elan expressed his deepest sympathies to Nucky’s family over the incident.
“We have apologized to the victim’s family and we have also provided assistance to the family [for the funeral],” he said.
http://www.thejakartapost.com/news/2013/06/17/drunk-semarang-police-officer-grilled-over-fatal-shooting.html
Labels:
Jateng,
juni 2013,
oknum,
polisi mabuk,
satpam ditembak mati,
Semarang
Saturday, 15 June 2013
Satpam Itu Ditembak Oknum Polisi Saat Tidur
Sabtu, 15 Juni 2013 | 14:33 WIB
SEMARANG, KOMPAS.com - Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Elan Subilan mengatakan, satpam bernama Luki Nugroho (25) tewas ditembak oleh anggota polisi saat sedang tidur. Ketika itu korban bersama dua rekan lainnya tengah istirahat di sebuah ruang istirahat perusahaan PT Tunas Arta Graha.
Sekitar pukul 03.00 WIB dini hari, pelaku yakni Brigadir Satu Priyo Yustianto seorang anggota Sabhara Polrestabes Semarang datang keruangan tersebut. Tanpa ada masalah atau alasan lain, pelaku kemudian menodongkan pistol jenis revolver pada ketiga orang yang tengah beristirahat di ruang itu. Pelaku datang dalam kondisi mabuk.
Peluru bersarang di kepala korban bagian kanan dan tembus ke bagian kiri. Korban mengalami luka parah sebelum akhirnya tewas di IGD RSUP dr Kariadi Semarang. Rekan korban yang lain sempat terbangun dan lari untuk menyelamatkan diri.
"Harusnya pelaku itu hanya jaga sampai jam 10 malam, tapi bukannya pulang malah pergi minum 'congyang' (jenis minuman keras) di Jalan Pahlawan. Pulang dari sana kembali ke perusahaan itu malah nodong kawannya pakai pistol," kata Elan saat ditemui di IGD RSUP dr Kariadi Semarang.
Briptu Priyo Yustianto memang bertugas melakukan pengawalan di PT Tunas Arta Graha, sebuah perusahaan jasa pengisian uang ATM. Perusahaan tersebut beralamat di Jalan Guntur no 26 Gajahmungkur Semarang.
"Jadi dia ini memang sering ke situ, sehingga bolak-balik ke situ ya tidak apa-apa. Itu memang tempat istirahat para petugas, memang pelaku terpengaruh alkohol," jelasnya.
Elan mengatakan berdasarkan hasil pemeriksaan sementara tidak ada masalah atau dendam antara pelaku dan korban. Ia mengatakan pelaku juga akan menjalani pemeriksaan kejiwaan. Elan memastikan akan menindak tegas anggota yang melakukan kelalaian tersebut.
"Kode etik dan disiplin, bisa juga dipecat. Dan kami tidak akan menutupi peristiwa ini karena itu memang kesalahan," tandasnya.
Editor : Caroline Damanik
http://regional.kompas.com/read/2013/06/15/14332659/Satpam.Itu.Ditembak.Oknum.Polisi.Saat.Tidur.
Labels:
ditembak mati,
Jateng,
juni 2013,
oknum,
pt tunas arta graha,
satpam,
Semarang
Seorang Satpam Tewas Ditembak Mati Oknum Polisi
Sabtu, 15 Juni 2013 - 15:05
Semarang, Seruu.com - Seorang petugas satuan pengamanan (satpam) jasa pengisian uang ATM PT TAG dikabarkan tewas tertembus timah panas di bagian kepala, Sabtu (15/6/2013) dini hari.
Luky ditembak ketika sedang berjaga di kantornya, Jalan Guntur nomor 26 Semarang, Jawa Tengah. Sesaat setelah ditembak, ia sempat mendapatkan perawatan medis RSUP Dr Kariadi. Sayang, nyawanya tak tertolong.
