Friday, 23 April 2010

Senggolan Motor Polisi Tewas Ditembak

INILAH.COM, Bandung - Pembunuhan anggota Polisi Polwiltabes Bandung Briptu Endang Wahyudi akhirnya terungkap. Gara-garanya senggolan motor dan 'dor' anggota polisi itupun tewas.

Pelakunya Robin Winaldo Saragih, dibekuk setelah diburu hampir tiga bulan oleh tim gabungan Polda Jabar, Polres Garut dan Polwil Priangan.

Robin ditangkap di rumahnya di daerah Ngawi, Jawa Timur, dan hingga Jumat siang ini masih menjalani pemeriksaan.

"Tersangka perampok sadis. Kami masih mengejar sejumlah pelaku lainnya,” kata anggota polisi di Polres Garut, Jumat siang.

Robin menembak anggota polisi Endang yang bertugas di Pam Obvit Polwil hingga tewas, lantaran dendam setelah korban menyenggol motornya.

Untuk melampiaskan dendamnya, tersangka dan dua temannya membuntuti korban usai main bola di kampung halamannya di Leles Kabupaten Garut.

"Dugaan sementara motif penembakan tersangka ke korban lantaran dendam,” ujarnya lagi.

Tersangka Robin CS lanjutnya, tercatat sebagai pelaku perampokan di sejumlah wilayah di Indonesia. Bahkan, tersangka diduga kuat merampok di SPBU di kota Garut.

Robin terjun ke dunia kejahatan sejak tahun 2005. Dia melakukan kejahatan di Sumatera Utara, Jambi, Jawa Timur, dan kota Garut.

Dalam catatan polisi, komplotan ini telah menembak 3 orang korban sipil dan 6 anggota polisi, termasuk Briptu Endang.

Setelah hampir tiga bulan mencarinya, akhirnya Rabu subuh kemarin tim berhasil menemukan tempat persembunyian Robin dan meringkusnya. [wdh]



http://inilah.com/news/read/politik/2010/04/23/484411/senggolan-motor-polisi-tewas-ditembak/

6 Polisi Dibunuh, Perampok Mengaku Eks-TNI

JUM'AT, 23 APRIL 2010

VIVAnews - Sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga. Pribahasa ini yang tepat bagi Rahman alias Robin Winaldo Saragih alias Ulianto pelaku perampokan sadis yang akhirnya dibekuk setelah berulang kali kabur.

Robin ditangkap di rumahnya, Ngawi pada Rabu 21 April 2010. Dia dicokok setelah belasan kali merampok di Sumatera Utara, Jambi, dan Ngawi. Dalam melakukan aksinya, Robin tak segan-segan menembak mati korbannya.

"Ada 3 warga sipil yang dia bunuh, yakni pegawai perusahaan swasta di Jambi, bos kelapa sawit dan satpam di Medan. Selain itu dia membunuh 6 polisi di lokasi saat melakukan aksi," kata Wakil Direktur I Keamanan Transnasional Bareskrim Mabes Polri Komisaris Besar Iriawan, saat dihubungi wartawan, Jumat 23 April 2010.

Iriawan menjelaskan, sejak 2005 pelaku melakukan tindak pencurian dan kekerasan. Seorang anggota Polri berpangkat Aiptu meninggal dunia jadi korban saat melakukan pengawalan uang perusahaan kelapa sawit di Sumatera Utara.

Kemudian pada September 2009, lanjut Iriawan, Robin pindah ke Garut. Dia menikahi Elsa. Sempat pindah ke Bandung selama satu bulan, Robin kembali lagi ke Garut pada awal Februari 2010.

Robin kembali beraksi, saat pada 4 Februari dia didatangi temannya dan diajak mencuri lagi. Pada 8 Februari, Robin yang hendak melakukan aksinya bersinggungan dengan Briptu Wahyu di jalan. "Kemudian terjadilah keributan kecil," jelasnya.

Keributan itu tidak selesai di tempat. Setelah ribut, Rahman diam-diam membuntuti Wahyu sampai ke lapangan bola. "Saat jalan sepi, Briptu Wahyu ditembak pelaku," jelasnya.

