Thursday, 6 May 2010

Berkungkinan Warga Tambusai Korban Salah Tembak

Kamis, 6 Mei 2010 18:13

Polres Rohul tidak menutup kemungkinan terjadi salah tembak dalam operasi penyergapan pelaku penjualan senjata api. Saat ini 8 polisi dan 2 warga telah diperiksa.

Riauterkini-PASIRPANGARAIAN-Hilangya nyawa salah seorang warga Desa Batang Kumuh Tambusai Rohul, Baduali Pohan (45), Selasa (4/5/10) lalu, karena ditembak anggota polisi, diduga terlibat kelompok Regar Ompong Cs, dalam penjualan senjata api (Senpi) serta pencurian sepeda motor (Curanmor). Polres Rohul sudah lakukan pemeriksaan terhadap 8 orang anggotanya yang ikut dalam operasi penyergapan, serta 2 orang warga Tambusai, sebagai saksi.

Kasat Reskrim Rohul, AKP Ansori, dalam keterangannya kepada wartawan mengatakan, pelaku penembakan sudah sesuai dengan tugasnya. Karena korban tewas, saat akan ditangkap memegang pinggangnya, seperti akan mengambil sesuatu, sehingga polisi menembaknya.

"Anggota kita sudah sesuai prosedur. Penyergapan itu merupakan intruksi dari Kanit, karena adanya laporan dari masyarakat, bahwa akan ada transaksi Senpi," jelas Kasat Reskrim, AKP Ansori, dalam keterangannya kepada wartawan dikantornya, Kamis (6/5/10).

Sejauh ini, pihak Polres Rohul sudah melakukan pemeriksaan kepada 8 orang anggotanya, serta 2 orang warga dengan status sebagai saksi. Dari keterangan 10 orang saksi itu, tidak ditemui adanya kesalahan prosedur dalam penyergapan itu.

Sementara pihaknya sudah mengamankan barang bukti (BB), 1 buah sepeda motor merek Yamaha Vega R dengan nomor polisi BB 2579 KB, atasnama Lukman Arianto warga Padang Lawas Sumut. BB itu merupakan sepeda motor yang hilang dari belakang pos Satpam blok 72 Afd I Kebun PT DNS Kecamatan Hutaraja Tinggi Padang Lawas. Dan merupakan sepeda motor yang dicari pihak Polres Sosa Sumut.

Hingga saat ini, pihak Polsek Rohul masih tetap berkoordinasi dengan pihak Polsek Sosa Sumut. Dan masih melakukan pengejaran terhadap residivis Siregar Ompong Cs, bersama 3 temannya, dan masuk dalam DPO Polres Rohul, dan Polres Sosa. Menurut Kasat Reskrim, keempat DPO itu masih membawa 3 pucuk senjata, yaitu 1 pucuk senjata laras panjang jenis AK47, dan 2 pucuk senjata laras pendek jenis Revloper.***(zal)

http://www.riauterkini.com/hukum.php?arr=29394

Wednesday, 5 May 2010

Tewas Ditembak Polisi, Istri Korban Tak Percaya Kesimpulan Polres Rohul

Rabu, 5 Mei 2010 18:46

Di mata Sahaya, suaminya adalah pria baik yang jauh dari dunia kriminal, karena itu ia tak percaya kesimpulan polisi yang menembak mati suaminya, karena diduga terlibat perdagangan senjata api.

Riauterkini-PASIRPANGARAIAN-“Oh.. Amang.. Sudah kami bilang jangan keluar rumah. Tetapi kau tetap keluar juga,”.. Ratap dan sesal Sahaya Boru Ritonga, istri korban penembakan oleh polisi, disamping jenazah suaminya, Baduali Pohan (45), yang terbujur kaku. Korban tewas ditembak polisi, karena diduga akan bertransaksi senjata api dan melakukan perlawanan saat akan ditangkap polisi.