Berdasarkan informasi yang dihimpun di lingkungan Polrestabes Semarang, warga Lamper Mijen RT 3/ RW 5 Lamper Tengah, Semarang itu ditembak sekitar pukul 03.30 WIB. Korban tertembak di bagian kepala, dengan menggunakan senjata api (senpi) jenis Revolver milik Briptu Priya diperbantukan di perusahaaan ini.
Insiden bermula saat Briptu Priya datang ke kantor PT TAG Sabtu dini hari. Priya yang tampak kesal sempat membanting helm beberapa saat setelah tiba di kantor ini.
Entah bagaimana awalnya, Briptu Priya menodongkan senjatanya kepada Luky dan akhirnya menyalak. Peluru yang dimuntahkan mengenai kepala korban yang langsung tersungkur. Korban pun langsung dilarikan ke RSUP Dr Kariadi.
Belum diketahui penyebab pasti penembakan tersebut. Sementara itu, Briptu Priya berikut barang bukti senpi telah diamankan di Provost Polrestabes Semarang. Belum ada penjelasan resmi dari Polrestabes Semarang terkait insiden penembakan ini.[ast]
- See more at: http://city.seruu.com/read/2013/06/15/169273/seorang-satpam-tewas-ditembak-mati-oknum-polisi#sthash.3RYUPWRp.dpuf
Sunday, 26 May 2013
Preman Pedurungan Ditembak Polisi
Diposkan sekitar 1 hari yang lalu
Semarang – Heri Santoso alias Bangak (22), warga Gemah Pedurungan, Semarang, ambruk setelah kakinya diterjang timah panas polisi, kemarin (24/5).
Nasib lebih beruntung dialami Frans S Tanaka (23) warga Bugangan Semarang Timur, walau digelandang petugas namun ia tak ditembak lantaran tak memberikan perlawanan saat Polisi menangkapnya.
Kedua pelaku merupakan rampok jalanan yang tak segan-segan melukai korbannya. Salah satu korban keganasan dua pelaku ini yakni Dama Stiyawan (20) warga Gemah Selatan I, Gemah, Pedurungan, Semarang.
Korban dibacok pada bagian lengan kanan dan motor Yamaha Mio miliknya dibawa lari pelaku saat berada di Jalan MT Haryono Semarang.
“Kami menangkap dua pelaku perampok jalanan dan terpaksa silumpuhkan dengan tembakan karena ketika ditangkap mencoba melawan,” tegas Kapolresta Semarang Kombes, Elan Subilan saat gelar perkara di Mapolresta setempat.
Selain kedua tersangka, juga disita dua senjata tajam jenis parang panjang 40 cm dan 50 cm, helm warna putih, serta uang tunai Rp 350 ribu dan motor. (krj/tyo)
http://www.kabarsemarang.com/preman-pedurungan-ditembak-polisi
Wednesday, 1 May 2013
Remaja Lulusan SMK Otomotif Ditembak Polisi
SEMARANG– Seorang remaja lulusan SMK Otomotif, Reza Nazib Mafaza (18), warga Karang Kimpul RT 08 RW 01, Kaligawe, Gayamsari, Semarang, terpaksa "dihadiahi" timah panas oleh tim Reserse Kriminal Polsek Gayamsari Semarang.
Reza bersama seorang temannya--yang masih buron, melakukan aksi penjambretan di sekitar pasar Gayamsari pada Kamis (25/4) lalu. Sebelum melakukan aksinya, tersangka mengaku menenggak pil koplo jenis Trihex dan Buto Ijo (BI).
"Terpaksa tersangka kami lumpuhkan menggunakan timah panas, karena berusaha kabur dan melakukan perlawanan, " kata Kapolsek Gayamsari Kompol Juara Silalahi kepada wartawan, Senin (29/4).
Korbannya adalah seorang ibu muda bernama Mariani (30). Mariani sendiri sempat dirawat di rumah sakit akibat luka terjatuh saat ditarik oleh tersangka.
Dalam aksi tersebut, dua pelaku awalnya berboncengan menggunakan motor Yamaha Jupiter Z. Begitu melihat korban, keduanya langsung memepet dan merampas tas milik korban.
