indosiar.com, Lamongan - (Senin, 02.04.2012) Inilah Muksin, seorang perampok yang dikenal sadis dan ditakuti warga beberapa desa di Kecamatan Babat Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Minggu siang ia dilumpuhkan timah panas polisi setelah lama diburu, karena aksi aksi kejahatannya selama ini. Ia ditembak kakinya karena berusaha melawan saat akan ditangkap.
Muksin ditakuti karena dalam menjalankan aksinya terutama dengan parang yang selalu dibawanya tak sungkan melukai korbannya. Merampas kendaraan, merampok, bahkan memperkosa, seperti yang baru ia lakukan terhadap sepasang kekasih dikawasan Bulu Teratai, Kecamatan Babat, baru-baru ini. Setelah melukai sang pemuda, pacarnya kemudian diperkosa, lalu motornya dibawa kabur. Sebilah parang yang telah banyak digunakan Muksin melukai korbannya disita polisi. Begitupun sepeda motor dan barang bukti lainnya telah disita polisi. (Safari Ranu Wijaya/Sup)
TRIBUNNEWS.COM, PALEMBANG - Pelaku curas (pencurian dengan kekerasan) yang meresahkan masyarakat, Firmansyah (25) dan Hafis (40) ditembak kakinya saat diringkus polisi. Kini dua tersangka diamankan di Polsek SU I Palembang, Senin (2/4/2012).
Firmansyah yang merupakan spesialis penodong yang sering beraksi di Kampung Kapitan. Ia ditangkap di kawasan 7 Ulu dekat Kampung Kapitan, Minggu (1/4/2012) pukul 23.00.
Firmansyah diringkus setelah beberapa jam sebelumnya menodong seseorang. Ketika akan ditangkap dan berusaha kabur, Firmansyah terpaksa dilumpuhkan dan kakinya kirinya ditembak sebanyak tiga peluru.
Sedangkan Hafis, yang merupakan pelaku spesialis curas terhadap tukang ojek di kawasan Jakabaring, diringkus di kawasan Panca Usaha Kel 5 Ulu Kec SU I, Minggu (1/4/2012) pukul 14.00. Hafis yang merupakan Target Operasi (TO) petugas, terpaksa ditembak sebanyak empat kali di kaki kanannya lantaran berusaha kabur.
Diakui Firmansyah, ia memang sering melakukan aksi penodongan di kawasan Kampung Kapitan. Biasanya yang menjadi korban aksinya adalah pengunjung ABG yang sedang sendirian ataupun yang sedang nongkrong berpacaran. Setiap kali beraksi penodongan, Firmansyah hanya sendirian dengan menggunakan senjata tajam (sajam) parang yang disembunyikannya di lokasi.
“Aku lupa pak, sudah berapa kali aku menodong. Mungkin sudah lebih 10 kali aku melakukan penodongan. Tapi aku sama sekali tidak pernah melukai orang yang aku todong, parang yang aku bawa cuma dilihatkan saja kepada orang yang aku todong. Tapi bukan aku saja yang menodong, ada juga orang lain yang sering menodong di sana (Kampung Kapitan),” ujar Firmansyah yang masih dalam pengaruh mabuk miras.
Sementara Hafis mengelak bahwa dirinya dikatakan sebagai pelaku spesialis pelaku curas terhadap tukang ojek. Diakui Hafis yang pernah di penjara selama dua tahun 10 bulan karena kasus curas pada tahun 2008, ia baru sekali melakukan aksi penodongan terhadap tukang ojek di kawasan Jakabaring beberapa waktu lalu.
“Aku nodong tukang ojek cuma diajak kawan, memang aku nodong lihat wilayahnya dulu. Tapi aku baru sekali inilah melakukan aksi penodongan, sebelumnya aku belum pernah,” ujar Hafis yang tetap tidak mengaku meskipun modus operasi penodongannya terbilang rapi dan bersih.
Kapolsek SU I Kompol Imam Tarmudi didampingi Kanit Reskrim Iptu AK Sembiring mengatakan, kedua pelaku terpaksa dilumpuhkan dan kakinya ditembak. Keduanya dikenal sebagai pelaku curas yang sangta meresahkan berdasarkan laporan masyarakat yang menjadi korban tindakan kriminalitas dari kedua pelaku.