Ayah dari 3 anak, 2 laki-laki dan 1 perempuan itu tewas, dan diduga akan melakukan perlawanan, saat akan ditangkap. Baduali Pohan, juga sempat mendapat pertolongan. Namun naas, karena korban meninggal dalam perjalanan, ketika akan dibawa ke RSUD Pasirpangaraian, Selasa (4/5/10) sekitar pukul 02.00 Wib.

Tidak seperti biasanya, rumah gubuk kecil 4 x 6 meter, ditengah kebun sawit seluas 2 hektar milik keluarganya, di jalan Jepang Dusun IV Tanjung Beringin Desa Batang Kumu Kecamatan Tambusai Rohul. Ramai didatangi oleh sebagian masyarakat Kecamatan Tambusai. Bahkan Camat Tambusai Tengku Fauzan, bersama sejumlah perwira dari Polres Rohul, juga ikut dalam prosesi pemakaman korban, pada Selasa (4/5/10) sekitar pukul 17.00 Wib.

Anak korban, Siti Aisyah (12), murid kelas 6 SD Batang Kumu Tambusai, juga menangis dibelakang rumahnya. Ia sangat sedih saat itu, karena ia merupakan orang pertama yang menasehati ayah-nya agar tidak keluar rumah, Selasa (4/5/10) sekitar pukul 10.00 Wib. Selesai panen cabai di kebun belakang rumahnya, dan akan dijual ke Pekan Selasa Kecamatan Tambusai. “Janganlah bapak keluar, bapak kan masih capek. Istirahatlah dulu pak,” cerita Siti, masih terisak di belakang rumahnya, duduk diatas tunggul di bawah pohon kelapa sawit, didampingi nang uda-nya (adik ayah).

Siti Aisyah, bahkan tidak percaya atas kematian ayahnya. Apalagi sampai ditembak mati oleh oknum polisi. Menurutnya, ayahnya hanyalah seorang petani dan tidak pernah terlibat dalam tindak kriminal. Sehingga ia dan keluarganya tidak percaya atas penembakan itu. “Bapak hanya seorang petani, tidak mungkin ia sejahat itu,” ungkap Siti dengan lugunya.

Sementara istri korban, Sahaya Boru Ritonga, yang baru siuman dari pingsannya. Dengan setia duduk disamping jenazah suaminya. Tangisnya semakin menjadi, ketika ada beberapa orang pelayat yang datang untuk melayat suaminya. Seperti anaknya, ia juga tidak percaya atas keterlibatan suaminya ke dalam kelompok penjual senjata api. Karena kesehariannya hanya memegang cangkul dan parang babat ilalang. Temannya hanyalah matahari, bukan timah panas, yang bisa membunuh orang dalam sekejap. “Saya tidak percaya sejahat itu suamiku. Karena ia bapak yang baik untuk anak-anak kami,” cerita Sahaya, sambil menangis.

Beberapa warga yang sempat cerita saat melayat di rumah korban, sekaligus rekan sehari-hari korban, yang biasa duduk di warung kopi, tidak percaya atas kematian korban. Karena menurut mereka, Baduali Pohan, merupakan sosok yang humoris, dan mempunyai rasa sosial kepada masyarakat. Tetapi mereka hanyalah manusia biasa, sehingga tidak bisa membaca perilaku orang diluar, termasuk korban.

“Kalau di kampung, ia baik dan suka humor. Kita tidak tahu bagaimana sepakterjangnya diluar kampung. Namun kita tetap tidak percaya, karena ia hanya petani. Mana miungkin bermain senjata api, apalagi senjata api ilegal,” cerita seorang warga pelan, karena takut didengar orang lain.***(zal)

http://www.riauterkini.com/hukum.php?arr=29375

Setelah Ditembak, Perampok Baru Kapok

Rabu, 5 Mei 2010 - 8:59 WIB

SURABAYA(Pos Kota)- Perampokan yang kemarin beraksi siang bolong di rumah Hj Siti Maimunah,50 juragan windu ditembak polisi.Sayang lima tersangka lain yang sempat mebawa perhiasan senilai Rp 20 juta sempat kabur.