Dari tangan pelaku, polisi menyita senjata AK 47, M16, SS1, Revolver buatan AS, pistol SNW, peluru 18 butir. Senjata itu diketahui adalah rampasan pelaku dari anggota polisi yang pernah dibunuhnya.

"Dia mengaku bisa menembak karena pernah menjadi tentara namun dipecat. Tapi kita akan cek kebenarannya ke Kodam Batalyon Aceh," tegas Iriawan yang tidak langsung percaya Robin adalah desersi.

Saat dilakukan penangkapan di rumahnya, Robin tidak mampu melawan karena senjata api yang dimiliki tak sempat diambil dari dalam lemari.

"Dia memang tergolong perampok paling berani, bahkan saat merampok SPBU Semarang, Ngawi, pelaku tetap tinggal di Ngawi dan tidak melarikan diri ke luar kota," ucapnya.

Selain itu, pelaku kerap kali merampok menggunakan baju seragam polisi yang dirampas saat membunuh perwira polisi. "Kami masih memburu 7 orang komplotan lainnya yang masih buron," tutup Iriawan. (hs)

http://nasional.vivanews.com/news/read/146187-6_polisi_dibunuh__perampok_mengaku_eks_tni

Thursday, 22 April 2010

Sipir Rutan Tembak Mati Tahanan

Kamis, 22 April 2010 11:22


Muslim (35) tahanan kasus kepemilikan senjata tajam meninggal. Tiga butir timah panas bersarang di tubuhnya. Warga Jl Ki Rangga Wirasantika, Lr Jambi, RT 03/02, Kelurahan 29 Ilir, Kecamatan Ilir Barat II (IB II) itu, tewas setelah ditembak Deki Yarta (23), sipir Rumah Tahanan (Rutan) Kelas I, Jl Merdeka, Palembang.

Setidaknya, peluru kaliber colt 32 yang dilesakkan pelaku bersarang di tiga bagian tubuh korban. Perut kanan, dada kanan dan ketiak kiri hingga tembus ke bahu kiri. Kejadiannya sekitar pukul 17.30 WIB di halaman Rutan Kelas I Merdeka.

Korban sempat dilarikan ke rumah sakit AK Gani, namun nyawa Muslim tak tertolong. Yuliawati (29) istri korban melaporkan kejadian penembakan itu, ke Poltabes Palembang. Saat bersamaan, tersangka Deki diamankan petugas Unit Pidum Poltabes Palembang untuk dimintai keterangan.

Kepada petugas unit pidum Poltabes, tersangka mengaku insiden tersebut lantaran korban mencoba melarikan diri dan hendak merebut senjata api miliknya. Diceritakannya, sekitar pukul 16.30 Wib, ia sedang bertugas menjaga pintu Rutan.

Di ruang Portir, antara pintu utama dan pintu kedua, ia bersama Dodi sopir dari pegawai Rutan Merdeka sedang menonton televisi. "Sambil jaga, waktu itu lagi nonton bola samo Dodi sopir," ujar tersangka ditemani pengacaranya, H. Bunyamin SH ketika diperiksa oleh penyidik di unit pidum Poltabes.

Selang beberapa menit, datang seorang wanita yang hendak menjenguk tahanan dan memberikan bekal. Usai menjalani pemeriksaan, pembesuk diantar oleh narapidana bernama Yahya.

Begitu lewat pintu ketiga, korban mencoba keluar. Saat berada di ruang antara pintu ketiga dan kedua, korban sempat dicegat dan dipegang oleh tersangka, tapi terlepas. Korban berhasil menembus pintu utama dan sudah berada di halaman luar rutan.
Tersangka berteriak dan minta korban tidak melarikan diri. Sempat menembakkan pistol ke atas satu kali, sebagai tanda peringatan. Nah, saat itulah korban mencoba memberikan perlawanan dengan mendekati tersangka. Mungkin, khawatir diserang, tersangka menembak korban sebanyak satu kali.

