Wednesday, 7 September 2011

Polisi Militer Gadungan Ditembak Polisi

Kamis, 8 September 2011 - 11:14 WIB



BOGOR (Pos Kota) – Polisi Militer (PM) gadungan, yang sudah berulang kali melakukan aksi kejahatan di Bogor, Jawa Barat ditangkap petugas Polres Bogor Kota Kamis (8/9) dinihari.

Dari tangan tersangka Didi Supriadi alias Heri Jakroy 38, anggota TNI gadungan tersebut, petugas Satuan Reskrim Polres Bogor Kota, menyita tiga sepeda motor.

Polisi terpaksa melumpuhkan pelaku dengan tembakan di kaki kanannya karena melawan dan berusaha melarikan diri saat akan ditangkap.

Dalam menjalankan aksinya, Heri Jakroy berpura sebagai anggota TNI dan memakai seragam Polisi Militer (PM). Dengan menggunakan seragam pangkat Sersan Satu (Sertu), pelaku mengancam dan merampas motor milik korban.

“Pelaku anggota TNI gadungan yang dalam menjalankan aksinya memakai seragam Polisi Militer kemudian meminjam atau merampas motor korbannya,” kata Kasat Reskrim Polres Bogor Kota, AKP Imam Imanuddin kepada wartawan di Mapolres Bogor Kota.

Imam menjelaskan, pelaku warga Kampung Babakan Lio, Desa Balumbang Jaya, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor.

Pelaku selama ini kata Imam sudah beraksi di sejumlah wilayah di Kota Bogor, Jakarta, dan Depok.”Sedikitnya pelaku sudah beraksi di delapan wilayah,” tandas AKP Imam.(Yopi/b)

http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2011/09/08/polisi-militer-gadungan-ditembak-polisi
Bookmark and Share

Dor! Pencongkel Spion Roboh Ditembak Polisi

Tribunnews.com - Senin, 5 September 2011 17:01 WIB

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kejahatan pencongkelan spion kembali terjadi di wilayah Jakarta Pusat. Kali ini pelaku beraksi di simpang lima Senen dan mengincar spion mobil Toyota Harrier bernomor polisi B 2170 H yang dikendarai Irene Susanti (40).

Info yang didapat dari Polres Jakarta Pusat, pelaku yang bernama Syamsul Arifin (28) mulai beraksi sekitar pukul 14.00 WIB. Saat mobil korban tengah berhenti karena lampu merah di simpang lima Senen, pelaku langsung mendekati mobil mewah tersebut dan mencongkel spion sebelah kanan. Melihat korbannya adalah wanita dan terlihat ketakutan, Syamsul makin berani melakukan aksinya dengan mencongkel spion sebelah kiri.

Namun aksi Syamsul rupanya sudah diperhatikan oleh Sahroni, anggota Polres Jakarta Pusat, yang memang bertugas di lokasi tersebut. Sebelum Syamsul sempat kabur, petugas langsung menembak kaki kirinya sebanyak dua kali.

Petugas mempunyai alasan sendiri kenapa harus langsung mengambil tindakan tegas tersebut. Pasalnya setiap selesai mencongkel, para pelaku langsung lari ke kerumunan warga agar sulit tertangkap.

Syamsul yang sudah kesulitan berjalan karena kakinya ditembak polisi kemudian dibawa ke Rumah Sakit Polri. Syamsul diduga sudah berulangkali melakukan hal serupa di beberapa tempat di Jakarta Pusat. Sementara itu berdasarkan pengakuan Irene yang menjadi korban, ia mengaku sangat ketakutan sehingga akhirnya pasrah saat pelaku mencongkel spion mobil miliknya.


Penulis: Danang Setiaji Prabowo | Editor: Johnson Simanjuntak
Akses Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat m.tribunnews.com

http://www.tribunnews.com/2011/09/05/dor-pencongkel-spion-roboh-ditembak-polisi

Geng motor pantas ditembak di tempat?

WEDNESDAY, 07 SEPTEMBER 2011 02:12
MEDAN – Keberadaan geng motor yang sudah meresahkan masyarakat membuat pihak kepolisian mengeluarkan ultimatum. Kapolresta Medan, Kombes Tagam Sinaga menyatakan pihaknya akan menindak geng motor di Kota Medan sesuai aturan prosedur tetap (protap, red) bersama jajaran.

“Bila geng motor tidak mau dibina dan tetap meresahkan masyarakat, hingga Jumat (9/9), pada Sabtu (10/9) malam kita akan kerahkan semua kekuatan untuk memberantas geng motor yang selalu menimbulkan masalah. Kalau masih ada yang meresahkan dan mengganggu Kamtibmas di Kota Medan, Geng Motor tetap kita tindak sesuai prosedur tetap,” tegas Kapolresta Medan, Kombes Tagam Sinaga.

Langkah tegas pihak kepolisian ini didukung oleh anggota DPRD Kota Medan. “Kami mendukung langkah tegas Kapolresta Medan, Bapak Tagam Sinaga untuk mengambil langkah tegas terhadap geng motor untuk mengambil tindakan sesuai dengan prosedur tetap yang ada di kepolisian, termasuk dalam hal ini tindakan tegas tembak di tempat. Silahkan terapkan aturannya,” kata Ketua Fraksi PAN DPRD Kota Medan, Ahmad Arief, tadi malam.