Tersangka Mahfud,32 alias Iput kepada petugas, mengakui seluruh perbuatanya.”Saya bersama dengan lima teman Pak. Kapok Pak, tidak saya ulangi lagi,” katanya sambil meringik kesakitan di UGD RS Ibnu Sina Gresik Rabu (5/5) pagi.

Kapolres Gresik AKBP Rinto Djatmono melalui kasat reskrim Polres Gresik AKP Fauzan Sukmawansyah megatakan, anggotanya mengejar, pelaku yang bersembunyi di bawah jembatan Suci.

“Anggota mengintainya di semak belukar, begitu pelaku kelihatan, dihentikan tidak digubris, diberikan tembakan peringatan juga tak dihiraukan akhirnya kita tembak kakinya,” tegas Fauzan.(nurqomar/B)

http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2010/05/05/setelah-ditembak-perampok-baru-kapok

Tuesday, 4 May 2010

Polisi Salah Tembak Mahasiswa Unira

04 Mei 2010, 17:11:24| Laporan Karimata FM Pamekasan


suarasurabaya.net
| AHMAD MIFTAHUDIN Mahasiswa Fakultas Teknik Informatika (TI) Unira Pamekasan asal Dusun Karang Panasan Desa Ponteh Kecamatan Galis Pamekasan menjadi korban penembakan.

Penembakan diduga dilakukan oleh anggota Polres Pamekasan di Sepanjang Jalan Raya Konang Kecamatan Galis Senin (03/05) dini hari. Lokasi tersebut merupakan “daerah merah” atau daerah rawan karena sering terjadi tindakan kriminal seperti perampokan dan pencurian kawat telpon (Curwatpon).

Saat kejadian, MIFTAHUDIN (24) bersama kedua temannya yaitu NURUL MAULIDI (22) warga Dusun Pandian Desa Ponteh dan Trisno Warga Galis Pamekasan. Mereka baru pulang dari tempat kerja di Pamekasan. Setibanya di Tempat Kejadian Perkara (TKP) mereka dicegat orang tak dikenal, mereka menduga orang tersebut sebagai perampok. Karena ketakutan mereka berusaha melarikan diri hingga akhirnya ditembak.

“Kami menduganya itu perampok, karena di lokasi itu memang rawan perampokan dan pencurian, memang sempat diberi tembakan peringatan tapi saya ragu apa iya orang itu polisi, kalau bukan saya kan mati,” cerita MIFTAH .

Saat tertembak MIFTAHUDIN tetap kabur karena menyangka perampok, dan saat tertembak ia menduga tertembak peluru karet karena tidak sakit. Setelah diperiksa di rumahnya Ia mengalami 2 bekas luka tembakan di pantatnya tembus menyamping.

Sementara itu, NURUL MAULIDI salah satu teman korban saat ditemui di rumahnya yakin penembakan itu dilakukan Polisi, sebab ada pengakuan dari salah satu anggota yang memeriksanya di Mapolres Pamekasan.

“Saat saya melapor ke Polres justru ada polisi yang mengenali saya bahwa saya tadi malam tertembak,” cerita NURUL.

Sementara itu AKBP MAS GUNARSO Kapolres Pamekasan melalui layanan pesan singkat (SMS) kepada reporter FAUZI AHMAD, Selasa (04/05) siang, mengakui yang bersangkutan ditembak polisi.

Namun ia membantah sebagai korban salah tembak. Sebab mereka tidak mematuhi perintah polisi untuk berhenti saat melintas di TKP pencurian kawat telpon (Curwatpon), justru mau menabrak polisi.

Menurut Kapolres, polisi telah melaksanakan prosedur yakni dengan memberikan 3 kali tembakan peringatan ke udara tapi diabakan. Selanjutnya polisi berusaha menembak ban sepeda motor korban tapi mengenai pantatnya.

