Monday, 10 June 2013

Polisi Gadungan Ditembak saat Coba Melarikan Diri


Sabtu, 8 Juni 2013 17:46 WIB

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Jajaran Polsek Sungai Raya menangkap Andi Mesta (30), warga Sulawesi Selatan, tersangka perampasan sepeda motor dan penjambretan. Tersangka yang dalam aksinya mengaku polisi ini ditangkap dikawasan Jl Diponogoro, Kota Pontianak, Sabtu (8/6/2013).

Menurut Kapolsek Sungai Raya, AKP Sugiyono, tersangka terpaksa dilumpuhkan dengan timah panas karena berusaha melakukan perlawanan dan mencoba melarikan diri. Bahkan dia menodongkan senjata api ke arah anggota.

"Tersangka ditangkap di kawasan Jalan Diponogoro Pontianak. Tim lidik Polsek Sungai Raya mendapat info tersangka berada di sekitar Hotel Khatulistiwa, kemudian tim lidik bersama korban mendatangi tempat tersebut," ungkap Sugiono.

Saat dilakukan pemeriksaan tersangka benar berada di lokasi dengan membawa sepeda motor milik korban dan selanjutnya dilakukan penangkapan terhadap tersangka.

Selengkapnya baca edisi cetak Tribun Pontianak, Minggu (9/6).

Penulis : Isfiansyah
Editor : Arief
Sumber : Tribun Pontianak

http://pontianak.tribunnews.com/2013/06/08/polisi-gadungan-ditembak-saat-coba-melarikan-diri?utm_medium=twitter&utm_source=twitterfeed

Satu Tersangka Teroris Tewas Ditembak di Poso


Ilustrasi Densus 88: Anggota tim Densus 88 saat baku tembak dengan tersangka dalam penggerebegan rumah yang dikontrak tersangka teroris di Kampung Batu Rengat, Cigondewah Hilir, Bandung, Jawa Barat, Rabu (8/5/2013). Tiga tersangka teroris tewas dalam baku tembak dan satu tertangkap saat 

penggerebegan yang berlangsung selama 9 jam. | KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

  • Penulis :
  • Dian Maharani
  • Senin, 10 Juni 2013 | 17:45 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Satu orang tersangka kasus terorisme, Nudin alias Bondan tewas ditembak aparat kepolisian di Jalan Pulau Irian, Poso, Sulawesi Tengah, Senin (10/6/2013), sekitar pukul 16.00 WITA. Kepolisian mengatakan, Nudin terpaksa ditembak karena melakukan perlawanan saat upaya penangkapan oleh tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri.
“Pada saat akan ditangkap, yang bersangkutan menembak anggota Densus sehingga anggota membalas tembakan dan mengakibatkan tersangka meninggal dunia,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal (Pol) Boy Rafli Amar di Jakarta, Senin (10/6/2013).
Boy menerangkan, awalnya tersangka keluar dari kediamannya menggunakan sepeda motor. Saat itu aparat berusaha menghentikan Nudin. Namun Nudin terus melaju dan menabrak mobil saat akan dilakukan penangkapan itu.
Dalam penangkapan itu polisi menyita sebuah pistol dengan 6 butir peluru. Nudin diduga terkait jaringan buronan teroris di Poso yaitu Santoso.

http://nasional.kompas.com/read/2013/06/10/17450844/Satu.Tersangka.Teroris.Tewas.Ditembak.di.Poso