Menurutnya, pemberlakukan tembak ditempat tersebut sangat wajar diberlakukan agar adanya efek jera terhadap para geng motor yang sering membuat aksi kerusuhan. “Apa pun ceritanya sudah saatnya polisi mengambil sikap tegas, jangan ada pembiaran. Sudah berulang kali para geng motor ini membuat masalah di Kota Medan, sehingga suasana Medan kini sudah tidak lagi kondusif akibat ulah para geng motor. Jadi sekali lagi saya kata, silahkan polisi mengambil sikap tegas, jangan ada tindakan pembiaran,” tegas Ahmad Arief.

Dalam hal ini, dikatakanya juga para orangtua juga dapat melakukan kontrol dan pengawasan terhadap anaknya. Ia juga menyatakan agar polisi tidak disalahkan bila anaknya terlibat dalam persoalan hukum demi memberikann efek jera. “Saya berharap agar orangtua kiranya dapat melakukan pengawasan dan kontrol terhadap anak-anaknya. Kami tekankan di sini, bila ada anak yang terlibat didalam kelompok geng motor silahkan dilakukan pembinaan. Hukum juga harus dapat ditegakan, tanpa pandang bulu,” pungkasnya.

Arief juga berharap agar polisi dapat segera bertindak cepat sehingga membersihkan geng motor di seluruh jalanan Kota Medan. Ia juga mengharapkan agar polisi bertindak cepat dan tegas sehingga Kota Medan bisa kembali kondusif dan aman.

Editor: IMANIURI SILABAN
(dat03/wol)

http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=214586:geng-motor-pantas-ditembak-di-tempat&catid=14:medan&Itemid=27

Thursday, 1 September 2011

Curi Lembu, Centeng PT Lonsum Tewas Ditembak Polisi

Kamis, 25/08/2011 16:24 WIB
Medan - Kepolisian Sumatera Utara (Sumut) menembak seorang pencuri ternak di kawasan Deli Serdang. Mulyadi (31) tewas setelah mencoba melarikan diri saat disergap petugas.

Peristiwa penembakan itu terjadi saat petugas kepolisian melakukan penyergapan di rumah Mulyadi Jl Nagarejo, Dusun III, Gang Salim, Kelurahan Nagarejo, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang pada Rabu (24/8) sekitar pukul 21.00 WIB.

Salah seorang keluarga, Wandi mengatakan, saat penyergapan, Adi berusaha melarikan diri. Kemudian petugas melepaskan tembakan hingga mengenai rusuk kanan. Akibatnya, Mulyadi langsung rubuh bersimbah darah.

Akibat luka tersebut, Mulyadi dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan. Namun dalam perjalanan lelaki yang bekerja sebagai centeng di perkebunan sawit milik PT London Sumatera (Lonsum) tersebut tewas. Jenazahnya kemudian dibawa ke RSU Pirngadi, Jl HM Yamin, Medan.

"Mulyadi dan dua temannya memang terlibat pencurian lembu milik warga dua minggu lalu. Tapi sudah berdamai dan diselesaikan secara kekeluargaan. Tapi tiba-tiba polisi datang mau melakukan penangkapan. Karena itu dia berusaha melarikan diri," kata Wandi.

Sementara itu, Nuryati, istri Mulyadi menyatakan keluarga tidak bisa menerima perlakuan aparat karena suaminya sudah berdamai dengan pemilik lembu.

"Suami saya sudah berdamai dengan pemilik lembu. Keluarga berencana menempuh jalur hukum agar polisi tidak asal main tembak saja," kata Nuryati sambil terisak di rumah sakit, Kamis siang.

Usai menjalani otopsi, jenazah langsung dibawa ke rumah duka. Rencananya pihak keluarga akan melakukan prosesi pemakaman Kamis sore.
http://us.detiknews.com/read/2011/08/25/162417/1711286/10/curi-lembu-centeng-pt-lonsum-tewas-ditembak-polisi

Friday, 26 August 2011

Delapan Warga Ditembak Polisi Saat Berdemo

Nasional / Rabu, 24 Agustus 2011 05:32 WIB
Metrotvnews.com, Morowali:Polisi menembak delapan warga Mamosalato, Morowali, Selasa (23/8). Aksi penembakan terjadi saat warga berdemo di lokasi pengeboran minyak dan gas kob Medco-Pertamina di Pulau Tiaka, Morowali, Sulawesi Tengah.