“Tersangka Firmasyah memang spesialis penodong di Kampung Kapitan, sedangkan Hafis adalah TO petugas yang juga spesialis curas terhadap tukang ojek yang sering beraksi di kawasan Jakabaring. Keduanya kini masih menjalani pemeriksaan petugas guna melakukan penyelidikan dan pengembangan lebih lanjut,” ujarnya.
Sindonews.com - Satuan Reserse dan Kriminal Polres Purwakarta menembak Jahidin bin Tanjan alias Tojod (39) warga Kampung Cilempung RT 21/04, Desa Pasir Jaya, Kecamatan Cilamaya, Kabupaten Karawang. Jahidin merupakan penadah pencurian kendaraan bermotor (curanmor)
dari hasil penyeidikan petugas, jahidin menjadi penadah sepeda motor hasil curanmor dari 150 Tempat Kejadian Perkara (TKP).
Pelaku ditembak pada kaki kanannya karena berusaha melawan petugas, Senin 2 April 2012. Kapolres Purwakarta AKBP Bahtiar Ujang Purnama mengungkapkan, dengan tertangkapnya tersangka yang merupakan penadah besar ini berdampak positif terhadap kasus curanmor.(azh) Editor: Hariyanto Kurniawan Laporan: (koran Sindo)
JAYAPURA - Seorang pelaku pembunuhan anggota TNI tewas ditembak polisi saat penggerebekan di Jayapura, Papua, Selasa (3/4/2012).
Abraham Akanom membunuh anggota Kompi C Yonif 751 pada Minggu 25 Maret lalu.
Petugas dari Polsek Muara Tami, Jayapura, awalnya berusaha bertindak persuasif, namun pelaku tidak mengindahkan permintaan polisi untuk menyerahkan diri. Abraham justru menyerang polisi dengan panah.
Tembakan peringatan sempat dilepaskan petugas, namun pelaku tidak juga menyerah bahkan terus melawan. Pelaku akhirnya ditembak di bagian paha kanan.
Dia sempat menjalani perawatan di RS Bhayangkara Polda Papua sekira lima jam, namun akhirnya tewas karena pendarahan. Jenazah Abraham disemayamakan di kamar mayat rumah sakit.
Sementara itu seorang petugas Polsek Muara Tami, Bripka Hamra, menderita luka terkena anak panah saat penggerebekan. Hamra terkena anak panah di tangan kanan yang dilesakkan Abraham. Hamra kini menjalani perawatan di RS Bhayangkara.
Jumat, 30 Maret 2012 - 20:15 · Topik: demo-tolak-kenaikan-bbm
Palopo , Seruu.com - Kondisi Kota Palopo, Sulawesi Selatan masih mencekam menyusul aksi penolakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), Jumat (30/3/2012). Dalam bentrok antara mahasiwa dengan polisi, salah satu mahasiswa yakni Suprianto ditembak oleh oknum polisi. Korban tertembak di bagian betis.
Mahasiswa Universitas Cokrominoto semester enam itu akhirnya dilarikan ke rumah sakit At Medika dan menjalani perawatan intensif. Saat ditemui di rumah sakit, mahasiswa asal Desa Tanjong Mario, Kecamatan Ponrang Kabupaten Luwu ini mengaku ditembak oknum polisi.
Namun, dia tidak begitu mengenal oknum polisi yang berpakaian dinas itu. “Saya melihat oknum polisi sengaja menembak ke arah saya tepatnya di samping SMAN 3, termasuk kawan-kawan mahasiwa,” ujar Suprianto.
Saat ini korban tembakan didampingi orang tuanya Suryani di rumah sakit. Suryani menyesalkan aksi penembakan aparat kepolisian. Menurutnya, justru polisi harus melakukan pendekatan untuk menenangkan aksi pendemo.
“Kami sangat menyangkan sikap polisi yang menembak anak kami,”tuturnya. Sementara itu, salah satu dokter rumah sakit At Medika, Juliani mengatakan korban masih dirawat dan menunggu hasil rekam gambar.