"Korban terjatuh, sementara tas berhasil dirampas dan keduanya kabur mengendarai motor. Namun aksi tersebut diketahui petugas kepolisian yang sedang patroli. Tersangka terjatuh dari motor saat terjadi kejar-kejaran sebelum akhirnya berhasil ditangkap," imbuh Kanit Reskrim Polsek Gayamsari AKP Suharto.
Para pelaku berusaha melakukan perlawanan hingga akhirnya dilumpuhkan menggunakan timah panas. "Sementara seorang pelaku yang sudah diketahui identitasnya masih kami buru," kata Suharto.
Tersangka Reza mengaku baru pertama kali melakukan aksi penjambretan. Awalnya, Rabu (24/4) sekitar pukul 21.00, dia diajak menenggak pil koplo jenis Trihex dan Boto Ijo (BI). "Setelah itu, kami jalan-jalan di Kota Semarang. Begitu melihat seorang ibu-ibu yang mengendarai motor, kemudian muncul ide menjambret," ujar remaja lulusan SMK Otomotif Dr Cipto Semarang itu.
Dia sendiri mengaku membonceng. Atas perintah temannya, dia kemudian berperan merampas tas milik korban. "Saya sebenarnya takut, tapi kemudian nekat dan langsung aja menarik tasnya," imbuh Reza.
Reza mengaku sedang butuh uang untuk membayar hutang.
Dia mengaku,penghasilan selama ini bekerja sebagai tukang parkir di sekolah Terang Bangsa Semarang ini , jauh dari harapan. "Makanya saya mau aja saat diajak menjambret," ujarnya.
Saat ini dia mendekam di sel tahanan Mapolsek Gayamsari untuk mengikuti proses hukum lebih lanjut. Reza bakal dijerat dengan Pasal 368 KUHP tentang perampasan dengan ancaman hukuman pidana maksimal 10 tahun penjara.
(G-15/LSP)
by: red
- See more at: http://www.lawangsewupos.com/2013/04/remaja-lulusan-smk-otomotif-ditembak.html#sthash.dKmyWvz6.dpuf
(G-15/LSP)
by: red
Friday, 18 January 2013
Dikira Pencuri, Siswa SMK Ditembak Polisi
Kamis, 17/01/2013 18:30 WIB
Semarang - Seorang siswa SMK di Kota Tegal, Andri Tumpak Simambara (18) menjadi korban salah tembak oknum polisi hari Rabu (16/1/2013) malam. Andri ditembak kaki kirinya karena polisi mengira dia pelaku pencurian dengan pemberatan (curat) yang sedang dicari oleh oknum tersebut.
Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol Djihartono mengatakan sebelum kejadian yaitu pukul 22.20 hari Rabu (16/1) kemarin terjadi tindak pidana curat dengan modus memecah kaca mobil Ford putih bernopol B 1034 KKT yang diparkir di depan rumah di Jl S Parman Kelurahan Tegalsari, Tegal.
"Ada kasus curat, mobil dipecah kacanya dan mengambil laptop. Dalam waktu yang hampir bersamaan terjadi hal serupa," kata Djihartono di Mapolda Jateng, Jl Pahlawan Semarang, Kamis (17/1/2013).
Pukul 22.30, tindak pidana curat kembali terjadi di depan SMPN 7, Jl Kapten Sudibyo Tegal. Kaca mobil Toyota Avanza hitam bernopol H 9245 LW dipecah. Pelaku mengambil tas hitam berisi dokumen dan surat penting serta uang sebesar Rp 400 ribu milik Sri Widati Kusumaningtyas.
"Dengan dasar itu, polisi melakukan pengejaran di beberaapa tempat di Tegal Kota," tandas Djihartono.
Dari hasil identifikasi olah TKP oleh Satuan Reskrim Polresta Tegal dan Kepala Bagian Operasi IPDA Belnas, diketahui pelaku berboncengan tiga mengendarai Satria FU merah dan ada satu yang membawa tas ransel hitam serta mengendarai Honda Revo Hitam. Selanjutnya polisi melakukan penyisiran dari Jl Kapten Sudibyo hingga Tegal Selatan dan Terminal Tegal. Kemudian pengejaran difokuskan ke arah dalam kota.