Kapolres menegaskan semuanya telah ditangani sesuai prosedur dan benar. Korban saat ini masih menjalani perawatan intensif di Tempat Perawatan Sementara (TPS) Klinik Polwil Madura.(hen/ipg)

Teks Foto:
- AHMAD MIFTAHUDIN mahasiswa Unira korban salah tembak.
Foto: Karimata FM


http://jaringradio.suarasurabaya.net/?id=69e528667743f02a086d11f61d37d75d201076104

Anggota Sindikat Penjualan Senjata Api Tewas Ditembak Polisi

Selasa, 04 Mei 2010 17:21 WIB

PEKANBARU--MI:
Jajaran Kepolisian Resort (Polres) Rokan Hulu menembak mati satu dari lima anggota kawanan penjualan senjata api, Selasa (4/5) dini hari. Polisi juga berhasil menahan satu tersangka yang juga menjadi kawanan tersebut.

Kepala Polres Rokan Hulu Adang Suherman mengatakan, Baduali Pohan, salah satu anggota kawanan tersebut, tewas ditembak di bagian perut bagian atas. Tersangka yang berhasil dibekuk adalah Karno Sihombing. "Bos kompolotan ini, Regar Ompong, berhasil kabur bersama dua anggotanya saat disergap," kata Adang.

Menurut Adang, Regar Ompong merupakan residivis kejahatan pencurian kendaaraan bermotor dan senjata api. Polisi mencium rencana kompolotan ini yang akan menjual senjata api sejak tiga hari yang lalu.

Polres Rohul kemudian menurunkan tim untuk mencari keberadaan kawanan tersebut. Informasi yang diperoleh polisi, kawanan ini akan menjual senjata api jenis laras pendek dan panjang berikut beberapa pelurunya.

"Kami kemudian mengetahui keberadaan mereka yang sedang menggunakan mobil di dalam kota. Menghindari kontak dengan masyarakat, kami mengikuti mereka hingga ke batas kota," jelas Adang.

Polisi kemudian memepet mobil para penjahat di Desa Murini, Kecamatan Tambusai. Petugas kemudian melepaskan tembakan pertama ke arah udara sebagai peringatan supaya mereka tiarap.

Polisi kemudian melepaskan tembakan kepada Baduali ketika ia terlihat akan bangkit dari tiarap sambil berusaha meraih sesuatu di pinggangnya. Petugas menduga Baduali akan meraih senjata.

"Tembakan tersebut sebenarnya diarahkan ke kaki untuk melumpuhkannya. Namun, saat ditembak, Baduali sedang bangkit dari tiarap. Terlebih lagi kondisi saat itu hujan. Tembakan yang diarahkan ke kaki malah mengenai perut," jelasnya.

Polisi kemudian melarikan Baduali ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Rokan Hulu. "Namun ia tewas di perjalanan," tandasnya. Belakangan diketahui, senjata yang berusaha diraih Baduali merupakan celurit bukan senjata api. (BG/OL-04)

http://www.mediaindonesia.com/read/2010/05/04/140501/126/101/Anggota-Sindikat-Penjualan-Senjata-Api-Tewas-Ditembak-Polisi-

Wah... Polisi Penembak TNI Divonis Bebas

Selasa, 4 Mei 2010 | 19:28 WIB


BANDA ACEH, KOMPAS.com — Majelis hakim Pengadilan Negeri Banda Aceh, Selasa (4/5/2010), memvonis bebas terdakwa Briptu Yasir Arafat. Majelis berpendapat, terdakwa tidak terbukti bersalah menembak mati seorang anggota TNI.

Menurut majelis hakim yang diketuai M Arsyad Sundusin itu, perbuatan terdakwa tidak terbukti melanggar Pasal 359 KUHP tentang kelalaian sehingga orang lain meninggal dunia seperti tuntutan jaksa.

Pada persidangan sebelumnya, jaksa Nur Albar menuntut terdakwa dengan hukuman 10 tahun penjara. Pasalnya, anggota Samapta Polda Aceh itu bersalah menembak mati Serka Ismail Lopa, yang bertugas di Koramil Ulee Kareng, Banda Aceh.