BNPT: Satu Teroris Mati, ya Kita Syukuri


  • Penulis :
  • Sabrina Asril
  • Senin, 10 Juni 2013 | 18:30 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) meminta publik untuk tidak menghakimi aksi pemberantasan terorisme yang dilakukan Tim Densus 88 Antiteror. Ketua BNPT Ansyaad Mbai menilai aksi itu seharusnya didukung semua lapisan masyarakat.
"Sekarang semua kelompok teroris tujuan mau buat negara, mengubah konstitusi. Sekarang bangsa kita maunya gimana? Mau diapain orang-orang seperti ini?" ujar Ansyaad di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (10/6/2013).
Ansyaad meminta agar langkah Densus dicermati terlebih dulu. Saat menangkap teroris, Ansyaad menjelaskan hal ini bukan berarti mengindikasikan semakin banyak kelompok teroris yang ada di Indonesia. "Sama seperti dokter dan orang sakit. Jadi bukan berarti kita tangkap teroris, jadi kesannya kok semakin banyak," ucap Ansyaad.
Lebih lanjut, Ansyaad juga menyoroti aksi bom bunuh diri di Mapolsek Poso, Sulawesi Tengah. Ansyaad mengaku bersyukur aksi teror ini tak menimbulkan korban sipil lain. "Bomnya cuman bikin mati sendiri, biarin aja. Satu teroris mati ya syukurin aja," kata Ansyaad.
Sebelumnya, tim Densus 88 Antiteror Polri menangkap terduga teroris Fatih alias Umar Farouk (25) di Makassar, Sulawesi Selatan dan Mus'ab alias Amir alias Umar alias Madinah (27) di Poso, Sulawesi Tengah. Keduanya diduga terkait aksi bom bunuh diri di Mapolres Poso beberapa waktu lalu.
BNPT mensinyalir bahwa kedua terduga teroris itu terkait dengan jaringan Santoso dan Autatrawa. Santoso dan Autatrawa merupakan otak kelompok teroris yang pernah berlatih di Filipina. Keduanya kemudian membentuk jaringan teror di Poso.

http://nasional.kompas.com/read/2013/06/10/18303420/BNPT.Satu.Teroris.Mati..ya.Kita.Syukuri

Tuesday, 4 June 2013

Buron 2 Tahun, Residivis Ditembak Mati


TEMPO.CO Tangerang:Kepolisian sektor Cipondoh, Senin 3 Juni 2013 menembak mati Supriadi alias Buluk, 29 tahun, warga Lampung yang menjadi buronan hampir dua tahun terakhir. Dia melarikan diri dari sel tahanan Polsek Cipondoh pada 1 Juni 2011, saat Kapolsek dijabat Ajun Komisaris Arlon Sitinjak. Pada Senin, 3 Juni 2013.

Kepala satuan reserse kriminal Polres Metropolitan Tangerang, Ajun Komisaris Besar Suharyanto mengatakan Buluk ditembak oleh petugas Polsek Cipondoh karena melawan petugas.

Peristiwa penangkapan Buluk terjadi di Jatiuwung, Kota Tangerang. Saat itu polisi menyergap sang buron yang sedang merencanakan pencurian bersama lima orang temannya. Tersangka disebutkan nekad menembaki petugas, saat petugas hendak melakukan penyergapan kepada mereka.

Kapolsek Cipondoh Komisaris Suyono mengatakan, Buluk menyerang polisi dengan menembakan dua peluru. Polisi juga menyita satu buah senjata api rakitan beserta lima peluru, pisau belati bergagang kayu, dan satu buah sepeda motor hasil curian dari tangan tersangka."Kami sudah mengantongi lima tersangka lain yang berkomplot dengan Buluk,"kata Suyono. 


http://www.tempo.co/read/news/2013/06/04/064485607/Buron-2-Tahun-Residivis-Ditembak-Mati

Polisi yang Ditembak Wakapolres Bukittinggi Ditahan

Brigadir EW dibopong rekannya (Dok: Wahyu Sikumbang/Sindo TV)Brigadir EW dibopong rekannya (Dok: Wahyu Sikumbang/Sindo TV)

Selasa, 04 Juni 2013 14:06 wib


BUKITTINGGI - Kasus penembakan yang dilakukan Wakapolres Bukittinggi, Sumatera Barat, Kompol Arif Budiman, terhadap seorang Bintara, Brigadir EW, masih dalam penyelidikan.

EW kini ditahan di sel Mapolres Bukittinggi, sementara Arif diperiksa Propam Polda Sumbar.

Kapolres Bukittinggi, AKBP Eko Nugrohadi, menjelaskan, tindakan EW dengan mengamuk dan mengancam wakapolres dengan parang tidak bisa dibenarkan.

Pada siang kemarin, EW sudah menjalani pemeriksaan medis. Betis kaki kanannya terkena peluru yang ditembakkan Arif.

“Tim medis didatangkan ke rutan ini untuk merawat lukanya sekaligus untuk visum,” ungkap Eko, Selasa (4/6/2013).