Korban belum nyerah dan terus berusaha mendekati tersangka. Jarak keduanya cukup dekat 1-1,5 meter. Takut terjepit, lagi-lagi tersangka melesakkan peluru ke arah tubuh tersangka. "Aku la teriak jangan berlari, terus aku nembak ke atas. Dia berbalik nak mendekatai aku, terus aku tembak satu kali di badannya. Karena masih bereaksi, aku tembak lagi. Tapi dia masih bereaksi dan aku tembak lagi badannya, terus baru dia roboh dan pegawai datang mendekat semua karena dengar suara tembakan," ujarnya lagi.

Korban yang telah roboh dilarikan para pegawai rutan yang lain ke rumah sakit AK Gani Palembang. Namun, nyawanya tak terselamatkan lagi. Jenazah dititipkan ke kamar jenazah RSMH dan hari ini baru akan divisum et repertum.

Yuliawati mengaku mendapat kabar bahwa suaminya tertembak sekitar pukul 17.30 Wib. Setelah dijenguk ke rumah sakit AK Gani Palembang, ternyata suaminya telah tewas. Atas kejadian ini, Yuliawati langsung melapor ke Poltabes.

Firman kakak korban shock. Ia sempat ribut dengan petugas rutan yang mengantar jenazah adiknya itu. Yuliawati sendiri mengecam keras tindakan tersangka yang telah menembak mati suaminya. "Ngapo nak di badan niam, kalu memang dio nak lari ngapo idak di kaki di tembak. Aku dak terima ngapo suami aku pacak ditembak," ujarnya.

Sebelum kejadian, Yuliawati, pukul 15.00 Wib sempat membesuk suaminya. "Setelah aku balek, sekitar pukul lima (17.00 WIB) suami aku sempat nelpon dan ribut-ribut kecil. Dia nanyo aku ada dimana dan dia kelihatan cemas dan percaya kalau aku ado di rumah," ujarnya.
Bagi keluarga, korban dikenal pendiam dan baik. Mereka juga menyesalkan penangkapan suaminya yang terkait atas kasus sajam. "Suami aku ditangkap sekitar 14 hari yang lalu. Dia ditangkap oleh Polsek IB II karena bawa sajam yang disimpannya di dalam jok. Padahal dia bukan nyelipkan pisau di pinggang, dia juga jujur waktu mau ditangkap."

Kapoltabes Palembang, Lucky Hermawan MSi melalui Wakasat Reskrim Poltabes Palembang, AKP Hans Rahmatullah Irawan mengatakan, tersangka DK masih dalam proses pemeriksaan. Dari informasi yang didapat luka tembak yang diterima korban sebanyak tiga lubang. "Saat ini masih dalam tahap pemeriksaan, luka tembak sebanyak tiga lubang nanti baru bisa diketahui setelah dilakuka visum," pungkasnya. (mg37/mg44)


http://www.sumeks.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=5814:sipir-rutan-tembak-mati-tahanan&catid=19:berita-utama&Itemid=66

Wednesday, 21 April 2010

Pura-pura Minta Daun lalu Merampok

RABU, 21 APRIL 2010 | 07:54 WIB

Surabaya - Surya- Masih ingat kasus pencurian yang dialami Ny Lie Pie Ing, 74, warga Jl Tidar 105 Surabaya, 2 April lalu? Wanita renta itu kehilangan perhiasan —mas kawin pernikahan tahun 1957— senilai Rp 400 juta. Pelakunya tiga orang pria tak dikenal, yang datang dan berpura-pura meminta bunga melati untuk campuran obat.

Kejadian dengan modus sama terjadi lagi, Selasa (20/4) sekitar pukul 14.00 WIB. Korbannya, Ny Sandra, 71, warga Jl Dinoyo 24, Surabaya. Tetapi kejadian itu dipergoki polisi sehingga digagalkan. Bahkan tiga dari lima tersangka pelaku dilumpuhkan polisi setelah ditembak pada kaki masing-masing.