Kedelapan korban langsung dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Banggai, Luwuk. Namun, dua di antara mereka tewas dalam perjalanan. Kedua korban bernama Yurifin dan Marten yang menderita luka tembak di bagian dada hingga tembus. Sementara, enam korban lain masih menjalani perawatan intensif. Aksi penembakan itu terjadi saat warga menuntut hak-hak dana pemberdayaan masyarakat yang belum diberikan perusahaan.
http://www.metrotvnews.com/read/newsvideo/2011/08/24/134678/Delapan-Warga-Ditembak-Polisi-Saat-Berdemo

Polri Persilakan Komnas HAM Bentuk TPF

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Polri mempersilakan Komnas HAM membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) untuk mengusut dugaan pelanggaran HAM dalam kasus amuk massa di Tiaka, pulau tempat pengeboran minyak JOB Pertamina-Medco E&P Tomori, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, yang mengakibatkan dua warga sipil tewas ditembak polisi.

"Memang kami harapkan demikian, dari Komnas turun, dari kita juga turun. Jadi, sama-sama," ujar Kadiv Humas Polri Irjen Pol Anton Bachrul Alam di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (25/8/2011).

Menurut Anton, kepolisian setempat juga melakukan evaluasi terhadap anggotanya yang diduga melakukan pelanggaran dalam penembakan tersebut. Bahkan, Propam Polda Sulteng telah turun ke lapangan untuk menyelidikinya.

Namun, Anton juga meyakinkan bahwa petugas harus menghentikan aksi massa dengan tindakan tegas berupa penembakan mengingat massa tak terkendali dan justru melakukan perlawanan, perusakan, penyanderaan, hingga menembak petugas dari senjata api yang dirampas saat kejadian Senin (22/8/2011).

"Masyarakat juga melakukan penembakan, ada dengan membawa parang. Anggota kami yang disandera kan juga harus diselamatkan. Apalagi, Kapolres kan dikalungi celurit, jadi enggak bisa apa-apa," kata Anton.

Menurut Anton, saat ini kondisi keamanan di Tiaka, pulau yang ditempuh 20 jam dari Palu itu, telah terkendali.

Tokoh masyarakat, aparat kepolisian, pihak perusahaan dan pejabat muspida di Tiaka, juga telah melakukan pertemuan dan menghasilkan sejumlah butir kesepakatan.

Masyarakat setempat dapat memahami kejadian tersebut dan telah mengembalikan senjata api yang sempat dirampas dari tangan aparat.

Selain itu, pihak perusahaan juga diharapkan bisa berusaha memenuhi aspirasi masyarakat sekitar berupa pengembangan ekonomi masyarakat setempat.


Penulis: Abdul Qodir | Editor: Budi Prasetyo
Akses Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat m.tribunnews.com

http://www.tribunnews.com/2011/08/26/polri-persilakan-komnas-ham-bentuk-tpf

Kenapa Demonstran Medco Ditembak Mati

VIVAnews - Kapolres Morowali, AKBP Suhirman mengatakan anggotanya terpaksa menembak dua warga dalam aksi demonstrasi yang berakhir rusuhdi fasilitas pengeboran minyak Joint Operating Body Medco-Pertamina di Lapangan Tiaka, Luwuk, Sulawesi Tengah. Dua warga itu dinilai membahayakan aparat.

"Mereka terpaksa dilumpuhkan karena melawan dan berbahaya," kata Suhirman kepadaVIVAnews.com, Rabu, 24 Agustus 2011.

Menurut dia, dua orang warga itu hendak menembak anggota polisi yang melakukan pengamanan. Mereka menodongkan senjata yang direbut dari polisi. "Kami sudah peringatkan sebelumnya, tapi mereka tidak mau meletakkan senjata dan malah akan menembak. Terpaksa kami lumpuhkan," kata Suhirman.

Suhirman mengklaim, saat ini situasi di lokasi kerusuhan sudah bisa dikendalikan. Polisi, kata dia, masih menyelidiki kasus tersebut. "Hari ini (Rabu, 24 Agustus) tim sedang melakukan kegiatan olah tempat kejadian perkara," kata dia.

Sebelumnya, Kapolda Sulawesi Tengah Brigjen Pol. Dewa Parsana mengatakan kerusuhan dipicu oleh aksi demonstrasi warga pada Sabtu kemarin.

Sehari kemudian, terjadi bentrok antara aparat Polres Luwuk dengan massa. Saat itu ada sekitar 50 warga masyarakat yang membawa senjata tajam dan bom molotov ke daerah pengeboran minyak. Kelompok massa itu langsung merusak enam sumur. Selesai melakukan pengerusakan dua karyawan Medco disandera oleh massa.

Setelah kejadian itu, sekitar 80 anggora polisi dan Brimob mendatangi lokasi untuk menjaga keamanan. "Takutnya ada kerusakan lagi," kata Kapolda ketika dihubungi VIVAnews.com, kemarin.

Pada hari Senin, warga yang berdemonstrasi kemudian kembali ke lokasi menggunakan perahu dan melempar bom molotov ke satu sumur minyak. Negosiasi antara polisi dengan warga gagal.

Menurut Parsana, warga masyarakat menyerang polisi yang mengamankan lokasi. Tiga polisi reguler dan satu anggota Brimob disandera dan dilarikan dengan perahu. Massa juga merebut senjata polisi sehingga terjadi baku tembak dengan aparat. (eh)

• VIVAnews

http://us.nasional.vivanews.com/news/read/242855-demonstran-morowali-ditembak-karena-berbahaya