"Sampailah mereka di kompleks SPBU Dedy Jaya. Di sana ada anak SMK yang juga membawa ransel hitam. Saat ditanya sedang apa, dia menjawab sedang menunggu temannya isi bensin," tutur Djihartono.
Saat itulah, tiba-tiba korban meninggalkan polisi yang bertanya padanya itu. Polisi pun mengira korban adalah pelaku curat yang berusaha kabur. Tiga tembakan peringatan dikeluarkan, namun korban tidak menggubrisnya sehingga oknum polisi berpangkat brigadir tersebut melepas tembakan dan mengenai kaki kiri Andri.
"Lari terus ditembak. Kemudian anggota mengetahui kalau salah, bukan tersangka yang ditembak," jelas Djihartono.
Korban segera dibawa ke RS Harapan Anda Tegal untuk menjalani perawatan. Saat ini korban dirawat di ruang Flamboyan.
"Kapolres Tegal sudah meminta maaf kepada keluarga korban. Pihak keluarrga yang saya dengar dari Kapolres, meminta agar Polri mengobati sampai sembuh," katanya.
Sementara itu, oknum polisi yang melakukan penembakan, Brigadir AK, sudah dimintai keterangan. Barang bukti berupa senpi diamankan oleh Propam Polres Tegal Kota.
"Yang bersangkutan di tempatkan di staf sebagai seksi umum. Yang jelas terhadap ketidak profesionalannya sedang diambil keterangannya oleh seksi Propam Polres Tegal Kota," tutur Djihartono.
"Yang bersangkutan bisa kena kode etik profesi sesuai Surat keputusan Kapolri nomor 1 tahun 2003 tentang kode etik profesi," imbuhnya.
Kabid Propam Polda Jateng, Kombes Pol Alex Rewos mengatakan pihaknya sudah mengirimkan tim ke Polres Tegal untuk melakukan pengawasan.
"Saat ini kami masih menunggu hasil pemeriksaan kalau ada kelalaian," ujarnya.
(alg/try)
http://news.detik.com/read/2013/01/17/183041/2145550/10/
Labels:
januari 2013,
Jateng,
salah tembak,
Semarang,
Tembak Kaki
Thursday, 27 December 2012
49 Orang Ditembak Polisi, 17 Tewas
SEMARANG- Kepolisian Republik Indonesia rupanya
masih terlalu gegabah saat bertugas. Terbukti, selama tahun 2012, sedikitnya
ada 37 kasus salah tembak. Kasus salah tembak tersebut menelan korban sebanyak
49 orang, 17 di antaranya tewas dan 32 luka.
Demikian diungkapkan Ketua Presidium
Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane, Rabu (26/12/2012). "Kasus salah
tembak ini persoalan serius. Bagaimana mungkin rakyat tak bersalah menjadi
korban salah tembak. Data tersebut cukup memprihatinkan. Atas hal itu, Polri
harus melakukan evaluasi terhadap kinerja jajarannya," tandasnya.
Dikatakannya, kasus salah tembak sepanjang
tahun 2012 ini merata terjadi di seluruh Indonesia, mulai dari Aceh hingga
Papua. Kasus pertama terjadi 3 Januari 2012 di NTT dan terakhir 21
November 2012.
"Terbanyak, kasus salah tembak terjadi
di Jakarta, yakni 6 kasus. Kedua, di Sulawesi Utara ada 5 kasus," katanya.
Salah satu insiden salah tembak di antaranya
menewaskan korban seorang wanita hamil 6 bulan beridentitas Federika Metelmetti
(38). Ia tewas akibat senjata api milik pacarnya, seorang polisi, di dekat Pos
Polisi Kalimak, Bovendigul, Papua.
"Sebagian besar, korban salah tembak
akibat peluru nyasar. Sebagian lagi karena soal sepele, yakni cemburu dan
tersinggung. Korban salah tembak mulai dari anak-anak usia 4 tahun hingga orang
tua usia 57 tahun." katanya.