Sementara itu, Kapolres Palopo AKBP Fajaruddin yang dikonfirmasi via selular dalam keadaan aktif tidak dijawab. Namun, sejumlah aparat kepolisian melakukan pengamanan di rumah sakit itu. [ms
MEDAN-Situasi di Medan mulai mencekam. Beberapa titik demonstrasi berakhir ricuh. Suasana paling mencekam terjadi di seputaran Kampus Universitas HKPB Nommensen. Tiga mahasiswa dikabarkan tertembak dan tiga polisi berdarah kena lemparan batu. Tadi malam, suara-suara tembakan gas air mata berulang-ulang kali terdengar untuk membubarkann
mahasiswa Nommensen yang sejak Jumat (30/3) siang, terus menggelar aksi penolakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Antara mahasiswa dan elemen masyarakat lainnya massa sendiri, sudah sulit dibedakan. Gerombolan massa, terbelah di sejumlah titik.
Di masing-masing titik konsentrasi massa seperti di Jalan Sutomo arah ke Jalan Mahoni, massa melakukan perlawanan dengan melempari petugas polisi dengan batu dan benda-benda lainnya. Begitu halnya dengan massa yang terkonsentrasi di persimpangan Jalan Sutomo-HM Yamin, juga melakukan perlawanan.
Sekira pukul 22.22 WIB, polisi baik yang berpakaian preman maupun dinas, melakukan penyisiran di Jalan Sutomo Ujung yang menuju Jalan Krakatau. Aksi kejar-kejaran di tengah kegelapan malam pun berlangsung. Terlihat personel polisi berhasil menangkap seseorang, yang diduga provokator dan dimasukkan ke mobil Barakuda.
Diketahui, mahasiswa yang ditangkap polisi sebanyak sepuluh orang. Selain itu, ada dua orang mahasiswa yang terkena tembakan peluru karet. Salah satu mahasiswa, Daniel (22), mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Nomensen terkena tembakan di dada sebelah kanan, namun tidak mendapat perawatan intensif dari tim medis. Korban langsung dievakuasi rekan-rekannya ke dalam kampus. Salah seorang mahasiswa lainnya, yang juga mahasiswa FH Nomensen, juga terkena tembakan peluru karet di dada sebelah kanannya. Sayangnya, sejauh ini identitas mahasiswa tersebut belum diketahui.
Sementara itu, konsentrasi massa juga terjadi di Jalan Perintis Kemerdekaan, tepatnya di depan Hotel Grand Angkasa-Taman Budaya Medan. Hanya saja, di titik ini tidak ada perlawanan. Diperkirakan, massa merupakan warga setempat yang keluar dan ingin melihat bentrokan yang terjadi malam itu. Tamu dan pengunjung Hotel Grand Angkasa yang keluar dan menyaksikan bentrokan itu, dibentak polisi untuk masuk ke dalam hotel. Pukul 22.43 WIB, polisi mengusir warga yang berkerumun, persisnya di depan Hotel Grand Angkasa Medan.
Usai mengusir massa yang tersentral di Jalan HM Yamin, ternyata aksi perlawanan kembali terjadi dari titik massa di seputaran Jalan Sutomo-HM Yamin. Pukul 22.43 WIB, polisi menginstruksikan para pengunjung dan tamu Hotel Grand Angkasa yang berhanburan keluar untuk masuk. Suasana kembali memanas di titik massa yang terfokus di Jalan HM Yamin-Jalan Sutomo.
Tampak ada tambahan personel polisi, yang diangkut dengan dua unit mobil polisi dari arah Jalan HM Yamin ke perempatan Jalan Sutomo-Perintis Kemerdekaan. Puncak aksi sejatinya terjadi pada pukul 20.00 WIB. Mahasiswa melakukan perlawanan kepada polisi menggunakan bom molotov, batu, kayu, besi, botol kosong, dan benda-benda lainnya.
Dari pihak polisi, terdapat tiga personel polisi yang menjadi korban pelemparan massa. Sekira pukul, 20.30 WIB, mahasiswa sempat memukul mundur polisi ketika insiden terjadi di Simpang Kemuning/Simpang KA Jalan Perintis Kemerdekaan.
Beberapa mobil polisi yang terparkir di perempatan Jalan Sutomo-Perintis Kemerdekaan antara lain, dua unit Mobil Barakuda, dua unit Watercanon serta satu unit mobil pemadam kebakaran. Aksi semakin memanas, di titik massa yang tersentral di Jalan Sutomo arah ke Jalan HM Yamin. Massa kembali lagi melempari personel polisi dengan batu dan benda-benda lainnya.