Ketiga pelaku itu adalah Soni Syafi’i, 40, Haris, 35, dan Irfan, 45. Adapun dua lainnya, salah satunya berinisial T, kabur. Kapolsekta Tegalsari, AKP Ronny Tri Prasetyo Nugroho, bersama anggota dan jajaran Reskrim Polresta Surabaya Selatan kini masih memburu dua pelaku.
Informasi yang dikumpulkan Surya, komplotan itu terdiri atas lima pelaku, dan biasa disebut sebagai kelompok Makassaran. Sebelum beraksi, menurut Ketut, 23, tukang tambal ban tak jauh dari lokasi kejadian, mereka sudah mondar-mandir di daerah sekitar Jl Dinoyo, sejak pukul 13.00 WIB.

”Pertama saya melihat dua orang berboncengan naik sepeda motor Yamaha Jupiter MX berhenti di mulut Jl Pajajaran. Kedua, mereka telepon-teleponan, datang seorang lagi jalan kaki mendatangi keduanya. Ngomong sebentar, terus berpencar lagi,” jelas Ketut.

Sekitar 10 menit kemudian, keduanya datang lagi dan langsung memarkir kendaraan di samping rumah nomor 22, yang juga berada di mulut Jl Pajajaran. Seorang pria datang, dan bergabung. Kemudian ketiganya berjalan menuju rumah Ny Sandra.

Pada saat sama, Ketut kedatangan pria mengendarai sepeda motor Yamaha Vega hitam, bilang mau beli bensin atau oli. Tapi, karena tidak ada bensin atau oli, pria itu minta tambah angin untuk dua ban sepeda motornya.

Tak lama kemudian Ketut melihat orang semburat dari arah rumah Ny Sandra. Kemudian dua orang mengejar dan berteriak minta tolong. Ternyata ada dua polisi mengejar tiga orang dengan berlari. Melihat itu, pria di depan kios Ketut langsung mengambil motor, menyeberang ke sisi lain Jl Dinoyo, kemudian disusul satu pria lain yang langsung naik ke boncengan dan melarikan diri ke arah barat, atau Jl Darmo Kali.

Ternyata komplotan itu beraksi di rumah Ny Sandra dan ketahuan dua anggota reskrim Polsekta Tegalsari yang memang membuntuti. Tiga pelaku masuk rumah Ny Sandra dengan pura-pura minta daun ratu, yang memang ada di di halaman rumah.

”Saat itu mereka ada bertiga. ketuk pagar, bilang minta daun untuk ramuan obat. Mau saya petikkan, mereka bilang harus petik sendiri. Jadi saya bukakan pintu pagar,” jelas Sandra, ketika ditemui di rumahnya.

Tak beda dengan modus yang dipakai mengecoh Ny Lie Pie Ing, salah satu sibuk memetik, salah satu mengalihkan perhatian Ny Sandra dengan mengobrol, dan salah satunya masuk lam rumah, mengobok-obok isi kamar Ny Sandra, mengambil uang Rp 450.000 dan cincin emas seberat 5 gram.

http://www.surya.co.id/2010/04/21/pura-pura-minta-daun-lalu-merampok.html?utm_source=feedburner&utm_medium=twitter&utm_campaign=Feed%3A+surya-online+%28SURYA+Online+-Portal+Berita+Jawa+Timur+Sebenarnya%29&utm_content=Twitter

Penjambret Tas Ditembak

Rabu, 21 April 2010 - 9:29 WIB

TANGERANG (Pos Kota)- Penjambret ditembak polisi. Pasalnya, keduanya kabur bahkan mengancam dengan golok saat ditangkap. Kini tersangka AD danm IB meringkuk di tahanan Polres Metro Tangerang.

Peristiwa itu terjadi Rabu 19 April 2010 pukul 20.10 Wib di Jalan Ks. Tubun Pasar Naru . Baru Tangerang (depan Boek Tek Bio). Kronologisnya, Saat itu Eni Lesmana, 23t, warga Jl. TMP Taruna No. 06/33 Suka Asih Tangerang naik sepeda motor bersama Lus Muklison, 31.
Setiba di tempat kejadian perkara, tiba-tiba dua tersangka yang mengendari sepeda motor Yamaha RX King merampas tas hitam yang dibawa oleh korban . Merasa dijambret, korban berusaha mengejar pelaku. Ketika di ujung jalan ada petugas Patko dan korban langsung berteriak minta tolong sehingga pelaku dapat diamankan.