Menurutnya, meski masih tinggi, data salah
tembak tahun 2012 ini sedikit menurun dibanding tahun 2011. "Tahun lalu
ada 97 orang tak bersalah ditembak polisi, 19 tewas dan 78 terluka,"
rincinya.
Pane menandaskan, aksi polisi
"koboi" dalam hal ini diklasifikasikan dalam dua kategori. Pertama,
aksi main tembak dan kedua, aksi salah tembak. "Korbannya mulai dari orang
gila, wanita, pengusaha, polisi, pelajar dan masyarakat biasa," katanya.
Lebih lanjut dikatakannya, tahun 2012, ada
dua polisi yang dihukum pengadilan karena kasus salah tembak. Pertama, Briptu
Eko divonis 11 tahun pejara oleh PN Sidoardjo karena menembak mati guru ngaji.
Kedua, Aiptu Avit divonis PN Tulangbawang 15 tahun penjara karena menembak mati
Sahab di lokasi konser musik dangdut.
Selain itu, PN Pasaman Barat menghukum Polsek
Kinali membayar ganti rugi Rp 300 juta karena menembak Iwan Mulyadi. "Atas
hal itu, IPW mendesak Polri harus melakukan evaluasi dan mengawasi kinerja
jajarannya," ujarnya. (Mughis/LSP)
by: red
- See more at:
http://www.lawangsewupos.com/2012/12/49-orang-ditembak-polisi-17-tewas.html#sthash.rby3wG0x.dpuf
http://www.lawangsewupos.com/2012/12/49-orang-ditembak-polisi-17-tewas.html#sthash.rby3wG0x.dpbs
Wednesday, 14 November 2012
Gubernur Jateng : Pengedar Narkoba di”Dor” Saja Tidak Perlu Grasi.
SEMARANG-JN.
admin | Nov 14, 2012 | Comments 0
Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo, menilai cara efektif untuk menanggulangi peredaran narkotika dan obat-obatan terlarang adalah dengan menembak mati pengedar atau pengguna barang berbahaya tersebut.
“Di dor saja, pengedar atau penggunanya,” kata Bibit di Semarang, hari ini.
Menurut Bibit, cara tersebut dinilai cukup efektif untuk menghilangkan dampak negatif terhadap masyarakat. Terlebih lagi, banyak pengguna atau pengedar yang setelah menyelesaikan masa hukumannya justru menjadi bandar narkoba.
“Di dor, jangan grasi, grasi, grasi,” katanya.
Disebutnya lebih baik seribu pengguna atau pengedar narkoba yang mati, daripada jutaan masyarakat terancam dampak negatif barang berbahaya tersebut di kemudian hari. Sebab jika seseorang telah kecanduan narkoba, akan sangat sulit menyembuhkannya.
Bibit juga menyayangkan banyaknya selebriti yang berurusan dengan hukum karena narkoba.
“Sudah populer, tertangkap karena narkoba, menyesal, bebas, kemudian masih menggunakan lagi. Kurang apa mereka ini,” kata Bibit.(bes)
http://justisianews.com/gubernur-jateng-pengedar-narkoba-didor-saja-tidak-perlu-grasi/
Labels:
bibit waluyo,
ditembak mati,
nopember 2012,
Semarang
Wednesday, 31 October 2012
Buru Maling, Polisi Malah Menembak Siswa SMK
Edy Suprayitno
Selasa, 30 Oktober 2012 17:50 WIB
Guntur terbaring akibat salah tembakan. (Jaringnews/Edy Suprayitno)
Guntur dalam menjalani perawatan di kelas terendah.
SEMARANG, Jaringnews.com - Seorang siswa kelas XI SMK Peristek Kabupaten Tegal, ditembak polisi. Adalah Guntur Sukistyo sang siswa bernasib naas tersebut. Ia ditembak polisi karena dikira pencuri. Ia ditembak di Desa Karangmalang, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Tegal, Minggu (28/10/2012) lalu.