Serangan kepada polisi, tidak hanya dari massa yang berkerumun saja, tapi juga dari arah area Kampus Nomensen. Di saat bersamaan juga, polisi memindahkan sembilan orang yang ditangkap, dari Mobil Barakuda ke mobil tahanan polisi BK 25306-II.
Sedangkan itu, Kepala Unit (Kanit) Reskrim Polresta Medan, Kompol Yoris Marzuki memimpin anak buahnya yang berpakaian preman, melakukan penyisiran ke arah Jalan Perintis Kemerdekaan. Yoris terlihat berkoordinasi dengan Kabag Ops Polresta Medan, Kompol SF Napitupulu.
Tak berapa lama, mobil tahanan polisi yang mengangkut sembilan orang yang telah diamankan, dengan dikawal personel Polisi Anti Huru Hara (PHH) yang menggunakan sepeda motor ke Mapoldasu.
Sekira pukul 23.23 WIB, kembali petugas mengamankan seorang demonstran yang mengenakan kaos hitam dan celana loreng, dan langsung dimasukkan ke Mobil Barakuda. Di saat bersamaan, Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Kapoldasu) Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro, terlihat datang ke lokasi bentrokan.
Saat personel polisi PHH yang mundur, dan hendak beristirahat di perempatan Jalan Perintis Kemerdekaan-Sutomo, ternyata polisi mendapat serangan dari arah dalam kampus, tepatnya di lantai II dan III kampus tersebut.
Bom molotov berapi, tampak melayang ke arah personel polisi. “Awas-awas, ini botol,” teriak para polisi sembari menghindar. Sesaat kemudian, melalui pengeras suara Wakil Rektor III Universitas HKBP Nomensen, Maringa Panjaitan meminta, agar mahasiswa untuk keluar dari kampus, dengan bertujuan agar tidak ada penyusup atau provokator di dalam kampus. Mahasiswa dijamin keselamatannya, untuk tidak diamankan oleh petugas polisi.
Saat berdialog dengan Kapoldasu, Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro, Maringan Panjaitan mengatakan, aksi tersebut tidak murni keseluruhannya adalah mahasiswa Nomensen. Namun telah berbaur dengan mahasiswa dari kampus lainnya.
Menanggapi itu, Kapolda meminta kepada pihak rektorat Universitas Nomensen, untuk menghentikan aktivitas perkuliahan selama satu hari yakni, pada hari ini (31/3).
Sekira pukul 00.30 WIB, Sabtu (31/3), situasi bisa dikondusifkan setelah pasukan ditarik mundur oleh Kapolda.
Medan Siaga Satu
Kenyataan ini membuat Polda Sumut serta seluruh jajarannya langsung memberlakukan status siaga I. Informasi ini didapat Sumut Pos langsung dari Markas Besar Poldasu (Mapoldasu), Jumat (30/3). Adalah Telegram Rahasia (TR) TR Kapolri Nomor: STR /175/III/2012 Tanggal 26 Maret 2012 yang diterima Poldasu menjadi awal. Lalu, TR itu dilanjutkan Wakapoldasu Brigjen Pol Cornelis Hutagaol melalui surat Nomor STR/124/III/2012. Isinya, mengintruksikan ke seluruh jajaran Polda Sumut agar tidak libur dan izin tidak berdinas selama diberlakukan siaga satu.
Siaga satu itu merupakan kewajiban dari pemerintah untuk menjamin situasi aman bagi rakyat, bangsa, dan negara. Dan itu merupakan hal yang biasa diberlakukan ketika suatu negara dalam keadaan bahaya, contohnya terancam teror. Oleh karena itu, masyarakat diimbau agar tidak perlu khawatir kendati status siaga satu diberlakukan.
“Kalau memang Siaga I sudah menjadi keputusan di Kota Medan, kami dari Pemko Medan akan mengimbau mulai dari kepala lingkungan, lurah, kecamatan dan aparat pemerintah di Kota Medan, saya perintahkan untuk secara bersama-sama menjaga kondusifitas kota,” tegas Wali Kota Medan Rahudman Harahap di rumah dinas Jalan Sudirman Medan, kemarin.
Rahudman juga mengaku sudah banyak fasilitas umum di Kota Medan yang menjadi sasaran amuk massa. Namun demikian, Pemko Medan sudah berupaya untuk melakukan perbaikan secepatnya.