Namun pelaku satu dari tersangka yakni IB melarikan diri sehingga anggota menembak kaki pelaku . Polisi lalu membawa IB ke RSU Tangerang sedangkan ptersangka AD diamankan di Restro Tangerang.

Polisi masih memintai keterangan dari tersangka. Sedangkan 1 unit sepeda motor KR R2 Yamaha RX King, 1 buah tas hitam dan 1 buah golok disita seabgai barang bukti. (binsar)

http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2010/04/21/penjambret-tas-ditembak

Gembong Curanmor Tewas Ditembak

21/04/2010 22:52

Pencurian

Liputan6.com, Lumajang: Seorang gembong pencurian kendaraan bermotor tewas akibat ditembak anggota Reskrim Kepolisian Sektor Pasirian, Lumajang, Jawa Timur, Rabu (21/4). Mukram, warga Desa Candipiro, Lumajang, kehabisan darah setelah lima butir peluru menembusi kaki, dada, dan kepalanya.

Polisi terpaksa menembak tersangka karena ia berusaha melawan saat ditangkap. Kini, polisi terus mencari komplotan tersangka yang telah diketahui identitasnya.(WIL/SHA

http://buser.liputan6.com/berita/201004/273592/Gembong.Curanmor.Tewas.Ditembak

Ditembak Mati Hanya karena Curi 3 Ayam

Rabu, 21 April 2010 | 16:16 WIB

SURYA/ais
Senapan angin maut dari Blitar yang menewaskan Sopiin, maling ayam dari Kediri.
BLITAR, KOMPAS.com — Semula Didik Suryanto (32) warga Dusun-Desa Tawangrejo, Wonodadi, Kabupaten Blitar, menjadi korban pencurian. Namun, kini dia berstatus tersangka karena diduga menembak mati Sopi’in (30) memakai senapan angin saat warga Desa Deyeng, Ringinrejo, Kabupaten Kediri itu tepergok mencuri tiga ayam Didik, Senin (19/4/2010) dini hari.

Menurut Kepala Satreskrim Polres Blitar AKP Edy Herwiyanto, awalnya peternak ayam itu diperiksa di Mapolres Blitar sebagai korban pencurian ternak ayam miliknya. Namun, dengan adanya korban tewas, akhirnya pemeriksaan diperdalam lagi.

“Ternyata terbukti, Didik menembak Sopi’in yang juga pencuri ternak ayam miliknya dengan senapan angin hingga tewas seketika,” ujar Edy, di kantornya. Tertembaknya Sopi’in diketahui banyak warga dan polisi. Hanya, saat itu polisi belum mengetahui penembak pria tersebut.

Kepala Satreskrim menjelaskan, pada Senin (19/4/2010) sekitar pukul 03.00 WIB, Didik bersama beberapa warga melakukan pengintaian terhadap Sopi’in yang terlihat mondar-mandir. Dia dicurigai sebagai maling ayam yang sering beraksi di desa tersebut.

“Dugaan warga ternyata benar. Sopi’in mendatangi kandang ayam milik Didik dan mencoba mencuri ayam,” ungkapnya. Didik yang memergoki Sopi’in langsung mengejar bersama beberapa warga lain.

Khawatir pelaku kabur, Didik menembak Sopi’in dengan senapan angin. Ternyata, tembakan senapan angin itu membuat korban roboh dan tewas seketika. “Berdasarkan keterangan beberapa saksi, awalnya (Didik) hanya ingin melumpuhkan pelaku. Tapi Didik justru mengeluarkan senapan dan menembaknya mengenai dada sebelah kanan hingga tewas,” terangnya.

Kata Edy, tersangka Didik dijerat dengan Pasal 338 KUHP tentang Perampasan Nyawa Orang Lain (pembunuhan), dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara. Setelah ditetapkan sebagai tersangka, Didik langsung ditahan di Mapolres Blitar.

Polisi mengamankan barang bukti berupa sebuah senapan angin , tiga ayam, karung plastik, tampar, dan tali plastik. “Kami juga masih melakukan pemeriksaan terhadap saksi lain yang diduga terlibat dalam tewasnya korban Sopi’in,” imbuhnya. (ais)