Sementara itu, petugas Propam datang langsung dari Polda Sumbar, Padang, sejak Senin malam kemarin dan langsung memeriksa wakapolres.

Senjata api jenis Revolver SNW yang digunakan Arif untuk menembak EW juga sudah diserahkan ke Provost sebagai bahan penyelidikan.

”Saya sudah diperiksa Propam tadi malam dan kemungkinan akan diambil keterangan tambahan. Senajata api sudah saya serahkan ke Provost berikut selongsong dan sisa amunisinya,” jelas Arif.
(Wahyu Sikumbang/Sindo TV/ton)


http://news.okezone.com/read/2013/06/04/340/817233/polisi-yang-ditembak-wakapolres-bukittinggi-ditahan

2 Rampok Malang Tewas Didor


Selasa, 04/06/2013 15:56 WIB
f13652 2 Rampok Malang Tewas Didor
Agustus 2010, tersangka Supriadi pernah ditangkap bersama temannya(dok)


Read more:http://www.memoarema.com/2-rampok-malang-tewas-didor.html#ixzz2VFPuqjo7


Memo– Dua rampok asal Kabupaten Malang, ditembak mati saat melawan polisi. Keduanya masuk kawanan kecil Pok Malang yang bergabung dengan Pok Surabaya atau Pok Pasuruan dan daerah lain.

Gabungan kawanan rampok antar daerah ini menghasilkan lebih dari 12 TKP dan melibatkan dua pelaku asal Malang, yakni Supriyadi alias Heni (31) asal Dusun Waringin, Desa Bunder, Kecamatan Tumpang atau Desa Wringinsongo dan Khoirul alias Kancil (25) asal Dusun Pakel, Desa Baturetno Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Keduanya tewas ditembak mati, saat berontak disergap anggota Polres Lamongan.

Informasi yang berhasil dihimpun Memot, dua pelaku asal Malang bergabung dengan kawanan Pok Surabaya, di antaranya tersangka M Zainuddin (22) dan Dwi Susilo (26), keduanya asal Perumahan Bumi Sari Praja Selatan, Sambikerep Surabaya dan Aris Mulyadi (31) warga Tubanan Kelurahan Karangpoh Kecamatan Tandes Surabaya. Kecuali Aris, Heni dan Kancil mengenal Zainudin dan Dwi Susilo di LP Lowokwaru Malang dalam kasus yang sama (perampokan—red).

Di tiap gabungan aksi merampok, diketahui komando dipegang Zainudin dan Heni. Di Malang, sedikitnya diakui 6 TKP pernah dilakoni tersangka Zainudin dengan pelaksanaan melibatkan kelompok masing-masing. Kawanan Zainudin (pok Surabaya) bergabung dengan Pok Heni sejak Februari 2013. Di tahun 2012-2013, kawanan Heni telah beraksi bersama kawanannya.

Tiap aksi komplotan gabungan, dilakukan lebih dari 4 orang dengan memakai sarana mobil rentalan. Di Kabupaten Malang sendiri, Pok Heni ditengarai beraksi di 6 TKP sekaligus sepanjang 2012-2013. Diantaranya di Kecamatan Kepanjen, Pakisaji, Poncokusumo, Lawang dan daerah lain di antaranya di Gresik, Lamongan, Pandaan, Pasuruan bahkan sampai di wilayah hukum provinsi Yogyakarta. Akhir catatan kriminal Heni dan Kancil jatuh pada Jumat (31/5/2013) atau Sabtu (1/6/2013) dini hari.

Dua disebutkan Zainudin dalam rilis pers di Polres Lamongan, dia sempat gabung melakoni aksi di wilayah hukum Kepanjen. Tepatnya Kamis (2/5/2013) dini hari lalu, kawanan Zainudin, Heni dan Kancil menyatroni rumah keluarga Sriati di Dukuh Mangir RT09/RW03, Desa Mangunrejo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Diduga 8 orang mengobrak abrik rumah korban dan menjarah harta senilai Rp 232 juta, termasuk 1 unit mobil.