Oknum TNI itu ditembak tidak jauh dari rumahnya di Desa Cot Lamkeuweuh, Banda Aceh, pada 19 Oktober 2009 sekitar pukul 19.30. Terdakwa menembak karena perilaku korban mencurigakan.

Menurut majelis hakim, penembakan itu dilakukan terdakwa dalam kapasitasnya sebagai polisi. Saat itu, terdakwa pun mencurigai bahwa korban membawa minuman keras. Ia juga sudah memerintahkan korban untuk menyerahkan diri. "(Namun) korban tetap tidak menggubrisnya, bahkan mencoba kabur dengan mobil hingga nyaris menabrak terdakwa. Lalu terdakwa berusaha mengejar dan sempat memberikan tiga kali tembakan peringatan," kata Ketua Majelis Hakim.

Karena korban tetap mencoba kabur, terdakwa akhirnya berniat menembak ban belakang mobil korban. Akan tetapi, tembakan itu mengenai kaca pintu belakang hingga akhirnya korban tertembak di leher belakang.

Dari fakta persidangan, kata majelis hakim, korban terbukti membawa minuman keras sehingga terdakwa sebagai anggota polisi harus bertindak. Minuman keras sebanyak tiga karung ini juga dihadirkan ke persidangan sebagai barang bukti.

Sebelum mengambil keputusan, kata dia, majelis hakim juga mempertimbangkan hal-hal meringankan, yakni terdakwa tidak bermaksud menembak mati korban dan juga sempat membantu membawanya ke rumah sakit.

Dalam putusannya, majelis memerintahkan JPU agar memusnahkan barang bukti minuman keras milik korban dan mengembalikan pistol yang digunakan terdakwa ke Polda Aceh dan pakaian korban yang penuh bercak darah.

Atas putusan itu, jaksa menyatakan pikir-pikir.

http://regional.kompas.com/read/2010/05/04/19282836/Wah....Polisi.Penembak.TNI.Divonis.Bebas-5


Buronan Polisi Dihadiahi Timah Panas

Selasa, 04-05-2010
Buronan Polisi Dihadiahi Timah Panas
MAJENE, UPEKS--Resesrse dan Kriminal (Reskrim) Polres Majene berhasil menangkap salah seorang boronan Acong (28), warga Lingkungan Rangas, Kelurahan Totoli, Kecamatan Banggae. Tersangka tertangkap setelah ditembak dengan timah panas.
Tersangka diduga terlibat berbagai kasus tindak kriminalitas. Acong baru pulang dari pelariannya di Campalagian dibekuk petugas saat berada dirumahnya di Lingkungan Rangas, Kelurahan Totoli.

Lantaran melakukan perlawanan akhirnya Polisi meringkusnya dan melumpuhkannya dengan timah panas tepat bagian perut sebelah kanan hingga tembus keluar sebanyak dua kali.
Meskipun tersangka sudah dilumpuhkan, namun masih bisa kabur dari kepungan tim buser Polres Majene.

Setelah beberapa jam lamanya akhirnya tersangka diketahui bersembunyi di rumah keluarganya sendiri akhirnya atas bujukan dari keluarganya sendiri akhirnya Acong diserahkan kepada petugas dalam keadaan luka dan kemudian diantar ke Rumah Sakit Umum Majene untuk dilakukan perawatan dokter.

Kasat Reskrim Polres Majene AKP Muh Erwin pada saat itu memimpin penangkapan kepada Upeks mengatakan, Acong merupakan boronan sejak 3 bulan lalu terkait kasus dugaan pencurian dilakukan di beberapa tempat. "Setelah beberapa hari, kami bersama anggota melakukan penyelidikan di daerah Rangas tentang keberadaan tersangka. Akhirnya, tersangka diketahui telah berada dirumahnya. Kami melakukan penangkapan dirumahnya, namun di saat kami ingin membekuknya tiba-tiba dia kabur, meskipun sudah beberapa kali memberikan peringatan, tetapi korban tidak menghidahkannya akhirnya kami melumpuhkan dengan tembakan," kata Erwin. (ali) (
)

http://www.ujungpandangekspres.com/view.php?id=46336