Akibat tembakan tersebut, Guntur yang sebelumnya dirawat di RSI Harapan Anda Kota Tegal, di pindah ke RS Karyadi Semarang.
"Ada serpihan peluru yang menempel di pipi kiri. Dan ini dibutuhkan dokter bedah saraf dan bedah plastik,"kata Darwito humas RSUP Karyadi (30/10/2012).
Meski menjadi korban salah tembak, Guntur dalam menjalani perawatan di kelas terendah. Di kamar Kelas 3 ruang A 1 itu, dipenuhi sekitar 8 orang pasien lain. Guntur hanya ditemani Kartubi pakdhenya yang tertidur disampingnya. Luka di pipi kiri Guntur tampak membengkak. Selang infus dan oksigen terpasang di tubuh Guntur yang tertidur. Tidak terlihat ada penjagaan dari polisi sebagaimana maling yang ditembak.
Menurut Darwito saat ini Guntur sudah stabil. Meski demikian Darwito menyebutkan bahwa masih sangat sulit untuk melakukan operasi pengambilan serpihan proyektil di pipi Guntur.
"Sangat sulit melakukan operasi untuk mengambil serpihan peluru di pipi Guntur, banyak saraf yang mesti diperhitungkan oleh doker spesialis saraf," kata Darwito
Guntur tertembak pipinya ketika petugas kepolisian Tegal tengah memburu pelaku pencurian. Ketika itu Guntur yang terbangun karena mendengar suara ribut di depan rumahnya langsung terkena sambaran peluru yang membuatnya tersungkur.
Petugas kepolisian dan keluarga langsung membawanya kerumah sakit dan semalam dirujuk ke RSUP Karyadi. Semua biaya ditanggung kepolisian Tegal.
"Sesuai permintaan kami tempatkan di kelas tiga," kata Darwito.
Hingga kini belum ada penjelasan resmi dari pihak kepolisian.
(Eds / Nky)http://jaringnews.com/politik-peristiwa/umum/26465/buru-maling-polisi-malah-menembak-siswa-smkAkibat tembakan tersebut, Guntur yang sebelumnya dirawat di RSI Harapan Anda Kota Tegal, di pindah ke RS Karyadi Semarang.
"Ada serpihan peluru yang menempel di pipi kiri. Dan ini dibutuhkan dokter bedah saraf dan bedah plastik,"kata Darwito humas RSUP Karyadi (30/10/2012).
Meski menjadi korban salah tembak, Guntur dalam menjalani perawatan di kelas terendah. Di kamar Kelas 3 ruang A 1 itu, dipenuhi sekitar 8 orang pasien lain. Guntur hanya ditemani Kartubi pakdhenya yang tertidur disampingnya. Luka di pipi kiri Guntur tampak membengkak. Selang infus dan oksigen terpasang di tubuh Guntur yang tertidur. Tidak terlihat ada penjagaan dari polisi sebagaimana maling yang ditembak.
Menurut Darwito saat ini Guntur sudah stabil. Meski demikian Darwito menyebutkan bahwa masih sangat sulit untuk melakukan operasi pengambilan serpihan proyektil di pipi Guntur.
"Sangat sulit melakukan operasi untuk mengambil serpihan peluru di pipi Guntur, banyak saraf yang mesti diperhitungkan oleh doker spesialis saraf," kata Darwito
Guntur tertembak pipinya ketika petugas kepolisian Tegal tengah memburu pelaku pencurian. Ketika itu Guntur yang terbangun karena mendengar suara ribut di depan rumahnya langsung terkena sambaran peluru yang membuatnya tersungkur.
Petugas kepolisian dan keluarga langsung membawanya kerumah sakit dan semalam dirujuk ke RSUP Karyadi. Semua biaya ditanggung kepolisian Tegal.
"Sesuai permintaan kami tempatkan di kelas tiga," kata Darwito.
Hingga kini belum ada penjelasan resmi dari pihak kepolisian.
Labels:
Jateng,
oktober 2012,
salah tembak,
Semarang,
tegal
Subscribe to:
Posts (Atom)