Pos Polisi Dibakar
Sebelumnya, Kota Medan diguyur hujan deras dan petir menyambar-nyambar serta mengeluarkan suara yang sangat keras. Usai hujan, mulai reda tiba-tiba perhatian polisi mengarah ke Jalan Patimura dan S Parman. Masa mahasiswa yang melakukan unjuk rasa seketika brutal. Hal ini, menurut informasi yang dihimpun Sumut Pos, dikarenakan petugas kepolisian dikatakan telah menangkap tiga mahasiswa pengunjukrasa. Hingga mahasiswa meluapkan kemarahan dengan melakukan perusakan hingga pembakaran Pos Polisi Polsek Medan Baru di Jalan Kapten Patimura, simpang Jalan Jend Sudirman, Medan.
Hal ini juga dibenarkan, Sutarto, Wakil Rektor III Universitas Dharma Agung saat bertemu Kasat Brimobda Sumut dan Direktur Shabara Polda Sumut. Kericuhan juga terjadi kemarin sore. Aliansi Mahasiswa Sumatera Utara (AMSU), yang didominasi mahasiswa Universitas Darma Agung berkonsentrasi di Jalan Salendra Medan. Bahkan ratusan massa mahasiswa yang persenjatai, kayu, dan batu ini, juga melakukan aksi sweeping di jalan raya untuk mencari personel polisi. Namun dalam aksi sweeping itu, mahasiswa tak berhasil menemukan anggota polisi.
Aksi kemarin juga tak terhenti di beberapa titik saja. Sebut saja yang dipelopori IMM dari empat sekretariat universitas seperti USU, UMSU, IAIN dan Unimed. Selain itu, aksi juga digalang oleh Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Gerakan Mahasiswa (Gema) Partai Hanura, LSM Generasi Muda Peduli Tanah Air (Gempita) Sumut, dan LSM Penjara “UJ” yang dipimpin langsung oleh Ketua Umum (Ketum) LSM tersebut, Usman Jabrik. (gus/jon/ari/ram/rud/mag-5/mag-10)
Tiga Mahasiswa Ditembak
Saat aksi mahasiswa UDA, satu mahasiswa tertembak peluru karet. Yakni, Steven Jery, mahasiswa Fakultas Hukum. Ia tertembak di kaki sebelah kanan, tepatnya di betis.
Mahasiswa Nomensen bernama Daniel dari Fakultas Hukum angkatan 2010, tertembak di bagian rusuk sebelah kanan (malam ini).
TRIBUNNEWS.COM, MAKASSAR -Sejumlah aparat intel Kepolisian dan TNI Angkatan Darat mendatangi rumah terduga teroris yang ditembak di Bali Abu Hanif alias Hilman atau Amiruddin alias Amir di Jl Sukamaju, RW VI RT X, Kelurahan Tamamaung, Kecamatan Panakukang, Kota Makassar, Minggu (1/4/2012).
Abu Hanif dimakamkan di samping pusara orang tuanya di pemakaman keluarga TPU Islam Sudiang, Makassar.
Abu Hanif ditembak aparat dari Densus 88 Antiterot Polri, Minggu (18/3/2012) dan sempat disimpan selama tiga pekan di RS Polri Sukamto, Jakarta Timur. Almarhum yang meninggalkan dua istri dimakamkan disamping pusara orangtuanya.
Saat ini proses pemakaman sedang berlangsung dan proses pemakaman dihadiri pihak keluarga. Jenazah almarhum dijemput pihak keluarga di Rumah Sakit Pusat Polri Sukanto, Jakarta Timur. Tiba di Makassar, Minggu pagi, menggunakan kargo udara Lion Air.
Abu Hanif merupakan satu di antara lima terduga teroris yang ditembak di Bali, Minggu (18/3/2012). Keempat lainnya adalah HN (32) asal Bandung, DPO CIMB Medan, AG (30) asal Jimbaran, Bali, DD (27) asal Jawa Barat, UH alias kapten.
Setiap hari di negara ini, seseorang dapat ditembak oleh anggota Polri. Penembakan ini biasanya terjadi ketika orang yang dituduh menlanggar hukum dapat ditangkap. Penembakan penjahat oleh aparat kepolisian terjadi secara sistematis, sengaja dan sebagai pelanggaran berat hak asasi manusia. Hak orang untuk membela diri dari tuduhan kejahatan di depan hukum dilanggar.