Gabungan kawanan ini ditengarai pula pernah merampok di rumah penggilingan rongsokan Abah Hasyim, di Dusun Segenggeng RT20/RW04, Desa Wonokerso, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Berjumlah 6 orang, pelaku menjarah harta senilai Rp 20 jutaan pada Jumat dini hari (12/4/2013) silam.

Beda dengan modus di Kepanjen, pelaku sempat mengeprukkan lumeran padat plastik di pintu rumah korban, seperti modus di beberapa daerah yang dilakoni kawanan Zainudin. Kebanyakan modus aksi gabungan kelompok ini, memanjat pagar belakang dan merusak jendela atau pintu rumah sasarannya.

Lalu siapa Heni dan Kancil? Bagaimana perjalanan kriminalnya? Baik tersangka Heni dan Kancil sudah tiga kali keluar masuk LP Lowokwaru Malang. Tersangka Khoirul alias Kancil mengawali perjalanannya sejak terjerat kejahatan pada 2001. Kian menjadi usai 2005 terjerat kasus perkosaan.

Kancil yang mendapat remisi dengan urusan bebas bersyarat malah kumat dengan melakoni perampokan di Dusun Pulesari RT04/RW11, Desa Tirtomoyo, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang (akhir Desember 2010). Ia lebih memilih memakai helm atau cadar saat beraksi.

Sementara Heni alias Supriadi, masuk dunia kelam pada 2006 dalam kasus pengeroyokan. Keluar penjara, Heni kembali berulah dengan melakukan aksi penjambretan di tahun 2008. Dua tahun di LP Lowokwaru Malang, tidak membuatnya jera. Keluar LP, ia berabung dengan teman-teman asal Pakis dan Tumpang untuk merampok di Desa Wringinsongo, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Pernah tercatat Memo, Heni merampok lantaran dinilai sombong.

Read more:http://www.memoarema.com/2-rampok-malang-tewas-didor.html#ixzz2VFPmo3jR
Under Creative Commons License:Attribution
Follow us:@memoarema on Twitter|memoarema on Facebook


Baca Selanjutnyahttp://www.memoarema.com/2-rampok-malang-tewas-didor.html


http://www.memoarema.com/2-rampok-malang-tewas-didor.html#axzz2VFNtlTYe

BNPT: Di AS Semua Teroris ditembak Mati, Tak Ada Protes! Read more: http://news.atjehcyber.net/2013/06/bnpt-di-as-semua-teroris-ditembak-mati.html#ixzz2VFPND2SZ



Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) tak setuju jika Detasemen Khusus (Densus) 88 dibubarkan. Kabar itu justru membuat angin segar para teroris yang selama ini selalu terhambat aksinya oleh Densus 88. 

Kepala BNPT Ansyaad Mbai menegaskan wacana pembubaran Densus 88 itu hanyalah bentuk salah kaprah. "Itu jelas sesat pikir, yang harus dibubarkan itu jaringan teroris dan orang-orang yang mengkampanyekan kebencian permusuhan negara," jelasnya di Bandung, Selasa (6/4).

Saat bicara Hak Asasi Manusia (HAM), baginya hanyalah sebagian kecil teroris yang tewas akibat ditembak Densus 88. Dari 900 teroris yang ditangkap, hanya sekitar 90 orang yang tewas setelah ditembak mati dalam penangkapannya.

"Kita hanya kurang dari 10 persen atau tidak sampai 90 orang yang mati," terangnya. Karenanya ia meminta apa dampak terburuk jika benar Densus 88 dan BNPT dibubarkan.

Dia pun membandingkan dengan Amerika Serikat yang di mana hampir 100 persen teroris ditembak mati. "Amerika yang disebut raja HAM hampir 100 persennya ditembak mati, sedangkan di Indonesia kurang dari 10 persen, tapi di Indonesia ini ribu-ribut," ucapnya.

Pembubaran itu menurutnya dikhawatirkan mendatangkan ancaman lebih besar. "Masa satuan yang itu dibubarkan. Itu memang suara teroris yang membuat angin segar, wajar, karena (Densus 88) selalu menghambat kerjanya," tandasnya.

(*/merdekacom)


Read more: http://news.atjehcyber.net/2013/06/bnpt-di-as-semua-teroris-ditembak-mati.html#ixzz2VFPHbXuQ